[Ficlet] A Letter from Nowhere


a letter

“Sudah saatnya kamu mulai menghargai hidup…”

Sasphire, 2014

Kamu terlampau sering mengumbar kelemahanmu dengan berkali-kali berkata ‘aku ingin mati’. Bahkan kamu sering mengukir namamu pada sebuah batu besar, lalu menancapkannya di sembarang tempat. Kamu yakin kamu sudah tak betah hidup. Sayangnya kamu tahu, bunuh diri bukanlah akhir dari segalanya. Penderitaanmu akan semakin menyedihkan.

Ada satu pepatah yang membuatmu risih; ‘hidup segan, mati tak mau’. Padahal kamu sangat ingin mati. Kamu segan hidup, kamu lelah menghadapi segala masalah. Kamu lelah memikirkan bagaimana terjadinya hari kiamat nanti, bagaimana nanti kamu mati—mati mengenaskan karena kecelakaan atau mati sendirian di kala tua?—dan bagaimana nasibmu saat kamu memasuki liang kubur.

Kamu jadi begitu menyedihkan.

“Aku menyedihkan ya?” ucapmu suatu hari, setelah menancapkan batu nisan di pinggir pantai. Kamu tak acuh pada tatapan orang lain yang menganggapmu aneh. Saat orang lain menyambut gembira musim panas, kamu malah bersedih. Parahnya, menancapkan batu nisan di tepi pantai.

Kamu berjalan pergi saat hari mulai gelap. Biasanya kamu duduk di sudut ruangan, mematikan lampu, membiarkan jendela terbuka lebar. Angin malam akan membelai wajahmu, kadang cahaya bulan purnama menemanimu.

Kamu begitu menyukai kesendirian. Kamu tak pernah takut apapun. Malahan, kamu begitu menantikan kematian yang biasanya menjadi momok bagi semua orang.

Ralat, kamu takut untuk hidup lebih lama lagi. Kamu takut kamu harus menghadapi kesialan demi kesialan yang tak pernah sekalipun kamu ingin mengalaminya.

Kamu merenungi nasib—terus-terusan menyalahkan Tuhan atas kelahiranmu di dunia, atas jalannya kehidupan yang tak semulus kamu harapkan, atas kemalangan yang entah mengapa selalu menimpamu. Lalu berharap Malaikat Maut datang bersamaan dengan gelap yang selalu kamu ciptakan.

Tapi malammu selalu berakhir dengan lelapnya tidurmu, lalu hidupmu akan mulai lagi dengan lembaran hari baru. Kamu mendesah pelan, meringkuk, berharap kematian datang lagi padamu, diiringi putus asa yang semakin hari semakin besar. Membunuh jiwamu, tapi tak efektif membunuh ragamu.

Kamu seperti mayat, karena hari-harimu begitu erat kaitannya dengan kematian.

Kamu menertawakan rasa sedihmu yang selalu menyiksa. Kamu menertawakan kebodohanmu yang tak pernah mensyukuri kehidupan yang telah diberikan untukmu…

Kamu menangisi nasibmu sendiri, karena tak seorangpun mau menangisimu, tertawa bersamamu.

.

.

.

“Sok tahu!!” tawa Sojin yang membuatnya hampir jatuh tersungkur diiringi linangan air mata. Surat yang tak dia ketahui asalnya itu begitu memuakkan bagi Sojin. Begitu memuakkan, karena keseluruhan surat itu bermakna sesuai dengannya. Satu kesialan kembali menimpanya, Sojin sangat merasakannya saat membuka kotak posnya yang usang. Di saat jaman sudah modern, masih saja ada yang mengiriminya surat?

Walau Sojin sendiri juga tak pernah mengikuti arus globalisasi. Dia murni manusia purba yang hanya menginginkan kematian. Dia sudah bosan hidup. Sungguh.

.

.

.

Di sanalah kamu berdiri, menertawakan apa yang tertulis di sini… menganggap semua yang tertulis ini konyol, absurd, pertanda kekafiran karena tak ada satupun tanda-tanda bahwa si penulis yang sok tahu di sini begitu mengagungkan Tuhan. Tapi itulah realita.

Berapa banyak orang di dunia ini yang begitu ingin mati? Dan di antara mereka-mereka yang beriman lemah (karena begitu melecehkan apa yang telah diberikan pada mereka), berapa banyak yang berakhir bunuh diri?

Dan untungnya, kamu bukan salah satu dari mereka yang bunuh diri. Kamu masih setia menantikan kematianmu sendiri, yang kamu sendiri tak tahu kapan datangnya.

Melelahkan bagimu, menanti hal yang tak pasti.

Lalu biasanya, kamu akan memaki Tuhan, bilang pada-Nya bahwa Dia tidak menyayangimu karena membiarkanmu hidup, menjalani hidup penuh rasa was-was akan segala hal, terlebih karena apa yang kamu inginkan tak pernah terwujud dengan nyata.

Kamu tahu betul, Tuhan selalu menerima doa para hamba-Nya dengan berbagai cara. Tapi kamu tak bisa menerimanya.

Padahal Tuhan selalu memberikan semua yang terbaik bagi makhluk-Nya, tanpa pilih-pilih. Dia begitu penyayang, Zat paling mengerti, Zat yang paling tahu.

Kamu terlalu menuntut.

.

.

.

Sojin mendengus kesal. Tapi dia masih sabar membaca surat itu. Barangkali di akhir surat tercantum nama si penulis. Dia ingin tahu, orang gila dari belahan dunia mana yang mengirimkan surat yang begitu menohok hatinya.

Tapi setidaknya, lambat laun dia mulai menyesali apa yang dia lakukan.

.

.

.

Dan saat nanti keinginanmu terkabulkan, kamu malah menyesal. Kamu berharap mendapatkan kesempatan kedua, tapi tak mungkin.

Hari saat keinginanmu terwujud begitu mendung. Setelahnya hujan, angin kencang menerpa, disertai gemuruh halilintar dan getaran petir yang menakutkan. Kamu berakhir dengan cepat—

.

.

.

Tubuhnya basah kuyub.

Sojin memejamkan mata sambil memeluk dirinya sendiri di bawah pohon oak. Inilah saat-saat yang dia tunggu—Malaikat Maut selalu datang dengan hujan dan burung gagak, seperti yang sering dia dengar dari Mitos Kuno daerahnya. Dia memaksakan diri untuk tersenyum, sekadar menghibur diri dan mengalihkan pikirannya dari kata demi kata dalam surat aneh yang baru saja dia dapatkan, juga mengalihkan rasa sakit yang mulai menyiksa ubun-ubunnya.

Sojin tidak takut, hanya saja… dia menyesal.

“Terima kasih…” ucapnya pada Tuhan, karena akhirnya Dia mengabulkan doa Sojin.

CTARRR!!!!

.

.

.

Sekejap mata.

Park Sojin

Antah berantah, 2 Januari 2114

One thought on “[Ficlet] A Letter from Nowhere

  1. halo kak sasphire, mungkin aku tau kak sasphire tapi kak sasphire gatau aku :v maapkeun aku yang selalu jadi siders kakak._.

    setelah berhari-hari nunggu fic kakak akhirnya keluar juga :””‘3 demi kak aku ngepens bat sama karya fic kakak, mulai dari diksi sama alur yang sering susah ditebak :”)

    Good luck and keep writing qaqa ‘-‘)b

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s