[C’est La Vie] Try Again


It-Doesnt-Matter-If-Youve-Failed-If-Youve-Been-Beaten1

Hai… lama ya aku nggak nge-blog. Dan ngomong-ngomong, kemaren tanggal 9 Mei, mestinya ngerti kan, kenapa aku hadir lagi dengan sebuah curhatan di tanggal ini?

Bagi kalian mungkin biasa, tapi bagi beberapa orang yang ikut SNMPTN pasti tahu.

Iya.

Aku curhat bukan dalam rangka merayakan ulang tahun siapa-siapa, tapi curhat tentang SNMPTN.

Aku gak lolos, sayangnya (tapi ini bukan hal yang memalukan kok, guys. berarti Tuhan sayang ke kita dan membiarkan kita bangkit mencari jalan lain yang lebih asyik, yang memberikan kebahagiaan lebih ketika nantinya kalian lolos. believe it or not).

Ada kemungkinan mungkin karena aku terlalu pede, ngambil yang—kalo secara nilai rapot, ya kan—terlalu tinggi. Aku ngambil sastra inggris dan antropologi budaya UGM, sementara universitas kedua gak kupilih. Ada alasan yang buat aku gak milih universitas ke dua. Aku bener-bener pengen di UGM, jadi harus kuperjuangkan sekuat-kuatnya, sampai titik keringat penghabisan. Aku pengen di dua jurusan itu, karena dua jurusan itu didukung sama orang tua. Dapet restu dari orang tua.

Awalnya aku pengen banget ngambil bahasa Korea. Bukan karena aku seorang K-Popers ya… aku orangnya emang suka belajar bahasa asing. Mungkin bisa ambil Sastra Mandarin, tapi kan aku gagitu paham—bahkan gak pernah belajar—bahasa Mandarin. Kalo ngambil Sastra Jepang, aku emang udah pernah belajar bahasa Jepang dari kelas 2 SMA, tapi aku gak punya keinginan untuk ambil jurusan itu. dan menurut aku Bahasa Korea itu unik.

Sastra Arab?

Aku udah pernah belajar bahasa Arab dan aku nyerah… haha… subjeknya ada 14 sih… bahasa Inggris masih mending ya, dia Cuma ada 2 versi, she (perempuan) dan he (laki-laki). Kalo bahasa arab ada banyak, belum kalo gabung sama kata kerja…

Oke balik lagi.

Tapi sama ayah ditentang. Ayah komennya agak pedes pas itu.

“Emangnya mau jadi artis??!!”

Yah, meanwhile belajar bahasa Korea kan nggak mengharuskan kita goyang pinggul sambil flirting ke kamera semacam ‘wi are wi wi are’ yah begitulah… namanya juga persepsi orang tua.

Lalu aku dapet pencerahan dari kakak-kakak yang sosialisasi (biasa ‘kan, alumni suka promo almamaternya), katanya “yang penting dapet restu dari orang tua, pasti kalian sukses dek.”

Akhirnya aku tanya ke orang tua, bolehnya apa? secara ‘kan dulu aku pernah pengen masuk DKV tapi… gimana ya bilangnya? Ayah bilang,

“Abah nggak ngelarang mbak untuk ngambil DKV, tapi DKV itu harus bisa sketsa. Sementara Abah nggak pernah liat mbak gambar. Jadi, menurut Abah, mbak nggak cocok di DKV.”

Ya pas itu aku anggap ‘nggak direstui’, gitu aja. Simpel aku orangnya. Walau kadang kolot sih, tapi ya udah. Gimanapun orang tua selalu ingin yang terbaik buat anaknya ‘kan? Aku takutnya kalo ‘ngeyel’ malah dapet masalah di kemudian hari. Katanya ‘restu Tuhan itu restu orang tua’. Ada benernya.

Ini bukan takhayul.

Akhirnya, ibu ingin aku ke Sastra Inggris, ya pokoknya yang ada bahasa Inggrisnya lah. Ayah nyaranin ke ilmu komunikasi, meanwhile aku nggak tertarik sama ilmu komunikasi. Ayah malah pernah nyaranin untuk masuk HI.

Hotel Indonesia (abaikan).

Akhirnya aku cari di internet, setiap jurusan yang ada. Pokoknya aku ingin di FIB, apapun jurusannya, dimanapun universitasnya, aku pengen FIB. Aku selalu tertarik soal budaya.

Akhirnya aku ketemu Antropologi Budaya. Jadilah itu di pilihan ke dua.

“We dream to give ourselves hope. To stop dreaming – well, that’s like saying you can never change your fate.”
Amy Tan, The Hundred Secret Senses

Kata Ayah, kalo punya keinginan, harus fokus ngejar itu. Nggak boleh ngejar yang lain. Makanya aku pengen ngambil Sastra Inggris di UGM sama Antropologi Budaya. Aku pengen belajar mandiri, jauh dari orang tua, jadi aku pingin di Jogja. Gimanapun caranya (bukan berarti aku menghalalkan segala cara, if you know what i mean). Intinya, ikhtiar lah.

.

.

.

Soal SNMPTN. I’m strong enough… aku juga gak berharap banyak di SNMPTN, yang indikasinya konsisten 50 besar paralel lah… nilainya stabil lah…

Aku bukan termasuk anak yang pintar di pelajaran, sungguh. Aku bukan termasuk orang yang betah untuk belajar lama, duduk nyampek pantat panas (tapi kalo ngetik cerita kok gak pernah kerasa panas ya ni pantat?), tapi setidaknya ngerti lah. Kalau misalkan KKM 75, bisa lah dapet 70, apa 65.

Aku juga bukan anak yang menonjol, yang kalau ikut kegiatan organisasi apa ekstrakulikuler dapat piagam, yang setiap seninnya dipanggil maju ke depan… bukan…

Udah keliatan suramnya, sebenarnya, kalo aku ikut SNMPTN. Lagian siapa sih, pencetus SNMPTN?

Sistem yang menitik-beratkan pada nilai rapot seperti itu menurut aku jelas gak adil. Enak bagi anak yang nilai rapotnya tinggi (bukan bagus) atau punya banyak sertifikat yang sesuai sama prodi yang dituju, bagi anak lain yang biasa-biasa saja (baca: aku) harus berjuang lebih panjang lagi.

Toh ada juga kan anak yang nilai rapotnya tinggi karena manipulasi?

Ada juga anak yang pintar di satu pelajaran doang, tapi di pelajaran lain gak pinter. Misal nih, aku suka sosiologi, tapi geografi dapet 60 rasanya kayak pengen nangis.

Tapi gak ada yang patut disalahkan. Ini jalan cerita yang sengaja dibuat Tuhan di salah satu panggung sandiwara milik-Nya. Biar dunia asik, gak flat. Kata Agnez Mo sih, Life is Never Flat.

Nyatanya iya.

.

.

Kayak yang aku tulis tadi, i’m strong enough. Aku selalu punya cara sendiri untuk menghadapi suatu masalah. Mungkin orang lain perlu tahu, mungkin nggak perlu tahu. Tapi aku rasa perlu, biar ke depannya, ketika aku punya masalah, orang-orang tahu harus bagaimana. Hanya segelintir aja sih, nggak usah semua orang. Segelintir—bahkan seorang—cukup.

Aku tipe orang yang cengeng. Bener. Ketika liat Minguk dimarahin karena dia nyoret-nyoret lantai, aku nangis. Ketika aku liat ada bapak-bapak tua yang jalannya udah bungkuk—aku perkirakan umurnya di atas 80—masih nyari uang dengan mungutin sampah setelah konser kampanye parpol, aku nangis.

Ketika ditanyain sesuatu yang bisa bikin aku sedih, aku nangis. Sekuat apapun aku nahan, aku nangis. Aku menghela napas, mengatur emosi, menguatkan hati… aku kuat. Tapi ketika ngomong, aku nangis.

“He promised us that everything would be okay. I was a child, but I knew that everything would not be okay. That did not make my father a liar. It made him my father.”
Jonathan Safran Foer, Extremely Loud and Incredibly Close

Waktu aku memasukkan NISN dan tanggal lahir, dan akhirnya nge-klik ‘lihat hasil seleksi’, ada kotak merah yang bertuliskan,

“Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNMPTN 2015”

Aku udah legowo. Seperti yang aku bilang, aku udah punya firasat. Jadi udah antisipasi.

“Maju ke SBMPTN.” Aku udah mbatin gitu. Lagian kan SBMPTN murni kan, cuma dari hasil tes, nggak perlu rapot, sertifikat, tetek bengek lainnya yang bikin muak, SBMPTN simpel. Walau gak sesimpel yang dibayangin juga sih. Toh soalnya dari tahun ke tahun variasinya asik-asik (ucapan kan doa, jadi aku gak mau bilang r***t atau s***t). Waktu aku masuk ke SMA pun aku nggak pake nilai UN atau nilai rapot. Aku ikut tes, jadi aku merasa nyaman aja kalo ikut tes. Udah terbiasa. Menurut aku malah lebih menantang… kita jadi tahu kemampuan kita seperti apa.

Sayangnya, orang tua aku merasa aku bakal putus asa kalau nggak lolos SNMPTN (walau aku akui, aku sedikit kecewa).

Ayah kemaren telpon, “Gimana mbak?”

“Nggak lolos, Bah…”

Suaranya ayah abis gitu kalem—entah kalem entah kecewa. Ayah abis gitu bilang, “ya nggak pa-pa, tetep semangat, jalan masih panjang…”

Aku nangis. Aku cuma mau nangis, sih, nggak nyampek nangis.

Ayah nggak bermaksud ‘mengasihani’, tapi aku merasa begitu.

Padahal wajar ya, seorang Ayah menghibur anaknya yang lagi sedih? (padahal aku nggak sedih. Atas hal yang sudah kuperkirakan akan menyedihkan, kadang hati aku udah mengantisipasi untuk nggak sedih).

Tapi hati aku sakit aja dengernya.

Aku ngerasa ada nada kecewa di suara ayah. Mungkin ayah nggak kecewa, tapi aku kecewa.

Aku ngasih kata ‘nggak lolos’ ke orang-orang yang udah dengan ikhlasnya mendoakan aku supaya lolos, di setiap embusan napas mereka. Aku merasa jadi anak nggak baik.

Aku merasa aku nggak ada bedanya sama anak-anak yang suka ikut tawuran. Sering banget berontak, mempertahankan kemauan sendiri, tapi…

Yah begitulah.

Padahal aku udah sekuat tenaga untuk membayangkan ‘aku lolos tes SBMPTN 2015! Aku kuliah di Jogja kayak Ibu!’. Aku juga membayangkan masuk ke kampus UGM dengan senang hati, senang karena bisa menyenangkan orang tua.

Aku pribadi udah capek untuk sekolah, tapi orang tua ingin yang terbaik buat anak-anaknya, dan pasti anak harus percaya orang tua. Aku terlalu sering berontak, jadi aku pengen, sekali-sekali aku buat senyuman di wajah mereka.

Dan yang aku kasihkan ke mereka apa?

‘aku nggak lolos.’

Abis gitu, sambungan telpon terputus.

Pulsanya Ayah abis. Ibu telpon Ayah. Kata Ayah, Ayah belum bisa ngomong sama aku.

Ini Ayah sedih apa kecewa?

“Keep strong and stay determined. You are capable of overcoming the challenge.”
Lailah Gifty Akita, Think Great: Be Great: Beautiful Quotes

Makanya aku pingin terus nyoba, sebisaku, sesuai kemampuan aku… aku pengen buat mereka senyum bangga karena aku… suatu saat aku pengen mereka bisa bilang dengan wajah penuh senyuman,

“Anakku sarjana UGM.”

Aku pengen terus nyoba… aku pengen terus berusaha dengan caraku sendiri… aku jatuh sendirian, aku juga bisa memperkuat diri sendirian, bukan karena sombong…

Tapi aku ya aku.

Support selalu aku butuhkan, itu jelas… Cuma aku nggak pengen orang ikut merasakan ‘sakitnya’ aku waktu aku jatuh. Karena sakit yang aku rasakan, pastinya, akibat dari apa yang aku lakukan di masa lalu. Aku Cuma pengen support orang-orang saat aku bangkit, jadi ketika aku berhasil lari sampai finish, orang-orang juga bisa merasakan betapa bahagianya aku. Cuma itu, nggak lebih.

.

.

Aku punya prinsip untuk nggak menyesali apa yang aku lakukan atau apa yang aku pilih di masa lalu. Semua itu cuma buat kita nggak berpaling dari masa lalu. Jalan untuk masa depan jadi terhambat. Seandainya begini… seandainya begini…

Kadang kan, kita sudah berpikiran seperti itu. Misal, aku pengen beli martabak sama terang bulan. Uangnya cuma cukup buat beli salah satu makanan. Awalnya mikir ‘beli martabak aja lah..’ tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya beli terang bulan. Ternyata terang bulannya gak enak.

Kita mengabaikan suara hati.

Penyesalan cuma jadi penghambat. Cara menghadapi kegagalan itu, ya cari jalan keluar, bukan meratapi.

Kadang aku udah punya pikiran untuk terus berjalan, dengan caraku pastinya. Tapi omongan orang lain kadang bikin penyesalan muncul lagi, muncul lagi…

Kalo itu terjadi, aku nggak bisa lari.

Aku nggak bisa ngasih piala kemenangan buat orang-orang yang sudah mengamini setiap harapanku buat ke UGM.

.

.

Mungkin aku mengecewakan banyak orang, tak dapat dipungkiri aku juga mengecewakan aku sendiri. Aku nggak tahu seberapa dalam sakitnya hati ini (bukan sakit karena nggak lolos SNMPTN, tapi sakit karena rasa kecewa itu sendiri), tapi yang pasti aku bakal bangkit.

Mulai besok sampai nanti, aku bakal terus lari.

Memberikan piala yang jadi simbol kemenangan kalian… yang bantu aku bangkit.

Bantu aku untuk tetap kuat ya… =)

One thought on “[C’est La Vie] Try Again

  1. Halo, sasa
    Salam kenal ya, aku risma 92 line, domisili di Jogja😀
    Baca cerita kamu ini jadi ngingetin aku, sama perjuanganku 5 tahun lalu sebelum masuk PTN favoritku
    Pas jamanku dulu sih namanya SNMPTN itu yg tulis (klo sekarang jd SBMPTN), trus yg pakai nilai rapor ada sendiri namanya (tapi lupa hehe)
    Sejak awal aku ngincer di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), jurusan Pendidikan Teknik Informatika, aku coba dari seleksi awal yang pake nilai rapor (nggak lolos, hiks), trus ikutan yg SNMPTN (ujian tulis serentak nasional, nggak lolos juga, hiks), akhirnya ikut yang seleksi mandiri dari kampus itu sendiri (baru lolos, alhamdulillah)
    Sekarang aku masih nyelesain skripsi (mudah2an aja tahun ini bisa selesai, amin *mohon doanya* eh, curcol😄 )

    Kalau aku menurut pengalamanku, memang yang penting ortu kasih restu, tapi lebih prioritas di minat kita sendiri, karena nantinya kita akan lebih menikmati dengan studi yang kita ambil
    Toh kalaupun ortu kasih restu, tapi kita sendiri nggak minat, nanti susah sendiri waktu kuliah

    Bener kata ortu kamu kalau harus fokus dalam mengejar impian (jangan kayak aku, harusnya bisa kelar 2014 kemarin, tapi karena keasyikan belajar desain di luar materi kuliah jadi lupa waktu *gubrak*)^^’
    Kadang terselip juga rasa nyesel, lihat temen2ku udah pada selesai, aku malah belum, tapi ya mau gimana lagi, udah terlanjur dan sekarang waktunya ngejar ketertinggalan😀
    Di sisi lain, kemampuanku dalam desain jadi meningkat karena terus berlatih (setidaknya kan masih ada kaitan sama jurusan yang aku ambil waktu kuliah, hehe), bahkan hobi menulis dari SMP yang sempat berhenti jadi balik lagi dan menurutku masih bisa dijadikan kerjaan sampingan kan?😀
    Selama 1 tahun aku lebih fokus ke hobi, akhirnya malah dapat gambaran berbagai pekerjaan yang nantinya bisa aku ambil (sebelumnya hanya terlalu fokus pada guru / dosen dsb)^^’

    Intinya akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang kita alami🙂

    Jangan pernah menyerah untuk mengejar impian kamu, khususnya jurusan yang kamu incar itu🙂
    Semoga sukses ya, semangat😉❤

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s