[Ficlet] Last Carnival


last carnival

f(x)’s Luna | Winner’s Kang Seung Yoon

based on I Knew You Were Trouble – Taylor Swift

.

.

And he’s long gone when he’s next to me
And I realize the blame is on me

.

.

Kamu nampak menyedihkan. Mengerikan. Kamu hanya memakai celana tanpa pembungkus badan, membuat dada bidang dan punggungmu terlihat jelas. Memar-memar dan bekas goresan benda tajam terlihat begitu menyedihkan. Kamu menjambak rambutmu sendiri, lalu berteriak begitu menatap bintang-bintang yang bertebaran.

Beberapa saat yang lalu, kamu menarikku paksa, bilang akan membunuhku. Bayangan mengerikan soal pembunuhan langsung menghantui pikiranku, entah kamu menghunuskan pisau di leherku, kamu menjambak rambutku sampai rambutku lepas…

Itu sangat mungkin dilakukan olehmu yang bolak-balik memasuki rehabilitasi dan tak kunjung sembuh. Mungkin kamu tak akan sembuh. Kamu sudah terlalu sakit. Cacat.

“Kamu tahu, Luna?” Kamu menggantungkan ucapanmu. Kutunggu lanjutannya.

Tapi lima menit berlalu, kamu tak melanjutkannya. Kamu malah terduduk, memeluk kedua lututmu. Laki-laki yang begitu lemah, terlebih saat bibirmu bergetar hebat dan meracau tak karuan. Kutebak, kamu kehabisan obat-obatanmu.

“Kamu gila…”

Kamu melanjutkan. Aku tersinggung, tapi aku tak sanggup berkata apa-apa. Kamu menghunuskan pisau dapurmu ke leherku tepat setelah kamu mendesiskan kalimat untukku. Kamu menyeringai saat melihat darah mengucur deras di leherku, berharap aku segera mati.

Kamu tahu aku akan mati, karena kamu menghunuskan pisaumu persis seperti seorang penyembelih hewan ternak.

Tapi tak lama kemudian, kamu menangis.

“Kalau kamu mati, aku bagaimana?”

Keringat dingin mengucur di pelipisku, terlebih saat kamu menggoreskan ujung pisaumu ke dadamu lagi, bertubi-tubi.

“Ini salahmu!! Ini salahmu!!” kamu berteriak di samping telingaku, membuatku semakin pusing. Tubuhku tak lagi kuat untuk duduk, hingga akhirnya aku terjatuh dalam pangkuanmu.

Menjijikkan.

“Kalau kamu tak datang ke kehidupanku dan membahagiakanku, aku tak akan begini!! Aku tak akan gila!!”

Salah.

Padahal kamu sudah gila, jauh sebelum bertemu denganku. Kamu yang salah karena kamu datang ke kehidupanku sebagai seorang pasien yang sulit disembuhkan, membuatku harus mendekatim lebih jauh. Menyelam ke dalam kejiwaanmu.

Tapi apa daya, aku malah terperosok jauh ke dalam kegilaan. Semakin lama semakin jauh… semakin lama semakin dalam…

Kamu membuatku kehilangan pekerjaan. Kamu membuatku tak lagi manusiawi. Kamu membuatku tak berpikir jernih dan hanya berorientasi pada kehadiranmu.

“Kamu pergi, Luna… kamu pergi!! Kamu pergi saat aku tak bisa hidup tanpa kamu!! Manusia biadab!!”

Kalau aku bisa membalas ucapanmu, aku akan membalas dengan kata yang lebih jahat lagi dari biadab. Aku hanya ingin menjalani kehidupanku yang terenggut karena lengah padamu. Aku ingin jadi manusia normal lagi… aku tak ingin jadi manusia primitif yang kesehariannya tidur di rerumputan sambil menatap langit penuh bintang, berteduh di bawah pohon saat hujan…

Aku tak ingin berfantasi lagi sepertimu. Aku ingin bebas.

Karena kamu memberikan jalan yang salah soal kebebasan. Persepsi kita jauh berbeda. Tapi kamu tak tahu dan tak mau tahu. Kamu sendirian dan saat aku datang, kamu ingin aku menemanimu.

Kamu ingin punya teman yang sama-sama tak waras.

“Tak ada manusia yang tak biadab! Semuanya biadab! Datang dan pergi ke kehidupan seseorang tanpa peduli perasaan mereka yang ditinggalkan!! Semuanya munafik!!”

Kamu menghempaskan tubuhku, hingga akhirnya aku berbaring lagi di rumput yang dingin. Padahal aku baru saja berbaring di kasur empukku yang kutinggalkan bertahun-tahun lamanya hanya untukmu. Kini aku malah kembali ke tempat yang membuatku tak lagi memiliki kulit halus seperti sebelumnya.

“Aku mencintaimu apa adanya, Luna! Masih tak tahu?! Masih tak tahu?!! Mau kamu tua, mau kamu jelek dan keriput, aku akan mencintaimu!! Kamu tak tahu?!”

Tidak. Karena selama ini aku cuma mainanmu yang senantiasa melakukan apapun yang kamu mau. Mana ada orang yang ingin kekasihnya ikut-ikutan gila? Tak ada. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, harusnya kamu biarkan aku pergi. Kamu pasti ingin aku bahagia.

“Aku bisa membahagiakanmu dan itu belum cukup bagimu!!” Kamu meloncat, lalu berkacak pinggang, menyombongkan diri pada alam semesta. Kamu yang terbaik soal cinta. Kamu yang terbaik soal kehidupan. Kamu yang terbaik soal kesusahan yang mendalam.

Kamu yang terbaik dalam melampiaskan rasa sakit dan amarah.

“Kamu gadis kota dan aku lelaki kampungan!! Kamu tak pernah berpikir aku bisa menghidupimu!! Wajar, aku tahu!!” Kamu membalikkan badan, menatapku dan mengangkat ujung bibirmu, “Karena yang orang kota tahu hidup harus dengan uang… dan tanpa uang mereka tak akan hidup!! Hah!! Betapa dunia ini tidak adil!! Betapa dunia ini gila!! Ya, gila!!”

Pisau dapur di tanganmu kini terjatuh ke antara ilalang yang menjulang tinggi. Kamu kebingungan mencarinya, sementara aku was-was. Ada untungnya jika pisau itu hilang; kamu tak akan menghajarku lagi. Tapi aku akan semakin tersiksa dengan luka di leher ini kalau aku tak mati-mati juga, sesuai harapanmu. Kalau saja pisau itu masih ada di tanganmu, mungkin sekarang aku sudah mati.

Aku takut kematian, tapi kalau dengan mati luka di leherku tak lagi terasa sakit, maka aku menginginkannya. Aku paling tak tahan rasa sakit.

Aku juga begah dengan kesenyapan malam. Sudah berjam-jam terlewatkan, tapi langit masih saja gelap. Pagi masih enggan untuk melihat kamu dan aku nampaknya.

Karena kita berdua selalu memuakkan. Setiap pagi, kamu mengajakku bermain layang-layang. Setiap sore, kamu mengajakku mengejar burung-burung. Kalau musim dingin, kamu mengajakku membuat manusia salju.

Obat-obatan telah membuatmu berfantasi jauh lebih tinggi dari yang aku kira. Bahkan niatanku untuk mengangkat kasusmu dalam tesisku urung kulakukan. Terlalu kompleks, dan aku yakin tak akan ada penyelesaiannya.

“Kamu bisa apa tanpa aku sekarang?” Kamu pasrah dalam mencari pisaumu, lalu mencekikku. Kamu sudah terbiasa dengan anyir darah, jadi kamu tak begah. Sementara aku malah mual dengan bau darahku sendiri. Kuku-kuku tajammu serasa mencabik kulit dan aku tak berkutik.

“Kamu cuma wanita biasa, ya, wanita biasa!! Aku pikir kamu hebat!! Aku pikir kamu bisa jadi satu-satunya orang yang tak akan pergi meninggalkanku, tapi??!!” Kamu menyeringai. Air mata masih basah di pipimu, tapi ekspresi sedih belum juga muncul.

“Dan kenapa dari tadi kamu tak menangis, merasa bersalah, hah?!! Oh, aku tahu. Karena aku ibaratkan kelinci percobaan bagimu, maka kamu tak berpikir aku juga manusia biasa yang punya perasaan kan??!! Kamu tak peduli pada perasaanku, ‘kan??!!”

Dengan napas terengah, aku menjawab perkataanmu, “Karena kamu gila, bodoh!!”

“Kamu juga gila karena mau menerima cintaku saat itu!!”

“Dan aku lebih gila lagi saat aku kehilangan masa mudaku karena sikapmu yang selalu bercinta dengan gadis lain!!”

Kamu melepaskan tanganmu dari leherku, tepat setelah kalimat yang kuucapkan berakhir. Napasku rasanya hampir habis, darah juga tinggal sedikit. Aku kembali tergeletak di antara rerumputan. Kamu tak peduli. Kamu mengacak rambutmu, berjalan mundur dengan gontai, seolah ingat masa lalu yang cukup kelam.

Kamu berpesta dengan gadis lain, memasang topeng bahwa kamu lelaki baik-baik. Ketika kamu berhasil mencampakkan perawannya Kepala Desa, kamu mencoba lagi mengganggu gadis lain. Tapi saat kamu dicampakkan dan kamu sakit, kamu datang padaku, sesengukan, lalu tertidur dalam pelukan.

Kamu menatapku lagi. Kali ini wajah khawatirmu terlihat cukup jelas meskipun kini mataku mulai buram. Kamu menciumi wajahku yang berlumuran darah—mungkin yang kamu inginkan di wajahku hanyalah darah?—dan membisikkan kata-kata yang membuatku bergetar.

“Jangan pergi, Luna… Jangan pergi…”

Kamu kembali ke kepribadian kanak-kanakmu. Kamu meremas pipiku, masih menciumi wajahku. Sementara mataku tak sanggup lagi terbuka.

“Jangan pergi… Aku tak akan melukaimu lagi, Luna… Kumohon…”

Jelas kamu tak ingin aku pergi. Karena aku satu-satunya orang yang mau berada di sampingmu kalau kamu sedih, terluka… merana. Kebahagiaan selalu lebih sedikit porsinya daripada nelangsa di kehidupanmu, dan kamu tak ingin kamu sendirian lagi setiap kamu merana. Kamu bahagia memilikiku saat sedih, dan kamu akan sedih jika aku tak ada lagi.

Dan besok pagi, kamu akan mendapatkan masalahmu yang lain.

Beberapa saat kemudian, kamu terdiam. Bergerak menjauh dariku yang berbaring tak berdaya. Kamu tertawa kecil, lalu menangis.

“Luna jahat… Luna jahat…” kamu berdesis parau, lalu melangkah pergi dengan linangan air mata.

Kamu sadar mulai besok pagi, kamu akan mendapatkan masalahmu yang paling kamu takuti.

Mungkin sekarang, kamu berharap malam masih panjang. Kamu berharap matahari tak lagi terbit.

Karena ini malam terakhir aku mampu bersamamu.

Karena jasadku tak lagi berjiwa.

.

.

And when I fell hard you took a step back
Without me
Without me
Without me

.

.

And the saddest fear comes creeping in
That you never loved me or her, or anyone, or anything

fin

okeeyy…. ada yang tahu ini genrenya apa? ya yang pasti… jangan beranggapan kalo si Seungyoon di sini aku buat jadi cowok-cowok lemah, cengeng yang seruap sama cowok-cowok lentceh… cuma ya disini aku buat dia jadi punya mental yang cacat. bukan sakit.. bedanya ‘sakit jiwa’ sama ‘cacat jiwa’ itu di situ. sakit itu bisa disembuhkan, sementara cacat itu gak bisa sembuh… mengerti nggak?

dan soal judul… coba deh tebak kenapa aku milih judul ini dan keterkaitannya sama fic ini😆

yang bisa nemu pesan moral dan inti dari fic ini

eunbi2

One thought on “[Ficlet] Last Carnival

  1. Waa keren eon! Kerasa banget seungyoon disini ala ala psikopat/? Atau gimana gitu.. Yg pasti aku kasihan banget sama Luna😦 cacat jiwanya bener bener terlihat sekali..
    Btw, aku masih bingung keterkaitan antara judul sama fic nya .. Aku baca gak nemu nemu unsur karnaval gitu xD
    Apa mungkin maksudnya , Carnival = kebahagiaan masa masa indah , kebersamaan , hiburan. Berarti last carnival adalah akhir semua itu karena luna dah tewas. Atau ada kaitannya ama imajinasi imajinasi yang biasa dilalui orang kalau “cacat jiwa” ..
    Ahh entahlah xD hanya Tuhan dan author yg tau/?

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s