[Ficlet] I’ll be Fine…


I’ll be Fine

inspired by: Ladies Code – I’m Fine, Thank You

My tears are blinding me again,
in case I see you again.
Without me knowing, time has flown by.
Again, I wait for you today.

Jantung Youngji berdegup keras. Bukan karena ada orang yang dicintainya, bukan karena ada hasil tes yang dia yakin akan mendapatkan nilai jelek, juga bukan karena dia tahu dia akan mendapatkan hukuman dari gurunya.

Sekadar berdetak lebih cepat, tanpa Youngji tahu apa penyebabnya. Dia melangkahkan kakinya pelan, lalu membuka pintu rumahnya sambil berdoa, semoga tak terjadi hal yang buruk.

Tapi harapannya meluap begitu saja saat dia melihat Ayahnya–

“Oh, Youngji!!”

Berciuman bersama wanita yang kini berjalan menghampirinya, lalu memeluknya. Ayah Youngji hanya berdehem, lalu merapikan pakaiannya.

Youngji melepaskan pelukannya, lalu menatap tajam wanita di depannya.

“Ayah tidak datang saat pengambilan rapot, menitipkannya pada sekretaris Ayah, hanya untuk ini?”

“Ayah sudah bilang, suruhlah ibumu mengambilkan rapot!!”

“Tidak Ayah, Tidak Ibu, sama saja!!” Youngji berteriak lantang. Kali ini dia mengepalkan tangan kuat, isyarat kecil bahwa dia berusaha menguatkan diri dan dan tidak mengeluarkan air mata yang terlalu sering dia habiskan sejak perpisahan kedua orang tuanya.

“Youngji, mulai kapan kau…”

“Ayah kencan dengan wanita yang bisa menjadi kakakku!! Ibu menikah lagi tepat hari ini!! Kalau Ayah bertanya mulai kapan aku lancang, Ayah sendiri yang tahu jawabannya!!”

Dan satu tamparan keras mendarat di pipi Youngji. Youngji hanya memejamkan mata dan menguatkan kepalan tangannya. Bibirnya bergetar hebat, sementara Ayahnya tertawa.

“Jadi begini hasil didikan ibumu selama ini? Mengajari anak membentak pada orang tua seperti ini?!”

“Sudahlah…” wanita muda yang sejak tadi diabaikan keberadaannya kini mulai bersuaradan menggelayut di lengan Ayah Youngji. Youngji membuka mata dengan tatapan benci. “Bagaimanapun, Youngji anakmu, Sayang…”

“Bukan!!”

Tatapan mata nanar Youngji mengarah pada Ayahnya. Jantungnya berdegup lebih kencang lagi, takut Ayahnya mengatakan sesuatu yang tak ingin dia dengarkan.

“Mulai sekarang, Youngji bukan anakku lagi!! Apa untungnya aku memiliki anak seperti dirinya?”

Kali ini tangisan Youngji pecah. Dia terduduk lemas di lantai, sementara dengan gusarnya Ayah Youngji meninggalkannya sendirian. Sang wanita iba, tapi dia hanya berdiri di sana tanpa berbuat apa-apa. membela Youngji sama saja menggagalkan rencananya untuk menikah dengan Ayah Youngji.

“Pergi!!”

Bentakan itu didengar oleh Youngji setelah Ayahnya kembali beberapa saat setelahnya sambil melemparkan koper berisi pakaian Youngji. Tangisannya semakin keras, sementara Ayahnya tak ambil pusing.

“Pergilah pada Ibumu!!”

“Ayah Jahat!! Ayah Jahat!!”

I foolishly search only for you
Maybe you’ll search for me one day, too
My eyes are filled with tears as I wait for you.
And like this, another day goes by.

Youngji masih menangis sesengukan ketika keluar dari gerbang rumahnya. Dia menatap kembali gerbang rumahnya setelah beberapa langkah, lalu terbersit beberapa kenangan yang pernah dia rasakan bersama Ayah dan Ibunya. Dia tersenyum, lalu kembali melangkah. Tak tentu arah. Dia enggan menghadiri pesta pernikahan ibunya, terlebih meminta belas kasihan ibunya agar dia diizinkan tinggal bersama. Cukup sudah dia menjadi beban orang tua sejak lahir.

Bahkan pakaian-pakaian yang sudah dikemas oleh Ayah Youngji jauh-jauh hari tak dia bawa. Baju-baju itu bukan miliknya. Dia membeli baju-baju itu dari Ayahnya. Tak sepantasnya dia membawa harta Ayahnya lagi saat dia bukan lagi anak Ayahnya.

Dia menertawakan kehidupannya sendiri. Dulu dia begitu sombong, membanggakan paras cantiknya, meninggikan derajat orang tuanya yang menjadi pemimpin perusahaan paling berpengaruh di Industri Musik Korea, dan memamerkan keberadaan orang tuanya yang utuh dan harmonis.

Tapi roda kehidupan selalu berputar dan dia berada di titik nadhir sekarang.

Dia menyeberangi jalan saat lampu pejalan kaki berwarna hijau. Berbeda dengan orang-orang yang berlarian karena waktu singkat untuk menyeberang, Youngji malah melangkah gontai sambil menelpon ibunya.

“Hei… Youngji…”

Youngji kembali menitikkan air mata mendengar suara ibunya. Padahal baru tadi malam dia bertemu ibunya, makan malam berdua untuk pertama kalinya setelah sekian tahun berpisah. Tapi rasa-rasanya Youngji akan selalu merindukan suara itu, bahkan walau hanya semenit berpisah.

“Ibu…”

“Kamu tidak datang, nak? Masih sekolah?”

“Sudah pulang, Bu…” Youngji tersenyum, lantas kembali berkata, “tapi aku tidak bisa datang.”

Ibunya tertegun, seolah tahu alasan utamanya. Dia tersenyum maklum dan tak berkata apa-apa. dia ingin membiarkan Youngji mengucapkan apa yang ingin diucapkan, mengingat anaknya baru perama kali menelponnya terlebih dahulu.

“Ibu…”

“Iya, anakku?”

“Aku mencintaimu… sangat mencintaimu…”

Senyum di wajah ibu Youngji memudar, terlebih saat isakan tangis Youngji terdengar. “Ada apa Youngji?”

Tapi Youngji mengabaikan pertanyaan ibunya dan terus mengatakan kalimat yang selama ini dia pendam. “Maaf kalau selama ini Youngji selalu mengecewakan Ibu, tidak pernah mendengarkan nasihat Ibu… maaf kalau Youngji masih belum bisa membuat Ibu bangga…”

“Youngji… ada apa?”

Belum sempat Youngji menjawab, terdengar bunyi klakson mobil yang disusun decitan panjang dari gesekan roda di aspal dan…

BRAKK!!

“Youngji??!! Youngji??!!”

.

.

.

Ayah Youngji menatap layar handphone-nya cukup lama. Ada satu pesan suara di sana, dengan pertanda waktu dua jam yang lalu. Tertera nama Youngji, membuatnya malah merasa resah. Entah darimana datangnya rasa itu. Padahal sudah lama sekali dia ingin Youngji pergi dari kehidupannya. Tapi sekarang, dia tahu rasanya melepaskan Youngji ternyata menyakitkan.

“Buka saja…” ucap si wanita yang berbaring di ranjang sambil memainkan ujung selimut. “Bagaimanapun, dia anakmu.”

Dengan membesarkan hati dan berpikir semuanya akan baik-baik saja, dia memutuskan untuk mendengarkan pesan suara dari Youngji.

I cry, just for today.
I hope you’re forever happy, good bye.
It’s okay if you smile sometimes when you think of me.
I’m fine thank you, thank you.

 

Youngji duduk termenung di halaman sekolah saat melihat asisten ayahnya memasuki ruang wali murid untuk mengambilkan rapornya. Lantas dia menghubungi ayahnya, namun yang dia dengarkan berkali-kali hanyalah perintah untuk mengalihkan ke pesan suara. Biasanya Youngji berpikir untuk mengeluh pada ayahnya saat pulang, tapi kali ini dia enggan. Dia tahu ayahnya tak akan pernah datang walaupun dia merengek, seperti yang sering dia lakukan saat kecil.

Akhirnya dia mengucapkan semua yang dia inginkan saat itu. Mungkin malah tersampaikan langsung daripada menelpon atau berbicara langsung.

“Ayah… ini Youngji…”

Youngji berpikir cukup keras untuk mengungkapkan isi hatinya, membuat keheningan berlangsung beberapa menit.

“Apa Ayah kecewa pada Youngji? Apa Ayah membenci Youngji? Sudah lama sekali Youngji terakhir melihat Ayah tersenyum pada Youngji… yang Youngji tidak ingat kapan. Terlalu lama…” Youngji tertawa.

“Mau Youngji jatuh, mau Youngji tertawa, mau Youngji peringkat satu parallel… Ayah tak pernah lagi tersenyum pada Youngji. Dulu Youngji pikir, Ayah marah pada Youngji karena nilai Youngji banyak yang turun. Makanya Youngji berusaha lebih keras lagi. Biasanya Youngji hanya juara satu di kelas, akhirnya jadi juara parallel. Tapi Ayah tetap tak menganggap Youngji ada.”

“Youngji sakit, Ayah biarkan. Ayah menyerahkan semuanya pada Bibi Kim. Kalau Ayah benar-benar marah, Ayah selalu menyebut nama ibu, dan bilang bahwa Youngji sama saja seperti ibu. Parasit.”

Youngji menggigit bibirnya, berusaha menguatkan hati sampai dia selesai berbicara.

“Meski begitu, Ayah tak pernah mengusir Youngji. Ayah masih menyayangi Youngji, kan?” Youngji tertawa, padahal dia tahu pasti Ayahnya sama sekali tidak seperti yang dia kira.

“Maka dari itu, Youngji ingin terus bersama Ayah. Youngji yakin, suatu saat nanti, Ayah bisa tersenyum pada Youngji lagi.”

Setelah berhenti beberapa lama karena isakan yang sulit terbendung, dia kembali berucap,

“Tapi kadang Youngji berpikir, apa iya, Ayah akan kembali seperti dulu? Lalu Youngji bilang pada diri sendiri, ‘berhentilah bermimpi Youngji’…”

“Tapi memang benar ‘kan, Yah, Ayah tak akan menyayangi Youngji lagi? Karena Youngji bukan anak kandung Ayah?”

Youngji kembali berhenti.

“Ayah dan Ibu bercerai karena Ayah baru tahu, Youngji bukan anak kandung Ayah. Ayah menjalani cek kesehatan di sebuah rumah sakit. Hasil tes di sana menyatakan Ayah mandul. Youngji tahu karena kapan hari Youngji membersihkan kamar Ayah dan tak sengaja membersihkan kamar Ayah… maaf kalau aku lancang…”

“Tapi, Youngji tetap berterima kasih pada Ayah. Setelah cerai, Ayah masih mau mengasuh Youngji, padahal ibu pergi ke luar negeri, kencan dengan orang lain. Ayah masih mau membiayai Youngji, tutup mulut soal kenyataan bahwa Youngji bukan anak Ayah… Ayah masih mau menjaga nama baik Youngji dan membiarkan marga Heo tetap ada dalam nama Youngji…”

“Bagi Youngji… Ayah tetaplah Ayah Youngji, walaupun secara biologis bukan. Ayah yang merawat Youngji sejak kecil sampai Youngji beranjak dewasa… maaf kalau selama ini Youngji belum bisa berbuat apa-apa demi membalas semua kebaikan Ayah.”

“Ini akan terdengar kurang ajar, tapi bisakah Youngji meminta satu permintaan? Untuk pertama dan terakhir kalinya, Ayah…”

“Ayah tak pernah tersenyum lagi, tak pernah datang pada Youngji lagi saat Youngji membutuhkan Ayah… saat Youngji pulang nanti, maukah Ayah tersenyum untuk Youngji? Memeluk Youngji erat, seperti dulu saat Youngji masih kecil?”

Youngji tersenyum lega saat berhasil mengucapkan sekumpulan kalimat yang telah lama ingin dia ucapkan.

“Sekali ini saja, lalu Youngji akan berhenti memanggil ‘Ayah’… dan pergi dari kehidupan Ayah.”

Youngji menghela napas.

“Youngji janji…”

When you think of me very occasionally,
I’m doing well, so you don’t need to worry.

 

Dada Ayah Youngji berdegup kencang ketika pesan suara Youngji selesai dia dengarkan. Berbagai macam rasa menyesaki nuraninya: sesal, kesal, sedih…

Terlebih ada satu firasat yang mengganjal dalam hatinya.

“Apa yang Youngji katakan?”

Ayah Youngji menggeleng. Tapi matanya terpaku pada siaran televise di kamarnya dengan headline yang membuatnya tak percaya. Si wanita pun terkejut bukan main.

HEO YOUNGJI DIKONFIRMASI MENINGGAL DUNIA

Terlebih setelah itu ditayangkan fakta-fakta soal Heo Youngji sebagai putri tunggal Heo Youngjoon, salah satu pemilik saham terbesar di industri musik Korea. Di berita juga dijabarkan bahwa penyebab kematian Youngji adalah tabrak lari yang menyebabkan terjadinya pendarahan di kepalanya.

Ayah Youngji tertegun, lalu terdengar kembali suara anaknya yang baru saja dia dengar dalam pesan suara.

“Saat Youngji pulang nanti, maukah Ayah tersenyum untuk Youngji? Memeluk Youngji erat, seperti dulu saat Youngji masih kecil?”

“Sekali ini saja, lalu aku akan berhenti memanggil ‘Ayah’… dan pergi dari kehidupan Ayah.”

“Aku berjanji…”

.When it gets tough and you miss me so much,
I’ll be the wind and ease your pain.
When you call out my name at that hill,
I’ll run to you and hug you tight…

END

oke… usaha bebas dari WB sekali lagi… jadi maaf kalo awkward dan “bukan Sasa” -_-” duh, bener deh aku pengen pake sudut pandang biasanya tapi sulit buat diaplikasikan ke cerita ini (?)

dan… oke, aku aja baru nyadar kalo cerita ini sesuai sama I’m Fine, Thank You T_T

dan hari ini, tepat 2 bulan kecelakaan itu terjadi dan EunB meninggal T_T RIP, My Bias… :”

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s