Perfume


lg_4e9caf4b-de9c-4f58-a959-08430a7a1917
Enter a caption

“Sita, tahu parfum baru yang kemarin baru aku beli nggak?”

Sita hanya bengong sebentar, lalu tersenyum sambil mengeluarkan es balok warna merah muda dari freezer.

“Sita, kalo ditanyain jawab dong.”

Sita duduk di meja makan. “Enggak kak.”

Rani melihat jam tangannya dengan gelisah. “Beneran nggak tahu? Yang warna merah muda?”

Sita menggeleng. “Enggak.”

Karena risih melihat tingkah kakaknya yang seolah kebakaran jenggot hanya karena kehilangan sebuah parfum, Sita berkata ketus, “Beli lagi aja kenapa sih kak?”

“Itu harganya mahal lho. Sama obat kamu aja mahalan parfum itu.”

Sita melahap satu-persatu es balok yang kini berada di dalam gelas kacanya. “Ngapain beli parfum mahal-mahal?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Sita, Rani malah balik bertanya yang jelas-jelas jauh dari topik awal mereka, “Tumben kamu makan es rasa strawberry? Kamu kan nggak suka makan es rasa buah-buahan. Cokelat mulu yang kamu makan.”

Rani memakai high heels-nya, lalu membenarkan tali gaun ketatnya yang menggantung di leher.

“Pengen aja.”

Rani hanya mengernyit, tapi langsung mengabaikan urusan Sita dengan es baloknya. Dia baru ingat adik satu-satunya itu belum makan sejak siang.

“Jangan tidur dulu ya. Mau aku beliin apa buat makan malam?”

Sita tersenyum tipis dan menggeleng. “Nggak usah kak.”

“Kok nggak usah? Ngomong-ngomong minta cologne kamu aja deh.” Kini Rani menyemprotkan cologne milik Sita yang tergeletak di atas kulkas—jangan heran jika rumah mereka selalu berantakan. Rani sibuk bekerja siang dan malam demi hidup mereka berdua, Sita sibuk menjaga anak tetangga yang selalu dititipkan padanya sampai sore karena pekerjaan tetangga mereka sebagai dosen dan guru.

“Kamu baru makan sekali lho.”

“Aku makan—“

“Itu piring basah cuma ada 3. Aku udah makan 2 kali, berarti 1 piring bekas kamu kan? Kalo kamu sakit lagi aku kudu piye.”

Sita tertawa kecil. “Masih kenyang kok.”

Rani menggeleng pelan. Kalimat yang keluar sebelum dia meninggalkan rumah terdengar cukup ketus.

“Ya udah menunya terserah aku aja ya. Nasi kucing kamu mau ‘kan?”

.

.

.

Sita berbaring tengkurap di lantai. Matanya menatap pintu rumah yang tertutup, takut kakaknya pulang lebih cepat. Biasanya dia mengharapkan kakaknya pulang cepat karena dia benci sendiri. Tapi kali ini dia hanya ingin menikmati waktu sendirian.

Dia berharap ada orang lain yang menghampirinya.

Matanya berkunang-kunang, kepalanya… pusing hebat bahkan tak bisa menggambarkan rasa sakit di kepalanya. Perutnya terasa panas, seolah ada bom yang meledak dalam perutnya.

Berkorban.

Tiba-tiba dia ingat Ayahnya yang meninggal tertimpa dinding beton yang runtuh saat mengerjakan proyek gedung di pusat kota. Ayahnya yang biasa bekerja di belakang meja tiba-tiba bekerja menjadi buruh membuat dia iba.

“Nggak apa-apa Sita. Yang penting anak-anak Ayah bisa kuliah setinggi mungkin, Ayah senang. Biar kalian jadi orang yang nggak mudah dibohongi seperti Ayah.”

Pengorbanan Ayah demi kedua anaknya.

Nyatanya ijazah sarjana komunikasi milik Rani dan sarjana HI bagi Sita tak berpengaruh besar bagi kehidupan mereka. Mereka masih sulit berdiri setelah orang tua mereka pergi tanpa pamit. Tanpa meminta izin. Mereka tertawa dan tersenyum, berpura-pura semua baik-baik saja.

Tapi tak ada yang baik-baik saja.

Ibunya pernah menyinggung soal pengorbanan mendiang sang Ayah, sebulan setelah Sita wisuda.

“Pengorbanan Ayah nggak sia-sia ya, nak. Ibu senang lihat kalian berdua sudah lulus, sudah siap kerja.”

Sita dan Rani tersenyum, lalu saling bertatapan. Rani sering berpura-pura berangkat dengan pakaian rapi dan terhormat, berdalih jadi HRD satu perusahaan bergengsi di kotanya. Padahal dia mencari kerja kesana kemari, malamnya bekerja sebagai wanita “penghibur”.

“Pengorbanan itu apa sih Bu?” tanya Sita pada akhirnya. Menurutnya tak pernah ada definisi pasti akan suatu hal di dunia ini. Cinta menurut satu orang dan orang lainnya pasti beda. Benci pun begitu, walau yang dirasakan mungkin sama. Mungkin juga berbeda.

“Tetap melakukan yang terbaik demi orang yang disayangi apapun risikonya, itu pengorbanan sayang.”

Terbaik?

Apakah yang Rani lakukan untuk Sita terbaik?

Apakah yang Sita lakukan untuk Rani terbaik?

Risiko yang mereka berdua alami sama. Sama-sama kehilangan.

Tapi apakah itu terbaik?

Sita sempoyongan saat bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Belum ada seperempat jam sejak es baloknya habis, jadi dia berharap agar semua es baloknya masih bisa dimuntahkan.

Dia masih ingin merasakan pengorbanan yang Rani lakukan untuknya.

.

.

.

Sita merapatkan sweaternya dan berdiri di depan satu gang sempit. Dia bahkan tak sudi masuk ke dalam gang remang-remang itu, tapi dengan satu helaan napas, keyakinan yang dia kumpulkan setelah berhasil memuntahkan seluruh es baloknya kembali padanya.

Tapi belum sempat dia melangkahkan kaki menyusuri gang, Rani berlari menghampirinya dan mengajaknya menjauh dari gang itu. Sita merasa bersalah melihat kakaknya begitu kesusahan saat berlari dengan high heels dan pakaian ketat yang Cuma menutupi bagian atas tubuhnya.

“Kamu ngapain kesini?!”

Sita mengeluarkan handphone-nya dan mengirimkan pesan untuk kakaknya.

Aku boleh masuk?

“Kamu ngapain repot-repot sms?”

Sita kembali mengirimkan pesan yang sama, mengabaikan pertanyaan kakaknya.

Aku boleh masuk?

Lalu pesan lain muncul sebelum kakaknya sempat berkomentar.

Aku pengen kerja bareng kakak.

“Sita! Nggak boleh!”

Kenapa kak Rani boleh tapi aku nggak boleh?

Karena aku penyakitan?

Karena jantung lemah?

Karena kalo kena angin malam aku bisa sakit?

Karena aku ada gejala liver?

“Sita, kamu jelas-jelas tahu ini salah—“

Kalo gitu mulai besok kakak nggak usah kesini lagi.

Mulai malam ini.

“Sita, nggak segampang—“

Kak Rani banyak melewati yang bahkan lebih nggak gampang dari ini.

Aku nggak bisa menerima apa yang Kak Rani lakukan sebagai pengorbanan.

Sampai kapanpun nggak bisa.

“Sita… kalo kamu sabar sebentar—“

Kalo kak Rani juga mau sabar, mungkin kak Rani bisa mendapatkan yang lebih baik juga.

Aku sudah nggak bisa sabar lho kak.

Gimana kalo aku berhenti jadi adiknya kakak?

“Ta…” Rani mulai menampakkan emosinya, tapi mata Sita tak beralih dari layar handphone-nya.

Aku kabur boleh?

Bunuh diri mungkin? Biar kak Sita nggak harus kerja keras cuma demi beli obat-obatku yang kelewat mahal itu?

“Sita!!”

“Makanya kak, kalo aku bilang berhenti ya berhenti! Kita udah salah jauh kak!!”

Sita akhirnya menumpahkan air matanya dan berjongkok. Dia meraung sekeras-kerasnya dengan wajah terbenam di antara kedua lututnya.

Rani baru sadar wajah adiknya pucat saat adiknya berteriak. Dia berjongkok dan memeluk adiknya erat.

“Iya deh…” ucapnya lembut. Air matanyapun turun. “Kakak berhenti… maaf ya?”

Tubuh adiknya pun terasa lebih hangat dari biasanya.

Isak tangis Sita baru mereda, tapi setelahnya Rani menangis sekeras-kerasnya dan memeluk Sita lebih erat. “Tapi kamu juga harus berhenti. Kakak nggak suka juga sama pengorbanan kamu.”

Karena Rani menemukan benda yang seharian dia cari dari bau badan dan bau mulut adiknya.

Bau parfum.

END

hoho… i’m comeback…

jadi author note kali ini pertanyaan nggak pa-pa nih? (dilempar)

hayo kalian tahu nggak kenapa Sita ngirim sms ke Rani padahal udah tatap muka?

terus pengorbanannya Sita ke Rani apa hayo? xD

  1. Aku nggak tahu sih minum parfum bisa buat orang mati apa enggak, tapi kan parfum ngandung alkohol, setidaknya kan ngasih efek pusing sama mual xD
  2. eh ketahuan deh pengorbanannya gimana

One thought on “Perfume

  1. Hallo Sasaa
    wahhh aku udah lama ga main ke blog kamuhhh
    ihihihiyyyy akhirnyaaa setelah sekian lama aku muncul
    ini pertama kalinya kayaknya deh aku baca cerpen kamu
    kan biasanya aku baca ff hahahaha

    hmm… feelnya berasa banget namun karena gaya penulisan yang ganjil
    aku udah nebak kalo Sita emang mo bunuh diri dengan minum parfum kakaknya
    baca cerpen kamuu kayak lagi baca urbanriddle masaa
    temukan apa yang ganjil?

    aku suka akhirnya gaya penulisan kamuu balikk yeayyy *peluk Sasa
    untuk sebuah cerpenn, ini alurnya pas, endingnya juga ga maksa
    karena memang seperti inilah sebuah cerpen harusnya dibuat
    sukaaa banget saaaaaa

    aku coba jawab yaaa
    sita ngirim pesen ke kakaknya karena dia udah lemes banget ga bisa jawab pake suara
    walaupun katanya dia udah ‘muntahin’ es batunya, pasti ttep ada yang keminum ama dia
    pengorbanannya itu… udah dijawab ama kamu hahahaha
    yang ganjil adalah pas rani bilang dia juga mo sita berhenti
    berarti secara kagak langsung rani nyuruh sita mati dong?

    ditunggu karya-karyamu yang lainn
    semangatt!! ^^

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s