Wait for You


wait for you

“No matter what I have to do, I’ll wait for you”

Lee Jieun | Mino’s Winner

Jieun berdiri cukup lama setelah membukakan pintu bagi seorang yang membunyikan bel rumahnya. Mino yang berdiri di depannya—satu-satunya kandidat si pembuat suasana gaduh—tak mengucapkan satu katapun, lantas berjalan santai memasuki rumah Jieun, seolah dia juga pemilik rumah kayu itu. Pandangannya menelisik setiap sudut ruangan sambil tersenyum.

“Mau apa?”

Pertanyaan ketus itu tak dijawab. Yang ditanyai malah membuka kotak kayu yang dia dekap dari rumah, lalu meletakkan masing-masing barang sesuai tempatnya—yang masih begitu kuat di ingatannya.

Sapu terbang lipat yang pernah dia belikan untuk Jieun dia letakkan di sudut dapur. Jam saku yang dia belikan tepat di hari jadi mereka dia taruh di saku jas Jieun yang tergantung di dinding…

“Mino… hentikan.” Jieun menggenggam lengan kekar lelaki itu saat hendak meletakkan sepasang sepatu yang terbuat dari kulit rusa ke rak sepatu dekat pintu masuk.

Mino terdiam sesaat, lalu menggenggam tangan Jieun sambil tersenyum. Dia masih tak acuh pada ucapan Jieun dan memilih untuk mengembalikan barang-barang yang tersisa di kotaknya.

Bedanya, kali ini dia mengatakan sesuatu yang sudah dia rencanakan dari rumah.

“Aku tidak bisa menerima caramu mengatakan perpisahan kemarin.” Kali ini dia meletakkan satu lukisan cat air yang menggambarkan seorang gadis di bawah pohon ceri yang tengah tertidur pulas di meja ruang tamu. Hadiah darinya untuk ulang tahun Jieun di tahun sebelumnya.

“Kamu tiba-tiba berdiri di depan rumah sambil membawa kotak jelek berisi benda-benda yang pernah kuberikan padamu.” Kemudian Mino memakaikan jaket wol pada Jieun. Yang kini tersisa di dalam kotak itu hanya cincin dari ilalang. Mino yang membuatnya saat Jieun resmi berumur 21 tahun, batasan umur di desa mereka ketika para gadis boleh menjalin cinta.

“Lalu bilang selamat tinggal. Dasar.” Mino berusaha memakaikan cincin itu kembali ke jari manis Jieun, tapi kepalan tangan Jieun terlalu erat. Saat Mino menatapnya, dia memalingkan wajahnya.

“Mino… sudahlah…”

“Bisakah aku minta satu malam?” Mino kembali menggenggam tangan Jieun. Jieun menghela napas.

“Hanya satu malam.” Mino menekankan. “Lalu aku akan pergi.”

.

.

.

Ujung-ujungnya, Jieun menyanggupi permintaan Mino. Sekeras apapun Jieun berusaha, Mino tetap bersikeras untuk tinggal semalam di rumah Jieun. Entah apa yang Mino rencanakan untuknya.

“Terima kasih…” ucap Mino sambil mencium kening Jieun yang kini berbaring dalam dekapannya. Bukan keinginan Jieun tentunya. Mino yang memaksa Jieun untuk berbaring di ranjang yang sama. Tak ada maksud lain tentunya.

Cuma ingin berdua.

“Bukan apa-apa.” Jieun berusaha mencari posisi yang tepat, tapi Mino memaksa tangan Jieun untuk melingkar di pinggangnya. Merasa risih, dia merapatkan sweater rajutnya.

“Tak seperti yang kamu pikirkan, kok.”

Jieun hanya mengangguk. Baru seminggu dia berpisah dengan Mino, tapi tak dapat dia pungkiri, dia merindukan kehadiran Mino.

Mino mempererat dekapannya, mencari kehangatan yang begitu dia rindukan. Sayangnya, dia tak berhasil menemukannya. Padahal dia yakin sekali, dia akan mendapatkan kehangatan yang sama setelah bertemu Jieun.

“Seminggu ini, kamu bisa hidup?”

Jieun diam sesaat. Lalu mengangguk.

“Aku tidak,” kata Mino. Dia tersenyum kecil, menyadari betapa rapuhnya dia soal cinta. Soal Jieun. “Setiap pagi, aku duduk di teras rumah sambil membayangkan kamu datang dengan ranjang penuh makanan. Setiap siang aku menyirami bunga dan biasanya ada bayangan kemunculanmu di antara ilalang yang meninggi di halaman tak berpenghuni samping rumah. Waktu malam, aku menunggumu datang, lalu menghabiskan malam bersama, seperti sekarang.”

Jieun masih diam. Bingung harus berkata apa. Dia enggan mengakuinya, tapi kadang dia juga merasakan apa yang Mino rasakan. Jieun berusaha mencari jawaban yang bisa menunjukkan bahwa dia baik-baik saja tanpa Mino, tapi dia akhirnya menyerah. Dia ingat, dia benci kebohongan.

Jieun sendiri juga tak tahu, kenapa dia ingin berpisah dengan Mino.

Dia sadar dia terlalu rumit.

“Kenapa?” Mino kembali bertanya. Tanpa ada kata lain, Jieun sudah tahu maksud Mino.

“Panjang ceritanya.” Pada akhirnya Jieun berbohong. Bukan keinginannya menjawab dengan dua kata itu, tapi dia tak tahu kenapa bibir dan hatinya tak sejalan.

“Makanya, aku minta satu malam. Supaya sepanjang apapun alasannya, aku bisa mendengarkannya.”

Jieun kembali diam.

“Aku membosankan, ya?”

Jieun menggeleng.

“Aku miskin?”

“Sudah berapa kali aku bilang, aku menyayangi Mino, bukan mencari harta Mino?”

“Ah, iya,” Mino tersenyum mengingat momen-momen indah di masa lalu. “Lalu apa?”

Jieun kembali menggeleng. “Kamu tak akan mengerti.”

Karena aku sendiri tak mengerti.

“Aku bodoh?”

“Kalau lelaki yang selalu iseng memprediksikan pergerakan benda langit hanya dengan hitungan angka luar kepala bisa dikategorikan bodoh, maka kali ini jawabannya iya.”

Mino tidak tertawa atas jawaban sarkastik itu. Dia masih sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang berusaha Jieun sembunyikan darinya, hanya karena Jieun takut dirinya terluka.

“Aku jahat padamu?”

Jieun menggeleng. “Kamu lelaki terbaik yang pernah kutemui. Bahkan lebih baik dari Ayahku.”
Mino teringat sesuatu. “Ah, masalah restu?”

“Mungkin.” Tanpa Jieun sadari, dia merapatkan tubuhnya dalam dekapan Mino. Entah mengapa angin malam begitu dingin baginya. “Ibu selalu membiarkanku memilih, tapi Ayah selalu meributkan asal-usul calon menantunya. Kakakku saja masih lajang di umurnya yang ke tiga puluh tahun.”

Kini Mino diam. Asal-usulnya yang sepertinya jadi masalah.

Mau bagaimana lagi? Acapkali bertemu Ayah Jieun dan ditanyai masalah keluarga, dalih Mino hanya satu; dia tak ingat apapun soal keluarga karena jatuh dari kereta angkasa saat umurnya belum genap lima belas tahun. Dan hanya trauma itu yang tersisa dari ingatannya.

Dan Ayah Jieun tak percaya. Mino? Anak gubuk pemilik ladang gersang, pernah naik kereta angkasa? Kereta yang dikhususkan untuk mengangkut manusia-manusia pilihan leluhur untuk tinggal di Nirvana?!

“Tapi, bukan itu juga.” Jieun kembali berucap. “Kamu dan aku sangat benci cerita yang begitu klise ‘kan?”

Mino mengangguk. Satu kemungkinan kembali melintas di benaknya. “Kamu tidak sakit parah kan?”

“Sepertinya kamu sudah terkontaminasi Opera Sabun yang akhir-akhir ini marak sekali. Ucapan adalah doa, bodoh.”

Mino tersenyum. “Karena perjodohan?”

“Bukan. Ayah memang sudah mengenalkan beberapa lelaki pilihannya. Tapi kutolak semua.”
Lama-kelamaan Mino jengkel. “Lalu apa?”

Jieun mengangkat pandangannya. Matanya bertemu dengan mata Mino. Dengan jarak kurang dari lima senti, mereka berusaha menerka apa yang ada di dalam benak orang di dekapan mereka.

Alasan perpisahan selalu berat untuk diucapkan lewat bibir, selalu membuat dada sesak walau hanya memikirkannya…

Juga selalu membuat mata berkaca-kaca.

“Kamu tahu, Mino, di dunia ini selalu ada hal yang tak beralasan. Membenci seseorang tanpa alasan, menyukai orang tanpa alasan. Pertemuan dan perpisahan tanpa alasan. Hidup sudah rumit, Mino. Kamu tak perlu mempersulit hidup dengan membuang waktumu Cuma untuk mencari sebuah alasan.”

“Kamu tidak mencintaiku lagi?” Mino mengabaikan ucapan Jieun.

“Kalau jawaban iya bisa membuatmu berhenti berceloteh, aku akan jawab iya.”

“Kalau begitu adanya, aku akan menunggu sampai cinta itu datang lagi padamu.”

“Kamu buang-buang waktu.”

.

.

.

Mino berdiri sambil menyandarkan punggungnya di pohon dekat rel kereta angkasa, menunggu kehadiran Jieun yang dia sendiri tahu kepastiannya. Mino memang meninggalkan pesan pada Jieun soal kepergiannya di dekat bantal, di dalam salah satu sepatu Jieun, di meja dapur… yang pasti di berbagai tempat yang pasti diketahui Jieun. Tapi Mino sendiri tak yakin, Jieun membacanya atau memilih membuangnya.

Padahal kamu sudah mengorbankan hidupmu untuk tinggal di Nirvana, begitu omel leluhur Mino yang masih terpatri dalam benaknya. Pandangan matanya menerawang ke langit. Dia masih was-was akan kedatangan kereta yang dulu sering dia naiki.

Perlahan ingatannya kembali.

Dia terjatuh karena seseorang yang harusnya menaiki kereta api—yang membawa para manusia ke neraka—malah menyelundup ke dalam kereta angkasa, membuat kerusakan parah pada mesinnya.

Kemudian Jieun menolongnya. Dia terpesona pada kebaikan Jieun, enggan tinggal di Nirvana.

Sebagai gantinya, para leluhur menghapus ingatannya tentang keluarganya.

Akhirnya kereta angkasa berhenti di depannya. Beberapa orang memasuki kereta dengan wajah berseri, seolah di Nirvanalah kebahagiaan yang hakiki tak sekadar mimpi. Mereka disambut leluhur mereka dengan hangat. Beda dengan Mino yang masih diam di tempat. Was-was. Leluhurnya berdecak, lantas berjalan menghampirinya.

“Kamu buang-buang waktu.”

Mino tertegun.

“Kamu buang-buang waktu.”

“Tak pernah ada waktu yang terbuang percuma jika berkaitan dengan kesetiaan.”

“Mino… aku yakin kamu bisa menjalani hidup dengan baik tanpaku. Bahkan lebih baik.”

“Kalau aku bilang aku akan menunggu, maka aku akan menunggu. Anggap itu janjiku.”

“Ayo, nak…”

Mino menatap pandangan teduh wanita tua di depannya. Kasih sayang yang begitu dalam begitu menghangatkan Mino, seperti menyalurkan sedikit kekuatan bagi Mino. Mino tersenyum, lalu mencium tangan leluhurnya cukup lama.

“Maaf, Nyonya.”

Wanita tua itu mengernyit. “Sudah setahun kamu menunggu gadis itu di sini, dan kamu masih ingin menunggunya?”

Mino hanya memberikan senyuman sebagai jawaban.

Saat kereta angkasa pergi kala senja, Mino mendapati dirinya kembali sendiri duduk di bawah pohon ceri.

Masih menunggu Jieun.

Baby, I will wait for you
If you think I’m fine it just ain’t true
I really need you in my life
No matter what I have to do, I’ll wait for you
i’ll be waiting

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s