[Ficlet] You Looking For…


by-chris-sardegna
by-chris-sardegna

“Berdasarkan pengalaman dan dengan sedikit penyesuaian.”

inspired by this quote

“Writing about a writer’s block is better than not writing at all.”
–Charles Bukowski

Guys, bantu aku cari ide dong.

Sudah berkali-kali di waktu liburmu kamu habiskan hanya untuk mengetik kalimat itu di chatting grup komunitas penulis amatir tempatmu bergabung. Di samping balon chat-mu, tertera waktu kalimat itu terkirim, juga angka yang menunjukkan berapa banyak orang dalam grup yang membaca kalimatmu.

06.45 PM, read 11.

Tidak terima karena tak ada yang membalas, kamu kembali mengetikkan beberapa kata,

Sumpah, berhari-hari nyari ide yang pas buat bikin cerpen nggak ketemu-ketemu.

Akhirnya ada yang mau membalas kalimatmu

Coba cari ide di wc Sa, biasanya manjur tuh.

Itu cara yang sering kamu lakukan, kalau diingat lagi. Beberapa cerita yang sudah kamu muat di blog pibadimu biasanya berasal dari perenungan penuh arti di ‘sana’. Memang tidak semuanya, tapi memang cerita-cerita terbaik—yang kamu nilai sendiri, tentunya—yang pernah kamu buat memang… ya begitulah.

Walaupun kamu tahu ritual ‘pencarian ilham’ yang itu manjur, tapi kamu kecewa karena bukan itu jawaban yang kamu butuhkan. Yang kamu butuhkan adalah se… sebutir, sebiji—seonggok?—atau mungkin lebih tepatnya, sebuah ‘ide’, bukan cara mencari ide.

Lalu kamu menjawab asal

Lho, aku baru dari ‘sana’, Kak.

Wah, ngapain tuh? Nyari ide?

Bukan.

Kamu menekan enter, lalu mengetik satu frasa yang ‘asal-asalan’.

Panggilan alam.

Akhirnya ada id lain yang ikut nimbrung—mungkin memang berniat membantumu atau sekadar mengalihkan obrolan tentang wc,

Dengerin lagu favorit biasanya ampuh kak.

Nah, kamu sudah memikirkan hal yang sama. Berkali-kali kamu melihat playlist lagu di handphone atau sekadar melihat judul lagu-lagu yang memenuhi folder musikmu di laptop, berusaha memaknai arti lagu—atau mengartikan judul secara asal-asalan—seperti yang biasa kamu lakukan. Memang biasanya ampuh, tapi kalau cara ini ampuh kali ini, kamu tak mungkin berkoar-koar di grup, terus-terusan minta tolong cari ide. Iya ‘kan?

Coba sumbangkan satu kata deh.

Id lain membalas

Sugar, Sa. Boleh dicoba tuh, belakangan ini aku suka banget kata sugar. Terserah pakai bahasa Indonesia-nya apa Bahasa Inggris-nya.

Lalu kamu mulai memikirkan kata itu. Sugar. Gula. Kamu ingat Maroon 5 punya lagu berjudul Sugar yang rilis awal tahun ini, tapi kamu belum pernah mendengarnya. Saat membayangkan gula, kamu malah ingat iklan komersial gula yang kadang mengganggu saat streaming youtube. Iklan ala dunia fantasi yang pernuh warna-warna cantik, penuh suasana manis dunia dongeng.

Sayangnya itu bukan style-mu. Kamu memang pernah berpikir untuk membuat cerita dongeng khas anak-anak, tapi sekarang bukan saatnya. Kamu cuma ingin kembali menulis cerpen yang ‘kamu banget’.

Terima kasih, kak. Nanti aku coba pikirkan deh. Ngomong-ngomong, ada yang mau rekomen lagu?

Hm… ujung-ujungnya kamu juga minta rekomendasi lagu. Kebetulan, id yang memberikan ide untuk mendengarkan lagu, kembali memberi saran.

Kalo Western, I Surrender punya Celine Dion kak.

Wah, favorit tuh.

Meskipun kamu membalas demikian, kamu tak punya hasrat untuk menulis cerpen tentang cinta, entah jatuh cinta, entah patah hati, kamu tak selera.

Akhirnya kamu kembali membuka jendela ms.word yang sudah kamu abaikan beberapa saat, menatap layar cukup lama.

Masih buntu, sayangnya.

Biasanya, sebuntu apapun, kamu tetap menemukan ide jika kamu menerjang kebuntuan itu. Tapi kali ini tidak. Sudah empat bulan sejak kamu berhenti mengarang cerpen untuk mempersiapkan Ujian Nasional dan kini kamu kebingungan menerobos kebuntuan. Kamu sadar, pepatah yang menyatakan ‘pedang akan tumpul jika tak diasah’ benar adanya.

Kamu menyalahkan Ujian Nasional yang menguras pikiranmu untuk ‘hanya’ tertuju padanya dan melupakan hobi utamamu yang menjurus ke cita-citamu. Itu cuma cara konyolmu untuk mengalihkan rasa kesal pada dirimu sendiri. Kesal karena ide-ide yang sempat terlintas selama empat bulan itu tak kamu indahkan dengan tidak mencatatnya. Ide yang seharusnya bisa jadi karyamu hari ini.

Karena obrolan di grup line sudah melenceng dari apa yang ingin kamu bahas, kamu membuka laman pencarian google, mengetikkan keyword ‘life quotes’. Mungkin ide yang kamu cari bisa ditemukan dengan cara itu.

kamu membaca satu quote teratas,

‘Sometimes,
the best way to stay close
to someone you love
is just being a friend’.

Kamu tak selera menulis soal percintaan, lebih-lebih persahabatan yang menjadi cinta. Terlalu menyakitkan—dan klise bagimu.

“Ciri khas kamu itu mbak, kamu bisa menulis satu cerita yang nggak biasa, lain daripada cerita pada umumnya. Coba pertahankan itu.”

Tiba-tiba kamu ingat salah satu pujian ayahmu yang selalu memberikan dukungan akan cita-citamu sebagai penulis. Ciri khas kamu adalah menulis satu cerita yang ‘nggak’ biasa. Oke, mungkin iya. Itu karena kamu terbiasa membayangkan hal-hal yang ‘nyeleneh’. Kamu pernah membayangkan seorang pembunuh bayaran tersenyum bahagia saat menghadapi eksekusi matinya, manusia yang terlahir sebagai buah dari pohon yang terbalik (akar di atas dan dedaunan di bawah), atau mungkin satu dunia yang penuh dengan ilusi, tempat hidup mereka-mereka yang meninggal tak wajar (kecelakaan atau bunuh diri).

Kamu ingat ucapan ayahmu lagi soal ide.

“Ide itu, semakin unik dan ‘nyeleneh’, nggak pada jalurnya, biasanya semakin asik untuk dituangkan ke dalam karya. Itulah yang membuat ide harus dibayar dengan harga mahal. Nggak cukup dengan uang, tapi juga apresiasi.”

Itu memang benar. Tapi, kali ini, jangankan ide yang unik dan ‘nyeleneh’. Ide yang biasa saja dan ada pada jalurnya saja sama sekali tak ada di kepalamu?

Ada juga teman di komunitas menulismu yang pintar mengolah ide biasa dan pada jalurnya jadi menarik untuk dibaca, membuatmu cukup iri. Kenapa dia bisa dan kamu tidak?

Tapi kamu ingat, jawabannya satu.

Menulis itu jati diri setiap orang. Setiap karya yang dihasilkan si penulis A pasti berbeda dengan si penulis B, atau yang lainnya.

Kamu menghela napas keras.

Kamu menemukan quote lain.

‘not all those who wander are lost’
—J.R.R. Tolkien.

Kamu berdoa pada Tuhan, supaya kamu bukan salah satu orang ‘kesasar’. Kamu cuma orang yang bingung mencari jalan keluar dari kebuntuan ini.

‘life begins
at the end
of your
comfort zone’.

Kamu berpikir. Memangnya selama ini aku terkungkung dalam zona aman, tanyamu pada dirimu sendiri. Mungkin iya, kamu menjawab lagi. kamu biasa mengarang fantasi, sedikit surreal, atau mungkin kehidupan sehari-hari dengan suasana sedih. Hampir semuanya dengan suasana sedih.

Tapi bukan berarti itu zona amanku, pikirmu lagi. Toh kamu juga pernah mengarang cerita dengan akhir bahagia, walau perasaanmu tak tersampaikan di dalamnya. Seolah dipaksakan. Beda dengan cerita-ceritamu yang bersuasana sedih, perasaanmu seperti mengalir dan sampai ke pembaca.

Zona aman…

Mungkin kebuntuan ini ada kaitannya dengan zona aman.

Tapi bagaimana menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini?

Kamu mulai putus asa, mengingat deadline tak lebih dari 24 jam. Ms.word-mu masih kosong, masih berjudul ‘Document1’.

Kamu pernah berpikiran untuk membuat cerita yang membahas secara spesifik satu pekerjaan, tapi tak pernah jadi. Berisiko, pikirmu. Kamu cuma murid SMA dan belum tahu bagaimana kehidupan di dunia kerja, mana mungkin kamu lancang menceritakan kehidupan para dewasa?

Kamu takut di cap menggurui.

Zona aman…

Kalau dipikir-pikir, kamu tak pernah berani mengirimkan naskahmu ke penerbit karena kamu memunyai pegangan sendiri. Kamu ingin memiliki karya yang ‘kamu banget’, beda dengan karya yang lain. Kamu sibuk mencari style menulismu sendiri, tapi melupakan beberapa hal yang bahkan lebih penting dari style.

Kamu menahan napas. Baru kali ini kamu merasakan beratnya mencari ide, membuatmu berpikir ulang soal keahlianmu mencari ide yang unik dan ‘nyeleneh’. Kamu merindukan pikiranmu yang dulu, yang menulis tanpa beban, menulis karena kamu cuma ingin orang-orang menyukai karyamu.

‘if you can believe it, mind can achieve it’—Ronnie Lott.

Quote ini membuatmu kembali semangat. Baiklah, aku percaya kebuntuan ini ada jalan keluarnya.

Kamu menyandarkan punggungmu ke kursi. Sudah tengah malam, tanpa terasa. Grup line sudah berhenti berbunyi, menandakan tak ada lagi yang online. Kamu berusaha berpikir sendiri.

Bukannya dapat ide, kamu terngiang ucapan guru Bahasa Indonesia-mu, Pak Latif. Beliau bercerita soal pengalamannya menjadi juri lomba cerpen yang diadakan SMA saat Dies Natalis awal tahun ini.

“Saya waktu menilai cerpen-cerpennya anak-anak tuh, bingung. Menurut saya itu semua bukan cerpen.”

Kamu ingat, cuma kamu yang mendengarkan beliau dengan seksama, sementara yang lainnya mengobrol sendiri, bahkan ada yang tertidur di pojok kelas. Ada juga yang bolak-balik mengecek jam di handphone, menunggu bel pulang berbunyi.

“Cerpen itu ‘kan, menceritakan satu babak, satu cuplikan dari kehidupan si tokoh utama. Kebanyakan tidak. Diceritakan dari awal sampai akhir.”

Lah, responmu saat itu. Bukannya semua cerita diceritakan dari awal sampai akhir?

Seolah tahu pikiranmu, Pak Latif melanjutkan,

“Namanya cerita pendek ‘kan, cerita yang pendek. Cuma satu babak, bukan keseharian seutuhnya. Kebanyakan cerpen yang masuk itu menceritakan secara lengkap, bahkan cerpen kalian yang untuk tugas akhir semester hampir seperti itu semua. Kamu jatuh cinta sama si X, lalu patah hati, lalu akhirnya kamu menemukan penggantinya. Itu ‘kan bukan cerpen. Kalau alurnya kompleks begitu, malah mirip novel.”

Kamu tertohok mendengarnya. Apa karyaku termasuk cerita yang ‘alurnya kompleks’? Kamu bingung saat itu. Maksudnya apa?

Tapi kemudian kamu jadi punya bayangan.

Cuma satu babak, bukan keseharian seutuhnya.

Kamu memang tak pernah menceritakan keseharian seutuhnya yang dialami si tokoh, tapi ucapan itu membuatmu punya satu bayangan.

Tiba-tiba line kembali berbunyi memecah proses perenunganmu. Senewen, kamu mengecek line pc-mu.

Sasa?

Ternyata temanmu sendiri, Erwinda, yang mengajakmu ‘ngobrol’ secara pribadi. Belum sempat kamu balas, dia mengirim beberapa kalimat lagi.

Lagi cari ide ‘kan? Aku nggak bisa bantu banyak sih, tapi saranku, cari aja ide dari kehidupanmu sendiri. Belum pernah nyoba ‘kan?

Kamu menimang-nimang. Jari-jemarimu kembali asik menekan huruf-huruf keyboard.

Hidupku kayaknya nggak ada yang asik buat dijadikan cerita deh, Win.

Bahkan ide dari kehidupan yang sederhana bisa jadi cerita yang asik lho.

Kalimat itu terkirim dengan jeda sepersekian detik. Mungkin itu kalimat yang lupa dia cantumkan dengan kalimat sebelumnya, jadi dia berniat menambahkan tanpa tahu kamu hendak membalas chat-nya. Kali ini kamu duduk diam, menunggu Erwinda membalas chatmu.

Tapi dia cuma membalas dengan simpel. Khas Erwinda yang bijak.

Coba aja. Pasti bisa. 🙂

Kamu berdecak. Kamu kembali mencari quote. Belum mendapatkan yang pas, line kembali berbunyi.

Sasa gitu lho. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau nggak dicoba, gimana kita bisa tahu?

Kamu tersenyum kecil. Akhirnya kamu menuruti Erwinda. Memikirkan kehidupanmu yang ‘sederhana’. Satu hal yang belum pernah kamu coba.‘

life begins at the end of your comfort zone’.

Berusaha keluar dari zona aman. Memikirkan cerita yang bukan fantasi, bukan surreal, bukan hal yang sedih, bukan kehidupan remaja. Kehidupanmu sendiri.

Kamu tersenyum.

Kamu dapat satu ‘kehidupan yang sederhana’ milikmu.

Kamu dapat ‘satu babak’ yang mungkin patut dicoba untuk ditulis.

.

.

.

i find it’s hard but easy at the same times when i write an ori-fic!! uwaah… setelah sekian lama gak bikin ori-fic (mana ori-fic yang dibuat ori-fic abal-abal yang cuma 100 kata lagi) akhirnya kini kembali dengan 1.700+ word length haghag… ada kepuasan tersendiri nih, semacam

“Yeah aku udah punya mood buat orific… berarti tahun depan bisa punya novel sendiri”

yeah, dari tahun 2011 aku terlalu asik bikin fanfiction sih, jadi kalo mau buat ori-fic, pasti ujung-ujungnya fan fiction, alasannya satu: kalo fanfiction pasti ada yang komen di blog, kalo orific enggak

lah tapi semakin ke belakang blog makin sepi, jadi secara totalitas blog ini berubah konsep, yang awalnya “It’s my viewer’s own” (yeah, bagi pengunjung setia blog ini–ya kalo ada sih–pasti masih inget kan tema-tema yang pake foto-foto artis Kei-Pop + fanfiksinya didominasi Mas-mas EXO sama Mas Onew?) jadi “It’s My Own Now!!”

yah, mungkin setelah ini blog ini bakal didominasi ori-fic (setelah berbulan-bulan cuma diisi reblog sama curhatan huhu) meskipun ada fanfiksi nyempil (ehem move on itu sulit kan?), eh tapi kalo aku pake cast yang aku suka dan kebanyakan gak fimiliar (Nu’est misalkan) mungkin gak bakal ada fanfiksi nyempil haha😄

dan… untuk orang-orang yang merasa bersangkutan, jangan merasa tersinggung ya…. cerita ini dibuat cuma untuk mengalihkan diri dari Writer’s block huhu

P.S : doakan aku lolos SBMPTN geisss

P.P.S : mungkin ini cara paling efektif biar bisa move on dari K-Pop (walau gak move on move on banget, tapi kita harus belajar kembali ke dunia nyata kan ketimbang memikirkan oppadeul)

P.P.P.S : tapi untuk sementara waktu aku gabisa move on dari Song Triplets

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s