Vivifying


cover1

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Vivifying

Starring :
Ravi (VIXX)

Drabble (>500 W) | AU!, Fantasy | Teen

Dedicated to Earth for Earth Day April 22nd, 2014

Dia tidak tahu.

Bahkan sampai jutaan manah yang tertanam di setiap titik kehidupan terjamah pun, ia tak tahu, sampai kapan eksistensinya terungkap oleh insan yang mengeruk setiap jengkal bentala tempatnya bernaung kini. Ia meringkuk di sudut palka, memeluk lututnya dengan asa yang masih terselip di celah hatinya. Secercah asa akan khalinya diri, meskipun telah berabad-abad lamanya ia tenggelam ke dasar bumi tanpa seorangpun mencarinya.

Oh, banyak yang mencarinya, namun ia tiada tahu.

Tak ada kesempatan baginya, pun tak ada niatan untuk melepas penutup raga yang dulunya bersinau-sinau, namun kini usang karena lekang oleh waktu. Kalau bisa, ia ingin mati saja. Toh, dia telah terkubur di dalam tanah karena hukuman yang tak seharusnya ia tanggung.

Membunuh sang Pegasus suci yang diimankan selalu memberi penghidupan layak pada kerajaan Svony, diperuntukkan untuk memperkuat kemampuan magi kelam yang ia miliki.

Sang paman yang mengalihkan tuduhan itu padanya.

Dan sang pangeran hanya bisa bersabar.

Mata kanannya yang buta sejak lahir pun kini semakin parah, namun entah mengapa mata kirinya masih mampu melihat dengan jelas.

Dan kali ini, sebibit tumbuhan tumbuh di samping kakinya. Ia bermakrifat amat dalam, menerka sebab-musabab tumbuhan itu tumbuh di antara tanah tandus. Setiap makhluk hidup tak mungkin bertahan di antara dinding kelabu tanah yang tanpa pori-pori oksigen di sana.

Kemudian, ia sangsi akan keberadaannya. Akan eksistensi dirinya.

Apa dia masih hidup?

Tapi dia masih merasakan detak jantungnya, mendengar helaan napasnya.

Ia mengamati tumbuhan itu yang semakin lama semakin membesar. Dengan kekuataan yang ia punya, ia memanjat batang tanaman dengan harapan yang kembali mencuat.

.

.

.

Semua telah berubah. Negaranya yang selalu nampak layaknya Nirvana dengan tetumbuhan yang tumbuh berkapling-kapling luasnya, burung-burung khas kerajaan Svony yang memiliki lentera di atas kepalanya beterbangan dengan lincahnya, hewan-hewan pencari nektar dan cahaya-cahaya kecil yang berkilauan di atas bunga-bunga… semua hanyalah tinggal di benak sang Pangeran.

Di matanya hanyalah bangunan-bangunan tinggi pencakar langit yang ia tak mampu menebak terbuat dari apa gedung-gedung itu. Hanya ada satu-dua pohon yang berada di depannya. Jika yang ia tangkap dengan indra pendengarannya dahulu kala adalah celotehan-celotehan hewan yang riang, kini bunyi bising yang ia tak tahu sumbernya benar-benar mengusik.

Ia menatap pilu tumbuhan yang tadi membantunya keluar dari penjara alam yang mengurungnya. Ia nampak kokoh saat sang pangeran memanjatnya, namun kini ia hanya setinggi tanah. Menginjaknya akan membuat tumbuhan itu tak hidup lagi.

Sang pangeran berjongkok, lalu tersenyum. Ia tak peduli akan tatapan orang-orang di sekitarnya yang awas akan keberadaannya. Baju usang, mata kanan yang tertutupi bunga layu serta ranting-ranting yang terserak di antara paras dan lehernya yang usang pula.

“Terima kasih.”

Kata pertama yang tertutur dari bibirnya sejak ia melewati zaman yang tak ia tahu rentang waktu yang terlewati.

“Aku rasa, aku tahu mengapa aku tetap hidup sampai sekarang.”

Ia merenung saat memanjat tubuh tumbuhan itu. Ia mengetahui bagaimana perubahan waktu begitu terasa di dalam sana. Saat tanah masih gembur dan oksigen masih ia rasakan keberadaannya, lalu lama kelamaan semua terasa hampa. Ia tak merasakan kehidupan di sana.

Bumi butuh orang-orang yang sadar akan kehidupan.

Bumi telah memberikan apa yang setiap anak Adam butuhkan, tapi tiada yang menyadari itu.

Bumi tak pernah menuntut ucapan terima kasih, Bumi hanya ingin tetap hidup. Bumi hanya ingin terus menjalankan kodratnya untuk menjadi tempat yang selalu memberi manfaat pada setiap makhluk yang hidup di atasnya.

Tapi tiada yang menyadari itu.

dan pangeran—yang di zaman sekarang bukan lagi pangeran—kini tahu mengapa ia tetap hidup sampai sekarang.

Agar setiap orang tahu betapa Bumi menyayangi setiap yang tinggal di atasnya.

| E.N.D |

okeh… sudah lama sekali sejak saya menulis Cocoon :”) sebenarnya ada banyak ide dan ada banyak sketsa dan ada banyak rencana dan… dan… ah entahlah, aku harus mengorbankan itu semua.. puasa internet, puasa nulis, puasa nyeketsa lelaki-lelaki tampan idol-idol berbakat yang fotonya semakin lama semakin bikin tangan gatel xD, cuma demi fls2n tingkat kabupaten cabang poster.

jadi tiap hari aku harus belajar ngedit segala sesuatu yang berkaitan dengan kenakalan remaja (karena tema utamanya itu). adakah yang ikut lomba serupa dari kabupaten lain? atau dari banyuwangi juga?

nah,… kenapa kali ini aku bisa nulis lagi? karena fls2nnya sudah terlewati kemaren tanggal 26 April :”D kapan-kapan aku bakal berbagi pengalaman pertamaku di lomba poster yang itu, okey?

jadi begini… (jengjengjeng) aku kan baru bisa nyeketsa 1-2 bulan ini, karena sebelumnya aku biasa gambar manga (manganya sama sekali gak antik sumpah). nah, aku ikut lomba poster karena aku pikir lombanya bakal full digital, tapi ternyata aku juga harus gambar manual DX

tapi… tapi…

dengan kemampuanku yang terbatas aku bisa juara harapan 1 lho… aku bener-bener gak nyangka karena itu pertama kalinya aku ikut lomba poster :”)

jadi cerita ini  tuh menggambarkan perasaanku yang sampe saat ini masih gak percaya atas hasil lomba kemaren. rasanya kayak mimpi, tapi kok ada piagamnya :”

keadaan Ravi yang terpendam itu bener-bener apa yang aku rasakan beberapa hari sebelum lomba. pengen gitu rasanya mundur karena semua terasa gelap. aku belum ahli untuk nyeketsa, aku juga gak ahli bikin poster, orang biasanya cuma bikin poster ff, itu alirannya udah beda jauhhhhhh banget

dan saat Ravi manjat tuh tumbuhan, itu tuh menggambarkan perjuanganku (ceilah) pas hari-H nya. aku bener-bener kerja, enjoy aja gitu, soalnya nyeketsa + ngedit itu sama-sama hal yang aku sukai. aku bener-bener kayak gak mikir kalo hari itu lomba, aku hanya mikir “it’s my passion” ya begitulah~~ haha..

dan saat Ravi keluar dan tahu kenapa dia masih hidup setelah berabad-abad lamanya, itu tuh semacam, waktu aku denger pengumuman gitu. rasa senang yang aku rasakan itu bukan rasa senang karena menang, tapi kayak semacam, “Wah, untung aja aku gak mundur kemaren”, “Wah gak percuma aku belajar corel setelah bertahun-tahun berkutat hanya pada photoshop”, “Wah gak percuma aku belajar nyeketsa”, “Wah untung aku gak mengedepankan rasa ‘kalah sebelum perang’,”…

“Wah aku menang melawan ketakutan diri sendiri” :”D

dan ini sengaja aku sangkut pautkan sama hari bumi. cuma beda 4 hari soalnya.. jadi….

Happy Earth Day 2014, See You on another story ^^

5 thoughts on “Vivifying

  1. kosakatanya udah tingkat tinggi ya~ Salut deh, bisa memakainya dengan tepat sehingga bisa memperkuat diksi ceritanya🙂 Terus berjuang ya, sketsanya ga kalah bagus sama ceritanya kok.

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s