[Daily-Fic] Don’t be Happy


dont be happy ara

(@sasphire1501)

Presented

“Don’t be Happy”

Vignette (2.452 W) | AU!, Life, Friendzone, slight! Fluff, Romance | PG+15

Starring by :

Hello Venus’s Ara & VIXX’s Hakyeon

Series Daily-Fic

1 | 2 | 3 | 4 | 5

“Don’t be Happy, Don’t be Happy “

 

Bagaimana rasanya saat karya yang telah susah payah kamu ciptakan ternyata tak ada artinya? Tak ada yang memedulikan karyamu, tak ada yang menginginkan karyamu?

Ara mendengus kesal saat kembali ke toko buku dekat rumahnya setelah 2 minggu yang lalu ia datang kesana. Tak ada perkembangan bagi bukunya yang berjajar dengan buku lain di kategori fiksi. Novel fantasinya begitu dielu-elukan oleh editor penerbit tempat ia memercayakan lahirnya karya pertamanya dalam bentuk sebuah buku seperti yang ia idamkan sejak lama, bahkan dari kecil.

“Novel kamu original, khas kamu. Kamu bisa jadi penulis besar.”

Nyatanya, novelnya di sana hanya ada 5 eksemplar sejak hari pertama terbit, itupun tak berkurang sampai hari ini. Ia tidak tahu penjualan di seluruh Korea bagaimana, tapi di sekitarnya saja sudah kurang meyakinkan?

Pada jamannya dulu, karya J.K Rowling tentang penyihir berkacamata selalu digemari oleh anak seumurannya. Bisa dibilang karya itulah yang memacunya untuk berkarya seperti penulis yang ia kagumi. Terlebih saat J.K Rowling berhasil melahirkan karya lain baru-baru ini yang tak kalah menariknya, ia semakin gemar membuat cerita fantasi. Ia berkhayal tentang gadis yang bisa menaiki burung Murai dan berkicau bersama, kadang berkhayal tentang Ogre yang tinggal di istana, namun pangeran tampan nan bijak malah tinggal di pinggir rawa.

Otaknya sering berfantasi dan menurut editor-nya hal itu sangatlah baik.

Ia mulai berpikir ulang, apakah genre fantasi yang ia usung sudah tak lagi populer? Kalau begitu, ia harus menulis fiksi macam apa yang populer?

Well, Ara tidak memikirkan karya untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Karya adalah medium tempat ia berekspresi. Tapi kalau tak ada yang mengapresiasi, lantas apa gunanya ia berekspresi?

Ia mengambil salah satu buku di hadapannya, bersampul putih dengan pemandangan warna permen ala dongeng anak dengan tulisan besar berwarna senada. Kalau dibaca bunyinya: Teen’s Tale.

Dongeng Remaja.

Daripada novel, bisa dibilang karya debutnya itu hanyalah kumpulan 12 cerpen yang pernah ia buat. Mengapa ia memilih judul itu? Karena selama ini dongeng hanya diperuntukkan untuk anak kecil, padahal selalu ada adegan ciuman bibir di dalamnya. Bukankah itu tak etis bagi anak kecil? Apa yang dipikirkan pengarang jaman dahulu yang membuat dongeng anak kecil begitu…

Ya sudahlah, batin Ara. Tak ada hubungannya juga dengan kehidupannya yang selama ini lurus-lurus saja—kecuali soal karya pertamanya itu.

Ia berjalan menuju kasir dan membayar satu buku yang dibelinya. Jelas ia telah memiliki sampel buku di rumahnya, dikirim penerbit sehari sebelum karyanya disebarkan ke seluruh Korea. Tapi ia ingin menghibur diri. Kalau minggu depan ia kembali dan bukunya tak berkurang juga, ia akan membelinya lagi. Sampai 5 buku—sekarang tinggal 4 buku—yang berjajar di sana, yang berjudul Teen’s Tale itu terjual habis.

Setelah mengucapkan nominal buku dengan ramah dan menerima uang yang Ara berikan, penjaga kasir pria di sana dengan cekatan membungkus buku dengan plastik. Mengisi waktu sambil menunggu uang kembalian, ia mengitarkan pandangannya.

Kali ini ia harus merasa kesal lagi.

Matanya menangkap seorang lelaki tersenyum cerah dan bersenda gurau dengan gadis lain, terlebih gadis itu menggelayut manja pada lengan si lelaki. Ara mengatur napasnya, lalu menguatkan diri untuk menyapa.

“Hai!”

Si lelaki tak begitu paham jika ia yang dipanggil. Terlebih Ara memanggilnya dengan panggilan universal yang membuat banyak orang menoleh padanya.

“Hakyeon-ssi!”

Kali ini si lelaki paham dan mencari arah suara. Dia sedikit kaget melihat Ara berada di depannya. Ara tersenyum kecil. Setelah uang kembalian ada pada tangannya, ia berjalan menghampiri Hakyeon dan gadis-tak-terdefinisi di samping Hakyeon.

“Jalan-jalan?”

“Iya, begitulah,” Hakyeon berusaha tetap wajar, berharap Ara tidak mengatakan hal-hal aneh yang membuatnya terlihat buruk di depan gadis di sampingnya.

“Sama pacar baru nih?”

Tanpa Hakyeon sangka, Ara mengucapkannya. Ia tertawa kecil, tak habis pikir akan Ara, namun juga berterima kasih dalam batinnya. Ia lega karena gadis di sampingnya jadi tak tahu apa-apa soal dirinya dan Ara, tapi di sisi lain ia tak enak hati pada Ara.

“Wah… Kapan-kapan traktir dong, pajak jadian.”

Tapi semakin Ara berbicara, ia semakin ingin untuk bungkam. Kalau bisa lari. Ia tak pernah melihat Ara begitu antusias pada dirinya sebelumnya, mengingat Ara selalu menjadi pembicara handal dan Hakyeon hanya jadi pendengar yang sabar.

“Yoo Ara,” akhirnya Ara berinisiatif untuk memperkenalkan diri terlebih dulu sembari menjulurkan tangan. Gadis di depannya tersenyum dan melepaskan tangannya dari lengan Hakyeon.

“Cha Hweji.”

“Wah, Cha couple?”

Hweji mengangguk sambil tersenyum cerah, tanpa tahu hati Ara sebenarnya tercabik atas jalannya percakapan yang ia kendalikan sendiri.

dbh

 

Ara melemparkan plastik berisi buku yang ia bawa dengan asal, lalu mengempaskan tubuhnya ke ranjangnya. Kamarnya sangat berantakan. Banyak majalah, novel, CD, bahkan pakaian-pakaian yang semalaman ia setrika kembali berceceran ke seluruh penjuru ruangan. Bangau-bangau kertas juga berserakan di atas kasurnya. Ia menerawang pada pertemuannya dengan Hakyeon sesaat lalu.

Gila. Brengsek. Laki-laki murahan.

Kemudian ia bangkit secara tiba-tiba, membuat kepalanya sedikit pusing hingga harus duduk cukup lama sambil memejamkan mata erat, mengusir rasa pusing sesaatnya.

Begitu terasa baikan, ia melangkah menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Di sana sudah ada tumpukan kertas A4 sekitar 235 halaman yang siap dikirim lagi ke penerbit. Kali ini novel. Ia berniat untuk mengirimkannya sore ini ke editornya, tapi saat dipikir lagi, bukankah itu terlalu tergesa-gesa? Karya pertamanya saja tak begitu populer—di lingkungannya—kenapa ia begitu nafsu mengirimkan karya keduanya? Sistematikanya, kalau Ara ingin sukses, ia harus menunggu karyanya populer dan ia terkenal dulu, baru karya keduanya diterbitkan.

Ia harus sabar.

Tapi karya di depannya malah membuat ia tak sabar.

Di samping tumpukan kertas-kertas itu, ada tumpukan kertas lain. Konsep paling awal kumpulan cerpennya yang pertama. Banyak coretan di sana-sini oleh editornya yang selalu jadi mimpi buruk yang menghantui. Ia mengambil semua kertas di sana asal dan menerbangkannya ke udara. Ia tertawa layaknya orang gila.

Ya, belakangan ia cukup tertekan.

Memiliki buku sendiri tak semudah yang ia bayangkan.

Terlebih, lelaki yang sangat ia sayangi pergi dengan gadis lain di saat ia butuh teman berbicara. Gara-gara kesibukannya, ia tak lagi dekat dengan Hakyeon selama hampir setahun. Mungkin karena itu, Hakyeon memutuskan untuk mencari gadis lain.

Bel rumahnya berbunyi. Ara mengintip sekilas dari balkon kamarnya.

Mobil Hakyeon.

dbh

 

Ara berdiri di depan pintu rumahnya, hanya sekedar memegang kenop pintu tanpa ada kekuatan membukanya. Cukup lama ia ada di sana, gamang menentukan satu di antara dua pilihan: menelpon Hakyeon dan bilang dia tak ada di rumah atau membuka pintu rumah dan menampar lelaki itu.

Hah. Lucu.

Bahkan mengucapkan rasa cinta satu sama lain saja tak pernah, wajarkah Ara bertindak seperti itu? Cemburu seberlebihan itu? Apakah sosoknya telah berubah menjadi monster berperasaan keji?

Tidak, tidak. Ara memang penyuka fiksi. Tapi hidupnya tak se-fiksi itu.

Ara mundur selangkah, lalu memutar piringan hitam di sudut ruang tamu dan mengeraskan volume keras-keras setelah yakin ia memperdengarkan lagu itu pada Hakyeon.

Ketika Hakyeon mendengarnya, ia bingung apakah harus tertawa untuk menutupi perasaan bingung di hatinya, atau menangisi lelucon Ara yang tak sejauh itu ia pikirkan. Suara Bumkey yang menendang setiap bagian di telinganya begitu menyindir dirinya. Menyindir Ara juga.

I never had a chance to say that I miss you, that I miss you
I thought that you would always be by my side

But you’re in another man’s arms, being loved
That affectionate image drives me crazy
It feels like my heart will rip as much as I regret
I’m so mad at myself for just standing here

Akhirnya Hakyeon memutuskan untuk menelpon Ara yang ia yakin pasti ada di rumah. Ia duduk pada anak tangga yang menghubungkan teras dan halaman Ara.

Saat ia tahu Ara mengangkatnya, tanpa berbasa-basi ia langsung mengucapkan apa yang ada di benaknya,

“Maaf soal tadi.”

“Apa?”

Hakyeon hampir saja tertawa. Ara berusaha tak acuh di percakapan itu, tapi kenapa saat ia datang ke rumahnya, terdengar lagu yang begitu melankolis sekaligus menyindir seperti itu?

Mendengar kekehan ringan dari Hakyeon, Ara mendengus kesal.

“Iya, tapi kamu juga salah sih. Kemarin, maksudku 2 minggu lalu, aku lihat kamu sama editor kamu ke toko buku jalan bareng.”

Oh, jadi saat itu kamu ada di sana? Nggak berniat menyapa?

“Padahal aku kangen kamu, lama nggak ketemu. Kalau kamu ada waktu luang, harusnya kamu telepon aku. Kalau nggak bisa, seenggaknya SMS lah.”

Ara menghela napas. “Kamu sendiri nggak telepon atau SMS.”

“Karena aku takut ganggu kamu. Aku tahu cita-cita kamu untuk menerbitkan buku sudah lama. Dari kecil. Aku takut aku malah ganggu konsentrasi kamu.”

Bahkan kamu masih sempat-sempatnya menyelipkan senyuman di sela-sela ucapan maafmu, ucapan pengalihan kesalahan dan juga ucapan pembelaan dirimu. Sangat Hakyeon.

dbh

I never had a chance to say that I love you, that I love you
I threw away all of my pride and am begging you

But you’re in another girl’s arms, being loved
That affectionate image drives me crazy
It feels like my heart will rip as much as I regret
I’m so mad at myself for just standing here

“Tapi antara aku dan editor nggak ada hubungan selain rekan kerja.” Ara akhirnya berucap setelah mereka diam terlalu lama ditemani lantunan lagu yang artinya begitu memuakkan bagi Ara, namun sangat mewakili keadaannya kali ini. Ia malu karena berkali-kali mencibir lagu itu di depan Hakyeon, namun pada akhirnya ia menggunakan lagu itu sebagai senjata yang ia arahkan pada Hakyeon.

“Aku tahu.”

“Lantas?”

Mereka kembali diam. Kali ini Ara sabar menunggu jawaban dari Hakyeon.

Don’t be happy, don’t ever be happy
You have left me so don’t you dare crack a smile

 

Don’t be happy, don’t ever be happy
I don’t need to hear the lies that nothing will change

“Hanya saja…”

“Hanya saja?” Ara menagih.

“Aku…”

“Kamu…?”

Hakyeon menghela napas dalam-dalam. Kali ini ia memijat keningnya pelan, berusaha menguatkan hatinya. Ia tak tahu kenapa, tapi rasa-rasanya ia menyesal kalau ‘proses pengungkapan perasaannya’ harus didesak kondisi yang tidak tepat begini.

Jujur saja, Cha Hwe Ji—gadis yang ia ajak berkencan hari ini—hanyalah pelarian sementaranya sampai ia bisa kembali bersama Ara.

“Cemburu?”

Akhirnya kata itu keluar juga, setelah Hakyeon menimang-nimang selama beberapa detik. Kali ini ia yang menunggu respons Ara. Lucu sekali. Mereka saling mencintai tapi masih ragu akan perasaan masing-masing. Saat salah satu dari mereka akhirnya mengungkapkan perasaannya—dengan tersirat, yang lain malah tertegun. Masih tak percaya, masih menganggap itu mimpi.

“Cemburu?”

Lagi dan lagi, Hakyeon menghela napas. “Iya.”

“Kamu? Cemburu?” kali ini Ara yang menahan tawa. Hakyeon yang mendengar sedikit semburan dari bibir Ara langsung bermuka masam.

“Iya. Cemburu.” Kali ini Hakyeon menekankan kuat-kuat pada kata cemburu. Sambil menekan rasa malu, tentunya.

Kok bisa?”

Kali ini Ara benar-benar dalam posisi orang bingung yang sedang senang. Ia tak lagi sedih, tapi saat ia ingin tersenyum senang pun, ia masih gamang. Baiklah, ternyata perasaan Ara selama ini tak begitu bertepuk sebelah tangan. Tapi, apakah hubungan mereka yang selama ini berjalan baik-baik saja sebagai sahabat akan tetap baik-baik saja kalau mereka menjalin hubungan lebih dari itu?

Hakyeon sendiri bingung menjawab pertanyaan terakhir Ara. Terlalu banyak jeda di percakapan mereka kali ini, dan Ara penyebabnya.

“Pokoknya,” akhirnya Hakyeon memilih untuk mengalihkan perhatian, “kalau kamu butuh aku, kamu tinggal telepon atau SMS. Oke? Kamu sebenarnya sudah tahu perasaanku ke kamu ‘kan?”

“Eh?”

Just think about the times that only you and I know
How can you throw it away
Please don’t leave me

Hakyeon memutuskan sambungan teleponnya, membuat Ara berdecak kesal. Harusnya ia lebih peka lagi, atau mungkin, membalas perasaannya saat di telepon tadi.

Baik Ara ataupun Hakyeon tak jadi senang.

dbh

ending gantung? Iya kok, ending gantung haghag…

oke.. aku jelaskan lagi soal Daily-Fic ya. kalau kalian udah baca Daily Fic yang ‘Liburan 4 Musim’ sama yang ‘Thoughtlessness’ kalian pasti bisa menemukan kesinambungan sama Fic ini.

Main cast-nya sama lho… beda dikit doang x)

dan tujuan fic ini sebenernya bukan mau memperkenalkan VIXX atau Hello Venus, tapi memperkenalkan mamamoo, haghag. bisa dibilang ini Songfic sih x)

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s