[Nightmare Maker] Good bye ‘Bye’


good-bye-bye

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

Good bye ‘Bye’

Vignette (2.731 W) | AU!, Thriller, Romance, Angst, slight! Surrealism | PG +17

Starring by :

A-Pink’s Bomi & Nu’est’s  Aron

Nightmare Maker Series

Inveartible / Keep Your Light On / Mine / Saxophone / The Secret [ 1 | 2 ] / Something / Voodoo Doll

Living because I can’t die
I’m afraid I’ll be like that tomorrow

Your tears and face grew cold
I didn’t know why I was so lost in you

note: yang di italic adalah flashback. Sudut pandang gonta-ganti, cover menipu.

Aku tahu dia yang ada di depan mataku sekarang bukanlah manusia.

Setidaknya, aku benar-benar meyakinkan diri dia bukan manusia. Sudah sangat lama sekali aku menganggapnya tiada, menganggapnya hampa. Dia tak pernah ada lagi. hanya ada aku dan kenangan di antara aku dan dia.

Dia tersenyum pias ke arahku dan perlahan berjalan menghampiriku. Aku berjalan mundur, berusaha menjauhi diriku dari lelaki itu dan juga menjauhkan rasa takutku—lebih tepatnya rasa putus asaku. Lelaki ini benar-benar keparat!

Selalu dan selalu, aku mengucapkan kalimat perpisahan acap kali ‘waktu’ menjadwalkan pertemuan di antara aku dan dia yang tak pernah kuinginkan lagi. Kami bertemu, saling menyapa, lalu mengucapkan kata perpisahan seolah kami tak akan bertemu lagi sampai akhir hayat kami. Saat itu terjadi berulang-ulang, aku hanya mampu tersenyum padanya dengan sangat terpaksa, berkata secukupnya, berusaha memperlihatkan padanya aku tak lagi memiliki rasa yang sama padanya. Tapi dia mengkhianati janjinya. Dia masih saja menyapaku, saat aku meminta padanya pura-puralah tak mengenaliku saat kita harus bertemu.

Anggap saja aku orang asing.

Dia mengiyakan, tapi dia masih saja tersenyum saat melihatku. Kali ini, dia malah berani menjejakkan kaki ke rumahku lagi. Sudah kuakhiri, bahkan dia setuju.

Aku butuh tanda setuju darinya, tapi jelas dia masih enggan melakukannya.

“Kau…”

Aku menggenggam sesuatu yang sedikit berkilau terkena sinar lampu rumahku yang sedikit remang-remang. Satu-satunya hal yang mampu kulakukan untuk jaga diri karena dari wajahnya, nampak sekali nafsu jahat dalam dirinya. Entah karena apa.

Karena perpisahan, mungkin?

Tidak. Dia lelaki yang tegar, aku ingat betul. Dia akan hidup untuk selamanya, bahkan untuk seribu tahun lagi jika Tuhan mengijinkan, begitu ungkapnya saat aku melukainya.

“Aku tahu yang ada di tanganmu.”

Aku menelan ludah. Kini wajahnya benar-benar dekat dengan wajahku, berjarak kurang dari satu meter. Dia mengambil benda yang kugenggam erat dari tadi, menariknya kasar hingga cairan berwarna merah keluar dari tanganku dengan kejinya.

Tanganku tergores benda tajam itu.

Dengan wajah pucatnya yang masih tersenyum dan berurai air mata kini, dia menghujatkan pisaunya ke dadaku berkali-kali, membuatku turut tersenyum dan meringis menahan tangis. Kemeja putihku kini tak lagi putih, melainkan bersimbah darah. Aku merasakan kelembutan dari tangan kirinya yang memeluk tengkukku, namun di saat yang bersamaan aku merasakan kebencian yang tak pernah terlihat dari dirinya sebelumnya dengan gerakan tangan kanannya yang begitu liar menyiksaku.

Lama-kelamaan, lelaki itu lelah berdiri. Dia membanting tubuhku ke lantai, membuat rasa sakit di dadaku semakin menjalar ke sekujur tubuh.

“Bagaimana rasanya?”

Dia terkekeh pelan. Meskipun dengan kejamnya dia menghujani tusukan demi tusukan di dadaku—aku yakin dia mengincar jantungku—dia masih berusaha memberikan zona nyaman bagiku dengan mencium keningku, lalu membisikkan beberapa kata yang menenangkan, seolah-olah dia adalah Dewa Kematian yang siap mencabut nyawa dengan penuh kelembutan.

Tapi dia gagal membuat zona aman bagiku, walau kuakui aku begitu menikmati rasa sakit ini.

good-bye-bye

“Bomi… aku bisa menjelaskan semuanya…” Aron berusaha memeluk Bomi yang berontak karena amarah yang telah meluap. Undangan pesta perayaan yang ada di tangan Bomi bukanlah satu hal yang menyenangkan bagi gadis keras kepala itu. Aron akan pergi ke luar daerah tempat mereka tinggal selama beberapa tahun, menuntaskan pendidikannya sampai benar-benar tuntas, kalau perlu sampai bergelar profesor meskipun jurusan yang dia ambil hanyalah jurusan seni yang selalu dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.

“Mau menjelaskan soal apa?! Bilang dengan sejujur-jujurnya padaku kalau kau mengejar ‘gadismu’ di luar sana?! Silahkan!!”

Ya. Bomi masih ingat gadis yang sempat merusak hubungan mereka beberapa waktu silam, saat Bomi dan Aron masih baru mempelajari apa itu cinta, bagaimana rasanya berkomitmen, seorang gadis datang dengan tidak tahu dirinya dengan sifat sok anggun dan keibuannya. Aron melupakan Bomi selama beberapa tahun.

“Bomi, dia sudah pergi.”

“Pergi ke negeri antah-berantah sana ‘kan?! Sama seperti tujuanmu di sekolah sampah di sana!!”

“Bomi!”

Gadis itu memang tak pernah lagi kembali. Bomi cukup senang karena akhirnya Aron kembali padanya. Banyak orang bilang Bomi sangatlah bodoh karena mau memercayakan perasaannya pada lelaki yang pernah menyakitinya, tapi Bomi tak ambil pusing. Orang bilang juga, lelaki yang pernah menyakitimu juga akan menyakitimu di lain waktu. Tak akan ada hentinya. Tak ada penawarnya.

Terlebih rasa sakit yang tercipta hanya akan membuatmu gila.

Dan sekarang, Bomi kecewa karena tak percaya omongan banyak orang padanya.

“Laki-laki brengsek!” Bomi membabi buta. Gadis itu menyergap pisau dapur yang terletak di dekat ranjang buah dan menghajar Aron dengan berbagai tusukan di dadanya. Erangan demi erangan terasa merdu di telinga Bomi. Dia menyeringai dan menikmati setiap lantunan suara yang keluar dari bibir Aron dan menikmati setiap kernyitan pertanda rasi sakit dari wajah lelakinya. Dia tak akan berhenti melakukannya. Kalau perlu sampai Aron mati.

Sampai Aron tak mampu lagi pergi darinya.

“Mati kau!!”

Bomi kembali menghujat tubuh Aron, namun kali ini sasarannya perut. Bomi tertawa keras melihat Aron menggeliat lebih parah lagi saat darah kembali mengucur dari tubuhnya, terlebih ketika darah Aron mengotori dinding rumahnya. Entah mengapa dia begitu senang melihat darah. Jiwanya telah tertekan antara benci dan cinta. Memuakkan.

“Bomi…”

Dan Bomi sangat menyukai rintihan itu. Lucu memang. Bomi dikuasai oleh rasa cemburu yang sangat irasional. Dia tak pernah tahu bukan, gadis yang dulu sempat mengganggu hubungannya dengan Aron sudah mati atau belum? Toh, gadis itu dulunya ke Amerika bukan karena alasan pendidikan, tapi kesehatan. Dia begitu renta akan daya tahan tubuhnya, maka dari itu dia mencari tempat yang lebih baik untuk kondisi fisiknya.

“Padahal, aku tetap mencintaimu…” Aron tertawa kecil, berusaha menghibur diri atas rasa sakit yang semakin lama menjalar ke seluruh tubuhnya. Mendengar ucapan kekasihnya, Bomi terhenti. Tangan kirinya yang dari tadi mencengkeram kerah baju Aron kini melemas. Terlebih tangan kanannya yang menggenggam erat pisau dapur bersimbah darah juga mengendur. Beberapa detik berlalu dengan keheningan yang tercipta.

Aron masih tersenyum pada Bomi. Bulir-bulir keringat kini membasahi kaos lengan panjangnya selain darah yang mengucur. Bomi menitikkan air mata. Kemudian muncul suara gaduh setelah pisau di tangannya jatuh ke lantai.

“Maaf, sayangku… maaf…” Bomi memeluk erat Aron.

good-bye-bye

Itu pertama kalinya aku mengucapkan kalimat perpisahan padanya. Aku hanya merasa aku bodoh, tolol… terlalu possesif. Aron pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dariku. Dia dan aku berpisah, maka jika dia dekat dengan gadis lain, aku tak akan marah lagi atau cemburu lagi. kalau aku terus berada di sampingnya, dia yang akan celaka.

Tapi kami selalu bertemu, selalu bermain-main, selalu mengucapkan perpisahan.

Sepertinya tak pernah ada kata ‘perpisahan’ yang cocok bagi kami. Sama seperti kami yang dulu mempelajari cinta, kali ini kami bingung mempelajari ‘perpisahan’. Bagaimana cara berpisah yang membahagiakan, yang tak perlu ada luka di dalamnya…

Yang masing-masing dari kami masih bisa melanjutkan hidup walau tanpa keberadaan satu sama lain?

Kali ini lelaki itu kelelahan. Sudah kukira, dia tak sepandai aku yang kerap melakukannya. Masih dalam keadaan berbaring, aku merebut pisau di tangan kanannya, mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa untuk membalas rasa sakit yang bertubi-tubi kurasakan. Aku menusuk dadanya lebih liar daripada dia menusuk dadaku, lalu bau amis menyentuh setiap lendir di hidungku. Aku tersenyum kecil. Darahnya tak nampak dari kemeja hitamnya, tapi sangat kentara dengan warna kulit pucatnya. Napasku tersengal-sengal.

“Kenapa kau terus kembali?” aku merintih. Dengan meluapkan seluruh rasa kesal yang ada, aku membuka kancing bajunya. Selain goresan-goresan pisau yang berdarah, di sana terlihat bekas goresan yang telah tercipta dalam jangka waktu yang lama. Dia tersenyum begitu aku melihat bekas goresan di sana. Dia sadar aku kembali termenung.

Bukan hanya aku yang menggores tubuhnya dengan keji, tapi dirinya juga.

“Kan sudah kubilang, aku mencintaimu.”

Ya. Memanjang di sepanjang dada hingga perut, tertulis dengan jelas di sana.

Aku mencintaimu, Bomi.

Aku semakin menjadi-jadi untuk melampiaskan amarahku padanya, semakin kutusuk dadanya tanpa peduli rasa sakit yang dia rasakan. Pada realita yang ada, kami sama-sama sakit. Tingkatan sakit kami sama.

Kami sama-sama tidak waras.

Aku sudah sering menghujani dadanya dengan cara yang sama, tapi dia tak pernah mengelak. Dia tersenyum senang, alih-alih pergi. Dia rela aku melakukan apapun padanya, dia rela menjadi pelampiasan amarahku. Yang penting aku tetap di sampingnya. Dia benci perpisahan, katanya. Dia pernah merasakan perpisahan yang memuakkan, katanya. Dia tak mau lagi merasakan sedihnya perpisahan, katanya. Sejak saat itu aku semakin membencinya, sekaligus kasihan padanya.

Aku tak pernah berpisah dengannya, maka perpisahan mana yang dia maksud?

Benar sekali. Perpisahan dengan gadis penyihir itu yang kini pergi mencampakkannya begitu saja. Aron masih ada rasa pada gadis itu, lalu dia menjadikanku pelampiasan. Aku tak menyadarinya sampai dia mengatakan banyak hal menjijikkan soal perpisahan padaku, beberapa waktu yang lalu, setelah aku mengucapkan kalimat perpisahan dengannya.

Dia tak mau dicampakkan kedua kalinya.

Aku kasihan padanya, tapi dia sama sekali tak kasihan padaku. Di sini, aku lebih menderita darinya.

“Tapi aku membencimu,” aku kembali berucap sambil menangis. Aku berusaha mendekatkan tubuhku dengannya, lalu memeluknya. Sama seperti sebelum-sebelumnya, aku menusuk punggungnya dengan sangat dalam. Kini aku tak tahu darah di wajahku adalah darah dari diri lelaki brengsek itu atau darahku sendiri.

Bahkan bau amis yang menyeruak di seluruh sudut ruangan ini tak dapat terdefinisi siapa pemiliknya, sama seperti sebelumnya.

Kami masih terlalu muda untuk merasakan kesedihan konyol dari irisan kehidupan yang bernama cinta. Kami masih awam soal kasih sayang. Kami kurang pengalaman untuk berbagi rasa.

Kami terlalu dini mempelajari cinta, maka jadinya begini. Yang tertinggal hanyalah luka perih yang semakin lama semakin menggerogoti kehidupan kami.

good-bye-bye

“Aku tak jadi keluar negeri.” Aron berucap dengan napas tersengal. Bomi memandanginya jijik karena begitu banyak darah dari dirinya yang terciprat ke wajah tampannya. Suatu kesialan tersendiri saat dia berjalan tanpa tahu dimana dia berdiri, tapi Aron menemukannya tepat di taman bunga.

Lalu membawanya pulang.

Aron benci Bomi yang pergi meninggalkannya. Aron benci keputusan Bomi yang sepihak, yang tak melibatkan pemikirannya. Berkali-kali dia bertemu dengan Bomi, maka berkali-kali pula mereka tertawa atas kebodohan masing-masing, lalu saling membunuh, terobsesi melihat kematian orang yang dibenci secara langsung. Tapi kemudian, mereka akan melihat wajah satu sama lain yang semakin pucat—sekarat, lalu mereka berhenti saling menghunuskan senjata. Mereka akan menangisi apa yang telah dilakukan, lalu mengucapkan kata perpisahan.

Selama waktu terus berjalan, akan selalu seperti itu.

“Bodoh!” bentak Bomi begitu mendengar perkataan Aron.

“Kau tak bertanya padaku, kenapa aku melakukannya?”

“Jelas karena kau bodoh! Brengsek!” saat itu Bomi masih menyimpan amarah dalam dirinya. di detik pertama melihat wajah Aron, selalu rasa benci yang menguasai pikirannya, entah setan mana yang merasukinya. Selain itu, rasa sakit di dadanya tak tertahankan, terlebih rasa sesak yang menguasai hati nurani dan pikirannya. Bomi berusaha merebut pisau di tangan Aron, tapi Aron masih belum puas atas luka yang diterima Bomi. Tak peduli betapa sering Bomi mengerang kesakitan.

“Karena aku ingin bersamamu. Kau tak mengerti?!”

Lalu pertahanan Aron untuk membunuh Bomi mengendur begitu wajah Bomi terlihat sangat kelelahan. Dia melemparkan pisau dapur yang telah terkotori darah ke sudut ruangan, lalu menciumi wajah Bomi dengan menitikkan air mata.

“Maaf…”

Bomi mendorong Aron kasar dengan napas tersengal-sengal. Dia pikir malam itu adalah malam terakhirnya melihat cahaya.

Dia melihat Aron pergi menjauh dan menyematkan rokok di sela-sela bibirnya. Asap mengepul jelas setelah Aron membakar ujung rokok. Dia menghela napas sesaat, lalu membenturkan kepalanya dengan keras ke dinding beton ruang tengahnya berkali-kali.

“Gila…” desis Bomi dengan suara parau. Dia sendiri merasa gila belakangan ini, seolah saling membunuh adalah candu bagi mereka. Mereka tak lebih dari sekadar psikopat.

Sebenarnya mereka sendiri tak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka tak bertemu dalam tenggat waktu yang tak tentu, merindu, lalu bertemu. Entah Bomi entah Aron yang terlebih dulu menghampiri orang yang disayangi, lalu akan melakukan rutinitas mereka seperti biasa.

Mereka tak pernah bisa hidup sendiri, tapi lisan mereka berbohong.

“Bomi…” Aron memegangi kepalanya yang didera rasa sakit luar biasa. Sebentar lagi dia sekarat, otak yang mengendalikan pergerakan seluruh tubuhnya rasa-rasanya hancur berkeping-keping.

“Aku bisa hidup tanpamu.”

Bomi merangkak menghampiri pisau yang masih bersimbah darahnya. Mulai mengering. Dia menyeringai dan melempar pisau itu tepat ke jantung Aron. Tempat di mana hati nurani pria itu bersemayam dalam kesucian.

good-bye-byeAku pikir aku akan mati setelah kepalaku berlumuran darah malam itu, terlebih saat Bomi melemparkan pisaunya ke arahku tepat mengenai jantungku. Tapi nyatanya tidak.

Saat itu kami sama-sama kelelahan, kesadaran kami memudar saat hidung kami tak lagi mencium bau amis dan bau keringat yang berbaur dengan partikel-partikel udara, lalu kami berakhir saat memejamkan mata dan kedua tangan kami saling bertautan. Kami pikir maut telah datang.

Nyatanya saat itu, celah jendela mengijinkan cahaya matahari masuk dan memaksa indra penglihatan kami untuk peka pada cahaya. Saat kami membuka mata, kami bertatapan. Darah di sekujur tubuh kami mulai mengering.

“Brengsek!”

Bomi mengucapkannya lantang membuyarkan angan, terasa memekakkan dengan jarak bibirnya dan telingaku yang hanya beberapa mili jauhnya. Dia masih terobsesi menggoreskan luka di punggungku lebih dalam lagi.

Kami berdua sama-sama kehabisan tenaga. Semakin lama dia melakukannya semakin dia merintih, tangannya tak lagi kuat. Aku sendiri hanya mampu merintih. Aku tak mampu menggerakkan tubuh untuk mengekspresikan rasa sakit yang bertumpuk-tumpuk setiap kali aku bertemu dengannya.

Kami sama-sama tak waras.

Kami masih terobsesi untuk membunuh satu sama lain, hari demi hari. Kami hanya ingin membuktikan, apa artinya ‘selamat tinggal’ yang tepat. Kami hanya ingin mengucapkan kata sialan itu dengan baik dengan senyuman kebahagiaan, tanpa ada satupun penyesalan atau rasa sakit nantinya.

Kami hanya ingin membuktikan, kami bisa hidup tanpa adanya keberadaan salah satu dari kami. Kami bisa hidup normal, aku tanpanya, dia tanpaku. Kami tak akan berhenti sampai kami bisa membunuh salah satu dari kami, tanpa ada penyesalan. Tapi sampai sekarang, kami tak pernah berhasil berpisah yang sebenarnya.

Kami tega, tapi tak sepenuhnya tega.

Aku sangat membenci gadis itu. Gadis yang begitu mencintaiku dan memendam perasaannya sejak lama, tapi kemudian dia berniat untuk pergi begitu saja. Bukankah menggelikan?

Dia gadis tak berperasaan, dia gadis keji. Berkali-kali dia mengayunkan pisaunya ke tubuhku, bahkan tanganku pernah hampir patah.

Tapi entah mengapa, setelah apa yang kami lakukan belakangan, kami tak mati juga. Kami sudah menunggu kedatangannya selama ini, setidaknya agar perpisahan yang sesungguhnya benar-benar dapat kami maknai, dapat kami pahami apa arti keberadaannya. Tapi salah. Kami masih linglung untuk mengucapkan perpisahan dan apa yang kami tunggu tak pernah segera datang. Memuakkan.

Apakah aku membencinya atau mencintainya?

Apakah dia mencintaiku atau membenciku?

Kami benar-benar tak tahu. Hidup kami benar-benar tanpa arah. Harusnya aku tahu, aku harus setia padanya. Kalau dulu aku tak terpengaruh pada keberadaan gadis yang meninggalkanku itu, mungkin kami tak akan seperti ini.

Jujur saja, aku lupa bagaimana hubungan di antara kami terjalin. Yang ada hanyalah rasa sakit yang tak ada penawarnya. Perasaan kami bagaikan racun yang membunuh secara perlahan.

Tanganku kemudian menggenggam erat tangan Bomi yang masih bergerak lemas di punggungku, lalu membanting tangannya. Pisau laknat itu terhempas entah kemana, kami tak mampu menjangkaunya lagi. Kini lampu rumahnya benar-benar padam, sudah sepuluh bulan lebih Bomi tak berusaha mengganti lampunya.

Kami tergeletak dengan napas memburu. Hening dan hanya ada kepulan asap putih dari bibir kami. Rasa dingin menjalar ke sekujur tubuh kami saat kami saling memandang. Terima kasih pada Bulan di langit malam yang berpendar sempurna dengan cahayanya yang menelusup melalui celah jendela yang tak terlalu rapat ditutupnya. Dia menitikkan air mata lagi begitu melihat wajahku.

Kali ini dia pasti ingat, aku dan dia bukannya telah lama tak bertemu. Kami selalu bertemu, entah dia yang menghampiriku atau aku yang menghampirinya. Tak dapat dipungkiri kami tak bisa lepas satu sama lain. Kami saling mencinta, di sisi lain kami saling membenci.

Kami hanya lupa bagaimana cinta terasa manis dirasakan. Bagi kami cinta jauh lebih amis daripada darah, jauh lebih menjijikkan daripada keringat yang berkucuran…

Jauh lebih menakutkan daripada kematian.

Lolongan serigala di kejauhan membuat kami semakin bungkam. Sebentar lagi hewan nokturnal di luar sana akan membuat harmoni malamnya, simfoni yang biasa kami dengarkan setelah saling membunuh yang begitu candu merasuki hasrat kami. Aku dan dia tak bisa pergi lagi, tidak barang selangkahpun.

Aku tertawa kecil setelah berpikir kebodohan kami yang bahkan kata irasional tak mampu mendeksripsikannya. Kami begitu ingin berpisah, namun enggan berpisah. Aku dan dia pernah berpikir, suatu saat nanti kami harus berhenti. Kalau bisa secepatnya, atau kami akan mati. Tapi tak pernah bisa. Sama seperti perasaannya yang terhenti hanya padaku dan perasaanku yang terhenti padanya. Kami sama-sama kolot.

Kami sama-sama bukan manusia lagi. rasa-rasanya kami sudah jauh dari rasa manusiawi yang sempat kami miliki.

Pernah kubilang sebelumnya, kami tak akan berhenti saling membunuh dengan seringaian kejam sambil mengucapkan ‘selamat tinggal’, tapi kami tak pernah benar-benar mati. Pikiran dan jiwa kami mengonstruksi sebagian besar dari kehidupan kami, jadi kadang, kami pikir kami mayat hidup. Nyawa masih melekat di badan, tapi komponen lainnya yang sebagai pelengkap hanyalah ilusi biasa. Kami pikir kami sekarat, lalu kami tersenyum sambil mengucapkan ‘selamat tinggal’ untuk yang kesekian kalinya.

“Selamat tinggal…”

Nyatanya, hidup kami masih panjang.

Sangat panjang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal yang baru saja kami ucapkan berdua.

 good-bye-bye

hello everybodeee…. maap kalo ini gak begitu menyeramkan seperti Voodoo Doll apa gimana -___- dan ini, kenapa judulnya Goodbye “bye” ? kan “bye” itu bisa dimaknai perpisahan kan, nah Goodbye kan artinya perpisahan. jadi karena Aron sama Bomi itu pengennya pisah tapi kok gak pisah-pisah (?) jadinya mereka mengucapkan perpisahan pada kata “perpisahan” gitu… ngerti enggak? iya aku ngerti ini absurd maaf T_T kalo dilihat lagi, fic thriller-ku sebelumnya biasanya emang absurd entah mengapa T_T

dan ini sebenernya bukan lagu galau… intinya si cowok sedih, tapi dia memutuskan untuk terus melanjutkan hidup. makanya aku agak kesel kok kebayangnya thriller, padahal lagu ini manis =3

pokoknya ini lagu buat cowok-cowok yang mau move on kok, -_-” tapi videonya bagus-bagus ngeselin gimana gitu.. Ren jadi lumayan ganteng, tapi… JR kurang kerjaan banget makan ikan cupang -_- saking frustasinya gitu?😄

tapi Aron gak banyak muncul di mv-nya huhu T_T tapi dia keren as always /malah curhat

oke… review?

 

 

 

2 thoughts on “[Nightmare Maker] Good bye ‘Bye’

  1. Halo, Sa!! Pertama kali yang ada di pikiran saya ketika lihat covernya adalah….Itu cowok siapa kok cakep banget!!! Akhir-akhir ini saya sering enggak tahu idol di FF yang saya baca/dilemparjumroh.

    Judulnya menarik!! Good bye ‘Bye’ Selamat tinggal ‘selamat tinggal’ pas sama alur ceritanya dan enggak mainstream..Walau saya baru nyadar keterkaitannya ketika kamu jelaskan di akhir cerita.

    Pertanyaan yang ada di kepala saya ketika sampai di akhir cerita adalah mereka berdua itu sebetulnya apa? Udah tusuk-tusukan berapa kali kok enggak habis-habis nyawanya? Kalau menurutku sih, mereka berdua itu udah tewas ketika Bomi ngelempar pisau ke Aron itu kali ya? Terus cerita selanjutnya itu cuma dari alam bawah sadar or alam kubur mereka? Bener enggak sih?

    Tapi kalau ngebayangin mereka berdua itu, kayaknya lucu juga ya. Sekalinya berantem itu langsung bunuh-bunuhan lagi. Saya enggak habis pikir aja kalau saya sampai main pisau sama pasangan saya, mungkin lebih baik main hati aja kali ya daripada main pisau/langsungdiputusin. Tapi lewat satu insiden kecil saja, rasa cinta bisa berubah jadi rasa benci loh…

    Ada satu dua typo di cerita ini sih tapi tidak mengganggu selama ceritanya menarik!! Saya suka idemu yang keluar dari kalimat ‘ada pertemuan pasti ada perpisahan’. Genre Surreal-nya lebih menonjol tetapi adegan berdarahnya masih membuat saya nyeri ngebayanginnya. Tapi Sa, favorit saya masih teteup voodoo doll!!

    Segini aja ya, Sa! Sori kalau prompt fic dari kalimatmu itu belum kelar-kelar. Habis kamunya sih ngasih yang aneh-aneh (kan gue yang minta ya🙂 )

    Sukses selalu untukmu!!
    Andri Valerian K.

    1. itu cowok pacar saya kaaakkk😄 /dilempar/ enggak.. ya itu yang namanya Aron kak, gimana-gimana? keren kan?😄 /apa sih sa

      haghag… sebenernya itu yang ada dipikiranku ketika pertama denger judul lagunya Nu’est kak… aku pikir artinya emang gitu, aku kira di lagu ini intinya mereka gak mau pisah sama si cewek, lah ternyata intinya malah “i can live without you” anti-klimaks banget -___- kecewa saya (?) mungkin mereka gak mau orang-orang gak bisa bedain lagu mereka sama lagunya Miss A yang Good Bye Baby /apa ini

      nah.. di situ letak surreal-nya kak.. mereka tusuk-tusukan tapi gak mati-mati.. gara-gara liriknya nu’est juga sih, yang artinya “Living because i can’t die” itu… awal mula fic ini ada kan, gara-gara aku kepincut sama part yang itu haghag😄 /sudah jelas Sasa absurd/ btw… kan kalo di alam bawah sadar atau di alam kubur kan gak bisa bunuh-bunuhan kak, kan gak ada piso di sana .___.v habis Bomi ngelempar pisau ke Aron, mereka cuma semaput gitu kak haha😄 /bener-bener gak mungkin di dunia nyata/

      iya… betewe mending gak usah main hati sama main piso kak, sama-sama sakit itu😄 /eaaa/

      haghag.. ini pertama kalinya pake Surreal padahal kak😄 tapi emang bener kak, favoritku juga Voodoo Doll :” pas baca ini kayak sekedar ngeri, tapi gak semengerikan voodoo doll (ya soalnya lagunya juga gak mendukung)

      haghag… gak pa-pa kak, berarti aku udah sukses ngasih kalimat aneh ke kakak kan?😄 /bangga /ditimpuk sendal

      makasih review-nya kak…😉

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s