(un)break


unbreak

sasphire. 2015.

Duduk di sofa merah depan tv bukan hal yang biasa dilakukan di Minggu pagi. Minhyun membencinya. Dulu dia bilang itu kegiatan bagi para pemalas. Tapi Miyoung menyukainya dan berkelakar, “Aku memang pemalas kok. Mau apa kamu?”

Tapi hari itu Minhyun langsung duduk di tepi kanan sofa, sementara Miyoung duduk di tepi kiri sambil memegang remote. Wajahnya yang sayu menandakan dia baru bangun dan masih malas melakukan aktifitas apapun.

Suara tv menyelamatkan adanya keheningan, tapi tidak dengan rasa canggung.

Dan akhirnya Minhyun bersuara. “Miyoung-a.”

Hm?”

“Kenapa kamu mencintaiku?”

Pandangan Miyoung teralihkan. “Kenapa tiba-tiba menanyakannya?”

“Entahlah. Aku pikir apakah aku kehilangan sesuatu dalam ingatan. Tapi semakin aku meraba rasanya semakin samar, tapi sepertinya juga jelas. Cinta… tiba-tiba samar.”

“Wah wah… sejak kapan cinta itu jelas? Cinta memang abstrak. Tindakan yang berkaitan dengan cinta saja yang kadang ambigu.”

“Bukan itu maksudku.”

Miyoung mengernyit. “Lalu?”

Hening sejenak, lalu Minhyun mengalihkan pandangannya ke tv. “Kita.”

“Oh, aku paham.” Miyoung menyandarkan punggungnya sambil tersenyum tipis. “Jenuh ya?”

Jackpot! Minhyun lupa bahwa soal kepekaan, Miyoung belum ada yang menandingi, setidaknya orang-orang di sekitarnya. Lalu dia harus bilang apa kalau hanya dengan dua kata kunci saja bisa membuat Miyoung tahu? Sudah banyak waktu yang dia habiskan hanya untuk merangkai kata yang mungkin Miyoung tak akan langsung tahu…

Tapi kemudian Minhyun berpikir, harusnya tak usah dibicarakan.

Tapi kalau tak dibicarakan, bukankah nanti dia akan tersiksa sendiri?

Samar. Kita. Dua kata itu memangnya bisa menggambarkan rasa jenuh?

Oppa, kamu merusak suasana deh. Seminggu tak bertemu, sekalinya bertemu bilang kamu jenuh.”

“Secara teknis, bukan aku yang mengatakannya.”

Miyoung membuat wajahnya terlihat berpikir. “Iya, ya.”

Selama beberapa detik, tawa dalam canggung terdengar.

Oppa, kenapa aku mencintaimu dan kenapa kamu mencintaiku tak akan pernah jadi masalah dalam sebuah kejenuhan. Jika kamu jenuh, bukan itu yang jadi masalah.”

Minhyun terdiam. Bingung harus mengatakan apa. memangnya dia bisa mengalahkan ucapan Miyoung yang kadang terasa benar, walau dia meragukannya? Toh di lain waktu, terkadang, memang terbukti ucapan Miyoung benar.

“Kalau begitu…” Minhyun kembali menatap Miyoung karena nada ucapan gadisnya yang menggantung. “Kita berpisah saja ya?”

“Hei. Bukan itu maksudku.” Posisi duduk Minhyun menegang mendengarkan ucapan mengerikan itu. Selama menjalin hubungan, tak pernah dia membayangkan ucapan itu terjadi di antara mereka.

“Lalu apa? masalah jenuh, ya cuma itu solusinya.”

“Aku berusaha membicarakannya denganmu bukan berarti aku ingin berpisah denganmu. Kamu tahu tidak sih bedanya jenuh dan benci? Aku tidak membencimu. Aku masih mencintaimu, hanya saja aku jenuh…”

“Bukankah katamu tadi cinta terasa samar?” Perkataan Miyoung yang memotong ucapannya terasa menusuk.

Memang kenapa kalau cinta terasa samar?

Apa benar solusi cinta yang samar itu perpisahan? Kenapa rasanya tidak adil?

.

.

.

Sudah lebih dari setengah tahun, dan mereka tak saling menghubungi. Alasannya sederhana namun rumit secara bersamaan: mencari yang sempurna, yang tak akan menimbulkan rasa jenuh saat sudah berkomitmen.

Tapi keduanya sama-sama berpikir: memangnya ada?

Minhyun sudah menemui 9-10 gadis lewat rekomendasi teman-temannya, tapi tetap tak ada yang cocok. Pada akhirnya, saat pertemuan-pertemuan formal berakhir, dia hanya akan kencan 2-3 kali layaknya sepasang kekasih yang sebenarnya—seperti dia dan Miyoung lakukan—lalu malamnya dia akan berdiri di depan pintu apartemen Miyoung.

Hanya diam tanpa memencet nomor-nomor sakral yang mengizinkannya masuk ke dalamnya.

“Aku akan merubah nomornya supaya Oppa tak bisa masuk seenaknya lagi.”

Minhyun ragu Miyoung benar-benar melakukannya, tapi dia juga ragu untuk membuktikannya.

Dia rindu setengah mati pada Miyoung.

“Kamu lebih terlihat bingung sekarang,” ucap Nuna-nya saat pertemuan formal ke-7 nya selesai. Minhyun mengernyit.

“Bukan putus asa? Bukan patah hati?”

“Bukan.”

Bingung? Kenapa bingung?

.

.

.

Sedangkan di sisi Miyoung, dia malah berkencan dengan cinta pertamanya. Cinta monyet yang dia anggap remeh dan kekanakan, tapi entah mengapa menyakitkan karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bagaimana mungkin rasa cinta anak SD bisa begitu menyakitkan?

Saat si Cinta pertama datang—sebut saja Cheon Sarang, akan memalukan jika Miyoung mengumbar namanya—dan merebut hatinya lagi, Miyoung bingung harus senang atau sedih.

Empat bulan berlalu, dan kebingungan masih menyelimuti benaknya.

Cheon Sarang itu, menghantuinya dari umur 9 tahun sampai dia SMA kelas 1. Bukan waktu yang sebentar. Bagaimana bisa hidupnya hanya dihantui 2 orang lelaki.

Minhyun selalu cuek dan cool, tapi selalu tersenyum lebar dan tak akan ragu memeluk para fans-nya. Hubungan mereka ditutup-tutupi oleh agensi Minhyun, tapi toh Miyoung tak pernah mempermasalahkan hal itu. Yang penting dia punya privasi dan Minhyun nyaman bersamanya, itu sudah cukup.

Minhyun juga pendiam dan selalu jadi pendengar yang baik. Miyoung yang selalu menjadi pendengar saat berada di lingkungannya langsung berubah saat bersama Minhyun. Walau Minhyun hanya tersenyum, Miyoung tahu itu bentuk perhatiannya. Walau saat bersama team mate-nya dia berubah menjadi orang yang tidak waras, tapi Miyoung bahagia bersamanya. Setidaknya dia juga memberikan kebebasan yang Minhyun inginkan, dan Miyoung pun mendapatkan kebebasan dari sang kekasih.

Walau kadang responnya jadi sangat menyebalkan. Bisa saja saat Miyoung selesai berccerita, Minhyun akan menimpalinya dengan omongan yang kasar dan pedas, namun sesuai dengan realita.

Di sisi lain, Cheon Sarang itu, membuatnya terus berandai-andai. Menjauhkan Miyoung dari realita. Seperti misalnya ucapan-ucapan janji yang manis…

Memaksa Miyoung jadi pendengar…

Reaksi berlebihan saat mendengarkan cerita Miyoung…

Miyoung jadi merasa jahat pada kedua lelaki itu. Kenapa harus membandingkan mereka? Jelas-jelas perasaannya berat sebelah.

Lorong yang panjang dan gelap itu kapan berakhirnya?

.

.

.

Mungkin malam ke-535 setelah mereka berargumentasi tentang jenuh—atau 564? 573?—Minhyun memutuskan untuk berhenti. Bagaimanapun, tak ada gadis yang seperti Miyoung. Memang banyak yang lebih cantik, lebih tinggi, bahkan lebih pintar dari Miyoung, lebih asyik dari Miyoung…

Tapi dia sadar, di antara ratusan wanita sempurna, yang sempurna baginya hanyalah Miyoung.

Mobilnya berhenti di perjalanan menuju apartemen Miyoung. Dia terkejut melihat Miyoung berjalan dengan lelaki yang sangat Minhyun benci. Bagaimana mungkin Miyoung mau berkencan dengannya?

Dan lagi, bagaimana mungkin Miyoung berdandan secantik mungkin saat berkencan dengan lelaki bajingan itu, sementara saat berkencan dengan Minhyun, dia hanya memakai kaos raglan dan jeans biru tua?

“Miyoung-a!!”

Miyoung terkejut, tapi di dalam hatinya ada rasa senang luar biasa. Betapa dia merindukan suara itu, tapi dia tahu ini bukan saat yang tepat.

“Kamu masih dekat dengannya?”

Miyoung terpana. Belum sempat dia menjelaskan pada Sarang, Minhyun sudah menarik tangannya untuk menjauh. Miyoung memberikan isyarat pada Sarang untuk memasuki restoran terlebih dulu.

“Kenapa harus dia?”

“Memangnya kenapa?” Miyoung memasang wajah tak mengerti. “Terserah aku ‘kan?”

“Tapi kenapa dia?”

“Karena aku menyukainya. Masa’ tidak paham?”

“Hei, aku yakin itu bukan alasannya.” Minhyun tertawa sinis. “Selama ini kamu menjauh dariku, untuk orang seperti dia? Aku tahu dia cinta pertamamu, tapi…”

“Setidaknya lebih baik kan?” Miyoung kembali memotong ucapan Minhyun. “Daripada kamu, berkencan dengan lebih dari satu perempuan!”

“Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu mengawasiku?”

Miyoung terhenyak. Mengapa dia mengatakannya?

“Kenapa?” sekarang Minhyun tertawa jahil. “Kamu merindukanku ya?”

“Memang itu penting sekarang?” Miyoung membalikkan badan, tapi Minhyun menahan tangannya.

“Baiklah kalau kamu memang marah. Tapi dengarkan aku. Kamu boleh berkencan dengan lelaki manapun, bahkan kalau kamu mau, kamu boleh berkencan lebih dari satu lelaki sepertiku. Tapi, jangan dia.”

“Kenapa?”

“Duh, kenapa kamu begitu naif sih?! Dia… adalah salah satu dari ribuan orang yang mengejekmu! Dia yang bilang kamu rendahan, dia yang bilang kamu tak pantas berada di levelnya, dia yang bilang kamu miskin, dia yang bilang kamu tidak lebih cantik dari anjing peliharaannya, dia yang—“

“setidaknya dia ada di sampingku saat kamu jenuh padaku, Oppa.”

Napas Minhyun tersengal, sementara air mata Miyoung berada di pelupuk mata.

Minhyun marah, entah marah pada siapa. Marah pada Miyoung yang terlalu naif? Marah pada cinta pertama Miyoung? Atau marah pada dirinya sendiri yang tak mengerti apa-apa?

“Kamu benar, Oppa. Dia brengsek. Kamu benar, aku naif.”

Kali ini Minhyun tak berkata apa-apa dan membiarkan Miyoung masuk ke dalam restoran.

Tapi bukan berarti dia menyerah. Dia menunggu di jok mobil sambil mengingat ucapan Miyoung.

“Aku menyukainya.”

Miyoung masih menyukai lelaki brengsek itu, dan itu tak terdengar menyakitkan bagi Minhyun.

Miyoung hanya menyukainya, bukan mencintainya.

.

.

.

“Miyoung-a.”

“Ya?” Miyoung tidak menatap wajah si Sarang. Selain karena sibuk dengan hanwoo yang ada di depannya, dia masih memikirkan ucapan Minhyun.

“Aku dengar, kamu berpacaran dengan Minhyun?”

Gerakan tangan Miyoung berhenti. “Bagaimana kamu tahu?”

“Ayolah, dulu saat SMA kalian dekat sekali. Belajar bersama, makan bersama… di mana ada Miyoung, di sana ada Minhyun.”

Miyoung tertawa. “Itu kan hanya karena aku mengajarinya dan dia membayarku dengan makanan. Itu saja.”

“Begitu? Tapi di grup Line kalian sering diperbincangkan lho.”

“Aku tidak tertarik dengan obrolan omong kosong ini.” Miyoung berusaha mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana kalau kita makan saja, lalu kita lanjutkan acaranya.”

Tapi si Sarang tidak menggubris. “Awalnya aku meragukannya. Tapi melihat Minhyun tadi menghampiriku, aku jadi yakin. Dia terlihat cemburu. Wah, secantik itukah dirimu hingga membuatnya cemburu?”

Akhirnya Miyoung memilih diam dan mengisi perutnya. Hari-hari bersama Sarang begitu asyik, tapi juga melelahkan. Baik Sarang dan Minhyun sama-sama keranjingan dengan handphone, tapi setidaknya Minhyun tahu, face to face adalah komunikasi yang terbaik dibandingkan chatting. Sarang tak akan memalingkan wajahnya dari handphone saat dengan Miyoung, tapi Minhyun sebaliknya.

Lelaki yang selalu mengabaikan keberadaannya, kenapa Miyoung bisa begitu menyukainya?

Hari ini sudah puncaknya.

“…Dan lagi…” Sarang masih meneruskannya. “Apa Minhyun pantas kamu cintai? Anggota boyband yang di buang ke Jepang itu apa bagusnya sih?”

Miyoung mengepalkan tangannya, tapi dia masih belum berani membalasnya. Ucapan-ucapan busuk apalagi yang akan dikatakannya? Lalu bagaimana membuatnya jera? Menyiram air putih ke mukanya terlalu dramatis, menginjak kakinya hanya akan membuat kakinya sakit… bisa jadi ucapannya malah semakin menyeramkan.

Oh, Miyoung butuh Minhyun untuk membunuh si Sarang dengan ucapan yang mematikan. Dia ingin menyerangnya dengan ucapan yang menyakitkan, tapi di otaknya tak ada apa-apa.

Miyoung sudah tahu, yang namanya cinta masa kecil harusnya disimpan agar kenangannya tetap indah. Untuk apa berusaha meraihnya jika yang terjadi malah membuat yang namanya cinta pertama tak ada artinya lagi?

“Dulu dia yang terkaya di sekolah, tapi sekarang dia berjuang mati-matian di luar negeri. Apa kamu yakin agensinya sudah membayarnya? Bahkan dia tak terkenal sama sekali lho. Coba kau kelilingi restoran ini dan tanyakan pada mereka, adakah yang mengenal boyband-nya? Aku yakin tak ada.”

Miyoung meracau tak jelas dalam hatinya.

“Bahkan jika hubungan di antara kalian terkuak, tak akan ada yang sakit hati. Berani taruhan, semua netizen hanya akan berkomentar ‘nugu’? Wah… benar-benar hubungan yang dramatis. Idol pria yang tak terkenal berpacaran dengan wanita yang biasa-biasa saja.”

“Ah benar.” Miyoung akhirnya berteriak dan meletakkan pisau dan garpu di tangannya dengan keras. “Kamu taruhan lagi dengan teman sekelas kita ya? Kamu taruhan dengannya, apakah kamu bisa berpacaran denganku, si peringkat satu di sekolah dulu? Wah, jika kamu sampai ikut taruhan murahan seperti itu, berarti kamu dililit utang ya?”

“Hei, kenapa tiba-tiba…”

“Atau bukan itu alasannya? Apa kamu dibayar oleh para jurnalis untuk menginterogasi pacar salah satu idol, lalu membuat blind items konyol, begitu? Kamu butuh uang berapa sih?”

“Miyoung-a!! Jaga mulutmu!!”

“Eh, tapi bukan karena uang ya? Kamu masih bisa mengajakku kencan di restoran mahal begini? Ah… kamu ingin meninggalkanku setelah membuatku patah hati, lalu bilang ‘kamu pikir kamu siapa?’ padaku, begitu? Wah, sayangnya aku bukan orang yang mudah patah hati. Kamu pikir kenapa aku mau kencan denganmu? Simpel kok. Karena kamu terlihat begitu menyedihkan saat datang padaku.”

“Han Miyoung!!”

“Ternyata kamu tak berubah ya. Pasti banyak wanita yang enggan mendekatimu, lalu kamu ingat aku pernah mencintaimu, jadi kamu merayuku. Kamu gengsi kan, lelaki kaya sepertimu tak bisa jadi playboy?”

Miyoung segera berdiri meninggalkan si Sarang. Lalu dia kembali melihat si Sarang untuk terakhir kalinya. “Asalkan kamu tahu, selera fashion si idol-yang-gagal-terkenal itu lebih baik darimu. Siapa yang memakai jas berbulu dan syal rainbow seperti itu? Ingin menunjukkan barang mahal ada caranya sendiri, Bung!”

.

.

.

Minhyun membunyikan klakson mobilnya saat melihat Miyoung keluar dari restoran. Miyoung tak menatapnya. Kakinya masih terus berjalan.

Minhyun menjalankan mobilnya pelan mengikuti ritme langkah Miyoung, setiap menit membunyikan klakson dan Miyoung masih mengabaikannya. Kepalanya menunduk, menyimpan rasa malu sekaligus sedih.

Hampir setengah jam berlalu, membuat Minhyun terpaksa turun dari mobil.

“Ayo pulang.”

Miyoung masih berdiri. Minhyun menghela napas, lalu mengenggam tangan Miyoung.

.

.

.

“Dia kenapa lagi? menghinamu?”

Miyoung menyandarkan kepalanya di dashboard mobil. Dia bukannya menangis hanya karena lelaki brengsek itu, tapi dia menangis karena penghinaan habis-habisan yang ditujukan untuk Minhyun. Lelaki yang selalu ada di sampingnya itu… bagaimana bisa lelaki brengsek itu menghina lelaki yang begitu berharga baginya?

“Kamu jadi bahan taruhan lagi?”

Sekarang Miyoung malu setengah mati. Saat itu, bukan dia yang jenuh, tapi Minhyun yang jenuh. Kenapa dia memikirkan cara ‘berpisah dan mencari pengganti’, bukannya berusaha mempertahankan Minhyun? Bahkan dia malah berkencan dengan seorang pecundang yang bisanya hanya melihat kejelekan orang lain.

Bukankah sesuatu yang berharga akan terasa bernilai saat mereka sudah tak hadir di kehidupan kita (atau lebih tepatnya, saat kita menghilangkan mereka tanpa berpikir jernih)?

“Sudah kubilang, jangan dia. Seperti tidak ada lelaki lain di dunia ini. Memangnya sebegitu besarkah pengaruh cinta pertama? Lihat dirimu sekarang. Kamu berdandan cantik saat bersamanya, sementara saat bersamaku kamu selalu cuek. Kalau sudah sakit hati begini, bagaimana menyembuhkannya?”

“Iya…”

Maksud Minhyun hanyalah mencairkan suasana, seperti biasanya. Saat Miyoung melakukan kesalahan karena tak patuh akan ucapannya, atau mungkin saat Minhyun bermaksud mencegah Miyoung untuk melakukan sebuah tindakan yang berisiko, dan Minhyun berharap Miyoung akan merespon seperti biasa. Tawa yang dibuat-buat karena kesal.

Tapi mendengar suara Miyoung yang parau, Minhyun jadi salah tingkah.

“Kenapa sampai sedih begitu sih? Dia melakukan apa? Kamu tidak apa-apa ‘kan?”

“Aku baik-baik saja, Oppa.”

“Oke deh. Aku anggap kamu baik-baik saja. Awas kalau kamu berani bertemu dengannya lagi, atau mungkin bertemu dengan lelaki brengsek lainnya dan kamu tidak mendengarkan ucapanku lagi.. kamu akan…”

“Aku tahu… Aku tahu…” Akhirnya Miyoung mengangkat kepalanya dan menatap wajah Minhyun kesal. Minhyun melirik wajah Miyoung lewat spion mobil, membuat Minhyun tahu alasan Miyoung menyembunyikan wajahnya. Minhyun menghela napas pelan.

“Jadi… bisakah kamu diam sebentar Oppa? Rasanya aku hampir mati menahan rasa maluku!”

“Oke…” jawab Minhyun dengan nada santai. Entah mengapa, hatinya sedikit lega mendengarnya. Kalau Miyoung sudah mengakui kesalahannya, berarti tak lama lagi mereka akan kembali seperti dulu. Minhyun tersenyum senang.

“Pokoknya, kalau kamu merasa apa yang sudah terjadi harus kamu ceritakan, ceritakan saja. Kalau ingin kamu simpan, selama kamu bisa menjadi kuat karena menyimpannya, maka simpan saja. Seperti biasa. Ya?”

Miyoung mengangguk, lalu kembali membenamkan wajahnya.

Beberapa menit berlalu, suasana kembali menjadi canggung. Minhyun membenci suasana itu, hingga akhirnya dia berinisiatif memulai percakapan lagi.

“Miyoung-a.”

“Apa lagi?”

“Kalau suatu saat nanti, salah satu dari kita jenuh (tapi aku harap tidak), jangan memakai cara ini lagi ya? Kamu tidak tahu ‘kan betapa aku tersiksa karena jauh darimu?”

Miyoung duduk tegak secara tiba-tiba dan menatap wajah Minhyun sekali lagi. “Pokoknya jangan menanyakan alasan kenapa aku mencintaimu, kenapa kamu mencintaiku lagi. itu menyalahi aturan.”

Minhyun terkekeh. “Oke… Oke…”

Mereka tertawa kecil.

“Ah sial. Sekarang aku jenuh karena ketidakberadaanmu!”

fin.

Hah… jadi inget jamannya BaekYoung berjaya ya ampyun… entah kenapa masalah bias kok aku labil banget… tapi lihat Baekhyun duet sama Suzy aku juga ilfeel yah nggak pa-pa yang penting aku sama mas Minhyun (ditendang)

btw proses editingnya aku males setengah hidup, jadi feel free untuk benerin typo yah (dilempar) sama jangan lupa review…

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s