Auld Lang Syne


AULD LANG SYNE

9muses’s Hyuna | Boyfriend’s Donghyun

Sasphire © 2014

Masih ditemani iringan saxophone yang memuakkan, Hyuna meneguk vodka untuk ketiga kalinya. Dia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya, lalu menggerakkan kepalanya mengikuti alunan Auld Lang Syne. Beberapa saat menatap sang pemain saxophone yang menghayati, lalu memejamkan mata. Berusaha menikmati alunan lagu yang sudah disuguhkan secara gratis di bar langganannya.

Masih jam 9. Masih butuh ribuan detik untuk menyambut tahun baru.

Hyuna tersenyum kecil, menyadari kebodohannya. Dia terlalu rajin menanti tahun baru. Lebih tepatnya tak sabar.

Atau mungkin melarikan diri dari kesedihan yang berlarut?

Ada kemungkinan kalau dia hanya mengenang masa lalu yang terlampau indah.

Dia menggerak-gerakkan kepalanya, sesuai alunan. Persis seperti yang ada di dalam kenangannya.

“Teman yang baik tak mempengaruhi temannya untuk melakukan hal buruk.”

Suara yang sangat dia rindukan kembali terdengar gemanya di setiap ruang telinganya. Hyuna mengangguk, lalu menenggak lagi vodkanya. Dia mengernyit sesaat, lalu kembali mengusap bibirnya. Dia tahu dia kembali mengkhayal. Si pemilik suara tak ada di sampingnya.

“Teman yang baik pasti membiarkan temannya melakukan hal-hal yang diinginkan.”

“Yeah…” Hyuna meneguk kembali vodkanya.

“Ralat. Kadang teman yang baik menasihati temannya untuk tak berbuat buruk. Tapi tak ada kesan menggurui.”

“Maka kamu bukan teman yang baik.”

Hyuna menelungkupkan wajahnya ke meja bar. Perlahan air matanya mengalir, menangisi imajinya yang terlalu kuat saat itu. Imaji yang muncul karena rasa rindu yang terlalu dalam pada seorang lelaki. Membuatnya hampir gila.

“Nona…”

Hyuna mengangkat wajahnya gusar, penasaran pada sosok yang mengganggu kegiatannya meratapi nasib. Bahkan dia tak sadar make up-nya luntur karena air mata yang mengalir, kurang lebih dua jam sejak dia duduk di sana.

Bartender berdasi kupu-kupu di depannya berdehem, lalu menyerahkan bill. Secara tak langsung mengusir Hyuna.

“Di mana kesopanan seorang bartender, huh?”

“Maaf, Nona. Tapi bar kami….”

“Kalau kamu bilang bar ini akan tutup, aku tak percaya ucapanmu!!” Hyuna membanting beberapa lembar uang ke atas meja. Dia tertawa sinis.

“Tapi, Nona…”

“Kamu cuma muak karena aku tak pergi-pergi, iya ‘kan? Mengaku sajalah!!” Hyuna menatap tajam si bartender, lalu menunjuk-nunjuk jidat si bartender. “Aku sudah hapal, bahwa bar ini tak pernah tutup pada pukul sembilan malam saat malam tahun baru!!”

Hyuna kembali mengantukkan kepalanya ke meja bar, lalu memberikan isyarat pada si bartender untuk pergi dengan menggerakkan tangan kanannya.

“TIdak baik bagi wanita untuk minum alkohol terlalu banyak…”

“Huh!!” Hyuna menjitak kepala si bartender gemas. “Pelanggan adalah raja. Kamu tak tahu prinsip itu, huh??!! Mana manajermu?! Apa saja kerjaannya hingga tak tahu kalau salah satu bartendernya sama sekali tak memiliki….”

“Sudahlah, Hyuna… Pulanglah…”

Hyuna mendesis.

Imajinya semakin menguasai pikirannya, membuatnya kesal. Dia duduk tegap, mengeluarkan beberapa lembar uang lagi, bermaksud membeli beberapa botol soju untuk diminum di rumah.

Ritual tahun baru, gagal terlaksana.

.

.

.

Seperti biasanya, langkahnya sempoyongan. Tangan kirinya penuh dengan tas kertas berisi beberapa botol soju, sementara tangan kanannya memegang erat Bourbon yang tinggal setengah. Di sela cegukannya, dia kembali menegak bourbon, lalu terus berjalan.

Pukul sepuluh kurang lima belas menit, dan dia berjalan layaknya zombie. Orang-orang melihatnya dengan berbagai macam tatapan, tapi dia tak tahu dan tak mau tahu.

Yang penting Auld Lang Syne masih menggema di telinganya tanpa dia harus berada di bar langganannya. Imaji yang kuat berhasil membangkitkan ingatan akan kata demi kata yang tersusun dalam lagu itu. Yang selalu pudar dari ingatan Hyuna begitu tahun berganti.

Yang penting ritualnya untuk selalu mendengar—atau menyanyikan—Auld Lang Syne masih terus berjalan.

“Akan menyedihkan kalau aku dan kamu bersama.”

Hyuna mendesis. Bourbon kembali diteguknya, berusaha menghilangkan ingatan masa buruknya dengan imaji yang lebih baik.

“Karena di antara kita bukanlah cinta.”

Hyuna semakin sempoyongan. Begitu akan meneguk Bourbonnya, dia terjatuh di pinggir jalan. Di tepi jembatan. Orang-orang yang hendak merayakan tahun baru berlarian menghampirinya, menanyakan kondisinya seperti yang biasa orang-orang baik lakukan.

Tapi Hyuna bukan orang baik yang mau mengerti itu.

“Pergi!! Pergi!! Rayakan tahun baru sana!! Jangan acuhkan aku!! Terus bersenang-senang sana!!”

Beberapa orang pergi, tapi beberapa orang yang iba masih memandanginya.

“Aku tak butuh belas kasihan!! Pergi!!” Teriaknya lagi.

Dia ingin bangkit, tapi baru saja membungkukkan badan untuk berdiri, dia kembali jatuh.

Dia terlalu mabuk.

“Pergi!! Pergi!!”

Kepala Hyuna tersandar di dinding. Dia menghela napas keras, berusaha menenangkan pikiran.

“Tapi, kalau kamu dan aku memang ditakdirkan untuk bersama, maka suatu hari nanti aku akan kembali padamu. Bagaimanapun caranya.”

“Kuno. Klise.” Hyuna tertawa sinis. Perlahan dia menangis.

Membohongi diri sendiri itu sulit. Hyuna baru menyadarinya. Sudah berkali-kali dia meminum alkohol dan mencoba berbagai macam jenisnya hanya untuk melarikan pikirannya dari hal-hal nyata di masa lalu, berusaha menggantinya dengan imaji-imaji yang dia harapkan terjadi di dunia nyata. Di hari esok.

Dia terlalu percaya diri. Dia menganggap dia wanita independen yang bisa hidup tanpa lelaki yang dicintainya.

Tapi…

Berkali-kali dia pergi ke bar, berharap lelakinya akan datang menjemputnya, membopongnya sampai ke rumah, lalu menemaninya tidur dalam dekapan hangat si lelaki sampai terlelap.

Sudah tiga kali dia merayakan malam tahun baru di Bar, mendengarkan instrument Auld Lang Syne, berharap lelaki yang pernah memainkan saxophone untuknya dengan lagu yang sama datang. Mendengarkan lantunan melodi Auld Lang Syne bersama-sama, lalu setelah lagu itu berakhir, lelaki itu membujuknya pulang, membopongnya sampai ke rumah… dan seterusnya. Seperti biasa.

Dan alkohol-alkohol yang telah merusak pikirannya membuat Hyuna berpikir sebaliknya. Dia pergi ke Bar untuk merayakan kebebasannya dari si lelaki. Dia mendengarkan Auld Lang Syne sampai bosan karena dia sama seperti lagu itu yang—menurutnya—siap menatap hari baru dan melupakan hari-hari yang telah lalu.

Rasa rindu mampu membuat dia gila.

“Hyuna…”

Hyuna menoleh ke arah suara. Padahal dia yakin suara yang dia dengar berasal dari dalam ingatannya, tapi entah mengapa dia merasa suara itu berasal dari arah lain.

Di depannya.

“Kenapa kamu jadi menyedihkan begini?”

Hyuna menggerakkan tubuhnya dan duduk bersila. Dia mengamati sesosok lelaki di depannya.

“Wah… Baru kali ini bayanganku terasa nyata. Apa aku salah minum?” diiringi cegukan, dia mengangkat botol alkoholnya tinggi-tinggi, berusaha keras membaca huruf-huruf besar yang tertera di botol.

“Bourbon,” desisnya. “Biasanya aku minum vodka.”

Hyuna kembali menatap lelaki di depannya. “Wah… Aku pikir semua alkohol sama… ternyata beda.”

Lelaki di depannya menganga. Sama sekali tak habis pikir bahwa Hyuna berubah sama sekali setelah lama tak berjumpa. Hyuna yang lekat di pikirannya masihlah Hyuna yang manis. Hyuna yang penuh pengertian. Hyuna yang penuh kasih sayang.

Hyuna yang menganggapnya lebih dari teman.

Tangan dingin Hyuna menyentuh wajahnya, membuat angan-angan indah tentang masa lalu memudar. Hyuna tersenyum.

“Wah, bayangannya juga tiga dimensi.”

“Hyuna… ini aku, Donghyun.”

“Wah… bayangannya juga bisa bicara.”

Donghyun berdecak kecil. Dia melepas satu dari tiga jaket yang dia kenakan untuk Hyuna. Bagaimana bisa seorang wanita hanya memakai kaos raglan dan celana jeans di suasana sedingin itu?

“Wah…” Hyuna masih mengagumi apa yang dia anggap imaji. “Bahkan dia bisa bergerak.”

Hyuna menepuk-nepuk wajah Donghyun, lalu menamparnya.

“Hyuna!”

“Wah…” Hyuna bertepuk tangan. Seperti mendapatkan kekuatan, dia berdiri sendiri—meskipun masih sempoyongan—lalu berlari dan menari di tengah kerumunan. Jaket lelaki itu terjatuh begitu saja ke tanah. “Aku harus sering-sering minum Bourbon.”

“Aku menampar si brengsek…. Aku menampar si brengsek…” Hyuna bernyanyi tak henti-henti, merayakan kesenangannya yang tak terkira, sementara lelaki itu menatap Hyuna dari kejauhan dengan tatapan mata bermakna ganjil.

Malam semakin larut, dan lantunan Auld Lang Syne masih terdengar nyaring mengiringi malam pergantian tahun.

END

Okey…. kalian-kalian yang baca…. maaf ya kalo kesannya cerita ini maksa. iya emang maksa… soalnya setiap kali aku punya target buat ngarang, selalu gak ada ide -_-” makanya aku selalu berusaha untuk gak kena writer’s block. dan sekalinya nemu ide… jadinya malah kayak gini… T_T

dan fic ini adalah dic tahun baru… =) makasih buat yang baca.. dan jangan lupa tinggalkan jejak ^_^

dan doakan semoga aku bisa masuk ke PTN yang aku inginkan ya…. makasih ^_^

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s