[Oneshot] Cocoon


cocoon

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Cocoon

Starring :
Sohyun (4minute), Hyuk (VIXX)

Oneshot (+3800 W) | Sad, Angst, Romance, AU! | Teen

Sohyun tahu hidup hanya sekali.

Sore itu ia memutuskan untuk menikmati hidup dengan bersepeda mengelilingi taman kota. Setidaknya banyak pemandangan yang menghibur perasaannya untuk beberapa saat. Burung-burung yang beterbangan, daun-daun oak yang berguguran, sepasang kekasih yang duduk tenang di bangku taman… ada juga pasangan yang berbaring di rerumputan sambil memejamkan mata karena cahaya matahari yang menyilaukan mata. Memang tak seterik ketika tengah hari, namun cahaya redupnya masih membuat orang-orang yang melihat langit harus mengerjapkan mata.

Ya… semua yang ada di sana memiliki teman. Anak burung yang baru saja sampai di sarangnya setelah belajar terbang bersama ibunya, sepasang sahabat yang bersepeda mendahului gadis itu, bahkan di sisi lain taman, ia melihat seorang pria yang bertekuk lutut di depan seorang wanita sambil memasangkan cincin di jarinya.

A confession.

Sohyun tersenyum kecil. Tiba-tiba ia merasa sendiri di dunia ini.

Dia masih berumur 17 tahun, jadi ia belum memiliki banyak pengalaman hidup.

Pengalamannya hanya sekedar memiliki teman bermain, masuk playground, masuk TK, masuk SD, kembali punya teman bermain. 6 tahun kemudian, ia lulus, masuk SMP, memiliki teman baru, begitu seterusnya sampai sekarang.

Ia punya banyak teman, tapi hanya sekedar teman. Tak pernah lebih.

Ia sedang dalam masa pertumbuhan, jadi berkali-kali perasaannya beralih pada setiap teman lelaki yang ia kenal—tentu saja yang ia anggap tampan.

Waktu SD dia pernah menyukai Sehun, tetangganya, putra bungsu keluarga Oh. Tapi belum sampai mereka berteman lebih dekat, Sehun harus pergi ke Jepang. Ketika SMP, dia pernah menyukai Taehyung, kemudian tidak lagi setelah ia tahu Taehyung menyukai gadis lain. Waktu SMA, dia menyukai Han Sanghyuk, ketua kelasnya.

Itu hanya yang dia ingat. Hanya yang paling membuatnya terkesan.

Yang membuat Sohyun penasaran, apakah itu benar-benar rasa suka? Atau mungkin suka hanya dalam artian teman?

Mungkin pernyataan kedua yang tepat.

.

.

.

Pengalamannya yang lebih berharga adalah bekerja sampingan di cafe milik keluarga Cha, paman dari ibunya. Ia memiliki kakak sepupu di sana. Namanya Cha Hakyeon. Dia selalu merasa nyaman ketika menceritakan semua yang ia alami pada lelaki itu, baik suka maupun duka.

Tiba-tiba ia mengingat laki-laki itu. Sudah lama ia tak bertemu dengannya. Sekitar 3-4 bulan sebelumnya.

Sohyun menghela napas.

Hidup cuma sekali.

Belakangan ini dia sering memikirkan arti hidup, kemudian ia merasa kesal karena lama-kelamaan semuanya terasa memuakkan. Dia belum pernah dicintai, dia belum pernah berkencan, dia belum pernah menikah, dia belum pernah punya anak…

Umurnya masih 17 tahun. Gadis seumurannya jarang memikirkan apa yang ia pikirkan sekarang, karena mereka pikir hidup mereka masih panjang.

Tidak bagi Sohyun.

.

.

.

“Sohyun-a?!” ibu Sohyun mengucapkan nama putri semata wayangnya dengan lembut begitu sang anak membuka mata.

“Sohyun-a?”

Sohyun mengerjapkan matanya dan menelusuri seluruh sudut ruangan. Lagi-lagi hidungnya menghirup oksigen buatan yang terasa panas, membuat napasnya kembali teratur meskipun cukup menyiksa.

Eomma...” rintihnya.

Rumah Sakit lagi…

“Anak bodoh!!” ibunya memukul lengannya dengan kuat, membuat lelaki di belakangnya menahan gerakan sang ibu dengan spontan.

“Dokter sudah melarangmu untuk keluar sebelum keadaanmu memulih, kenapa kau tak mematuhinya?! Kau tahu betapa takutnya ibu?! Kau tak tahu betapa ibu ingin mati rasanya saat tahu kau melarikan diri dari rumah sakit?!”

M-Mian…”

“Untung saja ketua kelasmu bisa menemukanmu saat kau pingsan di jalan tadi, bagaimana kalau tidak?!”

“Nyonya Cha, tenanglah…”

Dan setelah itu, Sohyun baru menyadari keberadaan ketua kelasnya di ruangan itu.

Murid bernama Han Sanghyuk itu.

.

.

.

Gomawo…”

Sanghyuk mengangguk, lalu duduk di kursi lipat di samping ranjang pasien. Ibu Sohyun pulang beberapa menit yang lalu setelah memercayakan keadaan Sohyun pada Sanghyuk untuk sementara waktu.

“Tapi, kenapa kau bisa menemukanku?”

“Kebetulan aku lewat,” jawab Sanghyuk sekenanya.

Sohyun tersenyum kecil. “Aku harap kau tidak kasihan padaku. Aku tidak butuh dikasihani.”

Ck,” Sanghyuk tersenyum sinis, “kau berbaring lemah di sini, siapa yang tidak kasihan padamu? Kau juga selalu berbicara serampangan, tapi sekarang cara bicaramu lemah lembut. Wajahmu juga pucat, masih adakah alasan untuk tidak mengasihanimu?”

“Hei…”

Sanghyuk tertawa. “Tidak. Aku bercanda. Kalau kau ingin tidak dikasihani, harusnya kau lebih peduli pada kesehatanmu.”

Sohyun masih memandang wajah Sanghyuk—yang baru ia sadari—sangat teduh. Wajar saja kalau selama 3 tahun berturut-turut, Sanghyuk selalu menjadi ketua kelasnya. Entah mengapa ia terlihat sangat bertanggung jawab dan bijaksana di umurnya yang masih 18 tahun.

“Kau tahu penyakitku?”

Sanghyuk menghela napas, sebelum akhirnya menjawab dengan anggukan. “Hm.”

“Kau tahu?” tanya Sohyun lagi untuk memastikan.

“Iya.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku ketua kelasmu, lupa?” tanya Sanghyuk dengan pandangan kecewa. Ia merasa Sohyun telah mengabaikan tugas-tugas ketua yang ia emban selama ini. “Liburan musim semi sudah berakhir, tapi kau terus-terusan absen. Banyak orang bertanya padaku, jadi aku mencari tahu apa yang terjadi padamu.”

“Oh…”

Beberapa waktu berlalu dalam keheningan. Hanya helaan napas berat milik Sohyun yang berkali-kali terdengar karena alat bantu pernapasan yang ia pakai.

Pada akhirnya, Sanghyuk memberikan sebuah amplop pink pada Sohyun.

“Apa?”

“Kau tidak ingat?” tanya Sanghyuk.

Sohyun ingin berusaha menggali ingatannya, ditandai dengan kernyitan di dahinya. Sanghyuk mencegah itu terjadi, membuatnya terpaksa mengatakan yang sebenarnya, “Surat cintamu untukku, musim semi 2 tahun lalu.”

“Oh…”

Sohyun membuka lipatan bangau kertas di dalamnya. Ia tertawa kecil.

“Kau orang yang kuno, ya?” Sanghyuk tertawa.

“Tapi, mungkin saat itu, aku salah orang.”

“Salah orang?” Sanghyuk mengernyit, “bagaimana bisa salah orang? Di situ tertulis ‘untuk Han Sanghyuk’… apanya yang salah orang?”

“Maksudku, aku yang salah menyadari perasaanku.”

“Oh, begitukah?”

Sohyun mengangguk. Sanghyuk menghela napas.

“Untung saja, aku tidak memberikan surat balasan ya.”

Sohyun kembali menatap wajah Sanghyuk. Lelaki itu menggaruk tengkuknya, lalu mengambil tas di ujung kakinya.

“Aku harus pulang. Besok aku kembali lagi.”

“Sanghyuk-ssi…”

Dan kini Sohyun mendapati dirinya kembali terperangkap dalam kesendirian yang memuakkan.

.

.

.

Otaknya mengecil. Penyakit langka yang hanya dialami 1 dari 10.000 orang itu entah mengapa memilih Sohyun sebagai korban. Awalnya Sohyun pikir dia memang tidak pantas mendapatkan keberuntungan seperti yang orang lain miliki. Ia pikir ia adalah satu orang yang memiliki kenestapaan, sementara 9.999 orang lainnya mendapatkan kebahagiaan tiada tara.

Tapi lambat laun, ia pikir, itu adalah anugerah.

Ia mau melakukan terapi yang—setidaknya—mampu memperpanjang hidupnya, ia mampu meminum berbagai macam obat yang memiliki rasa yang sama (pahit), ia juga mampu melakukan apa yang dokter sarankan dan mampu menghindar dari apa yang dokter larang. Ia juga mampu menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya yang datang secara tiba-tiba, tak peduli apa yang ia lakukan.

Seperti saat ia bersepeda mengelilingi taman kota kemarin, saat rasa sakit menyerangnya, membuat ia lepas kendali dan menabrak pohon besar di sudut taman kota.

Orang lain memiliki hidup yang lebih panjang daripada dirinya, membuat mereka hidup dengan nyaman dan bisa berpikir ‘masih ada hari esok’. Tapi dia yang memiliki hidup singkat bisa hidup dengan nyaman walaupun yang ia pikirkan ‘masihkah ada hari esok untukku?’

Dokter pernah bilang bahwa hidupnya bisa bertahan lebih dari 3 bulan, bahkan bisa kurang dari itu, dan ia menikmatinya. Awalnya ia malu mengucapkan rasa sayang pada ibunya, tapi setelah ia tahu penyakitnya, ia jadi semakin menyayangi ibunya. Mereka jadi lebih akur.

Saat ia masih sanggup bersekolah, jumlah temannya semakin banyak karena ia memperluas hubungan pertemanannya. Ia hanya ingin tak ada penyesalan saat nanti ia pergi.

Dia lebih banyak tersenyum. Dia bisa menemukan jati dirinya sendiri di umurnya yang tinggal menghitung hari.

.

.

.

Hari ini ia tersenyum senang setelah dokter Park mengijinkannya untuk keluar dari ruang rawat inapnya. Memang tak sepenuhnya berada di luar rumah sakit, hanya di pekarangan rumah sakit, namun itu sudah membuatnya senang. Ia bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya tanpa harus merasa risih.

Ia bermain-main dengan kursi rodanya. Mendorong ke depan, ke belakang, ke samping…

Entahlah. Sebenarnya tubuhnya sudah cukup lemah karena ambruk kemarin sore, tapi ia masih bisa ceria dengan sisa tenaganya. Alasannya hanya satu: baru pertama kali ini dia naik kursi roda.

Terlebih kakak sepupunya Cha Hakyeon menjenguknya tadi malam. Mereka berbincang-bincang hingga larut malam, saling melepas rindu.

Bahkan Sohyun sempat bercerita tentang Sanghyuk.

.

.

.

“Oh, ketua kelasmu itu memberikan kembali surat cinta yang dulu kau tulis untuknya?”

Sohyun mengangguk. “Itu apa artinya?”

“Bisa banyak arti. Bisa saja dia menolakmu, bisa saja dia memastikan kalau surat itu benar-benar kau yang menulisnya… Tunggu…” Hakyeon tersenyum lebar, “jangan-jangan dia menyukaimu?!”

“Jangan bercanda, oppa. Dia hanya ketua kelasku. Lagipula, sekarang aku tak yakin apakah aku benar-benar menyukainya.”

Haish, kau ini… jika kau meragukan perasaanmu sekarang, itu sama saja kau mempermainkan perasaanmu sendiri.” Hakyeon menasihati dengan gaya yang dibuat-buat, meyakinkan Sohyun bahwa ia lebih berpengalaman soal cinta daripada dirinya.

“Tapi…”

“Menurut pemikiranku,” Hakyeon tak mempedulikan Sohyun yang hendak menyanggah ucapannya, “dia menyimpan surat cintamu selama 3 tahun ini karena dia menyukaimu juga, tapi dia malu mengungkapkannya. Mungkin juga, karena dia takut menerima kenyataan jika ternyata surat darimu itu hanya ulah isengmu, makanya dia tak berani menjawab suratmu. Lalu, setelah tahu hidupmu tak lama lagi, ia jadi takut kehilanganmu, makanya dia pikir, harusnya dia menyatakan perasaannya padamu sebelum kau pergi.”

“Begitukah?”

Hakyeon menjentikkan jari, lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya, bergaya seolah ia tahu segalanya tentang lelaki. “Aku berpengalaman, kau tahu?”

“Berpengalaman dalam hal cinta bertepuk sebelah tangan?” tanya Sohyun dengan polosnya, namun membuat air muka Hakyeon berubah keruh.

Oppa, aku tak bermaksud…”

“Sudah malam… tidurlah. Aku akan pulang setelah yakin kau benar-benar tidur!”

.

.

.

“Sohyun-ssi…”

Panggilan itu membuat lamunannya buyar. Ia tersenyum kecil dan melambaikan tangan pada lelaki yang baru saja datang menghampirinya.

“Melihatmu bermain-main dengan kursi roda membuatku ragu kau benar-benar sakit keras.”

Sohyun tertawa.

“Mau bagaimana lagi? Dokter tidak tahu umurku sampai kapan. Bisa 3 bulan lagi, bisa 3 jam lagi… kalau aku sial, mungkin 3 menit lagi.”

Ck,” Sanghyuk berdecak kecil, “sepertinya kau sangat tidak takut mati, ya?”

Sohyun menatap langit biru yang cukup berawan. Semburat cahaya matahari terlihat di antara gumpalan awan yang bergerak mengikuti arah angin. Ia tersenyum melihat sedikit titik berjalan cukup pelan di langit nun jauh di atas sana. Ia tahu itu pesawat.

“Sebenarnya, aku takut,” kemudian ia menatap wajah Sanghyuk yang telah berjongkok di samping kirinya, “setiap sakit kepalaku kambuh, aku merasa, saat itulah aku akan mati.”

Sanghyuk mengangguk, bingung menjawab apa.

“Saat itu juga, aku selalu mendoakan hal yang sama dalam hatiku. Doa yang mungkin tak akan dikabulkan.”

“Apa itu?”

“Tuhan… izinkan aku hidup lebih lama lagi. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, karena selama ini aku hanya mencintai. Aku akan menghargai perasaan orang itu, sekalipun aku tak menyukainya, karena aku tahu rasanya. Rasa perih saat kau tahu orang yang kau sukai tak menyukaimu. Tuhan… izinkan aku berbuat baik pada orang lain, hingga nanti saat aku pergi, tak ada orang yang membenciku. Tuhan… aku ingin orang-orang di sekitarku bahagia saat aku pergi nanti. Aku tak ingin ada air mata nantinya.”

Sanghyuk tersenyum mendengar suara Sohyun yang terdengar sangat tegar, tak ada rasa menahan rasa sedih. Suaranya jernih, sama sekali tak bergetar seperti orang yang menahan tangis. Senyumnya begitu tulus, membuat Hyuk merasa sejuk mendengar ucapan Sohyun, walau jauh di dalam hatinya, ia benci mendengarnya.

“Tuhan… jika kau mau, kau boleh menimpakan rasa sakit seluruh orang di dunia ini padaku, agar tak ada orang lain yang sama menderitanya denganku.”

Sanghyuk menghela napas.

“Itu doa yang sering kuucapkan saat aku sadar bahwa rasa sakit yang kualami telah pergi.”

“Oh… hebat juga.”

Sohyun mengernyit. “Hm?”

“Kau jauh lebih tegar dari yang kukira.”

Sohyun tersenyum. “Aku juga tak tahu sejak kapan aku seperti ini.”

Sanghyuk berdiri, lalu mendorong kursi roda Sohyun dan berjalan pelan.

“Kemana?”

“Keliling rumah sakit,” jawab Sanghyuk asal. Sohyun mengangguk setuju.

.

.

.

“Tadi kau bilang, kau akan menghargai perasaan orang yang menyukaimu, benar?”

Sohyun mengangguk, lalu meneruskan, “Kalau ada.”

“Ada kok.”

Sohyun menimang-nimang. “Siapa?”

Sanghyuk menelan ludah sebelum menjawab, “Aku.”

Sohyun memutar tubuhnya dan mendongakkan wajahnya. “Sanghyuk-ssi?”

“Aku,” ulang Sanghyuk sekali lagi.

“Omong kosong,” Sohyun tertawa, mengira apa yang diucapkan Sanghyuk hanyalah satu ucapan lelucon yang lelaki itu buat demi menghibur dirinya. “Apa buktinya kau menyukaiku? Kau bilang kau menyukaiku karena surat yang kuberikan padamu 3 tahun lalu ‘kan?”

“Buktinya ‘kan, ada di tanganmu. Surat yang kau berikan itu.” Sanghyuk tersenyum kecil, mengingat betapa senangnya ia mendapatkan surat cinta dari gadis yang diam-diam ia perhatikan, “Kalau aku tidak menyukaimu, surat itu sudah kukembalikan padamu. Atau lebih parah lagi, sudah kubuang. Iya ‘kan?”

Sohyun kembali menghadap ke depan, memikirkan apa yang Sanghyuk ucapkan. Sebelumnya ia menatap dalam mata Sanghyuk, dan intuisi wanita yang ia miliki sama sekali tak menemukan kebohongan di dalamnya.

“Kau mau bukti yang lain?”

Sanghyuk berhenti mendorong kursi roda. Sohyun tertegun.

“Bukti a—“

Sohyun terkejut begitu bibir Sanghyuk mencium bibirnya. Cukup lama. Sohyun berusaha mendorong Sanghyuk untuk segera menghindar, namun Sanghyuk enggan beranjak dan mengubah posisi kepalanya, membiarkan Sohyun tetap bernapas.

Tanpa sengaja Sohyun memegang dada Sanghyuk. Dapat ia rasakan detak jantung Sanghyuk yang berdetak lebih kencang dibandingkan detak jantung normal. Bukan berarti ia pernah merasakan detak jantung Sanghyuk sebelumnya, tapi ia sudah sering mempelajari anatomi jantung sejak Sekolah Dasar sampai menengah.

Beberapa lama setelahnya, Sanghyuk berhenti mencium Sohyun dan menatap wajah Sohyun yang sulit diartikan.

“Ayo kembali ke kamar. Sudah waktunya istirahat.”

Sohyun mengangguk.

.

.

.

Selama perjalanan kembali ke kamarnya, mereka lebih banyak diam. Sohyun masih terkejut atas ciuman yang tiba-tiba dari Sanghyuk tanpa ia antisipasi sebelumnya. Ia sempat melirik sekilas pada Sanghyuk yang berwajah datar, berbeda dengan sebelumnya yang selalu tersenyum jenaka. Sohyun tak tahu pasti apa penyebabnya, tapi ia punya satu kemungkinan: Sanghyuk malu karena ciuman itu. Sohyun tertawa kecil ketika ingat detak jantung Sanghyuk ketika mereka berciuman.

“Ada yang lucu?”

Sohyun menggeleng kecil sebagai jawaban, tanpa ia tahu wajah Sanghyuk sedikit memerah.

“Ngomong-ngomong, sebentar lagi festival tahunan sekolah ‘kan?” Sohyun berusaha mengalihkan topik.

“Iya. Aku jadi ketua panitianya lho…” ucap Sanghyuk bangga, sesaat lupa bahwa sedetik sebelumnya ia berusaha menutupi rasa malunya, “ini dedikasiku yang terakhir untuk sekolah karena aku angkatan terakhir, jadi aku akan berusaha sebaik mungkin.”

Sohyun mengepalkan tangan kanannya. “Fighting!”

Sanghyuk mengangguk. “Maka dari itu, mulai besok, bisakah kau banyak beristirahat di siang hari dan terjaga saat tengah malam?”

Mwo?!” Sohyun spontan berteriak, membuat orang-orang yang berada di sepanjang koridor menatap mereka.

“Kecilkan suaramu, kita di rumah sakit. Kau ingat?” bisik Sanghyuk.

“Apa hubungannya festival sekolah dengan permintaanmu itu?” Sohyun balas berbisik.

Sanghyuk kembali mendorong kursi roda setelah sebelumnya berhenti akibat teriakan Sohyun, “Karena mulai besok, aku jadi sangat sibuk dan tak bisa menjengukmu.”

Sohyun tertawa kecil. “Ada-ada saja.”

Sanghyuk bersujud di depan Sohyun dan menggenggam erat tangan Sohyun dengan kedua tangannya. Kedua mata Sohyun membulat karena tindakan Sanghyuk yang cepat. “Ya? Ya? Kumohon… kau ‘kan pacarku…”

Mwo?!” Sohyun kembali berteriak.

Kali ini Sanghyuk tersenyum sambil mengangguk cepat. “Tadi kita sudah berciuman, berarti kita sudah pacaran.”

Sohyun menggigit bibirnya, lalu melepas genggaman tangannya. “Hei, Han Sanghyuk! Biar kuperjelas ini. Aku tidak memiliki cukup banyak waktu untuk menjadi pacarmu! Tadi aku sudah bilang, bisa saja 3 bulan, 3 minggu, atau mungkin 3 hari lagi aku ma—“

“Maka dari itu, kau harus jadi pacarku di sisa waktu itu. 3 bulan, 3 minggu, atau 3 hari lagi. Ya ya? Kau sendiri yang bilang, kau akan menghargai perasaan orang yang menyukaimu…”

“Menghargai bukan berarti diwujudkan dengan berpacaran…” Sohyun kembali berdalih.

“Oh, Ayolah. Aku tak minta apapun darimu. Aku hanya minta, jagalah dirimu baik-baik, istirahat cukup dan saat tengah malam, saat aku beristirahat, kau terjaga dan mengangkat telepon dariku. Mengerti? Itu tidak sulit…”

Sohyun menghela napas berat. Sanghyuk terus-terusan memasang senyum termanisnya, berharap itu mampu meluluhkan hati Sohyun, walau sebenarnya, di hati Sanghyuk sama sekali tak ada rasa ingin tersenyum. Ia cukup hancur melihat wajah Sohyun yang semakin hari semakin pucat.

“Terserah kau saja,” ucap Sohyun akhirnya, membuat senyum Sanghyuk semakin lebar.

“Ayo kembali ke kamar.”

“Siap, laksanakan!” Sanghyuk tersenyum.

.

.

.

1st Night

Sohyun memeluk erat boneka teddy bear-nya yang baru saja Hakyeon belikan untuknya. Ia terus menatap layar handphone-nya walaupun lampu kamar telah dimatikan. Ia mengecek daftar panggilan masuk, barangkali Sanghyuk menghubunginya saat ia terlelap beberapa waktu lalu. Sanghyuk memang tidak bilang bahwa ia akan menghubungi Sohyun tepat tengah malam, tapi Sohyun memasang alarm tepat pukul 12 malam. Meskipun Sohyun tak menyetujuinya, toh ia tetap melakukannya.

Bolehlah. Sebelum mati ia juga ingin merasakan indahnya berpacaran.

“Oh?” mata Sohyun berbinar-binar saat nama Sanghyuk tertera di layarnya. Ia segera mengangkat teleponnya.

“Hallo?” Sohyun berbicara sambil sedikit menguap.

“Wah, kau benar-benar menurutinya…” terdengar jelas di telinga Sohyun suara kegembiraan Sanghyuk.

“Kau tahu? Aku sangat ingin tidur, kau sangat merepotkan…” ucap Sohyun kemudian.

“Kalau begitu tidurlah, jangan matikan handphone-nya..”

Sohyun mengernyit. ”Kenapa?”

“Biar aku bisa mendengar suara napasmu.”

Sohyun tersenyum kecil. “Baiklah, aku mengerti…”

.

.

.

2 minggu kemudian…

Hyuk membawa sebuket bunga ke rumah sakit tempat Sohyun terakhir kali menjalani rawat inap. Ia ingat, ia pernah bermain kursi roda dengan gadis itu di belakang rumah sakit beberapa hari yang lalu.

Dia masih ingat ciuman pertamanya dengan Sohyun, tapi ia tidak yakin gadis itu masih mengingatnya juga atau tidak. Sanghyuk menatap langit di bawah pohon rindang tempat ia bernaung selama beberapa menit ini. Pandangannya pun beralih pada sebuah benda yang menggantung di ujung ranting pohon. Ia meletakkan buket bunga yang dari tadi ia genggam di sela-sela akar pohon, lalu memanjat pohon kekar nan kokoh di hadapannya, tak peduli akan pendapat orang-orang di sekitarnya.

“Kepompong…”

Ia tersenyum puas setelah merasa cukup dekat dengan kepompong mungil di depannya.

Dia memang tak pernah tertarik pada serangga jenis apapun—termasuk kupu-kupu—tapi setelah Sohyun memberikan selembar kertas padanya, ia cukup tertarik pada Kupu-kupu.

Kepompong, lebih tepatnya.

.

.

.

Sanghyuk menatap pilu Sohyun yang kembali terbaring lemah dengan alat bantu yang lebih lengkap dari biasanya. Kondisinya memburuk sejak Sanghyuk jarang menemuinya, tak ada yang tahu pasti mengapa bisa begitu. Sanghyuk merasa bersalah hingga air matanya membasahi pipinya. Sohyun yang menyadari itu langsung menggenggam tangan Hyuk yang berada di samping tangannya.

Gwenchana…” ucap Sohyun lemah, namun masih ada senyuman di bibirnya, “lagipula, penyakitku ini sudah lama. Sejak setengah tahun lalu…”

“Jangan banyak bicara,” potong Sanghyuk, “kau berbicara satu kata saja sudah nampak kelelahan.”

Sohyun hanya tersenyum menanggapinya.

“Istirahatlah,” Sanghyuk kembali berucap sambil membenarkan posisi selimut Sohyun, “maaf, sudah membuat penyakitmu lebih parah dari sebelumnya.”

“Tidak. Kau membuat hidupku lebih lama…”

“Hei, anak nakal!”

“Aku serius…” Sohyun menghela napas, “hari itu, saat aku jatuh dari sepeda, harusnya aku sudah…”

“Aku sudah menyuruhmu istirahat. Turuti kata pacarmu yang tampan ini.”

Sohyun menghela napas, lalu menghapus air mata Hyuk, menggenggam pipinya cukup lama. Hyuk balas menggenggam tangan Sohyun dan memejamkan mata, merasakan kehangatan yang mendalam di sana.

“Sanghyuk-ssi… Saranghaeyo…”

.

.

.

Setelah itu, Sohyun menutup mata.

Sanghyuk menghela napas berat. Kulit kepompong di depannya perlahan terkuak. Sebuah sayap yang masih terlipat tersembul di dalamnya.

Ia tersenyum.

.

.

.

Ia berdiri cukup jauh di belakang kerumunan yang menghadiri pemakaman Sohyun. Nampaknya banyak orang yang menyayangi Sohyun, bahkan nenek-nenek cerewet penjaga kantin pun datang ke pemakamannya. Sanghyuk masih merasa bersalah atas penyakit Sohyun, jadi ia tak berani bertatap muka dengan keluarga Sohyun.

Saking dalamnya pikiran akan rasa bersalah, ia tak menyadari Hakyeon—kakak sepupu Sohyun—berdiri di sampingnya.

“Kau tidak ingin bertemu dengan ibu Sohyun?”

Sanghyuk menoleh. Mendapati Hakyeon berdiri di sampingnya, ia menunduk tanda hormat.

“Eish, kenapa kau memberi hormat seperti itu?” Hakyeon menepuk bahu Sanghyuk.

“Soal kepergian Sohyun, kau tak perlu merasa bersalah. Memang sudah waktunya.”

“Tapi, aku yang membuatnya harus terjaga sepanjang malam. Bukannya memperingan, aku malah…”

“Kau tahu tidak?” Hakyeon memotong ucapan Sanghyuk, enggan mendengarkan ucapan rasa bersalah yang lebih memuakkan, “sebenarnya, menurut perkiraan dokter, Sohyun tak mampu bertahan hingga 2 bulan lalu.”

Sanghyuk tertegun.

“Penyakitnya baru diketahui 4 bulan yang lalu, dan saat itu semuanya tak pernah lebih baik dari yang diinginkan. Awalnya dia hanya mengeluh migrain, makanya tak ada yang tahu jika penyakitnya separah itu. Hampir seluruh sel otaknya mengecil.”

Hakyeon tersenyum. “Tapi, entah mengapa, ia mampu bertahan sampai sejauh ini. Bahkan pengecilan otaknya sempat terhambat. Saat aku tanya mengapa ia mau bertahan, jawabannya sederhana.”

Sanghyuk tercekat. “Apa?”

“Dia ingin bertemu Sanghyuk.”

Sanghyuk tertawa kecil, masih tak percaya atas apa yang di dengarnya.

“Tapi saat itu, yang dia pikirkan hanyalah perasaan padamu yang tak menentu.. dia tak tahu dia menyukaimu atau tidak, jadi dia tidak berani menemuimu. Baru kalau dia telah yakin bagaimana perasaannya padamu, dia mau menemuimu. Tapi ternyata, kau yang menghampiri Sohyun terlebih dulu. Bukankah dia beruntung?”

“Tapi…”

Hakyeon tak berkata apa-apa lagi, tapi ia menggenggamkan sebuah amplop pada Sanghyuk.

“Sohyun memintaku memberikan ini, jauh-jauh hari sebelum ia pergi. Mungkin dengan membaca ini, kau tak akan menyesal lagi.”

Mata Sanghyuk beralih pada amplop di tangannya dengan perasaan yang sulit diungkapkan.

“Tetap semangat!”

.

.

.

Sanghyuk-ssi

Aku sangat ingin bertemu denganmu, tapi aku tak tahu apakah aku punya cukup keberanian untuk bertemu denganmu. Makanya aku hanya ingin menulis untukmu. Haha… kau tahu betapa pengecutnya aku ‘kan?

Kau tahu, sejak aku tahu penyakitku ini—pengecilan otak atau apalah—aku tahu aku terlalu menyia-nyiakan waktuku. Andai saja aku lebih menggunakan waktu, mungkin aku tak akan bingung seperti ini.

Sekarang aku bingung harus seperti apa.

Maka dari itu, aku seperti kepompong.

Awalnya aku larva yang masih buruk. Aku masih malu atas semua hal. Pelajaran, persahabatan…

Termasuk kau.

Aku malu mengakui bahwa perasaanku padamu itu sungguhan suka. (ya, tafsirkan sendiri suka yang bagaimana). Andai saja aku tak malu, mungkin 2 tahun terakhir dalam hidupku ini, aku akan hidup bahagia. Ehm, setidaknya aku tahu bagaimana perasaanmu padaku, lalu aku lega.

Ah, sial. Penyakit ini seperti merubahku menjadi kepompong.

Ya, kepompong.

Selama menjadi kepompong, larva selalu berharap untuk menjadi yang lebih baik dari bentuk asalnya ‘kan? Menjadi kupu-kupu.

Tapi aku tidak.

Hari demi hari, aku menunggu sesuatu yang aku sendiri tak tahu kapan datangnya.

Kematianku? Ya, ya. Memang mau menunggu apa lagi?

Tapi ada hal yang lain yang ingin kutunggu.

Huh, kau sekarang tahu betapa bodohnya aku? Bukannya menyatakan rasa suka, aku malah diam diri menunggu kedatanganmu. Aku terlalu malu.

Tapi, jika suatu saat nanti aku telah menjadi kupu-kupu (kata lain dari kematian. Istilah khusus untukku, haha), aku pasti akan bahagia. Entah mengapa, aku merasa saat itu, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Orang-orang yang mengenalku akan mengenangku sebagai orang baik, orang-orang memiliki banyak kenangan baik tentangku…

Dan entah mengapa, firasatku bilang, saat itu, aku sudah mendapatkan kehangatan darimu.

Bagaimana bisa ya? Sampai sekarang saja, aku masih malu mengungkapkannya.

Tapi, jika nanti aku sudah jadi kupu-kupu, kau mau ‘kan, tersenyum untukku?

Sekarang, yang bisa kulakukan hanyalah berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku tak ingin menjadi kupu-kupu bersayap patah. Aku ingin jadi kupu-kupu yang bersayap indah, menyenangkan setiap sanubari insan yang melihatku. Karena setiap melihat kupu-kupu, aku selalu merasa senang.

Hiduplah dengan semangat, Sanghyuk-ssi… jika kau putus asa, ingatlah aku. Tuhan masih menyayangimu, makanya dia memberikan kesempatan hidup lebih lama daripada aku.

Bukan berarti Tuhan tidak menyayangiku. Tuhan sangat menyayangiku, makanya dia memberiku waktu untuk berbuat baik sampai Dia memanggilku. Kau tahu, Tuhan punya banyak cara untuk menunjukkan rasa sayang-Nya. Salah satu contoh nyatanya, rasa sayang-Nya pada kupu-kupu.

Baiklah, sekarang aku akan kembali menjadi kepompong.

.

.

.

Perlahan, tubuh kupu-kupu dari dalam kepompong mencuat keluar. Kaki-kaki kurusnya mulai merangkak ke dahan dan mendorong tubuhnya untuk melesat terbang ke udara.

“Kupu-kupu…” Sanghyuk menatap kupu-kupu itu dengan puas. Seumur hidup, baru pertama kali ini ia melihat kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Indah sekali.

“Begitukah kau berubah, Sohyun-ssi?” Sanghyuk tersenyum.

.

.

Baiklah, aku akan bahagia untukmu.

Selamat untukmu karena kau sudah berubah menjadi kupu-kupu.

 

 

 

 

 

//

2 thoughts on “[Oneshot] Cocoon

  1. Tadi lagi nyari ff hongbin-yura di google dan namu link wp ini. 97line? Beneran? Kita seumuran tapi kayaknya pembendaharaan kata (/apaansih) kamu lebih bagus (and I love it). Analogi kepompongnya juga keren, dan feelnya dapet. Pernah bikin drabble hyuk-sohyun tp ganyangka ada yg sepemikiran… Anyway, nice oneshot! c:

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s