[Ficlet] Breakeven


beakeven

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

Breakeven

Ficlet (1.857 W) | AU!, Friendship, Sad | PG +5

Starring by :

Red Velvet’s Wendy& NU’EST’s Aron

“Karena definisi bahagia itu berbeda bagi tiap insan…”

Inspired by: Red Velvet – Happiness, the Beatles – Let it Be

Kamu pernah bilang kamu akan jadi pembunuh. Saat kamu mengatakannya, aku hanya tertawa. Bercandamu selalu keterlaluan, bahkan pernah lebih dari itu. Aku mengabaikannya, lalu memukul pelan pundakmu.

Kamu mengacak rambutku dan membuat rambutku yang sudah kukepang dengan rapi jadi berantakan. Kamu merusak mahkota wanitaku. Saat wajahku beralih suram, kamu jadi tertawa. Kita bertukar ekspresi.

Entah kenapa, tiba-tiba aku mengingatnya. Sudah bertahun-tahun kita tak bertemu lagi. Aku ada di belahan dunia lain, meninggalkanmu sendirian di tanah kelahiran kita. Padahal aku tahu, kamu orang yang paling malas untuk beradaptasi dengan kondisi sekitar dan berbaur dengan teman sebayamu—satu-satunya alasan yang membuat kamu berteman denganku jadi masuk akal. Kamu berteman denganku, karena aku yang memaksa.

“Namaku Wendy. Kamu?”

Kamu masih diam. Aku ingat betul, saat itu kamu duduk di bawah pohon yang cukup rindang, lalu menikmati semilir angin yang membawa kebanyakan orang jadi tertidur. Yang kamu lakukan itu klise bagi lelaki pedalaman. Aku tahu kamu orang yang begitu kolot.

“Halo?”

Kamu membuka matamu, menatapku cukup lama, lalu berdiri. Kamu berjalan ke pohon lain, lalu kembali menggerakkan tubuhmu dengan posisi yang sama. Aku senewen.

“Hei!! Kamu!!”

Aku berlari menghampirimu dan itu membuatmu mengernyit tak suka.

“Aku hanya menanyakan nama ‘kan? Kenapa kamu pergi?”

Kamu memalingkan tubuhmu.

“Jangan-jangan, kamu bisu?”

Kamu segera membuka mata dan menatapku tak suka.

“Kamu tak punya pekerjaan lain selain mengganggu orang?!”

Dan setelah kamu mengatakan ungkapan marahmu, bel berbunyi, membuatku senewen karena aku tak sempat mengajukan kalimat yang lebih kompleks untukmu. Kamu segera pergi meninggalkanku. Tapi setelahnya, kamu berbalik dan mengucapkan satu nama.

“Aron.”

“Hah?”

“Namaku Aron.” Kemudian ucapanmu disusul helaan napas, seolah mengucapkan nama merupakan hal berat yang tak pernah kamu lakukan sebelumnya.

.

.

.

Proses kita jadi dekat agak lama, kalau kuingat lagi. Aku terus-terusan mengganggumu, lalu lama-lama kamu terbiasa akan kehadiranku. Bukan berarti kamu akan hampa tanpaku—aku mengira kamu sudah terbiasa sendirian selama ini—tapi… yah begitulah. Kita juga jadi berteman cukup akrab, terlebih kamu tahan mendengarkan ocehan dan gelak tawaku yang banyak orang bilang tak sopan.

Bahkan beberapa rahasiaku—termasuk saat aku menyukai kakak kelas—kupercayakan padamu, dibandingkan dengan teman-teman perempuan. Pengalaman membuktikan, rahasia bisa benar-benar rapat kalau kupercayakan padamu, daripada dengan teman perempuan yang kadang berakhir dengan penyebarannya.

Kamu juga orang pertama yang mendukungku untuk menerima beasiswa di London. Karena saat itu kamu mendukungku, aku tak berpikir jauh soal kehidupanmu jika aku tak ada di sampingmu.

Aku mudah berteman dengan siapapun, sementara kamu terbiasa sendiri. Itu juga yang membuatku tak ragu.

Tapi aku masih tak habis pikir. Saat aku kembali ke Korea setelah sepuluh tahun lamanya, aku dengar kabar, kamu ada di penjara.

Kamu jadi pembunuh.

.

.

.

Aku dengar dari kakak kelas yang kusukai—kamu pasti ikut senang kalau kamu tahu sekarang aku telah bertunangan dengannya—kamu meringkuk di penjara sejak delapan tahun lalu. Berarti dua tahun setelah aku menerima beasiswa. Berdasarkan informasi yang kudengar, kamu jadi pembunuh bayaran. Kamu tahu, betapa aku kaget mendengarnya.

Tapi aku berpikir positif. Saat aku menjejakkan kaki di tempat berkunjung narapidana kali ini, aku masih berpikir positif. Mungkin orang berbeda yang namanya kebetulan sama. Mungkin orang lain yang kurang kerjaan menggunakan namamu… ya begitulah.

Tapi saat aku melihat kamu muncul di balik pintu diiringi sipir penjaga, aku lemas. Semua pikiran positifku menguap begitu saja. Yang aku herankan, senyumanmu begitu menghangatkan, seolah ingin memberitahu bahwa kamu baik-baik saja.

“Apa kabar?”

Aku masih tak mampu berucap. Kamu tersenyum senang—yang aku tak tahu karena apa—sementara aku hampir menangis yang aku juga tak tahu apa yang kutangisi. Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan—mengingat kamu pernah bilang kamu akan jadi pembunuh—dan tak pantas juga hal itu kutangisi.

“Baik, kamu?”

Kamu mengangguk. “Baik juga.”

Kamu diam, menunggu aku memulai pembicaraan seperti yang biasa terjadi di antara kita. Kamu mendengarkan, aku bercerita. Kamu tak tahu aku masih bingung saat ini.

“Kenapa?”

Kamu mengernyit. Padahal aku mampu menebak, kamu sudah tahu maksud dari satu kata tanya yang baru saja kuucapkan. Setelahnya kamu tak menjawab, menungguku melanjutkan pertanyaanku.

“Kenapa kamu ada di sini?”

“Dari yang kamu dengar, bagaimana?”

Aku meneguk ludah. “Pembunuh bayaran?”

Kamu mengangguk. Aku semakin tak mengerti lagi. Aku benar-benar yakin ucapanmu yang kudengar bertahun-tahun lalu hanyalah lelucon, tapi…

“Kenapa?” akhirnya aku kembali bertanya. Kamu mengelus tengkukmu. Senyumanmu menipis. Kamu menjawab singkat,

“Panjang ceritanya.”

Kalau kamu sudah mengatakan dua kata itu sebagai satu jawaban atas pertanyaanku, maka itu pertanda bahwa aku harus mencari pertanyaan lain—atau diam. Kamu kadang kesal dengan sikapku yang terlalu cerewet, jadi aku pikir kali ini kamu juga kesal padaku. Aku menanyakan masa lalumu yang tak mau kamu ungkit lagi.

Tapi makna senyumanmu masih sama.

“Bagaimana kuliahmu di sana?”

Kali ini kamu yang bertanya. Ini pertama kalinya semenjak aku mengenalmu, kamu mengajukan pertanyaan. Dulu aku pernah berjanji akan membelikanmu berpuluh-puluh buku yang kamu inginkan kalau kamu mau bertanya padaku, satu hal saja. Tapi aku tak yakin janji itu bisa kutepati, mengingat di mana kamu berada sekarang.

“Baik…” jawabku dengan senyum dipaksakan. “Cum laude. Sampai S2 juga…”

“Wah… apa kubilang? Wendy orang tercerdas yang pernah kukenal…” Senyummu mengembang, lalu kamu meneruskan, “aku tak menyesal menyetujuimu pergi.”

Andaikan kamu tahu, sekarang aku yang menyesal. Walau aku yakin kamu tak akan menjelaskan padaku mengapa semua ini terjadi, tapi aku berfirasat akulah salah satu sebab kamu berada di sini. Tanpa masa depan yang jelas.

“Bagaimana denganmu?”

“Baik, kok.” Kamu mendekatkan wajahmu, membuat aku sadar jenggotmu mulai tumbuh. “Aku punya banyak teman, akhirnya. Banyak yang senasib denganku di sini.”

Sekarang, apa yang terjadi di antara kita jadi berbeda 180 derajat. Aku jadi pendengar yang baik, kamu bercerita. Kamu bilang, di sini ada yang kamu anggap ayah, ada yang kamu anggap kakak. Baru-baru ini ada narapidana baru yang tiga tahun lebih muda darimu, lalu kamu dan dia sudah akrab seperti saudara kandung. Kamu mudah berteman sekarang, kamu mengaku. Aku tak tahu semua itu benar atau tidak, tapi dari sorot matamu yang tak menyiratkan kesedihan membuatku merasa yakin semuanya benar. Sorot mata sendu yang dulu terakhir kulihat tak lagi ada.

Sendu.

Kalau diingat lagi, kamu sedikit tak rela aku pergi saat kamu mengantarku ke bandara sepuluh tahun lalu.

“Kamu benar baik-baik saja ‘kan?”

“Baik, kok. Sungguh. Buktinya, aku masih tampan ‘kan?”

Aku tertawa kecil, sekadar menghargai ucapanmu yang terlihat jelas berusaha mengalihkan pikiranku. Kamu memang masih seperti dulu, tapi kerutan-kerutan kecil di sekitar matamu membuatmu nampak lebih tua dari umurmu yang sebenarnya. Kamu menjalani beban hidup sendirian, membuatmu lelah. Itu yang ada di benakku saat ini.

“Kamu bahagia?”

Senyumanmu kini memudar. Ucapanku memaksamu berpikir. Sebentar kemudian, senyum bijaksanamu datang lagi. “Hm.”

“Bohong.”

Kamu menggeleng. “Tidak kok. Hidup sebenarnya tidak pernah memberikan kebahagiaan. Tinggal bagaimana cara kita mengolah kehidupan itu agar bahagia.”

Aku tak mengerti ucapanmu. Kamu mengacak rambutku gemas saat tahu ekspresi wajahku.

“Kamu bahagia?”

Aku ragu menjawab pertanyaanmu.

“Harusnya iya. Dulu kamu pernah bilang, kamu akan bahagia saat cita-citamu tercapai. Benar?”

Aku mengangguk. Kalau boleh jujur, aku malu pada diriku sendiri. Aku tak pernah mengingat satu kata pun yang pernah kamu ucapkan untukku, aju juga tak ingat aku pernah menanyakan cita-citamu.

Aku tak tahu apa aku pantas mendapatkan gelar ‘sahabat’ bagimu.

“Sekarang cita-citamu sudah tercapai ‘kan? Aku juga begitu..”

“Apa cita-citamu?”

Kamu baru saja membuka mulut untuk menjawab, tapi bel penanda waktu kunjungan berakhir sudah berbunyi. Kamu memberi tanda pada sipir untuk menambah sedikit saja waktu kunjunganku. Awalnya kupikir akan ditolak, tapi sipir itu langsung mengangguk.

“Hanya 5 menit.”

Kamu mengangguk, lalu menatapku lagi.

“Aku tak pernah dijenguk jika dibandingkan narapidana lain, jadi boleh ada penambahan waktu,” kamu menjawab pertanyaan yang tersimpan rapi di otakku. Kalau kamu bilang aku cerdas, menurutku kamu lebih cerdas.

“Aku tak sempat berdoa di tempat beribadah setelah ini. Aku boleh titip doa untuk Tuhan?”

Firasatku tak enak. “Apa?”

“Bilang pada-Nya, terima kasih sudah mengabulkan doaku. Terima kasih telah mewujudkan cita-citaku yang terakhir untuk bertemu denganmu.”

Aku hanya bisa bungkam. Terlebih saat kamu menghela napas berat, sama seperti yang kamu lakukan dulu sekali, setelah kamu mengucapkan namamu. Seperti bebanmu terangkat begitu saja.

“Jangan bercanda.”

Kamu menggeleng. “Maaf.”

Buat apa kamu minta maaf?

“Kita masih… bersahabat ‘kan?”

Harusnya aku yang menanyakan hal itu. Kamu tak tahu betapa sakitnya aku atas pertanyaan itu?! Aku tak menemanimu, aku tak menyadarkanmu akan hal baik dan buruk, benar atau salah… kamu jadi meringkuk di penjara selama 8 tahun.

“Kenapa?”

“Ya… entahlah, kenapa ya?” kamu masih mudah tertawa, sementara aku tak lagi bisa menipu perasaanku.

“Yang pasti…” kamu kembali berucap, “aku sudah bahagia. Akhirnya aku bertemu lagi denganmu. Aku pikir kamu sudah lupa.”

Hatiku tertohok. Jujur saja, kalau tunanganku tak memberitahukanku bahwa sekarang kamu meringkuk di penjara, aku tak akan mengingatmu. Betapa buruknya aku menjadi seorang sahabat. Melupakanmu begitu saja, sementara kamu masih berharap untuk bertemu denganku. Aku terlalu percaya pada ketegaranmu… aku terlalu yakin kamu akan baik-baik saja setelah terbiasa sendiri dalam waktu lama.

“Wendy…”

“Hm?” Aku mengernyit.

“Besok…”

Aku mohon jangan. Aku mohon apa yang ada di pikiranku salah…

“Eksekusiku.”

Masih 2 menit waktu yang tersisa, tapi aku masih bingung harus berkata apa. Perjumpaan kita yang singkat ini sangat memuakkan. Aku tak puas setelah bertahun-tahun lamanya kita berpisah dan kehilangan kontak, kita harus bertemu seperti ini. Baiklah, sedikitpun aku tak pernah merindu atas kehadiranmu, tapi…

“Aron…”

Kamu berjalan mundur sambil melambaikan tangan. “Selamat tinggal.”

“Masih dua menit dan kamu tak mau memberikan penjelasan padaku?!”

Kamu berhenti melangkah sebentar, lalu berujar, “Setiap orang punya privasi ‘kan?”

Aku tertawa mengejek, berharap harga dirimu tersentuh, lalu mengucapkan semua jawaban atas kebuntuan di pikiranku. Tapi tidak. Kamu tetap kukuh pada pendirianmu. Air mataku mengalir.

“Jangan menangis…” hanya itu yang kamu ucapkan, lagi-lagi sambil berjalan mundur. “Aku sudah bahagia kok, menjadi diriku sendiri. Aku juga bahagia, sahabat yang dulu meramaikan kehidupanku yang telah lama sepi akhirnya menemuiku, di hari terakhir aku hidup.”

Aku menangis tersedu-sedu, sementara kamu sudah menghilang dari balik pintu.

Kamu sebatang kara. Kamu tak punya orang tua. Kamu mati-matian hidup dengan menopang diri sendiri. Kamu pernah bilang begini saat aku menanyaimu tentang arti kehidupan,

“Hidup itu menyusahkan. Maka beruntunglah sperma-sperma yang gagal mencapai sel ovum.”

Saat itu aku tahu betapa hidupmu begitu menyedihkan. Saat aku mengetahui hal itu, aku berusaha membuatmu yakin, Tuhan selalu menyayangi setiap zat yang Ia ciptakan dengan cara yang berbeda. Aku mengajarimu bahwa hidup itu berwarna, aku mengajarimu hidup itu bermakna, tak sekadar susah dan senang… Aku mengajarimu banyak hal, hingga kamu akhirnya memiliki semangat hidup.

Persahabatan kita hanya dua tahun, kalau dipikir-pikir. Hanya sejak kamu mengucapkan namamu, sampai aku pergi meninggalkanmu dari bandara. Sepuluh tahun ini… aku tak pantas kauanggap sebagai sahabat. Aku membiarkanmu merana. Aku begitu menyedihkan. Memberimu banyak ungkapan-ungkapan tentang keindahan hidup, tapi meninggalkanmu. Pernah kubaca, perpisahan adalah salah satu hal yang membuat hidup jadi tak berwarna.

Aku tersangka utama yang membuat hidupmu lebih buruk dari sebelumnya.

“Wendy!!”

Kamu memanggilku dengan kepala yang menyembul dari pintu. Aku segera berdiri, mengharapkan sesuatu darimu yang akan menenangkanku. Baiklah, aku tak tahu diri.

“Aku…”

“Hm?”

“Doakan besok eksekusiku lancar ya!” Kamu masih tersenyum, padahal kamu tahu aku menangisi hidupmu yang sebenarnya kamu sendiri tak pernah ambil pusing.

“Selamat tinggal…”

Kamu mengucapkan kalimat itu lagi dengan mata berkaca-kaca, lalu pintu kembali tertutup rapat. Aku pikir, kamu hanya ingin balas dendam padaku.

Ya. Balas dendam.

Aku meninggalkanmu dengan penuh senyuman sepuluh tahun lalu, tanpa mau mengerti perasaanmu yang sebenarnya bagaimana. Sekarang, saat kita baru bertemu, kamu meninggalkanku dengan penuh senyuman, tanpa tahu bagaimana perasaanku sekarang.

Setelah ini, mungkin aku tak mampu lagi menemukan makna kebahagiaan atau kehidupan.

END

okeeyy… jangan menuntutku untuk buat sequel ya… biarkan privasi Aron tetap sebagai privasi… :”) dan lagi, cerita ini kan emang diambil dari sudut pandangnya Wendy, sementara karakter Aron sendiri kan emang tegar dan pendiam… tipe orang yang selalu berpegang teguh sama kalimat “Everyone has Secret” begitu ya… jadi ya beginilah ceritanya.

jadi di sini kubiarkan para pembaca untuk berimajinasi… apa alasan Aron jadi pembunuh bayaran (yah tapi belum tentu sesuai sama Aron-nya juga haghag) kenapa dia gak mau ngasih tahu ke Wendy… ya terserah deh para readers dapet misteri dari plot yang mana (?) yang pasti gak ada jawaban pasti dari fic ini xD /jahat

dan judul lain dari fic ini kan “Definition of Happiness” dan tadi udah kusinggung juga di fic ini soal kebahagiaan… jadi kalian boleh nyari juga Definisi kebahagiaan bagi Aron itu yang bagaimana😄 dan bagi kalian-kalian, kayaknya kalian bisa tahu sesuatu yang tersembunyi tapi nampak (apa sih Sa?) ya pokoknya ceritanya udah mainstream tapi sengaja aku sembunyikan… clue-nya sih, ini dari sudut pandang Wendy, bukan sudut pandangnya Aron… okay?

dan… review?

One thought on “[Ficlet] Breakeven

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s