[Ficlet] Not Too Romantic


not too romantic

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

Not Too Romantic

Ficlet (1.202 W) | AU!, Romance, Life, Fluff | Teen

Starring by :

OC’s Miyoung & Nu’est’s Minhyun

Sudah 3 halaman sketchbook terjamah oleh pensilnya yang tinggal sepanjang telunjuknya. Berarti sudah satu setengah jam ia berada di sudut cafe, menunggu seseorang yang bahkan sol sepatunya tak terlihat di matanya. Ia mengabaikan keterlambatan orang itu awalnya, tapi lama kelamaan ia bosan. Gadis itu sempat berpikiran untuk meninggalkan tempat itu, mengirimkan pesan pada si lelaki bahwa ia bosan menunggu. Tapi kata hatinya terlalu kuat mencegah. Yang ia dengar dari si hati yang selalu bijak, hal itu malah membuat ia menjauh dari keberuntungan.

Saat ini Jum’at malam. Ia pernah iseng membaca rubrik horoskop yang meramal hari baiknya ada di antara Jum’at malam sampai Sabtu pagi. Khusus untuk Capricorn. Dia tak pernah memercayai ramalan dalam bentuk apapun, makanya ia berprasangka buruk bahwa apa yang tertuliskan di sana salah. Harusnya hari buruk, bukan hari baik.

Lagi-lagi, ia melihat jam tangan digitalnya. Pukul sembilan lebih tiga belas menit.

Angka tiga belas bukan angka baik, pikirnya.

Gadis itu tak pernah percaya tahayul, dia hanya percaya Tuhan dan kuasa-Nya. Tapi proses ‘menunggu’ mau tak mau membuatnya berpikir aneh-aneh. Itu manusiawi.

“Miyoung!”

Ia mengangkat kepalanya, lalu helaan napas mengikuti gerakan matanya yang menelusuri gerak-gerik sang lelaki yang baru saja datang. Penantiannya berakhir sudah. Ia bergegas menutup sketchbook biru di depannya.

“Macet…” ungkap si lelaki dengan name tag di dada bertuliskan ‘Hwang Minhyun’. Miyoung hanya mengangguk memaklumi, lalu mengalihkan pandangannya ke luar cafe melalui dinding kaca di sampingnya. Lalu lintas memang sedang ramai.

“Kamu nggak marah ‘kan?”

Miyoung mengernyit. “Buat apa? Toh, kamu sudah di sini.”

Minhyun tersenyum. Bisa dibilang, hubungan mereka memang berawal karena Minhyun menyukai sifat Miyoung yang tak pernah menganggap serius suatu masalah. Kekasih-kekasihnya sebelum Miyoung belum ada yang seperti dia. Satu keberuntungan bagi Minhyun.

Hari itu hari ulang tahun Minhyun, Miyoung sangat ingat. Sketchbook di depannya hanyalah kado yang mampu ia berikan pada Minhyun, di saat teman-temannya yang lain bahkan mampu memberikan mobil. Tapi Miyoung cukup percaya diri sketchbook itu—sketchbook yang Minhyun belikan saat mereka baru lulus SMA—bisa jadi hadiah paling istimewa bagi Minhyun.

Nih.”

Minhyun menerima sketchbook itu dengan berbagai pertanyaan. Dia masih ingat, tiap hari Miyoung hanya meracau menginginkan sketchbook saat mereka SMA. Dan setelah enam tahun berlalu, Miyoung mengembalikan sketchbook itu padanya? Apa Miyoung tak salah?

“Buka,” Miyoung memberikan titah, dan Minhyun menuruti. Senyumnya mengembang saat membuka halaman pertama. Ada beberapa goresan pensil warna, duplikat dari kembang api yang biasa diperlihatkan saat tahun baru.

Selamat ulang tahun, itu tulisan utama di sana.

Ketika Minhyun membuka lembar demi lembar, senyumnya semakin lebar. Gambar dirinya begitu mirip, berbagai pose.

“Sebenarnya aku ingin memberikan sketchbook itu padamu, satu tahun setelah kamu belikan. Tapi ternyata, aku nggak memiliki banyak waktu luang untuk menyelesaikan proyek spesial itu.”

“Proyek spesial?” Minhyun masih mengagumi goresan tangan Miyoung sambil tersenyum.

Miyoung mengangguk. “Maaf ya, enam tahun ini aku nggak memberikan kado spesial untuk kamu, padahal kamu sudah memberikan banyak kado saat aku ulang tahun.”

Minhyun menutup sketchbook itu, lalu tersenyum nakal. “Permintaan maaf ditolak.”

Miyoung membelalakkan matanya, sementara Minhyun mengabaikan gestur ketidak terimaan itu.

“Aku yang mengajak kita bertemu di sini, jadi aku yang punya kepentingan utama.”

Miyoung semakin tak mengerti. “Jadi, kamu mengajak kita ke sini bukan untuk merayakan ulang tahunmu?”

“Lelaki nggak begitu menyukai hal remeh-temeh seperti itu,” kali ini Minhyun menggerakkan tubuh bagian atasnya mendekat ke tengah meja, lalu menautkan ke dua tangannya. “Kita di sini untuk hal lain.”

Si gadis hanya mengangkat sebelah alisnya, menciptakan alibi bahwa ia tak begitu acuh. Padahal di dalam hatinya berdebar-debar tanpa alasan yang jelas.

“Aku akan melamarmu hari ini juga.”

Miyoung bingung di antara dua hal yang harus ia lakukan: diam atau tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa Minhyun memulai apa yang ingin ia lakukan dengan cara yang—kau tahu—tidak begitu normal untuk proses pelamaran?

Nggak apa-apa kalau kamu mau tertawa. Baru setelah kamu tertawa, aku akan meneruskannya.”

Tawa Miyoung akhirnya lepas juga melihat keseriusan Minhyun. Bukan berarti Minhyun tak pernah serius sebelumnya—sering malah, tapi… kali ini rasanya beda. Miyoung sendiri bingung menertawakan apa. Tapi Minhyun malah tahu.

Miyoung selalu geli saat seseorang bersikap romantis.

“Aduh… aduh…” Miyoung memegang perutnya yang kaku karena tertawa berlebihan.

“Sudah selesai?” Minhyun tersenyum. Jika sebelumnya ia lebih mudah tersinggung, sekarang ia lebih mendingan. Miyoung orang yang apa adanya dan tak banyak orang yang memahami itu. Kalau bukan Minhyun yang berusaha memahaminya, lantas siapa?

Miyoung hanya mengangguk.

“Oke,” sekali lagi Minhyun membenarkan posisi duduknya, “di sini poin utamanya.”

Miyoung kembali menatap mata Minhyun.

“Aku hanya ingin melakukan hal ini sesimpel mungkin, se-natural mungkin. Karena aku tahu kamu orang yang nggak begitu suka hal-hal romantis, tapi kamu juga kesal kalau kekasih kamu nggak romantis. Kamu suka hal-hal yang kalau dirasakan sekilas nggak romantis, tapi maknanya romantis.”

Miyoung mendalami makna kalimat Minhyun yang terlalu rumit untuk diucapkan. Tapi, ketika ia menyadarinya, apa yang Minhyun ucapkan benar juga. Miyoung tak mampu menyimpulkan bagaimana karakternya soal cinta, tapi Minhyun mampu.

Lucu.

“Jadi, aku memulainya dengan simpel seperti tadi. Aku bilang ‘aku ingin melamarmu malam ini’, jadi kamu bisa mempersiapkan diri untuk mendengar beberapa kata dariku yang, yeah, mungkin akan absurd untuk didengar.”

Miyoung mengangguk paham. “Lalu, kalimat utama apa yang ingin kamu ucapkan?”

“Simpel, tapi absurd,” Minhyun melanjutkan, “karena aku tahu kamu dan kamu tahu aku. Jadi nggak ada alasan untuk kamu menolak lamaranku.”

“Hanya itu? Sesimpel itu?”

Minhyun tersenyum puas, seolah itu yang sudah ia perkirakan sebelumnya. “Kalau aku melamarmu dengan memberikan beberapa kalimat pujian, aku yakin kamu akan menyuruhku berhenti sambil memegang tengkukmu. Kamu selalu merinding kalau aku memujimu, meskipun aku hanya bilang ‘kau cantik hari ini’.”

Air mata haru hampir mengaliri pipi Miyoung, tapi Miyoung masih bisa mengendalikan perasaannya. “Tapi fisikku lemah. Kamu tahu sendiri, aku mudah kena penyakit. Kamu juga tahu, kalau aku sudah sakit, biasanya butuh waktu lama untuk sembuh. Aku mudah merepotkan banyak orang.”

“Maka dari itu, cuma aku yang cocok untuk kamu,” Minhyun menggenggam tangan Miyoung. “Nggak ada laki-laki lain yang lebih baik dari aku.”

Miyoung bungkam. Taktik Minhyun kali ini memang dirasa berhasil. Miyoung akan menyuruh Minhyun berhenti jika misi kali ini Minhyun hanya melafalkan kelebihan-kelebihan Miyoung yang ujung-ujungnya hanya akan berakhir seperti,

“Hentikan Minhyun! Geli!!”

“Nah, sekarang… aku akan mengucapkan kalimat yang mungkin sering diucapkan banyak orang. Aku harap kamu mau mendengarnya.”

Miyoung menahan napas.

“Maukah kamu jadi pasanganku, melewati suka dan duka, membenarkanku ketika salah, mengingatkanku ketika aku lalai… menjadi ibu dari anak-anakku…”

“Ah…” air mata Miyoung sudah mengalir. Ia tertawa kecil saat ia merasa otot pipinya tertarik terlalu jauh dari tempatnya semula. Wajahnya ia benamkan pada permukaan meja demi menutupi rasa malunya. Minhyun pun menyambut tawa renyah itu dengan mengacak rambut Miyoung.

“Geli?” tanyanya.

Miyoung menjawabnya dengan menghentak-hentakkan kakinya berkali-kali. “Ah, padahal kamu tahu sekali aku alergi dengan hal-hal seperti itu…”

Minhyun tertawa, lalu mengangkat kedua bahu Miyoung, memaksanya untuk duduk dan kembali bertatapan. Wajah Miyoung jadi tertutupi beberapa helai rambutnya. Minhyun merapikannya, lalu meremas kedua pipi Miyoung.

“Yang bisa menyembuhkan alergimu itu juga cuma aku ‘kan?”

Miyoung tertawa mengejek karena rasa percaya diri Minhyun yang selalu berlebihan. Tapi tak dapat dipungkiri, hatinya menjawab iya.

“Jadi… apa jawabannya?”

Miyoung menghela napas panjang. Minhyun tahu, Miyoung selalu seperti itu. Kesulitan berbicara jika air matanya sudah terlanjur jatuh, mau dalam keadaan senang ataupun sedih. Tapi biarlah. Toh, Minhyun sudah tahu jawabannya.

“Aku anggap iya.”

Dan Miyoung hanya mampu mengangguk.

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s