#2 Hello, Baby


500

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Hello, Baby

Starring :
Jung Taekwoon Vixx, Han Miyoung (OC or You)

Ficlet Series | Family, Romance | G

Inspired by:

click this link ^^

Preview Part :

#1 | #2

“Bagaimana rasanya memiliki anak pertama? Bagaimana rasanya mengurus bayi prematur?”

Taekwoon dan Miyoung tahu jawabannya.

“Bagaimana kalau kita namai Tae Gyong? Jung Tae Gyong?” ucap Taekwoon sambil memilih beberapa baju bayi dengan senyum lebar, sementara gadis di sampingnya bingung menyesuaikan posisi gendongan yang tak begitu pas dengannya.

“Terdengar bagus.”

Taekwoon menatap Miyoung karena merasa respons Miyoung terdengar biasa saja, bahkan terkesan tak peduli. “Hei…”

Wae?” Miyoung menatap Taekwoon dengan wajah tanpa dosa, membuat Taekwoon berdecak kecil.

“Kenapa kau mencoba gendongan itu? Tae Gyong masih berumur 1 bulan, itu gendongan untuk bayi berumur 6 bulan ke atas.”

Miyoung mengangkat kepalanya, seraya bertanya, “Lalu kenapa kau membeli ini?”

“Untuk berjaga-jaga…” Lalu Taekwoon melepaskan gendongan yang dipakai Miyoung dan menaruhnya kembali ke dalam tas belanja yang dibawa Miyoung.

Ya, mungkin karena yang mereka asuh adalah bayi lelaki, maka Taekwoon-lah yang paling antusias dalam memilih semua perlengkapan bayi yang dibutuhkan. Baju, botol susu, bahkan kereta bayipun dia yang memilih, sementara Miyoung hanya berkata, “Itu bagus”, “lebih baik yang itu”, atau mungkin “oh, itu lebih baik.”

Sepertinya, jika berkaitan dengan anak-anak, jiwa mereka akan tertukar. Taekwoon yang pendiam dan cool akan berubah menjadi lelaki yang cerewet dan penuh senyuman, sementara Miyoung yang banyak tingkah dan banyak bicara menjadi sedikit pendiam dan tersenyum manis jika sang Ayah begitu menyayangi anaknya. Saat di panti asuhan dulu juga seperti itu.

“Miyoung-a…”

Hm?”

Taekwoon menghela napas. Pada akhirnya ia menanyakan satu hal agar Miyoung menanyakan perihal nama bayi yang baru saja mereka adopsi.

“Kau tidak bertanya kenapa aku memilih nama Tae Gyong?”

“Oh, iya. Kenapa Oppa memilih nama itu?” tanya Miyoung acuh tak acuh.

Taekwoon yang awalnya menatap wajah Miyoung kini kembali sibuk dengan beberapa baju bayi yang terlihat lucu di depannya, sedikit tersenyum jahil membayangkan ekspresi Miyoung jika tahu alasan penamaan bayi mereka. “Taekwoon – Miyoung, jika digabungkan menjadi satu terdengar seperti Tae Gyong ‘kan?”

Wajah Miyoung yang awalnya datar berubah cerah. “Benarkah?”

Taekwoon mengangguk. “Karena kita yang menemukannya.”

Wajah Miyoung kembali berubah tanpa gairah. “Oh, iya.”

Miyoung menggigit bibirnya. Ia terlalu berharap. Dan seperti yang Taekwoon harapkan, Miyoung terlihat salah tingkah. Ia tertawa kecil.

“Aku tidak sabar membawa Tae Gyong pulang ke rumah.”

Miyoung mengangguk setuju.

.

.

.

Oppa…”

Hm?” Taekwoon menanggapinya dengan menggerakkan dagunya ke depan, menginstruksikan Miyoung untuk membukakan pintu apartemennya karena kedua tangannya yang penuh dengan barang. Miyoung membuka pintu selebar mungkin dan membiarkan Taekwoon masuk lebih dulu.

“Apa tidak masalah seperti ini?”

Taekwoon menatap Miyoung sekilas, lalu meletakkan semua barang yang ia bawa ke sofa biru di ruang tengah. “Apanya?”

“Kita mengasuh bayi itu bersama.”

Taekwoon menelengkan kepalanya, menatap Miyoung dengan heran. “Katamu kau ingin tetap dekat denganku? Ini salah satu cara yang bagus…”

“Bukan begitu,” Miyoung menggaruk tengkuknya dengan jari telunjuknya, “maksudku, kita bukan sepasang suami istri, lalu mengurus anak bersama…”

Taekwoon menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tanpa Miyoung katakan pun, Taekwoon sudah memikirkannya dengan matang. Bukan hal yang mudah, terlebih hubungan mereka hanyalah sebatas sahabat, tak lebih. Meskipun Miyoung menyukai Taekwoon, tapi tidak dengan Taekwoon.

Kalaupun membesarkan Tae Gyong dengan status Nuna dan Hyung, pasti akan lebih rumit lagi kedepannya. Akan lebih banyak kebohongan yang menyakitkan Tae Gyong nantinya. Siapa orang tuanya? Di mana orang tuanya?

Mungkin mudah bagi Miyoung jika ia mengaku sebagai kakak kandungnya. Ia tinggal bilang bahwa orang tua mereka telah meninggal, karena pada kenyataannya keduanya sama-sama dibuang oleh orang tuanya. Tapi bagaimana dengan Taekwoon? Bagaimana jika saat orang tua Taekwoon kembali, mereka tak mampu menerima Tae Gyong sebagai adik laki-lakinya?

Lagipula, jarak umur mereka dengan Tae Gyong lebih dari 21 tahun.

“Miyoung-a…”

Miyoung menggigit bibirnya, takut Taekwoon akan memarahinya karena pertanyaannya yang—setelah ia pikir—akan memperumit keberadaan. “Ya?”

“Kita jalani seperti rencana awal saja.”

Miyoung mengernyit, semakin tak mengerti atas rencana Taekwoon.

“Kita pikirkan saja Tae Gyong. Semua pasti akan berjalan dengan semestinya…” tanpa menunggu ucapan Miyoung, ia bergegas pergi ke dapur dan membuat Mochaccino yang biasa menjernihkan pikirannya.

Oppa…”

“Jangan pikirkan resiko. Kalau kau memikirkan resiko, maka yang baik-baik tak akan pernah kau sadari kedatangannya.”

Miyoung menghela napas. Apa yang Taekwoon ucapkan benar adanya.

.

.

.

Tae Gyong sudah bisa di bawa pulang saat hari pertama musim semi datang. Taekwoon tak henti-hentinya mengajak Tae Gyong bercanda saat ia tahu Tae Gyong mulai bisa menggerakkan kepalanya.

“Matamu jernih sekail, Sayang…”

Sesekali Tae Gyong menguap, Taekwoon spontan menutup mulutnya dengan jari telunjuknya, meskipun ia sendiri—entah kenapa—spontan mengikuti gerakan bibir Tae Gyong, lalu kembali tertawa.

Oppa, airnya sudah siap.”

“Oke.”

Perlahan, Taekwoon membuka pakaian Tae Gyong dan menggendongnya ke kamar mandi.

“Kau yang mandikan.”

Miyoung terkejut saat Taekwoon menyerahkan bayi itu ke dekapannya, sementara ia hanya berjongkok di samping bak mandi biru yang berisi air hangat.

“K-Kenapa aku?”

“Kau pernah memandikan bayi saat di panti asuhan ‘kan?”

Tangan Miyoung gemetaran, takut bayi rapuh itu jatuh dari dekapannya. “Aku tidak pernah… Bunda Kim melarangku belajar memandikan bayi…”

“Kenapa?”

“Karena…”

Taekwoon menghela napas, lalu kembali menggendong Tae Gyong sambil berkata, “Rasanya aku tahu kenapa.”

Tangan kanan Taekwoon memegang erat tubuh Tae Gyong, sementara tangan kirinya membasuh tubuh kecil Tae Gyong.

“Kemarin aku diajari perawat. Saat itu kau masih kuliah.” Lalu Taekwoon mengambil sabun mandi khusus bayi yang baru lahir dan memijat pelan tubuh Tae Gyong. Mata Tae Gyong terbuka lebar, tanda bahwa ia menikmati mandi pertama bersama…

Ya. Ayahnya.

Kaki Tae Gyong menendang kuat hingga mencipratkan air ke tubuh Taekwoon. Miyoung sedikit terkejut, takut Tae Gyong terlepas dari tangan Taekwoon, namun untungnya tidak. Ia mengelus dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdetak kencang. Berbeda dengan Miyoung, Taekwoon malah tertawa sembari mengeramasi rambut tipis Tae Gyong.

“Bagus, Tae Gyong-a, kau sudah punya kekuatan.”

Miyoung menggigit bibirnya. Ia kembali berjongkok, lalu membantu Taekwoon membilas busa-busa di sekujur tubuh Tae Gyong.

“Nah, besok seperti itu juga. Kuajari.”

Miyoung mengangguk ragu.

“Kau harus bisa. Kau sudah pernah menyebutkan bahwa kita punya jadwal yang padat ‘kan? Nanti kita bagi waktu. Ada kalanya aku yang sibuk, ada kalanya kau yang sibuk, jadi tidak mungkin Tae Gyong selalu aku yang mandikan.”

“Iya…”

.

.

.

Untuk mendandani bayi, tentu Miyoung lebih ahli. Di panti asuhan, Bunda Kim memang tak pernah mengijinkannya memandikan bayi, tapi tiap kali Bunda Kim selesai memandikan bayi-bayi di panti asuhan, Miyoung selalu mendandani mereka.

“Hati-hati, jika kau paksa nanti tangannya patah,” ucap Taekwoon saat melihat Miyoung berusaha memasukkan tangan Tae Gyong ke lengan bajunya yang panjang.

Miyoung berdecak kecil. Rasa kagumnya pada Taekwoon saat memandikan Tae Gyong menguap begitu saja setelah Taekwoon mengucapkan kalimat yang mustahil itu. “Oppa berlebihan. Serapuh apapun bayi, tulang mereka tak akan patah hanya karena memakai baju. Lihat?”

Jari-jemari Tae Gyong keluar dari ujung lengan, begitu pula tangan yang satunya. Miyoung tersenyum kecil saat mengancingkan baju Tae Gyong. Baju itu berwarna biru dan bermotif Mickey Mouse. Ukurannya terlalu besar bagi Tae Gyong, mengingat Tae Gyong adalah bayi prematur dan ukuran tubuhnya terlalu kecil dibandingkan bayi normal.

“Tekuk dulu lengannya jika terlalu panjang, lalu pelan-pelan masukkan tangan bayi ke lengan saat otot tangannya mengendur, jadi tidak dipaksakan.”

Setelah selesai, Miyoung bertepuk tangan sekali sambil tersenyum cerah.“Lihatlah… Dia tampan sekali…”

Taekwoon tersenyum kecil, lalu meninggalkan Miyoung dan Tae Gyong.

Oppa mau kemana?”

“Membuatkan susu untuk Tae Gyong!”

.

.

.

Taekwoon dan Miyoung duduk di ruang tengah sambil melihat tv. Miyoung memakan keripik kentang yang baru saja ia beli di supermarket, sementara Taekwoon memakan omelet yang dibuatkan Miyoung untuknya. Mereka beristirahat sejenak setelah yakin Tae Gyong tertidur dengan pulas di ranjangnya.

“Kenapa kau tidak makan nasi?” tanya Taekwoon.

“Sedang tidak mood,” jawabnya santai. Sesekali ia mengganti channel tv saat tayangan di layar tidak sesuai dengan keinginannya, sementara Taekwoon tak sekalipun protes. Ia tahu Miyoung tak pernah melihat tv di rumah kontrakannya.

Hening beberapa saat, ketika mereka melihat satu acara tv yang dirasa cukup menghibur.

Kemudian rasa bosan menghampiri Miyoung, membuatnya menguap beberapa kali.

Oppa..” Miyoung menatap Taekwoon yang duduk di atasnya.

Hm?” Taekwoon balas menatap Miyoung dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebenarnya Miyoung cukup senang melihat Taekwoon memakan omelet buatannya dengan lahap, tapi ia sembunyikan rasa senang itu.

“Aku pulang dulu, ya? Besok aku ke sini lagi.” Miyoung mengambil tas punggung yang ada di samping Taekwoon, “tak perlu mengantarku ke depan. Makanlah sampai kenyang.”

“Kenapa kau tidak tinggal di sini saja?”

“Apa kau gila? Bagaimana pendapat tetanggamu!”

“Kenapa harus pedulikan pendapat mereka selama kita tak melakukan apa-apa?” Taekwoon meminum air putih di meja kaca yang sudah ia sediakan.

“Tapi…”

“Lagipula, kita sudah punya anak,” potong Taekwoon enteng.

Baiklah. Awalnya Miyoung pikir ucapan Taekwoon terdengar konyol. Tapi, kenapa harus mempedulikan ucapan orang lain? Mereka melakukannya atau tidak, hasilnya tetap sama saja. Para tetangga akan berpikiran yang ‘lucu’ tentang mereka.

Mereka sudah punya anak.

“Aku pulang untuk mengerjakan tugas. Besok ada Mr. Byun sebagai dosennya dan aku tak mau dia memberiku nilai D.”

Belum sempat Taekwoon mencegahnya pergi, Miyoung sudah melangkah jauh ke luar apartemennya. Ia menghela napas. Besok ia pastikan, ia akan membuat semuanya lebih baik. Bukan untuk Miyoung, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk Tae Gyong.

Beberapa saat kemudian…

UUWAAKKHH!!”

Taekwoon kecil menangis keras saat ia baru saja tertidur. Ia menghela napas.

Besok semua akan baik-baik saja, dia yakin.

| To Be Continued |

siapa yang menunggu part 2? haha… karena ini Ficlet jadi sangat cepat progressnya ^^

mind to review? jangan lupa kasih tahu kesan kalian atas sifat kedua orang tua baru kita ini ya xD

5 thoughts on “#2 Hello, Baby

  1. Annyeong aku reader baru, salam kenal, Ceritanya bagus suka bgt apalagi ada sibaby Tae Gyong.
    Krn aku selalu suka cerita dg anak kecil didalamnya bayinya masih mungil lg, bahasanya ringan mudah dipahami, bacanya jd asikk, suka bagian tae gyong dimandiin + dipakein bajuu.. Lucunyaaa.
    Btw next chap kuharap, byk kegiatan sehari2 seorang bayi yg jg ada di real life dimasukin.. pokoknya sukaa.🙂

  2. Annyeong saeng, seru nih ffnya!
    Ga ngerti sama jalan fikiran Taekwoon oppa saat mengatakan hal” seperti itu yg membuat Miyoung hrs berfikir keras n mau ga mau menyetujuinya kkkk.
    Kasian sama bayinya, Ya Allah masa cuman sebesar botol, prematur bgt ya~

    Ditunggu keluarga kecil (?) moment ini selanjutnya yaa😉
    Keep writing n fighting!!^^

  3. nyari part dua nemu yang disini. yaudah ngomen sekalian *yak berenti curhatnya*

    duh papa taek kok mempesona disini. jadi pengen jadiin taekwoon suami idaman /digorok N/

    rasa-rasanya taekwoon udah mulai care sama miyoung. moga cepet jatuh cinta ya biar taegyong ga bingung…

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s