[Ficlet] Darkness – Love Without Love


darkness

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

Darkness (Love Without Love)

Ficlet (1.588 W) | AU!, Romance, Angst, Hurt, slight! Fantasy | PG +15

Starring by :

SISTAR’s Bora & Nu’est’s JR (Jonghyun)

I can’t take this anymore
I can’t forgive

Myself for being in love without love

Note:

Inspired by: Nu’est – Love Without Love (pop!gasa translate)
Yovie & Nuno – Sakit Hati (lirik)

“Bahkan Tuhan menertawakan kehidupan manusia yang begitu menyedihkan.”

Kau pernah mengatakannya sekali padaku, Sayang. Aku pikir ucapanmu hanya lelucon, tapi melihat ekspresi wajahmu setelahnya, aku tahu. Aku cukup tahu, kau memendam amarah, entah pada siapa. Yang jelas, kau begitu marah. Aku tak mengucapkan apapun, tapi di benakku menyimpan sejuta pertanyaan akibat kalimatmu yang terdengar begitu menyedihkan.

Aku tak ingin merasa, ucapan itu kau tujukan untukku, tapi sulit. Kau mengucapkannya tepat setelah aku duduk di depanmu, dua minggu sebelum hari ini di kedai kopi Mr. Albus, seperti biasa. Malam itu kota sudah cukup lengang, kunang-kunang yang beterbangan tiap malam pun sudah meremang. Aku ingin menanyakan maksud ucapanmu, tapi aku takut kau akan menertawakanku. Entah karena aku terlalu peka—jika memang ungkapan itu benar untukku—atau karena aku terlalu tolol—karena terlalu percaya diri ucapan itu untukku.

Aku hanya diam malam itu, begitupun kau yang tak mengucapkan kalimat lanjutan. Saat aku menyesap kopiku, kau hanya tersenyum.

“Menurutmu, aku menyedihkan, tidak? Setelah aku mengucapkan kalimat itu tadi, aku menyedihkan tidak?”

Aku semakin bingung atas ucapanmu. Berhari-hari kita tak pernah bertemu—bukan karena aku, tapi karena kau yang terlampau sibuk akan duniamu—dan sekalinya bertemu, kau meracau tak jelas begitu. Kau selalu berhasil membuatku bingung, Sayang. Di saat aku kegirangan karena malam itu kau menghubungiku terlebih dulu—setelah acapkali kau mengabaikan pesan dan teleponku—untuk bertemu, kau bertingkah aneh. Mungkin kau sibuk, aku mengalihkan pikiran.

Dan kalau saja aku boleh menjawab dengan jujur, Sayang, izinkan aku menjawab pertanyaanmu malam itu:

Iya, Sayang. Kau begitu menyedihkan. Kita begitu menyedihkan.

Perihnya, kau mengakhiri pertemuan malam itu dengan pergi begitu saja, tanpa sepatah katapun. Pandanganku mengekor pada punggungmu, terus begitu hingga kau benar-benar menghilang di balik pintu kedai kopi.

Untitled-1

 

Aku masih ingat, aku pergi makan malam bersama gadis lain malam setelahnya. Sengaja aku mengajaknya bertemu di sekitar rumahmu, pada jam-jam di mana aku sangat yakin kau ada di rumah. Aku begitu membencimu, sangat. Tapi entah mengapa, kau selalu ada di benakku, Sayang. Membuatku selalu melakukan kesalahan malam itu.

Aku menatap dalam mata gadis itu—sekarang aku sudah lupa siapa namanya—lalu berbincang-bincang sambil menautkan jari-jemari kami. Kami tertawa bersama, tapi aku akan melakukan kesalahan yang sama:

Memanggil gadis itu ‘Bora Sayang’.

Namanya bukan Bora. Bahkan dia dua tahun lebih muda dariku.

Kau melihatku ada di rumah makan dekat rumamu. Aku melirikmu dan kau tahu itu. Kau hanya tersenyum puas, lalu pergi. Malam itu berakhir begitu lama. Malam itu aku kembali sendiri setelah gadis itu bilang dia tak mau bertemu denganku lagi yang tak mampu melupakan kekasih lamanya.

Bukan. Bukan kekasih lama.

Sayangku, kau masih kekasihku ‘kan?

Hanya saja, aku tak mengerti jalan pikiranmu. Kita tak lagi saling mengerti seperti dulu. Menjengkelkan.

Bolehkah aku bertanya padamu, Sayang? Apa aku terlihat menyedihkan di matamu? Apa aku terlihat lemah di depanmu? Apa kau berniat untuk melepaskanku, cepat atau lambat? Apa kau membenciku, sama seperti aku membencimu?

Untitled-1

 

Sekarang, di persimpangan jalan, aku terus menanti lampu kunang-kunang penanda jalan berwarna merah berganti warna menjadi hijau. Tapi setelah tiga jam lamanya berdiri, aku tak beranjak dari sini. Lampu jalan seolah tidak mengizinkanku melewati kanvas putih yang tergelar di jalan rerumputan ini, atau mungkin aku memang tak memperhatikan jalan.

Aku menghentakkan napas, lalu berjalan ke arah lain. Aku tak begitu tahu kemana kaki ini menuntunku pergi, tapi ketika sampai di perempatan jalan yang lain, aku sadar. Aku berjalan kepadamu, Sayang. Aku mengangkat kepalaku, mendapati dirimu tengah berdiri di depan rumah sambil menggenggam pagar kayu rumahmu dan menengadahkan matamu ke atas. Kau menangis.

Ah, aku cukup mengerti sekarang.

Kau tak bisa melupakan kekasihmu yang kini kau percaya telah menjadi bintang ‘kan, Sayang?

Rumahmu tak lagi seterang dulu. Saat aku ada di sana, rumahmu selalu terang. Jelas saja, perasaanmu selalu memengaruhi cahaya rumahmu. Jika sekarang rumahmu gelap, berarti suasana hatimu juga gelap.

Apa aku sudah tak berarti lagi, Sayang?

Untitled-1

 

“Sayang.”

Kau menghapus air matamu begitu melihatku berdiri di depanmu. Kau memaksakan diri untuk tersenyum. Tapi aku tahu kau masih tak senang. Rumahmu masih sama gelapnya dengan malam. Bahkan mungkin lebih dari itu. Meskipun aku mengerahkan seluruh kunang-kunang yang kumiliki untuk menemani malammu, mungkin tak cukup. Sepertinya takkan pernah.

“Bagaimana kencanmu dengan gadis itu?”

Aku tahu kenapa kau tersenyum malam itu. Karena kau bisa menemukan alasan untuk mengakhiri hubungan kita. Benar ‘kan? Aku yakin aku tidak salah. Kau bosan denganku, itu faktanya.

Aku datar menurutmu, terbaca jelas di wajahmu.

“Tak lancar.”

Kau mengernyit. Sedikit rasa kecewa terbersit di wajahmu.

“Kenapa kau muram begini?” akhirnya aku menanyakannya. Sebisa mungkin aku ingin menghiburmu, meskipun aku tahu tingkat kegagalannya lebih besar daripada keberhasilannya. Aku tahu sepertinya aku bukan siapa-siapa lagi bagimu. Tapi setidaknya, izinkan aku menemanimu.

“Entahlah.”

Aku tersenyum kecil. “Karena aku ‘kan?”

Kau tersenyum pahit. Untuk pertama kalinya, aku melihat rasa bersalah di wajahmu. Aku melirik sekilas lukisan di belakangmu, membuatku tersadar. Aku hanyalah pengganti lelakimu yang dulu. Aku tak pernah kau cintai seutuhnya. Kau menyadari aku sama dengannya, bukan dari segi wajah, tapi dari segi kelakuan. Bagaimana aku mencintaimu, bagaimana aku begitu ingin melindungimu, bagaimana aku selalu menomor satukan kau.

Dulu kau begitu mencintaiku karena menurutmu, kau berhasil menemukan belahan jiwamu yang lain, yang mampu membuatmu bahagia. Setelah jarum jam berputar cukup lama, setelah berbagai musim kaulewati bersamaku, kau sadar. Aku bukan dia. Dia bukan aku.

“Maaf jika aku tak bisa membuatmu bahagia lagi.”

Kau masih diam, tapi kau membukakan pagar rumahmu, membiarkanku masuk. Aku menjejakkan kaki ke pekarangan rumahmu, lalu memakaikan jaketku untukmu. Entah mengapa, aku merasa dingin malam ini. Mungkin kau juga merasakannya, Sayang?

“Dia bintang yang mana?”

“Tidak tahu.” Akhirnya kau berbicara. Kau menundukkan kepalamu, lalu isak tangismu terdengar. Aku membuatmu menangis.

Aku bukan kekasihmu lagi karena aku tak mampu membuatmu bahagia lagi.

“Aku boleh memelukmu?” Aku bertanya, dan kau hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku mendekapmu erat, menepuk punggungmu pelan. Dulu aku sering melakukannya saat kau lelah dengan duniamu.

“Adakah cara mati yang lebih cepat?” Akhirnya kau bertanya. Aku enggan menjawab, karena aku tahu ujung-ujungnya kau akan menanyakannya. Dan tak pernah ada jawaban pasti atas pertanyaan anehmu. Kau selalu menanyakannya saat kau frustasi, dan pertanyaan itu selalu berhasil membuatku frustasi juga.

“Adakah cara mati yang terhormat, tanpa bunuh diri dan tanpa dibunuh?”

Pertanyaan itu terngiang lagi. aku masih menepuk pundakmu. Bibirku terkunci dalam diam, tahu bahwa kau tak pernah menginginkan jawaban. Kau cukup cerdas untuk mengetahui pertanyaanmu terlalu tolol jika ada jawabannya.

“Kenapa aku tak bisa mati, seperti orang yang kucintai?”

Dan kalimat terakhirmu berhasil membuat air mataku turun. Benar. Aku bukan orang yang kau cintai. Sekeras apapun aku membuatmu cemburu, sekeras apapun aku menarik perhatianmu… aku—bahkan bayanganku—tak akan tertangkap iris matamu. Terlebih hatimu.

Aku hanya wujud nyata dari harapan semumu akan kehadiran orang yang sama. Pertanyaan terakhirmu adalah yang pertama kalinya kau ucapkan malam ini Dan sialnya, aku tak pernah mengantisipasi pertanyaan itu.

Iya. Kau menghindar dariku beberapa malam ini karena kau marah padaku. Aku begitu menyedihkan.

Aku tahu kau mencintaiku karena aku mirip dengan kekasihmu yang telah lama pergi. Aku berusaha menjadi diriku sendiri setelahnya, ingin sekali dirimu mencintaiku sebagai aku, bukan dia. Aku ingin memilikimu dengan utuh, tanpa ada sisa cinta yang lain. Aku tak pernah sadar itu akan melukaimu karena aku begitu percaya diri bisa membuatmu bahagia, lebih dari dia. Aku tak pernah tahu, apa yang kulakukan dan apa yang kaulakukan mampu melukai semuanya. Melukaimu, melukaiku, melukai kita.

“Aku mencintaimu, Bora-ku Sayang…” aku semakin mempererat dekapanku. Kau menangis sesengukan dan aku tak peduli. Penderitaan kita sama. Impas. Aku ingin buta atas apa yang terjadi, aku ingin egois untuk pertama kalinya, setelah sekian lama yang kupikirkan hanyalah kau.

“Tak bisakah kau mengucapkan kata yang sama? Seperti yang dulu sering kau lakukan?”

Aku merasa rumahmu semakin gelap, dan aku tak peduli. Benar-benar tak peduli.

“Tak bisakah kau berbohong? Satu kali saja…”

Kau menggeleng, membuat aku semakin tenggelam dalam kegelapan yang begitu menyeramkan. Aku tak pernah kesulitan bernapas, kecuali hari ini. Kau membuatku benci pada diriku sendiri, pada kau juga.

“Tempat yang dulu pernah kuisi, bisakah malam ini kudapatkan lagi?” tanyaku lagi. Aku masih berusaha untuk lepas dari kegelapan yang begitu membendung kita, karena aku lelah merasakan sesak yang kupendam sekian lama.

Kau menangis semakin keras. Aku menyadari aku salah memberikan pertanyaan. Pada kenyataannya, aku tak pernah memiliki tempat. Di hatimu atau di cintamu. Aku cuma penghibur sesaatmu.

“Maaf, Jonghyun…”

Kau tak lagi memanggilku ‘Sayang’. Aku benar-benar tak ada lagi. persis seperti debu yang mengotori kehidupanmu, lalu kau meniup debu itu hingga pergi. Aku memutuskan untuk melepas dekapanku, membiarkanmu bernapas dengan leluasa. Aku tak bisa menerima kenyataan ini… aku tak bisa memaafkan Tuhan yang membiarkanku hidup…

Aku tak bisa terima pada kehadiran cinta di hatiku, membiarkan aku merasakan cinta tanpa adanya cinta yang sesungguhnya.

Aku kesulitan menghela napas. Terlalu sesak di ulu jantung, kau tahu? Aku hanya bisa tersenyum, lalu menyuarakan pertanyaan terakhirku,

“Jika aku jadi bintang—sama seperti kekasih sejatimu—kau mencariku atau tidak?”

Kau terdiam. Tadi kau bertanya padaku ‘kan, bagaimana caranya mati dengan cepat? Kau sudah tahu caranya, tapi kau tak tahu kalau kau berhasil memiliki korban pertamamu atas teori kehilangan dan kematian yang begitu kau agung-agungkan dalam kegamangan duniamu yang tak berujung.

Aku.

Mulai malam ini, aku mati rasa akan cinta. Aku masih bernyawa, tapi aku tak lagi bernyawa. Aku mengembalikan kalimatmu yang dulu begitu membingungkan bagiku, tapi sedikit kumodifikasi. Menyerupai riddle, tapi kau tak akan mampu memecahkannya. Karena aku sendiri tak tahu bagaimana penyelesaiannya…

“Bahkan Tuhan pun menertawakan kematian manusia yang begitu sia-sia…”

…dan ketika aku berbalik menjauh darimu pun, aku masih tak tahu apa maksud kalimatmu. Apa maksud kalimatku. Semuanya gelap.

Semuanya mati begitu saja.

END

betewe ini aku pengen bikin fluff tapi gagal gara-gara pas nulisnya dengerin Sarang Opneun Sarang punya Nu’est huhuhu T_T kapan ya aku bisa bikin fic nge-fluff se-ahli kak Amer dohhh… T_T aku bener-bener minta maaf sama readers yang mungkin berharap aku bawa fic dengan ending bahagia… tapi diriku… T_T /speechless

dan baiklah… aku gak bisa meracau lebih banyak kali ini, jadi…

Review ya?😉

2 thoughts on “[Ficlet] Darkness – Love Without Love

  1. sasaaaa, finally kak menapakan kaki dimari…hehehhe
    betewe, jdi sebenernya jonghyun masih cinta sama bora tapi dy kencan sama cewe laen? trus trus trus hubungan bora-jonghyun apa donk skg? kesannya kaya deket tapi jauh (nah lho)…sepikiranlah kak dsini, kisahnya itu bagaikan riddle tapi gada jawabannya, misterius2 gtu…

  2. /lempar golok ke Bora/
    bisa-bisanya itu lho, Jonghyun masih cinta banget sama dia, eh malah dianya ga bisa MOVE /ini lagunya 4L ya?/ /lupakan/ xD
    emang kadang-kadang kita gak menyadari ada yang peduli sama kita, tapi kita lebih peduli sama orang lain. Paling nyesek juga pas Bora senyum liat Jonghyun pacaran, ga bersyukur banget punya orang yang care sama dia. Trus pas Jonghyun minta sekali sama Bora buat bohong, kenapa gak diturutin aja sih, kan kasihan tuh T_T
    secara diksi, udah mirip puisi dah, kalau galau pasti kata-kata puitis meluncur mulus tanpa geronjalan/?
    mau tau cara mati yang gak dibunuh atau bunuh diri? yaitu minum baygon secara nggak sengaja /slapped/😀
    Last, boleh tau kenapa milih Bora? aku yakin pasti lebih ngenes andai cast ceweknya Dasom atau Soyu.
    But overall, aku sukaaaaaa /capcus ke ff lain/

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s