[Daily-Fic] How to Move On


how-to-move-on

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

“How to Move On”

Ficlet (1.861 W) | AU!, Life, Friendship | PG+15

Starring by :

Nu’est Minhyun & JR (Jonghyun)

Series Daily-Fic

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

And let me say
Good bye baby Good bye baby
I can live without you

Note : it’s sequel of “Don’t Trust Her

 

“Kalau ada yang mencariku, bilang aku ada di dunia lain.”

Lelaki yang mendengarkan racauan Minhyun hanya mengernyit, lalu memilih tak acuh. Lelaki bernama Jonghyun itu sudah hapal gerak-gerik teman sekamarnya di perantauan. Meskipun apa yang Minhyun ucapkan sangatlah mengherankan mengingat Jonghyun baru saja mengunjunginya, tapi Jonghyun hanya bisa maklum. Ia bergegas memasuki villa Minhyun dan meletakkan tasnya. Ia sudah membulatkan tekad untuk menghabiskan liburannya di villa Minhyun yang berada di lingkungan pedesaan yang jauh dari keramaian.

“Masalah Yooyoung nih?”

Minhyun yang awalnya cuek pada kehadiran Jonghyun kini memelototinya. Jonghyun tak mengerti akan hal itu, maka dengan santainya ia menata barang-barangnya di kamar yang biasa ia tempati saat menginap di villa Minhyun.

“Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi nggak baik kamu meninggalkan keluarga cuma karena masalah pribadi.”

Gemeletuk gigi Minhyun terdengar cukup keras, tanda bahwa Minhyun benar-benar terganggu atas ucapan sahabatnya. Tapi Jonghyun masih tak ambil pusing dan bergegas memasuki kamarnya, membiarkan ruang yang leluasa untuk Minhyun berpikir. Tapi ketika sampai di ambang pintu, Jonghyun berhenti sejenak dan kembali berbicara,

“Kamu pernah bilang, nggak baik lari dari kenyataan.”

Minhyun masih mengintimidasi Jonghyun dengan pandangan tajamnya, tapi Jonghyun hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu sepelan mungkin agar Minhyun tak lebih marah lagi. Minhyun menghela napas keras, lalu menaiki tangga ke lantai dua. Menjauh sejauh mungkin dari dunia yang membuatnya terasa penat.

how-to-move-on

 

Minhyun memandangi sawah hijau yang terbentang sejauh mata memandang. Ia tersenyum kecil, lalu menghirup udara segar lebih banyak lagi, seolah saat itu adalah saat terakhir ia mampu melakukannya. Wajar saja, di Seoul jarang sekali ia merasakan kesegaran udara di desanya yang terletak di Busan.

“Kadang aku juga ingin merasakan kesegaran udara di desa. Boleh aku ke villa-mu?”

“Tentu.”

Senyuman di wajah Minhyun memudar begitu bayangan kenangannya bersama Yooyoung beberapa waktu lalu kembali melewati angannya. Sudah seminggu lamanya ia berada jauh dari Yooyoung, jadi ia pikir ia berhasil melupakannya.

Tapi ketika Jonghyun datang dan menyebut nama gadis itu sekali lagi, usaha Minhyun sia-sia. Ia jadi teringat lagi dengan gadis yang sudah pergi meninggalkannya dua kali.

Oppa menyedihkan.”

Dulu ia langsung memukul Minji jika adik perempuannya lancang mengucapkannya. Tapi sekarang, begitu ia jauh dari adiknya dan mampu berpikir jernih, ia harus menyetujui apa yang diucapkan adiknya. Minhyun terlalu naif mempelajari cinta.

Dia pikir Yooyoung akan berubah saat mereka beranjak SMA. Dia tak akan kekanak-kanakan seperti saat mereka masih SMP, tapi ternyata tidak.

“Kamu membosankan, Minhyun-a. Bahkan kamu lebih memilih Minji adikmu daripada diriku.”

Jelas saja. Kakak manapun pasti lebih memilih adiknya daripada kekasihnya. Yang seperti itu saja masa’ Yooyoung tak mengerti? Mungkin karena Yooyoung anak tunggal jadi dia tak tahu, tapi kenapa Yooyoung tak mau berusaha mengerti Minhyun, di saat Minhyun selalu berusaha memahaminya?

“Minhyun-a!!”

Teriakan Jonghyun membuat lamunannya buyar seketika. Ia menatap Jonghyun tak suka.

“Aku lapar. Aku sudah belanja berbagai macam bahan. Ayo buat barbeque.”

Minhyun pikir Jonghyun sengaja menginap di villa-nya hanya karena ingin membuat barbeque sepanjang liburan musim panas ini. Selalu menyenangkan memang, saat mereka berdua memasak barbeque untuk makan malam di halaman belakang villa Minhyun, lalu berbincang-bincang biasa. Kedekatan mereka memang lebih dari sekadar sahabat, ibaratkan saudara kembar yang berbeda keturunan.

“Kamu liburan di sini cuma mau makan barbeque?” tanya Minhyun ketus. Mungkin sebelum-sebelumnya apa yang mereka lakukan begitu menyenangkan, tapi kali ini Minhyun hanya ingin sendiri dan tak mau ada gangguan dari siapapun. Ia hanya ingin menyembuhkan luka di hatinya dengan cara sendiri.

“Ayolah. Nggak baik menyimpan rasa galau terus-menerus.” Jonghyun menarik tangan Minhyun. Minhyun berusaha meronta, tapi tubuh atletis Jonghyun yang lebih besar darinya membuat ia tak berkutik. Akhirnya Minhyun hanya mampu berjalan gontai menuruti kemauan keras sahabatnya.

how-to-move-on

 

Jadi, kini Minhyun melakukan apa yang sering ia lakukan: ia memukul keras daging sapi di hadapannya dengan palu bertekstur khusus untuk melunakkan daging. Kata ibu Jonghyun, kunci dari lezatnya sapi panggang adalah tekstur halus daging sapi yang dilunakkan terlebih dulu. Minhyun pikir itu merepotkan, tapi jika ingat rasa yang lebih enak daripada daging yang langsung dipanggang, Minhyun tak akan senewen.

Setelah selesai memukul-mukul daging yang dibutuhkan, ia bergegas mengambil pisau daging yang sudah disediakan Jonghyun. Setidaknya niatan Jonghyun untuk mengalihkan perhatian Minhyun dari Yooyoung sudah berhasil. Minhyun selalu serius dalam melakukan apapun, termasuk hal yang tak ia sukai. Jonghyun juga tahu prinsip Minhyun yang membuatnya menjadi seperti itu: cepat lakukan, cepat selesai.

“Sini, dagingnya,” pinta Jonghyun. Suara beratnya memecah keheningan yang cukup lama tercipta di antara mereka berdua. Jonghyun sama sekali tak berbicara karena takut membuat Minhyun kembali senewen, sementara Minhyun yang memang enggan melakukan acara masak-memasak ini sengaja diam untuk mengontrol emosinya.

Minhyun menyerahkan potongan-potongan daging pada Jonghyun untuk segera dipanggang. Ia menyunggingkan kedua ujung bibirnya sesaat. Jonghyun membalasnya.

“Akhirnya bisa senyum.”

“Tujuan kamu liburan ke sini cuma ingin lihat aku senyum?”

Jonghyun mengangguk, lalu bergegas mengucapkan kata-kata yang tak akan membuat Minhyun jijik, “Adik kamu Minji tuh, khawatir karena kamu nggak pernah senyum lagi.”

Minhyun bergidik ngeri mendengarnya. Memang benar setelah ia dihempaskan begitu saja oleh Yooyoung, ia jarang tersenyum di hadapan banyak orang, bahkan di depan keluarganya sendiri. Ia juga menyadarinya. Kalau apa yang Jonghyun ucapkan benar, berarti dia hanya tersenyum di depan Jonghyun?

“Sudahlah, jangan memikirkan hal-hal aneh. Kita bersaudara, man!” Jonghyun memukul kepala Minhyun dengan penjepit besi di tangan kirinya, membuat Minhyun berdecak kecil. Kemudian, Minhyun yang teringatkan sesuatu menyipitkan matanya dan berjalan mendekati Jonghyun.

“Kenapa kamu bisa tahu Minji khawatir tentang aku? Dia cerita ke kamu?”

Jonghyun menoleh sebentar ke Minhyun, lalu kembali fokus pada daging di atas panggangan. “Hm.”

“Ada hubungan apa di antara kalian?”

Jonghyun tak mampu menahan tawanya. Dia pikir patah hati mampu membuat Minhyun kehilangan rasa ‘peka’ pada kehidupan adiknya, namun ternyata tidak. Dia masih sangat jeli jika kaitannya dengan adik satu-satunya. Mungkin Minhyun memang tak pernah ‘sangat peduli’ pada adiknya yang selalu ‘sangat peduli’ padanya, tapi ia selalu memiliki prinsip kuat untuk selalu menjaga adiknya, apapun yang terjadi.

Nggak. Nggak ada apa-apa.”

Kok kamu tertawa?”

Pipi Jonghyun memerah. Kali ini ia benar-benar terpojok. Kecelakaan kecil yang tercipta karena mulutnya sendiri membuat ia sedikit menggerutu dalam hati.

Barbeque-nya hampir siap. Tolong ditata mejanya.”

Minhyun memicingkan matanya pada Jonghyun, lalu bergegas melakukan apa yang Jonghyun ucapkan saat Jonghyun mengoleskan bumbu pada daging di atas panggangan.

how-to-move-on

 

Sembari memakan daging, Minhyun masih memikirkan sesuatu. Pikirannya melayang ke tempat lain, masih berkaitan soal Yooyoung. Ia lupa soal apa yang terjadi di antara Jonghyun dan Minji.

“Yooyoung-a!”

“Oh, Hai Minhyun-a!” Yooyoung tersenyum padanya. Di sampingnya ada seseorang yang lebih tinggi dari Yooyoung dan Yooyoung memeluk lengan lelaki itu erat.

“Kenalkan. Pacar baru.”

Seketika itu juga Minhyun menyentakkan ujung sumpit ke atas meja dengan keras, membuat Jonghyun terkejut.

“Hei…”

Ia tak memedulikan tatapan keheranan Jonghyun. Ia meminum segelas air putih di depannya dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Bibirnya yang basah ia usap dengan punggung tangannya, lalu menyantap salad di depannya. Jonghyun masih bungkam.

Selama Minhyun tak mengucapkan apapun, lebih baik diam.

Di pikiran Minhyun masih saja ada Yooyoung. Bukan karena sulit melupakan, tapi Minhyun masih belum menemukan alasan yang tepat untuk melakukannya. Sudah berulang kali ia memikirkan apa yang diucapkan Minji bahwa ia tak akan merestui hubungan Minhyun dan Yooyoung jika mereka kembali berhubungan. Minji tidak terima kakaknya harus disakiti lagi oleh gadis yang sama. Itu alasan yang tepat untuk melupakan Yooyoung, tapi ia masih belum bisa menerima alasan itu.

Minhyun berusaha mencari alasan lain agar di lain waktu ia tak lagi terperangkap, baik oleh gadis yang sama atau gadis lainnya. Cukup dua kali ia menyesali kebodohannya. Cukup sekali ia merasa ‘kesempatan kedua’ tak pernah digunakan dengan baik oleh orang yang tak tahu diri.

Tak tahu diri.

Kalau dipikir lagi, Yooyoung adalah gadis yang tak tahu diri. Minhyun sudah memercayainya dan memberinya kesempatan agar tak melakukan hal yang sama, tapi dia mengecewakannya. Terlebih, Yooyoung tidak menyukai sifat Minhyun yang begitu menyayangi keluarga. Bukankah gadis seperti Yooyoung terlalu aneh untuk dimiliki? Biasanya gadis yang baik justru ingin mempertahankan kekasih yang begitu menyayangi keluarga.

Yooyoung?

Kali ini Minhyun tertawa kecil, menertawakan kebodohannya yang tak menyadari itu sebelumnya. Yooyoung sangat jauh dari tipe idealnya, kenapa Minhyun terus menumpu harapan padanya?

Jonghyun yang memperhatikan gerak-gerik Minhyun hanya mengernyit sesaat, lalu menggumamkan hal-hal aneh tentang temannya. Sengaja sedikit ia keraskan gumamannya agar Minhyun mendengarnya dan berhenti bertingkah aneh.

Minhyun menghela napas lagi. Kini ia tersenyum kecil. Ia tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini.

“Terima kasih, Minji. Terima kasih, Jonghyun.”

Lelaki yang kini mampu menemukan jalan terbaik bagi permasalahannya itu segera menggapai handphone di saku jaketnya dan mengetik sebuah nama pada daftar kontaknya, lalu menyentuh panel telepon dan menunggu orang di ujung sana mengangkat sambungannya.

“Minhyun-a… sudah kubilang ‘kan…”

“Yooyoung-a…” Minhyun menelan daging di mulutnya, lalu meneruskan ucapannya, “aku akan menemukan gadis yang jauh berbeda darimu, yang pasti gadis yang mau menerimaku apa adanya.”

“Hei!”

“Jangan khawatir. Aku akan mendapatkan gadis yang lebih baik darimu. Jadi jangan kangen lagi padaku, oke? Bye..”

Belum sempat Yooyoung memarahinya, Minhyun telah memutuskan sambungan teleponnya. Wajah lelaki itu tak lagi muram, terlebih saat ia berhasil menghapus kontak nomor Yooyoung dari handphone-nya. Jonghyun yang duduk di depannya hanya menggeleng pelan dan tersenyum maklum.

Kali ini, Minhyun mengambil daging di atas piring Jonghyun dengan sumpitnya, membuat Jonghyun terbelalak dan hendak menghardik Minhyun, “Hei!”

“Ngomong-ngomong, ada hubungan apa kamu sama Minji?”

Dan Jonghyun urung memarahi Minhyun.

 how-to-move-on

 

haghag… setelah Nu’est comeback dengan lagu barunya itu lho… aku terkesima sama semuanya, jadi mungkin aku bakal mengotori fic-ficku dengan keberadaan mereka, harap maklum yah haghag😄 soalnya kan di antara semua Boyband, yang aku punya albumnya lengkap baru VIXX sama Nu’est, lagu mereka emang seleraku banget :”D jadi ya begitulah…

dan kalo judulnya menjebak, maaf -_- ini bukan tutorial untuk move on apa gimana, ya lagi-lagi aku nge-stuck kalo soal judul -_-

dan review yaahh?😄

One thought on “[Daily-Fic] How to Move On

  1. Lol saya agak terjebak sama judulnya😄 Tapi ya ga sampe ngira kalo ini tutorial move on sih :V
    Well overall saya suka sama diksimu (as usual), mudah dimengerti dan lugas. Ditunggu kalo ada chapter baru.

    Regards.

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s