[Nightmare] Eternity – N Ver.


n-minah

SASPHIRE

(@sasphire1501)

.

Presented…

ETERNITY

 

.

Starring :
VIXX’s N & Girl’s Day Minah

Ficlet [+1.800 W] | AU!, Romance, Angst | PG-15

A cruel night is endlessly coming to me
I close my eyes again, taking me back to that dream

Into an eternal dream that I won’t ever wake from

Another SongFic :

Voodoo Doll | Eternity [Leo Version] | Eternity [Hongbin Version] | Eternity [Ken Version] | Eternity [N version]

Another Illusion Fic :

Illusion | Alive

 

.

.

.

Look

.

.

.

Love is a Nightmare

.

.

Minah menerawang jauh ke atas sana, memperhatikan awan yang berarak mengikuti arah angin. Karena beberapa hal yang terjadi belakangan ini, ia menjadi sedikit terpengaruh oleh alam. Saat melihat pohon, ia sangat ingin menjadi pohon. Pohon hanya perlu diam, mendapatkan makanan ketika dedaunan miliknya berfotosintesis, tak perlu berpikir hal-hal aneh yang selalu manusia pikirkan. Begitu melihat kupu-kupu, ia ingin menjadi kupu-kupu yang terbang kesana-kemari walau umurnya tak lebih dari 10 hari. Kali ini ketika awan tertangkap oleh lensa matanya, ia ingin seperti awan. Sekarang dia tak tahu pasti alasan ingin menjadi awan, hanya saja, sepertinya sangat bebas begitu menjadi awan. Setidaknya awan tak memiliki masalah.

Nyatanya, itu semua tak mungkin terjadi.

“Minah-ya… ayo masuk…” rekan kerjanya membuyarkan lamunannya dengan tepukan rendah di pundaknya. Ia mengangguk pelan setelah kembali melihat ke langit malam sekilas.

.

.

.

Hanya Minah yang memutuskan untuk menjadi bartender di antara semua pelamar kerja wanita, sementara yang lain memilih untuk menjadi wanita penghibur di bar yang sama. Bukan perempuan murahan yang akan memamerkan belahan dadanya pada para lelaki hidung belang, bukan yang seperti itu, tapi sedikit lebih hormat. Hanya sekedar bersenda gurau pada orang-orang yang memang benar-benar merasa frustasi, sesekali mengibaskan rambut halus mereka dan memeluk hangat mereka yang memang butuh ketenangan.

Tapi Minah pikir itu semua tetaplah buruk, walau ia sendiri bekerja sebagai bartender. Bagi Minah yang hanya lulusan SMA, tak ada pilihan lain selain bekerja hingga nanti memiliki uang cukup untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Bir!!”

Suara itu sangat ia kenal, namun ia berusaha mengendalikan perasaannya yang kembali carut-marut hanya karena suara berat yang baru saja ia dengar. Ia mengambil satu botol bir yang berada di jajaran bir lainnya dan meletakkannya di depan lelaki yang baru saja duduk di depannya.

Lelaki itu belum menyadari keberadaan gadis di depannya karena ia masih sibuk dengan pelarian diri yang sengaja ia lakukan. Hanya untuk malam itu saja, lelaki bernama Hakyeon itu ingin lari dari kenyataan. Hanya untuk malam itu.

Minah menghela napas. Detak jantungnya kembali bergetar keras. Pikiran-pikiran tentang Hakyeon kembali menyerang pikirannya, sungguh sial baginya.

Tiba-tiba, handphone-nya berdering. Ia menatap layar handphone-nya pilu.

Cha Hakyeon.

Lelaki itu tepat di hadapannya, masih menunggu seseorang di ujung telepon mengangkat panggilannya sambil meneguk langsung satu botol alkohol di depannya, tak peduli tubuhnya rusak atau tidak.

Tanpa berkata apapun, Minah mengangkat teleponnya.

Hakyeon tersenyum kecil ketika menyadari Minah mengangkat teleponnya. Ia tahu ia mendengarkan lagu yang sama dengan gadis di ujung teleponnya, tapi ia masih belum menyadari bahwa mereka berada di tempat yang sama.

“Satu bir lagi!!” Lagi-lagi pandangan mereka tak bertemu, melainkan tubuh Hakyeon menyamping, berusaha agar percakapannya dengan gadis di ujung telepon tidak terdengar oleh bartender yang melayaninya. Minah hanya diam. Sebenarnya ia tak ingin tubuh lelaki itu lebih rusak lagi hanya karena alkohol, tapi kini ia tak mampu berbuat apapun. Lelaki itu sulit dihentikan kalau sudah begini. Minah kembali meletakkan satu botol alkohol di depan Hakyeon.

“Kamu dengar? Aku sudah kembali seperti dulu, sebelum aku bertemu kamu. Kamu tak mau memarahiku lagi?”

Hakyeon kembali meneguk habis alkohol di depannya, tak tersisa.

“Kamu tak datang ke bar tempat kita bertemu pertama kali dulu, lalu mengajakku pulang?”

Minah menggeleng pelan, tak menyangka lelaki di depannya jauh lebih tolol dari yang ia bayangkan.

“Kamu dengar lagu yang kudengarkan kali ini?” Hakyeon tertawa, lalu dengan lemasnya menyandarkan kepalanya ke meja bar di depannya, “lagu ini persis diriku, kalau kamu tahu maksudku.”

Lagu ini juga persis diriku.

Rekan kerjanya yang juga bintang bar-nya, Jung Taekwoon, dengan lembutnya menyanyikan lagu ballad Let This Die milik Brian Joo. Lagu tentang perpisahan, lagu tentang orang yang berusaha keras melepaskan kekasihnya namun terlambat. Ungkapan bahwa si pemilik hati yang patah tak bisa memercayai ucapan orang lain bahwa cinta milik semua orang dan akan datang tepat pada waktunya. Jiwa-jiwa yang hatinya patah tak mampu memahami ungkapan orang-orang bahagia yang mampu menemukan cinta abadi mereka. Jiwa-jiwa itu hanya tahu rasanya sakit hati. Itu faktanya.

Hening beberapa saat. Selebihnya mereka hanya berbicara dengan suara batin mereka, selama lagu masih mengalun dengan lembutnya menampar hati mereka.

Kamu baik-baik saja?

Selama kita berpisah, bagaimana kabarmu? Mudah-mudahan lebih baik dari aku yang kesepian di sini.

Kamu tinggal di mana selama ini?

Hakyeon dan Minah hanya mendengarkan deru napas masing-masing. Kadang si lelaki juga mendengarkan isak tangis perempuan. Hatinya ikut terluka, tapi ia tak mampu berbuat apapun. Baik keduanya tak akan bisa merubah keadaan.

“Minah-ya… Aku sama sekali tak bersalah…”

Minah tahu itu, tapi setiap melihat wajah Hakyeon yang sangat persis dengan masa muda Ayahnya begitu membuat Minah sesak. Di saat yang sama ia membenci dan mencinta Hakyeon. Kenyataan bahwa Minah di umur 7 tahunnya menyaksikan sendiri pembunuhan yang merenggut nyawa orang tuanya bukanlah satu hal yang indah.

“Ayahku sudah dihukum sesuai kejahatannya, kamu tahu ‘kan?”

Minah sangat tahu. Tapi tetap saja ia tak mampu menerima kenyataan. Hakyeon adalah anak kandung dari rentenir yang tega membunuh kedua orang tuanya, itu faktanya. Memang bukan Hakyeon yang melakukannya, tapi Minah tak dapat memungkiri bahwa ia benci wajah Hakyeon. Ia benci wajah muda seorang pembunuh yang terpatri jelas di ingatannya.

Awalnya ia tak begitu yakin tentang kemiripan wajah Hakyeon, namun ia berhasil berpikir positif bahwa kemiripan itu hanyalah kebetulan semata. Tapi saat Minah berkunjung ke rumah Hakyeon beberapa waktu lalu, betapa terkejutnya ia.

“Satu bir lagi!!”

“Hentikan!” akhirnya Minah bersuara, membuat Hakyeon bungkam. Ia enggan memaki Minah, pun bersuara membela diri, memberitahukan pada gadis di sana bahwa ia terlalu sakit hati dicampakkan. Ia terlalu lama kehilangan suara gadisnya, dan begitu ia mampu mendengarnya lagi, ia tak akan melewatkan kesempatan itu.

“Hentikan…” Kali ini lebih lembut.

Hakyeon masih diam, menunggu Minah kembali berucap lebih panjang. Tak apa walau hanya sekadar omelan kecil. Itu mampu membuat Hakyeon senang.

“Aku tak ingin bersamamu, jadi jangan menelponku lagi. Sudah kuperingatkan kapan hari, ingat?”

Hakyeon menggeleng lemah. “Kenapa?”

Minah tersenyum sinis, “Sudah jelas ‘kan? Wajahmu sama persis seperti Ayahmu saat membunuh orang tuaku. Setiap melihat wajahmu, yang ingin kulakukan hanyalah membunuhmu. Keberadaanmu hanyalah…”

“Omong kosong!” kali ini Hakyeon memotong ucapan Minah yang terdengar memuakkan baginya, “Kamu bukan orang yang seperti itu. Sehari setelah kamu tahu siapa Ayahku, kamu memang pergi, tapi saat aku menelponmu karena aku membutuhkanmu, kamu datang. Kamu satu-satunya orang yang datang di antara semua orang yang kupercaya mampu menghiburku yang gagal tes beasiswa ke Kanada.”

Selanjutnya Hakyeon berkata dengan lebih lembut. “Kamu menyayangiku ‘kan?”

Minah tak mampu mengatakan apapun kali ini. Semua yang Hakyeon ucapkan benar adanya. Kemudian ia menutup sambungan teleponnya.

“Minah-ya? Minah-ya? Halo?” Hakyeon menatap layar handphone-nya. Tak ada telepon yang masih tersambung, yang terlihat hanya foto Minah yang masih menjadi wallpaper handphone-nya.

“Bir!!” teriak Hakyeon. Kali ini Minah meletakkan 2 botol bir dengan kasar hingga terdengar dentuman, lalu ia duduk di samping Hakyeon. Dengan kesadarannya yang tinggal setengah, Hakyeon menyipitkan matanya, berusaha menerka siapa yang ada di sampingnya.

“Minah-ya?”

Minah tak mengacuhkan panggilan Hakyeon dan memilih untuk meneguk habis alkohol di depannya.

“Minah-ya, hentikan!” Kali ini giliran Hakyeon yang mencegah Minah untuk tidak terlalu jauh mengonsumsi minuman racun itu, tapi Minah menepis tangan Hakyeon.

“Minum punyamu sana!” Minah menunjuk satu botol bir di depan Hakyeon dengan dagunya. Hakyeon tak lagi mencegah Minah, masih hapal dengan tingkah Minah yang keras kepala. Jika sudah membentaknya begitu, maka percuma jika ia berkata lebih jauh lagi.

Begitu Minah menghabiskan alkohol di depannya hanya dengan satu tegukan, ia berdiri dan mengambil berbotol-botol bir lebih banyak lagi. Mereka melakukannya terus-menerus, tanpa pengendalian diri, tanpa sepatah katapun keluar dari bibir keduanya. Baik Hakyeon maupun Minah tak mampu mendapatkan pelampiasan rasa sesak yang terlalu lama terpendam, maka malam itu mereka membiarkan masing-masing melampiaskannya sampai rasa sesak benar-benar sirna.

Tapi mungkin sampai kapanpun rasa sesak itu tak akan berakhir, bahkan jika salah satu dari mereka harus meninggalkan segala urusan di dunia ini.

Minah sendiri tak bisa memaafkan dirinya karena tak sanggup melupakan rasa benci pada Hakyeon. Air matanya kembali mengalir, mengingat betapa kejamnya ia mencampakkan Hakyeon. Masalahnya, ini bukan masalah yang penyelesaiannya akan berakhir di meja hijau. Ini bukan sekedar pengakuan kejahatan atau apapun yang dipikirkan orang kebanyakan. Apa yang dilakukan Ayah Hakyeon adalah membunuh kedua orang tuanya, membuat Minah sendirian di dunia ini… itu bukan masalah sederhana. Minah membenci keadaan yang menjadikannya manusia tak berperasaan.

Di sisi Hakyeon, sebenarnya ia sangat membenci Minah karena Minah menginginkan ‘kebencian’ itu. Minah ingin mereka berpisah, tapi Hakyeon tak mampu menerimanya. Baru kali ini Hakyeon merasakan masalah yang begitu rumit. Andai saja jalan keluarnya sesimpel yang ia pikirkan–Ayahnya mengakui perbuatannya dan masuk penjara—ia tak harus merasakan rasa sesak yang semakin hari semakin memuakkan hingga menyebar ke seluruh tubuhnya, hingga ia lupa bagaimana menghirup oksigen sekuat-kuatnya.

Handphone Hakyeon berdering. Hakyeon telah tertidur dengan 4-5 botol di sekitarnya. Minah yang kesadarannya juga di ambang batas meraih handphone Hakyeon. Tertulis ‘ibuku’ di sana.

“Hei…” Minah mengguncang tubuh Hakyeon dengan kasar, “Ibumu telpon.”

Hakyeon mengangkat kepalanya dan mengerjapkan matanya. “Apa?”

Minah menyodorkan handphone Hakyeon dan mengulangi perkataannya. “Ibumu telpon.”

Hakyeon memandangi layar handphone sesaat, lalu tanpa berpikir panjang, ia menutup sambungan telepon.

“Ibumu khawatir, Hakyeon-ssi…”

“Huh? Hakyeon-ssi?” Hakyeon tertawa kecil, “wah… di mana gadis yang memanggilku ‘oppa’ dulu?”

Oppa tidak pantas bagimu. Bagi wajahmu…”

“Oh, benarkah? Kalau begitu kamu boleh merusak wajahku dengan botol-botol ini.”

Minah menggeleng. “Tidak-tidak. Sudahlah, kamu pulang…”

Mungkin jika orang-orang di sana memperhatikan keberadaan mereka, orang-orang akan tertawa karena cara bicara mereka yang semakin tak terkendali. Seperti percakapan kaku antara dua orang yang baru saja kenal atau mungkin orang yang lupa jati diri mereka.

Nyatanya, meskipun bar semakin sepi pada pukul dua dini hari ini, tak ada yang memperhatikan mereka. Masing-masing dari mereka sibuk dengan urusan mereka. Tak ada waktu untuk memedulikan dua orang yang mabuk seperti mereka berdua.

Minah menghela napas saat Hakyeon tak bergeming dari bangku yang ia duduki. Minah berdiri dan merangkulnya, berinisiatif untuk membawa Hakyeon pulang.

“Oh, Minah-ku… ingin membawaku pulang?” Ketika Hakyeon berucap, Minah memalingkan wajahnya. Aroma alkohol dari mulut Hakyeon begitu menusuk hidungnya, walaupun ia sendiri beraroma alkohol.

Belum ada 5 langkah mereka beranjak, Hakyeon jatuh tersungkur di bawah meja bar. Minah berdecak pelan dan menarik lengan kiri Hakyeon.

“Ayolah, ibumu khawatir.”

Tapi tarikan seorang gadis mabuk yang berusaha menarik seorang lelaki dewasa tentunya tak berarti apa-apa. Hakyeon tak bergerak sedikitpun. Minah pun mengerahkan tangan lainnya untuk menarik Hakyeon.

“Untuk malam ini saja…” Hanya dengan satu tarikan, Hakyeon berhasil membuat Minah terduduk dalam dekapannya, membuat jantung Minah berdetak lebih cepat lagi. Dalam dekapan itu, ia mendengar jantung Hakyeon yang juga berdetak cepat.

“Hanya satu malam…” ucapan Hakyeon terhenti di sana. Kata-kata yang ingin ia ucapkan tercekat dalam kerongkongannya. Air mata yang selama ini ia tahan agar tak keluar kini jatuh. Hanya di depan Minah, ia berani menangis. Agar Minah tahu, ia sama sesaknya dengan Minah. Agar gadis dalam dekapannya tahu, penderitaan mereka sama. Betapa rasa benci dan cinta harus menguasai satu sama lain, begitu menyakitkan.

Minah memilih untuk tak beranjak. Dekapan Hakyeon terlalu kuat hingga rasa sesak yang ia rasakan semakin dalam. Meskipun ia tahu, rasa sesak bukanlah karena dekapan Hakyeon. Dekapan Hakyeon justru membuat ia kembali merasakan kehangatan setelah sekian lama ia merasa hampa.

Kesadaran keduanya semakin menipis, hingga akhirnya mereka tertidur setelah saling melampiaskan kekesalan atas ketidakmampuan merubah keadaan.

“Hanya satu malam… kumohon…”

.

.

.

Time’s Over

One thought on “[Nightmare] Eternity – N Ver.

  1. Aku harus apa aku harus apaaaaa
    Aduh yg ini overload banget fluffnyaXD fluff gasih? Ahaha aku terlalu sok romantic berarti:p

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s