1

Fanfic Challenge [will updated]

jadi…. kan blog-ku untuk kedepannya (mungkin nih) bakalan sepi. U-Know… kan aku udah kelas 12 (huhu waktu cepat berlalu ternyata ya T_T) jadi aku bakal buat challenge kecil-kecilan. setidaknya buat jadi penghibur kalo aku punya waktu senggang (aku bukan tipe orang yang bisa konsentrasi dengan terus-terusan berkutat dengan buku… bisa jadi aku malah MELEDAK) atau mungkin kalo aku lagi bosen (ya sama aja deh ya)

dan kalian… my beloved friends… bisa berpartisipasi… ^_^ (tebar confetti) nanti fic-fic kalian (mau Ori-Fic mau Fanfic) bakal aku review sesempatku, dan bakal aku pajang di sini juga… oke lebih jelasnya coba baca rules yang lumayan simpel di bawah:

  1. ngambil dari berbagai “Prompt” yang aku sediakan di sini. boleh ngambil Prompt yang udah diambil orang lain, asalkan plotnya beda. kalaupun plot sama tapi bawanya beda… mungkin gak akan aku cantumkan di sini… maapkeun ._.v
  2. main cast terseraahhh ^_^ seperti yang aku bilang tadi, boleh Original Fiction, boleh Fan Fiction… asalkan karakternya kuat. untuk fanfic, gak pa-pa kok OOC…
  3. Length-nya minimal Drabble (100 W) maksimal Oneshoot (4000 W) gak boleh kurang, gak boleh lebih
  4. Prompt gak harus jadi judul… gak harus jadi keseluruhan cerita juga. boleh kok cuma satu scene yang terinspirasi dari prompt yang disediakan… yang pasti harus mengiringi.

dan… baiklah… ini dia

Prompt 1 : Alphabet and Number

a. 0-9, b. A-Z

Prompt 2.A : Words (Eng)

Blue,  Without,  World,  Cold,  Clock

Case,  Tears,  Star,  Rain,  Cry

Twenty,  Look,  Strain,  Options,  Different

Birds,  Smoky,  Hide,  Rainbow,  Longer

Judgement,  One,  Bored,  Whistle,  Tunnel

Deal,  Stuck,  Story,  Kitten,  Train

Someday,  Dream,  Music,  Night,  Day

 

Prompt 2.B : Words (Ina)

Rumah,  Ibu,  Status,  Waktu,  Mata

Sketsa,  Tas,  Racun,  Bintang,  Hujan

Surga,  Jalan,  Penjara,  Sempat,  Lagu

Bunga,  Harmoni,  Galau,  Minggu,  Pergi

Asin,  Merpati,  Hilang,  Lewat,  Dunia

Menang, Ingkar,  Putih,  Teman,  Iseng

Kotak,  Jendela,  Sepeda,  Taman,  Pohon

 

Prompt 3 : Song

Pussycat Dolls – Hush Hush,  Taylor Swift – Speak Now,  Sam Smith – Stay With Me

Afgan – Entah, Yovie Nuno – Indah Kuingat Dirimu, Kahitna – Sampai Nanti,  Ada Band – Penjara Jiwa

Celine Dion – A World to Believe,  Westlife – More than Words, Christina A. – Reflection, Mariah Carey – Hero

Gita Gutawa – Selamat Datang Cinta,  Kahitna – Setahun Kemarin,  Yovie Nuno – Menjaga Hati

Rossa – Kini,  Afgan – Tanpa Batas Waktu,  Seila Majid – Sinaran,  Kahitna – Insomnia,  Audy – Janji di Atas Ingkar

Shania Twain – You’re Still the One,  I

 

 

 

 

23

Welcome ^_^ (Read it first)

leo-1

Welcome to Sasphire World!!

terima kasih sudah mau datang…. entah apa yang membawa anda kesini, tapi terima kasih sudah mau mampir ke blog ini and just follow the rule :

  • sesudah membaca cerita yang ada disini (Fanfic ato cerita biasa) atau baca curcolan (haha) please kasih komentar yang membangun karena saya sendiri masih pemula dalam dunia tulis menulis…. jangan sungkan untuk kasih kritik ato saran, karena dengan memberi pendapat, saya malah senang karena ada yang mengapresiasi karya saya
  • jangan Copy paste cerita saya, karena itu sama saja dengan perilaku plagiarisme -_-“
  • Dan, yah, kalau ingin lebih tahu banyak tentang saya, follow @sasphire_pink
  • oh iya, ketinggalan. blog ini pengganti blog http://syifasasa.wordpress.com/ blog itu sudah saya hapus karena alasan tertentu, jadi, semoga puas dengan blog baru ini ya

Cover Gallery | Blogroll | FAQ | People Opinion about Me 

Chat | Library Oneshoot | Library Series

yah, hanya itu. jangan lupa tinggalkan komentar berarti di blog ini, okey? :D

Finally, Terima kasih

—-Sasphire, June 13, 2012

//

1

A Conversation : Two of Us

Ladies Code’s Rise & Eunbi

Note: Ini PoV-nya dari Rise… jadi kalimat tanpa tanda petik itu Rise, yang ada tanda petik itu Eunbi

Persahabatan yang suci dan selamanya itu hanya ada dalam komik.

Jika kamu terlena dan percaya bahwa itu semua eksis, kamu akan benar-benar terperangkap tanpa sadar, lalu kamu akan merasakan sesal yang begitu dalam ketika kamu jatuh sedalam mungkin, ke dalam jurang kekecewaan. Kamu mengutuk dirimu sendiri, menyesal karena begitu percaya akan persahabatan.

Maksudku, hei! Bangunlah, Eunbi?! Sekarang ujung abad dua puluh satu—hampir abad dua puluh dua—dan kamu masih terperangkap dalam tubuh gadis dua puluh tahunan, di umurmu yang ke seratus dua puluh tiga!! Dari umur perawakanmu saja sudah aneh menyukai cerita-cerita komik yang terlalu banyak mengumbar mimpi, apalagi umurmu yang sebenarnya?!

“Lebih dari itu kok…”

Nah, kamu malah tersenyum geli! Kamu cuma merespon ucapanku soal umurmu daripada kalimat lain yang kuucapkan! Huh, benar ‘kan apa kataku tadi soal persahabatan? Kamu mengaku-aku sebagai sahabat terbaikku, padahal kamu jarang peduli!!

“Hei, Kak Rise…”

Tak perlu merayu sampai menggenggam tangan begitu! Aku terlanjur marah!

“Lho? Memang kakak bisa marah?!”

Tuh, tuh? Lancang!

“Hahaha…”

Apanya yang lucu?! Ini… ini lagi… mengapa kamu mengajakku terbang lagi?!

“Karena biasanya amarah kakak mereda saat aku ajak terbang…”

Oh, jadi selama ini kamu mengajakku terbang hanya ingin membuatku terlena, begitu?

“Kalau kakak pikir begitu, oke.”

Cih.

“Kenapa kakak tiba-tiba menasihatiku soal persahabatan?”

Hh… entahlah. Aku sedang kesal. Kalau diingat lagi, teman-temanku yang bilang kalau mereka sahabatku biasanya ada saat mereka membutuhkanku. Hilang saat aku membutuhkan mereka. Kamu juga begitu!!

“Lho, kok aku?”

Kecelakaan tahun 2014 itu, kamu pergi lebih dulu ‘kan?

“…”

Tuh, lihat? Kamu tak berani menyangkal ataupun membela diri seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu tidak mangkir dari kenyataan bahwa kamu pergi lebih dulu. Kamu tidak menungguku, tapi bertingkah sok jadi pahlawan. Kamu pergi, berniat ingin memberikan kesehatan untukku dan ingin aku hidup lebih lama darimu. Memangnya aku bisa hidup kalau tanpa kamu? Yang benar saja!

“Aku cuma ingin melindungi kakak kok, tak lebih.”

Apanya yang melindungi? Aku berjuang mati-matian menahan rasa sakit di kepala dan perut saat itu. Sembilan jam, Eunbi! Bayangkan! Kepalaku disayat oleh dokter-dokter itu, lebih dalam lagi menyayat otakku, mengutak-atiknya… baru setelah tekanan darahku merendah, mereka berhenti. Mereka tak sanggup memberikan kesempatan hidup seperti yang mereka janjikan! Aku berjuang sendirian, Eunbi!

“Tapi mereka sudah berusaha melakukan yang terbaik, kak. Cobalah berpikir positif.”

Iya, kamu benar. Mereka melakukan yang terbaik. Kamu pasti benar. Mereka baik sekali mau mengoperasiku yang sudah jelas-jelas tak memiliki harapan hidup. Benar kamu. Mereka lebih baik dibandingkan dokter-dokter lain yang begitu diserahkan pasien yang memiliki kemungkinan hidup kecil langsung angkat tangan. Ya, ya! Eunbi selalu benar! Bahkan dokter-dokter yang menyisakan rasa pusing di kepalaku sampai sekarang itu masih mau berusaha. Mereka tidak membiarkanku mati begitu saja, jadi aku tak bernasib sama sepertimu.

“Hei, kak Rise…”

Saat itu, aku kesulitan bernapas, kamu tahu? Bahkan oksigen dari tabung yang harganya ratusan ribu won sekali hirup itu masih kurang! Aku butuh lebih! Tapi aku masih mau bertahan, aku ingin hidup. Kamu tahu kenapa?! Coba tanyakan padaku, kenapa…

“…”

Tak perlu menegak saliva segala!

“Kenapa, Kak?”

Karena saat itu aku tak tahu, kamu meninggalkanku! Yang aku tahu, Eunbi masih hidup, makanya aku berjuang mati-matian untuk hidup agar aku bisa menemanimu! Kurang baik apa aku ini demi jadi sahabatmu?!

“…”

Tuh, kamu jadi kehabisan kata. Maaf ya! tapi bukan berarti aku mengucapkan ini semua karena pamrih. Bukan! Karena aku sayang kamu, tapi kamu tidak menyayangiku.

“Kak—“

Itu fakta yang tak bisa dipungkiri! Kamu tidak datang menemuiku saat semua orang begitu sering menyebutkan namaku dalam doa mereka, berharap aku sadar! Seharusnya kamu datang, bilang padaku kalau kamu pergi, lalu memberikanku pilihan; tetap hidup atau bersamamu! Tadi kamu bilang apa? Ingin melindungi? Apanya?! Kalau kamu ingin aku tetap hidup, kamu bilang padaku untuk terus hidup, pantang menyerah, atau apalah; setidaknya buat aku lebih kuat jika aku tanpamu!

“Itu sudah lama berlalu, kak. Kenapa kakak mengungkitnya sekarang?”

Tentu aku harus mengungkitnya! Bertahun-tahun aku menahannya karena aku tak ingin kamu merasa bersalah, tapi lama-kelamaan aku begah! Kamu bertingkah seolah tak terjadi apa-apa, padahal kamu tahu! Sangat tahu!

Aku begitu ingin berjuang, tapi di hari ke empat, aku melihat banyak orang menangis. Aku penasaran, jadi aku enggan berjuang membuka mata. Kemudian aku mendengar banyak orang yang bilang, semoga aku cepat sadar. Kepergian Eunbi sudah membuat mereka sedih, mereka tak ingin terpuruk lagi jika aku pergi.

“Sebentar, kak…”

Aku belum selesai!! Kamu tahu, aku perih mendengarnya. Saat itu aku berpikir, kepergian Eunbi? Hoo… dia lancang mendahuluiku! Percuma aku berjuang untuk hidup tapi kamu malah menyerah begitu saja, tanpa ada perjuangan! Sia-sia aku berjuang sambil memikirkan orang yang sama sekali tak berjuang!

“Kak… tolong. Aku menyayangi kakak, maka dari itu aku tak ingin mengganggu perjuangan kakak.”

Omong kosong!

“Kak…”

Dan setelah aku mengucapkan semua ini, jangan berani-beraninya kamu minta maaf! Kamu jauh menyebalkan, mengesalkan! Kamu membuat aku tak lagi percaya soal persahabatan!

“Lantas kenapa kakak pergi meninggalkan mereka, lalu menemuiku lagi?”

“Kenapa kakak memilih dunia yang sama denganku, lalu menjelajahi dunia bersama selama hampir seabad ini?”

Aku cuma ingin membuatmu merasa bersalah… menyalahkan dirimu sendiri. Aku ingin kamu sadar, pemikiranmu soal rasa sayangmu itu tak sesuai. Malah membuatku kesal.

“Begitukah?”

Jangan menangis! Sudah terlambat bagimu untuk menangis! Terlambat juga bagimu untuk minta maaf! Kamu jauh lebih mengesalkan daripada tikus got! Kamu tak menepati janjimu untuk tetap menyayangiku, di saat aku susah payah menepati janjiku untuk terus menyayangimu, terus menemanimu dan tak akan membiarkanmu sendirian!!

“Kakak juga menangis. Kenapa kakak melarangku menangis?”

Karena aku tak suka melihatmu menangis, dasar bodoh! Terlambat bagimu untuk menangisi apa yang terjadi antara aku dan kamu! Terlambat, sangat! Aku sudah menangisi keputusanmu yang pergi tanpa pamit ratusan tahun yang lalu, menangisi perpisahan kita dengan teman-teman kita yang sangat tragis, menangisi takdir yang justru memihak pada kita saat kita tak lagi berpijak pada Bumi!!

“Kakak…”

Sementara kamu baru saja menangisi semua yang terjadi seabad lalu, sekarang! Kamu tersenyum bahagia di sini, sementara orang-orang menangisi kepergianmu!! Kamu tak ambil pusing soal Ladies Code yang justru terkenal setelah kepergianmu!! Kamu tak acuh soal kepergianmu yang bersamaan dengan ulang tahun Sojung!! Tak tahukah kamu betapa sulitnya Sojung merayakan ulang tahunnya di tahun-tahun berikutnya?! Jelas kamu tak tahu!! Kamu tak peduli pada semua orang, semua fans-mu…

…kamu juga tak peduli padaku…

“Kakak…”

Jangan peluk-peluk! Kamu pikir air mata yang sudah terlanjur mengalir bakal berhenti hanya dengan satu pelukan?

“Semua sudah berlalu… mereka sudah menjalani kehidupan mereka dengan baik…”

Aku tahu! Aku lebih tua darimu, paham? Mereka berjuang dengan caranya sendiri, dengan perih di dada, dan kamu tak peduli! Kamu tak tahu ‘kan, betapa rasa sakit mereka begitu terasa di hatiku?

“Makanya… selama ini aku berusaha terlihat tak acuh… karena aku ingin kakak bahagia bersamaku… di sini. Karena beginilah takdir mengatur jalan kehidupan kita. Aku tak ingin kakak meratapi semua yang telah terjadi. Mau diratapi atau disesali bagaimanapun, semua terlanjur terjadi. Tak akan ada mesin waktu yang membiarkan kita kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua yang sudah jadi.”

“Maaf kalau aku salah langkah. Aku hanya tak ingin menangis dengan mengenang masa hidup kita… yang kalau dikenang malah menyakitkan. Aku juga kecewa karena aku dikenal banyak orang setelah aku meninggal…

“Tapi aku tak ambil pusing lagi. Kakak datang ke sini dan menemaniku. Aku ingat kalimat pertama yang kakak ucapkan saat pertemuan pertama kita di sini… coba kakak tanya, apa.”

Apa?

“Adikku yang paling cantik, Eunbi… kakak Rise di sini. Kakak Rise akan selalu menemani Eunbi dan menepati janjinya… mulai sekarang.”

Kamu mengingatnya? Bahkan aku sudah lupa.

“Iya, aku ingat. Aku juga ingat senyum kakak yang begitu menenangkan, lalu kakak mengajakku terbang. Kakak mengucapkan janji-janji yang dulu pernah kita ucapkan, lalu tertawa bahagia. Kakak tahu pasti, satu demi satu janji-janji itu terkabulkan, sejak abu kakak tertiup oleh angin… sejak jasadku bersemayam damai di bawah tanah.

“Aku jadi tenang… karena kakak, aku jadi senang…”

Ah… kamu membuatku kesulitan berdalih lagi… aku sudah memelukmu lebih erat sekarang, tapi aku malu… malu karena meluapkan emosiku begitu saja hari ini. Bahkan aku membiarkan sayapmu basah oleh air mata. Tak apakah?

“Tak apa… toh kita jadi paham. Persahabatan yang suci dan selamanya tak hanya ada dalam komik ‘kan?”

Tidak! Cuma ada dalam komik! Titik! Kita ini bukan sahabat! Kamu terlalu baik kalau jadi sahabat, juga terlalu jahat! Kamu itu saudaraku!!

“Terserah kakak deh…”

FIN

Okeyy… aku juga agak kecewa kenapa orang-orang pada tahu Ladies Code justru setelah kejadian itu T_T tapi ya udahlah gak pa-pa… Selamat Jalan Eunbi~~ Rise~~ :”D