[Vignette] As Time Goes By


atgb

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

As Time Goes by…

Vignette (2.089 W) | AU!, slight!Action, Romance, Angst, Sad | PG+15

Starring by :

Nu’est’s Baekho (Sam) & Mamamoo’s Hwasa (Eve)

Only scars remain in my angry heart
Then you told me to at least keep the memories
The innocence has disappeared

Note :

Similar Fic that inspired by a same Song:

Aron | Minhyun | JR | Baekho

 

Suara letupan senjata api terus-terusan menghantui gendang telinga gadis itu. Dia berusaha buta atas semua yang terjadi tepat di matanya: kejar-kejaran antara dua Porsche warna berbeda, helikopter di atas sana yang memanuver semua gencatan senjata hari ini, tapi sulit. Dia menguncir rambutnya dengan gelang karet di tangannya, lalu melirik sekilas ke spion mobil. Di belakang mobilnya lelaki-lelaki country lengkap dengan topi kecoklatan dan rompi jeans berlencana emas sibuk menekan pelatuk pistol di tangan mereka. Di sisi lain juga banyak warga gurun pasir yang mengarahkan anak panah mereka pada orang-orang modern di depannya. Dia berdecak.

Kalau saja mobil yang dia tumpangi tidak tahan peluru, dia sudah mati sejak dua jam lalu.

“Kau masih bangun rupanya?”

Kekasih dari gadis itu membuka matanya. Dia menguap, lalu merogoh saku celana jeans-nya. Si gadis hanya mengangkat bahu, lalu kembali melihat keadaan di luar yang semakin lama semakin menegang, seolah takkan pernah berakhir.

“Rokok, Eve?”

Gadis yang dipanggil Eve itu hanya mengernyit. Dia memang perokok berat, tapi di saat genting begitu, dia tak begitu memiliki hasrat untuk menghisap setiap nikotin dalam pipa laknat itu.

“Apa di pikiranmu hanya ada rokok, Sam?”

Lelaki itu hanya memperlihatkan deret giginya, lalu menarik kembali tangannya yang terulur. Dia duduk sejenak hanya untuk menyalakan pemantik, lalu berbaring lagi di jok mobil yang sengaja dia atur demikian rupa hingga dia tak mampu melihat baku tembak di depan matanya. Hanya butuh beberapa sekon hingga asap rokok memenuhi mobil, membuat atmosfer di antara mereka semakin memuakkan.

Pikiran Eve kembali menggali masa lalu. Dia menyangga dagunya dengan pergelangan tangan, lalu memainkan jari jemarinya di pipi putihnya. Berusaha ringan atas segala hal, berusaha bohong pada diri sendiri. Tapi itu sulit. Detak jarum jam di tangannya yang lain begitu mengganggu pikirannya, seolah waktu akan membunuhnya. Cepat jika dihitung dari detik dia menghembuskan napas pertamanya di pagi ini.

“Kau tak bergabung dengan mereka?” Akhirnya Eve membuka pembicaraan. Sam menggeleng. Sebelum menjabarkan alasan yang tepat, dia menautkan rokok ke sela bibirnya, mengembuskan asap pekat lagi.

“Aku bukan sherif lagi.”

Iya juga. Eve sudah mengiranya. Hari ini Sam yang selalu berlagak sok dengan rompi jeans berlencana emas tak lagi mengenakannya. Hanya kemeja putih yang membalut tubuh atasnya, lengkap dengan celana hitam kebesaran di kakinya. Bahkan alas kakinya hanya sandal kayu. Dilihat sekilas, dia seperti bukan penduduk asli sana.

“Kau melarikan diri dari tugasmu,” Eve tertawa sarkastik, jelas melecehkan Sam. Tapi Sam tak pernah peduli dengan ejekan Eve. Apapun yang Eve ucapkan, selalu dia anggap ungkapan cinta. Walaupun sekarang dia tahu siapa Eve, Sam masih sama.

“Aku dipecat, bukan melarikan diri. Remember?”

Eve berpaling dari jendela mobil, lalu menatap dalam mata Sam. Sam masih menatap sudut atas mobil sambil menyenandungkan lagu country, khas daerahnya. Terlihat jelas di mata Eve, Sam hanya menghibur diri. Sam bukan tipe orang yang mengkhianati tanah airnya, dan aneh kalau Sam hanya jadi penonton peperangan dua kaum berbeda—tentu saja salah satunya adalah warga sebangsanya—dan tak berniat melakukan apa-apa. Eve masih ingat, Sam penembak profesional yang belum ada tandingannya, setidaknya di daerahnya.

“Tidak menjadi sherif bukan berarti kau hanya diam saja ‘kan?”

“Oh, jadi kau ingin aku keluar dan mempertaruhkan nyawa, begitu?” Sam tertawa, kemudian duduk. Kali ini matanya bertemu dengan iris mata kecoklatan milik Eve, “Semua senjataku sudah disita. Apa yang bisa kulakukan?”

Kali ini Eve bungkam.

“Ngomong-ngomong, kau bagian dari mereka ‘kan? Mereka yang mengendarai tank dan memiliki helikopter itu?”

Ucapan Sam mampu membuat Eve kesulitan meneguk salivanya. Dia memalingkan wajahnya, tak berani menatap wajah teduh lelakinya. Melihat gelagat Eve, Sam merasa sakit. Eve tak akan bertindak seperti itu jika dia tak bersalah. Sam menghela napas.

atgb

Sam masih ingat kehadiran Eve satu setengah tahun sebelumnya. Eve bilang dia adalah salah seorang petualang yang berniat mencari tambang emas di sekitar gurun tempat Sam tinggal. Para warga menyambut kedatangannya dengan baik, menunjukkan jalan yang tepat untuk tujuan Eve, juga menyediakan alat-alat yang tepat untuk mendapatkan emas, dengan syarat yang biasa mereka ajukan: Eve tak boleh mengambil emas di sana terlalu banyak.

Eve memang menepatinya, tapi beberapa minggu setelahnya, Eve mengajak teman-temannya untuk melakukan konservasi di tempat tinggal Sam. Gurun pasir yang hanya mampu ditumbuhi kaktus dan ditinggali hewan-hewan tertentu bukan tempat tinggal yang pas bagi manusia, tapi Sam dan warga lainnya mampu.

“Kita harus menarik perhatian warga asli dengan bersikap baik, menjanjikan kemajuan bagi gurun ini, lalu ketika mereka terbuai, kita gunakan gurun ini untuk pembangunan pabrik limbah raksasa.”

Eve juga mengingatnya. Dia menceritakan semuanya pada Ayahnya yang seorang direktur perusahan tekstil terbesar di ibukota. Eve berkeyakinan, gurun tak layak huni seperti itu harusnya tak ditinggali. Eve sendiri berjanji, dia akan memberikan kehidupan yang lebih layak bagi warga gurun.

Tapi Ayahnya tak sejalan dengannya.

“Buat apa memberikan penghidupan bagi mereka? Sudah bertahun-tahun mereka hidup di ladang tandus ini, sudah pasti mereka akan berpikiran kolot dan tak akan mau meninggalkan tempat lahirnya meskipun sudah ada jaminan! Mereka harusnya mati!”

Eve memejamkan mata erat. Dia yakin Ayahnya punya pemikiran seperti itu karena suatu alasan dan belum saatnya dia mampu mengetahuinya. Eve masih berkeyakinan Ayahnya yang terbaik.

Walau dia tahu, pada kenyataannya Ayah yang sangat dia hormati sampai membayar ratusan pembunuh bayaran hari ini. Warga asli sangat marah karena hak hidup mereka dirampas begitu saja oleh mereka—warga ibu kota—yang bahkan lebih kejam dari penjajahan manapun. Mereka muntab dan amukan mereka mampu membuat tim kerja Ayah Eve kewalahan, hingga akhirnya Ayah Eve bertindak terlalu jauh.

Eve sedikit lunak saat Sam melindunginya dari amukan warga beberapa waktu lalu. Sam juga meyakinkan pada banyak orang bahwa Eve sudah mengusahakan yang terbaik untuk mereka.

Tapi Sam salah. Dia dipecat setelah pabrik raksasa mulai dibangun tepat di jantung kota.

atgb

Eve menggigit bibirnya saat mengingat semua hal-hal buruk di antara dia dan Sam. Kekasih? Yang benar saja! Eve hanya memperdayai Sam, itu faktanya.

“Rencananya begini,” Sam kembali berbaring, “kau sengaja menginap di rumahku sejak beberapa hari lalu. Alasannya, kau takut akan amukan Ayahmu, seperti yang kau ucapkan kapan hari. Lalu kau memutuskan kontak dengan keluarga dan antek-antekmu. Kau bilang kau jenuh pada keserakahan mereka. Kau juga sengaja membeli mobil baru anti peluru ini dan memberikannya padaku, berjaga-jaga jika ada kondisi genting seperti ini. Benar?”

Eve sangat acuh pada ucapan Sam, tapi dia masih menerawang ke luar jendela. Kalau saja bisa, dia ingin membuka pintu mobil dan bergegas pergi dari Sam sejauh mungkin. Tapi itu sama saja bunuh diri, sementara masih banyak rencana kehidupan yang belum dia capai.

“Kau beralasan padaku, kau ingin mengajariku mengendarai mobil ini. Setelah aku berhasil, kau menuntunku ke sini, bilang ingin istirahat sejenak. Aku dan kau tertidur, lalu setelahnya, kita terjebak dalam kondisi ini.”

Eve berdecak. Dia tahu Sam adalah orang yang multitalent—desas-desus warga gurun seperti itu—tapi dia tak menyangka bahwa salah satu bakatnya adalah menganalisa kejadian yang telah terjadi.

Eve membayangkan, hari ini kiamat baginya. Kiamat jika Sam mengetahui semuanya persis seratus persen. Tapi tidak mungkin ‘kan? Sam hanya manusia biasa yang pernah menjadi sherif.

“Tapi sebenarnya tidak. Kau pergi tanpa pamit, membuat orang-orang mengira aku menculikmu. Kau sengaja menginap di rumahku, membuat warga asli berpikir demikian, terlebih saat Ayahmu datang sambil mengumpat dan menyiksa beberapa orang hanya demi mencarimu. Kau memutuskan kontak agar terkesan aku mengancammu jika kau berani menghubungi mereka demi minta tolong. Kau beli mobil baru kapan hari, agar terlihat bahwa uang warga kuambil demi kesenangan pribadiku. Aku sudah terlihat seperti orang serakah yang hancur karena jabatan, harta dan wanita. Benar?”

Sial!

Benar-benar kiamat bagi Eve. Sam masih tersenyum. Tanpa terasa satu batang rokok telah habis setelah kalimat demi kalimat keluar dari mulutnya.

“Tapi kenapa ya, aku masih mencintaimu?”

Eve menyandarkan punggungnya ke jok, lalu menyentakkan napas. Rasa kesal pada Sam tiba-tiba menguap, tergantikan dengan rasa sesak yang dia tak tahu darimana asalnya.

“Setelah semua yang terjadi, kupikir, kau hanya memanfaatkanku. Bukan salahmu, aku tahu. Salah Ayahmu. Kau jadi begitu pasti karena didikan Ayahmu juga.”

Eve semakin tertohok mendengarnya. Benarkah apa yang Sam bicarakan? Misalkan dia terlahir dari Ayah yang berbeda, apa dia masih seperti itu, jadi manusia yang lebih baik atau lebih buruk?

“Tuh, lihat? Harusnya aku membencimu, tapi kenapa aku masih membelamu?”

“Jangan berucap sok manis,” Eve segera memotong perkataan Sam, takut Sam mengucapkan kalimat yang semakin membuatnya merasa bersalah, “aku tahu aku pantas dibenci. Jika kau mau membenciku, silahkan.”

Sam duduk. Dia membuang puntung rokoknya pada dasbor mobil yang entah mengapa telah penuh oleh abu dan puntung rokok, padahal usia mobil itu baru satu minggu. Salahkan Eve dan Sam yang selalu merokok demi menjaga konsentrasi.

“Masalahnya, aku tak bisa membencimu. Padahal kau yang sudah membuat nama baikku tercoreng. Kau juga yang telah menghancurkan cita-citaku menjadi sherif.”

Eve mengernyit. Rasa bersalah yang tadinya dia pikir mampu menghilang, kini kembali mencuat. Semakin lama semakin besar.

“Kau tidak mencintaiku ‘kan?” Sam kembali berceloteh, “bisakah kau ajari caranya? Kalau aku tak mampu membencimu, setidaknya, aku harus tidak mencintaimu. Sepertinya itu lebih dari cukup, mengingat aku sudah terlanjur cinta.”

Sam tidak memiliki niatan apapun yang Eve pikirkan. Sam tidak mengucapkan kalimat-kalimat kosong itu untuk membuat Eve merasa bersalah, tidak juga ingin menunjukkan rasa kecewanya pada Eve. Kenyataannya, Sam tak pernah kecewa pada Eve, tapi kecewa pada dirinya sendiri. Cinta tak pernah salah, kata nenek moyang Sam dulu. Yang salah kadang manusianya yang dengan tak tahu diri tidak mengindahkan salah satu anugerah Tuhan itu.

Sam masih menunggu jawaban Eve, tapi Eve sibuk dengan pikirannya. Lelaki itu menghela napas, lalu kembali mengambil batang rokok terakhir di saku celananya. Sekali lagi dia menyalakan pemantik api demi menyulut ujung rokok, menghisapnya, lalu mengembuskan asap pekat sekali lagi. Sam kembali membuka dasbor, lalu mengambil satu plastik yang dia sendiri sudah lupa kapan dia meletakkannya di sana.

Nih.” Sam menyodorkan rokok terakhirnya yang telah terbungkus rapi dalam plastik. Eve mengernyit.

“Rokok terakhir,” Sam menambahkan. Eve waspada.

Kalau dia ceroboh, hari ini juga dia akan mati.

“Aku tahu, di mobil ini ada bom ‘kan?”

Eve kembali kewalahan meladeni celotehan Sam. Dia tak berani lagi merendahkan kemampuan Sam yang selalu dia pandang sebelah mata.

“Dari tadi kau gelisah. Kau orang yang paling benci mati, kurasa.”

Eve memejamkan mata. “Diamlah.”

Sam mengangguk. Dia mengucapkan analisis terakhirnya sebelum nantinya dia menuruti ucapan Eve, “Nanti kau keluar di saat yang tepat. Mungkin dua menit lagi? Lalu kau akan bergabung dengan kelompokmu dan bilang, kau berhasil terselamatkan. Kematianku bisa jadi awal dari kemenangan kalian ‘kan?”

Eve menatap tajam Sam, tapi ternyata, Sam tak lagi menatapnya. Kali ini dia melihat ke luar jendela, pedih melihat orang-orang seperjuangannya mulai kewalahan menghadapi para pembunuh bayaran yang terlampau beringas daripada singa hutan. Bahkan Sherif Josh—ketua daerah sekaligus guru yang paling dia hormati—telah tergeletak tak bernyawa di antara kaki-kaki bejat yang tertawa penuh kemenangan.

Benar kata Eve, Sam melarikan diri. Bahkan kali ini dia pikir, lebih baik dia mati saat itu juga daripada melihat warganya tersiksa dan tak ada yang bisa dia lakukan demi menolong mereka.

“Eve…”

Bibir Eve bergetar, masih enggan berbicara. Sam sudah mengatakan banyak hal yang merasuki pikiran dan jiwanya.

“Satu menit lagi ya?” Sam mendengar satu bunyi asing di jok belakang yang semakin lama semakin keras.

“Aku takut mati, dulu. Tapi sekarang tidak.”

Sam menggenggam tangan Eve. Eve berusaha menampik tangan Sam, tapi genggaman Sam terlalu kuat.

“Terima kasih, sudah mengenalkan cinta. Aku senang karena itu. Kata nenek moyangku dulu, lelaki akan menjadi dewasa ketika mereka merasakan cinta untuk pertama kalinya. Kau sudah membuatku dewasa. Kata Ayahku juga, pria dewasa harus berani mati pada saat-saat tertentu. Dan kalau dipikir, karena aku sudah dewasa, harusnya aku berani mati. Kupikir, sekarang adalah saatnya.”

Air mata Eve mengalir. Dia hanya berani menatap mata Sam dari spion tengah mobilnya.

“Aku mencintaimu, Eve.”

Eve tersenyum. Sam membalas senyuman itu.

Tapi, tanpa Sam duga, Eve membuka pintu di samping Sam dan mendorong Sam keluar. Sam mengernyit.

“Eve?”

Tanpa banyak bicara, Eve menutup pintu mobil dan mengendarai mobil Porsche putihnya, melaju kencang pada kawanan pembunuh bayaran di depannya. Sam berfirasat buruk.

10

“Eve?!” Sam mengejar mobil itu dengan berlari sekencang mungkin.

9

“Eve!!!!”

Eve masih mengabaikan panggilan Sam. Dia mempercepat laju mobilnya sampai spedometernya berhenti pada angka maksimal.

8

Sam….

7

Kuharap kau mampu mendengarnya…

6

Aku juga takut mati, tapi karenamu, aku malah berpikir, seharusnya aku tak takut mati. Aku sangat pantas mati.

5

Kau orang baik. Terlalu baik. Mana mungkin aku tega membiarkanmu menjadi puing-puing jasad tak berbentuk dan terlupakan atas nama pengkhianatan… karena aku?

4

Benar katamu, aku begini karena Ayahku.

3

Ayahku hanya menjadikanku robot pemikir sejak dia tahu kecerdasanku. Dia tak pernah memperlakukanku sebagai anak. Manusia pun tidak.

2

Terima kasih, kau mau mencintaiku.

1

Kau tahu? Kau orang pertama—dan terakhir—yang memperlakukanku sebagai manusia. Sebagai wanita.

0

BOOOMMM!!!

.

.

.

Sam tercengang.

Waktu memang terlalu cepat berlalu.

atgb

ahhh… aku tahu kok lagunya Nu’est yang Good bye bye itu sebenernya gini: si cowok berusaha untuk bisa move on. iya kayaknya lagu itu berakhir bahagia yah Guys, Ijen gwaenchana without you~~ ya pokoknya berakhir bahagia ya… di videonya kan mereka main kembang api gitu kan, merayakan “YYEEAAYY AKHIRNYA BISA MOVE ON YEEAAYYY”

ya tapi entah kenapa semua fic yang terinspirasi dari lagu itu gagal move on semua. bahkan lagu itu menyiratkan Daily Life banget gitu ya.. .tapi entah kenapa jadinya malah ke thriller, fantasy, action… entahlah -__- dan nanti untuk punya Ren, jangan harap happy ending soalnya 4 sebelumnya udah sad ending, kan gak adil kalo jadi happy ending T_T

ya sudahlah ya… review?

One thought on “[Vignette] As Time Goes By

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s