[Ficlet] Tomi


bike-boy-button-up-city-photography-favim-com-191787

Lelaki yang selalu sibuk dengan eksperimennya soal robot, si penghuni bangku nomor dua dari belakang, katanya bernama Tomi. Kenapa aku bilang ‘katanya’? Karena saat guru mengabsen, dia baru mengangkat tangannya saat dipanggil Tomi. Nama lengkapnya—Enggar Wicaksono—tak pernah dia acuhkan.

Saat pelajaran, dia selalu tidur. Saat guru menghukumnya dan menyuruhnya mengerjakan soal yang tertulis di papan, dia akan menulis jawaban yang polos—terlampau polos,

Saya tidak tahu.

Aku—dan teman-teman sekelas tentunya—sudah melihat berbagai macam reaksi.

Mr. Edi selaku guru bahasa inggris biasanya menasehati untuk selalu belajar, menjitaknya pelan, lalu membiarkannya kembali duduk.

Pak Imron, si guru sejarah, biasanya bakal menceramahinya seperti ini,

“Kita sebagai bangsa Indonesia harus menghargai setiap sejarah! Jas Merah! Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah! Kelihatannya sepele, tapi sejarah itu ada supaya kita tidak melakukan kesalahan yang pernah dilakukan di masa lampau!!”

Lalu diakhiri dengan tugas merangkum buku pengantar sejarah—yang pak Imron berikan khusus untuk hukuman—yang harus selesai kurang dari dua hari.

Tapi si Tomi biasanya sanggup menyelesaikannya hari itu juga dan pak Imron tidak pernah mengucapkan teguran atas tugas yang Tomi kerjakan. Aku pernah melihatnya saat pulang sekolah. Aku bergegas mencium tangan pak Imron, di sampingku ada Tomi dengan tatapan acuh tak acuh. Pak Imron berdehem.

“Jangan tidur di kelas lagi.”

Beda lagi dengan bu Susi. Guru matematika yang satu ini memang baik, tapi sedikit dibenci bagi beberapa anak. Beliau mudah sekali menyindir dengan sinis. Dulu beliau pernah memukul muridnya, tapi semenjak beliau terkena darah tinggi, beliau jadi lebih sabar.

Tapi ucapannya lebih pedas.

“Kamu pintar sekali, Sita,” kata Beliau saat aku menyelesaikan satu soal di papan tulis. “Beda dengan anak yang suka tidur di kelas… Sudah nilainya tak pernah lebih dari standar, remidinya remidi lagi…”

Teman-teman sekelas tertawa. Tomi malah tersenyum.

Dia itu entah bodoh atau apa.

Sekolah hampir saja mengeluarkannya, tapi dia terlampau jago di bidang olahraga. Bulan lalu dia membawa perunggu di Pekan Olahraga Provinsi untuk Taekwondo. Kapan hari dia juga menang tenis tingkat kabupaten. Adik kelas—yang tentunya hanya tahu dia di lapangan—biasanya berteriak histeris saat Tomi memasukkan bola. Tomi si Kapten Basket.

Oh, juga di bidang robotik.

Hari ini pada jam istirahat tadi, aku melihat satu robot memakai kemeja batik berjalan di depan kelas, membawa sekantung plastik berisi sampah dan memasukkannya ke tempat sampah di sudut ruangan. Di belakang robot itu, aku melihat Tomi tersenyum sambil membawa remote control.

Kuakui, dia manis saat tersenyum.

“Tomi,” aku memanggilnya. Aku pikir dia akan abai, tapi tidak.

Dia membalas tatapan mataku!

“Kamu ganteng lho, kalau tersenyum,” ucapku lagi. Dia memandangiku cukup lama sebelum akhirnya kembali mengendalikan gerak robotnya.

Melihat reaksinya atas ucapan isengku, aku jadi tertarik untuk lebih mendekatinya, daripada seperti yang biasa kulakukan, hanya mengamatinya dari jauh.

Aku menuliskan satu lirik lagu di lembar notebook-ku. Setelah selesai, aku melipatnya dan memasukkannya ke saku jas almamaternya dan pergi ke luar kelas.

Sekali lagi, aku berhasil menarik perhatiannya. Saat aku pulang dari kegiatanku sebagai pengurus OSIS, aku melihatnya berdiri di gerbang. Aku tahu dia bukan anggota organisasi apapun kecuali klub-klub olahraga dan robotik, tapi dia belum pulang. Setahuku hari ini tak ada kegiatan apapun di luar jam sekolah, tapi kulihat dia hanya memakai kaos raglan dan celana training. Tanda bahwa sepulang sekolah sampai sore ini dia menghabiskan waktunya bermain basket.

Tentu saja aku tak mau besar kepala dengan berpikir dia menungguku. Tapi kenyataannya memang begitu. Dia memanggil namaku untuk pertama kalinya, lalu berjalan menghampiriku.

Dia menyerahkan selembar kertas yang terdapat bekas lipatan asal. Ada tulisan tanganku di sana.

“Sita…”

“Iya Tomi?” ucapku sok manis.

“Ini maksudnya apa?” ucapnya sedikit ragu. Kulihat peluh di dahinya sedikit berkilauan karena terkena cahaya senja, kontras dengan kulitnya yang kecoklatan.

Aku tersenyum.

 

Strange Sight
You stand in the light
You’re wrong, but you’re right
And my heart’s beating wildly
Strange how I’m scared but delighted
Afraid, but excited too

You have a cold heart
You’re reckless and distant,
But I’ll be persistent
I will understand you
Strange how I’m drawn to the danger
I reach out my hand to you

Do you long to be left all alone?
Set apart with a heart made of stone?
Let me help, let’s begin
Let me learn
Won’t you let me in?
All the light, let it show

You are a strange sight
Some new kind of wonder
With good hidden under
I’m sure that it’s true
Strange how your dark doesn’t faze me
No, I won’t give up on you

If you’re caught in the shadows
And turned all around
Lost in the darkness
You will be found
If you hear my voice
Follow the sound
Cause I’m here to guide you

(OST TinkerBell and the Legend of Never Beast – Strange Sight)

malam ini cuma pengen bilang: minta doanya supaya aku lolos di SBMPTN tahun ini ya =)

P.S  : hassekkk Tomi di sini tuh menggambarkan tokoh yang pernah ada di kehidupanku dengan sedikit penyesuaian… Remind me of my Unrequited Love but i’ll made Sita–or me–in this story to gain a happiness!!!

 

3 thoughts on “[Ficlet] Tomi

  1. Hi Sasa! Hmmm kayaknya ini pertama kalinya aku baca ficmu, baik yang fanfic atau yang orific?

    Aku jarang baca orific sih soalnya aku agak genah sama novel yang diekspos ke aku yang plotnya standar. /mungkin belum ketemu yang pas ya…/ terus aku juga susah bayangin tampang karakternya wkwkwkwk
    I am not an expert on this so please expect nothing.

    Karakter Tomi menarik. Kayak ada sesuatu yang lebih ganas dibalik kediamannya dan betapa dia nggak mau dipanggil dengan nama aslinya. Mungkin kalo mau dilanjut, bisa lebih dieksplor ke sana.

    Sita tuh kamu ya? Hmmm cocok sih terus agak cliché ya ngasih lirik lagu gitu huuuu lucu!

    Tapi endingnya cakep! Tomi terlihat clueless tapi dia menaruh perhatian. Coba aja kalo cowok rl kayak dia huuu kalo ini kejadian di dunia nyata kertasnya pasti udah kecuci wkwkwkwkwk

    Thumbs up to Sasa!

  2. Hi Sasa! Hmmm kayaknya ini pertama kalinya aku baca ficmu, baik yang fanfic atau yang orific?

    Aku jarang baca orific sih soalnya aku agak genah sama novel yang diekspos ke aku yang plotnya standar. /mungkin belum ketemu yang pas ya…/ terus aku juga susah bayangin tampang karakternya wkwkwkwk
    I am not an expert on this so please expect nothing.

    Karakter Tomi menarik. Kayak ada sesuatu yang lebih ganas dibalik kediamannya dan betapa dia nggak mau dipanggil dengan nama aslinya. Mungkin kalo mau dilanjut, bisa lebih dieksplor ke sana.

    Sita tuh kamu ya? Hmmm cocok sih terus agak cliché ya ngasih lirik lagu gitu huuuu lucu!

    Tapi endingnya cakep! Tomi terlihat clueless tapi dia menaruh perhatian. Coba aja kalo cowok rl kayak dia huuu kalo ini kejadian di dunia nyata kertasnya pasti udah kecuci wkwkwkwkwk

    Thumbs up to Sasa!

  3. Hai Sasa. Akhirnya baca orificmu setelah sekian lama kamu vakum menyelesaikan ujian nasional dkk.

    Pertama sih. aku mau nanyain. Bacaan kamu apa? Si Tomi ini remind me sama karakter di salah satu novel favoritku.
    Okelah. Nggak usah dipikir kenapa dia minta di panggil Tomi secara namanya nggak ada sangkutnya sama sekali. Tolongin dia.
    Selalu ya, aku suka sama penggambaran kamu yg mudah dimengerti. Kalem tapi kuat.
    Kalau ada waktu bagi-bagi tips ya. buat bisa bikin karakter yg kayak gini.
    Makasih.

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s