[Ficlet] S for Sahabat


sahabat

“Entahlah.” Kata yang menunjukkan kepasrahan itu meluncur begitu saja, tepat saat kedua mata Tia mendapati Dito jalan bersama dengan Vana, sahabatnya.

Dia bukan kecewa pada Vana yang jelas-jelas tahu bagaimana perasaannya pada Dito, bukan pula pada Dito yang tak pernah peka pada sinyal yang Tia berikan padanya beberapa kali. Dia juga tak kecewa pada sikapnya yang hanya berani memberi sinyal; tak berani mengutarakan dengan jelas sejelas-jelasnya perihal rasa di hati.

Dia hanya kecewa pada keadaan. Tia pendiam dan pemalu. Vana orang yang terlampau asyik dan berwawasan luas; diajak ngobrol kemanapun nyambung. Dito yang sejenis dengan Vana tentu merasa nyaman di dekat Vana ‘kan?

Tia juga kecewa pada urutan waktu. Tia mengucapkan rahasia hatinya, setelah Vana dan Dito berpacaran, sebelum Tia tahu. Lebih tepatnya sebelum banyak orang tahu.

Tia sendiri merasa asing pada respons Vana yang—tumben sekali—sangan anggun; senyuman tipis dan anggukan. Tak ada omelan-omelan kecil yang meledek sifat-sifatnya yang terlampau menyedihkan seperti biasa. Kemudian Vana menepuk-nepuk pundak Tia, seolah prihatin dan merasa bersalah; tapi ia tak mampu mengucapkan.

“Nggak usah sok prihatin gitu deh…” Tia tertawa. Lagi-lagi, Vana hanya tersenyum.

Vana tak ingin menyakiti Tia, tak ingin juga merusak persahabatan yang terjalin lebih dari 3 tahun. Ia tak protes atas perasaan Tia; ia tak ingin melepaskan Dito juga. Jadi dia dan Dito memutuskan untuk merahasiakannya beberapa lama.

Padahal saat Tia tahu itu dari orang lain, dia lebih merasa sakit. Seolah Dito dan Vana berbelas kasihan padanya.

Tia masih memandangi sepasang kekasih itu dari kejauhan, sesekali mengaduk banana smoothie dengan sedotan putihnya. Sejenak kemudian, ia tersenyum.

Tia masih ingat sifat-sifat baik Vana setelah menenangkan pikiran barang sejenak. Tia ingat betul, walaupun mereka bagaikan dua sisi uang koin yang selalu berlawanan, masih ada satu kesamaan yang membuat persahabatan mereka tetap awet setelah tiga tahun berjalan.

Pengertian.

Bahkan tak perlu salah satu mengucapkan maksud sebenarnya dari kesalah pahaman, satu dari yang lainnya mampu berpikir jernih setelah lama berpikir. Tia paham, Vana hanya tak ingin kehilangan dirinya. sama seperti Tia yang tak ingin kehilangan Vana.

Beberapa saat kemudian, tak sengaja Vana menoleh ke arah Tia setelah duduk di salah satu bangku stan makanan di mall. Ia terkejut, sementara Tia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Dito hanya diam, tak mau mengganggu hubungan persahabatan yang dia tahu Vana sangat menjaganya. Vana berlari menghampiri Tia.

“Tia… aku bisa jelasin…”

Tia memotong ucapan Vana dengan menggenggam lengan Vana. “Duduk dulu, say…” ucapnya santai, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi Vana was-was. Marah dari seorang Tia biasanya tak begitu nampak dari ekspresi; lebih tajam di lidah, lalu dia akan mendiamkan Vana berhari-hari, sampai Tia merasa baikan.

Begitu Vana duduk, Tia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu memakaikannya ke tangan Vana. Jam tangan kulit warna hitam dengan warna keemasan di tepian jam dan jarum penunjuknya. Vana tertegun.

“Tia, aku kepingin jam itu deh…” Vana menggelayut mesra di tangan Tia saat mereka study tour ke Jogja beberapa waktu lalu. Tia sendiri tersenyum; penyakit manja Vana kambuh.

“Beli aja, kok repot.”          

“Uangku gak cukup…” Vana kembali merengek.

“Udah di tawar?”

Vana mengangguk. “Mentok di 45…”

Tia hanya tertawa lalu bergegas pergi.

Vana masih bingung melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Terlebih saat ia melihat ada ukiran namanya di balik jam tangan. Vana Wihartati.

“Waktu kamu balik ke bis, aku beli jam itu. Maaf ya baru aku kasih sekarang…” Tia mengelus rambut Vana sambil tersenyum, “Selamat ulang tahun… Vana cantik…”

Vana menangis, lalu bergegas memeluk Tia; sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, walau sebenarnya Vana lahir lima bulan lebih dulu. “Maaf.”

Tia menitikkan air mata, lalu menepuk punggung Vana pelan. “Nggak apa-apa cantik… nggak apa-apa…”

.

.

Yah… begitulah.

Bagaimanapun sahabat lebih penting dari cinta ‘kan?

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s