[Vignette] ALIVE


ALIVE

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Alive

Starring :
Seolhyun (AOA), Hyuk (VIXX)

Vignette (+3500 W) | Sad, Angst, Friendship, slight! Romance, slight! surrealism | General

I believe in you, the one miracle
The only person whose hand I hold

(F(x) – Airplane)

 “Pesawat terbang?” Hyuk mengernyit. Ia membenahi posisi duduknya, lalu kembali menatap Seolhyun yang duduk di sampingnya dengan pandangan menengadah ke langit, “Seolhyun ingin lihat pesawat terbang?” tanyanya lagi.

Seolhyun mengangguk. “Dari kecil aku tidak pernah pergi ke luar negeri ataupun sekadar ke bandara. Padahal Ayah dan Ibu sering ke luar negeri, tapi mereka selalu menyuruhku mengambil pelajaran tambahan saat sekolah libur, jadi aku tidak pernah ikut mereka sekalipun aku ingin.”

Hyuk mengangguk mengerti, lalu kemudian melontarkan pertanyaan lain, “Kenapa harus pesawat terbang?”

Seolhyun mengernyit.

“Di antara semua kendaraan yang belum pernah Seolhyun lihat, kenapa memilih pesawat terbang? Seolhyun belum pernah lihat kapal pesiar ‘kan? Aku juga yakin Seolhyun belum pernah melihat balon udara.”

Seolhyun terlihat menimang sesuatu di pikirannya. Ucapan Hyuk ada benarnya juga. Kenapa dia memilih pesawat terbang?

Hyuk berbisik pelan di telinga Seolhyun, “Aku sudah pernah melihat semuanya.”

Seolhyun membelalakkan matanya sambil tersenyum. “Benarkah?”

Hyuk mengangguk pasti. Ia berdiri dan menggandeng tangan Seolhyun erat. “Ayo.”

“Kemana?”

Hyuk berlari sambil tertawa riang, alih-alih menjawab pertanyaan Seolhyun.

.

.

.

Seolhyun mengerucutkan bibirnya serta menggembungkan pipinya setelah berhasil menaikkan layang-layang bergambar pesawat terbang yang baru saja dibuatkan Hyuk. Ia menarik benang dengan malas, sekadar menghargai usaha Hyuk dalam menghiburnya. Setelahnya, ia menoleh ke arah lain. Tempat di mana Hyuk dengan sangat gembira menerbangkan layang-layangnya yang bergambar balon udara.

“Bagaimana, Seolhyun? Bagus ‘kan?” ia terkekeh, sementara Seolhyun mengangguk lemas.

“Kenapa?” Seolhyun sedikit terperanjak. Belum sampai 5 detik ia mengalihkan pandangannya dari Hyuk, tahu-tahu lelaki itu telah berdiri di sampingnya.

Bukankah jarak Hyuk dengannya cukup jauh tadi?

“Seolhyun marah padaku karena aku cuma memberi Seolhyun layang-layang?” selidik Hyuk.

“Tidak. Hanya saja, tadi aku terlalu berharap,” jawab Seolhyun lesu, membuat Hyuk semakin merasa bersalah.

“Maaf ya. Aku Cuma ingin menghibur.

Seolhyun tersenyum. “Tak apa. Terima kasih. Ini cukup menghibur kok,” Seolhyun mengalihkan pandangannya pada layangannya yang sedikit berkilauan terkena cahaya matahari, “pesawat terbangnya juga ada di langit, seperti yang asli.”

Hyuk menghela napas pelan. “Maaf.”

Seolhyun tertawa kecil, “Kan aku sudah bilang…”

“Kalau Seolhyun melihat pesawat terbang yang sebenarnya, lalu pergi, kita tak akan pernah bertemu lagi.”

Seolhyun berhenti tertawa. Ia menatap Hyuk yang ia kira masih berdiri di sampingnya, namun ternyata ia telah berada cukup jauh darinya, kembali tertawa dengan layang-layangnya seolah tak terjadi apa-apa.

Apa maksud Hyuk?

.

.

.

Just once in a day, I remember you, miss you
Just once in a day, I try to forget
This can’t be right, this can’t be right

(CN Blue – Can’t Stop)

Seolhyun mengerjapkan matanya saat mendapati dirinya berada di ruang belajarnya. Ia duduk tegap dengan sejumlah buku tebal berada di depannya. Ia melihat jam dinding.

7.50 malam.

Ia menelengkan kepalanya. Lagi-lagi seperti ini, batinnya.

Selalu ada suatu saat ia merasa jenuh, lalu kemudian—entah bagaimana kronologinya—ia akan tertarik ke dunia di mana ia merasa sangat senang. Di saat-saat tertentu pula, entah saat ia merasa cukup puas akan rasa senangnya atau saat ia merasa bingung atas tingkah Hyuk, ia akan kembali ke kondisi semula.

Dia bersama Hyuk lebih dari satu jam, tapi saat ia kembali ke dunianya, seolah waktu terasa berhenti.

“Seolhyun?”

Ia menatap datar ibunya. “Wae?”

“Ibu hanya ingin memastikan kau benar-benar belajar. Nilaimu turun, kau juga tidak mendapatkan peringkat 1 paralel lagi…”

Seolhyun muak mendengarkan ambisi ibunya yang terus-menerus ia dengar sejak pengumuman akhir semester 2 bulan lalu, di mana peringkatnya turun 8 tingkat. Ia mendesah keras dan menghampiri ibunya sambil menatapnya kesal.

“Aku bisa merebutnya lagi!” desisnya, kemudian menutup pintu dengan keras.

.

.

.

I can’t let you go, I can’t give you up
You make me feel a li li live

(ZE:A – Ghost Wind)

Selalu ada saat di mana Seolhyun yakin bahwa Hyuk itu nyata, namun ada kalanya ia merasa Hyuk hanyalah teman khayalannya.

Banyak pertanyaan yang selalu berhasil membuatnya yakin Hyuk itu benar-benar ada, benar-benar eksis, seperti : Kenapa ia harus punya teman khayalan, padahal di dunia nyata ia selalu memiliki banyak teman? Kenapa ia harus membayangkan teman laki-laki, padahal di dunia nyata dia memiliki banyak teman laki-laki? Mungkin dia memang ingin memiliki kakak laki-laki mengingat dia hanya putri tunggal, tapi ia tahu kehadiran Hyuk bukanlah sebagai kakak, tapi sebagai teman. Lalu, bagaimana bisa ia membayangkan sosok lelaki berwajah rupawan yang memiliki suara yang bisa ia ingat dan berbeda dengan suara orang-orang yang ia kenal? Bahkan sesekali Hyuk datang dan mengajarinya pelajaran yang sulit ia terima, lengkap dengan seragam sekolah yang sama dengannya.

Dari situ, ia yakin bahwa Hyuk benar-benar ada.

Tapi, ketika ada masa tersendiri, di mana Hyuk tidak datang menghampirinya dan membuat ia bertanya pada teman-temannya, “Di mana Hyuk?”, mengapa yang ia terima hanya kernyitan yang kemudian diiringi gelak tawa?

“Apa kau melamun? Siapa Hyuk itu? Teman SD-mu?”

Bahkan saat sisa-sisa kesenangannya setelah bermain dengan Hyuk masih ada (ya, senyum kecil atau sedikit tawa riang), orang-orang disekitarnya akan menghampirinya dan bertanya,

“Kau baik-baik saja? Kau sedang ada masalah ya?”

Seolhyun menghela napas. Kali ini ia memilih untuk meneruskan tugas matematikanya yang hampir selesai dan bergegas tidur.

“Kalau kau terus-terusan bermain dengan temanmu Hyuk itu, kau bisa gila.”

Seolhyun kembali berhenti menulis saat mengingat ucapan Mina, sahabatnya. Awalnya Seolhyun berpikiran positif bahwa Mina muak karena terus-terusan mendengar ocehannya tentang lelaki bernama Hyuk, namun lama-kelamaan, ia menyadari bahwa apa yang Mina katakan benar. Mina tak pernah tahu siapa Hyuk dan seperti apa Hyuk, sekeras apapun Seolhyun berusaha mendeskripsikannya.

Mungkin Hyuk hanya ilusi.

Dan Seolhyun bisa gila?

.

.

.

The reason I live is you
I don’t think I can see you anymore, I think I’m really dying
The person to love me is you
Shine on me in the darkness

(B.A.P – 1004 (Angel))

 “Insomnia lagi?”

Seolhyun menoleh. Lagi-lagi Hyuk berdiri di sampingnya, tepat setelah dia membaringkan tubuhnya di atas rerumputan halaman rumahnya. Seolhyun tidak bosan akan kehadiran Hyuk, tapi kali ini ia hanya memikirkan ucapan Mina. Biasanya ia abaikan, namun kali ini—entah mengapa—ia ingin menghiraukannya.

Awalnya ia berhasil meyakinkan diri kalau Hyuk benar-benar nyata. Tapi kali ini ia kembali ragu.

Tapi kalau ia ragu, kemudian yakin bahwa Hyuk hanya ilusi, sudah pasti Hyuk akan pergi.

“Apa yang membuatmu insomnia?” Hyuk berjongkok, tak mengerti bahwa benak Seolhyun sedang kalut karena dirinya.

“Tidak ada. Hanya tidak bisa tidur,” Seolhyun berbohong. Sebisa mungkin ia tidak menatap mata Hyuk dengan terus memandang 1-2 bintang di langit.

“Bagaimana kau bisa tidur kalau kau sendiri tidak berusaha menutup mata?” Hyuk tertawa, merasa apa yang ia ucapkan adalah satu lelucon yang lucu. Beberapa detik setelahnya ia berhenti tertawa ketika tahu Seolhyun tak menanggapi leluconnya.

“Kau masih marah padaku karena pesawat tadi?”

Seolhyun bangkit dan menghela napas, “Tidak. Aku tidak marah padamu.”

Hyuk memeluk kedua lututnya. “Lalu kenapa?”

“Tadi kau bertanya, Kalau aku melihat pesawat terbang yang sebenarnya dan pergi, kita tak akan bertemu lagi. Maksudnya?”

Hyuk berdehem kecil. Seolhyun kesal ketika menemukan Hyuk telah berdiri jauh di depannya sambil memasukkan kedua tangannya di saku jeans-nya.

“Tadi itu aku hanya bercanda,” ucap Hyuk sambil tertawa kecil, begitu merasakan keberadaan Seolhyun di sampingnya. “Memangnya, mulai kapan Hyuk serius?”

Seolhyun tertawa kecil. “Iya. Memang mulai kapan Hyuk serius?”

Setelah beberapa saat tenggelam dalam pikiran masing-masing, Seolhyun kembali berbicara,

“Terima kasih kau sudah mau jadi temanku.”

Hyuk menatap Seolhyun. Raut wajahnya dalam penuh makna, namun Hyuk belum bisa menerjemahkannya.

“Kau teman terbaikku setelah Mina. Kau baik. Saat ibuku membakar semua novel yang kupunya, kau menghiburku. Saat aku jenuh pada semua pelajaran, kau mengajakku bermain.”

Hyuk mengangguk, sesekali mengernyit. Entah mengapa ia merasakan kesedihan atas ucapan Seolhyun. Ia tahu Seolhyun tidak mengucapkannya demi perpisahan, tapi firasatnya berkata lain.

“Bisakah Seolhyun hentikan ucapan terima kasih itu?” ucap Hyuk pada akhirnya. Ia tersenyum hambar pada Seolhyun yang kini menatapnya tak paham.

“Aku hanya berterima kasih, Hyuk… tidak lebih. Apa yang kau lakukan selama ini lebih dari yang kuharapkan. Aku ingin membalasnya dan aku tidak tahu bagaimana caranya. Bahkan aku pikir, ucapan terima kasih tak cukup untuk…”

“Aku berteman dengan Seolhyun dengan tulus…” Hyuk kembali memotong, kemudian mengalihkan pembicaraan, “Seolhyun suka berada di sini karena Seolhyun suka Venus ‘kan? Dari sini, Venus bisa terlihat kalau langit cerah.”

Seolhyun mengangguk pelan. “Ehm.”

“Aku ingin menjadi Venus bagi Seolhyun. Selalu menjadi cahaya bagi Seolhyun, atau mungkin menjadi malaikat pribadi Seolhyun. Keren ‘kan?”

Seolhyun kembali bungkam.

.

.

.

I wanna be with you, always from a step behind you
Don’t forget there’s a person who will protect you

After I met you, I found something to do
It is to make you smile all day, every single day

(Vixx – Love Letter)

Pagi itu, di belakang halaman sekolah, Seolhyun menjaga ketentraman hatinya dari segala pikiran yang mengusiknya belakangan ini dengan membaca novel ringan yang ia pinjam dari Mina. Lebih baik meminjam daripada memiliki sendiri tapi selalu ada rasa takut akan amukan ibunya yang menganggap semua novel itu tak ada gunanya.

Setidaknya untuk detik itu, Seolhyun lupa akan ambisi ibunya perihal peringkat paralelnya, lupa akan tugas-tugas sekolah yang harus ia kerjakan…

Lupa akan Hyuk.

Walaupun kemudian, lelaki itu kembali muncul secara tiba-tiba dengan seragam sekolah yang selalu membuatnya nampak kekanakan. Seolhyun mendesah pelan.

Baiklah,dia nyata. Aku tidak menginginkan kehadirannya untuk saat ini, tapi kini dia berdiri di depanku!

“Seolhyun…”

Hm?” Seolhyun pura-pura mengabaikan Hyuk dengan memasang headset dan mendengarkan lagu, walaupun sebenarnya ia tak memainkan lagu apapun.

“Hyuk harap, Seolhyun mendengarkan ini…”

Hyuk mengela napas sebelum melanjutkan perkataannya, “Kemarin, saat Seolhyun mengucapkan terima kasih, Hyuk akan berterima kasih pula pada Seolhyun. Itu yang selama ini Hyuk tunggu.”

Seolhyun membuka lembar berikutnya, seolah tak mendengar apa-apa.

“Sebenarnya Hyuk tahu, selama ini Seolhyun bingung karena Hyuk. Hyuk itu nyata atau hanya ilusi Seolhyun. Iya ‘kan?” Hyuk tertawa hambar, “Hyuk itu hidup… di dunia ilusi.”

Seolhyun mengernyit, kendati belum mengalihkan pandangannya pada Hyuk.

“20 tahun lalu…”

.

.

.

 “Ibu sudah gila?! Biaya sekolah saja ibu belum bisa melunasinya!! Bagaimana bisa ibu menyuruhku untuk kuliah?” Hyuk menatap tajam ibunya yang gemetaran memegang celengan babi.

“Karena itu, ibu sudah menabung.”

“Apa?!” Hyuk mengernyit.

“Bukan hanya ibu, tapi Ayah juga…” ibu Hyuk dengan bangga menyodorkan celengan babi itu ke genggaman anaknya, “sejak kecil, Ayah dan Ibu tahu Hyuk anak yang pintar, jadi Ayah dan Ibu ingin Hyuk mendapatkan pendidikan yang layak.”

Hyuk menghela napas, tak sanggup menalar pemikiran ibunya yang terlalu polos menurutnya.

“Dulu, Hyuk pernah bilang, Hyuk ingin jadi dokter ‘kan?”

“Apa tidak berat?” tanya Hyuk sambil tertawa sinis, “Apa tidak berat? Uang koin yang menumpuk di dalam celengan babi itu, apa tidak terlalu berat untuk jurusan kedokteran?! Yang benar saja, bu!!” Hyuk menampik celengan babi itu hingga terjatuh ke lantai. Terdengar bunyi gaduh akibat isi dari celengan itu berhamburan ke segala arah.

“Jika ibu punya uang untuk ditabung, kenapa ibu tidak punya uang untuk membelikan obat Ayah?!”

“Itu karena…”

“Ayah lebih butuh! Asalkan ibu tahu, kuliah tidak mempermudah kehidupan kita, yang ada kita semakin hancur!”

“Hyuk…” air mata ibu Hyuk kini deras mengalir di pipinya.

“Jangan paksa aku untuk kuliah,” ucap Hyuk akhirnya. Ia berlari ke luar rumah karena kecewa atas keputusan ibunya. Mungkin terkesan kejam, tapi ia hanya merasa berat ketika melihat Ayahnya terus-terusan berbaring setelah mengerjakan proyek pembangunan yang memaksa tubuh rentanya mengangkat batu-batu berat dan material lainnya. Terlebih saat ia tahu ibunya terpaksa keluar dari pekerjaannya karena kinerjanya yang menurun.

Saat itu Hyuk hanya ingin membantu keluarga dengan bekerja di tempat lain sembari menunggu ujian terakhirnya sebagai siswa SMA, lalu bekerja penuh di tempat yang ia rasa cocok saat ia lulus. Tapi orang tuanya tak menyetujuinya.

.

.

.

“Saat itu, Hyuk berjalan dengan pikiran kacau…” Airmatanya menetes.

“…lalu pergi.”

Seolhyun mendesah pelan.

“Hyuk tahu Seolhyun pikir itu tidak mungkin karena awalnya Hyuk juga berpikir ini mustahil. Tapi, setelah diingat-ingat, Hyuk masih merasakannya. Setelah tubuh Hyuk ditabrak oleh mobil yang sopirnya mabuk saat itu, saat jiwa ini lepas, Hyuk melihat semuanya… Saat kerumunan orang-orang menghampiri tubuh Hyuk yang penuh darah, saat Hyuk dibawa ke rumah sakit.”

“Bahkan saat Hyuk dikremasipun, Hyuk masih tahu bagaimana rasanya.”

Air mata Seolhyun meleleh, turut merasakan kepedihan yang Hyuk rasakan.

“Karena Hyuk pergi karena tidak wajar—kecelakaan—dan memang belum saatnya Hyuk pergi, maka Hyuk harus tinggal di dunia ilusi. Mengabdikan diri pada orang-orang tertentu dengan tulus dan baik, karena pada dasarnya, waktu Hyuk masih hidup, Hyuk bukan orang baik. Bisa dibilang, ini tugas Hyuk untuk membenahi diri.”

Hyuk berhenti sesaat untuk menahan perasaannya sebelum meneruskan. Ia melihat ekspresi wajah Seolhyun yang nampak sedih karena cerita yang ia ucapkan.

“Selama 20 tahun ini, Hyuk sudah mengabdikan diri pada berbagai macam orang. Tidak mudah hidup di dunia ilusi. Kami bertugas untuk menghibur banyak orang yang sedih, menjadi teman mereka, menjadi pendengar baik. Jika mereka sudah mengatakan ‘terima kasih’, berarti kami berhasil melakukan yang terbaik bagi mereka.”

Kali ini Seolhyun menatap Hyuk.

“Yang lebih tidak mudah lagi, lingkungan di sekitar kami dikendalikan oleh orang yang membutuhkan kami.”

Akhirnya Seolhyun bertanya, “Seperti lingkunganmu yang selalu sesuai dengan apa yang kubayangkan?”

Hyuk mengangguk.

“Karena Seolhyun sudah bilang ‘terima kasih’, berarti tugas Hyuk selesai.”

Seolhyun menutup bukunya dan melepaskan headsetnya. “Dasar kau ini…”

“Tapi, bolehkah Hyuk minta tolong pada Seolhyun untuk yang terakhir kali?”

Seolhyun menatap mata Hyuk dalam-dalam.

.

.

.

Kali ini Seolhyun berdiri di depan sebuah rumah tua yang nampak rapuh. Seorang wanita berumur 60-an membuka pintu dengan hati-hati.

“Siapa?”

“Kim Seolhyun. Apa benar ini rumah Han Sanghyuk?”

Ibu itu mengernyit. Nama itu sudah lama tak ia dengar, namun sangat familiar di telinganya.

“Bolehkah aku masuk?”

.

.

.

Seolhyun meremas kedua jarinya. Udara terasa pengap di dalam ruangan yang kini ia duduki. Ia melihat ke berbagai sudut ruangan, banyak sekali sarang laba-laba dan debu. Awalnya ia pikir, rumah Hyuk di lingkungan desa yang ia ceritakan akan sangat menyenangkan. Tapi nyatanya? Seperti rumah hantu!

Baiklah. Lingkungan desa tempat Hyuk tinggal 20 tahun silam memang tak banyak berubah. Seolhyun merasakan udara segar saat menyusuri jalanan yang belum di aspal menuju rumah Hyuk, namun saat melihat rumah gubuk milik orang tua Hyuk…

“Dulu tidak seperti ini,” desis Hyuk, nampaknya merasakan hal yang sama seperti Seolhyun, “dulu lebih rapi.”

Ibu Hyuk memang sangat tertutup setelah kepergian anaknya. Terlebih setelah suaminya meninggal 2 tahun silam karena kanker paru-paru. Ia tak pernah lagi berbaur dengan masyarakat dan memilih menghidupi dirinya sendiri dengan menanam berbagai buah-buahan di kebunnya. Ia merasa itu cukup, setidaknya sampai maut menjemputnya.

“Hyuk sudah tidak tinggal di sini lagi.”

“Aku tahu,” Seolhyun menggigit bibirnya sebelum menyampaikan tujuan utamanya berkunjung ke rumah tua itu.

“Mungkin ini terdengar tidak mungkin, tapi Hyuk berteman denganku.”

Ibu Hyuk membelalakkan matanya. Raut wajahnya yang awalnya datar kini berubah keruh.

“Mungkin ini terdengar ganjil, tapi begitulah adanya.” Seolhyun tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana yang semakin lama semakin kaku. Ibu Hyuk menatap matanya jauh lebih dalam, berusaha mencari satu kebohongan di sana agar ia bisa lega dan mengusirnya. Tapi yang ia dapatkan hanyalah pancaran sinar ketulusan dan kejujuran.

“Hyuk hanya ingin meminta maaf pada Bibi karena kesalahannya 20 tahun yang lalu. Kesalahan yang ia lakukan beberapa saat sebelum ia pergi.”

Ibu Hyuk terisak. “Dia sudah meninggalkan luka mendalam bagiku…”

.

.

.

Seolhyun berdiri di samping Hyuk yang memandang sedih salah satu kendi berisikan abu jasadnya di rumah duka. Ia melihat potret dirinya yang tengah tersenyum bahagia di samping kendi itu, foto terakhirnya semasa hidup untuk album kenangan angkatannya.

“Kau lega?” tanya Seolhyun.

Hyuk menghentakkan napasnya keras. “Entahlah.”

Hyuk meraba fotonya. “Hyuk masih seperti ini?”

Seolhyun mengangguk. “Iya. Masih seperti itu.”

Hyuk tersenyum kecil. Ia menatap Seolhyun, “Masih terasa lho, luka tabrakan itu,” Hyuk menunjuk bagian tubuhnya yang sedikit lebam sambil tertawa kecil, berusaha menghibur diri sendiri, “di sini,” ia menunjuk lehernya, “di sini,” lalu menunjuk pergelangan kakinya, “di sini juga…” kali ini ia menunjuk persendian lengannya.”

Seolhyun tertawa, berniat untuk ikut menghibur Hyuk, “Hanya itu?”

“Sebenarnya masih banyak.”

Mereka tertawa bersama, melepas kesunyian yang selalu menyelimuti rumah duka itu.

Seolhyun kembali menatap kendi di depannya. “Kalau ibumu sudah bisa memaafkanmu, kau akan pergi?”

Hyuk mengangguk. Seolhyun menghela napas berat.

“Hyuk yakin, Seolhyun akan baik-baik saja tanpa Hyuk.”

“Tentu saja,” Seolhyun menatap Hyuk sambil tertawa kecil, “kau pikir aku ini seperti apa sebelum bertemu denganmu?”

Hyuk tertawa kecil.

“Hyuk merindukan Ayah…”

Seolhyun tertegun. Seolhyun baru saja menyadari bahwa kendi di samping kiri foto Hyuk adalah kendi ayah Hyuk. Terukir nama Han Ok Jin di sana.

“Hyuk juga menyayangi ibu…”

Hyuk kembali menatap Seolhyun, “Andai saja Hyuk mau menuruti keinginan Ibu, mungkin tak begini jadinya. Kalau diingat lagi, Ibu ingin Hyuk menjadi dokter, agar Hyuk bisa menyembuhkan Ayah..”

“Kalau kau mau, aku akan kembali menemui ibumu dan meyakinkannya sekali lagi…”

“Tidak perlu,” Hyuk tersenyum, walaupun matanya berkaca-kaca, “Hyuk hanya minta tolong pada Seolhyun untuk sekali saja. Hyuk sangat berterima kasih pada Seolhyun untuk itu.”

Hening beberapa saat. Saking sunyinya, hembusan napas satu sama lain dapat terdengar. Hingga akhirnya…

“Seolhyun-ssi, kau ada di sini?”

…suara ibu Hyuk memecah keheningan, membuat Seolhyun dan Hyuk spontan menoleh ke arah suara.

Seolhyun mengangguk, bingung memilih kata yang harus diucapkan hingga akhirnya ia memilih diam. Ibu Hyuk berjalan mendekatinya dan memandang nanar foto putra semata wayangnya.

“20 tahun ini, aku tidak pernah mengunci pintu rumah meskipun aku tidur, berjaga-jaga barangkali Hyuk pulang tengah malam seperti biasanya. Kami tidak bisa membelikannya buku pelajaran yang ia butuhkan, makanya ia selalu mengerjakan semua tugasnya di perpustakaan desa hingga larut malam. Di hari saat ia dikremasi pun, aku membuka lebar pintu rumahku. Aku berharap aku bisa memukul kepalanya hingga aku puas, hingga rasa marahku menghilang,” sesaat ibu Hyuk tertawa, “padahal aku sendiri yang meletakkan obor pertama di atas jasadnya. Tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau ia telah pergi.”

Seolhyun dapat mendengar dengan baik isak  tangis Hyuk. Ia ingin berusaha menegarkan lelaki yang sering menguatkannya itu, tapi Seolhyun sendiri tak tahu harus berbuat apa. Ia juga tak tahu apa yang akan ia rasakan kalau ia berada pada posisi Hyuk.

“2 tahun lalu, sebelum suamiku pergi, ia tersenyum padaku dan berkata, ‘akhirnya aku bisa bertemu dengan Hyuk’..”

Ucapan itu semakin membuat Hyuk menyesal. Ayahnya meninggal dengan tenang, sementara ia? Hyuk tak sanggup membayangkan bagaimana kondisi Ayahnya 2 tahun ini.

Ibu Hyuk menatap Seolhyun sambil tersenyum penuh harap, “Apakah Hyuk ada di sini?”

Seolhyun mengangguk.

“Bilang padanya, aku sudah memaafkannya.”

Seolhyun menatap Hyuk yang berdiri di samping ibunya. Ia melihat Hyuk menggerakkan bibirnya, mendiktekan sesuatu pada Seolhyun untuk disampaikan pada ibunya.

“Hyuk bilang, terima kasih pada bibi. Terima kasih telah melahirkannya ke dunia ini, terima kasih sudah memberinya kesempatan untuk hidup, terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran tentang arti hidup padanya.”

Tangis sang ibu pecah.

“…Dan maaf, Hyuk tidak sempat mengucapkannya saat ia hidup. Maaf karena telah mengecewakan bibi…”

“Sanghyuk-a…” kaki wanita tua itu lemas. Ia tak sanggup menopang tubuhnya hingga jatuh duduk bertumpu lututnya. Seolhyun berjongkok dan memeluk erat wanita itu sambil mengelus punggungnya.

.

.

.

The only thing I can do is
To love you even more

There might be times when I hurt you
But please know this one thing
Just like always, just like now

I love you, you’re my everything to me
Even after ten years, it’ll be like only one day has passed
I won’t change, I’ll make your heart race every day
I promise you, my love

Vixx – Thank You for Being Born

Seolhyun duduk dengan headset yang menutupi telinganya sejak setengah jam yang lalu. Ia hanya perlu menunggu pengumuman pesawat dengan penerbangan ke London untuk menghentikan kegiatannya mendengarkan musik, sekadar berjalan mengurus administrasi penerbangan dan seluruh kegiatan pendukung lainnya, lalu kembali mendengarkan musik saat pesawat lepas landas.

Setidaknya ia merasa terhibur melihat pesawat-pesawat lain beterbangan sesuai jadwalnya melalui dinding kaca di depannya. Ia menggenggam erat tiket di tangannya. Tiket yang 2 hari sebelumnya diberikan Hyuk padanya sebagai hadiah terakhir.

“Seolhyun harus mendapatkan apa yang Seolhyun inginkan. Hyuk tak akan menghalanginya lagi.”

Hyuk mengucapkannya sembari menggenggamkan tiket itu, tepat setelah Seolhyun mengantar ibu Hyuk kembali ke rumahnya. Tepat setelah Hyuk mendengar ibunya berjanji pada Seolhyun, ia akan kembali hidup normal dan menjalani sisa hidupnya dengan baik.

“Hyuk juga minta maaf, sudah merepotkan Seolhyun selama ini.”

Dan Seolhyun masih ingat jawaban yang ia berikan pada Hyuk.

“Tidak. Harusnya aku berterima kasih lebih awal, Ahjussi.

Seolhyun tertawa kecil mengingat gurauannya pada Hyuk yang membuat lelaki itu mencubit gemas pipinya. Ya, ya. Ahjussi. Umur mereka berjarak 20 tahun ‘kan?

“Hyuk mencintai Seolhyun.”

Saat mengingat ungkapan itu, Seolhyun mendesah sembari tersenyum getir.

“Maaf mengatakannya. Harusnya Hyuk tetap memendamnya, mengingat Hyuk dan Seolhyun tak mungkin hidup bersama. Tapi, Hyuk hanya takut, di kemudian hari, Hyuk akan menyesal karena menahan ungkapan yang harusnya Hyuk ucapkan. Hyuk sudah merasakannya, dan itu perih sekali.”

Entah mengapa, Seolhyun merasa sedih saat mengingat Hyuk mengatakannya. Mengatakan satu kenyataan pahit bahwa mereka berdua tak mungkin bersama. Ia tak ingat lagi sejak kapan Hyuk hadir di kehidupannya, tapi ia hanya merasa, hidup tanpa Hyuk sangatlah kosong.

“Nah, sebelum Hyuk pergi, juga sebelum Seolhyun pergi berlibur, ijinkan Hyuk memberikan perpisahan yang layak.”

Hm?”

Perlahan, Hyuk mendekatkan wajahnya pada Seolhyun. Membiarkan Seolhyun menutup matanya dan mengecup bibir Seolhyun dengan lembut.

“Dasar Ahjussi gampangan,” desis Seolhyun sambil tertawa kecil.

Dia masih ingat, setelah ciuman itu berakhir, ia menangis. Ia tahu pasti setelah itu Hyuk akan pergi. Ia tak akan bertemu Hyuk lagi.

“Jangan menangis, Seolhyun. Bagaimanapun, Hyuk tetap teman Seolhyun. Hyuk akan datang di saat Seolhyun membutuhkan Hyuk, sama seperti sebelumnya.”

Ya. Sama seperti sebelumnya.

Tak akan ada yang berubah.

Toh, sebelumnya Hyuk hanyalah ilusi yang nyata, iya ‘kan?

Sampai sekarang, kalau Seolhyun mau, Hyuk tetap ilusinya. Seolhyun bebas membayangkan keberadaan Hyuk kapanpun dan di manapun ia mau–

“Seolhyun sudah siap?”

Hm.”

–bahkan sekarang pun ia bisa membayangkan kehadiran Hyuk.

I clearly see the world that is meant for us
Fall into my heart, believe in my love

(Vixx – Starlight)

| E.N.D |

Author  Note :

Okelah, kalian tahu fic ini merayakan apa? merayakan kebebasan saya dari UTS yang sudah membelenggu saya 1 minggu 2 hari ni hahaha :lol:  dan aku tahu harusnya aku merayakannya dengan fic happy-komedi (ya tapi aku gak biasa bikin yang begituan) ato setidaknya bikin fic yang happy end… tapi gak tahu kenapa jadinya absurd begini -_-” soalnya kan aku udah 2 kali bikin SeolHyuk dan hasilnya happy-end semua, karena itu aku bikin suatu yang beda, haha.. kali ini mereka terjerembap (?) dalam belenggu pertemanan dan berakhir mengenaskan seperti itu (?). aku sendiri juga gak terlalu ngerti ini feel-nya nyampek ato enggak, yang pasti aku merasa ada satu hal yang melekat di hati setelah buat ini : PUAS!!!😀

oke… mind to review? maafkan keterbatasanku dalam ngarang nih fic :”( dan kalian suka gak karakter Hyuk di sini? xDDD

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s