#3 Hello, Baby


500

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Hello, Baby

Starring : Jung Taekwoon Vixx, Han Miyoung (OC or You)

Ficlet Series | Family, Romance | G

Inspired by:

click this link ^^

Preview Part :

#1 | #2 | #3

Side Story

1

“Hari ini, Hari ibu yang spesial bagi Taegyong…..”

Note :

visit my tumblr and you will see my fanart there ^^ also reblog, of course

Oppa?”

Taekwoon terkejut begitu melihat Miyoung mengerjapkan matanya. Ia segera menyingkirkan tangannya dari rambut Miyoung dan bergerak mundur. “Oh, kau bangun?”

Awalnya Miyoung berniat langsung duduk, namun ia menyadari tangannya sedikit berat karena kepala Taegyong bersandar di lengannya. Ia mengarahkan bantalnya ke dekat kepala Taegyong dan perlahan menggantikan lengannya dengan bantalnya. Taegyong nampak sedikit terusik dengan gerakan kepalanya, namun selebihnya tak ada masalah.

“Aku harus pergi. Pagi ini aku harus menemui dosen Kim untuk mengonsultasikan tugasku. Kau bilang hari ini kau kuliah sore ‘kan?”

Miyoung menguap terlebih dulu sebelum akhirnya mengangguk.

.

.

.

Tepat setelah Taekwoon pergi, Taegyong menangis keras. Mau tak mau Miyoung harus benar-benar terjaga dari tidurnya. Ia mengambil tas bayi Taegyong yang Taekwoon letakkan di sudut ruangan. Ia mencari botol susu Taegyong, yang sialnya, tak ada susu di dalamnya. Berarti ia harus membuatnya sendiri. Miyoung menggerutu kesal pada Taekwoon sembari mencari bungkus susu formula dari resep dokter. Begitu menemukannya, Miyoung berjalan ke dapur dan membuat susu dengan sedikit terburu-buru.

“Ah!!”

Sialnya, air panas di termos tumpah ke tangannya. Belum lagi handphone di samping termos berbunyi. Dari Taekwoon.

Miyoung berusaha menyembunyikan emosinya ketika mengangkat telepon, “Apa?”

“Ingat, Miyoung-a, air panas 30 ml, air dingin 30 ml. Kalau airnya terlalu panas, kurangi hingga 20 ml, air dingin 40 ml..”

“Iya aku tahu.” Miyoung bergegas menutup teleponnya. Begitu ia menutup botol susu Taegyong, ia menghampiri Taegyong, menggendongnya dan meminumkan susu di tangannya.

Taegyong diam untuk beberapa saat, namun setelahnya, Miyoung merasakan satu kehangatan di perutnya.

“Ah…” Miyoung menggerutu lagi, “Taegyong-a sayang, nyawaku belum kembali sepenuhnya.. tolong mengertilah…”

Miyoung meraba pantat Taegyong. Pipis Taegyong disertai buang air besar ternyata.

“Kenapa kau tidak pakai pampers, sayang?”

Handphone-nya kembali berdering.

“Apa lagi?” nada bicara Miyoung masih sedikit sabar. Bagaimanapun ia masih takut Taekwoon menjauhinya karena ungkapan marahnya. Padahal ia sendiri tahu Taekwoon bukan tipe orang yang mudah marah hanya karena hal sepele.

“Aku hanya ingin mengingatkan, Taegyong tidak boleh pakai pampers sampai diperbolehkan dokter. Kulitnya 2 kali lebih sensitif daripada bayi biasa.”

“Iya!”

Lagi-lagi, Miyoung yang memutuskan sambungan teleponnya.

Setelah Taegyong menghabiskan susunya dan kembali menangis, Miyoung bergegas mengganti popok Taegyong. Untuk beberapa saat, Miyoung memandangi Taegyong. Masih ada rasa iba di hatinya, tak habis pikir karena sikap orang tua Taegyong yang meninggalkannya di antara beberapa tempat sampah di sudut taman kota. Ia masih ingat malam mengenaskan bagi Taegyong itu meskipun waktu telah terlewati hingga 1 bulan. Kalau suatu hari nanti orang tua Taegyong datang padanya, ia janji ia tak akan menyerahkan Taegyong.

“Taegyong-a, tidurlah…” ucap Miyoung akhirnya. Ia pikir, ia harus segera membersihkan tubuhnya dari noda pipis dan hasil ekskresi Taegyong di perutnya.

Taegyong hanya menatapnya sambil sesekali menggerakkan kepalanya seolah memperhatikan setiap sudut rumah Miyoung dengan seksama.

“Aku tahu rumahku tak lebih bagus dari rumah Taekwoon oppa, jadi jangan kau coba membandingkannya,” gerutu Miyoung. Taegyong menggerakkan ujung bibirnya seolah tertawa.

“Kau menertawakanku?!”

Tapi dengan lucunya, Taegyong menutup matanya masih dengan bibir tersungging, seolah menghindari amukan ibunya dengan bersikap tak acuh.

“Huh, aku curiga jangan-jangan kau anak kandung Taekwoon oppa.”

Baru saja Miyoung menyelimuti tubuh Taegyong dengan selimutnya, handphonenya kembali berdering. Dari orang yang sama.

“Apa?”

“Hari ini Taegyong ada jadwal check up, jadi…”

“Iya, iya… di dokter Lee ‘kan?!”

“Uangnya ada di tas kalau butuh…” Taekwoon segera berkata sebelum Miyoung menutup sambungan teleponnya. Miyoung mendengus kesal, lalu seperti yang Taekwoon duga, ia menutup teleponnya.

.

.

.

Miyoung mengenakan pakaian terbaiknya, memakai hiasan rambut di sisi kanan rambutnya, memakai lip balm yang hanya ia pakai dalam acara khusus tertentu, dan terakhir memakai parfum beraroma lembut dan tidak memuakkan. Ia melakukannya hanya untuk mengajak Taegyong pergi ke rumah sakit untuk check up bulanan, seperti yang Taekwoon beritahukan padanya. Setelah memastikan ia berpenampilan cukup baik, ia meraih tas perlengkapan Taegyong, meletakkan Taegyong di kereta dorong dan berjalan menuju rumah sakit.

Beruntung bagi Miyoung, meskipun rumahnya hanya rumah kontrakan yang sedikit tak layak huni, namun letaknya cukup dekat dengan rumah sakit dan taman kota. Begitu menghirup udara luar, Miyoung berinisiatif untuk mengajak Taegyong jalan-jalan sebentar setelah check-up.

.

.

.

“Oh, Jung Taegyong atas nama Nyonya Han, benar?”

Miyoung mengangguk sambil tersenyum kecut mendengar perkataan perawat asisten dokter Lee ini. Nyonya, pikirnya.

“Anda bisa menunggu di ruang tunggu.”

Tanpa banyak bicara, Miyoung bergegas menempati tempat duduk kosong di samping seorang ibu hamil. Ia kembali menggerutu dalam hatinya karena ucapan perawat tadi. “Bukankah dia tahu aku hanya orang tua angkat Taegyong?! Di sana ada keterangan umurku ‘kan? Berani sekali ia memanggilku Nyonya?! Bahkan aku yakin umur perawat itu tak lebih muda dariku!!”

Saat Miyoung duduk, ia merasa banyak orang berbisik-bisik sambil mengarahkan pandangan mata mereka pada dirinya. Ia menggigit bibirnya sambil menggerak-gerakkan kakinya. Ia tahu umurnya memang terlalu muda di antara semua orang tua di sana—entah itu ibu hamil dengan suaminya atau ibu yang memeriksakan kondisi anaknya seperti dirinya—tapi bukan berarti itu buruk ‘kan?

Terlebih, ia datang tanpa membawa pasangan. Semua orang makin menganggapnya negatif.

“Dasar orang-orang berpikiran dangkal!!” gerutunya lagi. Hari ini kesabarannya benar-benar diuji.

“Jung Taegyong atas nama Han Miyoung?”

Panggilan perawat itu sedikit membuatnya lega. Marga bayi yang ada di keretanya berbeda dengan marganya, setidaknya itu bisa menjadi bukti bahwa bayi yang ia bawa memiliki Ayah yang jelas.

Toh, tak mungkin Miyoung menjelaskan panjang lebar pada orang-orang itu.

.

.

.

Begitu Miyoung memasuki ruangan, pandangan matanya bersatu dengan mata cerdas dokter di balik kacamatanya.

“Lho, Miyoung?”

Miyoung hanya tersenyum kecil. Dari cara memanggil namanya, Miyoung tahu dokter di depannya kenal baik dengannya, tapi ia tidak terlalu ingat apa hubungan di antara keduanya. Miyoung hanya menggendong Taegyong ke tempat pemeriksaan bayi dan berdiri di samping dokter yang telah bersiap untuk memeriksa Taegyong.

“Han Miyoung yang ada di daftar riwayat pengasuh anak itu, ternyata kau?”

Sekali lagi, Miyoung meresponnya hanya dengan anggukan, tanpa ucapan sama sekali.

Dokter di depannya tak lekas memeriksa Taegyong, namun masih mengamati Miyoung dengan takjub.

“Rasa sayangmu pada anak-anak masih tak berubah ternyata.”

Miyoung malah sedikit merasa takut. Jangan-jangan dia penguntit? Bagaimana dokter ini bisa tahu sedetail itu tentangnya?

“Kau lupa padaku?”

Mau tak mau, akhirnya Miyoung mengakuinya.

“Wajar kalau lupa. Aku diangkat oleh orang tuaku saat kau masih berumur 10 tahun. Aku Lee Howon, Oppa-mu yang berjanji akan selalu melindungimu.”

“Ah…” kali ini wajah Miyoung yang awalnya penuh tanda tanya berubah seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang berharga. Ya, ya. Lee Howon, cinta monyetnya dulu.

Maksudnya, apa yang bisa diharapkan dari rasa cinta seorang anak kecil berumur 10 tahun ke orang yang lebih tua darinya 7 tahun? Tiba-tiba Miyoung mengasihani dirinya sendiri. Baru ia sadar, selama ini cintanya selalu pada orang yang lebih tua darinya, dan yang lebih menyakitkan, semuanya bertepuk sebelah tangan.

“Jadi, apa hubunganmu dengan lelaki yang kemarin kulihat sangat semangat mengurus administrasi pengangkatan bayi ini?” kali ini dokter Lee—yang sejak saat ini akan dikenal sebagai Howon—menanyakannya sembari memeriksa Taegyong.

“Hanya teman.”

“Teman?” dokter Lee sedikit terkejut hingga konsentrasinya sedikit buyar, membuatnya harus memeriksa detak jantung Taegyong sekali lagi.

Miyoung mengangguk. “Hanya saja, kami sama-sama menyukai anak-anak.”

“Hoo… menarik…” dokter Lee melepas stetoskopnya, lalu meminta Miyoung memindahkan Taegyong ke atas timbangan bayi.

“Wah.. beratnya sudah 3,2 kilogram. Kalian pasti benar-benar perhatian. Waktu dia dibawa ke sini beratnya hanya 1,9 kilogram ‘kan? Dia sudah melewati berat normal.”

Miyoung tersenyum lega. Pantas saja aku sudah berani memandikannya.

“Berarti, sekarang dia disuntik imunisasi saja ya?”

Miyoung mengangguk, meskipun mendengarkannya saja tak tega. Meskipun berat badan Taegyong sudah normal, baginya Taegyong tetaplah bertubuh kecil. Ia menguatkan hati, imunisasi ini demi kebaikan Taegyong, agar ia tambah kuat.

.

.

.

Taegyong menangis di dekapannya begitu keluar dari ruang dokter. Dokter Lee mengantarnya sampai ke ambang pintu dan memujinya.

“Kau ibu angkat yang baik. Taegyong beruntung memiliki orang tua angkat seperti kau dan Taekwoon-ssi. Semoga bahagia ya.”

Miyoung mengangguk, lalu bergegas pergi setelah meletakkan Taegyong di kereta dorong. Dalam hatinya tertawa melihat ekspresi orang-orang di sana yang tercengang karena perkataan dokter Lee.

“Hah!! Lihat?! Orang-orang berpikiran dangkal seperti kalian hanya akan seperti itu untuk seterusnya!!”

Walau begitu, ada sedikit rasa sakit yang tertinggal di benak dokter Lee setelah mengucapkannya, entah apa.

.

.

.

Pukul 12 siang dan waktu berjalan sangat lambat menurut Miyoung. Ia berjalan mengitari taman kota, merasakan semilir angin lembut yang menerpa wajahnya. Ia menatap wajah Taegyong yang masih tertidur pulas setelah meminum multi vitamin dari dokter Lee. Mungkin efek samping dari imunisasi akan segera Taegyong rasakan nanti malam atau mungkin nanti sore, saat ia sibuk kuliah dan kerja paruh waktu. Memikirkannya saja ia sudah khawatir.

Taekwoon bilang, kuliahnya akan selesai sekitar jam 1 siang. Kalau dia punya acara bersama organisasi kemahasiswaannya, bisa jadi Taekwoon pulang sekitar jam 3 sore. Apa yang akan Miyoung lakukan bersama Taegyong selama itu?

Miyoung memilih duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon rindang setelah berputar mengelilingi taman 11 kali. Ia menghela napas lelah. Begitu ia melihat Taegyong, tiba-tiba Taegyong menangis keras. Kali ini Miyoung menanganinya dengan sabar, mengingat sang anak baru saja di imunisasi, mungkin efek sampingnya mulai Taegyong rasakan. Pertama, ia meraba pantat Taegyong. Tidak lembek maupun basah. Langkah berikutnya, ia mengambil susu formula cadangan yang ia buat. Ternyata Taegyong mau meminumnya.

Ketika tangan kanannya masih memegangi susu botol, tangan kirinya menepuk pelan tubuh Taegyong, berusaha menidurkannya kembali sambil menyanyikan lagu-lagu lembut yang ia bisa.

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I’ll cross the stream – I have a dream

Begitu ia selesai bernyanyi, ia menyadari Taegyong kembali tertidur pulas. Ia tersenyum kecil, lalu membenahi selimut Taegyong.

.

.

.

Oppa!”

Teriakan Miyoung membuat Taekwoon terkejut. Kala itu ia berada di kantin bersama dengan Hakyeon dan Jaehwan. Mereka bertiga spontan menoleh ke pemilik suara yang otomatis membuat kedua teman Taekwoon terkejut. Gadis itu membawa bayi? Lalu siapa ‘oppa’ yang gadis itu panggil?

Taekwoon yang baru saja akan menelpon Miyoung hanya ternganga. Gadis itu semakin cpat menghampirinya dan menyerahkan Taegyong beserta tas perlengkapannya.

“Aku harus kuliah jam 4 sore ini. Oppa sudah selesai ‘kan?” ia masih tak peduli dengan tatapan heran Hakyeon dan Jaehwan.

“Dia habis di imunisasi, jadi suhu tubuhnya sedikit naik. Tapi kata dokter Lee, dia baik-baik saja kalau meminum antibiotik dengan takaran yang tepat dan rutin. Sudah ada keterangannya di dalam sana,” Miyoung menunjuk tas perlengkapan Taegyong dengan dagunya, sementara Taekwoon hanya mengangguk pelan.

“Aku pergi dulu. Dah…”

Taekwoon mengangguk. “Hati-hati.”

“Iya…”

Jaehwan masih tercengang, sementara Hakyeon langsung menyerangnya dengan berbagai macam pertanyaan.

“Dia gadis yang selalu mengejar-ngejarmu itu ‘kan? Dia gadis yang selama ini hanya kau anggap adik ‘kan?!”

“Wah, mengagumkan!” gumam Jaehwan sambil tersenyum ketika memperhatikan bayi dalam dkapan Taekwoon yang masih tertidur pulas.

“Kau ini… ternyata pendiam-pendiam begitu…”

“Kapan kau melakukannya, Hyung?!” tanya Jaehwan, begitu tepat sasaran.

“Apa yang kalian pikirkan?!” Taekwoon mengangkat tas Taegyong dan pergi meninggalkan kedua temannya, berniat untuk pulang.

“Wah, wah, apakah ini kecelakaan?” tanya Hakyeon sekali lagi. Taekwoon menghentikan langkahnya sambil menghela napas.

“Dengar, ini tak seperti yang ada di pikiran kotor kalian.”

Biasanya tatapan tajam Taekwoon mampu membuat ke dua temannya yang cerewet itu bungkam, namun kali ini mereka malah menertawakan Taekwoon. Mereka pikir Taekwoon berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.

“tenang saja, Hyung..” Hakyeon menggoda Taekwoon. Karena Taekwoon sudah memiliki momongan dan istri—begitu yang ada di pikiran Hakyeon—maka Taekwoon lebih tua darinya, “kami tak akan beri tahu siapapun tentang ini.”

Taekwoon memutar kedua bola matanya dan memilih untuk terus berjalan.

.

.

.

6 thoughts on “#3 Hello, Baby

  1. Uwaaaah kembali publish! :))
    Haha. Itu Taekwoon ngapain perhatiin Miyoung sambil mengelus rambutnya~ Kayaknya udh mulai ada rasa(?) tuh cieeee hahha.

    Sippo…. ditunggu kelanjutanny ya😉
    Keep writing n fighting!! ^^

    1. haghag… soal Taekwoon ngelus rambutnya Miyoung itu ada di side story-nya, udah dibaca belum? =) kalo pas ini Taekwoon sendiri belum ada rasa kkkk xD makasih ya…

      1. Oh haha ada ya? Aku ga tau udah baca atau blm.
        Yauds, wp mu tak ubrak abrik dulu yaa😀
        Iya, sama”🙂

  2. Annyeong Sasa
    duhh udah lama yaa eon gamain ke sini
    cieeeehhh sekarang ada bias baru rupanyaa hahaha
    sama lohh eonni juga lagi suka ama VIXX *lahhsapananya

    okeehh first of all
    ffnya unik, aku selalu suka ff Sasa *peluk
    ff kamu selalu membawa warna baru yang entah kenapa ga pernah aku temuin di ff manapun yang aku baca
    memang setiap author harusnya memiliki gaya bahasa mereka masing-masing tapi untuk kamuuu… gaya bahasamu aku suka banget dan cara kamu meletakkan konflik dalam setiap cerita bkin aku makin jatuh cinta… sederhana tapi ohhh my… menyentak sampai kalbuku (?)

    Ceritanyaa seru kayaknya soal Leo sama Miyoung yang hanya sepasang sahabat
    Miyoung yang suka sama Leo tapi Leo menolak
    okeeeyy aku menangkap sinyal yang berbeda di sini
    dari segi penjabaran bagaimana mungkin Miyoung tahan mengurus Taegyong sedangkan Leo ga memiliki perasaan yang sama dengannya
    jadi sedihhh*brasa Miyoung *mojok

    Penasarannn sama kisah mereka selanjutnyaaaa apakah Leo akan berubah juga menyukai Miyoung dan bagaimana nasib Taegyong selanjutnya? Mungkinkah ortunya kembali?
    okeh daripada aku makin gajelass di sini

    aku tunggu kelanjutannyaa!
    semangat Sasa *peluk
    ^^

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s