[Nightmare Maker] Tanatophobia


tanatophobia

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

Grey Zone

Vignette (2.732 W) | AU!, Horror, Supernatural, Friendship, Thriller | PG +17

Starring by :

Red Velvet’s Wendy. AOA’s Seolhyun & VIXX’s Hyuk

Nightmare Maker Series

Inveartible / Keep Your Light On / Mine / Saxophone / The Secret [ 1 | 2 ] / Something / Voodoo Doll / Good bye bye / Grey Zone

Seolhyun menodongkan pisau pada Wendy, membuat sahabatnya itu menangis tak karuan sambil bergerak mundur dengan kedua tangannya di lantai. Seolhyun menyeringai lagi saat darah di kening Wendy mengucur semakin deras.

“Seolhyun…”

“Kalau mau minta maaf, terlambat…” desis Seolhyun. Amarahnya sudah sampai pada level tertinggi, tak akan ada yang mampu mengendalikan amarahnya saat ini. Seolhyun bukan orang yang mudah tega pada orang lain, tapi jika dia terluka batinnya, maka tak akan ada toleransi.

Kepala Wendy sudah jadi korbannya. Seolhyun membenturkan ujung sapu pel dengan kekuatan tinggi pada kepala Wendy beberapa menit lalu.

“Aku tak bermaksud… aku tak ada maksud…”

“Omong kosong…”

Dan pisau dapur telah menancap di dada kiri Wendy. Dia membuka mulutnya demi menahan rasa sakit, lalu tubuhnya tergeletak begitu saja saat Seolhyun memperdalam tusukannya. Seolhyun berteriak sambil berkali-kali mengucapkan sumpah serapahnya pada Wendy.

“Brengsek!”

“Gadis murahan!”

“Kau masih bisa menyebutku sahabat??!!”

Dia mencabut pisau itu dengan kasar, lalu menusuk bagian tubuh Wendy yang lain. Lebih keras lagi dia menghujamkan pisaunya, tertawa sambil menangis. Dia begitu senang melihat Wendy menderita, tapi dia juga kesal pada Wendy atas hal yang harusnya tak perlu Wendy lakukan.

Handphone Seolhyun berdering beberapa menit kemudian.

Han Sanghyuk.

Seolhyun mengernyit, lalu mengabaikan panggilan teleponnya. Dia berniat untuk menyiksa Wendy sekali lagi, tapi ternyata, Wendy sudah tak bernyawa. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka sedikit, tanda bahwa beberapa waktu sebelumnya dia begitu kesulitan mempertahankan hidup, juga begitu kewalahan untuk mencegah sang malaikat maut mencabut nyawanya.

Seolhyun mencabut pisau yang kala itu menancap di leher Wendy, lalu berlari ke luar rumah dan membuang pintu sejauh mungkin.

“Sial…”

tanatophobia

 

Wendy takut kematian. Hari ini dia menelponku (lagi), menyuruhku datang ke rumahnya, segera. Karena itu kini aku mengendarai mobil indigo-ku. Aku menggerutu kecil, tapi sedikit rasa khawatir juga mengiringi. Untuk mengalihkan rasa khawatir itu, aku menebak-nebak apa yang terjadi padanya, lalu mendengarkan radio di mobilku demi menenangkan pikiran.

Aku berpikir, yang dia lakukan padaku pagi ini—menelponku pagi-pagi lalu berteriak, “Seolhyun, cepat kemari! Selamatkan aku dari kematian!”—hanyalah wujud nyata lain dari phobianya. Baiklah, kuakui aku juga takut mati. Itu manusiawi ‘kan? Banyak dari kita—manusia—membenci takdir yang memilih kita untuk hidup, tapi kita juga takut merasakan sakit yang menghujam tubuh saat malaikat maut menarik nyawa kita.

Tapi dia lebih parah. Baru-baru ini, aku sampai memakai sepatu di kaki kanan dan telanjang kaki di kiri. Pintu rumahnya kuketuk dengan tergesa-gesa, lalu dia keluar dengan jaket tebal yang bertumpuk-tumpuk di badannya.

“Demamku tidak turun seminggu ini. Aku takut…”

Salah satu asumsiku, kali ini dia akan mengeluhkan demamnya lagi. Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu, jadi akan aneh baginya kalau dia masih demam. Tapi aku tak ambil pusing. Dokter bilang dia punya thypus dan saat itu penyakit itu kambuh. Aku tahu thypus memakan waktu lama untuk proses penyembuhannya, tergantung sistem imun masing-masing orang. Sahabatku yang satu ini lemah sekali, jadi aku yakin penyembuhannya memakan waktu lama.

Sekarang aku sudah memencet bel rumahnya sambil menggelembungkan permen karet. Tak sampai 10 detik, Wendy membukakan pintu seolah dia telah menunggu kedatanganku di dekat pintu.

Aku mengernyit. Bibirnya bergetar hebat, tapi kulitnya tak pucar. Saat kusentuh keningnya, sudah tak terasa panas.

“Demammu sudah turun, Wendy…” Aku memutar kedua bola mataku, merasa kehadiranku tak ada artinya. “Kau takut apa lagi?”

Wendy mengitarkan pandangan ke sekitarku, seolah menelisik sesuatu. Saat dia tak menemukan kejanggalan, dia menarikku ke dalam rumah dan menutup pintu dengan kasar.

“Sini…”

Aku menuruti derap langkahnya sambil bertanya-tanya dalam hati. Phobia-nya kali ini sedikit lebih parah dari sebelumnya karena sejauh ini, aku tak menemukan satu alasanpun yang cocok menjadi pusat ketakutakknya.

Lamunanku buyar saat dia tiba-tiba berhenti. Dia menunjuk ke satu objek di luar jendela dapur. Pusat rasa takutnya. Aku menelan ludahku susah payah.

Sekarang aku tahu ketakutannya kali ini satu-satunya yang wajar.

“Burung gagak itu…”

Iya. Tatapan mata burung itu pun tajam mengawasi kami berdua, seolah menunggu kematian dari kami.

tanatophobia

 

Malam ini aku menemani Wendy di ruang tengah. Dia mati-matian memintaku untuk menginap, menemaninya sampai burung gagak itu pergi, katanya. Dia pikir, jika ada aku, maka sang malaikat maut yang tengah mengintainya—sosok yang tak pernah jauh dari kematian dan burung gagak—tak akan berani mencabut nyawanya.

Padahal aku tak mempersiapkan apapun untuk menginap di rumahnya, tapi dia tetap memaksaku dan berjanji akan meminjamkan semua pakaiannya untukku. Bahkan kalau perlu, dia akan membelikanku baju baru.

Aku tak terlalu peduli soal pakaian yang akan dia pinjamkan untukku, tapi kalau dibelikan yang baru, aku mau. Dia tertawa saat aku mengatakannya, tapi tanpa banyak bicara, dia mengangguk mengiyakan. Teman seperti Wendy dengan phobianya memang menakutkan, tapi kalau aku ingat betapa dia sering membantuku dalam kesulitan, aku juga enggan melepaskan.

“Kau begitu menyukai kehidupan, ya?” ucapku memecah keheningan, sekaligus mencegah air mata Wendy mengalir karena alur cerita drama yang kami tonton di televisi LCD-nya. Aku menonton drama itu setengah hati, jadi aku tak tahu apa yang harus ditangisi dari drama seperti itu.

“Tidak juga,” jawab Wendy, lalu mengecilkan volume suara televisi. “Aku malah tak ingin hidup.”

Aku mengernyit. “Tak ingin hidup?” kemudian aku menahan tawa. Gadis yang berteriak histeris hanya karena cipratan air di busway seperti dia malah tak ingin hidup? Yang benar saja!

“Aku tak pernah hidup dengan tenang, Seolhyun. Aku takut apapun. Aku tak pernah berani pada apapun, siapapun…”

Wendy awalnya tersenyum saat menatapku. Tapi wajahnya memucat beberapa sekon kemudian. Matanya membulat melihat sesuatu di belakangku. Aku menoleh. Tak ada apapun.

“Bahkan aku juga takut padamu, Seolhyun.”

Aku tertawa kaku sambil menyentuh tengkukku, berusaha menidurkan bulu romaku yang meremang. Kali ini aku juga ketakutan.

tanatophobia

 

Seolhyun berlari sejauh mungkin dengan kemejanya yang sudah ternodai oleh darah. Air matanya mengalir. Bukan wujud dari rasa bersalah, tapi lebih ke rasa benci. Apa yang dia lakukan kali ini merupakan pilihannya untuk menjauh sejauh mungkin daripada mengakui kesalahannya.

“Orang yang membunuh orang lain tak lagi memiliki hak hidup.”

Dia ingat betul, kekasihnya—Han Sanghyuk—pernah mengatakannya saat mereka melihat berita pembunuhan di televisi.

Tapi Seolhyun masih belum ingin mati. Dia yakin dia masih memiliki hak untuk hidup. Toh, dia membunuh pengkhianat ‘kan?

“Aku bukan pembunuh… aku bukan pembunuh…”

tanatophobia

 

Kali ini aku tengah memotong-motong wortel untuk membuat sayur makan malamku dengan Wendy, sementara gadis penakut itu kini sedang mandi. Dia bilang padaku, beberapa hari ini—sejak sang gagak bertengger di pohon oaknya—dia tak mandi. Dia takut dia akan terpeleset, atau mungkin tersengat listrik saat memasuki bathtub, mungkin juga dia akan terlilit selang shower-nya. Dia takut saat dia butuh pertolongan, tak ada yang menghampirinya. Bahkan beberapa hari ini dia memesan makanan cepat saji yang diantar ke rumahnya. Dia takut kecelakaan. Dia takut terjadi kebakaran saat dia menyalakan kompor. Dia takut adanya pendarahan hebat jika dia tak sengaja memotong jari telunjuknya.

Dia selalu punya pikiran yang jauh di depan semua orang tentang kematian. Itu definisi utama seorang Son Wendy.

“Seolhyun?”

Hmh??!” balasku sedikit kesal. Rintik shower menyentuh indra pendengaranku, memaksaku tahu bahwa kini dia lebih suka membuang air. Berani bertaruh, dia sendiri merasa jijik atas tubuhnya yang berhari-hari tak terbasuh oleh sabun.

“Kau masih di sana ‘kan?”

“Kalau aku tak di sini, mana mungkin aku membalas panggilanmu?! Bodoh!”

“Seolhyun masih di sana ‘kan?” ulangnya lagi. Aku berdecak kesal.

“Kau tidak membawa Dewa Kematian ke rumah ‘kan?”

Kali ini aku bungkam, tak merespons ucapannya dengan gestur kekesalan. Kali ini aku paham kenapa raut wajahnya tadi sempat berubah saat menatapku. Mungkin dia menatap sesosok misterius di belakangku… lalu…

“Burung gagak itu semakin dekat…”

Aku sendiri merasakannya. Aku kembali melihat ke luar jendela dapur dan aku tak menemukan burung itu. Mungkin kali ini dia hinggap di pepohonan yang rantingnya menjalar ke dekat kamar mandi, jadi dia mampu mengatakannya.

Tapi ketakutannya tidak wajar, sungguh. Aku? Membawa Dewa Kematian? Tidak mungkin ‘kan? Memang aku punya alasan untuk membunuh?

tanatophobia

 

Seolhyun berlari sekencang mungkin ketika sosok yang sangat dia takuti terperangkap dalam lensa matanya, seolah sosok itu memang sudah mengincarnya. Dekut burung gagak yang berhari-hari menghantui rumah Wendy kini terbang di belakangnya, seolah memang menantikan kematian Seolhyun malam itu. Dia menangis sekeras-kerasnya, berusaha meminta tolong. Dia tak mampu meneriakkan kata tolong, karena dia sendiri seorang pembunuh.

Dia juga takut mati di tangan orang lain.

Saking takutnya Seolhyun, dia tak menyadari ada sosok lain yang mengawasinya dari kejauhan, duduk diam di bangku kemudi mobil Porsche hitam dengan pandangan mata yang tak mampu ditelisik maknanya. Berjuta rasa terpendam di sana, penyesalan, keraguan…

Amarah.

tanatophobia

 

Aku menata meja makan setelah percakapan kami berakhir menggantung. Aku bersenandung kecil, sementara Wendy masih betah di kamar mandi. Sepertinya perkiraanku benar, dia benar-benar jijik dengan tubuhnya yang lengket karena keringat. Saat aku memeluknya yang tadi sempat menangis sesengukan pun, aku hanya menahan napas agar bau kecut di tubuhnya tak terhirup lebih dalam lagi.

Tapi Wendy masih pintar menurutku. Setidaknya dia harus mandi agar Dewa Kematian mencabut nyawanya dengan senang hati—kalau perlu sambil membunyikan harpa—daripada menggerutu habis-habisan karena bau tubuhnya yang menyengat ‘kan?

Eh?

Aku menggeleng pelan. Bagaimana mungkin aku malah memikirkan lelucon tak waras itu?

Aku menggaruk tengkukku lagi. Hawa dingin kembali menggerayangi bulu romaku. Beberapa saat kemudian, aku mengalihkan rasa takutku dengan berkeliling sebentar, menunggu Wendy selesai mandi lalu makan malam bersama.

tanatophobia

 

Kaki telanjangnya masih belum berhenti membelah jalanan malam itu, berharap sosok kegelapan di matanya lekas pergi. Tapi harapan hanya sekedar harapan bagi Seolhyun malam itu.

Kali ini dia sadar mengapa Wendy begitu takut pada kematian. Dia mampu merasakan ketakutan itu menjalar begitu dalam hingga ke ruang hampa dalam tubuhnya, bermikr-mikro meter dalamnya.

Tanatophobia dalam diri Wendy kini hinggap pada Seolhyun ketika si pemilik asli sudah terbang nun jauh menyusuri kegelapan malam bersama Dewa Kematian. Si pembunuh yang sudah menyalahi aturan kematian—Wendy tak ditakdirkan untuk mati di tangannya—harus merasakannya sebelum dia mati. Wujud dari kemarahan sang Dewa Kematian.

“Kenapa kau membunuh Wendy?”

Kali ini sosok hitam yang dari tadi membuatnya takut berdiri di hadapannya, menghentikan langkahnya. Seolhyun terperangah.

“Sanghyuk?”

Seolhyun berjalan mundur… kemudian kembali berlari ke arah lain. Sanghyuk hanya diam, lalu berjalan ke arah lain setelah memperhatikan gelagat Seolhyun.

tanatophobia

 

Aku terkekeh pelan begitu berhasil memasuki kamar Wendy. Sejak 3 tahun lalu, dia selalu memintaku menemaninya tidur di rumahnya—yah, apalagi kalau bukan pengalihan dari wujud phobianya?—tapi dia tak pernah mengizinkanku menjamah kamar tidurnya. Kami saling kenal sejak 10 tahun lalu, kemudian menjadi dekat kira-kira 7 tahun lalu, setelahnya kami bersahabat kira-kira 5 tahun lalu. Tapi aku pikir, kami tak seakrab itu hingga mampu dibilang bersahabat.

Aku menghargai privasi, tapi rahasia di antara kami, kalau dipikir lebih dalam lagi, sepertinya terlalu banyak. Memang tak semuanya bisa diungkapkan pada seorang sahabat, tapi aku hanya merasa semua yang dia sembunyikan bukanlah hal yang… baik?

Aku mengitarkan pandanganku pada kamarnya yang luas. Aku menemukan beberapa perabotan kamar begitu biru. Aku tahu dia pecinta berat warna biru. Bahkan kalau diingat lagi, hampir keseluruhan baju yang pernah dia kenakan berwarna biru. Aku tersenyum kecil saat tahu selera interiornya masih seperti anak kecil.

Kemudian aku berhenti melangkahkan kaki lebih dalam lagi saat aku menemukan salah satu foto yang terpajang di dinding kamarnya. Senyumku memudar.

“Seolhyun!”

Aku menoleh, lalu mendapati Wendy berpegangan oleh daun pintu—mungkin tadi dia hampir terpeleset. Dia terlihat habis berlari tergesa-gesa begitu mendapati pintu kamarnya terbuka.

“Apa ini?” tanyaku sambil mencabut figura di dinding dan memperlihatkannya pada Wendy. Dia menatapku waspada.

“Seolhyun…”

Aku melemparkan figura itu ke arahnya hingga pecah. Dia sedikit berjingkat menghindari pecahan kaca sambil berteriak histeris.

Dia begitu mudah menangis.

“Sejak kapan?!”

Dia menggigit bibirnya sambil berjalan mundur. Sesaat kemudian dia berlari menjauh, membuat amarahku semakin memuncak.

Sejak kapan dia berpacaran dengan Sanghyuk?

Anggap saja aku berprasangka buruk hanya karena foto mereka yang tersenyum lebar dengan pipi bertautan. Bisa saja mereka berdua bersaudara, awalnya aku berpikir seperti itu.

Tapi masuk akalkah jika di bawah foto itu ada keterangan yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar sepasang kekasih? Semacam…

Ulang tahun ke 21 Sanghyuk-ku~~

tanatophobia

 

Wendy berada di dalam gudang. Dia mengunci gudang dari dalam, tapi aku tahu kenapa dia ada di sana. Langkah kakinya yang masih basah oleh sisa-sisa sabun menuntunku. Aku bergegas merusak pintu gudang dengan sapu pel yang berada di samping pintu.

Sahabat? Memuakkan.

Aku tak akan semarah ini jika yang terjadi hanya sekadar Wendy berpacaran dengan Sanghyuk, bermakna Sanghyuk berselingkuh di belakangku. Aku marah karena ternyata Sanghyuk mengenal Wendy terlebih dulu, mencintai Wendy terlebih dulu, berpacaran dengan Wendy terlebih dulu.

Tanggal di sudut foto menjelaskan semuanya. Itu tanggal sebelum aku bertemu dengan Sanghyuk.

Apa yang mereka rencanakan? Harta? Aku sama sekali tak memiliki apapun jika dibandingkan dengan Wendy.

Begitu lubang di pintu tercipta, aku bergegas masuk. Tak peduli aku pada goresan-goresan di tanganku akibat ketergesaanku memasuki ruangan. Kulihat Wendy tengah meringkuk ketakutan di antara kursi kayu yang telah lama usang.

“Seolhyun… maaf…”

Aku menghantamkan ujung sapu pel yang tadi kupegang ke kepala Wendy. Dia mengaduh, lalu merebut benda itu dan melemparkannya jauh ke sudut ruangan.

“Aku tak bermaksud untuk mengkhianatimu…”

“Kau ingin aku jadi peran antagonis dalam drama kehidupanmu… iya ‘kan?”

Dia menggeleng kuat, lalu mendorongku hingga jatuh tersungkur. Aku meringis kesakitan saat tulang ekorku menghantam sudut kursi. Saat itu Wendy menatapku khawatir, tapi dia lebih sayang nyawanya. Dia berlari menjauh, kembali mencari tempat yang aman baginya.

tanatophobia

 

Salah jika saat itu Wendy memilih dapur untuk tempat persembunyiannya. Nyatanya, Seolhyun berhasil menemukannya, lalu menggunakan pisau dapur untuk membunuh Wendy tanpa Wendy sempat menjelaskan maksudnya.

Wendy terlalu takut akan kematian, jadi dia tak mampu berpikir tenang saat Seolhyun kalap. Dia hanya mampu menangis.

“Seolhyun…”

Seolhyun kembali menerima bisikan-bisikan yang semakin lama seperti gelegar halilintar baginya. Dia berharap pagi segera datang. Dia juga berharap langkah kakinya kini menuntunnya untuk kembali ke rumahnya, karena jelas saja, dia tak tahu ada di mana dia sekarang. Dia berlari terlalu jauh dari rumah Wendy, melupakan semua hal duniawi yang menyilaukan kehidupannya barang sejenak.

Termasuk Sanghyuk.

Kali ini dia paham mengapa takut kematian juga perlu. Setidaknya mereka-mereka yang takut akan kematian jadi memikirkan hal-hal yang lebih bermakna dari hal-hal duniawi. Mereka akan selalu waspada, jadi jika Dewa Kematian datang, mereka memang takut. Tapi tak terlalu takut.

Mereka sudah terbiasa takut.

Sementara Seolhyun? Dia terlalu sering meremehkan kematian.

Dan kini dia tahu rasa.

“Wendy membiarkanmu menjalin hubungan dengan Sanghyuk, karena dia tak mau kau terluka…”

Seolhyun menghentikan langkahnya. Dia menggigit jari-jemarinya, memutar badannya dan mencari sosok yang mengatakan kebenaran itu padanya.

“Dia takut rasa sakit yang dirasakan ketika mati. Tapi dia juga takut jika dia mati tanpa mampu membuatmu bahagia terlebih dulu…”

Air mata Seolhyun mengalir. Kemudian kakinya lemas. Dia memeluk dirinya sendiri sambil menangisi kematian Wendy di tangannya. Kali ini dia merasakan penyesalan yang begitu kental dalam dadanya.

Dia merasakan takut akan kematian sendirian. Tanpa seorang teman yang mampu mengalihkan pikirannya dari rasa takut itu.

Sosok yang dari tadi mengintai keberadaan Seolhyun kini menghela napas, wujud kepuasannya. Dia mengangkat salah satu ujung bibirnya, lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Sosok itu benci pada Seolhyun. Wendy harusnya mati di tangannya dua hari lagi dengan cara yang lebih manis. Wendy begitu takut pada kematian, tapi kematiannya itu secara tidak langsung membuatnya begitu dekat dengan Dewa Kematian. Tiap detik dalam hidupnya, Wendy selalu berdoa pada Dewa Kematian, seolah hidupnya akan berakhir detik itu juga.

Wendy orang yang baik. Saat Dewa Kematian menerima daftar kematian, ia begitu senang saat harus menjemput seorang Wendy. Ia sudah merencanakan akhir kehidupan yang sempurna bagi Wendy—menikmati pemandangan alam yang indah di Jeju, lalu memejamkan mata sambil mengembuskan napas terakhirnya saat melihat matahari terbenam. Klise memang, tapi sang Dewa Kematian begitu menyukai akhir yang bahagia bagi Wendy.

Dan Seolhyun merusak semuanya.

Seolhyun mengerjapkan matanya saat dia merasakan ada satu cahaya di depannya. Ketika dia menghabiskan waktu berlalu untuk berpikir, matanya terbelalak ketika dia menangkap siluet yang begitu mengerikan baginya. Dia bergegas untuk berdiri dan—

BUM!!

Tubuhnya tergeletak di aspal jalanan. Kini darahnya yang mengucur melewati pori-pori mulai berbau anyir.

Sosok itu turun dari mobil dan memperhatikan tubuh Seolhyun yang masih kesulitan mengatur napas.

“S-Sang…hyuk?”

Sanghyuk melepaskan jaket kulitnya demi menutupi tubuh Seolhyun. Bagaimanapun Sanghyuk masih berstatus sebagai kekasih Seolhyun, jadi dia tak ingin gadis itu mati kedinginan.

Seolhyun ingin mengucapkan pertanyaan terakhirnya, tapi perlahan, rasa sakit yang menggerogoti tubuh membuatnya tak mampu berucap apapun. Dia dipaksa bungkam.

Tak lama kemudian, Sanghyuk menyunggingkan senyuman. Dia mengucapkan beberapa kata sebagai jawaban atas pertanyaan Seolhyun yang belum sempat diucapkan,

“Iya. Aku wujud nyata dari kematian itu.”

Saat Sanghyuk berdiri, seekor burung gagak hinggap di pundaknya. Mereka kembali menjelajah ruang dan waktu, mencari nyawa-nyawa berikutnya yang harus mereka renggut.

 

tanatophobia

okeyyy… balik lagi dengan Nightmare Maker. :” to be honest, cerita ini terinspirasi dari cara berpikirku yang kadang terlalu jauh gitu. aku pernah kepeleset di kamar mandi, terus aku selamat ya (ya iyalah ya) tapi di pikiranku pas aku kepeleset itu, kepalaku kejedot tembok, berdarah, terus aku… ya lanjutkan sendiri ._.v tapi bukan berarti aku takut kematian juga… maksudnya yang nyampek phobia gitu lho… aku emang berpikiran terlalu jauh, tapi cuma having fun aja (?)

dan yah… review ya? soal cover, maaf ya kalo jelek. aku gak ngedit di laptop biasanya soalnya T_T

dan maaf kalo ada typo… alasannya sama, ini bukan laptop yang biasa aku pake huhu T_T

2 thoughts on “[Nightmare Maker] Tanatophobia

  1. Keren keren keren! Tapi rada bingung deh😮
    Apa sanghyuk itu juga ngerencanain pembunuhan ke wendy? Atau dia cuman dendam sama seolhyun? Apa tanatophobia artinya emang phobia terhadap kematian ?😮
    Hehe.. Tp seluruhnya COOL!

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s