[Ficlet] Capcay Pak Ode


wpid-13755445538131
cr: geasy.wp

“Capcay untuk Didit dari Ayah….”

Pagi-pagi dapur Pak Ode sudah berantakan. Sayur-mayur yang sudah disisihkan karena layu belum dimasukkan ke tempat sampah, bumbu-bumbu belum dirapikan, sementara Pak Ode masih sibuk bergerak ke sana kemari. Dengan jalannya yang terseok-seok—kaki kirinya cacat akibat kecelakaan kerja 4 tahun lalu—dia sibuk bolak-balik melihat buku resep dan kembali ke wajan, mempraktekkan satu resep spesial.

Lelaki paruh baya itu tersentak kaget saat putra semata wayangnya berjalan pelan memasuki dapur sambil mengucek matanya.

“Didit sudah bangun?”

Anak berusia 8 tahun itu hanya mengangguk, lalu duduk di kursi dekat kompor.

Pak Ode menggerutu dalam hati. Bukan karena Didit yang tak mau membantu, tapi karena Didit bangun lebih awal dari perkiraan. Harusnya masakan Pak Ode sudah tersajikan saat Didit bangun.

“Hari ini hari Minggu ya, Yah?”

“Iya…” Pak Ode kini mengambil bebera suing bawang putih, lalu mengupasnya.

“Pantas, hari ini Didit boleh bangun siang.”

Pak Ode mengernyit, lalu menoleh ke jam dinding. Sudah jam delapan kurang sepuluh. Pak Ode menghela napas.

“Ayah masak apa?”

Pak Ode tersenyum simpul. “Ada deh…”

Didit mengangkat sebelah ujung bibirnya. “Paling kayak biasanya.”

Pak Ode memilih diam. Nanti tak akan jadi kejutan kalau Pak Ode bilang hari ini menunya berbeda. Tapi Didit malah marah pada Ayahnya. Lelaki mungil itu memilih untuk tak berkata apa-apa.

Tapi sesaat kemudian, dia berucap memanggil Ayahnya. “Yah…”

“Apa, Nak?”

Kernyitan di dahinya serta ekspresi ingin tahu di wajahnya membuat Pak Ode gemas.

“Ibu kemana sih?”

Pak Ode cukup tersentak. Padahal ini bukan kali pertama dia mendengarkan pernyataan itu. Tapi bagaimana mungkin Pak Ode tak bingung, kalau istrinya saja pergi entah kemana?

“Aduh, Didit… sudah berapa kali kamu tanya itu, Nak?” Pak Ode beralih untuk memotong baby corn di depannya. “Kamu masih kecil… Belum bisa paham masalah orang gede.”

“Enggak!! Didit sudah gede kok!!” Didit melipat kedua tangannya dan membusungkan dada.

“Kata siapa?”

“Masa’ Ayah nggak ingat?” Didit memasang wajah marah, padahal Ayahnya sama sekali tak melihatnya. “Kemarin pas Lebaran, waktu main ke rumah Bulek Tantri, Bulek bilang, ‘Wah… Didit sudah gede ya’..”

Pak Ode tertawa kecil. Berikutnya, dia memasukkan semua bahan yang sudah dia siapkan dalam wajan yang berisi minyak sayur. “Itu ‘kan, karena Bulek Tantri nggak pernah liat Didit dari kecil, apalagi dari bayi. Jadinya Didit sudah kelihatan gede di mata Bulek…”

“Apa hubungannya, Yah?”

“Aduh, sudahlah sudah. Nanti masakan Ayah gosong.”

Didit mengayunkan kedua kakinya berbarengan sambil tetap memperhatikan Ayahnya. Kerutan-kerutan halus di wajah Ayahnya kadang membuatnya malu di antara teman-temannya. Apalagi kaki pincang Ayahnya. Tapi di sisi lain, keberadaan Ayahnya sudah lebih dari cukup buatnya. Dibandingkan satu-dua temannya yang sudah tak memiliki Ayah?

Tapi Didit tak punya ibu.

Lebih tepatnya, Didit tak tahu kemana perginya si Ibu.

“Ayah nggak tanya ke Didit, kenapa Didit selalu tanya soal Ibu?”

Pak Ode hanya diam. Sesekali mengusap peluh. Menjadi orang tua tunggal memang tak mudah, apalagi dengan kondisi fisiknya yang sekarang. Ditambah dengan kondisi ekonomi yang jarang sekali memadai.

Apa yang bisa diharapkan dari gajinya sebagai buruh perkebunan?

“Soalnya…”

“Didit… Ayah masih masak ini. Ngobrolnya nanti aja ya.”

Tapi Didit tak menyerah, walau sebenarnya dia juga takut dimarahi Ayahnya. Dulu sekali, Didit pernah dibentak Pak Ode karena terus-terusan menanyakan keberadaan sang Ibu. Akhirnya, mereka berakhir dengan tertidur pulas di lantai tanpa karpet, memeluk satu sama lain dengan bekas air mata di pipi.

“Soalnya Didit bosan, tiap hari makan sayur asem terus. Kalau enggak, sayur bening.”

Pak Ode termenung. Entah sudah ke berapa kalinya Pak Ode menghela napas karena pernyataan-pernyataan polos Didit. Pak Ode menatap Didit sekilas, lalu tersenyum. Setelahnya, aroma masakannya menguar di seluruh sudut ruangan. Saat Didit menerka-nerka apa yang dimasak Ayahnya, Pak Ode mencicipi masakannya. Dia mengangguk puas, lalu memasukkan masakan di wajan ke dalam mangkuk putih besar, lalu menutupnya.

“Ayo makan,” Pak Ode berucap sambil membawa mangkuk besar itu ke depan tv kecilnya di ruang multifungsi. Maksudnya, ruangan yang berfungsi menjadi ruang tamu, ruang keluarga, juga kamar tidur. Ah, juga ruang makan.

Pak Ode dan Didit bersila setelah Didit mengekor di belakang Pak Ode dengan dua piring dan dua sendok.

“Doa dulu…”

Didit mengangkat kedua tangannya, lalu mengucapkan Doa makan dengan keras, mempraktikkan apa yang dia pelajari saat mengaji sore di rumah pak Bilal.

“Amin.” Pak Ode mengakhiri doa Didit sambil tersenyum bangga. Dia mengusap lembut kepala anaknya.

“Didit yang buka,” ucap pak Ode ketika melihat ekspresi wajah anaknya yang malas.

Saat Didit membukanya, dia terkejut.

“Wah!!” Dia berteriak. “Capcay?”

Pak Ode tersenyum. “Hari ini ulang tahun Didit ‘kan?”

Didit mengangguk. “Tapi kenapa tiba-tiba capcay?”

“Aduh… kamu ini gimana sih, Nak? Katanya kepingin capcay.”

“Tapi Didit pinginnya itu capcaynya Ibu.”

Pak Ode geleng-geleng. “Tapi ‘kan sama saja. Bahannya aja lho, sama. Cara masaknya juga sama.”

“Tapi yang masak ‘kan beda.”

Pak Ode kewalahan. Empat tahun berlalu ternyata tak membuat Didit lupa. Padahal empat tahun lalu Didit hanya empat tahun saat istrinya pergi. Tepat setelah Pak Ode jatuh bangkrut karena harta bendanya dihabiskan dan dibawa pergi orang kepercayaannya, setelah Pak Ode jatuh di tempat proyek pembangunan gedungnya.

Istri yang tak menepati janji pernikahan untuk sehidup semati, seiya sekata.

Pak Ode menyeka air matanya yang hampir turun, lalu mulai mengambil capcay untuk menemani nasi di piringnya yang sudah dingin.

“Tapi ini lebih enak dari buatan Ibu…” Akhirnya Didit kembali berkata. Dia makan dengan lahap, tapi air matanya berurai.

Pak Ode tersenyum. Tangannya bergerak mengelap minyak di sekitar bibir Didit, lalu menghapus air mata Didit.

“Sudah, Dit. Cowok harus tegar. Nggak lemah.”

Didit mengangguk, lalu kembali menyantap makanannya.

Pak Ode berpikir sejenak, lalu mengambil satu tas plastik di sudut ruangan. Dia berikan plastik itu pada Didit.

“Apa ini, Yah?”

“Buka.”

Didit membuka tas plastik itu, lalu mengambil satu kotak kardus di dalamnya. Terlihat satu robot transformer di dalamnya.

“Selamat ulang tahun Didit.” Pak Ode mengelus rambut Didit sekali lagi, “Cuma ini yang bisa Ayah berikan buat Didit.”

Didit menatap Ayahnya.

“Maaf kalau selama ini Ayah nggak bisa jadi orang tua yang baik buat Didit. Pagi Ayah kerja, malamnya Ayah nggak bisa menemani Didit belajar karena capek. Setiap hari Ayah cuma bisa menitipkan Didit di rumah tetangga. Hari Minggu saja, kadang Ayah harus bekerja.”

Didit menahan tangis. Dia baru saja dinasihati Ayahnya untuk tetap tegar untuk tidak menangis.

“Semoga, Didit jadi anak yang baik. Menghormati yang tua, menyayangi yang muda. Berani karena benar, takut karena salah. Jadi anak yang sukses, anak yang pintar. Enggak kayak Ayah. Dulu Ayah enggak pintar, cuma mengandalkan harta orang tua.”

“Ayah memang bukan orang yang melahirkan Didit, Ayah juga bukan yang menyusui Didit. Tapi, Ayah bersyukur, punya Didit di dunia ini. Didit ingat, nggak, waktu Ayah tidur di rumah sakit?”

Didit mengangguk ragu. “Yang lama itu? Yang sampai berbulan-bulan itu?” suaranya sudah sedikit serak. Tenggorokannya pasti sakit karena menahan tangis.

Pak Ode mengangguk. “Iya. Yang itu. Ayah bisa bangun karena apa? Karena Ayah ingat, Ayah punya Didit. Didit sudah jadi malaikat buat Ayah.”

Didit menghapus air matanya yang sudah hampir jatuh dengan punggung tangannya.

“Maaf kalau Ayah belum bisa masak yang enak seperti Ibu. Tapi untuk seterusnya, Ayah janji, Ayah bakal masak yang enak-enak untuk Didit.”

Didit berdiri dan memeluk Ayahnya. Dia melihat ada air mata di mata Ayahnya, maka dia berinisiatif untuk menepuk-nepuk punggung Ayahnya. Sama seperti yang biasa Pak Ode lakukan untuk menenangkan Didit saat menangis.

Tapi Pak Ode malah menangis.

Anaknya memang sudah besar.

 

 2nd Original Fiction… ini tugas akhir semester satu kemaren hehe….

3 thoughts on “[Ficlet] Capcay Pak Ode

  1. Bagus, Sas, mengharukan. Dialog-dialognya ngalir banget. Cuma satu sih yang bikin aku kepikiran, kayaknya lebih baik menggunakan kata ‘anak laki-laki’ daripada ‘cowok’. Tapi itu cuma saranku aja.
    Kamu kuliah jurusan apa, btw?

    1. hehe… ada kata cowoknya ya kak? kayaknya kelewat deh… nanti aku beta lagi deh…. betewe aku belum lolos SNMPTN kak… besok selasa aku mau tes di jember, pilihan pertamanya Sastra Inggris UGM…. doakan lolos ya kak :”)

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s