[Nightmare Maker] Grey Zone


grey zone

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

Grey Zone

Oneshot (5.465 W) | AU!, Thriller, Romance, Psychology, Mystery, Surrealism, slight! Supernatural, slight! Horror | PG +17

Starring by :

BESTie’s Haeryung & BTS’s Jin

Nightmare Maker Series

Inveartible / Keep Your Light On / Mine / Saxophone / The Secret [ 1 | 2 ] / Something / Voodoo Doll / Good bye bye

I want you so much closer than this
But we are so much better
When we are not together

6th Prompter Fic

1st Sentence by Andri Valerian:

“Ketika aku melihat darah, adrenalinku langsung terpacu.”

note: yang di italic adalah flashback. Alur maju mundur, perhatikan baik-baik jalan ceritanya. dan yang gak tahan darah jangan baca ya.. -_-“

inspired by: Nell – Grey Zone, Leo x Lyn – Blossom Tears

1

.

.

“Ketika aku melihat darah, adrenalinku langsung terpacu.”

Dokter Kim tertawa saat mendengar kalimat pertama yang diucapkan Haeryung di pertemuan pertamanya. Psikolog seperti dirinya tentu sudah mempelajari berbagai macam penyakit jiwa—bahkan mungkin cacat jiwa—jadi dia pikir apa yang Haeryung ucapkan hanyalah satu kalimat penanda stres berlebihan akibat kehidupan. Dokter Kim menanyainya beberapa hal, lalu sedikit tersentak saat Haeryung mengakui semuanya.

“Aku ini pembunuh, dokter. Kalau ada yang tidak menyukaiku, tidak menghargaiku, tidak menganggapku ada, aku tak akan segan menaruh kepala mereka di depan pintu kamarku.”

Kali ini sang dokter hanya tersenyum kecil. Di benaknya masih ada sebersit pikiran positif kalau Haeryung hanya depresi berat. Terlebih saat Haeryung—dengan tidak sopannya—naik ke atas meja dokter, menatap genit dokter Kim, melepas stoking jaring-jaringnya, lalu memperlihatkan paha mulusnya. Tapi hanya sebatas itu.

Masalahnya, jika apa yang Haeryung katakan benar—dia adalah pembunuh—maka apa yang harus dia lakukan sebagai psikolog? Dia baru saja lulus—sebut saja dia dokter muda—dengan memperoleh cum laude di universitasnya. Bukannya dia tak mau menerima tantangan sebagai seorang psikolog muda, tapi masalah kejiwaan Haeryung—sekali lagi, jika dia benar-benar pembunuh—bukanlah suatu hal yang mudah ditangani.

Dia pikir masalah ini akan membawa dampak buruk baginya, cepat atau lambat.

“Memangnya, kau sudah membunuh berapa orang, sampai-sampai kau bisa menjuluki dirimu sendiri sebagai pembunuh?” akhirnya si dokter muda mulai menanyainya, lalu dia melepaskan jas putihnya untuk menutupi paha putih Haeryung. Haeryung tertawa kecil. Di matanya sang dokter begitu ‘sok’ suci atas tingkahnya.

“Dua puluh mungkin?” Haeryung kemudian berpikir. Tangannya bergerak liar membuka dua kancing atas kemeja putihnya, masih berniat menggoda dokter Kim.

“Dan semuanya…” Haeryung menarik ujung kalimatnya, seolah ingin menarik rasa penasaran dokter Kim. Sang dokter tahu maksudnya dan berniat menghargai gerak-gerik pasien pertamanya hari itu.

“Semuanya?”

“Laki-laki…”

Dokter Kim tertawa terbahak-bahak, bahkan perutnya sampai kaku karena sulit berhenti tertawa. Bukan tertawa karena ada yang lucu sebenarnya, lebih ke…

Ingin menutupi rasa takut yang membangkitkan bulu di sekujur tubuhnya.

“Apa alasanmu membunuh banyak orang? Apa kau tak pernah takut ditangkap polisi?”

“Polisi hanya menangkap orang yang tak punya uang. Orang yang bersalah, asal punya uang, pasti akan lolos.”

Dari situ dokter Kim mengambil kesimpulan: masa lalu Haeryung berpengaruh besar pada kepribadiannya saat ini. Tidak mungkin Haeryung bisa mengatakannya dengan penuh keyakinan kalau dia tidak mengalami pengalaman yang serupa.

Dalam fase ini, harusnya Haeryung dilaporkan ke polisi. Dokter Kim selaku psikolog yang baru saja lulus tak begitu mengikuti berita, terlebih menjelang skripsinya. Tapi, bisa jadi kasus pembunuhan yang Haeryung terlibat di dalamnya banyak diberitakan di media massa. Besar kemungkinan Haeryung adalah buronan.

Tapi, dokter Kim ingin melakukan pendekatan kepribadian lebih dalam lagi.

“Kapan pertama kali membunuh?”

Dokter Kim juga menyadari Haeryung berada di ambang batas kejiwaan yang sulit didefinisikan. Mungkin jika dia berhasil menangani kejiwaan Haeryung dengan baik—apalagi mampu membuatnya waras sehingga hukuman mati beralih menjadi hukuman dikurung seumur hidup—kasusnya yang satu ini bisa jadi bahan untuk tesisnya.

“Dulu sekali. Tahun 2007…”

Dokter Kim mengernyit. Dia membetulkan kembali kacamata yang hanya dia gunakan saat membaca, lalu menatap Haeryung lagi. “Tiga belas tahun?”

Haeryung mengangguk sambil menyeringai.

.

.

“ARGGHH!!”

“ARGHHH!!”

Haeryung menangis di dalam lemari. Dari celah-celah pint, dia melihat tubuh renta ibunya ditendang berkali-kali oleh rentenir yang menagih bayaran rumah kontrakan mereka. Ayahnya sudah lama pergi, dua bulan sebelum dia lahir. Sudah pasti tak ada sosok pahlawan yang mampu melindungi mereka berdua. Saat si rentenir datang, ibunya langsung menyuruhnya bersembunyi, takut anaknya juga menjadi korban.

Tapi lama kelamaan, adegan di depannya semakin mengerikan. Ibunya sudah terlalu lemah untuk melawan, dan dia terus-terusan berdalih, dia tak punya uang. Haeryung menatap rentenir bertubuh kekar di depannya dengan seksama.

Haeryung terkejut.

Ternyata pamannya sendiri, adik kandung Ayahnya.

“Salah sendiri, kau lebih memilih kakakku yang pengangguran! Kau harusnya bahagia jika menikah denganku!!”

Dan darah mencuat dari dada ibunya. Haeryung berteriak histeris saat melihat ibunya tak lagi bergerak. Sang paman terkejut, lalu dengan gusarnya membuka pintu lemari dan menemukan Haeryung meringkuk di sana.

“Anak kecil sialan!!” dia bergegas mengayunkan pisau di tangannya ke arah Haeryung, berusaha menghilangkan saksi yang nantinya akan membuatnya membusuk ke dalam penjara. Tapi Haeryung tak selemah yang dia kira. Haeryung menendang pusarnya, membuat dia sedikit mengerang.

Tak berhenti di situ juga, lelaki garang itu masih berniat menghunuskan pisau dapurnya pada leher haeryung. Haeryung menggigit tangan pamannya hingga berdarah, lalu berlari menghampiri vas bunga di meja kerja ibunya.

PRANNG!!

Haeryung terdiam sesaat. Kepala pamannya yang berdarah membuatnya berdiri mematung karena shock. Belum lagi pecahan vas bunga di tangannya, juga percikan darah pamannya yang mengotori seluruh seragam sekolahnya. Lututnya lemas.

“Paman?” tangan kecilnya menggerakkan tubuh pamannya yang masih tak bergeming.

“Paman?” kali ini air mata takut kembali membasahi pipinya. Tapi saat dia melihat darah yang mengalir di lantai menggenang sampai ke lututnya, dia berhenti menangis. Senyuman sinis mengembang di wajahnya, terlebih saat bau amis menyeruak memasuki setiap sel-sel indra penciumannya.

.

.

“Pamanku itu ditahan polisi karena pernah merampok bank,” lanjut Haeryung dengan santai, seolah dia tak memiliki trauma atas kejadian naas di masa kecilnya, “baru dua hari di penjara, dia sudah keluar. Lalu membunuh ibu, seperti yang kuceritakan ke dokter tadi.”

Dokter Kim mengangguk paham. Dia menautkan jari-jemarinya di bawa dagu. “Kau tak sedih atas kematian ibumu? Dari yang kudengar tadi, kau tidak menceritakan perasaanmu saat kehilangan ibumu.”

“Tentu saja sedih!” Haeryung membusungkan dadanya, tidak terima atas prasangka buruk dokter Kim yang mengira dia bukan tipe anak yang berbakti. Persepsi yang salah kaprah tentunya.

“Tapi, ibuku pasti sudah bangga padaku, karena berhasil membunuh lelaki sialan itu. Kalau dia terus hidup, mau jadi apa dunia ini?”

Tawa renyah dokter Kim kembali menyentuh gendang telinga Haeryung dan menelusup ke seluruh syaraf otaknya terlanjur kotor. Dia tersenyum kecil.

“Dokter…”

“Hm?”

Haeryung mengecup pipi kanan dokter Kim dengan mesra. “Hati-hati…”

7

 

Haeryung hanya memperhatikan para pasien yang keluar masuk ruang konsultasi dokter Kim. dia sudah lama duduk di ruang tunggu, maka dari itu rasa bosan kembali menghantui pikirannya. Tak ada satu hal pun yang menurutnya mampu mengusir rasa bosannya, bahkan mengamati gerak-gerik sesama pasien di kanan-kirinya malah membuatnya semakin mengantuk.

Kali ini dia mengacak-acak isi tasnya lagi, kali ini mencari benda selain I-Pod dan novel yang sudah menjadi sasaran amukan bosannya. Hanya ada kosmetik—yang tentu saja tak akan dia kenakan di tempat psikolog kan?—dan sketchbook yang belum dia sentuh sejak duduk di sana.

Alternatif terakhir: membuat sketsa.

Kali ini dia menghela napas, lalu mencari benda lain setelah mengeluarkan sketchbook ukuran A5 dari tasnya. Pensil yang panjangnya tinggal sejari telunjuknya dapat dia temukan tepat di samping dompetnya. Ujung pensilnya tumpul, tapi dia tak membawa rautan hari itu. Terpaksa dia harus bertahan dengan pensil tumpulnya.

Matanya kembali mengitari ruangan, kali ini mencari objek yang tepat untuk melampiaskan idenya.

Tiba-tiba dia menemukan sosok yang tak asing di kehidupannya.

“Seokjin?”

Dia bergumam. Saking tak percayanya Haeryung akan kehadiran lelaki bernama Seokjin itu, dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Saat sosok lelaki itu malah semakin kuat, dia buru-buru mengangkat sketchbook-nya, menutupi parasnya agar Seokjin tak menyadari keberadaannya.

Tapi, tiba-tiba saja ada yang menurunkan Sketchbooknya, lalu tersenyum pada Haeryung.

“Na Haeryung?”

Haeryung tak bergeming.

“Lama tak bertemu.”

Gadis itu menelan ludah.

“Na Haeryung?” seseorang kembali memanggil namanya. Haeryung menghela napas lega barang sejenak. Dokter Kim telah memanggilnya untuk memasuki ruang periksa. Dia lekas memasukkan sketchbooknya ke dalam tas, lalu berdiri menghampiri dokter Kim.

Perlahan, dia berbalik dan mengamati sekali lagi lelaki yang kini menempati tempat duduknya.

“Ada apa, Haeryung? Biasanya kau terlihat begitu enerjik.” Dokter Kim membuka pembicaraan saat Haeryung masih menatap ke luar ruangan, meskipun dokter Kim sudah menutup pintu.

“Dokter…” Haeryung memanggil sang dokter dengan sangat lembut—setengah berbisik.

“Hm?”

“Kekasihku yang paling terakhir kubunuh…”

“Iya?” dokter Kim mengangkat sebelah alisnya.

“Dia hidup lagi.”

Dan untuk ke sekian kalinya, dokter Kim harus tertawa melihat kekonyolan Haeryung.

Dia semakin tak waras.

7

 

“Bagaimana bisa?” napas Haeryung tersengal-sengal begitu punggungnya tersandar dengan baik pada pintu kamarnya. Tepat setelah dokter Kim menertawakan pernyataannya—soal kekasihnya yang hidup kembali—dia bernapas lega, sesaat. Dokternya yang rupawan itu menenangkannya dengan bilang, mungkin Haeryung hanya berhalusinasi—sisa efek dari pemakaian obat-obatan yang pernah dia pakai dulu. Atau mungkin, Haeryung hanya diliputi rasa bersalah yang baru muncul sekarang. Dokter Kim bilang, jalan Haeryung untuk sembuh akhirnya sedikit terbuka.

Tapi Haeryung tak pernah merasa bersalah atas kematian siapapun yang sudah dia bunuh. Selamanya dia hanya akan menertawakan kematian mereka-mereka yang telah menyakitinya, dan tak akan ada yang berubah.

Perwujudan dari rasa takut?

Haeryung sendiri yakin sepenuhnya, dia tak pernah takut apapun.

Perlahan, dia membuka sebuah pintu rahasia di balik rak bukunya. Dia berjalan menyusuri lorong panjang nan gelap dengan cukup sabar, lalu akhirnya dia berhenti di ujung lorong.

Ada ruangan lain di sana.

Dia menatap satu-persatu manekin yang terpajang di sana. Ada 14-15 manekin dengan tinggi rata-rata 180 cm, dan semuanya manekin laki-laki. Haeryung melangkahkan kakinya menuju satu manekin yang sengaja dia letakkan di tengah ruangan. Dia tersenyum, lalu merapikan syal rajut yang pernah dia buat beberapa waktu lalu.

“Seokjin…” Haeryung merapikan poni manekin di depannya.

“Kau tak mungkin bisa pergi dari sini ‘kan?”

7

“ARGGHH!!”

Semua barang dalam kamarnya sudah pecah berkeping-keping, hancur berantakan. Luapan amarahnya masih di luar kendali, meskipun dia sudah melampiaskan amarahnya sejak beberapa waktu lalu. Tapi semakin lama, amarahnya kian memuncak saat syaraf penglihatannya kembali menuntun matanya untuk menangkap wujud kardus berisi barang kenangannya bersama Seokjin—kekasihnya.

Atau mantan? Lelaki yang masih dia anggap kekasih sudah meninggalkannya beberapa jam lalu, juga meninggalkan sebuah memo perpisahan yang begitu menyakitkan bagi Haeryung.

Kaki putihnya menendang kardus itu.

“Maaf, Haeryung. Kau sudah berubah.”

Air mata Haeryung mengalir di pipinya untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya dia tak lagi menangis. Dia lupa bagaimana rasanya sedih karena kehilangan, dan kekasihnya—yang paling dia cintai di antara semua kekasihnya—kembali mengingatkannya akan rasa sakit yang sama. Bahkan lebih.

“Terima kasih atas semua yang kau berikan padaku selama ini.”

Kali ini lampu mejanya menjadi sasaran amukannya. Salah satu pecahannya menimbulkan goresan di kaki putihnya. Perih, tapi Haeryung mati rasa akan hal itu. Perih di ulu hatinya lebih parah dari luka apapun yang dia rasakan.

“Kim Seokjin.”

Jika lelaki-lelaki keparat melukainya, dia akan menghabisi nyawa mereka dengan sesuka hatinya seperti biasa, maka selesai sudah perkara. Tapi Seokjin terlampau istimewa baginya. Ukiran nama lelaki di memo perpisahan itu berkali-kali dia baca, berpikir dia salah mengeja. Tapi mau dibaca berkali-kalipun, susunan abjadnya tetap terbaca ‘Kim Seokjin’. Tak akan pernah berubah.

“Sstt…”

Haeryung melihat sepasang kaki yang lebih besar daei miliknya berdiri di atas pecahan lampu hingga berdarah, sama seperti kakinya. Sesosok lelaki tertangkap bayangnya oleh kedua iris Haeryung.

“Haeryung…”

Pelukan lelaki itu cukup membuat amarah Haeryung mereda, tinggal isak tangis yang tersisa.

“Aku tak pernah meninggalkanmu. Kau tahu ‘kan?”

7

“Aku tahu kau bohong…”

Seokjin tersentak saat decitan pintu yang membuat otot telinganya ngilu, disusul suara gadis yang begitu asing baginya. Suara kekasihnya, sebenarnya. Tapi dia sama sekali tak menemukan suara penuh kasih sayang yang sering dia dengar.

Suara penuh dendam kali ini.

Lelaki itu hanya bisa diam, tak bergerak barang sedetikpun. Kekasihnya—kini mantannya—membawa pisau berkarat dengan sisa-sisa darah yang mengerak hingga kilauan pisau saat pertama keluar dari pabrik sudah tak terlihat. Pisau itu murni pisau pembantaian.

Seokjin tahu Haeryung gila. Seokjin juga sudah mengantisipasi kalau kejadian ini terjadi.

Seokjin kembali menangis saat wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Seokjin, lalu dengan kasar, dia menggores leher Seokjin dengan pisaunya.

“Kau masih mencintaiku ‘kan?”

Seokjin meringis kesakitan saat pisau itu menyusuri dadanya cukup dalam. Pisau yang telah menemani Haeryung selama bertahun-tahun itu sangatlah tumpul, menunjukkan betapa malasnya Haeryung, juga betapa kejamnya dia pada seluruh korbannya.

Meski begitu ingin melepaskan diri dari belenggu kejiwaan Haeryung dengan menggenggam erat tangannya, Seokjin bingung. Dalam hati dia menjawab ‘iya’ atas pertanyaan Haeryung, tapi dia berpikir hubungan di antara mereka harus berakhir. Alasan yang dia tuliskan di atas memo perpisahan tidaklah benar sepenuhnya.

Haeryung selalu apa adanya di depannya, sama sekali tak berubah dari waktu ke waktu.

Hanya saja, akan lebih menyedihkan jika Haeryung harus berpasangan dengannya.

“Kau tak tahu, baru kali ini aku merasakan cinta lagi, setelah bertahun-tahun lamanya?”

Gadis itu tersenyum ketika darah Seokjin terciprat ke wajahnya dan juga ke dadanya. Darah dari dada Seokjin bercampur dengan dadanya, terbersit pikiran bahwa darah itu yang akan membuatnya selalu bersama Seokjin, setiap waktu.

Lagi-lagi ketidak tegaan kembali muncul dalam hati Seokjin saat dia melihat wajah Haeryung sekilas. Dia tak tega melihat Haeryung sendirian, dia juga tak tega melihat Haeryung terlalu tenggelam dalam kesedihan. Dia paham betul, kejiwaan Haeryung menjadi kacau begini pasti karena masa lalu dan lingkungannya yang tidak tepat. Dia sangat tahu.

Haeryung masih bermain-main dengan pisaunya, memutar-mutar gagang pisaunya saat dia yakin ujung pisaunya menancap dengan sempurna di sela-sela tulang Seokjin.

Seokjin resmi merasakan patah hati untuk pertama kalinya.

“Kau harusnya tahu dengan siapa kau berurusan…”

Tapi senyum meremehkan Haeryung tak bertahan lama di wajahnya. Saat dia benar-benar yakin pisaunya menancap jantung Seokjin—sama seperti yang dia lakukan sebelum-sebelumnya—dia mengurungkan diri dan menarik kasar pisaunya. Wajah Seokjin memucat, sementara Haeryung tak peduli. Kala itu dia menghujamkan pisaunya dengan penuh amarah ke dada Seokjin, terus begitu hingga berliter-liter darah membuat kulitnya nampak memerah.

“ARGHH!!”

Haeryung memutuskan untuk memilih cara yang lebih tepat. Seokjin telah melukai hatinya yang terdalam—hati yang awalnya telah kebal oleh penyakit hati manapun—maka hukuman yang impas adalah melukai Seokjin sampai mati. Bahkan pisau tumpul itu dirasa belum cukup bagi Haeryung. Luka yang Seokjin rasakan tak akan pernah lebih parah dari luka yang dia alami.

Kalau perlu, dia ingin mengambil jantung Seokjin dan menjadikan sumber segala perasaan itu menjadi miliknya.

7

“Kau itu lucu…” Dokter Kim berucap, namun tak berani meneruskan kata-katanya. Kata ‘hati-hati’ yang Haeryung ucapkan di hari pertama dia berkonsultasi mampu membuatnya begidik ngeri, jadi dia tak akan mengulangi kesalahan yang sama—salah berucap di depan psikopat—untuk kedua kalinya.

Ya, Haeryung begitu lucu. Dia menjual banyak perabotan di rumahnya—sampai di rumahnya hanya ada manekin yang tak mungkin dia jual dan juga pakaian-pakaiannya—hingga rumahnya kosong melompong. Akan ada gema jika seseorang bersuara di rumahnya.

Uangnya hanya untuk berobat pada Dokter Kim. Dia ingin membayar sang psikolog sampai dia sembuh total. Sampai dia waras.

Jadi, Haeryung sadar dia gila? Mana ada orang gila yang menyadari dirinya sendiri gila?

“Jangan anggap aku remeh, dokter. Aku benar-benar merasa aku tidak waras belakangan ini.”

Susah payah dokter Kim menahan tawa, sebelum akhirnya dia kembali bertanya, “Belakangan ini?”

Jadi, sebelum-sebelumnya kau tidak merasa gila sama sekali? Dalam hati dia melanjutkan.

Haeryung mengangguk mengiyakan, tak paham maksud pertanyaan dokter Kim yang sebenarnya. “Aku merasa… aku tidak tinggal sendirian di rumah. Aku merasa selalu ada yang menemaniku.”

Dokter Kim manggut-manggut, seolah tahu alasannya. “Mungkin itu hanya paranoid semata. Efek karena kau tinggal di rumah yang begitu luas, tapi tinggal sendirian. Biasanya ada orang yang merasakan hal sama sepertimu.”

“Tidak,” Haeryung menyergah, “tidak sesederhana itu, dokter.”

Dokter Kim mengangkat sebelah alisnya.

“Selalu ada bisikan-bisikan yang memanggil namaku.. setiap malam.”

Dan lagi, dokter Kim tak mampu menahan tawa, membuat Haeryung tersinggung.

7

 

Malamnya, Dokter Kim sibuk membersihkan darah yang mengucur deras di lehernya, juga membersihkan sisa darahnya yang masih menempel pada pisau berkarat di tangannya. Dia tersenyum saat mengingat pertemuan terakhirnya dengan Haeryung hari itu, tepat sebelum Haeryung pulang.

“Dokter.”

Dokter Kim berusaha tenang saat pisau berkarat Haeryung sudah menggores lehernya.

“Kalau dokter gagal menyembuhkan ketidak warasanku, bisa jadi mata dokter yang indah menjadi barang koleksiku selanjutnya.”

Dokter Kim tertawa kecil. Haeryung sudah menjadi pasiennya selama hampir satu setengah tahun dan dia sudah hapal betul tabiat buruk Haeryung. Dia sendiri tak begitu peduli untuk menyembuhkan Haeryung ataupun soal tesisnya. Semua hanya sekadar rencana. Kejiwaan Haeryung sudah terlalu fatal dan tak mungkin bisa disembuhkan, fakta yang tak terpungkiri.

Dokter Kim bahkan sangat tahu tentang Haeryung, tanpa harus mengenalnya lebih dekat.

Saat lelaki tampan itu menangkap bayangannya di cermin, dia mengangkat sebelah alisnya. Malam semakin larut. Tak ada suara hewan nokturnal, tapi bulan yang membulat sempurna membuat suasana semakin mencekam. Dia menyeringai.

Perlahan, darahnya mengering. Kulitnya memucat, bersamaan dengan aliran darahnya yang mengalir ke telapak kakinya. Persis saat jantung manusia berhenti berdetak, maka berliter-liter darah akan berkumpul di tempat terbawah tubuh mereka.

“Na Haeryung…”

.

.

Di malam yang sama, Haeryung meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk lutut. Tubuhnya bergetar hebat semalam suntuk, bahkan bibirnya sampai berdarah karena gigitannya yang terlalu kuat sejak beberapa jam lalu. Lampu-lampu rumahnya redup, bahkan beberapa di antaranya tak lagi bersinar. Entah karena kehabisan daya atau karena alasan lain, tapi yang jelas keadaan rumahnya benar-benar suram.

Rasa takut akan apa yang dia lakukan selama ini tak pernah menghantuinya, tapi baru kali ini dia merasakan imbasnya. Sudah bermalam-malam dia tak tidur karena wajah-wajah yang familiar baginya terus mengganggu kehidupannya belakangan ini. Dia merasa sangat terganggu.

Terlebih saat terlihat sosok lelaki berkulit pucat berjalan terseok menghampirinya. Sepatu merah yang dia kenakan menjadi satu-satunya benda yang dia lemparkan ke arah makhluk tak jelas itu, berharap dia segera pergi. Alih-alih membalikkan badan, sosok di depannya malah mempercepat langkahnya demi menghampiri Haeryung.

Air mata Haeryung mengalir deras, tapi tak ada isakan yang terdengar. Hanya saja napasnya berderu, menciptakan kepulan asap putih di bibirnya. Beberapa jahitan kasar di dada lelaki itu yang terlihat dari kemeja putih transparannya membuat Haeryung semakin ketakutan. Gadis itu ingin bergerak mundur, tapi tak mungkin. Dia benar-benar di sudut ruangan.

“Haeryung…” lelaki itu mengucapkan nama gadisnya.

Urat nadi lelaki itu juga menampakkan jatihan kasar yang Haeryung tahu pasti siapa yang memberikan jahitan itu.

Dia sendiri.

“Haeryung…”

Si pemilik nama menundukkan kepalanya dan memejamkan erat, berharap pagi segera datang. Tiba-tiba, hawa dingin menggerogoti seluruh tubuhnya, namun di saat bersamaan, dia merasakan panas yang tak terkira.

“Aku Kim Seokjin…”

Dia—lelaki itu—mengatakannya, satu upaya yang membuat Haeryung mau tak mau terhipnotis oleh ucapannya. Masih ada rasa takut di ulu hatinya, tapi akhirnya menghilang saat lelaki itu mengucapkan kalimat selanjutnya,

“Sampai kapanpun, Seokjin tak akan meninggalkan Haeryung.”

Isak tangis Haeryung mereda.

“Kim Seokjin selalu ada di samping Haeryung.”

7

Seokjin bilang, dia tak akan meninggalkan Haeryung dan Haeryung percaya. Tapi setelah Haeryung tenang malam itu—setelah Haeryung tidur di pelukan Seokjin—lelaki itu mengingkari janjinya dengan mudah. Saat Haeryung membuka mata, Seokjin tak lagi di sampingnya.

Tampak seperti akhir cerita, tapi kisah kehidupan Haeryung yang lebih rumit justru dimulai dari situ.

Dia sadar dirinya tak waras, lalu dia memutuskan untuk berobat pada psikolog.

“Dokter Kim?” Haeryung mengernyit saat menemukan satu alamat yang tak begitu asing di pikirannya ketika membaca brosur iklan. Psikolog muda, dan sepertinya baru membuka klinik kecil.

Haeryung mengangkat bahunya, lalu berpikir positif.

Dia akan sembuh di tangan yang tepat, lalu Seokjin akan kembali pada dirinya.

Seutuhnya.

7

 

“Dokter…”

Dokter Kim baru saja duduk saat Haeryung memasuki ruangannya. Tanpa dokter Kim persilahkan, Haeryung sudah duduk di kursi, ingin bertatapan langsung dengan dokter kesayangannya. Tapi si dokter mengernyit heran, biasanya Haeryung akan bertindak seenaknya, berbaring di ranjang pasien dengan membuka seluruh kancing kemejanya, bermaksud menarik perhatian dokternya dan bermain-main dengannya.

Apa karena sekarang Haeryung tahu kalau yang dia lakukan sia-sia karena dokter Kim takkan pernah tergoda oleh tingkahnya?

Atau karena Haeryung sudah mengetahui hal lain?

“Kekasihku yang paling kusayangi… kekasih yang membuatku jadi tidak waras ini…”

Dokter Kim menatap Haeryung. Kali ini tatapan keheranannya tak menghiasi wajahnya, seolah tahu kalimat selanjutnya.

“Dia benar-benar hidup lagi.”

Senyuman dokter Kim yang seolah tanpa nyawa membuat Haeryung waspada. Dia baru sadar, hari itu ada yang berbeda dari dokter Kim. Warna kulitnya.

“Kau pucat hari ini.”

Haeryung mengalihkan pandangannya dari kulit sang dokter ke matanya. Bagaimanapun, dia harus mendengarkan solusi dari dokternya, agar tak percuma dia menjual seluruh perabotan rumahnya hanya untuk sembuh dari kegilaannya. Walau dokter Kim sendiri tahu semuanya begitu percuma.

“Mungkin kau paranoid lagi, jadi manekin-manekin yang kau buat dari korbanmu terlihat hidup kembali, padahal tidak.”

Dagu Haeryung spontan bergerak ke atas dan ke bawah, tanda bahwa dia menyetujui teori ilmiah yang cukup masuk akal baginya.

Tunggu dulu.

Seingat Haeryung, dia tak pernah menceritakan perihal manekin pada orang lain, terlebih dokter Kim. Dia sadar dia tak waras, tapi di sisi lain dia masih ingin menjelajahi dunia dengan ketidak warasannya yang menurutnya berguna, membunuh lelaki-lelaki bajingan yang selalu bertindak seenaknya pada setiap wanita, lalu mengoleksi organ dalam tubuh mereka sebagai hukuman. Dia tak akan menceritakan kegilaannya pada semua orang—itu berarti misi hidupnya sudah selesai dan dia siap untuk mati.

Pupil matanya membesar tatkala jahitan kasar pada urat nadi dokter Kim terlihat jelas di depannya. Sangat familiar. Terlebih, benang yang digunakan bukan benang yang biasa digunakan di dunia medis, melainkan benang jahit biasa. Jahitannya juga tak rapi, terdapat bekas-bekas kulit yang terkelupas beserta darah kering di sekitarnya.

“Dokter?”

“Hm?” dokter Kim membenarkan posisi kacamatanya, lalu meneruskan menulis resep disertai saran untuk Haeryung agar frekuensi paranoidnya berkurang.

“Luka dokter…”

“Oh…” seolah teringatkan sesuatu, dokter Kim segera menutup kancing lengannya hingga lukanya tak terlihat lagi, “dari kekasihku…” lanjutnya.

terbersit satu ingatan di benak Haeryung yang membuatnya semakin was-was.

.

.

Haeryung berendam dalam bathtub, masih menggunakan kemejanya yang bermandikan darah Seokjin. Dia memejamkan mata sejenak, merasakan betapa tenang hatinya saat itu. Rambutnya dia biarkan terurai, sesekali membenamkan tubuhnya dalam air hangat. Saat kepalanya kembali menyembul, dia melihat jasad Seokjin tergeletak di lantai. Telanjang dada. Dia baru saja mengakhiri hidup Seokjin, meskipun perlawanan-perlawanan yang membuatnya kewalahan sempat dia rasakan.

Bau amis menyeruak ke seluruh ruangan ketika darah Seokjin mulai mengering di sekujur tubuhnya, juga darahnya yang berada dalam bathtub, berbaur dengan air hangat yang Haeryung gunakan.

Iya. Sebelum Haeryung berendam di sana, Seokjin dipaksa berendam di sana dengan luka sayatan di dada dan kedua urat nadinya. Haeryung senang melihat Seokjin kesulitan bernapas ketika dia membenamkan kepala Seokjin berkali-kali hingga terbentur ke dasar bathtub.

Tapi saat Seokjin mati, dia merasakan sedikit kejanggalan.

Dia menyayat dada Seokjin sampai tulang-belulangnya terkikis, sudah jelas dari erangan Seokjin yang liar dan gerakan merontanya. Tapi saat dia menyayat di mana jantung berada, dia tertegun.

Seokjin masih mengeluarkan suara, tapi jantungnya tak berdetak lagi.

Haeryung menggelengkan kepala demi menepis semua bayangan anehnya. Dia sudah melakukan apa yang biasa dia lakukan, maka tak akan ada kontradiksi dari apa yang dia lakukan kali ini. Semuanya baik-baik saja.

Dia mengambil jantung Seokjin yang seolah berpendar di matanya, menggenggamnya erat, lalu menggerakkan tangannya menelusuri tiap inchi bagian tubuhnya, seolah jantung itu adalah sabun kecantikan baginya.

Dia tertawa kecil, lalu menoleh pada Seokjin.

“Kalau kau mencintaiku, harusnya kau tak berbohong.” Haeryung menggenggamkan jantung itu ke tangan Seokjin.

“Tapi… kau siapa sebenarnya?”

.

.

Masih dengan kemejanya yang bau darah, dia melangkah dengan pasti sambil menyeret tubuh Seokjin ke tempat manekin-manekinnya terpajang. Napasnya tersengal. Massa tubuh Seokjin ternyata lebih berat dari yang dia bayangkan.

Sambil bersenandung kecil, dia mengambil balsam di almari kesukaannya, juga benang putih dan jarum jahit yang dia beli bertahun-tahun lalu. Dia menatap wajah Seokjin dengan senyuman mengejek, lalu menggerakan pisau berkaratnya lebih bernafsu dari biasanya. Organ-organ dalam yang tertangkap dalam lensa matanya segera dia keluarkan dengan hati-hati. Jika salah satu organ dalam Seokjin rusak, maka esensinya akan berkurang.

Iya. Haeryung memang gila.

Setelah dia yakin tubuh Seokjin benar-benar kaku, dia menegakkan tubuh Seokjin pada satu tempat yang telah dia siapkan. Pakaian Seokjin saat pertama bertemu berhasil Haeryung dapatkan setelah membunuh Seokjin dan mengobrak-abrik kamarnya.

Haeryung selalu melakukan yang terbaik.

“Seokjin…”

Dia membelai rambut Seokjin lembut, lalu mencium pipinya.

“Sudah kubilang, kau milikku. Seutuhnya.”

Dia memeluk tubuh Seokjin erat…

Tanpa tahu bibir Seokjin membentuk satu lengkungan kecil saat merasakan dekapan hangatnya.

.

.

Haeryung menyambar polpen di tangan dokter Kim dan menghunuskannya tepat ke dada kiri dokter Kim. Haeryung ketakutan setengah mati. Dia ingin menyingkap apa yang ada di balik kemeja hitam dokter Kim, tapi dia takut kalau semuanya terjadi sesuai pikirannya.

Tapi tidak mungkin, dia terus-terusan mengatakannya. Dia memberanikan diri membuka kancing baju dokter Kim.

Banyak sayatan dan jahitan kasar di dadanya, persis seperti yang dia perkirakan.

“Siapa kau?!”

Haeryung mendorong dokter Kim hingga dinding ruangan itu ternodai oleh sedikit bercak darah.

“Siapa kau??!!” Haeryung mengulangi pertanyaannya dengan bentakan, lalu mengambil kacamata dokter Kim cukup kasar. Kuku panjang nan tajamnya membuat wajah dokter Kim terluka.

Tapi, meskipun wajahnya telah ternodai oleh darah, Haeryung masih mampu menemukan garis-garis wajah yang tak asing baginya.

Wajah kekasihnya.

Haeryung menampar wajah dokter Kim berkali-kali, tapi tangan dokter Kim menampiknya. Dia merebut polpen yang menjadi senjata Haeryung, lalu membalas tusukannya pada urat nadi Haeryung.

“Sakit?” dokter Kim menyeringai.

.

.

Gadis itu berjalan memasuki pekarangan rumah dokter Kim, psikolog pertama yang dia temui di brosur iklan yang menumpuk di kotak pos halaman rumahnya. Kuno mungkin, Haeryung menyadari itu. Di saat era digital sudah merajai Korea, tapi dia masih mempertahankan kotak posnya.

Tapi ada untungnya ‘kan?

Masih ada orang-orang kolot sepertinya. Brosur-brosur iklan itu yang jadi buktinya.

“Dokter Kim…”

Dokter Kim hanya tersenyum menatapnya.

.

.

“Bagaimana mungkin…” Haeryung mendesis. Punggungnya kini berdarah, bukan karena terluka, tapi karena kini dia berdiri di tempat dokter Kim sebelumnya. Lelaki itu berhasil membalikkan kondisi, membuat si psikopat terhenti langkahnya.

Dokter Kim tak ingin mati untuk kedua kalinya.

Dokter Kim tak ingin dia harus kehilangan jantung kedua kalinya.

“Kau salah jatuh cinta…”

Haeryung menyadarinya. Dia salah jatuh cinta.

“Aku juga salah jatuh cinta…”

.

.

Haeryung pulang dengan hati gembira. Dokter Kim mau menanganinya, dan kepercayaan diri bahwa dia akan sembuh mencuat lagi. ada beberapa firasat buruk bahwa dia tak akan sembuh, bagaimanapun caranya. Bahkan mungkin dia akan berhenti melakukan rutinitasnya membuat manekin lelaki, jika dia berobat pada dokter Kim.

Tapi entah mengapa, hatinya berbunga-bunga.

Dokter Kim menatap Haeryung dari kejauhan. Dia begitu penasaran bagaimana keseharian Haeryung, terlebih saat dia mendengar latar belakang masa lalu Haeryung. Dia mulai merencanakan satu cara untuk mengenal kehidupan Haeryung dan menelitinya sebagai bahan tesisnya.

Dia tersenyum kecil, lalu menggantungkan jas putihnya ke gantungan di samping kursi kerjanya. Dokter Kim melirik sekilas papan nama di mejanya yang dibuatkan oleh dosennya. Senyum penuh kebanggaan menghiasi wajahnya saat membaca namanya sekali lagi.

Kim Seokjin.

.

.

Seokjin tahu kejiwaan Haeryung sangat aneh sejak pertama bertemu ketika profesor Kim absen mengajar dan memberikan beberapa tugas untuk dikumpulkan. Haeryung menampar temannya karena tak mau mengerjakan tugas untuknya.

“Kau mau mati?!”

Seokjin diam-diam memperhatikan Haeryung, berpura-pura mencintainya, lalu menganalisa kejiwaan Haeryung. Tapi langkahnya terhenti saat Haeryung sengaja drop out karena dia tak memiliki cukup uang untuk menyelesaikan kuliahnya. Selain itu dia memang tak cocok dengan pelajaran.

Sampai akhirnya dia kembali menemukan Haeryung, tepat di halte bus yang tak jauh dari universitasnya. Saat itu Haeryung tertawa kecil tanpa ada siapapun di sana.

Orang lain risih, tapi Seokjin maklum.

Tapi dia tak pernah menyangka, dia akan jatuh cinta pada Haeryung dengan tingkahnya yang begitu menyedihkan. Terlebih saat dia tahu masa lalu Haeryung, sumber dari sifatnya yang begitu sadis. Haeryung hanya takut merasakan trauma, takut merasa kehilangan, takut merasakan kesedihan bertubi-tubi. Setelah ibunya pergi saja, dia sudah merasakan bagaimana kejamnya hidup. Sudah cukup sampai di situ.

Haeryung hanya butuh pelampiasan.

Seokjin juga tak begitu menyadari, perasaannya yang begitu mencintai Haeryung adalah satu pertanda.

Dia sama saja dengan Haeryung.

.

.

“Aku bukan orang yang mudah kau bunuh.”

Dokter Kim—Kim Seokjin—yang biasanya hanya jadi pendengar dan bertingkah setenang mungkin saat menghadapi kegilaan pasiennya, kali ini menjadi berbeda. Dia menyeringai, lalu menggoreskan polpen ke wajah Haeryung. Saat berhenti di depan mata—jarak beberapa mikrometer, bibir Haeryung bergetar hebat.

Dia kembali merasakan takut.

Polpen itu berhasil menusuk dada kirinya setelah Seokjin mempermainkan ujung polpen itu ke wajah Haeryung dengan tekanan kuat, membuat wajah Haeryung berdarah. Teriakan penuh rasa sakit terdengar begitu merdu di telinga Seokjin.

“Doaku selalu dikabulkan, kalau kau tahu.”

Haeryung tak lagi mampu melihat apapun. Rasa pusing di kepalanya begitu menyiksa, terlebih saat Seokjin dengan liarnya membenturkan kepalanya ke dinding. Wajahnya berlumuran darah. Lidahnya begitu getir saat beberapa liter darah memasuki bibirnya ketika dia berteriak lagi, entah ke berapa kalinya.

Kali ini Haeryung tahu rasanya.

“Aku selalu berdoa, agar aku tak mati sebelum kau mati…”

Senyuman sinis Seokjin memudar saat ingatannya kembali mengenang masa lalunya dengan Haeryung.

“Karena kau akan sendirian jika aku mati…”

Air mata meluncur dari mata Haeryung. Gadis itu sampai bingung, bagaimana caranya untuk menahan tangis. Setidaknya dia masih ingin terlihat tegar di kondisi apapun.

Tapi kali ini sulit.

Seokjin menghempaskan tubuh Haeryung ke lantai. Kakinya hendak menginjak wajah Haeryung, tapi Haeryung menggenggam kakinya kuat. Masih ada sisa tenaga. Dia menggigit bibir, berusaha mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk menjauhkan kaki Seokjin.

Berhasil.

Haeryung merangkak, berusaha mengambil polpen yang kini bersimbah darah. Tergeletak di lantai. Mungkin Seokjin tak sengaja menjatuhkannya saat menghempaskan Haeryung ke lantai, atau mungkin saat Haeryung mendorong tubuh Seokjin yang hendak menginjaknya. Mata Seokjin terbelalak, takut Haeryung membalas serangannya.

Tapi tanpa dia duga, Haeryung menggoreskan polpen itu ke urat nadinya sendiri. Bahkan lebih kasar dari itu, dia menusuk-nusuk urat nadinya dengan frekuensi cepat, membuat darah tercipratkan ke segala arah. Seokjin duduk bersimpuh di samping Haeryung.

“Kau tak akan mati sebelum aku mati?” Haeryung tersenyum, “atau kau hanya akan mati setelah tesismu selesai?”

Seokjin tersentak.

“Aku selalu menemuimu yang kuanggap dokter, memercayaimu dengan menceritakan semua hal yang merisaukanku, bertingkah normal dan penuh percaya diri aku akan sembuh suatu saat nanti…”

Napas Haeryung tersengal. Dia berusaha membuka matanya dan menangkap potret Seokjin yang begitu terpatri dalam hatinya, tapi sulit. Darah yang mengalir dari keningnya membuat kedua indra penglihatannya perih.

“Percaya diri aku tak akan merasakan rasa sakit hati lagi, setelah kau pergi.”

Seokjin menerka apa yang akan dikatakan Haeryung selanjutnya.

“Betapa gilanya aku, karena aku begitu mudah dibodohi. Aku hanya kelinci percobaan bagimu… bukan cinta sejatimu atau pasien kesayanganmu, iya kan?”

Seokjin tersenyum kecil, meskipun dia merasakan perih di hatinya. Entah mengapa.

“Kau berkata kau tak ingin mati sebelum aku mati, karena aku akan sendiri jika kau mati… kau juga pernah bilang, Seokjin selalu menemani Haeryung… sekarang aku tahu maksudnya.”

Seokjin menelan ludah. “Apa?”

“Kau tak akan berhenti, sampai penelitianmu tentangku selesai.”

Haeryung memperdalam tusukannya, sampai-sampai dia merasakan polpen itu menyentuh permukaan lantai. Dia menggerak-gerakkan polpen itu ke kanan dan ke kiri, berniat untuk memutus pergelangan tangannya. Tak cukup hanya urat nadi.

Dia bersedih. Dia tak pantas hidup lagi.

“Itu hanya kedok untuk mengelabuiku. Benar?”

“Tahu dari mana?”

Haeryung tersenyum. “Mudah. Kau orang yang paling ambisius di fakultas kita, tentu saja aku begitu tahu betapa inginnya kau lulus S2, cum laude.”

Baru Seokjin tahu, Haeryung juga mengamatinya selama ini.

“Kau sampai menyamar menjadi dokter psikolog, menyebarkan brosur ke kotak posku. Kau tahu aku gila… kau menjadikanku kekasih terlebih dulu, meyakinkanku bahwa kau benar-benar mencintaiku, menghempaskanku saat kau yakin aku sudah tak bisa kehilanganmu… di saat itu pula kau tahu apa yang kubutuhkan. Kau menerka semuanya dengan tepat. Aku akan mencari dokter.”

Urat nadi Haeryung sudah terputus di bagian kanan. Tinggal mengarahkan polpen ke kiri, maka urat nadi tangan kirinya akan putus.

“Cerdas. Semuanya tepat.” Seokjin tertawa kecil, tapi tak dia sadari kristal bening membentuk bekas aliran kecil di pipinya.

Dia sakit hati saat dia menyadari betapa kejamnya dia sebagai dokter.

Ternyata cita-cita mulianya untuk menjadi psikolog handal ternodai hanya karena cum laude yang berhasil dia peroleh. Keambisiannya begitu membutakannya, membuatnya sama persis dengan pasien-pasiennya sendiri.

Dia sendiri sadar, bahkan kegilaannya lebih parah dari kegilaan Haeryung.

“Setelah ini aku mati,” Haeryung tertawa, “apa kau juga akan mati?”

Pandangan mata Haeryung memudar, tapi dia masih ingin berbicara. Melampiaskan semuanya yang belum sempat dia ceritakan, baik pada sosok Seokjin—kekasihnya—atau dokter Kim—dokter kejiwaannya. Tak pernah ada orang yang tahu bagaimana sejatinya dia, bahkan dirinya sendiri. Dia hanya ingin dimengerti, tapi dia sendiri tak pernah mampu mengerti dirinya.

Dia tak pernah mengerti apapun, lebih-lebih kehidupan.

Yang dia mengerti dari dulu, dunia begitu abu-abu baginya.

“Apa Tuhan benar-benar ada?”

Seokjin mengernyit. “Hm?”

“Kenapa Dia memilih aku untuk hidup, kalau seumur hidupku aku harus sengsara? Bahkan aku tak pernah diizinkan memiliki seseorang yang benar-benar menyayangiku. Kenapa Dia memberikanku kehidupan, kalau pada akhirnya aku hanya mematikan orang-orang yang Dia ciptakan?”

Hati Seokjin semakin sakit mendengarnya.

“Dan kenapa aku harus hidup di dunia yang begitu kelabu?”

7

 

Seokjin menyejajarkan wajahnya dengan milik Haeryung. Gadis itu sudah tak bernyawa sejak berjam-jam lalu. Pasien-pasiennya sudah menunggu dengan gelisah di luar bangunan, gelisah karena dokter mereka yang baik hati tak segera membuka prakteknya hari itu.

Seokjin tersenyum nanar. Tangannya bergerak melepaskan jahitan kasar di dada kirinya, lalu mencabut paksa jantung yang dia rekatkan susah payah dengan benang biasa. Saat Haeryung melepas organ-organ dalamnya dulu, dia hanya merasakan sakit sesaat, lalu berusaha mengingat cara Haeryung melakukan semuanya.

Demi penelitiannya.

Tapi kali ini, dia tak lagi peduli dengan penelitian atau apapun. Dia menggenggamkan jantung itu pada Haeryung, lalu memanjatkan doa dalam hatinya, yang tak akan semua orang tahu.

Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Hembusan napas terakhir yang begitu lembut keluar dari bibirnya, menciptakan suasana sedih yang terlalu dalam menusuk kalbu.

.

.

.

Tuhan, izinkan dia menjalani kehidupan yang lebih baik, sebelum nantinya dia menerima hukuman atas apa yang ia lakukan. Atau kalau perlu, timpakan saja seluruh hukumannya padaku.

Dia tak pernah menjalani hidup ini dengan baik, dan aku memperparah keadaannya.

Berikanlah hidup yang jauh lebih berwarna–yang dulu pernah kumiliki—untuknya.

Izinkan aku memberi tahu padanya, bahwa hidup lebih berwarna dari yang dia pikirkan.

Tak hanya abu-abu.

7

 Done done!!! aduh maaf aku tahu kok ini absurd… iya maaf ya huhu T_T apalagi ini alurnya maju mundur. keterangannya cuma satu sih, kalo udah dipisah sama gambar, berarti udah ganti scene… kalo pemisahnya titik dua, berarti itu flashback dalam adegan tersebut… haghag

dan buat kak Andri… maaf banget kalo ini gak sesuai ekspektasi huhuhu T_T ini benar-benar… iya aku baca ulang entah kenapa merinding sendiri… duh entahlah ya kak, aku gagitu ngerti ada apa dengan otakku saat ini T_T

jujur awalnya aku tuh pengen banget buat Songfic-nya Leo x Lyn, tapi malah jadinya gini -_-” abisnya kan aku udah pernah bikin fic yang endingnya sama kayak mv-nya Blossom Tears /ehem/ yang Something itu /ehem/ jadi kalo aku buat fic dengan ending yang sama /APALAGI YANG SAICO MAS-MAS TCUTCOK SEMACAM MAS LEO DAN MAS JIN/ berarti idenya udah mainstream… jadi di sini aku buat yang cewek yang psikopat, terus cewenya yang suka koleksi organ dalam sama manekinn… HAHAHAHAH /ketawa setan/

dan maaf kali ini aku memasukkan terlalu banyak genre berat di sini haghag,😛 nggak pa-pa ya? soalnya ini kan fic perpisahan (mungkin) karena aku udah kelas 3 SMA, jadi aku harus bener-bener fokus dan aku harus hiatus (atau minimal semi-hiatus lah ya) dan guys doakan aku masuk ke PTN yang diterima yah :”)

oke reviewnya?

One thought on “[Nightmare Maker] Grey Zone

  1. Typo ya kak??
    “Seokjin kembali menangis saat wajahnya
    berada sangat dekat dengan wajah Seokjin”
    Hehe..
    Oh ya! INI SADIS BANGET! Aku ngilu pas bagian si cweknya nusuk berkali2 urat nadinya :(( yupp! Aku langsung bingung , alur maju mundurnya.. Dan aku baru sadar pas baca comment kk di terakhir xD tak apa.. Masih ngerti! HWAITING kak! Banyakin Nightmare Maker dongg :’) aku suka yg genre sadis gini..hehe.. Semoga PTN nya bagus banget ya! Hwaiting :’)

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s