[Daily-Fic] The Meaning of Losing


meaning-of-losing

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Presented

“The Meaning of Losing”

Vignette (2.452 W) | AU!, Life, Family | General

Starring by :

Mamamoo’s Wheein & OC

Series Daily-Fic

1 | 2 | 3 | 4

“This Fic is dedicated to my grandma…

Based of My True-Life-Story

Nenek… Sasa sayang Nenek :”) “

2014

“Whee in-a… Kemasi barang-barangmu!”

Whee in mengangkat kepalanya dan mengernyit. Menanyakan maksud ibunya tanpa berkata apapun.

“Hari ini peringatan 5 tahun kepergian Nenek…” ibu Whee in kini berbicara sedikit lembut, “Ingat?”

“Oh…” Whee in tersenyum kecil.

.

.

2009

Setelah memastikan kondisi Nenek yang baik-baik saja, aku keluar dari kamarnya dan beranjak tidur di kasur tua yang posisinya lurus dengan pintu kamar Nenek. Sengaja pintu kamar Nenek kubuka lebar, berjaga-jaga kalau nenek membutuhkanku lagi. Aku menguap.

Mataku sulit terpejam, padahal tubuhku jelas membutuhkan istirahat barang sejenak. Sejak Nenek sakit dan bibi sibuk bekerja, aku tak lagi jadi murid SMP biasa. Mengurusi nenek yang sakit, mencuci baju, memasak sebisanya, membersihkan rumah… Yah seperti ibu rumah tangga, kau tahu. Bahkan dengan sangat terpaksa aku harus absen sekolah selama beberapa hari. Sangat berbahaya jika Nenek dibiarkan tinggal di rumah sendirian.

Mataku menerawang jauh ke langit-langit yang telah lapuk dimakan waktu. Entah kenapa bayangan hari demi hari yang kulewati terlintas begitu saja. Tiba-tiba teringat saat penyakit diabetes nenek kembali muncul, selalu begitu setiap tahun. Aku dan bibi menganggapnya biasa, karena nenek sendiri tak banyak mengeluh. Pernah saat itu tensi darahnya 500 ke atas, tapi nenek masih bisa berkunjung ke rumah tetangga.

Tapi beberapa hari kemudian, Nenek mulai menunjukkan kejanggalan. Saat itu tengah malam, aku terbangun karena suara gaduh yang terdengar. Saat mataku terbuka, Nenek tak lagi ada di kamarnya, tapi jalan tergopoh-gopoh ke kamar mandi.

Aku melihat fesesnya berceceran di sepanjang jalan ke kamar mandi. Keanehan ini tak pernah terjadi sebelumnya.

“Aku tidak apa-apa,” ucapnya saat melihatku berdiri mematung di depan pintu kamar mandi.

.

.

Whee in masih siswa baru SMP, semester satu saat itu.

.

.

Mataku baru saja terpejam, tapi aku kembali mendengar suara gaduh dari kamar Nenek. Aku bergegas turun dan memeriksa keadaan Nenek. Lampu kamar Nenek sudah lama padam, jadi aku harus mengerjapkan mata beberapa kali hingga akhirnya aku baru menyadari posisi Nenek duduk di bawah.

“Panggilkan Bibimu untuk mengangkatku…”

Lantai tanah di sana sangat basah. Pasti Nenek ingin membasuh wajahnya, seperti yang biasa ia lakukan setiap malam. Tapi kali ini ia gagal menjaga keseimbangan hingga jatuh. Air yang ada dalam bak tumpah.

Aku ingin berinisiatif mengangkat tubuh Nenek, tapi mengingat tubuh Nenek yang gemuk—tipikal penderita diabetes—aku memilih untuk menuruti perintah Nenek. Aku berlari ke kamar bibi dan mengetuk pintu dengan keras. Aku tak peduli senyenyak apa Bibi dan Paman tidur, yang penting Nenek dapat segera ditolong.

“Bibi!! Nenek jatuh!!”

Saat Bibi membuka pintu, ia terlihat kelelahan. Pasti kerjanya belakangan ini lebih keras dari sebelumnya, bagian dari usaha mengobati nenek. Kami tinggal di desa yang terpencil dan jauh dari tenaga kesehatan yang memadai, maka dari itu bibi harus bekerja 2 kali—atau mungkin 3 kali—lebih keras. Biaya transportasi dan biaya pengobatan.

“Jatuh?”

“Iya!! Cepat!!”

Aku terlalu kejam kalau dipikir-pikir. Tapi apa yang kami tanggung belakangan sama beratnya.

Saat Bibi memasuki kamar nenek, Bibi baru membelalakkan matanya dan sedikit mengomeli ibunya. Perlahan ia mengangkat bagian atas tubuh Nenek, lalu mengangkat kakinya. Saat itu aku ingin membantu, tapi aku tak yakin apakah aku meringankan beban Bibi atau justru malah merepotkannya. Kondisi fisikku selalu lemah. Itu membuatku hanya berdiri sambil menahan tangis di belakang Bibi.

“Oh, oh… Syukurlah… aku sudah di atas kasur dengan selamat…”

Bibi dan aku berdiri mematung mendengarnya, sibuk dengan pemikiran masing-masing.

“Sudah… temani suamimu…”

Bibi langsung menuruti ucapan Nenek, enggan membuat Nenek harus mengulangi perintahnya 2 kali. Aku sendiri berjalan mundur, kembali ke kasurku. Aku berbaring sambil menutup bibirku, berusaha menahan isak tangis agar tak terdengar oleh Nenek. Nenek pasti sedih jika tahu aku menangisi kondisinya. Menurutku, aku berhasil. Hentakan napasku pun terdengar seperti napas biasa, bukan napas orang yang sedang menangis.

Saat itu aku benar-benar takut kehilangan nenek. Nenek telah mengasuhku dari kecil sampai sekarang, tapi aku belum bisa membalas kebaikannya. Aku belum membuatnya bangga. Sudah cukup aku kecewa karena tak mampu membahagiakan Kakek karena Kakek harus meninggal saat aku kelas 4 SD, tak perlu lagi aku merasakan penyesalan yang sama kedua kalinya.

Tapi saat itu, nenek berkata, “Whee in-a… jangan khawatir. Bau lukaku sudah menyengat hidung seperti ini, sebentar lagi aku sembuh… sudah jangan dipikirkan.”

Setelahnya aku menangis lebih keras. Kenapa nenek selalu tahu semua tentang aku? Kenapa dia membuatku merasa semakin takut kehilangannya?

.

.

.

Nenek bilang, sebentar lagi dia sembuh karena bau lukanya sudah ‘menyengat hidung’. Ya, aku harus percaya. Luka di mata kaki Nenek yang sekarang bernanah dan bercampur darah serupa dengan luka yang pernah beliau punya di leher, sekitar 4 tahun lalu. Seperti yang pernah kuucapkan, saat itu tensi darahnya 500 ke atas, tapi Nenek masih bisa bertahan sampai sekarang.

Aku percaya diri, kali ini pun begitu.

Hanya saja, saat ini kepercayaan diri itu sedikit menghilang.

Saat aku memasuki kamar Nenek, aku sudah terbiasa melihat hasil eksresi tubuh nenek berceceran di atas kasur atau di lantai, mengingat Nenek tak mampu berjalan untuk sementara waktu, saat ia sakit. Tapi melihat darah yang bukan berasal dari luka di kakinya semakin membuat aku sedih.

Nenek muntah darah.

.

.

.

Ayah dan Bibi pertamaku datang beberapa hari kemudian, setelah Bibi menjelaskan kondisi Nenek dan juga kondisi keuangan Bibi. Kerja sekeras apapun, uang yang terkumpul masih tak mencukupi untuk pengobatan Nenek. Akhirnya Ayah dan Bibi yang tinggal di Seoul berinisiatif untuk mengajak Nenek ke Seoul untuk sementara waktu. Bagaimanapun pengobatan di Seoul jauh lebih baik daripada di desa kami.

Dan hari itu, hari ke sepuluh bulan terakhir, untuk pertama kalinya aku datang ke sekolah setelah 13 hari aku absen. Saat aku masuk, semua teman-temanku memandangiku aneh. Beberapa teman yang kukenal dengan baik menghampiriku dan menanyai banyak hal, tapi pikiranku masih rancu.

Terlebih saat wali kelasku menghampiri dan mengajakku ke kantor guru.

“Whee in-a, kenapa kamu tidak memberi surat izin?”

Aku menjawab dengan sangat sopan dan halus, “Kata Bibi, Bibi sudah memberi izinnya pada Ibu.”

“Tapi hanya lewat pesan singkat, Nak. Itu tak terhitung. Selama ini absenmu tanpa keterangan..”

Jantungku berdebar kencang. Tanpa keterangan? Padahal satu hari absen poin pelanggaran mencapai 150. Dan aku sudah absen 13 hari, berarti poin pelanggaranku sudah lebih dari 1000.

Artinya, aku dikeluarkan?

“Kenapa kamu tidak masuk, Nak?”

Aku orang paling cengeng di dunia, kau tahu. Saat aku mendengar satu hal saja yang aku tak suka, mataku langsung berkaca-kaca dan jantungku terasa sakit. Tapi saat itu aku berusaha menenangkan diri, walau sepertinya tak berhasil. Ibu Kim, wali kelasku itu menatapku prihatin, tanda bahwa ia mampu membaca perasaanku.

“Nenek saya sakit, Bu. Bibi kerja untuk biaya pengobatan Nenek, saya di rumah jaga Nenek..”

Tak dapat dipungkiri air mataku jatuh. Aku tak pernah bisa tenang sepenuhnya, tak bisa. Ibu Kim menepuk pundakku sementara aku meremas jari-jariku, berusaha menenangkan diri padahal aku tahu itu tak akan berhasil.

“Baiklah, khusus untuk kamu deh, boleh izin dengan pesan singkat.”

“Terima kasih…” Aku mengangguk paham dan menciumi tangan Ibu Kim.

Sebenarnya saat itu aku masuk sekolah hanya untuk mengurusi surat pindah sementara bersama Ayah. Nenek sangat menyayangiku, jadi Nenek bilang ia tak mau ke Seoul jika tanpa aku. Ayah dan Ibu menyetujuinya.

.

.

.

Tapi saat Nenek dibawa ke dalam mobil, tiba-tiba kondisi Nenek memburuk. Awalnya aku bingung, mengapa Ayah dan kedua Bibiku membawa kembali Nenek ke dalam rumah, terlebih saudara-saudara Nenek tergopoh-gopoh menghampiri Nenek. Aku baru menyadari bahwa Nenek dalam masa kritis setelah beberapa saat kemudian dokter datang dan memeriksa Nenek.

Saat itu dokter bilang, tensi darah Nenek 345. Bisa dibilang koma. Aku masih ingat Ayah dan kedua Bibiku saling bertatapan. Tensi darah setinggi itu biasanya tensi normal nenek, kenapa kali ini nenek koma?

Dokter menjelaskan lebih detail lagi, 12 jam sekali Nenek butuh suntik insulin. Kami benar-benar pusing dibuatnya. Kondisi keuangan kami saat itu benar-benar tak memungkinkan untuk membeli suntik insulin yang harganya lebih dari 200 ribu won.

.

.

Beberapa malam kemudian, Nenek tetap bertahan di rumah tanpa harus suntik insulin. Kami memutuskan untuk rawat jalan dan kembali ke rencana awal—membawa Nenek ke Seoul—saat kondisi Nenek membaik.

Kemudian kami dengar suara dengkuran Nenek. Aku menghela napas lega. Malam-malam sebelumnya Nenek tak pernah terlelap dalam tidurnya, jadi waktu itu kami gunakan untuk berunding tentang jalannya rencana pertama kami. Menentukan hari keberangkatan, merundingkan berapa uang yang harus terkumpul, oh, juga merundingkan kepindahanku. Pengurusan surat pindahku sudah selesai beberapa hari sebelumnya, tapi aku tak kunjung mengurus surat kepindahan di sekolah tujuan. Statusku kala itu siswa SMP yang tak memiliki sekolah.

Dan setelah menemukan kata sepakat, kami memutuskan untuk tidur. Beberapa malam kami tak mampu beristirahat dengan tenang karena harus menjaga Nenek bergantian.

Aku masih ingat, saat itu aku tertidur di sofa ruang tengah, Ayah tertidur di kamar, Bibi yang selama ini tinggal denganku tidur di kasur yang biasanya kutempati dan Bibi pertamaku juga tidur di sofa yang sedikit lebih panjang.

Baru beberapa saat kami terlelap, kami harus bangun karena Ayah mengigau dengan kerasnya.

Oppa, ada apa?” Bibi pertamaku membangunkannya. Napas Ayah tersengal-sengal.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa…”

Ayah duduk di sofaku dan menyuruhku untuk pindah tidur di kamar. Saat aku di kamar, aku mampu mendengar ucapan Ayah pada Bibi.

“Aku bermimpi ibu berpakaian putih-putih, tersenyum padaku…”

“Lalu pergi.”

Rasa kantukku hilang begitu saja.

.

.

.

Whee in telah sampai di rumah lamanya. Setelah neneknya meninggal, ia tinggal dengan Ayah dan Ibunya di Seoul. Ia menghirup udara segar pedesaan yang lama tak ia rasakan. Jarang ada waktu luang yang ia miliki agar sampai ke desanya. Desa yang ia tinggali sejak ia belum mengenal huruf “A” sampai ia merasakan cinta monyetnya untuk pertama kali. Ia tersenyum kecil begitu memasuki kamar neneknya.

Bibinya yang tinggal di sana tak berniat untuk mendekor ulang atau menggunakan kamar itu. Tak pernah. Bibi Whee in ingin merasakan kenangan-kenangan penuh canda tawa dan air mata yang pernah mereka bertiga rasakan bersama di kamar itu. Whee In, nenek Whee In, dan bibinya.

Whee in menangis saat mengingat kenangan terakhirnya bersama neneknya. Saat ia menciumi paras anggun neneknya yang tersenyum… saat ia meyakinkan diri itulah yang terbaik untuk neneknya…

“Masih sama ‘kan?”

Ucapan Bibinya membuyarkan lamunannya. Ia mengangguk dan tersenyum pada bibinya.

“Andaikan saja dulu aku lebih peka pada kondisi nenek… pasti sekarang kita masih bersama nenek…”

Whee in mengangguk mengiyakan, walau Whee in yang kini telah dewasa tahu, penyesalan tak ada gunanya. Neneknya tak mungkin hidup lagi saat ungkapan penyesalan kembali diutarakan.

Tapi, kalau dipikir lagi, kenapa saat itu kondisi nenek Whee in memburuk begitu akan dibawa ke Seoul?

Makam kakek Whee in yang ada di desalah alasannya. Nenek Whee in mungkin sudah merasakan waktunya telah tiba, maka dari itu ia tak ingin meninggal di Seoul. Ia ingin dimakamkan di samping makam kakek Whee in.

.

.

.

“Whee in-a… sini…” dengan mata sembapnya, Ayah memanggilku yang baru saja bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Mataku belum menyadari kondisi mata Ayah dan aku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi, jadi aku menuruti ucapan Ayah dengan langkah gontai.

Tapi mataku langsung terbuka begitu kedua Bibiku saling berpelukan dan menangis.

“Nenek sudah sembuh… Kau terima dengan baik ya…”

Aku menatap mata Ayah yang–baru saja kusadari—memerah. Ia menepuk pundakku pelan, kemudian menatap pasrah Nenekku.

Nenek yang tersenyum, seolah malaikat maut membisikkan kalimat membahagiakan baginya.

Aku menangis. Jujur saja aku masih belum menerima kepergian itu. Semuanya masih terlalu cepat bagiku. Rasanya baru kemarin aku kehilangan Kakek, kenapa saat itu aku harus kehilangan Nenek?

Mungkin kejam jika aku tak menginginkan Nenek pergi. Mungkin itu salah satu alasan kenapa Nenek harus tersiksa beberapa waktu terakhir ini: aku memiliki perasaan bahwa kali ini Nenek tak mampu bertahan dan pergi.

Dan aku tak mau itu terjadi.

Nenek harus bertahan. Nenek kuat. Aku ada di sampingnya, apapun yang terjadi. Aku akan menjadi cucu yang baik baginya, tentu saja. Nenek tak pernah ingkar janji atas semua yang ia ucapkan padaku, maka saat aku bilang aku akan menyayangi Nenek asal Nenek mau bertahan setidaknya sampai aku menikah nanti, aku tak akan mengingkarinya.

Tapi Nenek ingkar.

Aku memegangi tangan nenek yang kini dingin sekali. Air mataku mengalir tak henti-hentinya, sesekali memanggil Nenek, padahal aku tahu Nenek tak akan menjawab panggilanku apapun yang terjadi.

Setelahnya aku berpikir positif.

Nenek sudah sembuh, benar kata Ayah. Nenek tersiksa karena penyakitnya, jadi saat malaikat maut datang menjemputnya, Nenek tak perlu tersiksa lagi.

Aku mengangguk, meyakinkan diri itulah yang terbaik untuk Nenek.

“Selamat jalan, Nek…”

Aku mencium tangannya, menciumi kening, pipi, hidung dan bibirnya untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku benci mengakui ini, tapi aku benci kenapa aku tidak menunjukkan rasa cintaku yang besar ini pada Nenekku. Nenek telah melakukan banyak hal demi aku, cucu kesayangannya, tapi aku sama sekali tak membalasnya.

.

.

.

Saat ambulance mengantarkan jenazah Nenek ke pemakaman, bibi yang merupakan anak terakhir—sekaligus yang paling disayang Nenek—pingsan. Belakangan aku tahu saat itu Bibi sedang hamil, tapi karena Bibi masih shock, dia keguguran. Kenapa Nenek tak menemani Bibi, setidaknya sampai anak pertama Bibi lahir?

Begitu yang ada di benaknya. Aku tahu perasaannya.

Saat ia menikah, Kakek sudah tiada, padahal semua kakaknya menikah dengan orang tua yang lengkap. Bahkan kelahiran cucu-cucu Nenek dari kakak-kakaknya selalu ditemani Nenek, tapi kenapa anak Bibi tidak?

.

.

.

Saat jenazah dikebumikan, rasanya bumi berputar terlalu cepat, hingga aku harus berusaha mati-matian untuk berdiri tegap bersama Bibi pertamaku. Kami berdua saling menguatkan, berdoa yang terbaik untuk Nenek.

Berkali-kali kami menghela napas bersama, berusaha menegarkan diri, mengikhlaskan hati, merelakan Nenek.

Masing-masing dari kami jelas ingin bertemu dengan Nenek di keabadian nanti, tapi mungkinkah?

Nenek orang yang baik.

Aku?

.

.

.

Kali ini, Pak Jung memasuki kamar. Ayah Whee in itu selalu melakukan hal yang sama seperti anaknya begitu sampai ke rumah itu: duduk dan mengenang kehadiran nenek Whee in di kamar mendiang nenek Whee in. Kondisi kamar jelas sama, perasaan yang ada ketika duduk di sana juga sama. Yang berbeda hanyalah ada dan tidaknya nenek Whee in. Itu saja.

Tapi, kadang, mereka merasakan kehadiran nenek Whee in di sana. Kadang mereka mendengar bisikan halus yang memanggil nama mereka, membuat mereka semakin rindu akan kehadiran beliau.

“Setiap manusia pasti meninggalkan energi di tempat terakhir mereka pergi,” Ayah Whee in berucap, “dan apa yang kita rasakan adalah energi kasih sayang Nenek. Dia begitu menyayangi kita, sama seperti kita menyayangi Nenek. Mungkin sedikit lebih besar, makanya saat kita merindukannya, kita bisa merasakan kehadirannya. Sama seperti dulu.”

Whee in mengangguk. Ia menangis, dan jika ia memaksakan diri untuk berkata, maka tangisannya akan lebih parah lagi. Tak dapat dipungkiri, 5 tahun berlalu, selalu ada saat di mana Whee in begitu merindukan neneknya. Bukan berarti dia tak mampu merelakan kepergian neneknya, hanya saja, kehilangan yang terlalu membekas di batinnya kadang membuat ia benci pada keadaan.

Tapi kehilangan tak pernah memiliki arti ‘benar-benar kehilangan’, menurut Whee in.

Karena ada saat di mana kalian mampu menemukan kembali apa yang telah hilang dari kalian.

Kenangan indah, misalnya? Saat-saat dimana Whee in mengenang kembali saat-saat indah bersama neneknya…

Di situlah ia menemukan kembali neneknya.

END

enggak tahu kenapa aku buat nih fic… hanya saja, aku kangen sama Nenek…

kalo dipikir-pikir, Nenek yang udah buat aku suka nulis, jauh sebelum aku tahu fanfic. secara gak langsung Nenek tahu bakatku dari kecil, terus ngelatih aku, tapi aku gak nyadar kalo itu pelatihan dari nenek.

kalo kalian gak percaya itu benar-benar terjadi gak pa-pa sih, emang kesannya mengada-ngada gitu ya? tapi kalo kalian ketemu aku, kalian pasti bakal nyadar, yang aku ceritakan ini nyata

bahkan kalo diceritakan lewat lisan bakal lebih panjang lagi karena ada beberapa hal yang gak aku tampilkan di sini :” dan bahkan lebih menyedihkan…

Terus sikapku yang suka anak-anak itu bisa dibilang karena nenek. sebelum nenek sakit parah, nenek punya bayi angkat umurnya 12 hari, namanya Puput. malangnya, bayi itu kena kuning, jadi waktu diasuh nenek anaknya agak rewel. tapi setelah itu, karena ketelatenan nenek, Puput juga cepet sembuhnya. Nenek sayang banget sama Puput. pas itu Nenek udah ada tanda-tanda sakit, jadi kalo di cerita aku cuma ngurusin Nenek, kalo di dunia nyata aku ngurusin Nenek sama Puput, nyuci popoknya juga :”)

kemaren sebelum liburan aku ke sana, ke Blitar. tempat aku tinggal dulu. semuanya masih sama…

saat inget itu, tiba-tiba kangen nenek, makanya nulis ini :”)

Huh… andaikan Nenek bisa baca ini.

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s