[Ficlet] B for Bis


note

terinspirasi dari cerita Ayahku yang kemaren Senin kehilangan dompet (isinya dua juta betewe) sama handphone-nya di bis pas nyampek Pakusari… :”

Semoga Ayah tabah yah teman-teman

Inge baru sampai Jember pukul dua pagi. Dia berniat untuk berangkat lebih awal dari Jogja padahal. Dia juga berencana untuk naik kereta dari pada naik bis, dari Jogja ke Banyuwangi. Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dia memilih untuk naik bis.

Tapi dia tak menyangka harus terdampar di terminal pada jam yang rawan copet itu. Saat melihat bis terakhir berhenti, dia berpikir cukup lama. Bis itu sepi, hanya ada 11-12 penumpang di dalamnya. Bahkan 2 penumpangnya berhenti di sana.

Tapi kalau dia memberatkan firasatnya dan memilih untuk menunggu bis lain, maka dia tak akan sampai ke rumah dan segera tidur—hal yang sangat dia inginkan setelah seharian penuh fisiknya dilelahkan oleh kendaraan-kendaraan umum.

Inge membulatkan tekad untuk naik.

Baru saja pantatnya menempel pada kursi dalam bis yang dekat jendela, matanya terpejam. Beberapa kali kepalanya terantuk, lalu dia sadar dan kembali duduk tegap.

“Jangan tidur kalau sampai di Jember, apalagi Pakusari. Rawan.” Ayahnya mewanti-wanti saat menerima telepon dari putri sulungnya kemarin pagi. Wajar, sih. Ayahnya pernah kehilangan dompet, handphone dan—yang ini sungguh absurd—sikat gigi yang baru saja dia beli di minimarket.

Tapi rasa kantuk Inge tak tertahankan. Matanya kembali terpejam, lalu 3 menit kemudian, matanya harus terbuka.

Dia merasakan tangan jahil meraba saku belakang celananya. Dia bergegas menggenggam tangan orang di sampingnya. Orang itu diam sambil menodongkan pisau.

Inge malah tersenyum, lalu menampik pelan tangan orang itu. Setelahnya, dia mengambil dompetnya.

“Dari Pakusari ke Genteng berapa tarifnya, pak?”

Orang itu hanya mengernyit. Karena tak ada jawaban, Inge mengambil selembar uang lima puluh ribu, KTP dan Kartu Mahasiswa-nya, lalu memberikan dompet itu pada orang di sampingnya.

“Buat Bapak aja, semuanya. Asalkan bapak janji untuk nggak mencuri lagi…”

Inge memeluk tas punggungnya erat, berusaha menjaga laptop-nya agar tak menjadi sasarapn pencurian selanjutnya. Dia juga memasukkan handphone dan selembar uang lima puluh ribu terakhirnya ke saku jaket di sisi lain.

“Kasihan keluarga Bapak…”

Inge kembali menutup matanya—memuaskan rasa kantuknya.

“…dapat makan dari uang haram.”

One thought on “[Ficlet] B for Bis

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s