On My Own


eos_by_agnes_cecile-d9vfr6y
cr. to : agnes-cecile @ deviantart

I love him
But only on my own

.

.

© sasphire, 2016.

Pada Senin minggu ke-3 bulan Mei 2015, akhirnya Kana bisa keluar dari rumahnya dengan wajah datar. Lebih baik karena sejak awal Mei wajahnya selalu murung—di suatu waktu kadang terlihat terlalu pucat, persis hantu yang biasanya muncul di film horror.

Kana bukan tipe pemurung, tapi juga bukan anak yang terlalu ceria. Dia tipikal orang ambivert, jadi orang di sekitarnya jarang sekali peka pada perubahan mood-nya. Dia sendiri bukan tipikal orang yang mudah menyatakan masalahnya. Dia lebih sering merasakan susah sendiri meskipun memiliki banyak teman. Bukannya tidak percaya pada orang lain, tapi, yeah, dia sudah terlanjur nyaman memendam semuanya sendirian.

Tapi sekarang sepertinya terlalu berat. Tapi toh, dia masih bisa stay cool seperti biasanya. Masih bisa tersenyum, masih bisa menceritakan cerita-cerita konyol di masa lalunya dengan gestur berlebihan, masih bisa melebih-lebihkan gaya bicaranya saat merespon gurauan teman-temannya…

Masih bisa sok baik lah.

Terlebih saat si penyebab utama perasaannya kalang kabut itu datang menghampirinya hari ini.

“Kana…”

“Hai…”

“Buat Sosiologi Pedesaan kita satu kelompok lho.”

Ih yang benar?” Kana tertawa. “Masa’ cuma bolos 2 kali aku langsung dapat apesnya, Nu?”

Wisnu tersenyum canggung.

“Jadi tugasnya apa nih?”

Melihat Kana yang masih terlihat baik-baik saja, Wisnu semakin salah tingkah. “Kana, kamu nggak perlu pura-pura asyik kok. Kalau kamu marah, silahkan.”

Kana menggelengkan kepala heran. “Baru kali ini lho, aku ketemu orang yang lebih suka dimarahin daripada dibaikin.”

Lalu tercipta keheningan cukup lama. Kana masih sibuk memilih personality quiz di playbuzz, sementara Wisnu sibuk dengan smartphone-nya. Dan percayalah, pikiran mereka sama sekali tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Kana sibuk menerka apa yang akan Wisnu katakan, Wisnu sibuk merangkai kata supaya Kana memperlakukan Wisnu sesuai yang dia inginkan. Terlihat serasi memang, tapi tidak.

Meskipun banyak orang melihat mereka serasi, tapi ada dinding tak terlihat di antara mereka. Dan dinding itu sulit sekali dirubuhkan.

“Kana…”

“Hmm?”

“Kamu beneran nggak pengen nonjok aku?”

Kana menatap Wisnu, lalu tertawa. “Nu, tanganku kecil banget sementara tubuh kamu isinya otot doang. Kalo aku punya kekuatannya Hercules, udah aku tonjok kamu dari kemaren.”

“Na, serius…”

Wajah Kana yang awalnya sumringah kini berubah menjadi senyuman kecil, lalu wajahnya kembali menatap layar laptop. “Aku juga serius kali, Nu.”

“Kalau kamu beneran marah, silahkan kata-katain aku sepuasnya. Jangan kayak gini. Aku tahu, kalau aku ada di posisi kamu, aku bakalan marah banget.”

“Hmm…” Kana terlihat sedikit cuek. “Berarti kamu kurang tahu aku, Nu. Kamu pikir kamu tahu aku sepenuhnya, tapi sebenarnya enggak. Oke, kamu benar aku marah banget. Tapi masa hidup orang terbuang cuma buat marah ke satu orang sih? Bodoh banget gitu lho.”

Wisnu menghela napas keras. “Tapi aku masih nggak enak sama kamu. Kamu udah aku anggap adik sendiri. Maaf banget aku udah buat kamu kecewa.”

“Kamu sama sekali nggak salah, Nu. Aku aja yang kegeeran.”

“Maaf, Na.”

“Hmm.”

“Benar nih?”

“Iya, ya ampun. Kamu cerewet banget sih jadi cowok?” Kana tertawa kecil, tapi masih belum berpaling dari layar laptop. Pada awalnya dia berhasil mengatur semuanya—sikap stay cool yang menjadi ciri khasnya, kelakar-kelakar receh, omongan-omongan sok tegar, sampai ke tatapan mata intens yang menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Tapi nyatanya, dia tak sekuat yang dia kira. Kenyataan yang Kana hadapi sekarang masih terlalu absurd untuk dia terima, bahkan kalau kenyataan itu akhirnya hanya berwujud mimpi.

Forgiving, but not forgeting. Begitu kata orang soal cewek.”

“Eciee… mulai pake bahasa Inggris. Padahal dulu Pengantar Bahasa Inggris dapat C.”

“Na..”

Kali ini Kana yang mendesah. “Plis, Nu. Kamu mau bilang apa? aku udah baik-baik aja dan mau mulai menerima kenyataan. Terus kamu mau aku ngapain lagi?”

Kana menatap Wisnu. Kini Kana sendiri tak yakin apa yang tersirat di mata Wisnu, begitu juga Wisnu yang selalu kesulitan menerka Kana. Sudah lebih dari 2 tahun mereka saling mengenal, tapi masih sulit bagi mereka untuk benar-benar mengenal satu sama lain.

Wisnu yang tak pernah mengira bahwa Kana memiliki perasaan padanya, dan Kana yang tak habis pikir bahwa Wisnu hanya menganggapnya adik, seseorang yang perlu dilindungi.

Wisnu tak mau kehilangan Kana, tapi saat ini dia merasa seolah Kana semakin menjauh.

Wisnu akhirnya menatap ke arah lain dan membungkuk. Kedua tangannya saling mengaitkan jari. “Aku pengen lihat kamu marah.”

Kana mengernyit. “Pak, obat kamu habis ya?”

“Serius, Kana. Aku masih nggak enak sama kamu kalau kamu masih baik ke aku. Aku harus liat kamu marah ke aku sampai kamu benar-benar lega. Tapi setelah itu, aku pengen kamu tetap jadi teman aku.”

“Oke, request kamu kali ini alay banget, Nu.”

Wisnu menunduk. “Aku tahu sedikit tentang kamu, Na. Setiap kali kamu sedih ataupun marah, kamu lebih milih untuk menahannya sendirian. Kadang kamu butuh seseorang di samping kamu, Na.”

Yeah, itu benar. Dan dulu aku pikir kamu yang harusnya di samping aku. Bukan sebagai teman, tapi sebagai seseorang yang spesial. Paham?” Kana tertawa kecil, berusaha tetap terlihat cool—berusaha agar air matanya tak jatuh. “Aku masih berusaha buat move on, tapi kamu nyerocos nggak jelas kayak gini. Aku harus gimana?”

“Tapi aku bukan yang terbaik…”

“Iya. Tahu. Kamu bukan yang terbaik. Dan kita tetap jadi teman. Dan aku udah nggak marah sama kamu, gimanapun bentuk kamu. Oke?”

“Tapi…”

“Nu, kalau kamu minta aku marah ke kamu, sampai kapanpun nggak bisa. Kecuali kalo kamu nggak ikut ngerjain tugas, nggak bantuin presentasi, nggak rapat HMJ, mungkin aku bisa marah ke kamu.”

“Tapi aku masih nggak enak sama kamu, Na.”

“Beliin Cornetto Disc chocolate, nanti juga enak sendiri.” Kana kembali ke layar laptopnya, bertingkah seolah perdebatan di antara mereka selesai.

“Na…”

“Omonganku yang tadi serius, ngomong-ngomong. Jangan kamu kira bercanda ya. Cuacanya lagi gerah nih belakangan ini.”

Wisnu tersenyum. Dia sadar, sampai kapanpun, Kana tetap Kana. Sulit membuatnya mengekspresikan kekesalannya pada orang lain. Dia selalu membiarkan semuanya terpendam sendiri. Bisa jadi, selama 2 minggu dia meninggalkan hampir 8 mata kuliah yang dia tempuh bersama Wisnu adalah salah satu bentuk pelampiasannya atas kemarahannya pada Wisnu. Mendiamkannya. Tidak membalas Line, tidak mengangkat telepon, mengabaikan sapaan Wisnu saat berpapasan di jalan…

Bukan untuk menunjukkan amarah. Lebih ke… menguatkan hati untuk lebih tegar?

Dilihat dari sikap Kana yang tenang-tenang saja saat duduk di sampingnya membuat Wisnu yakin, Kana hanya menguatkan hatinya. Tak ada niatan untuk memutuskan tali pertemanan, apalagi benar-benar menjauh darinya.

“Kita… tetap berteman kan?”

“Kalau nggak ada Cornetto Disc ya nggak jadi,” jawab Kana enteng.

“Oke. Deal ya?”

Deal.” Kana tersenyum tipis.

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu masih mau temanan sama aku? Hampir semua orang ketika tahu aku punya kekurangan, mereka langsung jijik ke aku.” kini Wisnu berusaha kembali seperti sosoknya yang dulu, sebelum Kana mengungkapkan perasaan padanya. Tanpa tahu ungkapan singkat itu menohok hati Kana sekali lagi.

Tapi Kana masih tetap cool dengan senyum tipisnya.

Everything happen for a reason. Right?”

.

.

I love him
But every day I’m learning
All my life I’ve only been pretending
Without me, his world will go on turning
The world is full of happiness that I have never known

.
.
hai hai… eciee… yang udah lama nggak nulis, sekalinya nulis absurd banget maaf :”( ceritanya aku masih tergila-gila sama Long Programnya Yuna Kim buat 2012-2013 Season, penasaran gitu loh instrumennya megah banget, koreonya, artistiknya, ekspresinya, terus aku penasaran maksud dari musiknya apa?
terus iseng cari di google, ternyata instrumen yang dipake Yuna itu instrumennya On My Own sama remix satu lagi lupa judulnya apa… dan wah… heart broken banget gitu liriknya On My Own, :”( tanpa sadar keputer terus deh musiknya, terus… jadi deh nih fikh haha absurd ya maaf T_T
review, komen dan like ya.. matur tengkyu…

4 thoughts on “On My Own

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s