[Ficlet] 13


tumblr_myok3kf63s1qk2w44o1_1280

Kalau diingat lagi, aku pernah benci pada Tomi.

Waktu itu kami masih kelas sepuluh. Kata kakak kelas, masih bau kencur.

Aku uring-uringan setengah mati saat Pak Nur membagikan kertas ulangan kami yang belum diberi nilai secara acak. Ulangan itu sudah satu minggu yang lalu, kenapa saat dibagikan belum ada nilainya? Kenapa harus kami—pecundang-pecundang yang bahkan tak mengerti apa itu bilangan avogrado—yang mengoreksi? Bagaimana kalau kami membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar?

Baiklah, pak Nur memang menuliskan uraian jawaban yang benar dari 8 soal yang diujikan di papan tulis, tapi tetap saja membuatku senewen. Aku sudah tahu pasti jawabanku tak ada yang benar. Mungkin jika kertas soalku dikoreksi teman perempuanku, aku bisa sedikit lega.

Bagaimana jika dikoreksi teman laki-laki?

Bagaimana kalau dikoreksi Tomi??!!

Saat itu aku tak bisa berpikir dengan tenang. Aku berbisik pada teman-teman yang duduk di dekat bangkuku, bertanya pada mereka, apakah ada yang mengoreksi soalku.

Tak ada sama sekali. Aku semakin salah tingkah.

Saat itu, aku cuma bisa berharap, pak Nur tidak mengabsen nama kami satu-persatu dan menyuruh kami menyebutkan nilai soal yang kami koreksi.

Dan ternyata pak Nur baik hati dan menyuruh kami untuk mengumpulkan kertas ulangan di meja guru. Setelah semuanya terkumpul, beliau meninggalkan kelas, tepat dengan berbunyinya bel pergantian jam.

Kelas langsung gaduh. Semuanya berteriak menanyakan nasib soalnya, semacam, “Siapa yang koreksi punyaku?”

Kalau masih tak ada yang acuh, biasanya lebih brutal, semacam, “Jangkrik! Siapa yang megang soalku, wooyy??!!”

Saat aku bertanya setengah berteriak, aku tak perlu menunggu lama,

“Aku yang koreksi soal kamu.”

Saat itu aku hampir jantungan.

Yang kutakutkan benar-benar terjadi. Soalku dikoreksi Tomi.

Baiklah, jika Tomi sama bodohnya denganku—sangat payah dalam pelajaran hitung-hitungan—mungkin aku bisa santai. Tapi dia jauh—jauh sekali, kuulang, dan jangan anggap ini hiperbola—lebih pintar dari aku. Semua pelajaran eksaknya tak pernah di bawah 90.

Aku berjalan mendekatinya, berusaha terlihat tenang walau tak dapat kupungkiri, tanganku berkeringat.

“Tak usah memberitahukan nilainya deh, cukup beritahu aku harus remidi atau tidak.”

“Remidi kok,” jawabnya enteng.

Aku mengangguk. “Oke.”

Baru lima langkah aku berjalan menjauh, dia mengucapkan satu kalimat yang membuatku hampir pingsan di tempat.

“Nilaimu sama seperti nomor absenku, kok.”

Namanya Enggar Wicaksono, absen 13.

 Haha… Outrageous, right? percayalah… cerita di atas 50 : 50

sebagian beneran terjadi, sebagian bekas mimpi yang entah kenapa absurd banget kalo cuma jadi mimpi…

betewe, kenapa aku gemes sendiri sama Tomi ya?😄 kapan-kapan aku kasih tahu deh, si Tomi tuh wajahnya gimana (dalam bentuk sketsa tapi, kan tokoh semi fiksi (?) )

review ya…. =D

One thought on “[Ficlet] 13

  1. Bagus nih ceritanya😀
    Nama tokoh Tomi ngingetin aku sama seorang teman yang nyebelin. Namanya Tomi juga. Orangnya pinter banget. Saking pinternya, facebook aku dihack ama dia. #curcol

    Weee? Maaf, jadi curcol deh😄

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s