[Prompter-Fic] Eternity – Hyuk ver.


seolhyuk

SASPHIRE

(@sasphire1501)

.

Presented…

ETERNITY

 

.

Starring :
VIXX’s Hyuk & AOA’s Seolhyun

Ficlet [+1.537 W] | AU!, Romance | PG-15

(It’s cold) It’s just your mood
(It’s strange) I don’t care about that
(Thank you) All that matters is that you came back to me

Another SongFic :

Voodoo Doll | Eternity [Leo] [Hongbin] [N] [Ken] [Hyuk] | Don’t be Happy |

3rd Prompter Fic

1st Sentence by Tsukiyamarisa

Aku tak pernah ingin sendirian di dunia ini.

 Note : perlu diketahui ini gak friendzone or friendship. cerita menipu, ini Romance kok sungguh .___.v

Look

.

.

.

Love is a Nigtmare

.

.

.

Aku tak pernah ingin sendirian di dunia ini.

Begitupun kamu.

Kamu tahu prinsip kebersamaan, di mana kebersamaan selalu bermakna lebih ketika kamu dan aku bersama. Tidak sendirian. Kamu tahu prinsip kesedihan yang mendalam, dimana kesendirian adalah salah satu di antara banyak prinsip di dalam konteks kata kesedihan itu.

Tapi kamu cuma sekedar tahu aku membutuhkanmu, kamu butuh aku.

Kamu dan aku berbeda, sudah jelas. Kamu laki-laki, aku perempuan. Kamu penggila sastra-sastra berdiksi berat yang saat kulihat halaman pertamanya saja sudah muak, sedangkan aku pecinta komik-komik ringan yang mampu membuatku tertawa saat aku ingin tertawa. Kamu pecinta musik klasik yang membosankan, tapi aku pecinta musik dengan tempo riang.

Kamu pintar, aku tidak.

.

.

.

Padahal antara aku dan kamu, aku yang paling takut untuk sendiri. Tapi kali ini aku menguatkan diri untuk pergi darimu. Tidak benar-benar pergi, setidaknya menjauh darimu. Aku memiliki dosa yang sangat besar padamu, sehingga aku malu kalau harus melihat wajah tampanmu lagi.

Saat selesai melayani pelanggan minimarket tengah malam kali ini, aku memikirkanmu lagi. aku yakin tak ada pelanggan lain lagi setelah ini, makanya aku berani memikirkanmu. Kadang keberadaanmu begitu mengganggu apa yang kulakukan.

Salahku karena aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat, padahal kamu hanya mengganggapku sahabat. Aku benar-benar bodoh. Aku tak sanggup melepaskanmu, tapi dengan keras kepalanya aku tetap memikirkanmu.

Aku masih ingat malam terakhir kita bertemu.

Sepertinya kamu akan membenciku, begitu ucapku padamu. Kamu hanya mengernyit dan tak mengucapkan sepatah katapun, seolah menunggu lanjutan dari pernyataanku. Kamulah satu-satunya teman yang kumiliki, jadi kamu paham betul dari nada bicaraku, aku sengaja menggantungkan suaraku agar kamu penasaran. Kamu menuruti keinginanku, seperti biasa. Walau kali ini kamu benar-benar kaget, bukan karena sekadar menuruti skenarioku.

“Kalau begitu, boleh nggak aku membencimu lebih dulu?” itu kalimat terakhirku untukmu, dan kamu hanya mengangguk dan menjawab,

“Boleh.”

Aku selalu tahu kamu, sama seperti kamu yang selalu tahu aku. Aku pikir, kenapa saat itu kamu membolehkan aku membencimu? Karena kamu pikir, jika aku bisa bahagia karena itu, maka kamu memperbolehkannya. Kamu mungkin tak mengerti kenapa, tapi kamu mengikhlaskan semuanya yang terjadi tanpa menuntut adanya penjelasan.

Kamu tahu aku sering terluka, maka kamu selalu menjaga lisanmu agar aku tak terluka oleh pertanyaanmu.

Besoknya setelah ucapan perpisahan yang buruk itu, aku pindah. Tanpa kamu ketahui, saat prestasi non-akademikku menurun karena aku tak mampu memberikan gelar juara saat turnamen bulutangkis kapan hari, beasiswaku dicabut.

Selama ini, yang kamu ketahui dariku adalah: aku putri orang kaya, pemilik perusahaan Kim’s Coorporation yang bergerak di berbagai bidang. Aku masuk ke sana karena aku cerdas dan sanggup membayar biaya sekolah di sana. Aku berbohong pada semua siswa di sana. Tak ada yang tahu sama sekali.

Makanya, saat aku tahu aku harus pindah dari sana dengan sangat tidak terhormat, aku mengatakan ucapan perpisahan paling konyol itu padamu. Aku keji memang, aku sadar.

“Selamat datang.”

Kali ini aku harus fokus saat rekan kerjaku yang menjaga pintu minimarket menyapa pelanggan. Aku melihat jam dinding.

Jam sebelas lebih lima puluh menit. Berarti sepuluh menit lagi shift-ku selesai.

Pelanggan itu menghampiri kasir tempatku bekerja. Aku masih tak memperhatikannya, masih memasang wajah lesu juga. Setelahnya aku mengucapkan nominal harga satu botol mineral dan satu bungkus keripik kentang yang ia beli, baru aku menatapnya.

“Seolhyunnie?”

Aku menghela napas. Aku gagal menjaga nama baikku di matamu.

Kamu pasti akan membenciku.

.

.

.

Sekarang kamu berdiri berjarak sekitar tujuh langkah dari tempatku berdiri. Masih di depan minimarket. Kamu menawarkan diri untuk mengantarku pulang, tapi aku menolak. Aku bertaruh, pasti kamu mengunjungi rumahku setelah aku pindah, lalu kamu terkejut.

Rumah yang kuberikan alamatnya padamu bukan lagi rumahku, tapi jadi milik negara. Ayah bangkrut karena banyak orang kepercayaannya yang menyelewengkan saham untuk membuka cabang di luar negeri, ternyata partner-partner mereka hanyalah penjilat yang berusaha menghancurkan perusahaan Ayah. Itu terjadi saat aku masih belum tahu apa-apa.

Kesimpulannya, aku miskin sejak dulu kala. Aku tak pernah punya teman sejak dulu kala.

“Jadi, kamu bohong selama ini?”

Aku menghela napas setelah mendengar kalimat dari bibirmu yang terasa menusuk bagiku. “Iya.”

“Kenapa?”

Aku diam. Cuaca semakin dingin di pertengahan musim dingin ini, tapi aku tak mengenakan jaket sama sekali. Aku hanya mengenakan kaos putih lengan panjang, dulu milik kakak perempuanku.

Saking miskinnya, biaya membeli jaket pun harus dipertaruhkan dengan makanan.

“Maaf, Han Sanghyuk.”

“Itu bukan jawaban.”

Aku kembali diam. Aku mengerti, pasti amarah dalam hatimu membuncah dan akan semakin meledak setiap menitnya, apapun yang kulakukan. Kamu terlalu kecewa karena aku yang kamu anggap sahabat ternyata menipumu.

Pikirmu, kamu orang asing bagiku.

Aku menghela napas lagi, meredam gemuruh dalam kalbu yang begitu bergejolak menahan sedih dan amarah yang menyakitkan, menjalar ke seluruh tubuh. Terlebih hawa dingin yang rasa-rasanya turut menuntutku, enggan menerima kehadiranku yang menyatu dengan keberadaan mereka. Bahkan salju mulai turun.

Sebentar lagi aku akan hipotermia.

“Aku nggak pernah punya teman,” jawabku kemudian. Aku rasa itu cukup, aku tak mampu berucap lebih jauh lagi, atau aku akan menangis. Sungguh susah aku menahan rasa sesak di dada ini. Harusnya kamu tahu ‘kan? Kita pernah menangis bersama.

“Karena itu, kamu bohong padaku—pada kami semua—agar kamu punya teman?”

Lagi dan lagi, aku menjawab pasrah, “Iya.” Ternyata kali ini kamu tak mau menoleransi rasa sesakku. Kamu tahu aku sedih, tapi kamu masih menuntut penjelasan yang masih ragu kuungkapkan.

“Kamu pikir aku berteman dengan memandang status orang lain?!” nada bicaramu masih lumayan tenang, tapi aku tahu di dalamnya ada rasa tersinggung, tidak terima atas semuanya.

Nggak,” kali ini aku memberikan jawaban yang berbeda. Kamu tertawa kecil, tapi aku tahu maksud tawamu bukan merendahkanku.

Kamu tertawa menuntutku untuk menceritakan semuanya.

Haruskah? Aku sudah terlalu jauh berbohong padamu. Rasa-rasanya kamu tak akan percaya lagi atas apa yang akan aku katakan. Kamu akan menganggap semua ucapanku bohong. Kosong.

“Hanya saja, aku takut aku nggak punya teman lagi, setelah sekian lama aku sendiri.”

Sial, mataku berkaca-kaca lagi. aku menatap langit. Tak ada bintang di sana, yang ada hanya salju yang berguguran. Aku tak berniat mengintai keindahan malam. Aku berniat mencegah kesedihan semakin menusuk lagi.

“Aku nggak punya siapa-siapa. Ayah di rumah sakit jiwa, ibu meninggal karena sakit yang mendalam akibat shock. Kakak perempuanku pergi bersama suaminya. Aku harus sendiri.”

Kali ini kamu yang diam, sabar menunggu kalimat demi kalimat yang kuucapkan. Aku mengatur napasku untuk kesekian kalinya. Kesedihan selalu sukses menggerogoti napasku, tak pernah mengijinkanku hidup tenang barang sedetik.

“Selama ini aku nggak pernah punya teman. Dengan apa adanya aku, semua mencibir. Semua menyisihkan aku. Semua menganggap aku sampah. Dulu aku pikir, jika aku mau sabar sedikit saja, pasti akan ada satu-dua orang yang mau berteman denganku. Tapi nihil. Makanya, aku memutuskan untuk berbohong saat SMA…”

Entah mengapa, pembelaan diri yang ada di benakku sangat tak masuk akal hingga aku berani menatapmu kali ini.

Toh, apa yang kuucapkan nggak sepenuhnya bohong. Rumah itu rumahku dulunya. Dulunya, aku orang kaya.”

Kamu menatap wajahku dengan datar. Aku berpikir. Apakah aku terlihat begitu menyedihkan di matamu? Apa aku terlihat begitu ambisius di matamu? Apakah aku terlihat seperti orang yang gila akan kejayaan dan kedudukan di matamu?

Tiba-tiba aku malu pada diriku sendiri.

Iya. Aku sangat menyedihkan, bahkan di mataku sendiri.

“Asal kamu tahu, aku beda. Aku nggak pernah memilih teman dari statusnya.”

“Aku tahu.”

Kebetulan yang mengerikan bagiku malam ini. Kenapa Tuhan menuntunmu pergi ke minimarket tempatku bekerja, padahal di dekat rumahmu ada minimarket yang lebih dekat? Kenapa kamu memilih minimarket yang terlampau jauh, bahkan lebih jauh dari sekolahmu? Apa kamu mengetahui aku bekerja di sini, lalu kamu berniat untuk menghakimiku dan membuat rasa bersalahku kian meluap? Kamu berniat aku menangis menyesali perbuatanku?

Kalau begitu, kamu berhasil.

“Terima kasih, kamu mau jadi sahabatku selama ini,” aku menjulurkan tanganku akhirnya, sambil tersenyum dipaksakan. Padahal air mata sudah lama jatuh membasahi pipi, entah sejak kapan. Sangat kontras.

Begitu dingin udara yang kurasakan menyentuh kulit, sama dinginnya dengan air mata yang mengalir ini. Aku melanjutkan ucapanku, tapi aku sangat kesusahan mengatur ritme nada bicaraku yang semakin tak karuan.

“Terima kasih, seenggaknya selama ini kamu ada di sampingku. Aku nggak pernah sendiri lagi. Juga maafkan aku…”

Sialnya aku cegukan saat mengucapkan kalimat itu. Bahkan aku tinggal mengucapkan satu kata, tapi rasa-rasanya aku harus mengatur pasokan oksigen lagi.

“…mengecewakanmu.”

Kamu lama terdiam, tak menyentuh tanganku sedikitpun. Mungkin setelah ini kamu akan pergi tanpa sepatah katapun saking kecewanya. Tak apa. Itu impas. Aku pantas mendapatkannya. Dulu aku pergi meninggalkanmu begitu saja setelah mendengar kata ‘boleh’ darimu, kalau kali ini kamu melakukannya sekarang—pergi meninggalkanku begitu saja–aku anggap adil.

Tapi kemudian aku merasakan kehangatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kamu melepaskan jaket lapisan terluarmu yang paling tebal dan memakaikannya padaku. Hembusan napasmu sekilas menyentuh wajahku, terasa hangat. Entah kapan terakhir aku merasakan kehangatan yang begitu menenangkan seperti ini.

Setelahnya, kamu memelukku, membuatku yang susah payah menegakkan benteng ketegaran tumbang begitu saja. Aku menangis sekeras mungkin. Aku terlalu sesak menerima kenyataan.

“Kumaafkan,” ucapmu ringan, terasa sangat lembut di telinga. Kamu membuatku semakin benci pada diriku sendiri, telah mengecewakan orang terbaik di dunia yang pernah kukenal.

“Yang penting, jangan pergi lagi. Aku nggak suka.”

Aku pikir saat aku pergi, kamu akan baik-baik saja. Berbeda denganku, kamu selalu punya banyak teman. Sungguh aku iri padamu. Salah satu alasan yang membuatku iri padamu di antara jutaan alasan yang kupunya. Tak akan ada efeknya saat aku pergi dari hidupmu. Bukankah kehilangan diriku bukan satu masalah besar bagimu?

“Aku ‘kan, menyayangimu.”

  Time’s Over

oke oke… ini ketiga kalinya buat fic Prompter hehe xD baru kali ini aku membuat fic yang sesuai perkiraan (?). Sebelumnya, yang lelaki menunggu sepi, jadinya malah comedy-so-awkward, yang tentang kentang itu, jadinya malah angst. yang ini kayaknya sesuai deh x)

jadii… review-nya?

buat kak Amer, maaf SeolHyuk jadi melankolis di sini T_T aku sudah pernah bilang ke kakak, sebelumnya aku pernah buat mereka lebih nista dari ini… so pasti kali ini juga biasa-biasa aja menistai mereka, tanpa rasa bersalah sedikitpun. tanya aja kak tiwi sama kan Andri yang udah baca (?)

dan yang mau kasih aku kalimat awal, boeh mensyen di twitter ^_^

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s