[Oneshot] Last Fantasy


Last-Fantasy

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

Last Fantasy

Vignette (2.731 W) | AU!, Fantasy, Romance, Angst | Teen

Starring by :

Nu’est’s Minhyun & Hello Venus’s Yoonjo
JYP’s Owner Park Jin Young

Fantasy Series of New Atlantic Kingdom

Read another Series :

Capricorn | Virgo | Aries | Aquarius

Now :

Cancer

In the middle of a very long life
There will be a day when I forget you

I just need to forget yesterday and get back up again

Note :

Similar Fic that inspired by a same Song:

Aron | Minhyun

 

<p style=”text-align:center;”></p>

Insomniaku kambuh lagi, itu yang Minhyun ucapkan demi mengalihkan perasaannya dan kini dia enggan berbaring di atas kasurnya. Padahal, rasa kantuk jelas-jelas menyerbunya, tapi dia tetap tak ingin memejamkan mata. Mimpi buruk selalu menghantuinya, membuat dia takut memejamkan mata barang sedetik. Bahkan kalau bisa, dia ingin sekali untuk tak berkedip.

Dia menghampiri meja kerjanya dan meneguk obat-obatan yang sudah jelas dilarang oleh dokter. Dia mengabaikan perkataan setiap orang, jelas. Dia tipe orang yang menganggap apa yang dia pikirkan selalu yang terbaik untuknya, jelas. Dia tipe orang yang sulit mengalihkan pikirannya pada satu hal baru, jelas.

Jelas sekali, dia enggan menerima kenyataan bahwa mimpi buruk adalah miliknya.

Dia mengerjapkan matanya, lalu duduk sejenak di meja kerjanya. Lelaki itu mengitarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, berusaha mengais ingatan semunya akan masa lalu. Dia tak pernah menginginkan benaknya menyelami dunia khayal terlalu jauh, tapi kadang sanubarinya berkata lain.

Kali ini Minhyun menatap lantai kamarnya dengan tarikan napas pelan. Andai saja bisa, dia akan menarik gadis itu ke dalam dunianya hingga dia benar-benar jadi nyata. Gadis yang selalu menyelamatkannya dari mimpi buruk.

Minhyun sadar dia bukan anak berumur 8 tahun lagi yang percaya akan keberadaan peri gigi. Dia sudah tak berharap akan adanya Santa Claus sejak umur 7 tahun. Dia juga berani menghadapi realita bahwa tak semua doa dikabulkan oleh Sang Pencipta Hidup. Makanya, dia benci akan keberadaan dunia ilusi yang belakangan mengganggu hidupnya.

Kini umurnya 19 tahun. Dia sudah lulus dari SMA-nya, tapi dia belum mendapatkan Universitas yang tepat. Lebih benarnya, dia tidak lolos seleksi. Orang tuanya marah besar padanya, membuat dia terpaksa pergi dari rumah. Sudah 6 bulan berlalu.

Dia menghentakkan napas hingga kepulan asap putih tercetak jelas keluar dari mulutnya. Meja tempatnya duduk sekarang selalu menjadi pelampiasan amarah di saat-saat tertentu, salah satunya yang sekarang. Cengkeramanna di bibir meja membuat meja kayu yang baru berumur 6 bulan itu rapuh, lalu terkikis.

Minhyun sendiri yang membuatnya, diajari Pak Jeong untuk membuat meja sendiri dari kayu-kayu bekas yang berserakan di sekitar rumah sementaranya. Kadang ada kotoran serigala di antara kayu-kayu itu, mengingat rumahnya kini sangat jauh dari keramaian, tapi dekat dengan ‘Hutan Terlarang’. Sama seperti Pak Jeong yang sampai setengah abad tak menemukan pendamping, Minhyun menganggap kehadirannya ‘terlarang’ bagi keluarganya.

Kehadirannya ‘fantasi’ bagi keluarganya. Ada saat kebahagiaan datang, hilang saat keburukan menimpa.

Minhyun menatap foto keluarganya yang terletak di sana dalam keadaan telungkup. Berkali-kali dia berusaha membenci keluarganya agar dia bisa hidup normal lagi—hidup sejauh mungkin dari keluarganya—tapi nyatanya sulit. Lagi-lagi dia mengangkat foto itu, tersenyum kecut, mata berair… dan selalu diakhiri amukan dengan terhempasnya foto itu ke sudut meja.

Minhyun berjalan menghampiri jendela. Saat ini musim dingin, jadi hanya salju putih yang dia lihat di setiap sudut. Atap rumah Pak Jeong, dahan-dahan pepohonan, bahkan rumput-rumput liar yang selalu sedap dipandang mata tak lagi nampak. Minhyun menyeringai saat mendapati seseorang di luar sana.

last-fantay

 

“Pak Jeong!”

Yang dipanggil hanya menoleh, lalu meneruskan kegiatannya membakar daging babi hutan yang baru saja dia dapatkan dari perburuan malam lalu. Ada dua daging, untuk persediaan mereka dua malam. Minhyun segera duduk di samping Pak Jeong, ikut merasakan kehangatan api unggun dan tersenyum nakal. Sejak Minhyun datang, Pak Jeong selalu malas mencari makan dan semuanya dia tumpukan pada Minhyun.

“Ada apa gerangan?”

Pak Jeong tersenyum kecil. Sambil memutar daging di depannya, dia berkata, “Hanya ingin berburu. Sudah lama sekali aku tak memasuki hutan.”

Minhyun menemukan ranting yang jatuh di sekitar tempat mereka duduk. Dia mengambil salah satu yang paling kecil, lalu menulis sembarang huruf di salju dekat ujung kakinya.

“Merindukan ‘mereka’?”

Pak Jeong mengangguk. “Hm.”

Mereka yang dimaksud Minhyun adalah penghuni hutan. Mereka adalah orang-orang yang pernah berniat bunuh diri, atau korban pembunuhan, kadang malah anak-anak kecil dan remaja yang penasaran atas misteri ‘Hutan Terlarang’ itu. Rasa penasaran mereka juga yang membuat mereka tahu kenapa hutan itu jadi Hutan Terlarang.

Hutan itu memiliki nama lain ‘Hutan Kematian’.

Minhyun tertawa kecil ketika ingat nyawanya hampir melayang saat dia memasuki hutan itu pertama kalinya, saat itu berumur 6 tahun. Teman-temannya tak ada yang selamat—Minhyun lupa penyebab mereka sekarat di hutan itu—tapi ajaibnya, dia berhasil hidup.

“Baru bangun, nak?”

Pertanyaan itu membuat tawa Minhyun memudar. Kegiatan menulisnya terhenti. Dia menatap Pak Jeong yang masih tak mengalihkan perhatiannya dari daging panggangnya. Butuh waktu lama sampai akhirnya dia menjawab iya. Dia enggan jujur.

“Baru bangun atau memang tidak tidur?”

Minhyun menahan napas. Dia menatap langit yang mulai kekuningan. Matahari akan segera terbit.

“Kau minum lagi obat itu?”

Minhyun tertawa kecil. Sudah dia duga sebenarnya, dia tak mampu membohongi Pak Jeong yang sudah seperti kakeknya sendiri. Dokter yang melarang Minhyun untuk meminum obat penahan rasa kantuk adalah Pak Jeong, tak ada yang lain.

“Aku tak akan memarahimu kali ini.”

Minhyun mengangguk maklum. Sekarang dia tahu kenapa Pak Jeong mau berburu dari malam sampai menjelang pagi seperti sekarang. Pak Jeong juga takut untuk tidur.

“Kenapa tiba-tiba seperti itu, Pak?”

Pak Jeong menghela napas. “Kau harus janji untuk tidak tertawa.”

Minhyun bergegas mengangguk. Bukan karena dia pintar menepati janji, tapi dia hanya penasaran, apa yang membuat Pak Jeong mampu takut untuk memejamkan mata, padahal Pak Jeong adalah orang paling berani yang pernah Minhyun temui.

“Aku bermimpi menikah dengan serigala belakangan ini.”

Seketika itu juga Minhyun tertawa sumbang.

last-fantay

 

Saat dia kembali memasuki kamarnya tepat setelah perutnya kenyang, dia menemukan sesosok gadis cantik berbalut sutra putih. Dia senang gadis itu datang lagi, tapi di saat bersamaan dia merasa hampa. Bukankah gadis itu datang hanya karena dia sedang butuh teman?

Dalam konteks ini, dia berpikir gadis itu baik. Menemaninya dalam suka maupun duka, tak seperti teman-teman ‘nyata’ yang menghampirinya saat butuh, menghempaskannya sejauh mungkin saat Minhyun tak lagi berguna. Tak ada yang mau membantunya saat dia berada dalam masa-masa sulit seperti ini. Tak ada kecuali dia.

“…Dan tadi malam ada hujan meteor di tempatku sana.”

Saat gadis itu terus berceloteh dengan riangnya, Minhyun hanya tersenyum, sesekali tertawa. Pikiran Minhyun berkecamuk lagi: di saat dia setengah mati menahan rasa dingin yang terasa begitu menusuk, kenapa gadis itu masih bisa berjalan santai hanya bermodalkan kain sutra di tubuhnya? Bahkan dia telanjang kaki.

“Ngomong-ngomong, sekarang ulang tahun Cancer ‘kan?”

Pikiran Minhyun sedikit teralihkan. Dia berpikir cukup lama, lalu mengernyit. Di dekat Hutan Terlarang memang dapat dirasakan perubahan musim dan waktu, tapi di sana waktu berhenti. Selain itu, tak ada kalender baik di rumah Pak Jeong ataupun rumahnya, lebih-lebih jam. Dia tak lagi ingat kapan ulang tahunnya.

“M…Mungkin.”

“Hei…” Gadis itu berkacak pinggang dan memasang wajah kesal. Rambut gradasinya melambai tertiup angin yang cukup kencang, membuat wajahnya sedikit tertutup. Minhyun hanya tersenyum.

“Aku ini Putri Cancer lho…” lanjutnya.

Sekarang Minhyun sadar, gadis berpangkat ‘Putri Cancer’ dari ‘Kerajaan Cancer’ itu merasa tersinggung. Lupa akan ulang tahun zodiak mereka berdua yang kebetulan sama tentu saja sama artinya dengan melecehkan Kerajaan Agung sang Tuan Putri.

“Maaf.”

Putri Cancer mendengus kesal. “Kau sudah banyak berubah ya, semenjak pergi dari orang tuamu?”

Minhyun tak bisa bilang iya ataupun tidak. Dia tak mampu merasakan perubahan pada dirinya, lebih tepatnya tak mau. Dia hanyalah Minyun yang sesuai dengan keinginannya, bukan keinginan orang lain dan itu cukup. Dia menjalani hidupnya sendiri, jadi orang lain tak berhak memengaruhi hidupnya.

Tapi dia pikir, mungkin apa yang Athala—sang Putri Cancer—ucapkan benar. Dia tak lagi hidup di antara masyarakat luas, tak lagi mengacuhkan prinsip sosial maupun ekonomi yang berdalih ‘manusia hidup saling membutuhkan’, atau pemikiran-pemikiran lainnya yang mengekangnya mematuhi semuanya. Di sana dia bebas, tapi juga kesepian. Andai saja tak ada Pak Jeong, dia hanya berteman dengan hantu-hantu penghuni Hutan Terlarang. Itu sudah pasti.

“Mungkin iya. Aku tak tahu lagi.” Minhyun menggaruk kepalanya. Ingin sekali dia acuh pada tokoh ilusinya, tapi sekeras apapun dia berusaha hasilnya sama. Dia masih membutuhkan Athala di saat-saat tertentu.

“Dulu kau selalu tersenyum senang saat aku datang menemanimu. Dulu kau juga banyak bicara, berkeluh kesah dan aku jadi pendengar. Setiap hari selalu bergantian, aku cerita padamu, kau cerita padaku. Belakangan kau lebih diam.”

Iya. Lingkungan yang sepi dan sunyi mampu membuatnya menjadi sama persis dengan lingkungannya.

“Minhyun…” Athala meremas pundak Minhyun dengan lembut, memberikan sedikit kekuatan yang dia miliki pada Minhyun, setidaknya mengembalikan keceriaannya lagi barang sesaat.

Minhyun menatap Athala dan menggenggam tangannya erat. Wajah muramnya kini berseri-seri, “Ayo kembali.”

Athala tersenyum sambil mengangguk.

last-fantay

 

Dari kejauhan, Pak Jeong melihat Minhyun berlari-lari kecil sambil tertawa lepas. Pak Jeong senang melihat Minhyun yang sama seperti saat dia bertemu pertama kali dengan Minhyun. Minhyun yang selalu ceria apapun masalahnya. Tapi masalahnya, apa yang membuat Minhyun dapat ceria lagi seperti itu?

Memang bukan pertama kalinya, Minhyun yang selalu murung jadi ceria. Tapi kejanggalannya, Pak Jeong merasa Minhyun tengah bercanda dengan sesosok makhluk, tapi dia tak mampu menangkap keberadaannya dengan indra penglihatan.

“Minhyun!!”

Yang dipanggil menoleh sambil menyipitkan mata. Matahari hampir terbenam tepat dibalik sosok Pak Jeong yang kesusahan mendaki bukit tempat dia bermain.

“Waktunya makan malam.”

Minhyun mengangguk, lalu berbalik pada Athala dan melambaikan tangan. Athala membalas lambaiannya sambil tersenyum lebar, puas dapat membuat Minhyun kembali ceria.

Selalu begitu. Athala dan Minhyun akan berpisah tepat setelah Minhyun tersenyum tanpa beban. Itu yang membuat Minhyun enggan sembuh dari penyakit ‘fantasi’-nya.

“Sebenarnya, siapa yang bermain denganmu?” akhirnya Pak Jeong menanyakan pertanyaan yang selalu dia pendam selama ini. Minhyun menghela napas, tahu bahwa pertanyaan itu akan terucap oleh orang di sampingnya itu.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Minhyun sekenanya.

“Hati-hati. Dia bukan makhluk yang bisa kulihat. Bisa jadi dia membawa dampak buruk bagimu.”

Minhyun enggan terpengaruh, tapi memang benar. Dia selalu tertimbun oleh dunia fantasinya, selalu sibuk memikirkan apa saja yang akan dia lakukan bersama Athala. Kadang dia akan membayangkan keindahan-keindahan kerajaan Cancer yang pernah dia datangi. Athala mengajaknya melewati portal yang selalu menghubungkan Bumi dengan kerajaan Cancer.

Bisa dibilang, pikirannya yang membuat dia jadi buruk di mata orang-orang.

Tapi mau bagaimana lagi? Athala dan Minhyun saling membutuhkan.

last-fantay

 

Tepat tengah hari di keesokan harinya, Pak Jeong tergopoh-gopoh mengangkat tubuh Minhyun ke atas ranjangnya. Tubuh rentanya sudah kebal dengan berbagai macam penyakit tulang, tapi membopong tubuh Minhyun mampu membuat tulangnya berbunyi nyaring saat dia merentangkan tubuhnya.

Kali ini dia benar-benar khawatir akan keadaan Minhyun. Pak Jeong baru saja pulang dari hutan setelah menyambangi arwah istrinya saat Minhyun tergeletak di tengah-tengah halaman. Keringat menjalar di seluruh tubuh Minhyun, padahal Minhyun hanya mengenakan kaos katun tipis di musim dingin.

“Jangan mati, anak nakal… Jangan mati…” Pak Jeong mengumpulkan seluruh tanaman liar yang sekiranya mampu mengobati Minhyun, walau Pak Jeong sendiri tak tahu pasti apa yang membuat Minhyun tak sadarkan diri.

Dia mengitarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, lalu matanya menangkap keberadaan obat di meja Minhyun. Obat pencegah rasa kantuk yang pernah sekali dia minum. Pak Jeong membulatkan tekad untuk membuang obat itu. Dia yakin, Minhyun sudah lama tak tidur karena meminum obat-obatan yang dia tak tahu darimana asalnya.

Obat itu memang manjur, Pak Jeong membuktikannya sendiri di malam sebelumnya. Tapi kali ini Minhyun benar-benar kelewatan.

last-fantay

 

Athala mengunyah bubur kacangnya dengan semangat. Senyumnya begitu lebar saat membayangkan Pesta Kerajaan Cancer yang selalu diadakan untuk merayakan ulang tahun Kerajaan mereka. Dia akan berdandan dengan pakaian terbaik, wajah tercantik, mahkota paling berkilau yang tak dimiliki putri-putri lain di seluruh Atlantis…

Juga pendamping yang sangat tampan yang tak satupun makhluk Atlantis mampu sepadan dengannya.

“Tuan Putri… anda yakin akan mengajak teman anda, siapa namanya?”

“Minhyun.”

“Iya… lelaki itu untuk menjadi pendamping anda di pesta itu?”

Athala tersenyum pada sahabat setianya, Issha, lalu berucap, “Tentu saja. Memang aku punya alasan untuk ragu? Dia juga sama-sama Cancer. Semuanya pasti berjalan lancar.”

“Tapi tetap saja, dia dari Bumi.”

Athala mengangguk. “Aku tahu.”

Issha menggeleng pelan. Dia tak begitu mengerti jalan pikiran sang Tuan Putri kali ini. Mungkin Athala sudah merencanakan berbagai cara yang begitu rumit supaya Minhyun mampu kembali ke kerajaan mereka seperti kapan hari, tapi itu terlalu berbahaya. Keberadaan Minhyun yang sebelumnya tak pernah terdeteksi di Kerajaan manapun di wilayah Atlantis malah menimbulkan berbagai macam kecurigaan.

“Hati-hati Tuan Putri. Berbahaya bagi Minhyun maupun Tuan Putri.”

Lama-kelamaan, Athala risih dengan ucapan demi ucapan Issha yang terkesan begitu tak percaya atas kecerdikannya mengatur apa yang dia inginkan. Dia membanting sendok peraknya ke permukaan mejanya. Beruntung tak ada satupun pelayan yang menemani mereka makan malam, jadi rahasia mereka benar-benar aman.

“Aku tahu apa yang kulakukan. Jangan coba-coba menggurui.”

last-fantay

 

Dengan sangat pelan, Minhyun membuka matanya. Samar-samar dia menangkap sosok Pak Jeong di samping ranjang rapuhnya.

“Hei, nak! Akhirnya, kau sadar juga!!”

Pak Jeong memeluknya erat begitu dia berhasil duduk. Dia menepuk pelan punggung Pak Jeong, berusaha menenangkan pria paruh abad itu. Begitu Pak Jeong melepas pelukannya, Minhyun tersenyum. Pak Jeong semakin menyadari kondisi Minhyun yang lebih lemah dari biasanya. Suhu tubuhnya tinggi, wajahnya pucat, kulit bibirnya mengelupas saking keringnya.

“Kau harus banyak beristirahat, nak.”

“Tapi—“

“Obatmu sudah kubuang.”

Mata sayu Minhyun terbelalak.

“Kau tak tidur, sama seperti kau tak bangun! Manusia mati karena matanya terpejam untuk selamanya. Jika kau membuka mata untuk selamanya, sama seperti mayat hidup!!”

“Pak Jeong…”

“Kau tidur!” Pak Jeong mendorong tubuh Minhyun untuk kembali berbaring dengan lembut, namun nada bicaranya semakin kasar, “Aku akan keluar mencari obat-obatan yang cocok untukmu.”

“Pak Jeong!”

“Tidur!”

Minhyun segera menarik selimutnya sampai menutupi lehernya dan memejamkan mata. Saat Pak Jeong berbalik, dia mengintai dengan sebelah matanya, menunggu keadaan aman.

last-fantay

 

Hanya butuh beberapa menit bagi Minhyun untuk keluar rumah. Pak Jeong sudah memasuki hutan dengan sangat dalam, mencari obat-obatan yang mungkin mampu menyembuhkan Minhyun. Biasanya Minhyun mau menuruti ucapan Pak Jeong, tapi kali ini tidak. Obat yang baru saja Pak Jeong buang jelas-jelas berharga buatnya. Dari Athala dan tak akan ada obat yang mampu menandingi khasiatnya.

Dia berjalan mengitari rumahnya, masih berpikiran positif bahwa Pak Jeong tak membuang obat-obat itu terlalu jauh. Tapi nampaknya nihil. Dia tak mampu menemukannya di manapun.

“Hei, Minhyun!”

Minhyun yang sedang berjongkok mengangkat sedikit kepalanya. Lagi-lagi, Athala telah berdiri di depannya sambil melambaikan tangan.

“Aku datang lagi.”

“Oh..” Minhyun berdiri dan tersenyum.

“Tumben, kau tidak memakai jaket tebal dan semacamnya. Sekarang masih musim dingin ‘kan?”

Minhyun mengangguk. Minhyun hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan kejadian yang membuatnya enggan memakai jaketnya, tapi Athala lebih dulu memblokir ucapan Minhyun dengan genggaman tangannya.

Aih, panas sekali tubuhmu!”

Minhyun tertawa kecil. “Aku baik-baik saja.”

Athala mengernyit ragu. “Benar?”

Minhyun mengangguk, lalu melanjutkan, “Hanya kurang tidur.”

Saat itu juga Athala bungkam. Minhyun tak lagi memikirkan untuk menemukan obatnya, yang penting sekarang Athala sudah ada di sampingnya. Saat nanti Athala pulang, dia akan meneruskan pencariannya. Semoga saja Pak Jeong belum pulang sampai saat itu, begitu Minhyun membatin.

“Mau bermain lagi?”

Kini Athala memperhatikan wajah Minhyun dengan seksama. Wajahnya memang pucat seperti biasanya. Di kerajaannya, hanya orang-orang yang sudah tua yang merasakan sakit, jadi dia sendiri tak pernah tahu bagaimana rasa sakit itu terasa atau tercipta. Tapi dia cukup cerdas untuk dapat menganalisa bahwa suhu tubuh panas dan wajah pucat adalah pertanda yang tidak baik.

“Kau tidak ingin istirahat?” Athala balik bertanya.

“Bukannya kau ke sini karena ingin bermain denganku?”

“Iya, sih. Tapi…”

Minhyun memegang tengkuk Athala dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan keningnya dengan kening Athala. Apa yang dia lakukan hanya untuk mengetes, apakah suhu tubuhnya memang benar-benar tinggi dengan membandingkan suhu tubuhnya dan suhu tubuh Athala. Athala nampa begitu khawatir, maka dia hanya ingin memastikan semuanya akan baik-baik saja. Tanpa dia tahu pipi Athala bersemu merah saat ini.

“Aku baik-baik saja. Percayalah.”

Sebenarnya, berjalan saja tidak begitu sanggup. Namun dia menguatkan diri dengan menautkan jari-jemarinya dengan milik Athala. Dia tahu baik dia dan Athala sama-sama kesepian dengan persepsi masing-masing. Athala selalu datang padanya saat Athala kesepian, jadi dia tak ingin mengecewakan Athala.

Dan baru kali ini, Athala merasa bersalah.

last-fantay

 

Mereka menaiki bukit lagi, membuat manusia salju lagi, tapi kali ini Minhyun yang lebih banyak bicara. Athala menanggapinya dengan senyuman tipis, kadang tertawa kecil. Minhyun tahu Athala sedang muram karenanya, jadi sebisa mungkin dia menghibur Athala. Walau dia sendiri tahu usahanya tak begitu berhasil.

Athala masih ingat ketika sejak 6 bulan yang lalu, saat Minhyun menceritakan mimpi-mimpi buruknya, tanpa ragu Athala memberikan obat itu padanya. Athala tak pernah tahu bagaimana rasanya meminum obat itu, tapi tabib kerajaannya bilang, obat itu akan sangat berguna bagi orang-orang yang memiliki masalah dengan mimpi buruk.

Athala tak pernah bermimpi buruk, jadi dia yakin solusi di kerajaannya bisa jadi manjur untuk Minhyun. Minhyun sendiri tak pernah mengeluh tentang mimpi buruk lagi padanya.

Obat itu juga bukti keegoisan Athala, sebenarnya. Athala ingin mengunjungi Minhyun kapanpun dia mau, akan sangat menjengkelkan jika saat dia datang ke Bumi, Minhyun tertidur pulas. Dia butuh Minhyun di setiap waktu yang tak terduga. Minhyun juga sama. Obat penahan kantuk itu pasti akan sangat berguna baik bagi dirinya maupun Minhyun.

“Athala.”

“Iya?”

“Manusia saljunya sudah jadi.”

“Oh… iya…”

Athala berdiri di samping Minhyun dan menatap manusia salju dengan seksama. Gadis itu melirik Minhyun sekilas. Dia selalu tersenyum puas selesai membuat satu manusia salju setiap harinya di musim dingin. Sejak dulu.

“Minhyun.”

Hm?” kali ini Minhyun mengalihkan pandangannya ke Athala.

“Kenapa kau selalu menyukai manusia salju?”

“Aku sama seperti manusia salju.”

Jawaban Minhyun yang tanpa ragu itu membuat dahi Athala kembali mengernyit.

“Yah, berarti saat aku bercerita panjang lebar tadi, kau tak mendengarnya?”

Athala menunduk. “Maaf.”

Minhyun hanya tertawa kecil sambil mengacak rambut Athala. “Dasar.”

Tapi tanpa Athala minta, Minhyun kembali bercerita.

Manusia salju sama seperti dirinya, kata Minhyun. Mereka dibangun untuk bersenang-senang, saat sudah jadi, semua orang akan meninggalkannya. Manusia salju akan berakhir diabaikan dan menghilang di musim semi karena meleleh, atau kadang dihancurkan karena keberadaan mereka tak ada pentingnya sama sekali.

Mereka adalah pelampiasan segala emosi manusia di musim dingin.

“Kata ibuku, aku lahir di musim dingin,” kenang Minhyun. Matanya menerawang ke langit. “Benar-benar mirip ‘kan, dengan manusia salju?”

Athala bingung, harus tersenyum mengiyakan atau menangis simpati. Tapi dia tahu pasti, Minhyun tak ingin keduanya.

“Aku juga tidak begitu dipedulikan lagi setelah prestasiku menurun. Bagi orang tuaku, aku rapor berjalan. Aku jadi anak yang baik karena kinerja mereka baik. Jika aku nakal, berarti kinerja mereka sebagai orang tua tidak baik.”

“Mereka jahat, bukan sekadar tidak baik.” Akhirnya Athala menyuarakan pendapatnya. Kadang dia risih atas sikap Minhyun yang masih menyayangi orang tuanya. Minhyun sok tegar, padahal dia rapuh. Athala tahu pasti itu.

“Tidak. Mereka baik. Buktinya, mereka mau mengasuhku yang bukan anak kandung mereka.”

Mata Athala terbelalak.

“Lho, aku belum pernah cerita?” Minhyun sendiri tampak kaget. Bagaimana bisa dia melupakan detail paling penting kehidupannya itu?

“Ibu menemukanku di depan rumah, saat itu musim dingin. Aku masih telanjang saat itu. Kulitku membiru. Ibu yang mudah merasa iba itu membawaku ke rumah sakit. Aku berhasil diselamatkan.”

last-fantay

 

Minhyun tahu kenyataan itu 6 bulan yang lalu, di hari dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan memutuskan tali keluarga yang dia miliki. Melepas marga Hwang di namanya dan berganti dengan Jeong, nama penolong sejatinya.

Ayahnya menamparnya begitu tahu nilai-nilainya menurun dan dia tak diterima di universitas manapun.

“Aku sudah tahu, anak sepertimu pembawa masalah!”

Minhyun ingin membela diri, tapi dia bingung ingin berkata apa. Selama ini dia anak yang penurut, selalu menuruti apa yang orang tuanya titahkan. Selama dia menjadi anak yang baik dan tidak membuat masalah, dia rasa cukup. Tapi orang tuanya menginginkan lebih.

“Jika dibandingkan dengan kakakmu Miyoung, kau tak ada apa-apanya! Kakakmu selalu membawa kebaikan bagi keluarga! Kau sebaliknya!”

Ibu Minhyun yang begitu dia sayangi menangis dan berusaha menenangkan amarah Ayah Minhyun. Dan seperti yang telah Ibu Minhyun perkiraan—sekaligus dia takutkan—Ayahnya melanjutkan ucapan menjengkelkan,

“Tahu begitu aku menolak keputusan ibumu untuk memungut bayi sampah sepertimu!”

Minhyun merasa dia tak memiliki hak untuk berbicara setelah mendengarkan ucapan terakhir Ayahnya padanya. Dia melihat punggung lelaki berwibawa itu menjauh darinya, lenyap dari pandangan setelah mencapai anak tangga teratas di lantai ke dua. Air matanya turun.

“Jangan pedulikan apa kata Ayah nak… Kau tetap anak Ibu… Ibu janji…”

Mata Minhyun tak mampu menatap wajah ibunya lagi. Dia ingin percaya pada ibunya, tapi kelakuan ibunya juga menjelaskan semuanya. Sudah jelas Ayahnya mengatakan hal itu karena tak mampu meredam emosinya. Itu rahasia besar, dan dari tingkah ibunya sudah jelas bahwa dia tak ingin Minhyun terluka karena kenyataan itu.

Minhyun memeluk ibunya untuk terakhir kalinya. Dia melampiaskan seluruh perasaannya dengan menangis di pundak ibunya malam itu.

Sudah pasti Minhyun tak lagi berhak menjejakkan kaki selangkahpun di sana.

last-fantay

 

“Minhyun…”

Minhyun menghapus air matanya yang hampir saja jatuh dengan punggung tangannya. Kemudian, dia menyentakkan napasnya hingga napasnya berbaur dengan udara di sekitarnya. Dia menatap Athala.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Kali ini Minhyun yang berusaha menguatkan Athala dengan mengelus pelan ubun-ubun Athala. “Au sudah biasa merasakannya.”

Mata Athala kini berair. Dia memeluk Minhyun, berusaha menyalurkan rasa simpatinya agar Minhyun sedikit lebih tegar, walau dia sendiri tahu, tanpa bantuannya pun Minhyun selalu tegar.

“Hei, Jeong Minhyun!”

Teriakan Pak Jeong membuat suasanya romantis di antara mereka berdua memudar. Minhyun berdecak kecil, mampu berpikir bahwa Pak Jeong akan memarahinya saat dia menuruni bukit.

“Pulanglah,” ucap Minhyun pada Athala. Gadis itu hanya mengangguk.

Niatannya untuk mengutarakan rencana Pesta Cancer urung sudah.

last-fantay

 

“Sudah kusuruh kau untuk beristirahat!” Pak Jeong biasanya akan memukul kepala Minhyun saat membentak, tapi kali ini tidak. Suhu tubuh Minhyun semakin panas dan itu bukan pertanda baik. Yang dimarahi hanya terkekeh. Pak Jeong menarik kasar tangan Minhyun ke dalam rumah, memakaikan jaket mantel yang tergantung rapi di dinding, lalu memaksanya berbaring.

Baru ketika berbaring, Minhyun merasakan betapa sakitnya dia.

“Sekarang, tahu rasanya?” Pak Jeong mendengus, tanda jelas bahwa perasaannya sedang tidak baik.

Senyumannya memudar, tergantikan dengan ekspresi menahan sakit yang luar biasa. Dia meringkuk dan memejamkan mata erat, berusaha mengalihkan sakit yang menghujam.

last-fantay

 

Sudah tiga hari tiga malam Minhyun berbaring lemah. Pak Jeong tak lagi tidur nyenyak, yang dia lakukan hanya duduk di samping Minhyun. Sesekali menepuk pelan tubuh Minhyun demi menenangkannya yang sering mengigau. Pak Jeong juga mengompres kening Minhyun dengan air yang dia campur dengan obat-obatan herbal. Tapi suhu tubuhnya tak kunjung turun. Dia memeriksa panas tubuh Minhyun dengan termometer tuanya, hasilnya sangat membuat Pak Jeong pusing.

Empat puluh tiga derajat celcius.

Suhu tubuh tertinggi manusia hanya sebatas empat puluh dua derajat, dan jika lebih dari itu ada kemungkinan penderita akan mengalami kerusakan otak. Pak Jeong tahu akan hal itu dari mendiang istrinya yang dulu seorang dokter.

“Athala… Athala…”

Minhyun mengigau lagi. Pak Jeong mengganti kompresan Minhyun, lalu mengusap kepala Minhyun penuh kasih sayang. Di saat yang sama, Athala muncul. Dia terkejut melihat kondisi Minhyun yang berbeda jauh dari tiga hari sebelumnya.

“Minhyun…”

Tiga hari terakhir Athala memang tak lagi datang mengunjungi Minhyun karena dia sibuk dengan persiapan pestanya. Dia kembali merasa bersalah, lalu berpikir keras untuk menyembuhkan Minhyun dengan caranya sendiri. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan, mencari obat yang pernah dia berikan pada Minhyun. Tapi dia tak menemukannya.

last-fantay

 

Athala berhasil memasuki dunia mimpi Minhyun lagi. Sudah lama sekali dia tak melakukannya, jadi dia sedikit bingung atas perubahan pada dunia mimpi Minhyun. Tak lagi dia temui ungkapan-ungkapan kasar Ayah Minhyun, juga senyum meledek dari kakak angkatnya, Hwang Miyoung. Cemoohan-cemoohan teman sebayanya yang bilang tabiatnya sangat berbeda dengan keluarga Hwang pun tak lagi terdengar.

Malah lebih mirip replika kerajaannya.

Sampai detik itu, Athala masih belum mengerti apa yang membuat Minhyun jadi begitu menyedihkan. Minhyun mengaku bahwa kerajaan Athala sangatlah indah, kalau bisa, Minhyun ingin menjadi penduduk sana. Tapi kenapa mimpi buruk Minhyun…

“Athala…”

Minhyun memeluk Athala erat, senang karena akhirnya dia berhasil menemukan orang yang dia cari. Athala melepas pelukan Minhyun.

“Kenapa?”

Minhyun menatap mata Athala yang berkaca-kaca. Minhyun tahu, Athala pasti merasa tersinggung begitu tahu mimpi buruknya adalah keberadaan Kerajaan Cancer.

Keberadaan Athala juga.

“Minhyun…”

Minhyun dan Athala mendengar suara serak yang mereka tak mampu menangkap si pemilik suara di sana.

“Jadi itu nama ‘makhluk’ yang terus-menerus mengganggumu? Athala?”

Tak diragukan lagi, itu suara Pak Jeong yang berhasil menembus alam bawah sadarnya.

“Minhyun. Jangan terpengaruh oleh omongan Pak tua itu. Kau tahu aku tak mengganggumu ‘kan?”

Kedua tangan Athala menutup telinga Minhyun. Minhyun tersenyum, lalu memegang kedua tangan Athala dengan lembut. “Aku tahu.”

“Jadi bisakah kau lepas dari dunia ilusimu? Bagaimanapun, kau dan dia tak ditakdirkan bersama. Kalian berbeda.”

Athala menggeleng. “Kau tahu ‘kan, aku dan kau harus terus bersama! Kita sudah bersama sejak kecil, bahkan mungkin sejak lahir. Aku selalu membutuhkanmu, sama seperti kau membutuhkanku. Aku selalu memberikan kebahagiaan untukmu, sama seperti kau yang memberikan kebahagiaan untukku. Kita sudah sering menangis dan tertawa bersama…”

“Tapi itu semua semu, Sayangku.” Sebisa mungkin Minhyun berucap dengan lembut agar Athala tak merasakan kesedihan yang mendalam. Pada realitanya, Athala memang merasakan kesejukan saat Minhyun mengatakan ‘Sayangku’ demi menggantikan namanya. Baru kali ini dia mengucapkannya, tapi Athala berpikir itu bukan hal baik.

“Benar kata Pak Jeong, aku dan kau berbeda. Sangat berbeda. Kau di langit, aku di bumi. Aku ilusi bagimu, kau ilusi bagiku.”

Athala masih menolak kenyataan yang ada. “Aku sudah bilang kapan hari, kalau kau ingin pergi dari keluargamu, kau bisa tinggal bahagia di kerajaanku, jadi pendampingku dan tak akan ada orang yang meremehkanmu lagi. Tapi kau malah pergi ke tempat lain yang aku tak tahu di mana segi keindahannya jika dibandingkan dengan kerajaanku.”

“Sudah kubilang, sayangku, aku hanya ilusi bagimu. Kau lupa?”

Benar. Saat Minhyun datang ke kerajaan Athala, Minhyun tak terlihat oleh siapapun, kecuali Athala. Dengan riangnya, Athala memperkenalkan Minhyun ke setiap orang yang ada, tapi orang-orang yang menemuinya hanya berpikir Tuan Putri Athala sedikit tidak waras karena jabatannya yang terlalu mengekang.

“Kita sama-sama sendiri jika tak bersama ‘kan?” Athala kembali berucap, masih tak ingin menerima adanya perpisahan.

“Memang iya, tapi setelah aku datang ke Kerajaanmu kapan hari, aku yakin kau tak benar-benar sendiri. Ada Issha sahabatmu, ada banyak pelayanmu…”

“Tapi aku kesepian tanpa orang tuaku!!” Athala membentak. Minhyun hanya tersenyum, lalu merapikan rambut Athala yang sedikit tertiup angin. Minhyun hanya ingat, tak ada Raja dan Ratu di kerajaannya karena mereka tewas saat berusaha mengatur rasi bintang Cancer, seminggu sebelum ulang tahun Athala. Semua beban Raja dan Ratu akhirnya dilimpahkan pada Athala.

“Banyak lelaki di kerajaanmu yang akan sangat beruntung ketika menjadi pendampingmu, Sayangku.”

Minhyun mencium kedua tangan Athala cukup lama. Tak dapat dia pungkiri, air matanya kembali jatuh. Tapi saat kedua iris matanya bersirobok dengan mata kecoklatan Athala, dia tersenyum.

“Aku akan tetap menyayangi Cancer, sampai kapanpun. Aku janji.”

Perlahan, ada pusaran angin di belakang Athala. Bagaimanapun, Athala hanyalah sosok yang Minhyun panggil demi menghiburnya. Saat dia mampu merelakan kepergian Athala, maka Athala akan pergi. Athala memeluk erat Minhyun dan menangis kencang.

“Kau jahat.”

Minhyun mencium pipi Athala sambil mengelus rambutnya. “Maaf…”

last-fantay

 

Minhyun membuka matanya setelah 3 hari berlalu. Pak Jeong masih memasang wajah khawatir, tapi dia sedikit lega saat tahu suhu tubuh Minhyun kembali normal. Perlahan, Minhyun duduk sambil memegangi kepalanya. Pusing karena berbaring terlalu lama. Pak Jeong memberikan segelas obat herbal padanya dan Minhyun langsung meneguk habis minuman itu. Pak Jeong mengernyit ketika ingat rasanya yang begitu pahit.

“Pahit ‘kan?”

Minhyun menggeleng sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Dia pun meletakkan gelas kosong ke meja di samping ranjangnya.

“Lidahku sedikit mati rasa. Nanti juga sembuh.”

Pak Jeong mengangguk. “Nyenyak tidurmu?”

Minhyun mengangguk.

“Ya sudahlah. Sekarang kau boleh keluar sekadar menghirup angin segar, tapi jangan jauh-jauh. Aku mau tidur.”

Minhyun terkekeh pelan. Pasti Pak Jeong telah menjaganya selama dia sakit hingga dia tak tidur sama sekali. Di sisi lain, Minhyun merasa bersalah pada Pak Jeong.

Segera setelah Pak Jeong keluar kamar, Minhyun mengikuti langkahnya. Dia sangat senang begitu dia terbebas dari ruangan pengapnya. Hal pertama yang menjadi sasaran pertamanya hanyalah langit yang terbentang luas di atasnya.

“Sudah malam,” gumamnya. Dia mengamati bintang-bintang di langit setelah bersandar di kaki pohon pinus yang tertutup oleh salju. Dia mengernyit saat menemui satu rasi bintang yang tak asing baginya.

Rasi bintang Cancer.

Di antara semua rasi bintang yang pernah dia pelajari saat bergabung di club Astronomi, dia hanya hafal rasi bintang Cancer. Bukan karena bentuknya terlampau mudah, tapi Cancer adalah zodiaknya. Jadi malam ini dia mengernyit karena ada satu bintang yang menghilang dari rasi itu.

“Kenapa bisa terjadi?” Minhyun memperhatikan dengan seksama. Dia kembali bergumam, “Bintang paling terang yang tak bersinar… Beta Cancri.”

last-fantay

 

“Tuan Putri…”

Athala kembali tepat sebelum pestanya dimulai. Issha menangkapnya ketika dia tersedot dari portal buatannya yang menyambungkan Kerajaan Cancer dengan Bumi. Athala menangis terisak.

“Tuan Putri… tenangkan dirimu. Pesta hampir dimulai.”

Dia menampik pelukan Issha dan berlari ke segala arah, mencoba seluruh portal yang pernah dia pakai untuk ke Bumi. Tapi tak ada hasilnya. Nihil.

“Minhyun… Minhyun…”

Issha kembali berusaha menenangkan Athala walau dirasa tidak mungkin. Keceriaan Tuan Putri yang selalu membuat bintang utama bersinar kini hilang.

“Tuan Putri… setidaknya bergembiralah barang sejenak…”

“AAARRRGGHH!!!”

last-fantay

 

Minhyun menutup kedua telinganya ketika mendengar satu teriakan yang luar biasa memekikkan, entah darimana asalnya. Pak Jeong yang baru saja terlelap berlari ke luar gubuk dan menghampiri Minhyun.

“Ada apa Minhyun?”

Minhyun hanya menggeleng, lalu merapatkan jaketnya.

“Jangan-jangan, terompet pertanda akhir zaman sudah dibunyikan?”

Minhyun tertawa. “Tadi itu suara gadis yang berteriak Pak, bukan suara terompet.”

Pak Jeong mendengus kesal ketika mendengar kata-kata Minhyun yang seolah mengejeknya. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Tanpa pikir panjang, Pak Jeong menarik tangan Minhyun dan mengajaknya berteduh.

“Tumben sekali hujan turun.”

Minhyun hanya mengangkat bahu.

“Oh… ngomong-ngomong, siapa Athala?”

Pertanyaan Pak Jeong sukses membuat Minhyun bertanya-tanya. Athala? Apa itu?

“Saat kau sakit kemarin, kau terus-terusan memanggil nama Athala. Kau bermimpi apa?”

Minhyun menggaruk kepalanya. “Aku tak ingat apapun.”

Pak Jeong menghela napas. Ada yang aneh menurutnya, tapi biarlah. Mungkin ini pertanda baik bagi Minhyun. Kehidupannya yang bergantung pada ilusi akan berakhir, dan ia akan menjalani hidup dengan semestinya. Pak Jeong tahu itu walau hanya perasaannya yang berkata.

last-fantay

okey… maaf ini ending-nya menyedihkan bagi Athala tapi enggak bagi Minhyun T_T soalnya series sebelumnya menyedihkan bagi kedua orang, jadi mending yang ini salah satu saja yang menderita haghag😄 /dilempar/

oke… aku kasih list main cast buat Atlantis Series, kalian bantu nyari untuk cast selanjutnya ya:

  • Capricorn : Jiyeon T-Ara, UEE After School
  • Virgo: Sojin Girl’s Day, Baekhyun EXO
  • Aries: Hoya Infinite, Hyerin 2EYES
  • Aquarius: Seolhyun AOA, Sanghyuk VIXX
  • Cancer: Minhyun Nu’est, Yoonjo Hello Venus

nah… aku pengen keberagaman cast di series Atlantis, jadi kalo aku udah pernah make anggota EXO misalnya, untuk series selanjutnya gak boleh ada main cast EXO… biar bervariasi gitu😄

dan review ceritanya

One thought on “[Oneshot] Last Fantasy

  1. Halo salam kenal aku Luzni 99Line. Sebelumnya aku suka sama fic kamu. Semuanya. Dan yang paling di tunggu-tunggu itu fic series ini:D aku jarang baca fic yang bertemakan bintang-bintang kaya gini, entahlah aku lupa namanya maafkan:D jadi kaya buat aku tertarik gitu.

    Eum ini sebenarnya typo ya? “Au sudah biasa merasakannya.” Harusnya aku kan?

    Aku suka sama jalan ceritanya. Dan sukses gak bikin aku kecewa. Karena yang aku tau fic kamu gak ada yang ngecewain semua. Bagus bagus sih:D itu yang pas Minhyun tidur tiga hari itu, Athala itu ngomongnya di pikiran Minhyun?

    Yaudah deh gitu aja. Maaf kalau misalnya gak ada reviewnya. Karena emang aku gatau mau ngereview apa, terlalu bagus sih:D sekali lagi salam kenal ya:D

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s