EXO Series : Baekhyun – Blue Cactus


blue-cactus

Blue Cactus

Sasphire

Starring Baekhyun EXO, Yoo Ara Hello Venus

Romance, Life | General | 4,145 Words

Inspired by Woohyun feat. Lucia – Cactus (OST re;code – Episode II)

Backsound

Westlife – My Love

.

.

Diceritakan sepenggal kisah si Kaktus yang mengharu biru…

.

.

.

Kamis, 14 Juni 2012

 “Bisakah kau berhenti menahannya dan melepaskan semua yang ingin kau lepaskan?” tanya lelaki yang bernama Byun Baekhyun itu sembari mendesah kesal, namun terbersit rasa khawatir dalam dirinya.

Sementara gadis yang berada di depannya hanya berdecak kecil, lalu terus menyantap bubur yang telah disediakan perawat untuk makan malamnya. Setelah menelannya perlahan, ia menatap kekasihnya dan berkata, “Kalau aku bilang aku baik-baik saja, berarti aku baik-baik saja.” Gadis bernama Ara itu membalikkan pertanyaan Baekhyun, “bisakah kau berhenti mengkhawatirkanku?”

“Tidak bisa!” jawab Baekhyun tegas, membuat Ara tertegun sesaat. Lalu seolah tak terjadi apa-apa, Ara kembali menyambar buburnya, kali ini dengan sup rumput laut di mangkok lainnya.

Melihat Ara bersikap tak acuh, Baekhyun mulai melakukan hal yang selalu ia lakukan ketika kondisi Ara memburuk, yaitu mengomelinya, “Belakangan ini kondisimu memburuk, bahkan kau pingsan setelah sekolah jam malammu. Aku tahu kau ingin mendapatkan nilai terbaik untuk ujian akhir nanti, tapi itu bukan alasan untuk memaksakan diri. Kata dokter, kau kurang istirahat, kurang makan, dan yang lebih parah, kau meminum obat penahan kantuk.”

“Ah, dokter hanya membesar-besarkan masalah. Dokter jaman sekarang selalu begitu.” Ara menatap Baekhyun, “kenyataannya tak separah itu. Sungguh! Di sini aku pasiennya, jadi aku yang merasakan sakitnya. Dan sekarang aku merasa baik-baik saja.”

Ck.” Baekhyun menyerah. Ia lelah menasihati kekasihnya yang tak pernah mengindahkan omelannya. Kadang Baekhyun berpikir, buat apa mengkhawatirkan kesehatan seseorang yang tak peduli pada tubuhnya sendiri?

Tapi, sialnya, jauh di dalam hati Baekhyun, ia sangat ingin memperhatikan Ara, menjaga Ara. Sama seperti Ara yang selalu memperhatikannya dan juga menjaganya.

“Apa kau merahasiakan sesuatu?”

Ara tersedak mendengar pertanyaan Baekhyun. Lelaki itu langsung menuangkan air mineral ke gelas di depannya, lalu memberikannya pada Ara. Setelah merasa lega, Ara mengelus dadanya, lalu menatap Baekhyun penuh tanda tanya. Bukan jawaban yang ia ucapkan, ia malah menyuarakan sebuah pertanyaan, “Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau tak percaya lagi padaku?”

Baekhyun cukup terkejut mendengar pertanyaan Ara. “Bukan, bukan begitu. Aku hanya… Ehm…”

Melihat Ara meletakkan sendok di samping mangkok nasi dan menatapnya heran—sangat ingin mendapatkan jawaban dari Baekhyun—membuatnya semakin salah tingkah.

“Tadi… aku tanya dokter, apa penyakit yang kau derita. Tapi, dokter Kim diam saja dan langsung pergi,” ucap Baekhyun akhirnya, “apa kau meminta dokter Kim untuk merahasiakan sesuatu?”

“Oh, aku kira ada apa.” Ara benar-benar kelaparan, maka dari itu ia kembali menyantap buburnya. Meskipun ia menyangkal ucapan Baekhyun bahwa akhir-akhir ini ia tak terlalu banyak makan, tak dapat dipungkiri ia benar-benar kelaparan karena kegiatannya yang padat.

“Kata dokter, itu rahasia perusahaan. Hanya pasien dan keluarga pasien yang boleh tahu.”

“Aku ‘kan, keluargamu?” Baekhyun mendengus kesal. Ara tertawa.

“Kau pacarku, bukan keluargaku. Setidaknya begitu dalam status biologis.”

Baekhyun kembali mendesah. “Aku harap aku bisa bertanya pada ibumu.”

“Hei, kau lupa? Aku sudah pernah cerita, Ayah dan ibuku selalu berkelana ke luar negeri setelah sidang perceraian mereka, meninggalkan hutang dimana-mana. Mereka terlalu sibuk mengurusi diri sendiri hingga lupa kalau mereka punya seorang anak yang cantik jelita bernama Yoo Ara.”

Baekhyun bingung harus tertawa atau merasa prihatin. Cerita Ara yang pernah ia dengar sebelumnya membuat ia merasa kasihan, namun di sisi lain sifat ceria Ara membuat cerita itu tak terasa menyedihkan. Ara selalu tahu bagaimana cara mencairkan suasana.

“Mereka ingat aku hanya saat mereka butuh uang. Mereka selalu bilang bahwa mereka butuh uang untuk membayar hutang. Ternyata mereka membawa pergi uang yang kuberikan ke luar negeri. Ujung-ujungnya aku yang membayar hutang mereka pada rentenir. Kau tahu? Aku selalu membayar hutang mereka 2 kali lipat.” Ara tertawa.

Baekhyun tersenyum kecil. Lanjutan cerita yang Ara jabarkan adalah satu cerita baru yang belum pernah ia dengar. Ia ragu untuk tertawa bersama Ara, terlebih cerita yang ia dengar sangat mengerikan. Orang tua macam apa mereka?

Untungnya Ara gadis yang tegar.

“Aku kenyang…” Akhirnya Ara menumpuk 3 mangkuk yang berada di nampannya dan meletakkan nampan ke meja di samping ranjangnya. Setelahnya Ara meminum obat yang Baekhyun berikan.

“Sekarang tidurlah. Sudah jam 9 malam.”

“Aduh, kalau aku gemuk bagaimana?”

Baekhyun memukul kepala Ara hingga gadis cantik itu berteriak kecil.

“Mau kau gemuk, mau kau kurus, kau harus peduli pada kesehatanmu! Banyak istirahat!”

Ara mendengus kesal—hanya berpura-pura. Ara hanya ingin menggoda Baekhyun karena ia sangat suka melihat Baekhyun marah, terlebih saat Baekhyun menggembungkan pipinya. Menurutnya Baekhyun sangat menggemaskan saat marah.

“Jangan berusaha membangkitkan amarahku lagi. Cepat tidur!”

“Iya, iya…” Ara berbaring di atas kasurnya, kemudian Baekhyun menyelimutinya. Baekhyun tersenyum sekilas pada Ara, lalu duduk menyandarkan punggungnya pada kursi di samping ranjang Ara dan memainkan iPad-nya. Ya. Dia tak akan pergi sebelum Ara tidur.

.

.

.

Tapi, setelah 2 jam waktu berjalan….

“Baekhyun…”

Hm?”

“Ara menghadapkan tubuhnya pada Baekhyun. “Aku tidak bisa tidur.”

“Bagaimana kau bisa tidur kalau kau tidak mencoba memejamkan matamu?” Baekhyun tersenyum sinis, namun pandangannya tak beralih dari layar iPad.

Ara merengut kesal, lalu merebut iPad di tangan Baekhyun dan meletakkannya di belakang punggungnya. “Kau yang menyuruhku istirahat ‘kan?”

“Baik, baik…” Baekhyun menggenggam erat tangan Ara. “Sekarang, aku harus bagaimana?”

“Terserah. Yang penting aku bisa tidur.”

Ehm..” Baekhyun berpikir, “Lullaby?”

Ara menggeleng.

“Dongeng?”

“Oh, ayolah… Aku bukan anak kecil.”

“Ini cerita tentang Hansel dan Gretel,” ucap Baekhyun tak mengacuhkan keluhan Ara, “tapi ini versiku. Kalau di cerita aslinya Hansel dan Gretel bersaudara, tapi di versiku, mereka adalah sepasang kekasih.”

Ara diam. Dahinya mengernyit.

“Dengarkan ya?” ucap Baekhyun lembut.

.

.

.

Suatu ketika, Hansel bertemu dengan Gretel di awal musim semi. Hansel yang sangat periang dan mudah berteman kaget ketika bertemu dengan Gretel, seorang gadis yang sangat keras kepala. Hansel pikir ia membenci gadis seperti Gretel yang sangat menyebalkan, padahal mereka berdua sama-sama keras kepala. Hanya saja Baekhyun periang dan Gretel gadis yang tertutup.

.

.

.

 Ara tertawa. Baekhyun tersenyum kecil, lalu membelai rambut Ara.

.

.

.

Hansel pikir ia membenci Gretel, tapi setelah Gretel menyatakan perasaannya pada Hansel, Hansel terkejut. Ia baru sadar, bahwa Gretel yang selalu diam di sudut ruangan perlahan berubah menjadi gadis yang mudah berbaur. Gretel mengatakan yang sebenarnya bahwa ia banyak belajar dari Hansel, bahwa dunia tak akan memihak padamu kalau kau tak pernah memberikan kesempatan pada dunia untuk memihak padamu. Hansel pernah menceramahi Gretel bahwa Gretel adalah gadis yang tak tahu diri karena ketertutupannya, maka dari itu, Gretel mulai berbenah diri. Gretel juga sadar, bahwa perubahan kecil itu membuat dirinya menjadi lebih hangat. Rasa senang di hatinya karena memiliki banyak teman baru ia rasakan di umurnya yang saat itu menginjak 15 tahun.

Lalu, cerita mereka berdua berlanjut setelah Hansel menerima perasaan Gretel. Mereka pun jadi lebih terbuka. Gretel tak lagi segan menceritakan masalah yang membuat rasa sesak di hatinya timbul, begitu juga Hansel. Tak pernah ada rahasia di antara mereka.

Mereka selalu berjalan di jalan yang berliku, melewati gurun pasir, mengarungi ombak, terperangkap dalam jurang, bahkan mereka harus bertemu dengan penyihir penunggang naga, namun mereka selalu menghadapi semua rintangan dengan senyuman.

.

.

.

Ara tersenyum. Ia tahu betul bahwa cerita yang Baekhyun ceritakan bukanlah Hansel dan Gretel versinya, melainkan cerita antara Ara dan Baekhyun. Ia tahu maksud Baekhyun tentang ‘bertemu penyihir penunggang naga’. Ia juga tahu maksud mengarungi ombak. Nyatanya mereka tak pernah mengeluh, justru tertawa.

Tapi, sepertinya percuma Baekhyun bercerita. Bukannya terlelap, Ara justru terjaga karena penasaran dengan kisah selanjutnya.

.

.

.

Tapi, lama-kelamaan, Hansel merasa Gretel menyembunyikan sesuatu darinya. Meskipun Hansel berusaha mencari apa yang disembunyikan Gretel, ia tetap tak bisa menemukannya. Karena itu, Hansel hanya bisa berjanji pada diri sendiri untuk melindungi Gretel, apapun yang terjadi.

.

.

.

Hening beberapa saat, karena yang Ara lakukan hanyalah menatap mata Baekhyun dengan senang. Ia baru tahu kalau Baekhyun punya bakat menjadi pendongeng.

Selain itu, Baekhyun rasa, ceritanya hanya berakhir sampai di situ. Tidak. Tidak sepenuhnya berakhir, karena cerita yang dibacakan Baekhyun pada kenyataannya baru sampai part itu.

“Bagaimana lanjutannya?” tanya Ara memecahkan keheningan.

“Menurutmu bagaimana?”

Ara menggeleng, tanda bahwa ia tidak tahu jawabannya. Ia kembali bertanya, “Bagaimana akhir ceritanya?”

“Aku tidak ingin ada akhir dalam cerita ini. Mau berakhir bahagia, mau berakhir sedih… Aku tidak ingin keduanya.”

“Kenapa?”

“Karena yang kuinginkan, cerita di antara mereka terus berlanjut. Hari ini, esok, dan seterusnya.”

“Kau egois,” ucap Ara sambil tertawa, “semua dongeng selalu ada akhir cerita. Kenapa di cerita ini tidak ada akhirnya?”

“Karena mereka berdua saling mencintai.”

Ucapan itu sukses membuat Ara termenung.

“Kalau cerita berakhir, kita tidak tahu lanjutannya bagaimana di dunia nyata ‘kan? Maka biarkan ini jadi cerita yang terus berlanjut dari waktu ke waktu.”

Ara berpikir sejenak. Hatinya merasa bersalah karena sebelumnya ia mengambil keputusan yang salah.

“Baiklah, karena kau tetap tak bisa tidur, kunyanyikan lagu ya?”

Kali ini Ara memilih untuk tidak protes. Ia masih terngiang ucapan Baekhyun yang membuatnya sadar bahwa ia salah menilai hubungannya dengan Baekhyun.

An empty street

An empty house

A hole inside my heart

I’m all alone

The rooms are getting smaller

Perlahan Baekhyun menguap. Ia mendekatkan kepalanya ke bantal dan membelai rambut Ara.

I wonder how

I wonder why

I wonder where they are

The days we had

The song we sang together

Mata baekhyun mulai terpejam ketika ia lihat Ara mulai tertidur. Padahal Ara memejamkan mata hanya karena ia ingin Baekhyun tidur. Ia tahu pasti Baekhyun tak akan tidur jika Ara masih terjaga.

And oh my love

I’m holding on forever

Reaching for a love that seems so far

Lama-kelamaan, suara Baekhyun melemah, tanda bahwa kesadarannya memudar.

So i say a little pray

And hope my dreams will take me there

Where the skies are blue

To see you once again, my love

Air mata Ara mengalir.

Overseas from coast to coast

To find a place i love the most

Where te fields are green

To see you once again

My love

Suara Baekhyun tak terdengar lagi, tanda bahwa ia telah terlelap. Ara duduk dan memperhatikan wajah Baekhyun yang tersenyum damai.

Setelahnya, suara gesekan antara pintu dan lantai terdengar memekakkan telinga, disusul oleh kehadiran seorang Dokter bernama Kim Min Seok—seperti yang tertulis di ID-nya—yang memasuki ruangan. Melihat Ara duduk dan tersenyum padanya, Dokter Kim berkacak pinggang.

“Nakal!” Bagaimana tidak? Kemarin malam ia membuat Baekhyun khawatir setelah pingsan karena tidur kurang dari 7 jam dalam seminggu, sekarang saat ada waktu untuk beristirahat di rumah sakit, Ara malah terjaga sampai jam 11 malam.

Tapi Ara tak pernah mengindahkan nasihat orang lain. Ia malah turun dari ranjang sambil membawa tiang tempat infusnya tergantung sembari memohon pada Dokter Kim, “Bisa angkat dia untuk tidur di ranjang? Akhir-akhir ini dia juga jarang tidur.”

Dokter Kim hendak membuka mulutnya untuk menceramahi pasiennya yang paling nakal itu, tapi Ara menatapnya dengan makna ‘kumohon…’

Dokter Kim menghela napas, lalu mengangkat tubuh baekhyun pelan-pelan. “Baiklah-baiklah. Kalau kau jatuh lagi karena tidak tidur malam ini, rasakan akibatnya!”

Ara terkekeh pelan, lalu duduk di sofa putih yang berada di dekat pintu. Dokter Kim mundur selangkah ketika Baekhyun menggeliat kecil, berharap Baekhyun tidak membuka matanya. Ketika Baekhyun memiringkan badannya dan matanya tetap terpejam, Dokter Kim menghela napas lega dan berjalan menghampiri Ara.

Saat Dokter Kim duduk di sampingnya, Ara bertanya, “Sekarang berapa presentasinya?”

Dokter Kim mengernyit. “Hm?”

“Kalau sekarang aku operasi untuk menghentikan pendarahan kecil di otakku, berapa presentasi keberhasilannya?”

Dokter Kim menghela napas. “20 : 80.”

Ara terlihat berpikir.

“Tapi, kau hanya bisa dioperasi di rumah sakit besar.”

“Aku tahu, Dokter Kim. Kau terus-terusan menyuruhku operasi dengan menakut-nakutiku, menjelaskan bahwa aku mengalami perdarahan epidural1) pasca jatuh dari tangga saat ulang tahun sekolah tahun lalu, kalau tidak diobati aku akan mati…”

“Tapi memang kenyataannya begitu. Aku tidak menakut-nakuti! Kau saja yang terlalu santai! Kau tahu? Kau termasuk orang yang beruntung! Kau tahu? Perdarahan Epidural disebut juga sebagai ‘the silent killer’. Mungkin kau tidak merasakan sakitnya untuk sementara waktu, tapi kalau kau tak berhati-hati, Perdarahan Epidural bisa mengambil nyawamu bahkan saat ini juga! Lagipula, kau punya riwayat kecelakaan lalu lintas saat kecil! Itu yang membuat kondisi kepalamu rusak!” Dokter Kim menggebu-gebu menjabarkan semuanya, tanda bahwa ia tidak dapat menahan emosinya karena Ara terlalu mengentengkan kondisinya.

Tapi, Ara hanya tertawa kecil menanggapi ocehan Dokter Kim. Sementara Dokter Kim hanya menghela napas. Bagaimana bisa ia menjadi dokter pribadi seseorang yang keras kepala seperti dia?

Dokter Kim mengalihkan pandangannya pada lelaki yang berbaring di ranjang Ara. “Pasti dia yang sudah membuat keputusanmu berubah.”

Ara mengangguk. Ia menghela napas, lalu mulai bercerita pada Dokter yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, “Aku pikir, dia bisa hidup tanpaku. Aku memang mencintainya, terlebih aku yang menyatakan cinta dan memulai hubungan dengannya. Aku juga yang memaksanya menjalani semua yang pernah kami jalani bersama, karena di dunia ini aku hanya sendirian. Aku butuh seseorang. Dan aku pikir, hanya dia yang bisa menemaniku.

Ketika aku tahu aku sakit, aku pikir aku tak mempunyai alasan untuk hidup. Baekhyun orang yang ceria, ramah dan baik hati. Banyak gadis yang menyukainya, jadi aku pikir, jika aku pergi, dia bisa menjalani hidup sebebas mungkin tanpa aku, karena selama ini, aku mengekangnya dalam keserakahanku yang tak mau lagi sendiri di dunia ini.

Dia selalu baik padaku layaknya seorang kakak. Aku pikir dia hanya menganggapku sebagai adik. Tapi ternyata…”

Ara menghela napas keras ketika ia sadar air matanya mengalir. Ia menyeka air matanya dan menatap Dokter Kim sambil tersenyum nakal. “Kau tahu lanjutannya ‘kan?”

Dokter Kim mengangguk sambil tersenyum. Suasana pun menjadi hening. Dan 2 orang yang terjaga itu hanya menatap Baekhyun penuh arti.

.

.

.

Jumat, 15 Juni 2012.

Baekhyun menggeliat pelan ketika cahaya matahari memasuki ruangan dari jendela kaca yang cukup luas. Ia duduk dan mengucek matanya, sesekali menguap. Ia turun dari ranjang. Ya… kesadarannya belum pulih.

“Eh?”

Baekhyun mengernyit. Ia menatap ke setiap sudut ruangan dan ia tak menemukan seseorang pun di sana.

“Ara?!”

Sebelum ia pergi ke luar kamar, pandangannya terhenti saat menangkap adanya satu pot bunga kaktus kecil dan sebuah amplop biru di bawahnya.

.

.

.

Selamat pagi, Baekhyun!!

Kau membaca surat ini setelah bangun kan? Pasti iya! Ah, aku berbakat jadi peramal!

Bagaimana tidurmu? Nyenyak-kah? Aku tahu akhir-akhir ini kau jarang tidur, sama sepertiku. Jangan pernah menyuruhku peduli pada kesehatanku saat kau sendiri juga mengabaikan kesehatanmu. Kita setali tiga uang. Paham?

Oh, iya. Kau lihat kaktus kerdil di pot merah itu? Bagus tidak?

Kaktus yang ada di hadapanmu saat ini sama seperti aku yang dulu. Aku yang belum bertemu denganmu. Nampaknya kuat, mengerikan, namun sebenarnya rapuh. Dulu aku sangat dingin, bukan karena aku ingin begitu. Aku hanya bingung saja. Di rumah, aku terbiasa diam karena orang tuaku bertengkar setiap waktu dan selalu melampiaskan kekesalan mereka padaku. Ketika aku mulai masuk sekolah, aku tak tahu harus mulai darimana. Perkenalan saja tidak cukup ‘kan? Orang tuaku juga tak pernah mengajarkan bagaimana cara bersosialisasi, jadi aku pikir, lebih baik aku diam agar aku tidak melukai orang lain.

Terlebih saat orang tuaku bercerai. Aku pikir semua orang sama jahatnya dengan mereka.

Lalu kau datang dan merubah pola pikirku.

Kau ingat ‘kan, saat kau berjalan menghampiriku dan berkata,

“Kau… Siapa kau ini? Mentang-mentang kau pintar dan selalu juara satu paralel, kau pikir kau bisa menyombongkan dirimu dengan diam saja?! Tidak mengatakan sepatah katapun pada teman sebayamu karena kau pikir itu membuang tenaga, iya?! Sadar!! Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan!! Setiap manusia punya alasan untuk dihormati dan menghormati!! Kau tak bisa hidup sendiri di dunia ini!!”

Saat itu, aku yang tengah sibuk mengerjakan soal matematika kaget. Kau membentakku karena aku tidak mau meminjamkan bolpoint-ku pada teman sebangkuku ‘kan? Padahal saat itu aku hanya punya satu bolpoint. Jika aku ingat itu, aku selalu tertawa. Tapi, kejadian itu yang telah membuatku seperti sekarang.

Seperti kaktus yang berbunga.

Suatu saat, kaktus kerdil di hadapanmu itu juga akan berbunga.

Aku sama seperti kaktus itu, dan kau adalah setetes air bagiku. Kau yang membuatku menjadi lebih berarti.

.

.

.

Baekhyun tersenyum membaca kata demi kata yang Ara tulis. Gadis aneh, pikirnya.

.

.

.

Kau mau merawat kaktus ini sampai aku kembali nanti ‘kan?

Maaf Baekhyun, selama ini aku menyembunyikan sesuatu padamu.

Kau ingat tidak, saat perayaan ulang tahun sekolah, aku menjadi salah satu bagian dari Panitia Acara. Kebetulan aku Sie Dekorasi. Saat aku menghias panggung dengan lampu-lampu kecil, tiba-tiba aku terjatuh dari tangga.

Kata dokter, setelah itu aku mengalami Perdarahan Epidural. Mungkin itu yang membuat kondisiku semakin memburuk. Satu-satunya jalan adalah operasi.

Maaf sekali lagi, aku memilih untuk merahasiakannya. Aku hanya tak mau kau khawatir.

Tapi, terus terang, sekarang aku takut, Baekhyun.

20 : 80.

20 untuk hidup.

Dulu, setelah orang tuaku cerai, aku sangat ingin mati. Saat itu aku pikir, tak ada hal yang membuatku pantas untuk bertahan hidup.

Tapi, setelah bertemu denganmu, aku jadi tahu, bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke dunia selalu mempunyai alasan untuk bertahan hidup, dan aku pantas untuk mendapatkannya. Aku jadi tahu apa arti hidup yang sebenarnya ada, namun sulit untuk diungkapkan, seperti yang sering kau ucapkan padaku saat aku mulai putus asa.

Sial! Aku menangis!

Tapi, aku sangat ingin untuk tidak takut. Aku pernah mendengar satu cerita darimu, tentang kisah orang-orang sukses yang awalnya diprediksi untuk tidak berhasil, tapi nyatanya, dengan keyakinan dan usaha, mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Aku pikir, aku lebih beruntung dari mereka. Iya ‘kan Baekhyun? Aku masih punya kemungkinan 20, sementara mereka 0.

Kalau aku yakin, aku pasti bisa hidup ‘kan?

Makanya, aku tidak ingin bertemu dirimu di saat aku sedang mempersiapkan mentalku untuk berada di meja operasi. Kalau aku bertemu denganmu terlebih dahulu, maka saat nyawaku melayang, aku tak akan merasa sedih, karena di saat-saat terakhirku aku telah bertemu denganmu dan mengucapkan kalimat perpisahan padamu.

Tapi, karena sebelum operasi aku tidak bertemu denganmu, maka nanti, saat aku pikir aku akan mati, aku akan terus berjuang dengan berpikir, ‘oh, aku belum bertemu Baekhyun. Aku belum mengucapkan kalimat perpisahan padanya. Dan, hei! Bagaimana nasib kaktus yang kutitipkan padanya?!’

Kenapa aku jadi orang yang melankolis begini?

Jangan sirami kaktusku terlalu banyak. Cukup sedikit, tapi juga jangan sampai tidak disirami. Saat nanti aku kembali, harus ada bunga di atas kaktus itu. Ya?

Kalau kau bisa merawat kaktus itu, aku janji, aku akan kembali saat musim semi, dan memulai kembali semuanya, seperti saat pertama kali kita bertemu di musim semi.

Baekhyun…

Saranghaeyo…

.

.

.

Baekhyun menangis sejadi-jadinya. Ia terduduk di lantai sambil mendekap erat surat itu, seolah surat itu adalah benda paling berharga yang ia miliki.

“Ara bodoh.”

.

.

.

1 tahun kemudian…

24 Maret 2013

Baekhyun menyusuri lorong sekolah di hari Minggu awal musim semi yang hangat. Bukannya memilih untuk melihat bunga-bunga khas musim semi bermekaran, ia memilih untuk mengenang hal-hal indah yang pernah ia lewati selama 3 tahun mencari ilmu di gedung SMA-nya. Setelah setahun yang lalu lulus dan resmi menjadi mahasiswa jurusan seni, ia merindukan masa SMA-nya.

Suasana tampak lengang. Sekilas terproyeksi dari otaknya ketika banyak murid berlarian di lorong, siswa-siswa rajin yang berjalan sambil membawa buku, atau murid-murid kaya yang berjalan dengan antek-anteknya.

Langkahnya yang diiringi dengan senyuman akan kenangan terhenti setelah membaca papan nama sebuah kesal yang berada di ujung lorong. 12 IPS 1. Baekhyun menghela napas, lalu perlahan membuka pintu kelas yang cukup berdebu.

Suasana kelas masih sama seperti setahun lalu. Tak ada yang berubah. Susunan bangku yang selalu berantakan ala anak sosial, papan tulis yang selalu kotor akan coretan-coretan jahil para siswa pengagum seni ruma, taplak meja yang justru berserakan di lantai, sapu lantai yang biasa dipakai sebagai gitar palsu malah terletak di atas meja guru…

Tiba-tiba Baekhyun ingin kembali ke masa-masa itu. Masa-masa dimana ia sangat gemar bermimpi, senang berbagi canda tawa, meringis bersama saat guru menghukum ia dan teman-temannya karena lupa mengerjakan PR, terjatuh saat saling menendang di lapangan sepakbola. Ah, ia tak menyangka masa-masa yang menyenangkan itu telah ia lewati. Walau baru 1 tahun, tapi ia dapat merasakan perbedaan besar antara masa SMA dan masa kuliah seperti sekarang.

Baekhyun berjalan menghampiri kursi paling belakang dan duduk di sana. Ia masih ingat, dulu ia duduk di bangku itu bersama Chanyeol. Ara duduk tepat di depannya.

Baekhyun kembali menghela napas, lalu memperhatikan bunga kaktus yang dari tadi ia bawa. Bunga kaktus itu kini berbunga. Ia meletakkannya di atas meja dan memandanginya lamat-lamat. Ia tersenyum, kali ini karena kenangannya bersama Ara terlintas di benaknya.

.

.

.

Baekhyun yang saat itu tengah serius mengerjakan soal Sejarah terkejut saat Ara membalikkan badan dan merentangkan telapak tangan kanannya di depan Baekhyun. Saat Baekhyun menatapnya dengan tatapan mata heran, gadis itu tersenyum, lalu menggerakkan jarinya sesuai dengan hitungan mundur dari angka lima.

 Saat Ara menggenggamkan tangannya…

Ting tong!!

“Waktu istirahat..”

Ara tersenyum puas karena ketepatan waktunya.

.

.

.

Ia melihat ke luar jendela dari sisi kanan. Kini bayangannya terlintas kembali saat Ara mengejarnya sekuat tenaga di lorong sekolah.

.

.

.

“Kembalikan diary-ku!”

Baekhyun tertawa sambil mengangkat diary Ara lebih tinggi. “Tidak mau! Memangnya ada apa di dalam diary ini hingga aku tidak boleh membacanya?”

“Hei! Setiap diary itu lambang dari privasi pemiliknya!” Ara terus-terusan meloncat setinggi mungkin demi meraih buku diary-nya.

“Kalau ini privasi, kenapa kau bawa ke sekolah?”

“Terserah aku! Itu diary-ku, mau kuapakan saja terserah!”

Baekhyun masih terus tertawa sampai akhirnya diary Ara jatuh dan selembar kertas kecil keluar dari diary itu. Ara membelalakkan matanya.

Itu kertas bergambar sketsa Baekhyun yang baru saja ia buat kemarin sore.

Ara tahu Baekhyun hanya melihatnya sekilas dan hendak memperhatikan secara seksama, maka dari itu Ara mengalihkan perhatian Baekhyun agar tidak melihat sketsanya dengan menggelitik perut Baekhyun.

“Ah!! Geli!!” Baekhyun memegangi perutnya.

“Rasakan! Itu hukuman untuk seseorang yang berusaha mencampuri urusan orang lain!”

“Iya! Maaf! Aku kan tidak jadi membaca buku harianmu! Hei!”

Baekhyun berlari sekuat tenaga sambil tertawa geli ketika Ara terus menggelitikinya.

.

.

.

Baekhyun juga ingin mengingat kenangannya bersama Ara di taman belakang sekolah dengan menatap taman itu melalui jendela di sisi kiri ruangan. Ia ingat di sana ia sering bertukar cerita dengan Ara. Menangis bersama, tertawa bersama, juga bermimpi bersama.

Walau ia benci pada Ara yang tak kunjung kembali dan tak memberi kabar sama sekali pasca operasi, tak dapat ia pungkiri, ia sangat merindukan sosok Ara.

Namun ia sangat terkejut ketika ia mendapati sososk seorang gadis yang tengah duduk bersila di tengah taman. Ia berdiri dan memastikan sosok itu dengan seksama. Gadis itu memakai kemeja putih dengan lengan tiga perempat dan celana hitam. Ia tengah melukis sesuatu.

Baekhyun pikir gadis itu Ara.

Tapi bedanya, rambut gadis itu pendek.

Baekhyun mengambil kaktus kerdil yang ia bawa, lalu berlari menuju taman. Ia benar-benar ingin memastikan bahwa gadis yang ia lihat itu Ara, bukan hanya bayangan semata, bukan hanya fatamorgana.

Sampai di taman dengan napas tersengal-sengal, Baekhyun memperhatikan lagi gadis itu secara seksama. Ia berjalan menghampiri gadis itu.

Dan saat gadis itu mengangkat wajahnya dan pandangan mata mereka bertemu, gadis itu tersenyum.

Ternyata benar. Dia Ara.

Ara berdiri, lalu memperlihatkan sketsa pensilnya pada Baekhyun. Mata Baekhyun berkaca-kaca.

Ara tersenyum senang ketika Baekhyun mengangkat pot kecil tempat kaktus kecilnya tumbuh. Bunga berwarna kuning memperindah kaktus yang sebelumnya terlihat biasa saja.

Ara hendak mengambil kembali kaktus itu dengan menyentuh potnya, namun tangan lain Baekhyun menggenggam tangannya kuat.

“Apa kau akan pergi lagi?”

Ara terkejut mendengarkan pertanyaan itu.

“Kau bilang, kau hanya menitipkan kaktus ini sampai kau kembali. Apa yang akan kau lakukan saat aku mengembalikan kaktusmu? Pergi lagi? Meninggalkan aku lagi?”

Ara menggeleng.

“Di surat yang kau tulis untukku satu tahun lalu, kau bilang kau tak mau menemuiku sebelum operasi. Katamu, supaya kau dapat bertahan. Kalau kau ingin menyerah, kau akan berpikir, ‘oh, aku belum bertemu Baekhyun. Aku belum mengucapkan kalimat perpisahan padanya! Aku harus bertahan!’ Apa kau hanya ingin mengatakan kalimat perpisahan padaku, lalu pergi?”

Mata Ara berlinang air mata.

“Kau tahu? Selama ini aku berusaha menghubungimu, tapi tak pernah ada balasan yang berarti. Selama ini aku bertanya-tanya dan terus menunggu kehadiranmu. Kau tahu, aku tanpamu sangatlah hampa? Aku memang punya banyak teman, tapi rasanya tidak lengkap tanpa adanya seorang Ara di sampingku.”

Ara masih tetap diam melihat air mata Baekhyun semakin deras mengalir di pipinya.

“Kenapa kau diam saja?! Katakanlah sesuatu!! Kau membuatku tidak tenang!!” Baekhyun memperkuat genggaman tangan Ara yang juga menggenggam pot kaktus.

“Kau lupa satu detail, Baekhyun…” ucap Ara setelah beberapa menit ini ia terdiam.

Baekhyun sedikit tersenyum. Dokter Kim pernah menjelaskan padanya—tepat setelah Ara pergi entah kemana—bahwa efek samping operasi otak bisa saja membuat orang lumpuh atau lupa ingatan. Dari tadi, melihat Ara hanya diam membuatnya takut Ara melupakannya. Bisa saja ‘kan, Ara melukisnya hanya karena dia tampan, bukan karena Ara ingat siapa Baekhyun?

Dan pikiran Baekhyun terbukti salah.

“Aku bilang ‘aku akan kembali saat musim semi tahun depan’. Kau tidak ingat itu?”

Dengan senyum bahagia, Baekhyun memeluk Ara erat.

“Jangan pernah pergi lagi. Kumohon… Tidak apa-apa jika aku harus mengurus kaktusmu sampai besarnya setara dengan kaktus gurun pasir, tapi jangan pernah tinggalkan aku lagi.”

Ara mengangguk.

.

.

.

Dan cerita si kaktus biru akan terus berlanjut, namun untuk hari ini dan seterusnya, ceritanya akan lebih berwarna…

Tak hanya biru.

.

.

.

Overseas from coast to coast

To find a place i love the most

Where te fields are green

To see you once again

.

To hold you in my arms

To promise you My Love

To tell you from my heart

You’re all i’m thinking of

.

.

.

END

1) Perdarahan epidural : perdarahan yang terjadi di antara selaput pembungkus otak (duramater) dan tulang kepala. Perdarahan ini terjadi akibat retaknya tulang kepala pada trauma kepala yang selanjutnya retakan tulang itu akan menjadi sumber perdarahan atau dapat pula mencederai pembuluh darah yang berada di selaput pembungkus otak tersebut.

14 thoughts on “EXO Series : Baekhyun – Blue Cactus

  1. Sasa~
    aku kira ini bakalan sad ending ternyata… ini happy ending~ YEAY!
    Ara itu pantes pates aja sih, jadi cewek dingin, cewek periang, dan lumayan konyol.
    Baekhyun oh Baekhyun…. dirimu perhatian sekali sama Ara
    cerita Hansel Gretel versi Baekhyun lebih romantis daripada Hasel Gretel asliya #yaiyalah, orang Hasel Gretel aslinya kak kakak adik
    pendaraha itu ya? serem banget kalo itu. tau tau udah parah aja.
    Bagus Sa FFmu~
    untunglah gak sad ending, kalo sad ending gak tau aku jadi gimana.
    KEEP WRITIG AND FIGHTING!!!

    1. hahaha.. aku capek bikin sad ending kak,.. ya.. walaupun.. jujur aja… awalnya ide aku kepentok sampe Baekhyun baca surat, abis gitu teriak ‘ara bodoh!’ abis gitu end😆

      iya.. soalnya kan Ara setipe sama saya kak… haha #slap

      iya.. ada kasus, malemnya kecelakaan, keliatannya dia baik-baik aja, paginya udah… meninggal -_-”

      makasih kak😀

      1. jangan capek, Nak. berjuanglah. /puk puk sasa/ /ala mbah mbah ngasih wejangan/
        ah, kalo sampe itu doang kurang ngeh! rasanya.butuh sekuel dong~~~

        wahaha… kalo gitu Ara setipe dong sama aku? /dih, ngarep abis kamu, Tang!/

        btw, kamu manggil aku ‘kak’ aku jadi berasa tua dan maloe #apa ini?
        muehehehe… kalau mau manggilnya Tang aja. biar keyen :3 #kicked# /keren darimana coba? perasaan biasa aja deh/

        ya namanya aja takdirgak tau kapan muncul dan kapan berakhir /mendadak puitis/

        sama sama, Sa~~~

  2. aigoo, BAEKHYUN GUEEEEE!!!! #heboh
    kyknya udh lama banget aku gag ngebaca baekhyun yang romantis tis tiss, saengiie, kalo soal ff byun baek kamu emg TOP deh😀

    aduh byun baek emg cocok kalo dpt peran yang cerewetnya amit amit😄
    aku pikir apakah bakal sad ending sma kyk kyung soo, ternyata sasa baik sama aku, byun baeknya gag dibikin menderita😀
    hansel dan gretel???!!! it film asik banget😄 tapi yg vrsi byun baek lebih asik😛
    kaktus biru? BIRUUU?? BLUE?? ITU WARNA FAVORITE AKU SEPANJANG MASAAAAA \(‾▿‾\) \(´▽`)/ (/‾▿‾)/ *curhat ni ceritanya*
    aduh saeng, aku gag tau mau komen apa lagi, mungin komen kalo byun baek itu tidur mati?? bisa bisa jadi😛
    dimana ada baekhyun pasti nama chanyeol kesebut juga ya *baekyeol shippe sayanya*

    adu, udh lama gag komen disini bahasanya udh jadi kaku banget, mau rajin tapi gag bisa kelas 12 bikin aku gila *curhat lagi*

    eh eh, itu kelas baekhyun bisa ganti jadi 12 IPA 1 gag? biar sama gitu kayak aku😄.

    alamak itu kelas ato apaan coba hancur banget -_-

    oke, krn udh makin gag jelas komennya aku pamit deh😀

    sasa hwaiting ^^

    1. hah? masa’ sih kak? aku udah sering pake K-Pop star lainnya lho😛
      aku bosen kak ngasih FF sad ending ato nanggung ending, makanya aku buat happy😛

      iya… cuma kesebut satu kali tapi :3

      gak pa-pa kak, kan sekolah lebih penting xD

      Gak boleh!! Soalnya aku anak IPS xD #slap

      ya… setidaknya itu mewakili kelasku kak.. kalo istirahat lagu yang diputer koplo-an, abis gitu joget gaje semua -_-

      makasih kak ^^

  3. duhh, tau ga sa kalo kak uda mikir2 klo ara itu meninggal trus yg baek liat cuma arwahnya yg mw ngucapin selamat tinggal (mainstream banget ini pikiran) T-T tapi untungnya ya sa, untung kamu bikin baek-ara hepi ending..ahirnya ara kembali pulang ke sisi baek, mreka bersatu setelah terpisah setahun lamanya tanpa kepastian..

    1. ahaha.. setahu aku arwah gak bisa ngelukis kak.. dan arwah gak bisa potong rambut xD #abaikan

      iya :” aku bosen sama FF sad ending kak (padahal sebenarnya suka)

      makasih komennya kak.. dan selamat bergabung di IFK xD aku suka FFnya kakak! #padahalAkuGakNgejuriFFKakak

      1. Kan sapa tau gitu arwahnya jenis spesial…kkk~
        Ihhh, kak juga ga suka sebenernya sama sad ending…bikin sedih aja (namany jg sad)

        Ahhh, iya makasi sasa~ ^^
        Uda suka sama ff kak yg aneh ajaib…

        1. iya… arwah spesies baru -,-”

          Ih, justru yang dipilih jadi the best of the best itu adalah yang teraneh dan terajaib (?) saking ajaibnya bikin kita semua ternganga gitu xD

  4. Setelah membaca Loving You Losing You… aq jd pnsran sm EXO series slnjutnya.

    lagi dan lagi… FF mu membuat aq menontol film dalam otakku .. hehe.
    aq suka sm setiap kata yg ringan buat di bca di FF mu.

    emm… kesamaan dengan FF sblumny ya? oh.. surat biru dan si cewek ninggalin cowokny! #bener gak?
    hehe.. mian klo sok tau ^.~

    Di sini Ara setelah operasi ga ad efek smpingny ya? tu stlah nunjukn gmbr k baekhyun, knpa dia mau ngmbl kaktusny??

    ending yg so sweet… ^^

    aq ga sabar nggu FF Exo series lainny ^^
    fighting!!

    1. wah… makasih kak dah komen *_*
      iya.. sebenarnya cuma surat kak, soalnya EXO series selanjutnya jarang ada romance-nya =)

      ya.. cuma terharu aja gitu, ternyata Baekhyun ngerawat kaktusnya sampe dia pulang :”” efek sampingnya? ehm… tuh dia kembali ke Baekhyun dalam kurun waktu satu tahun kan buat nungguin rambutnya tumbuh lagi pasca operasi😆

      ok.. makasih kak ^^

      1. Oh.. D kirain sm kehilangan jg. Kk~ hemm..aq pnsran ma exo series yg slnjtny ^^

        Iya .. So sweet bngt dh baekhyun.. ^.^
        Wkwk.. Ternyta dy g mau tampil tnp rambut d hdpan baekhyu.wkwk

        Yups sm2🙂

  5. Hai sa apa kabar?lama nih saya g buka blog kamu..gegara sibuk kuliah..oh ya baekyong story nya gmana?saya penggemar berat ff2 mu😀 dan kenapa LIGTF nya diprotec?gmana cra dpt pw nya?jujur saya jarang buka blog kamu..untuk ff ini as always daebak!kamu pinter ngerangkai kata2..semoga kamu mau bls komen abal ini..

  6. Demi apa ini keren banget! Walau sedih Baek ternyata locked by Ara T^T Penulisannya rapi banget dan surat Ara itu terasa banget feelnya dan dan aku suka banget pokoknya sampe gak tau mau bilang apa lagi😀

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s