[Prompter-Fic] Antara Kamu dan Kentang


akdk

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

“Antara Kamu dan Kentang”

Ficlet (1.526 W) | AU!, Angst, Life, Friendzone, slight! Romance | General

Starring by :

BTS’s Jungkook & OC’s Kim Sojin

2nd Prompter-Fic

1st Sentence by liakyu

Dua buah kentang menggelinding ke arahku.

.

Backsound Inspired: Billionaire – That Night

Dua buah kentang menggelinding ke arahku.

Aku mengernyit, lalu menahan laju gelindingan kedua kentang itu dengan tanganku yang masih mengenakan sarung tangan karet. Baru selesai cuci piring. Meskipun masih mengherankan keberadaan dua kentang itu, aku berniat untuk mencuci ke dua kentang itu, mengupasnya, mencucinya lagi…

Tapi masih bingung setelahnya mau kuapakan.

Saat mencucinya untuk kali pertama, aku masih berpikir.

Mungkinkah kamu yang sangat menyukai kentang sengaja memberikannya padaku, merindukan kentang rebus—atau bahkan kentang goreng—yang pernah aku buatkan untukmu?

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Aku mengerjapkan mataku, lalu mengusap mataku lembut dengan punggung lenganku. Sesekali menghela napas.

Apa kamu ada di sampingku sekarang?

5

 

Itu malam terakhir kamu bertemu denganku. Kamu menggangguku yang menikmati semilir angin musim semi di malam hari. Kamu mengganggu kegiatanku menghitung bintang di langit.

Dan dengan sangat kurang sopannya, kamu pergi.

“Jungkook-ku!!”

Teriakan sumbangmu menandakan sikap manjamu. Aku menyeringai kecil karena kala itu aku berbaring, bukannya duduk seperti biasanya. Jika aku duduk, kamu biasanya memelukku dari belakang. Terlalu erat kadang, hingga aku harus menahan sesak. Kamu menikmati wajahku yang tersiksa meskipun aku sudah berkali-kali berkata hentikan.

Ternyata saat aku berbaring pun, kamu bisa menyerangku. Tiba-tiba perutku merasakan hantaman keras, membuatku langsung duduk.

Lalu selanjutnya sesuai seperti harapanmu. Kamu memelukku dari belakang, berteriak tidak jelas layaknya orang gila, lalu kau hanya akan melepaskanku saat aku berteriak,

“Gadis gendut! Lepaskan!!”

kamu terkekeh biasanya, lalu kamu akan mengucapkan kata-kata yang sama,

“Jangan menghitung bintang terus! Nggak berguna! Nggak menambah umurmu juga ‘kan?”

Aku benci mengiyakan, tapi apa yang kamu katakan benar. Benar sepenuhnya.

“Ayo masak kentang.”

Iya. Yang membuat aku gagal menghindari pelukan mautmu itu satu plastik kentang yang kutaksir satu kilo beratnya.

Kamu penggila kentang. Kamu selalu menuntutku untuk memasak kentang dengan berbagai resep yang berbeda setiap hari. Setiap malam. Kadang satu kilo, kadang hanya setengahnya, kadang hanya dua buah kentang.

Jika kamu memberikanku satu kilo, berarti kamu memintaku memasakkan pendamping nasi untuk beberapa hari. Biasanya habis dalam waktu dua minggu. Kalau kamu membelikan setengah kilo, biasanya kamu cuma menginginkan makan malam yang lengkap: makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup bahkan pencuci mulut. Semuanya serba kentang.

Kalau cuma dua kentang, berarti kamu memintaku membuat cemilan dari dua kentang itu.

Kamu protes kalau aku hanya membuatkan kentang goreng atau kentang rebus sebagai camilanmu, tapi aku berdalih, aku sedang tidak ingin memasak untukmu. Jika aku memaksakan diri memasak untukmu, maka kamu akan keracunan.

Lalu dengan berlapang hati, kamu menerima kentang goreng—atau kentang rebus—yang kubuatkan untukmu.

Malam itu pengecualian.

Kamu mengambil dua buah kentang dari dalam plastik putih itu, lalu menyodorkannya padaku. “Nih.”

Aku mengernyit.

“Kentang yang lain buat kamu.”

Aku menghela napas. Malam itu aku menyimpulkan, kamu tak selera makan satu menu yang sama selama beberapa hari. Kentang-kentang yang lain kamu sisakan untuk esok harinya, berteriak sumbang terlebih dahulu, lalu menyuruhku dengan semena-mena, tanpa ada toleransi.

Malam itu kamu benar-benar memaksaku. Kamu berjanji kamu akan mencuci sampai bersih dua kentang itu, asalkan aku mau membuatkanmu sesuatu yang berbada. Karena jengkel, aku bertanya dengan ketus,

“Kenapa sih, selalu kentang?”

Kamu tersenyum kecil.

“Karena aku sama seperti kentang yang sudah diolah. Sama seperti kentang yang direbus. Sama seperti kentang yang sudah pantas dimakan.”

Aku masih tak mengerti, tapi aku memilih untuk cuek, lalu pergi ke ruang multimediaku, membuka laptop berwarna hitam. Ketika sudah tahu pasti laptop itu tersambung oleh internet, aku segera mencari menu olahan kentang yang beda. Yang belum pernah kamu makan. Belum pernah aku masakkan untukmu.

Saat mencari menu, aku menggerutu. Hampir semua menu kentang yang kutemui sudah pernah kusediakan untukmu. Dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa kamu tak mau memasak sendiri? Kenapa kamu selalu menyuruhku memasak?

Padahal kamu yang perempuan, aku laki-laki. Karena kamu, aku jadi meragukan keberadaanku sebagai lelaki.

Beberapa saat kemudian, aku tersenyum puas. Sudah menyentuh halaman ke sepuluh, aku baru menemukan menu yang berbeda. Cocok untuk camilan.

Aku sudah lupa apa namanya, yang jelas, setelah menu itu tercetak di lembaran putih ukuran A4, aku langsung ke dapur dan memasakkan dua kentang itu.

Tapi aku mengurungkan diri saat melihatmu tergeletak di lantai…

5

 

Dan pergi.

Hari ini aku memasakkan kentang untukmu, hanya kentang rebus. Maaf, Sojinnie, tapi aku tak bisa memakai resep yang sempat kucetak namun tak sempat kumasakkan untukmu malam itu. Aku terlalu takut mengenang kepergianmu sekali lagi.

Kata dokter setelah aku mengantarmu ke rumah sakit—dalam keadaan pucat pasi, kamu sudah tak dapat ditolong lagi. Orang tuamu menangis keras, sementara aku hanya tercengang. Kamu baru saja datang ke rumahku, mengerjaiku, memintaku memasak kentang seperti biasa…

Lalu pergi begitu saja.

Kala itu, bercandamu sungguh kelewatan.

Bahkan setelah satu tahun kamu pergi, aku masih menganggap bercandamu sungguh keterlaluan. Tak ada yang patut ditertawakan. Selera humormu sungguh dipertanyakan. Kamu sudah biasa pura-pura pingsan, mengancam bunuh diri, bilang ingin pergi dari rumah, hanya karena aku tak mau memasakkan kentang untukmu.

Malam itu aku sungguh enggan memasakkan kentang untukmu.

Kamu pergi. Tanpa satu katapun.

5

 

Aku masih ingat, dokter yang menanganimu bilang padaku, kamu meninggal karena angin duduk. Sehari setelah pemakamanmu, aku kembali menjelajahi internet. Berbagai macam artikel tentang ‘angin duduk’ aku buka. Aku tak begitu mengerti karena aku bukan dokter, makanya aku mencari artikel yang ditulis oleh orang awam. Aku menemukan satu blog yang ternyata benar-benar memahami kebingunganku.

Angin Duduk sama dengan Sindrom Jantung Koroner Akut. Hanya dalam 15 menit sampai 30 menit, orang yang terserang angin duduk bisa meninggal. Padahal, penderita sebelumnya terlihat sehat-sehat saja. Dunia kedokteran selama dua tahun terakhir berhasil mengidentifikasi istilah baru penyakit jantung yang akrab disebut angin duduk. Ternyata, penyakit ini tak sekedar masuk angin berat, tetapi identik dengan Sindrom Serangan Jantung Koroner Akut.

Aku menyimpulkan, kamu terkena serangan jantung akut. Tapi aku masih belum yakin. Aku mencari dengan keyword lain. Saat itu aku mengetik ‘penyebab angin duduk’.

Aku menemukan satu artikel lagi.

Penyebab angin duduk sebenarnya hanya terletak pada penyempitan pembuluh darah jantung. Penyempitan tersebut menyebabkan sebagian jantung tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup, sehingga pasokan darah tidak seimbang. Kondisi ini akhirnya mengakibatkan kerusakan pada otot jantung yang dapat menyebabkan kematian.

Saat itu aku berpikir, itukah yang kaualami malam itu, Sojinnie? Itukah yang membuat kamu pergi?

Atau kamu pergi karena alasan lain?

Orang tuamu menolah autopsi. Aku memahaminya walau aku benar-benar penasaran atas kepergianmu yang begitu tiba-tiba. Mungkin benar jika kamu pergi meninggalkan kami karena angin duduk, tapi kalau tidak?

Bagaimana kalau ternyata kamu pergi karena aku enggan memasak kentang untukmu?

Aku masih duduk di depan laptop sambil memijat pelan keningku yang merasa pusing karena terlalu lama menjangkau radiasi laptop. Tapi setelahnya, aku ingat sesuatu. Kamu pernah bilang, kamu suka kentang karena kamu sama seperti kentang.

Aku menghapus huruf-huruf di kotak pencarian dan menggantinya dengan yang baru.

Filosofi kentang.

5

 

Kentang. Air mendidih.

Air mendidih ibaratkan masalah.

Kentang adalah sayuran yang keras, jika direbus akan menjadi lunak. Jangan kamu menjadi KENTANG, sebab kentang adalah sosok yang keras dan mempunyai pendirian teguh atau kuat, namun saat diberi masalah akan menjadi lembek.

Kamu menganggap dirimu lembek. Aku bertanya-tanya, kenapa?

Aku pikir, sepertinya kamu sudah tahu kalau kamu punya penyakit jantung yang kapan saja bisa merenggut nyawamu, tapi kamu masa bodoh, tak ada usaha untuk mencegahnya. Kamu terlalu putus asa.

Dan ternyata benar.

Entah kapan, kamu menyelipkan buku catatan di dekat kulkas dapurku. Catatan itu sudah lusuh, sepertinya lebih dari satu tahun di sana, dan aku baru menyadarinya dua minggu setelah kematianmu.

Di sana tertulis, kamu memang punya penyakit jantung dan kamu menyembunyikannya dari orang tuamu. Kamu sadar, keberadaanmu yang penyakitan hanyalah beban bagi orang tuamu, maka dari itu kamu berharap Tuhan segera memanggilmu agar orang tuamu segera bebas dari belenggu keberadaanmu.

Kamu juga menuliskan alasan kenapa kamu selalu menyuruhku memasak kentang.

Agar aku bisa mengingat kenangan antara aku, kamu dan kentang-kentang yang sudah mengisi perutmu selama ini. Agar aku tahu, aku tak boleh seperti kentang yang menyerah begitu saja pada keadaan. Aku harus jadi pribadi yang memperjuangkan apa yang aku anggap baik.

Kamu menambahkan, kamu memilih untuk pergi karena kamu yakin apa yang kamu lakukan baik. Kamu tak akan jadi beban bagi orang tuamu, pun bagiku.

Sangat Sojin.

5

 

Aku meletakkan kentang rebus yang baru saja matang di atas meja dapurku, sekali lagi menghela napas, berusaha merasakan kehadiranmu yang tentu saja tak nampak. Mungkin kamu merindukanku, sahabat setiamu, jadi kamu ada di salah satu sudut ruangan ini. Kamu tersenyum, mungkin merengut kesal, karena aku hanya membuatkanmu kentang rebus.

Sekali lagi maaf.

Aku tak pernah lagi memasak kentang dengan semangat, tidak setelah kamu pergi dan tak ada lagi yang akan tersenyum cerah memakan masakanku. Tidak karena tak ada lagi yang akan mengataiku bodoh karena kentangnya menghitam dan mengeras seperti batu.

Tidak karena aku tak akan melihat kamu lagi.

Aku meletakkan sebuah amplop berisi surat yang dari dulu sangat ingin kuberikan padamu sebagai balasan catatan bodohmu yang kau selipkan di samping kulkasku. Aku menatapnya beberapa menit di samping kentang rebus yang kubuat, lalu melepas celemekku dan pergi ke halaman belakang.

Kembali ke rutinitasku, menatap langit gelap dan menghitung beberapa bintang yang terlihat.

Setidaknya, kali ini tak akan ada yang menggangguku. Walau kadang aku selalu menoleh ke belakang dengan frekuensi yang konstan, berharap kamu ada di sana dan berlari menghampiriku, memekik sumbang, memelukku dari belakang….

Lalu mengajakku mengolah kentang lagi.

5

 

 kak Lia… maaf jadinya malah Angsty-angsty-so-me begini T_T kakak tahu gak sih kalimat dari kakak itu terlampau kreatif dan aku gak ngerti ceritanya bakal jadi gimana xD awalnya pengen yang humoris gitu, barang kali ada cewek gak nyadar tuh kentang gelinding, terus jatoh, terus diterima sama abang Leo (eaaa eaaa) tapi kalo gak nyadar, jelas sekali kalimat openingnya bukan seperti itu xD

dan untuk temenku yang request (yang membuatku akhirnya memasangkan IDOL x OC setelah selama ini aku berkutat pada IDOL x IDOL) maaf aku menistaimu di sini, Kim Sojin T_T maaf di sini gak begitu so sweet, maaf T_T tapi mestinya kamu gak protes dong, toh dulu FFmu yang sama Baekhyun (yang pernah kubaca) endingnya kamu mati xDD

okey… review-nya?

Link : Angin duduk 1 | Angin duduk 2 | Filosofi Kentang

One thought on “[Prompter-Fic] Antara Kamu dan Kentang

  1. Huahh jujur aku nangis baca ini, authornim TT-TT
    Sebenernya udah ketebak sih pas awalnya si OC itu udah mati, tapi ekspetasinya lebih daripada yang aku bayangin
    Ini kayak typical ff yang sering aku baca, ujung-ujungnya ada yang mati. Tapi ini beda banget pokoknya *v*
    Nice bgt, authornim😀

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s