[Nightmare] Eternity


eternity

.

.

SASPHIRE

(@sasphire1501)

.

Presented…

ETERNITY

 

.

Starring :
VIXX’s Leo & Girl’s Day Sojin

Oneshot [6.200+ W] | AU!, Fantasy, slight! Surrealism, Romance, Angst | Teen

“Reality without you is like a dream where you are running away
Like a Möbius strip, we go round and round”

Another SongFic :

Voodoo Doll

Another Illusion Fic :

Illusion | Alive

 

.

.

.

Look

.

.

Love is a Nightmare

.

.

.

A miracle has come to me
From the beginning, we had started

Taekwoon tahu apa yang ia lakukan di masa lampau salah, tapi tetap saja ia ingin kembali ke masa lalu, saat-saat di mana ia berdiri dengan ketenangan yang mengiringi sukmanya, seakan tak peduli akan hiruk-pikuk dunia yang kini terlampau rumit untuk diperhatikan. Sungguh, saat-saat di mana keajaiban yang terasa nyata itu berada di pihaknya. Ya.

Seolah hanya ia yang mengarifi bagaimana keajaiban itu tercipta dan bagaimana rasanya keajaiban. Ia tak acuhtatkala orang-orang mengatakan apa yang ia rasakan hanyalah semu, tak nampak, abstrak. ketika orang-orang menertawakannya, menganggapnya bodoh, ia hanya tersenyum kecil, lalu pergi menjauh.

Di masa lampau, semuanya terasa indah. Taekwoon pikir, keajaiban telah memilihnya. Ia yang pantas mendapatkan keajaiban, bukan orang-orang yang telah mencemooh apa yang ia yakini benar-benar ada. Ia pantas mendapatkannya, karena ia pikir, ia dapat kuat menghadapi semua julukan ‘buruk’ yang ia terima hanya karena seseorang… Ia tahu apa yang baik baginya.

Meskipun ia tak tahu keberadaan ‘seseorang’ yang ia anggap ‘keajaiban’ itu benar-benar ada atau hanya ilusi.

2 tahun.

2 tahun penuh ia tak lagi bertemu gadis ‘keajaiban’ itu. Gadis bernama Sojin yang 4 tahun lebih tua darinya. Taekwoon terlihat biasa saja, tak lagi aneh di mata orang-orang, bahkan mereka pikir Taekwoon telah menyelesaikan pengobatan psikis di psikiater terbaik. Tapi sebenarnya tidak.

Taekwoon hampa. Taekwoon lebih menyedihkan dibandingkan 2 tahun sebelumnya, tapi tak ada yang tahu.

Karena menurut Taekwoon, tak ada yang bisa memahaminya lebih dari Sojin.

Tak ada.

Karena sejak awal, ia hanya mampu memahami Sojin dan sebaliknya. Sejak ia mendapatkan keajaiban, ia enggan membuka dirinya untuk orang lain.

.

.

.

Ia melihat sosok Sojin di sela-sela kerumunan khalayak ramai saat festival kebudayaan berlangsung. Ia terbelalak, lantas berlari menghampiri sosok yang sangat ia yakini keberadaannya. Berulang kali ia memanggil nama sang gadis, wajah pucat terbiaskan menandakan kekhawatiran yang memuncak karena tak lagi menemukan ‘gadis keajaiban’ itu, walau hanya selang sepersekian detik. Ia kembali melawan arus penikmat festival, tapi tak ada hasilnya.

Tak akan ada hasilnya. Percuma. Tapi ia masih mengimani keberadaan gadis itu.

Nuna!!”

“Sojin Nuna!!”

“Park Sojin!!”

Periode setelahnya, seseorang menggenggam tangannya, menggeleng pelan. Ia pikir teman sebayanya itu berhasil lepas dari belenggu dunianya sendiri—2tahun ini–tapi setelah apa yang ia lihat selama festival berlangsung, ia prihatin.

“Taekwoon-a… berhenti…”

“Hakyeon-a…”

Lelaki bernama Hakyeon berniat menghibur Taekwoon dengan mengajaknya ke festival budaya hari itu. Tapi sepertinya gagal. Kurang dari 5 menit ia tinggalkan, Taekwoon kembali berimaji. Ia menarik kasar tangan Taekwoon, mengikuti arus manusia barang sebentar, lalu mengajaknya keluar dari kerumunan dan berusaha menyegarkan pikiran Taekwoon kembali.

.

.

.

Taekwoon menggenggam erat cangkir Americano yang baru saja Hakyeon pesan. Hakyeon kembali menghela napas, saat matanya menangkap tokoh di depannya menerawang jauh ke luar jendela dengan tatapan kosong, terlebih ia tak merasakan betapa panasnya cangkir di genggamannya. Memang saat itu musim dingin yang lebih panjang dari biasanya telah melanda Korea, tapi itu bukan satu alasan yang logis hingga tangan Taekwoon tak mampu merasakan panasnya cangkir itu.

“Baiklah… Baiklah… Park Sojin ‘kan?”

Taekwoon kini menatap Hakyeon dengan ekspresi datar.

“Ada banyak gadis Korea yang bernama Park Sojin. Akan kucarikan yang mana yang jadi ‘gadis keajaiban’mu itu.”

Taekwoon menggelengkan kepala pelan, lantas kembali menatap jalanan Seoul yang masih ramai meskipun festival budaya telah berakhir beberapa menit lalu.

“Kau tidak mengerti, Hakyeon-a…”

“Tentu saja aku tidak mengerti!!” nada bicara Hakyeon meninggi. Emosinya meluap, tak bisa tertahan lagi. Mungkin kesabarannya hampir melewati batas. Dia enggan melihat Taekwoon yang terus-terusan terpuruk—walau ia baru mengetahuinya hari itu—atas cinta semunya. Dia ingin melepaskan belenggu yang selama ini mengurung Taekwoon, tapi Taekwoon malah semakin memperkeruh keadaan, “bagaimana aku bisa mengerti kalau kau terus-terusan diam tanpa mau menceritakan apapun?!”

Taekwoon memilih diam, tapi tak lama setelahnya, ia kembali menemukan bayang Sojin, tepat di depan jendela kaca di sampingnya. Mata keduanya bertemu cukup singkat, beberapa detik…

Taekwoon menatap Sojin tak percaya, sementara Sojin tersenyum padanya, meskipun ada rasa sakit yang terpancarkan dari paras pucatnya. Tak dapat dipungkiri ia tak mampu menyembunyikan rasa kesepiannya belakangan ini. Sama sakitnya seperti Taekwoon, hanya saja ia lebih… sendiri.

Nuna?” Taekwoon menggumam, sementara Hakyeon memijat keningnya. Belum lagi saat Taekwoon beranjak dari kursinya dan segera ke luar restoran.

“Terserahlah, bermain sana dengan Nuna bayanganmu sampai puas!”

.

.

.

Nuna?”

Ia tertawa kecil hingga uap putih terlihat jelas keluar dari bibirnya. Ia berlari menghampiri Sojin, mengelus pipi Sojin. Tangan hangatnya disambut oleh genggaman lembut Sojin. Air matanya mengalir… Taekwoon berada di depannya, tapi ia tak tahu bagaimana cara yang tepat untuk melampiaskan kerinduan yang semakin lama semakin membuncah. Sojin sadar mereka berbeda. Bahkan Sojin tahu apa yang ia lakukan salah…

.

.

.

Semuanya terasa begitu cepat terjadi. Hakyeon menyalahkan diri sendiri, tepat setelah ia mengantar Taekwoon ke rumah sakit terdekat dengan restoran tempat mereka terakhir bertemu. Ia pikir salah jika saat itu ia membiarkan Taekwoon keluar sendirian, bermetafora tentang keberadaan ‘Sojin Nuna’nya yang Hakyeon sendiri tak tahu bagaimana wujudnya. Dan begitulah akhirnya.

Taekwoon menyeberangi jalan tepat saat lampu penyeberangan berubah menjadi merah. Kecelakaan tak mampu terelakkan.

Hakyeon sendiri, di samping merasa bersalah, juga merasa heran. Memang wajah Taekwoon sedikit lebam karena wajahnya harus bergesekan dengan aspal jalanan, tapi tabrakan itu terjadi cukup lembut. Tak begitu keras. Dokter sendiri bilang, tak ada masalah serius atas kecelakaan itu.

Tapi bagaimana mungkin…

Taekwoon koma?

.

.

.

I had such a scary and bad nightmare
You left me forever
Even you can tell it’s a dream that doesn’t make sense
Because there’s no way I would lose you

Nuna?” Taekwoon membuka matanya perlahan. Ia menghela napas pelan, merasakan sedikit rasa lelah akibat sesuatu yang terjadi pada dirinya. Sekeras apapun ia berusaha mengingat, ia tak mendapatkan apapun. Yang ia ingat hanyalah, sebelum ia berbaring di kamar tidur serba putih itu, ia berpelukan dengan Sojin, cukup lama, cukup hangat.

Taekwoon duduk menyandarkan punggungnya ke dinding, sementara Sojin memberikan secangkir susu hangat padanya.

“Selamat pagi…” ucap Sojin lembut.

Tanpa menjawab ucapan itu, Taekwoon memeluk erat Sojin dan memejamkan mata erat, berusaha menahan air mata.

“Mimpi buruk lagi?” tanya Sojin, kemudian melepaskan dekapan Taekwoon dengan santai, “atau mungkin, tekanan darah rendahmu kambuh lagi?”

Taekwoon menggeleng. Dia tak mengerti maksud ucapan Sojin, sementara Sojin masih tersenyum ringan. Taekwoon menggeleng bukan karena perkiraan Sojin sepenuhnya salah, hanya saja ia benar-benar tak mengerti. Ia memang tak mengingat apapun sebelum ia sadar, yang jelas, ia mengingat sesuatu yang membuat jantungnya begitu sakit ketika bangun dari tidurnya.

Ia merasa kehilangan sesuatu dalam waktu yang lama.

Nuna, aku benar-benar tidak ingat apa-apa..”

“Wah… benarkah?” tanya Sojin ringan. Ia merasa tertekan mendengarnya, terlebih saat Taekwoon melanjutkan,

“Aku hanya ingat, entah mimpi atau apa, aku merasa kau pergi sangat lama. Bahkan mungkin tak kembali…”

Sojin terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum. “Mungkin itu hanya bayangan sesaatmu saat kau bingung?”

Kemudian, gadis itu menghampiri rak buku dan mengambil satu buku yang terlihat cukup lapuk dimakan waktu, lantas kembali berbicara, “Kau tahu, seperti yang ada di buku ini, alam pikiran manusia itu luasnya tak terbatas. Bisa jadi kita memang membayangkan banyak hal seolah itu terjadi dalam kurun waktu yang lama, nyatanya kita hanya berdiri selama 2 detik, atau sebaliknya…”

“Tapi, Nuna…”

“Tenanglah, Taekwoon-a… kau hanya tertidur selama 8 jam, tapi saat bangun kau sudah aneh begitu. Dasar…” Sojin tertawa kecil, lalu bergegas meninggalkan Taekwoon yang masih merenung di atas kasurnya.

“Jadi, mau sarapan apa? Akan kubuatkan.”

Sojin berdiri di depan pintu kamar sambil membaca sekilas buku yang masih ada di genggamannya. Salah satu buku yang paling ia suka dari sekian koleksi yang ia simpan di kamar Taekwoon—karena rak buku di kamarnya sendiri sudah tak cukup untuk menampung ribuan bukunya. Buku ilusi yang terbatas, hanya ada 10 di dunia—entah di dunia mana, Sojin sendiri tak tahu—hingga butuh pengorbanan hanya untuk mendapatkannya. Dan, yah, Sojin cukup puas mendapatkannya. Bertanya tentang resep masakan? Pasti akan muncul dengan sendirinya. Tentang jalannya kehidupan? Buku itu akan menampilkannya, walau hanya sebatas masa lalu dan tak bisa meramal masa depan.

“Jangan pergi.”

Sojin tergelak. Taekwoon sudah berdiri di belakangnya dan memeluknya erat, sesekali menggerakkan kepalanya lembut, mencium wewangian gadisnya.

“Hanya itu saja, Nuna. Jangan pergi.”

.

.

.

Don’t even get away from me for a second
No, I just won’t let go of you

Karena Taekwoon tak memberikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan Sojin, maka Sojin mengajak Taekwoon memanen sayur mayur yang ada di halaman rumah mereka. Sojin mengajari Taekwoon untuk memanen sayur-sayuran itu dengan telaten, walau Taekwoon memperhatikannya dengan setengah hati. Pikirannya masih melambung jauh ke berbagai arah, bahkan soal apa yang ia lakukan sekarang tak luput dari pikirannya. Ia merasa ia pernah mengalaminya dulu sekali, tapi ia tak yakin kapan. Atau mungkin hanya deja vu?

Dimana mereka sekarang? Itu juga salah satu pertanyaan di benak Taekwoon. Ia tak merasa asing saat di sana, tapi ia tidak ingat ia pernah di sana sebelumnya. Sojin bilang mereka berada di rumah yang selalu nyaman bagi mereka. Taekwoon percaya itu, tapi ia masih ragu.

Lalu, kenapa ia merasa Sojin pernah pergi jauh dari kehidupannya… dalam jangka waktu yang lama, bahkan mungkin… untuk seterusnya?

“Makan.”

Taekwoon terkesiap tatkala Sojin memaksanya membuka mulut dan memakan mentah sayuran segar di tangannya. Taekwoon mengunyahnya dengan sedikit jengkel, terlebih saat Sojin menertawakan wajahnya yang nampak jenaka dengan pipi menggelembung.

“Salahmu sendiri…” Sojin meneruskan kegiatannya, “aku sudah lelah memberi arahan padamu, kau hanya melamun.”

Taekwoon masih diam, berusaha mengunyah sayuran di mulutnya. Hari itu Sojin memakai kaos lengan panjang, training hitam dan rambut hitamnya dikuncir kuda dengan sedikit poni yang diuraikan. Masih cantik, sama seperti yang terakhir ada di benaknya.

Nuna…”

Hm?”

“Jangan pergi.”

Sojin menghela napas, lalu menatap Taekwoon. Di matanya, Taekwoon masih kekanakan seperti dulu. Adik laki-laki yang selalu ingin ia jaga, ia lindungi, walau harus menyerahkan semua yang ia miliki termasuk kehidupannya. Walau nyatanya, perasaan itu berkembang melebihi kasih sayang seorang kakak ke adik laki-lakinya.

“Kau bilang apa sih? Membingungkan. Kau baru saja bangun, tapi kau sudah mengatakan yang aneh-aneh.”

Taekwoon membela diri, “Apa yang aneh dari pelampiasan sebuah rasa takut, Nuna?”

“Taekwoon-a…”

Nuna hanya perlu menjawab, ‘iya’, aku akan tenang.”

Menanggapi keseriusan Taekwoon, ia malah tertawa. Ia tahu Taekwoon tipe orang serius yang selalu bermuka datar, bahkan jika ada gempa bumi. Memberikan lelucon pun ia jarang memberikan senyumannya. Tapi keseriusan Taekwoon kali ini terlalu berlebihan.

Kali ini Sojin berusaha mengalihkan perhatian, “Dengar, Taekwoon-a… tadi malam kau bilang tubuhmu tidak enak badan, lalu kau bilang padaku kau ingin tidur lebih cepat. Aku pikir saat bangun kau akan lebih baik, ternyata kau lebih aneh…”

Nuna!” Taekwoon tidak membentak, tapi kali ini ucapannya sedikit lebih tinggi, membuat Sojin berhenti tertawa.

“Aku hanya butuh kepastian. Nuna tak akan pergi dariku, itu saja. Aku tak akan minta yang lain.”

Kali ini Sojin menghentakkan napas keras. Ia duduk di tanah, lalu meletakkan seluruh alat kebun yang ia bawa ke tanah. Ia kembali menatap Taekwoon sambil tersenyum.

Sayangnya, Sojin berencana ia akan mengakhiri semuanya…

Demi Taekwoon.

.

.

.

It’s cold, but It’s just your mood
It’s strang
e, but I don’t care about that

Taekwoon memasuki ruang makan, tepat setelah ia dan Sojin selesai membuat sup jamur. Sojin tak sengaja meletakkan cangkul kecilnya dengan kasar di sayur-sayur yang ia kumpulkan di ranjang rotannya hingga semuanya rusak. Alternatif lain, jamur putih yang tumbuh di sekitar kubis ia cabut dan ia jadikan sup. Setidaknya cukup untuk satu hari.

Sementara itu, suasana cukup dingin. Meskipun mereka memasak dengan tungku hingga asapnya menyesaki paru-paru, tapi Taekwoon tak merasakan kehangatan sama sekali. Sejak di kebun, sejak ia usai memaksa Sojin memberikan jawaban pasti, Sojin terlihat sedikit murung dan tak banyak bicara. Ia hanya menginstruksi Taekwoon saat mengolah jamur, selebihnya ia diam.

Dingin, aneh… menjengkelkan.

Tak biasanya Sojin seperti itu.

Taekwoon tahu pasti sikap Sojin. Jika ada badaipun, Sojin akan tetap tersenyum. Pernah ada satu kejadian, tempat tinggal mereka digusur, saat yang lain menangis, Sojin tetap tersenyum dan berusaha menghibur yang lain untuk tetap tegar.

“Bisa jadi rumah kita bobrok ‘kan? Bisa jadi Tuhan memberikan rumah yang lebih baik daripada yang telah digusur ini…”

Kapan itu terjadi?

“Taekwoon-a…”

“Ya?”

Taekwoon kembali ke alam sadarnya saat Sojin memanggil namanya lembut.

“Jika dingin, sup-nya tidak enak…”

Taekwoon mengangguk, lalu menyantap sup jamur di depannya.

“Enak?”

Taekwoon menghela napas lega. Sojin tidak marah padanya, dapat dilihat dari ekspresi wajahnya saat ini yang begitu antusias menanti jawabannya. Taekwoon tersenyum, lalu mengangguk.

Sesaat kemudian, Sojin membalas senyuman Taekwoon dan mengacak rambutnya gemas.

Lagi-lagi, déjà vu.

.

.

.

“Bagaimana, Taekwoon-a?”

Taekwoon mengangguk, sementara wanita paruh baya di depannya tersenyum dan mengacak rambutnya. Gemas akan keimutan anak laki-laki berumur 7 tahun.

.

.

.

Hyung!” Jaehwan dan Wonshik berlari menghampiri Hakyeon begitu menemukan lelaki itu di ujung lorong rumah sakit, tepat di depan ruang VIP.

“Apa yang terjadi pada Taekwoon Hyung?”

“Dia tidak apa-apa ‘kan? Katakan dia tidak apa-apa!” Jaehwan yang baru saja datang ke Seoul benar-benar tak percaya atas kabar yang ia dengar. Ia baru saja turun dari pesawat, mengaktifkan handphone-nya, lalu Hakyeon menelponnya dan mengabari berita sialan ini.

Jaehwan dan Wonshik menyerang Hakyeon dengan pertanyaan bertubi-tubi yang membuat Hakyeon semakin pusing. Ia cukup merasa bersalah atas kejadian naas yang menimpa Taekwoon, lalu kedua orang ini datang dengan segudang pertanyaan yang enggan ia jawab, setidaknya utuk saat ini.

“Bisakah kalian diam?! Aku meminta kalian ke sini supaya kalian menjenguk Taekwoon, barangkali ia bisa sadar jika kalian datang menjenguknya!”

“Oke. Maaf,” Ucap Jaehwan singkat, sementara Wonshik kembali bertanya tanpa mempedulikan perasaan Hakyeon,

“Jadi, apa yang terjadi padanya? Apa ada kaitannya dengan ‘Sojin Nuna’nya?”

Hakyeon mengangguk. Wonshik menghela napas, lalu berkacak pinggang. Menyayangkan kebodohan seorang Taekwoon akan ilusi. “Aku pikir 2 tahun ini dia sudah sembuh…”

“Tunggu.” Seolah-olah teringat sesuatu, Jaehwan mulai membuka mulut. Ia dan Taekwoon terpisah cukup lama karena suatu alasan, tapi mereka masih berhubungan lewat e-mail walau tak begitu sering. Itu membuat Jaehwan tak begitu mengerti perkembangan hidup Taekwoon, sendirian tanpa dirinya, di Seoul ini, sementara ia mengambil beasiswa di Kanada.

“Sojin… Nuna?”

Hakyeon dan Wonshik mengangguk.

“Benar juga, meskipun kau berteman dengan Taekwoon sejak kecil, tapi kau tak bersama Taekwoon lagi beberapa tahun ini,” Hakyeon berucap.

“Jika kau ada di sini, mungkin kau akan muak saat ia berkata ‘Sojin Nuna’, ‘Sojin Nuna’… kami pikir Taekwoon hanya berimaji saja, tapi…”

“Bukannya Sojin Nuna sudah meninggal?” pertanyaan Jaehwan yang memotong ucapan Wonshik tentang Sojin Nuna itu membuat Hakyeon dan Wonshik tersentak.

Meninggal?

.

.

.

I’ll accept every little thing of you

Taekwoon berdiri di depan rak bukunya, mengambil satu album yang terselip di antara novel-novel kesayangannya. Sengaja Taekwoon letakkan di sana, karena seingatnya, ia menyukai novel. Itu memudahkannya jika ia ingin mengingat kenangan-kenangan indah hingga ia dapat menemukan albumnya dalam waktu singkat.

Ia tersenyum kecil begitu membuka halaman pertama. Ia masih tak ingat akan masa lalunya, tapi entah mengapa, ia begitu yakin bahwa foto di halaman pertama adalah potret dirinya saat berumur sekitar 8 tahun. Wajahnya tak begitu bahagia karena ia tak suka difoto. Alasan lain, mungkin karena ia tidak bisa berpose, mati gaya saat di depan kamera. Ada 1-2 orang di antara 30 orang di dunia dengan tipe aneh seperti Taekwoon, begitulah ungkapan konyol Sojin mengomentari tingkah Taekwoon.

Ia membuka halaman berikutnya. Ia tersenyum begitu melihat potret 2 anak lelaki seumuran yang bermain layang-layang saat musim panas. Ia dengan seorang temannya. Ia tahu nama temannya itu Jaehwan, terlihat jelas dari kaos olahraga yang tercetak nama anak itu dengan warna yang mencolok.

Di halaman sampingnya, ia tengah dipangku seorang wanita paruh baya yang baru saja ada di benaknya.

Ingatannya mulai kembali. Ia melihat keadaan sekitar, lalu melihat ke luar jendela. Halaman yang persis dengan halaman di foto.

“Mulai ingat?”

Taekwoon melihat Sojin berdiri di ambang pintu kamarnya.

Kenapa Taekwoon bisa melupakan kenangan-kenangan yang ada di albumnya? Kenapa ia begitu merasa nyaman, di sisi lain tersiksa saat kembali membuka album itu?

Kini ia mulai ingat.

Ia meletakkan album itu di antara jajaran novel bukan karena ia ingin mengambil album dengan mudah. Tapi agar ia tak pernah membukanya. Taekwoon bukan tipe orang yang suka membaca novel yang sama berulang kali.

Taekwoon ingin menutup album itu dan meletakkannya ke tempat yang lebih sulit, tapi Sojin lebih cepat membuka halaman berikutnya.

Ada Sojin yang masih berumur 12 tahun. Pandangan matanya kosong. Ia tak mampu melihat apapun, tapi ia dapat menelusup jauh ke ruang hampa… itu yang dapat Taekwoon rasakan saat melihat foto itu.

“Menjengkelkan! Kenapa dari dulu aku cantik begini?” Sojin tertawa kecil. Di sampingnya, ada foto yang menampakkan Sojin dan Taekwoon foto bersama. Di sana Taekwoon terlihat mencium pipi Sojin, tersipu malu. Memang apa yang bisa dilakukan anak berumur 8 tahun sepertinya? Sementara Sojin nampak terkejut di foto itu.

“Kau tahu, aku sangat terkejut saat itu. Bunda Lee sangat pintar mengambil foto. Dia cocok jadi fotografer professional.”

Taekwoon bergegas menutup album itu dan melemparkannya ke sudut ruangan, membuat Sojin kembali sedih melihat sifat Taekwoon begitu anti terhadap kenangan masa lalunya.

“Taekwoon-a… kenangan ada bukan untuk…”

Taekwoon menatap Sojin dalam, lalu menggenggam kedua tangannya erat.

Nuna, aku selalu menerima kehadiranmu, sama seperti kau menerima kehadiranku… mengerti?! Maka dari itu, jangan buat aku menjauh darimu, karena apa? Janjiku pada diriku sendiri adalah membahagiakanmu!”

“Taekwoon-a…”

“Jangan membuatku kecewa pada diriku lagi, oke?”

Ucapan itu benar-benar menyadarkan Sojin bahwa 50 % lebih ingatan Taekwoon telah kembali. Ia sangat senang, tapi di saat yang sama, tak dapat dipungkiri, ia merasakan rasa sakit di ulu hatinya. Sama seperti yang Taekwoon rasakan.

Kenyataan bahwa Sojin buta bukanlah masalah bagi Taekwoon.

Ada kenangan yang bahkan lebih buruk dari itu.

.

.

.

Pukul 01.00 dini hari

Hakyeon menyesap kopinya, sementara Wonshik melihat ke luar jendela. Mereka berada tepat di restoran 24 jam tempat Hakyeon dan Taekwoon bertemu sekitar 6 jam sebelumnya. Mereka terdiam cukup lama setelah mendengar semua tentang Sojin Nuna-nya Taekwoon. Untuk sesaat, Hakyeon dan Wonshik merasa bersalah.

Harusnya ia memberikan semangat hidup pada Taekwoon yang telah kehilangan orang yang ia cintai sejak 7 tahun sebelumnya, bukannya malah mengatai Taekwoon bodoh karena terus-terusan bermain dengan ilusinya.

Wajar jika Taekwoon selalu berusaha membangkitkan bayangan Sojin Nuna karena tak ada satupun orang yang berada di sisinya belakangan ini.

“Sojin Nuna adalah orang pertama yang menerima Taekwoon saat ia bergabung di panti asuhan, jadi wajar kalau Taekwoon benar-benar merasa kehilangan,” Jaehwan memberi konklusi, “terlebih, karena Sojin Nuna buta, jarang ada orang tua yang mau mengadopsinya. Satu persatu dari kami diadopsi, begitu pula Taekwoon. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutannya setelah aku diadopsi dan dibawa ke Kanada oleh Ayah, tapi, seingatku, Taekwoon sempat sakit parah setelah diadposi.”

Hakyeon mengangguk, memahami apa yang Jaehwan ucapkan.

“Makanya, waktu aku dengar dari Bunda Lee bahwa Sojin Nuna meninggal 7 tahun lalu, aku sangat terkejut. Bunda Lee tak menceritakan secara lengkap padaku, jadi…”

“Begitu ya?” Wonshik menghela napas.

“Saat ini, kita hanya bisa berharap, Taekwoon Hyung menemukan jalan yang lebih baik setelah ini.”

.

.

.

Because I knew everything about you
I was confident, yeah

Di luar jendela, Taekwoon melihat sebuah layang-layang bergerak mengikuti angin yang berdesir lembut. Begitu ia melihat ke bawah, Sojinlah yang menerbangkan layang-layang itu, tersenyum ceria, membuat Taekwoon jengkel. Ia bergegas menghampiri gadis itu, namun belum sempat ia berucap, Sojin menyerahkan satu layangan pada Taekwoon.

“Ayolah, kau tidak mau bersenang-senang dengan Nuna-mu yang cantik ini?”

Taekwoon tak berbicara apapun. Tidak menampik ajakan Sojin, tidak juga menerima ajakan itu. Ia menatap dalam mata Sojin.

Nuna… jalanilah hari dengan biasa saja, jangan berlebihan. Hm?”

Sojin mengernyit. “Kenapa? Kita sudah biasa bermain layang-layang tiap hari. Apanya yang berlebihan?”

Taekwoon mengambil ke dua layangan di tangan Sojin, lalu memeluknya. Sangat erat.

“Taekwoon-a…”

“Hanya aku yang mengerti tentang Nuna. Nuna tahu itu ‘kan? Nuna suka hujan, Nuna suka cokelat, tapi Nuna benci bunga mawar. Nuna selalu ingin memiliki boneka babi warna pink…”

Taekwoon mengatur napasnya yang tak karuan menahan emosi atas tingkah Nuna-nya yang ia pikir tak seperti biasa. Tingkah Nuna-nya dapat ia baca dengan jelas: memberikan kenangan terakhir seindah mungkin, lalu ia akan pergi setelah mengucapkan kalimat perpisahan yang manis.

Bagi Taekwoon, tak pernah ada perpisahan yang manis.

Nuna suka hujan, karena Nuna tahu setelah hujan ada pelangi. Nuna suka cokelat karena enak, Nuna benci bunga mawar karena Nuna hanya bisa mencium baunya tanpa bisa melihat wujudnya…”

Ya. Kalimat terakhir yang meluncur jelas keluar dari hati nurani Taekwoon yang masih ingat semuanya. Ia tak dapat membendung emosinya yang cukup kesal atas semua yang ia alami, sungguh. Tapi ia masih berusaha menghindari seluruh ingatannya, ia masih berpikir bahwa ia tak ingat apapun… ia ingin berada di zona aman. Terlebih Sojin berada di sampingnya. Ia pernah merasakan sakitnya kehilangan Sojin, dan ia tak akan kehilangan lagi.

“Aku selalu nyaman berada di dekat Nuna, Nuna juga begitu ‘kan?” Taekwoon tertawa. Ia pikir ia berhasil mengelabui dirinya sendiri saat ini. Ia pikir ia tak lagi memikirkan hal yang lain kecuali Sojin, padahal alam bawah sadarnya terus bergerak mengikuti waktu yang terus berjalan. Ia memejamkan matanya erat, berusaha mendahului takdir.

“Taekwoon-a…” Sojin membalas pelukan Taekwoon. Entah kapan terakhir kali ia merasakan kehangatan yang begitu menenangkan seperti itu. Ia menangis, menghadapi kenyataan bahwa dalam hitungan jam, ia harus berpisah dengan Taekwoon, apapun yang terjadi. Tekadnya sudah bulat.

.

.

.

Thank you

All that matters is that you came back to me

Mereka berdua berada di ruang tengah. Taekwoon memainkan piano tuanya, membuat sang gadis yang berdiri di sampingnya terpesona. Sojin masih ingat, dulu sekali, ia hanya bisa mendengar dentingan piano yang indah bak harpa malaikat-malaikat yang sering digambarkan kebanyakan seniman. Kali ini Sojin dapat melihat betapa rupawannya Taekwoon berada di depan piano itu. Taekwoon tersenyum saat membawakan alunan indah Air on the G String, karya Johan S. Batch. Ia merasa, ia telah melakukan sesuatu yang membuat Sojin mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkannya.

“Bagus, Taekwoon-a…” Sojin bertepuk tangan, tepat setelah 6 menit penuh Taekwoon memainkannya.

“Terima kasih, Nuna…” Taekwoon menggenggam tangan Sojin sekali lagi.

“Terima kasih?”

Taekwoon mengangguk. “Karena kau telah kembali…”

Hati Sojin semakin tertusuk mendengarnya. Apa yang Sojin lakukan, hingga satu anak manusia begitu tergantung padanya? Sojin tak mengingkari kenyataan bahwa Sojin sendiri begitu menyukai sosok Taekwoon, tapi bukan seperti itu… kalau Sojin mau, Sojin bisa hidup dengan Taekwoon, selamanya.

Tapi tidak.

Tak seharusnya mereka melawan garis kehidupan.

Sojin telah tiada dan Taekwoon masih hidup. Dan kenyataan itu belum boleh berubah sampai Sang Pengatur Kehidupan menghendaki.

“Ngomong-ngomong…” Sojin melepas kedua tangannya, lalu memencet beberapa tuts piano sambil tertawa kecil, “bagaimana mungkin kau masih ingat nadanya?”

Senyum Taekwoon seketika memudar. Satu ingatannya telah kembali.

.

.

.

I wouldn’t want to see me without you even in a dream
If only you are next to me, I don’t care if it’s a nightmare

Sekeras apapun Sojin membuat kenangan yang indah dengan Taekwoon, nampaknya tak akan berhasil. Banyak sekali rencana baiknya yang telah ia pikirkan matang-matang gagal hanya karena Taekwoon mampu membaca rencananya. Ia sendiri tak tahu harus berbuat lama. Waktu terus berjalan, ingatan Taekwoon pun satu-persatu kembali. Sojin tahu itu, tapi Taekwoon berusaha keras menjauh dari itu semua. Sojin sempat berencana untuk menundanya di lain hari, menunggu Taekwoon tenang, tapi tidak mungkin. Kemarin tepat tahun ke-8 kematiannya, tepat pukul 6.20 sore.

Masih banyak rencana. Masih ada 11 jam 20 menit lagi, tapi Sojin masih tak tahu harus berbuat apa. Ia benar-benar ragu apakah semua yang ia rencanakan berhasil. Oh, pasti rencana yang terakhir berhasil, yaitu menghilang di depan Taekwoon tepat pukul 6.20, pergi ke tempat lain yang jauh dari kehidupan duniawi…

Huh… membayangkannya saja Sojin sudah menitikkan air mata.

Ia memiringkan tubuhnya, menatap wajah Taekwoon yang tertidur pulas. Ia terpaksa menemani Taekwoon tidur saat itu. Salahnya sendiri.

Ia bermaksud membuat Taekwoon tertidur dengan memasukkan obat penidur dalam minumannya, tapi saat Taekwoon merasakan sesuatu pada tubuhnya, ia segera menarik Sojin ke dalam kamarnya.

“Temani aku, Nuna. Aku benar-benar tak ingin kau pergi, mengerti? Aku hidup tanpamu cukup lama, dan itu sama seperti mimpi buruk!”

Sojin tertawa. Menertawakan Taekwoon dan juga menertawakan rencananya yang gagal. Ia pikir jika Taekwoon kembali tidur, pikirannya dapat tertata dengan tenang hingga ia bisa meneruskan sisa rencananya. Tapi apa yang Taekwoon lakukan benar-benar di luar dugaan. Ia tak menyangka Taekwoon berubah menjadi lelaki yang begitu overprotective padanya. Sebelumnya Taekwoon tak pernah seperti itu. Taekwoon adalah lelaki yang penuh perhatian walau tak banyak berkata. Sojin masih ingat.

“Bagaimana kalau ternyata saat aku tidur di sampingmu, kau tetap mimpi buruk?” goda Sojin. Tidak sepenuhnya menggoda, melainkan berusaha mengubah niatan Taekwoon, walau Sojin sendiri merasa tak ada yang bisa mengubah pendirian Taekwoon saat ini.

“Yang penting, Sojin Nuna ada di sini!” Perlahan, Taekwoon memejamkan mata dan menggengam tangan Sojin erat. Jika Sojin berangkat pergi, ia bisa merasakannya. Itu tujuannya.

.

.

.

Suddenly, you grow faint
I can’t seem to say anything

Taekwoon langsung terjaga setelah 5 jam lamanya ia tertidur. Matanya terbuka lebar saat ia tak merasakan tangan Sojin dalam genggamannya. Sojin masih tersenyum, meskipun matanya tertutup. Bibir Taekwoon tercekat, tak mampu berkata sepatah katapun. Tangan Sojin selas masih berada dalam genggamannya, tapi kini mulai tak terlihat. Buliran-buliran putih mulai menyerbak ke udara.

“Oh, Taekwoon-a… Kau sudah bangun?”

Belum sempat Taekwoon menanyakan perihal apapun pada Sojin, Tangan Sojin yang ada dalam genggamannya kembali utuh seperti semula.

N-Nuna…”

Sojin meletakkan jari telunjukknya ke bibir Taekwoon, lalu mengajaknya pergi ke suatu tempat. Ruang tengah rumah mereka.

Yang, sekarang, baru Taekwoon sadari, rumah mereka sama persis dengan panti asuhan mereka 10 tahun yang lalu.

.

.

.

8 tahun lalu…

Saat itu, Sojin yang masih berumur 20 tahun ingin membuatkan teh hangat untuk Bunda Lee, membantu Bunda Lee yang beberapa hari ini kelelahan karena mengurus surat-surat yang harus diurus untuk penggusuran panti asuhan mereka. Tak dapat dipungkiri, beberapa anak yatim-piatu di sana telah diadopsi, hanya ada Sojin dan Bunda Lee, serta beberapa anak yang kurang beruntung. Bunda Lee berusaha mencarikan tempat yang cocok untuk anak-anak yang tersisa, sementara Sojin, ia berniat untuk mengangkatnya sebagai putrinya. Sudah bertahun-tahun lamanya mereka hidup bersama, membuat Bunda Lee menyayanginya lebih dari anak-anak lainnya.

Selain itu, Bunda Lee telah memutuskan untuk hidup tanpa pasangan, satu alasan yang membuat ia tak memiliki siapapun saat ini.

Sojin sendiri bisa melakukan beberapa hal kecil yang telah diajarkan Bunda Lee, seperti membuatkan teh yang baru saja ia lakukan. Ia pun telah hafal letak barang-barang dan tempat di rumah mereka, jadi ia bisa melakukan apapun dengan baik.

Setidaknya sebelum mereka pindah.

Sojin bersenandung kecil, sebelum akhirnya ia berhenti di depan pintu kamar Bunda Lee. Ia mendengar suara seorang lelaki paruh baya tengah berbicara dengan Bunda Lee.

“Kami tak menemukan donor jantung yang cocok untuk Taekwoon…” ucap lelaki itu pasrah. Kini Sojin menyadari bahwa pemilik suara berat itu adalah Ayah angkat Taekwoon.

Sojin tersentak. Taekwoon tak pernah mengatakan apapun padanya saat menjenguknya di panti asuhan… apa maksud Taekwoon sebenarnya? Sojin benar-benar kaget, tak tahu harus berbuat apa.

“Dari hari ke hari, kondisinya semakin memburuk. Kata dokter, kebocoran jantungnya tak dapat dihambat penyebarannya. Waktunya tinggal 2 minggu lagi, atau yang paling buruk, 1 minggu lagi.”

Hati Sojin sakit mendengarnya. Ia ingin menangis, namun tak bisa. Bukankah orang buta tak mampu menangis?

“Dia berpesan pada kami, jika waktunya tiba nanti, ia ingin mendonorkan matanya untuk Sojin. Dia bilang, ia ingin Sojin melihat indahnya dunia… kami baru tahu ia telah lama berusaha mencari donor mata untuk Sojin, tapi tak ada yang cocok…”

Sojin menggelengkan kepala, lalu berjalan mundur dan menghindar dari pembicaraan larut malam yang memuakkan itu.

“Taekwoon-a…”

.

.

.

I’m afraid to open my eyes right now
I wanna go to you, I wanna fall asleep again

Taekwoon menggeleng pelan, berusaha menghindar dari cerita masa lalu yang sudah susah payah ia hapus dari benaknya. Tapi Sojin memeluknya dari belakang, membiarkan Taekwoon melihat semua yang telah ia lupakan selama ini, membuat Taekwoon mau tak mau menghadapi kenyataan yang terlalu menyakitkan untuk diingat.

“Aku ngantuk, Nuna. Biarkan aku tidur…”

Sojin menggeleng. Air matanya meleleh saat ia mempererat pelukannya pada Taekwoon.

“Jangan takut menghadapi kenyataan, Taekwoon-a…”

.

.

.

Sojin menemui Ayah Taekwoon saat di hari berikutnya Taekwoon kembali ke panti asuhan untuk menemuinya. Taekwoon terlelap di kamarnya karena kondisi tubuhnya yang semakin rentan, maka Sojin memanfaatkan waktu itu untuk berbicara dengan Ayah angkat Taekwoon.

“Bisakah saya menjalani tes kecocokan jantung dengan Taekwoon?”

Ayah Taekwoon terkejut.

“Saya tidak begitu yakin tingkat kecocokannya bisa lebih dari 50 %, tapi setidaknya, saya ingin mencobanya.”

Ayah Taekwoon masih terdiam. Awalnya ia meremehkan Sojin saat ingin melakukan proses pengadopsian kapan hari karena kondisi fisiknya yang buta, terlebih saat Taekwoon, anak yang baru saja ia angkat malah berniat mendonorkan kedua matanya untuk Sojin.

“Bagaimana, Tuan Jung?”

“Apa alasanmu mau melakukannya?” akhirnya Ayah Taekwoon mulai berucap, memecahkan jalan pikirannya yang berusaha menebak pemikiran Sojin.

Sojin tersenyum. “Bagaimana mungkin, nantinya, saya hidup dan melihat indahnya dunia, dengan mata orang yang saya cintai?”

Ayah Taekwoon terkejut mendengar jawaban itu.

“Selain itu, tak banyak orang yang menyayangi saya. Sementara Taekwoon mempunyai banyak orang yang mencintainya… termasuk anda. Bukankah akan lebih berarti jika Taekwoon yang bertahan hidup?”

Kini Ayah Taekwoon mampu menyadari alasan Taekwoon begitu menyayangi Sojin.

.

.

.

Taekwoon terduduk lemas. Ia benar-benar tak ingin melihat semuanya, asal-usul Sojin-nya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia menggeleng kuat, tapi Sojin tetap memeluk dan menenangkannya, sesekali mengecup dahinya. Gadis itu masih tersenyum, meskipun air matanya tak berhenti mengalir, begitu pula Taekwoon.

“Aku baik-baik saja… Aku baik-baik saja…” Sojin membisikkannya di telinga Taekwoon, meyakinkan Taekwoon bahwa sampai kapanpun, Sojin tak pernah menyesal melakukan hal yang paling benar menurutnya. Sementara Taekwoon masih terdiam, tak sanggup mengatakan apapun.

.

.

.

Nuna… Kau tahu aku begitu mencintaimu ‘kan?”

Malam itu, Taekwoon dan Sojin berbaring di halaman rumah Sojin yang baru. Suasana malam itu cukup hening, hanya ada suara-suara binatang nocturnal yang menemani mereka.

Sojin tertawa. “Cinta? Bagaimana mungkin anak baru berumur 16 tahun sepertimu bicara tentang cinta? Aku saja tak tahu menahu tentang cinta. Kau terlalu sering membaca novel… melihat drama…”

Taekwoon tersenyum kecil. Terkadang Nuna-nya itu cukup menjengkelkan, terlebih jawabannya yang sama sekali tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi, Taekwoon pikir, hari itu bisa jadi hari terakhir mereka bertemu, jadi apapun yang Sojin lakukan akan ia anggap sebagai kenangan terindah dalam hidupnya.

Nuna…”

Ehm?” Sojin menggerakkan kepalanya ke arah suara di mana Taekwoon berada.

“Kalau Nuna mendapatkan donor mata baru, apa saja yang ingin Nuna lihat?”

Sojin tersenyum. “Wajahmu.”

Taekwoon diam sesaat, memikirkan satu hal yang menurutnya menyedihkan. Bagaimana perasaan Sojin saat tahu Taekwoon pergi setelah operasi mata selesai? Bagaimana jika Sojin tahu, mata yang kini ada padanya adalah mata Taekwoon?

“Kalau aku tak bisa melihat wajahmu meskipun aku punya mata baru,” Sojin melanjutkan ucapannya, seolah mengerti isi pikiran Taekwoon, “lebih baik aku tak bisa melihat apapun.”

Nuna!”

Sojin tertawa kecil.

.

.

.

You are trying to leave me once again
Don’t turn around, I’m holding onto your arm
If you wanna go, try to go

“Kau memperlihatkan semua hal yang memuakkan itu karena kau ingin pergi ‘kan?!” kali ini Taekwoon berucap. Amarah karena kenangan masa lalu yang kembali terkuak di dirinya kini hampir sampai puncak. Ia menggenggam tangan Sojin yang masih memeluk punggungnya, tak ingin Sojinnya pergi.

“Coba saja pergi kalau kau bisa, aku tak akan membiarkannya!”

Sojin menggelengkan kepalanya, “Taekwoon yang kukenal tak selemah ini, aku rasa…”

Napas Taekwoon tak terkendali. Wajahnya memerah, tanda bahwa tak ada satu hal yang mampu membuatnya tersenyum untuk saat ini. Tak ada.

Kenyataan bahwa orang yang mendonorkan jantung untuknya dengan kecocokan mencapai 81 % adalah Sojin tak pernah membuatnya bahagia sejak saat itu. Orang tuanya mampu menyembunyikan kenyataan itu. Tapi tak lama setelah itu, tepat 7 hari setelah ia diperbolehkan pulang di rumah sakit karena tak ada indikasi pasca operasi, ia mengetahui semuanya saat menemui Bunda Lee. Bunda Lee tak berkata apapun padanya, hanya mengajaknya pergi ke rumah duka.

Di sana Taekwoon melihat satu guci tanah yang sederhana, di atas sendiri. Bunda Lee meletakkan bunga di samping guci itu.

Taekwoon terkejut. Foto gadis yang ia cintai ada di samping guci itu, lengkap dengan keterangan nama, tempat tanggal lahir dan tanggal matinya.

Tanggal meninggalnya yang sama dengan tanggal operasi jantungnya.

.

.

.

Try to leave as you step on my pounding heart for you
Right now

“Kau pikir aku bisa baik-baik saja setelah selama ini hidup dengan jantungmu?! Kau pikir aku bisa baik-baik saja?!”

Sojin masih memeluk erat Taekwoon, sama seperti sebelumnya. Sama seperti yang ia lakukan saat mereka merasakan pedihnya kehidupan yang tak cukup adil bagi anak yatim seperti mereka. Sama seperti 8 tahun lalu, 9 tahun lalu… Semuanya masih sama.

“Kalau kau mau pergi, cepat pergi! Cobalah pergi dan kau tak akan merasakan jantungku berdetak lagi!”

Sojin menggeleng. Bukan itu yang ia harapkan. Bukan tangisan penuh amarah yang ia inginkan. Ia ingin, di pertemuan terakhirnya dengan Taekwoon, semuanya berjalan indah, sama seperti awal pertemuan mereka yang indah.

Jarum jam di sudut ruangan yang terus-menerus berjalan mundur membuat Sojin semakin sedih. Lelaki di dekapannya belum bisa menerima kenyataan yang seharusnya ia hadapi, tapi sisa waktu yang tersisa tinggal 2 jam.

Sojin harus bagaimana?

.

.

.

5 tahun hidup tanpa Sojin membuatnya ling-lung hingga banyak temannya yang memberi julukan ‘lelaki tanpa harapan’. Taekwoon tak peduli, karena jangka waktu 5 tahun itu, ia tetap ditemani bayang-bayang Sojin, kemanapun ia pergi. Sojin tak menghendakinya, tapi tingkah Taekwoon membuatnya tak bias menjalani kehidupannya lebih tenang. Secara tak langsung, Taekwoon menariknya kembali ke dunia, membuat Sojin merasa cukup tersiksa.

Semua orang mengatainya gila, tak lain karena ia memang hidup dengan ilusi. Bukan sepenuhnya ilusi, tapi, arwah yang harus tinggal di dunia untuk sementara dan hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, apa nama yang cocok selain ilusi?

Walau pada kenyataannya, Sojin benar-benar ada.

.

.

.

Setelah 5 tahun, Sojin pergi dari kehidupan Taekwoon, meninggalkan satu kalimat yang Sojin yakin akan membuat Taekwoon lebih baik.

“Jangan sedih, atau nanti aku juga sedih.”

Setelah itu Sojin pergi dan membiarkan angin kencang memasuki kamar Taekwoon hingga gorden putihnya berkibar. Ia hilang ditelan malam, sementara Taekwoon tak mampu berkomentar atas apa yang terjadi saat itu, selama sepersekian detik, orang yang ia cintai, lagi-lagi pergi.

Meninggalkan bekas yang menyakitkan.

.

.

.

You love me, right?

 

“Taekwoon-a…”

Taekwoon memejamkan matanya, merasakan hal aneh menyergap ke sekujur tubuhnya. Bukan dari dalam tubuhnya, melainkan dari tubuh Sojin yang kini mulai menghilang.

Terlebih, ingatan Taekwoon sepenuhnya kembali, baik 2 tahun yang lalu, 7 tahun lalu, atau bahkan sebelumnya… ia ingat semuanya. Tak ada yang terlewati.

“Kau tahu, aku mencintaimu ‘kan? Maka dari itu, aku melakukannya…”

Taekwoon menggeleng.

“Coba pikir. Jika saat itu kau pergi, lalu kau mendonorkan matamu untukku… semuanya sama saja… Pada dasarnya, salah satu dari kita harus pergi. Kita tak bisa bersama… tolong kau terima itu…”

Sojin menelan ludah, lalu kembali berkata, “Lagipula, aku tak pernah benar-benar pergi darimu. Kau tahu? Selama jantungmu masih berdetak, maka aku masih ada di dekatmu. Bahkan di dalam dirimu. Kalau saat itu kau mendonorkan matamu untukku, saat aku hidup, kau belum tentu ada di sampingku meskipun aku melihat semuanya dengan mata baruku.”

“Berhenti berbicara!” Taekwoon melepaskan pelukannya dan bergegas berdiri. Ia menarik tangan Sojin dan membawanya kembali ke kamar.

“Aku lelah, aku ingin tidur!”

Tepat saat memasuki kamar, Taekwoon tak dapat merasakan tangan Sojin lagi. Sojin masih di sana, tapi Taekwoon terlalu takut untuk membuka mata dan menerima kenyataan bahwa Sojin harus menghilang lagi.

Ia harus pergi lagi.

“Taekwoon-a…”

Taekwoon membalikkan badan.

“Kau mencintaiku ‘kan?”

Sojin mengangguk. Ia mendekati Taekwoon, bergegas memeluknya. Ia memperhatikan jam dinding yang masih berjalan mundur. Kini terlihat semakin cepat.

Pukul 6.21

“Hiduplah dengan baik, Taekwoon-a… Kau lelaki yang baik, sungguh. Kau lelaki yang tegar, kau lelaki yang hebat. Aku beruntung bisa menjadi orang pertama yang kau cintai.”

“Berhenti…”

“Tapi, kau tahu, hidup harus tetap berjalan. Kau tidak bisa berhenti pada satu titik. Di sisi lain, kau tak boleh melupakan masa lalu. Kenangan ada bukan untuk dilupakan, tapi dikenang…”

Nuna!”

“Ingatlah, aku melakukannya karena aku mencintaimu. Jadi tak ada alasan bagimu untuk mempertanyakan lagi padaku, apa aku mencintaimu atau tidak. Karena jawabannya sudah jelas.”

Sojin tak berani mengatakan ‘aku mendonorkan jantungku’ karena Taekwoon pasti semakin menderita atas ucapan itu. Walau ia tahu, Taekwoon sendiri sudah cukup tersiksa atas semua yang terjadi. Sojin sendiri tak sanggup membayangkan jika semuanya sesuai rencana Taekwoon, 8 tahun lalu. Jika ia membiarkan Taekwoon meninggal, lalu mendonorkan mata untuknya, Sojin tak tahu hidupnya akan seperti apa.

Mungkin akan lebih parah dari Taekwoon.

“Carilah wanita lain yang lebih baik, menikah, punya anak… lalu hiduplah bahagia, nikmati apa yang telah Tuhan berikan padamu, karena tak semua orang bisa mendapatkan anugerah indah seperti dirimu…”

Saat Taekwoon membuka matanya, yang terlihat hanyalah kepulan asap putih. Tak ada siapapun di depannya.

.

.

.

Hakyeon dan Jaehwan duduk di samping Taekwoon. Mereka bernapas lega setelah Taekwoon sadar. Dokter pun mengatakan bahwa jika tak ada indikasi apapun, Taekwoon bisa keluar dari rumah sakit secepatnya. Wonshik pulang pada pagi hari karena ia memiliki janji dengan klien-nya untuk mengaransemen ulang lagu lamanya.

“Syukurlah! Kami sempat takut saat melihat kau menggelengkan kepala berkali-kali…” ucap Hakyeon. Sementara Jaehwan masih menatapnya prihatin. Di sini Jaehwan cukup merasa bersalah karena meninggalkan Taekwoon menanggung semua bebannya sendirian. Seluruh anak-anak yang tinggal di panti asuhan Bunda Lee berpisah entah kemana, dan orang terdekat Taekwoon selain Sojin hanyalah dia. Bukannya mendampingi Taekwoon—setidaknya sampai depresinya sembuh—ia malah pergi keluar negeri.

“Tapi, Hyung… soal Sojin Nuna…”

“Tak apa,” Taekwoon memotong perkataan Jaehwan. “Dia masih hidup.”

Jaehwan dan Hakyeon saling bertatapan. Taekwoon menatap jauh ke langit Seoul yang berubah kegelapan dengan sedikit semburat jingga di luar sana sambil menghentakkan napas. Ia memegang dadanya, merasakan detak jantungnya.

Karena selama jantung ini berdetak, Nuna tak pernah mati.

.

.

.

It was so sweet that I had a terrible nightmare
We had started everything from the beginning
You’re not here but everything is the same
In this dream the moment you left me

Taekwoon berbaring di halaman rumah Bunda Lee. Tepat satu minggu setelah ia keluar dari rumah sakit, ia tak kembali ke apartemennya atau ke rumah orang tuanya. Ia menemui kenangan-kenangan lamanya bersama Sojin di sana. Bunda Lee sudah meninggal setahun setelah Sojin meninggal. Rumah itu kini tak berpenghuni, tapi masih ada kehangatan di sana. Kehangatan yang diperuntukkan hanya untuk Taekwoon.

Ia masih ingat, 8 tahun sebelumnya, ia berbaring menatap bintang dengan Sojin. Hanya dia yang melihat bintang, sementara Sojin masih menatap kegelapan yang selalu menutup matanya seumur hidupnya.

Tapi, benar kata Sojin, ia tak seperti dulu lagi. Ia tak cukup tegar, meskipun Sojin telah memberikan perpisahan yang lebih layak padanya, beberapa hari yang lalu, walau hanya dalam mimpi. Mimpi yang mengerikan baginya.

Ia memejamkan mata, berusaha menjauh dari seluruh inti kehidupan yang ia jalani hanya untuk beberapa saat. Jujur saja, ia telah melakukan banyak percobaan bunuh diri namun tak berhasil. Kini ia menyadari bahwa orang-orang yang nekat mengakhiri hidupnya hanyalah orang-orang yang berpikiran dangkal.

Maka dari itu, ia memutuskan untuk terus hidup demi jantungnya. Demi jantung orang yang ia sayangi.

Toh, semuanya tetap sama. Sojin meninggalkannya, tapi Taekwoon masih menyayanginya. Tak akan pernah berubah.

Dia memutuskan untuk sedikit bersabar, sampai nanti mereka kembali bertemu. Ia masih beranggapan hidup yang ia jalani tak lebih dari sekadar mimpi buruk, tapi ia berniat untuk menjalani hidupnya yang lebih baik.

Di dalam angannya, satu kalimat terngiang di benaknya.

Dia mencintaiku ‘kan?

A cruel night is endlessly coming to me
I close my eyes again, taking me back to that dream

Into an eternal dream that I won’t ever wake from

.

.

.

Time’s Over

jadi….
maaf karena fic ini /aku menyadari setelah membaca ulang/ Leo jadi nista di sini T_T bahkan cengeng banget, gaje banget…entah dapet ide darimana… aku kemaren ngarang ini nangis-nangis sendiri, gak tahu kenapa. ya mungkin karena proses ngarangnya sendiri udah gaje, jadi cerita ini sama gaje-nya… T_T
tapi kalo dipikir-pikir, inti lagunya ‘Eternity’ punya VIXX itu kan cengeng juga, jadi ya gak pa-pa lah /bela diri/ /heh/

tapi, gaje-gaje gini aku lega bisa menyelesaikan fic ini, tahu gak sih nyampek kebawa mimpi masa’ jalan ceritanya? ==” 3 hari berturut-turut aku liat layar laptop cuma mantengin Word dan playlist lagu, di antara 1.342 lagu yang aku punya yang aku denger cuma Eternity ==”
dan.. ehm… soal donor mata, itu dari kisah yang pernah aku lihat sih, entah itu bener apa enggak, soalnya lihat di TV… jadi ada cewek buta temenan sama cowok, katakan namanya Daun lah, atau terserah kamu namanya siapa. nah, si cowok kan ternyata sakit leukimia, meskipun udah ada sumsum tulang belakang yang cocok, ternyata levelnya udah tinggi dan gak mungkin disembuhkan. jadi, dia bilang ke orang tuanya, dia pengen ngasih matanya ke si cewek, ya… namanya Bunga lah. terus, pas si cowok udah meninggal, bener kan dia mendonorkan matanya ke si cewek, tapi si cewek gak tahu. 2 tahun dia nyari si cowok tapi gak ketemu, akhirnya dia nemuin alamat rumahnya Daun. nah… awalnya Ayah si Daun ngusir-ngusir si cewek, tapi pas ibunya si Daun ngeliat Bunga, terus lihat matanya si Bunga, si ibu nangis.

“Anakku… anakku…” dia bilang gitu. Bunga awalnya shock, mata yang membuat dia liat cahaya untuk pertama kali ternyata mata si Daun, matanya orang yang pengen ia lihat pertama kalinya saat ia udah bisa lihat. tapi akhirnya dia bisa tabah, janji pada orang tua si Daun untuk jaga matanya baik-baik. dia juga jadi anak angkatnya orang tua si Daun pada akhirnya, mengingat si Bunga itu yatim, terus Daun itu cuma anak semata wayangnya.
cerita yang manis kan? :”) dan… aku pikir, lagu Eternity itu gak asik kalo happy ending, orang dari awal sampe akhir gak ada seneng-senengnya lagu itu. bisa dibilang, aku buat ini tuh sesuai dengan lagunya, kalo bisa sama videonya.. kkk… inget voodoo doll? semacam itu x)
dan… btw, aku publish nih fic pas jam 6.20 sore… fic-nya sendiri, tanpa lyric apapun, jumlahnya /entah mengapa/ pas 6.200 kata xD tahu gak maksud 6.20?
di videonya VIXX Eternity, jamnya kan berenti pas jam 6 lebih 20 menit. nah, ini penjelasannya : 6=VI, 20=XX, 6.20 = VIXX
keren kannnn?

dan untuk judull… ini beda dengan Nightmare Maker ya… Nightmare Maker itu Horror, sementara Nightmare itu… ya intinya sekedar mimpi buruk gitu lah😉
dan.. ehm… akhirnya aku harus mengatakan ini setelah aku lihat ulang racauanku di author note terlalu banyak :

review-nya ya?

 

 

 

3 thoughts on “[Nightmare] Eternity

  1. Halo, Sasa!! Saya lihat link di twitter dan iseng-iseng main ke sini sembari nontin Brazil main🙂 Nonton Piala Dunia kah kamu?

    Oke, ceritanya panjang tapi panjangnya itu pas, bukan cerita yang sengaja dipanjang-panjangin. Ada beberapa pengarang yang ceritanya panjang banget tapi banyak scene dalam cerita itu yang kesannya enggak penting. Kalau bagi saya, ceritamu enggak seperti itu. Alur ceritanya enggak cepet banget dan enggak lelet banget.

    Cerita cinta Taekwoon dan Sojin di sini sedih tapi keren juga sih. Yang satu buta, yang satu lagi jantungnya bocor. Cerita cinta dua manusia yang saling kekurangan dan dua-duanya juga mau berkorban demi pasangannya. Tapi akhirnya, Sojin yang kasih jantungnya. Tapi kalau dilihat-lihat, kalau udah kayak gitu, salah satu memang harus mati ya…

    Jadi, ceritanya ini tentang Taekwoon yang istilahnya susah ‘move on’ dari Sojin yang sudah lama wafat, sosoknya terus terbayang di benak Taekwoon, lalu setelah dia kecelakaan itu, Taekwoon ketemu Sojin di alam bawh sadarnya. Begitu kah? Kadang-kadang kalau ceritanya panjang itu, otak saya suka error😀 Yang masih jadi pertanyaan adalh kenapa Taekwoon bisa koma padahal cuma tabrakan biasa?

    Soal EYD, saya enggak banyak komentar deh. Ada beberapa typo sih, tapi itu tidak sampai taraf mengganggu dalam ceritamu😀 Penggambaran dua karakter utama juga jelas, Taekwoon yang rapuh lalu Sojin yang kelihatannya tabah tapi tetap menyimpan kesedihan😀 Soal diksi, kamu lebih tahu lah dari saya.

    Intinya, cerita kamu tak pernah mengecewakan😀

    Sekian komen tak berbobot dari saya. Dan, maaf banget saya lupa kasih credit ke kamu soal poster fortune cookie kemarin. Nanti di chapter satunya saya enggak akan lupa deh.

    Sukses selalu untukmu dan selamat berpuasa ya!!
    Andri Valerian..

    1. Halo kakak… ehm… btw, tv kabelku belum dibayar sejak 4 bulan yang lalu kalo gak salah, jadi aku cuma bisa liat TVRI… kkkk aku sendiri kalo sepakbola masih suka nonton yang dalam negeri sih, kalo piala dunia aku gak begitu ngeh /padahal ya sama aja, cuma beda kualitas lapangan doang /ditendang

      wah,,,makasih kak :” belakangan ini beberapa orang yang komen di fic-ku biasanya komennya “alurnya kecepetan” dan semacamnya, jadi kadang parno sendiri habis nulis, termasuk nulis nih fic TT dan… aku pikir nih cerita terlalu panjang, tapi kata kakak udah pas jadi aku bisa lega :”)

      iya kak, salah satu dari mereka harus mati… nyesek /siapa suruh/

      iya… bisa dibilang gitu kak, jadi Sojin kan udah meninggal, tapi Taekwoon kan masih belum bisa nerima kenyataan, terus dia berusaha meyakinkan kalo SOjin masih hidup, nah, itu istilahnya kan “kesedihan yang mendalam (?)”, kondisi dimana seseorang gak bisa mengikhlaskan seseorang yang ia sayangi meninggal, nah. Sojin jadi gak tenang gitu kalo pergi, soalnya Taekwoon sendiri gak hidup tenang. rasa sayangnya Sojin sendiri inilah yang buat dia jadi datang ke dunia lagi, nemenin Taekwoon selama 5 tahun itu. Terinspirasi dari cerita orang-orang dulu gitu loh kak, kalo orang yang udah meninggal itu gak bisa meninggalkan orang yang belum ikhlas menerima kepergiannya, gitu. mudeng gak? ._.
      dan…. kenapa Taekwoon koma padahal cuma tabrakan biasa? /jengjeng/

      karena pada dasarnya dia pengen mati tapi gak berhasil, begitu kasarnya x) //ditendang Taekwoon// kata orang sih, keinginan + alam bawah sadar itu sinkronasinya kuat gitu kak, jadi kehidupan itu ya dipengaruhi alam bawah sadar juga. nah, Karena Taekwoon pengen ketemu sama Sojin, jadi setelah kecelakaan, pingsan, koma deh :3

      iya, typo kak ==” karena laptop biasanya di bawa Ayah (karena sebenarnya itu laptop Ayah) jadi kali ini ngetik-nya pake laptopnya ibu yang pengaturannya pake bahasa Inggris =_= bisa jadi bias, teh jadi the T_T

      aduh, soal tak pernah mengecwakan itu makasih ya kak /terhura/ :”

      gak pa-pa kak, kan di cover-nya udah ada logoku, jadi gak ada credit pun gak pa-pa x) tapi aku komennya di part 1 aja ya kak, kalo teaser mah, biasanya aku bakal komen gini (termasuk di fic kakak) :

      “CEPETAN YA PART 1-NYA INI ASDFGHJKL SUMPAHHH!!!! CEPETAN LHO GPL //nodong piso//”

      sesimpel itu kak, haghag ==”

      iya kak, sukse juga untuk kakak dan selamat berpuasa😉

  2. Annyeong haseo…woahh ntah mngapa dri kpn aq ngubek” ff ny vixx khususnya leo tpi bru bjodoh dgn ff mu bru skrg pdhl sblumny prnh deh liat blog mu pas nyari chaeki….
    Salutny d m ide ceritany dan pnjabaran ny g bkin bngung n feel ny dpt bgt….over all daebak!!!!

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s