[QuizFic] Just Say Goodbye


credit picture to owner

P.S : can you join the quiz at the end of the story?😉 tapi jangan baca ini cuma karena pengen jawab kuis lho ya…

sasphire ©2014

—-

Gadis rambut sebahu itu melambaikan tangan pada Minhyun. Senyum simpul terlihat di wajahnya, dan semakin lama semakin samar karena dia terus berjalan mundur. Minhyun awalnya ragu, lalu akhirnya membalas lambaian tangannya, lengkap dengan senyum simpul. Saat gadis itu membalikkan badan, Minhyun turut membalikkan badan. Masih terngiang akan ucapan gadis itu sebelum lambaian tangan tertangkap mata.

“Selamat malam,” begitu ucapnya.

Sama persis seperti malam-malam sebelumnya, kalau diingat lagi. Tapi Minhyun merasakan sedikit perbedaan di dalamnya, meskipun nada pengucapannya tak berbeda.

Bedanya, sepuluh menit sebelumnya, mereka jalan-jalan santai sambil menikmati dinginnya salju. Minhyun mendekap hangat gadis itu, tapi gadis itu tak membalas dekapannya. Hanya diam. Setiap ucapan yang Minhyun ungkapkan hanya dibalas dengan senyuman—bahkan hanya membentuk lengkungan kecil yang samar, tak Nampak seperti senyuman.

Gadis itu sama dinginnya dengan musim dingin, tapi kala itu lain.

Dua puluh menit sebelumnya, Minhyun menjemput gadis itu. Gadis itu tersenyum dengan pakaian rapi, seolah memang menantikan kehadiran Minhyun, lalu berkencan setiap Jumat malam seperti biasanya.

Dan Minhyun melihat banyak origami burung di meja tamu.

“Buat apa?” Tanya Minhyun. Gadis itu hanya tersenyum dan mengajaknya pergi.

Melewati jembatan, berjalan di tepi trotoar, mampir sebentar di café. Biasanya Minhyun yang menentukan rute jalan-jalan Jumat malam mereka, tapi khusus hari ini, gadis itu yang merancangnya. Dan Minhyun setuju.

Lalu Minhyun ingat, tiga puluh menit sebelumnya, gadis itu menelponnya, bermaksud mengingatkan Jumat malam mereka yang sudah menjadi rutinitas sejak setahun sebelumnya, sambil menyelipkan satu kalimat…

“Jumat malam sekarang akan menjadi berbeda, Minhyun…”

Memang berbeda, Minhyun menyadari. Jumat malam kali ini cuma berjalan dua puluh menit, lebih pendek daripada Jumat malam sebelum-sebelumnya. Awalnya satu jam, lalu lama-kelamaan berkurang sedikit berjalannya waktu.

Minhyun menghela napas, lalu merogoh handphone di saku jasnya.

“Halo,” ucap Minhyun mengawali percakapan sambil terus berjalan.

“Halo…” terdengar suara bergetar di ujung telepon. “Kenapa, Minhyun? Sudah merindukanku?”

“Iya.”

Jawaban singkat yang terdengar dingin itu membuat si gadis diam. Bingung berucap apa.

“Kamu sudah bosan, ya?”

“Apa maksudmu, Minhyun? Karena durasi kencan yang berkurang? Ayolah, aku cuma ingin segera menyelesaikan tugas-tugas sekolah… lalu…”

“Kalau benar-benar ingin berpisah, harusnya diungkapkan saja.” Minhyun menyembunyikan kepalan tangannya di saku kiri jasnya. Uapan napasnya terlihat, tanda bahwa dia mengembuskan napas sebelum melanjutkan, “Kamu pikir aku tak ingin berpisah denganmu?”

“Minhyun, maksudku bukan…”

“Wah, aku jadi merasa dihina,” Minhyun menertawakan diri sendiri. “Kamu takut aku terluka, benar ‘kan? Makanya kamu berbuat buruk terus-menerus, mengacuhkan aku, jadi saat nanti aku bosan, aku yang memutuskanmu. Benar?”

Gadis itu diam.

“Kamu yang tersiksa. Karena seberapa besar usahamu mengacuhkan aku, kalau kamu tidak terus terang mengucapkan tujuanmu, ya sudah. Aku akan terus berada di sampingmu.”

Terdengar sedikit isak tangis. Minhyun tak menganggap ucapannya kejam. Dia hanya ingin kejelasan.

Dia terus melangkah maju meskipun beberapa detik berjalan, gadis di ujung telepon tak berucap apapun.

“Maka, kalau benar-benar ingin berpisah. Ucapkan saja. Kamu tak akan tersiksa.”

Isak tangis di ujung telepon semakin terdengar jelas. Minhyun hanya menghela napas.

“Aku sendiri tak tahu, Minhyun,” akhirnya gadis itu berucap.

Minhyun tertawa kecil. “Kamu suka sekali menyusahkan diri sendiri, sih? Apa susahnya mengucapkan kata-kata ‘itu’?”

“Kamu sendiri kesulitan mengucapkannya.”

“Siapa bilang?”

“Barusan kamu tak mengucapkan-nya secara gamblang.”

“Karena aku tak menginginkannya, bodoh,” Minhyun sedikit tak sabar. “Kamu yang menginginkannya.”

Kali ini si gadis yang tertawa sinis.

“Aku membosankan, ya?”

Tak ada jawaban dari si gadis.

“Kamu tinggal jawab ya atau tidak.”

“Bukan itu masalahnya.” Si gadis mengucapkannya dengan berat hati.

“Lalu?”

Si gadis masih dilanda keraguan. Terlalu banyak hal yang mengganggu perasaannya, dan dia tak tahu apa. Dia sendiri enggan mencari tahu.

“Kamu tak memiliki salah apa-apa, Minhyun.”

“Hanya bosan, kan?” sergah Minhyun, bermaksud membuat si gadis segera menyatakan masalah hatinya. Minhyun sendiri sadar, dia bukan kekasih yang benar-benar diinginkan si gadis, walau hubungan mereka berjalan baik-baik saja setahun ini.

Hanya saja, mereka sepertinya tak cocok.

“Kamu cukup pengertian, Minhyun…”

“Sayang, bukan masalah pengertian atau tidak. Bosan atau tidak,” Minhyun menekankan. Lama-lama kesal pada sikap si gadis yang sangat enggan membuatnya sakit hati. Ya, kehidupan memang selalu ada rasa sakit, kan?

“Kamu orang yang baik…”

“Sayang… ucapkan saja apa yang kamu mau. Langsung. Tak perlu bertele-tele…”

Minhyun tak ingin hubungan mereka berakhir, sejujurnya. Tapi dia juga tak ingin si gadis yang dia sayangi harus tersiksa oleh perasaan tak teganya.

“Aku tak sepadan denganmu. Iya?” Akhirnya Minhyun mengungkapkan apa yang dia pendam selama ini, sejak dia mengajak si gadis bermain ke rumahnya beberapa waktu lalu. Saat dia tahu pandangan jijik si gadis terhadap rumahnya yang berada di kompleks perumahan kumuh.

“Minhyun…”

Minhyun tersenyum kecil. “Makanya, kamu berjalan ke Timur tadi sambil membelakangiku, secara tak langsung menyuruhku berjalan ke Barat.”

“Bukan begitu…”

“Tak apa, Sayang. Aku sudah terbiasa dihina, kok. Direndahkan apalagi.”

“Maaf…”

“Tapi, terima kasih, sudah mau jadi kekasihku.”

“Minhyun… aku benar-benar minta maaf.”

“Kenapa?” Minhyun tertawa kecil. “Kamu takut aku terluka? Tak akan.”

Beberapa detik kemudian, setelah Minhyun menguatkan hatinya, ia mengambil keputusan yang menurutnya sangat diinginkan si gadis.

“Selamat tinggal.”

Minhyun menutup sambungan telepon tanpa menunggu ucapan si gadis lagi. Dia terus berjalan lurus dan berkali-kali menghirup udara, berusaha menegarkan hatinya.

Semua akan sama saja. Berjalan normal.

Minhyun yakin itu.

FIN

oh… yeah… Sasphire in the house broo.. wooo xD yeah… kapan terakhir kali aku publish fanfic? ehm… lama mungkin… yeah… baiklah… gak usah banyak bicara deh ya,

gimana kalo kalian ikuti kuis di bawah ini, sekedar pengen tahu apresiasi kalian tentang fic ini :3 dan fic ini bukan riddle lho ya, soalnya jawabannya gak pasti… jawabannya berdasarkan apresiasi kalian soal fic ini😉

oke check this out!

  1. Apa yang membuat Minhyun sadar kalo si gadis pengen putus, di Jumat malam itu?
  2. menurut kalian, perwatakan si gadis dan si Minhyun itu bagaimana? dan kalian suka perwatakannya siapa? jawab yang sejujur-jujurnya lho
  3. di fic ini, sengaja si gadis gak dikasih nama. sementara si gadis sering manggil Minhyun dengan nama, tapi Minhyun manggil si gadis dengan panggilan ‘sayang’. kira-kira apa alasannya menurut kalian?

yeah that’s it. semoga suka fic ini… oh ya.. setelah jawab kuisnya, jangan lupa komen soal review kalian ya.. thank you😉

2 thoughts on “[QuizFic] Just Say Goodbye

  1. Sebelum aku nyampah di sini, kenalin dulu ya kak, aku Ervina 99line hehe salam kenal!

    Oke Kak Sasa (ya kan ya kan /digampar gara-gara sksd) langsung aku coba jawab ya hihi

    1. Si gadis tak serta merta menjawab semua pertanyaan dan pernyataan dari si Minhyun ini. Jadi si gadis ini menyembunyikan perasaannya, gamau berbagi dan terbuka sama si Minhyun. Huahah /keplaked

    2. Persepsiku, si gadis ini lagi putus asa, terombang-ambing kehidupan, galau, sampe dia bikin banyak origami burung yang mitosnya bisa membuat keinginan jadi terwujudkan, bukan pembohong tapi ga jujur juga, trus ambisius dalam hal prestasi. Sementara si Minhyun, dia memutuskan segala sesuatu dengan egois, menginginkan semuanya agar selalu berada di sisinya. Huahah /keplaked[2]

    3. Sayang yang kebanyakan, biasanya bisa menerima seseorang dengan apa adanya. Sementara si Minhyun merasa si gadis ini tidak menerima dirinya dengan apa adanya, dari deskripsi si gadis yang memandang jijik tempat tinggal Minhyun yang berada di lingkungan kumuh. Jadi si Minhyun ini ngode pake manggil si gadis ‘sayang’, sementara si gadis tetep manggil Minhyun pake nama. Dan soal timur-barat, timur-barat itu kan sama-sama ujung dengan bedanya yang jauh pisan. Mungkin. Hehehe /keplaked[3]

    HAHAHA karena ini opini, keplak saya aja gapapa kak hihihi /keplaked[4]

    Soal review, aku ga pinter ngereview kak. Tapi kisah roman kehidupan yang kakak bawa udah bagus banget, dengan angstnya pisan. Dan pemilihan kata yang kakak pake juga pas, ngalir, termasuk percakapan antara Minhyun sama si gadis. Menurutku rada susah bikin percakapan via telepon, tapi kakak sukses! hihihi

    Trus trus, aku mau nyari typo juga ga ketemu kak, kecuali kalo “…tak Nampak…” itu n-nya kecil, trus beberapa kata sapaan, sama percakapan langsung dan tidak langsung yang diakhiri sama titik atau koma.

    Hahaha aku nyampah ya, hamdalah deh kalo Kak Sasa mau repot-repot baca komen ini:”D

    Sampai jumpa di fic lain kak!♥

  2. 1. Apa yang membuat Minhyun
    sadar kalo si gadis pengen putus,
    di Jumat malam itu?

    Durasi kencan yang lama kelamaan memendek. Dan Minhyun sadar saat si gadis berjalan ke arah berlawanan. Kemudian tatapan jijik dari si gadis saat ke rumah Minhyun yg ada di kawasan kumuh.

    2. menurut kalian, perwatakan si
    gadis dan si Minhyun itu
    bagaimana? dan kalian suka
    perwatakannya siapa? jawab
    yang sejujur-jujurnya lho

    Watak:
    Si Gadis : Kurang bisa mengungkapkan isi hatinya secara jujur.

    Minhyun: Kelewat jujur. Sebenarnya tulus.

    Kalo menurtku aku suka sifat Minhyun, walaupun sebenarnya aku agak2 kaya si gadis. Enggan bilang “gak suka” sama oranh lain, maka sering ngehindar2 gitu.

    3. di fic ini, sengaja si gadis gak
    dikasih nama. sementara si gadis
    sering manggil Minhyun dengan
    nama, tapi Minhyun manggil si
    gadis dengan panggilan ‘sayang’.
    kira-kira apa alasannya menurut
    kalian?

    Minhyun benar2 sayang sama si gadis, walau dia gak tau nama si gadis yg tidak nyata itu.

    Review: ehe…. hampir lupa.

    Hai, Sa!
    Kamu lama sekali tidak update. So Glad that you comeback! ^^

    Kamu selalu bikin fic yg “Kamu banget”
    everybody got their style, so does you!
    Fic kali ini bermain dengan waktu.
    20min before, 30min before, 1hour before, 1year before.

    Tapi entah kenapa aku merasa si gadis itu tidak nyata. kaya cuma mimpi.

    well, it’s a good fic!

    hope you write other stories soon!

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s