[Ficlet] NOW


now

Boyfriend’s Donghyun & Red Velvet’s Irene

“Karena definisi bahagia itu berbeda bagi tiap insan…”

“Terlanjur jadi abu.”

Kata-kata dari bibirmu keluar begitu ringan, tak acuh maknanya, dan kamu tak peduli saat aku menatapmu tajam. Kamu nekat berdiri di sampingku yang masih berduka, sementara suasana hatimu yang datar membuatmu berani mengunyah lidi. Kamu juga berani bertindak seolah tak terjadi apapun yang menyakitkan.

“Dia pergi. Selamanya.” Aku memberikan tekanan pada kata terakhir, berharap kamu yang masih asik merogoh saku celanamu sadar akan keadaan. Tapi sepertinya nihil. Aku hanya mengernyit.

“Lantas?”

Aku menatapmu lamat-lamat, kembali begah akan sikapmu yang selalu tak dapat kumengerti. Kamu tertawa saat aku mendapatkan E pada pelajaran Bahasa Inggris, lalu kamu akan kesal padaku berminggu-minggu saat kamu tahu aku naik kelas. Sudah dua kali kamu tinggal kelas dan aku jadi seniormu.

Kamu itu entah bodoh atau apa.

“Kamu juga tak mampu menjawabnya ‘kan?” Kamu membuyarkan lamunanku tentang dirimu, kemudian terkekeh pelan.

“Kim Donghyun!”

“Mau kamu tangisi sampai tahun depanpun, abu yang terlanjur masuk dalam guci tanah itu—dan sebagiannya tertiup angin—tak mungkin kembali bersatu dan kembali berwujud seperti manusia!”

Kamu kembali berbicara ringan. Kebahagiaan mungkin bertubi-tubi menghampirimu. Jasad yang kamu yakinkan padaku telah menjadi abu itu sangat kamu benci semasa hidupnya. Kamu terus-terusan berharap dia mati–disertai sumpah serapah penuh amarah—agar kamu leluasa untuk dekat denganku. Kamu tak pernah mendapatkan restu untuk dekat denganku, bahkan untuk jadi teman saja tak mungkin.

Kamu tertawa di atas penderitaan orang lain. Dasar lelaki biadab!

“Sekarang aku tanya, apa faedahnya kamu menangis tersedu-sedu, hampir setahun ini? Orang-orang sudah lupa padanya—pada orang yang kamu tangisi itu.”

Akhirnya aku ingin bersikap tak acuh, sama sepertimu. Aku melangkah pergi ke sisi kiri ruangan, menatap jauh ke luar jendela. Aku kembali mendengar kekehanmu yang jenaka. Kulirik sekilas dari pantulan kaca, kamu duduk bersila di atas kasur. Aku mendengus kesal. Ucapanmu yang terakhir membuatku benar-benar tertohok.

‘Orang-orang sudah lupa padanya, pada orang yang kutangisi selama ini.’

Begitu ringan dia mengucapkannya? Dia yang kutangisi adalah sahabatku, sahabat terbaikku! Dia satu-satunya orang yang mau melihatku menangis saat orang lain tak peduli, orang yang masih setia padaku saat aku kembali padanya dengan sebuah luka, dia yang menerima aku apa adanya setelah aku sempat melupakannya…

Aku tak pernah melupakannya.

“Hei, Irene.”

“Diam.” Sergahku, enggan kamu berbicara lebih jauh. Kamu orang paling tak peka. Jauh berbeda dengan dia.

“Dia baik-baik saja kok,” ucapmu sambil terkekeh. Kamu masih menganggap semuanya baik-baik saja, musim semi begitu indah dan hangat, dunia masih berputar… ah pokoknya hidup sangat sempurna. Sementara aku begitu nelangsa.

“Dia tak akan tega melihatmu meratapi kesedihan begitu lama hanya karena dia.”

Ucapanmu yang semakin lama semakin sok membuatku begitu risih. Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan pikiran. Tapi sial, yang terlintas di benakku malah satu adegan yang paling membuatku merana.

Aku berjalan melewati zebra cross sambil menenangkan hati karena aku dan dia baru saja bertengkar. Aku mendengarkan lantunan lagu di handphone, memilih acuh atas segala beban yang kualami.

Membuatku tak tahu dia berlari mengejarku dan akhirnya tertabrak mobil.

“Jangan dibayangkan terus,” Kamu kembali membaca pikiranku. Kamu menggaruk tengkukmu, lalu berkata, “malah kamu yang sedih.”

“Kamu tidak sedih?” akhirnya aku kembali berbicara.

“Tidak. Buat apa? Sudah kubilang ‘kan, semua sudah terlanjur.”

Aku menggelengkan kepala. Dari dulu kamu selalu aneh. Aku ingat saat kamu tertawa lepas tepat setelah jasadnya dibakar. Kamu memeluk tubuhmu sendiri, lalu berjalan menghampiriku.

“Huh… aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya tubuh dikremasi. Kamu pernah membayangkannya, Irene? Fantastis!!”

Kegilaanmu tak berhenti sampai di situ. Saat ibunya menangisi kepergiannya sambil memeluk pot berisi abu jasadnya, kamu tertawa. Tapi kamu juga menitikkan air mata. Kemudian tertawa lagi, menyumpahi ibunya dan mendoakan yang tidak-tidak—saat itu kamu berharap agar ibunya mati muda demi menyusul anaknya—lalu kembali menangis. Tertawa lagi, lalu menangis. Akhirnya kamu pergi dan berdesis pelan, “Sial.”

Kamu juga bertemu ayahnya. Kamu tak memiliki sedikit rasa hormat pada ayahnya karena kamu tahu sifat dasar orang itu. Umurnya sudah 50 tahun lebih, beruban, tapi masih berjalan tegap. Orang itu memakai jas dengan rapi, kemudian melepaskannya saat bekerja sebagai pesuruh di kantor ayahku. Kamu kecewa pada orang itu, kasar katamu. Dia tak segan memukul putra semata wayangnya bahkan sampai tulang punggung anaknya retak jika anaknya bertindak sedikit menyeleweng. Kamu tertawa senang saat ayahnya ditampar oleh ayahku. Tahu rasa dia, itu yang kamu ucapkan. Hukum karma pasti berlaku, ucapmu kemudian. Lalu kamu mengucapkan sumpah serapah yang lain. Tapi kali ini doa yang kamu ucapkan malah aneh: semoga orang itu panjang umur.

Supaya orang itu sendirian di dunia ini sampai mati, katamu.

“Sudah kubilang, Irene. Dia baik-baik saja. Dia senang sekarang.”

Aku menatapmu yang kini berdiri di sampingku. Kamu tersenyum. Tanganmu bergerak ingin menghapus air mataku, tapi kemudian kamu mengurungkan niat. Kamu tak bisa.

“Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.”

“Sungguh?” Aku mengernyit.

“Sungguh.”

Kalau diingat lagi, wajar kalau dia senang sekarang. Dia tak ambil pusing lagi soal kehidupan yang begitu rumit, sulit. Dia berada di strata terendah suatu kehidupan sosial, dan sesulit apapun dia berusaha, dia hanya jatuh, jatuh dan jatuh. Dia pernah bilang padaku, dia begitu ingin mati muda. Tak perlu beristri, beranak, berkeluarga. Menghidupi diri sendiri saja susah, apalagi menghidupi orang lain?

Padahal dia hanya tak ingin menyusahkan istrinya yang kelak akan jadi ibu dari anaknya. Dia juga tak ingin anaknya harus mengalami nasib yang sama sepertinya. Aku pernah bilang padanya, memang siapa yang tahu pasti soal kehidupan? Bisa saja anaknya nanti mampu meneruskan cita-cita Ayahnya, lalu membawa kedua orang tuanya bangkit, lalu sukses…

Dia langsung menyergah. Dia bilang, iya kalau begitu, kalau tidak? Baiklah, mungkin logikaku benar, masalahnya, memang ada yang mau jadi istrinya?

Dia juga ingin mati muda, karena ibunya yang bertugas menopang kehidupan keluarga kini terlihat tua, lebih tua dari umur yang sebenarnya. Dia begitu prihatin pada ibunya yang begitu tegar menjaga ikrar di pelaminan dan membiarkan ayahnya jadi penjudi.

Dia bercerita, ibunya hanya tak ingin melanggar janji suci yang terlanjur diucapkan. Ibunya juga percaya, suatu saat nanti ayahnya akan berubah.

Ya, berubah. Tepat setelah putra semata wayangnya pergi, dia menyadari kesalahannya. Padahal kepergian anaknya sama sekali tak terkait oleh tingkah lakunya.

Tapi yang aku dengar, dia hanya menyesal. Kenapa dia tak mampu memberikan kasih sayang yang pantas sebelum anaknya pergi, sekadar itu. Tangan kanannya menggenggam sesuatu. Katanya, itu surat terakhir dari anaknya. Dia sudah punya firasat.

Aku menahan tawa saat itu karena dua hal. Karena dia yang begitu ceria namun tak acuh ternyata percaya pada firasat, juga karena sang ayah yang ternyata masih memiliki perasaan sebagai seorang ayah.

“Iya, ya… dia sudah senang sekarang.” Aku tersenyum, lalu mataku menoleh ke tempatmu berdiri. Kamu sudah tak ada. Aku mencarimu ke seluruh ruangan, nihil. Yang tersisa hanyalah desiran angin lewat tirai jendela yang terbuka.

Aku sadar sesuatu. Kamu begitu yakin dia senang sekarang. Kamu berusaha keras meyakinkan bahwa sekarang dia senang, lalu saat misimu berhasil, kamu akan pergi menjalani kehidupanmu yang seharusnya.

Karena ‘dia’ adalah kamu yang dulu.

 Ding dong… adakah yang berhasil mengira kalo ‘dia’ itu ternyata ‘kamu’?😄 ada lah pasti… yang pasti ‘dia’ itu Donghyun yang masih idup, dan ‘kamu’ itu Donghyun yang udah berwujud arwah.. yang jasadnya udah terlanjur jadi abu.. duh nyesek, malah inget Rise T_T

oke… buat yang udah mau baca (dan yang nantinya review)

rise

One thought on “[Ficlet] NOW

  1. Waks😀 Aku pengen baca ini karena Irene sama Donghyun. Well aku tahu mereka berlainan. Kayaknya baru kali ini aku nemu Donghyun di cast kamu ya?
    Aku malah nyelonong kesini bukan di IFK, duh.
    Ceritanya ngalir, bagus, banget. Dan aku gak nyangka kalau dia itu kamu. Yang aku nyangka dia dan kamu itu orang yang berbeda. ih bagus sih😀

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s