[Ficlet] Two of Us


two-of-us

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Two of Us

Starring :
Cha Hakyeon (N) Vixx, Minah Girls Day

Another Vixx – Girls Day fic :

Something (Leo – Sojin) | 25 to 15 (Hongbin – Yura) | Voodoo Doll (Leo – Sojin) |

Ficlet (+2500 W) | Sad, Romance | General

Berkas-berkas di ruang kerjanya kembali berhamburan, padahal belum genap 10 menit ia membereskannya. Ia hanya berusaha duduk tenang dan fokus pada desain-desain interior rumah yang dipesan beberapa keluarga baru, namun nyatanya ia tak berhasil. Ia menghentakkan napasnya dan berkacak pinggang. Ia memandang langit-langit ruang kerjanya, lalu beralih pada jam digital yang tergeletak di lantai, ikut terkena hempasan tangan kekarnya.

01.23 AM

Dia meniup surai hitamnya, kemudian membanting tubuhnya ke sofa.

“Wajahmu pucat.” Lelaki itu menyentuh kening gadis di depannya, namun tak sampai semenit, gadis itu menampik tangannya.

“Kau demam,” ucapnya lagi.

“Aku baik-baik saja,” gadis itu menyanggah dengan ketus, “sebaiknya kau pergi.”

Lelaki di depannya mengernyit.

“Aku tak menyukaimu lagi. Aku membencimu, jadi pergilah!” gadis itu membentak.

Lelaki di depannya semakin tak mengerti atas perubahan sang gadis yang sudah tak ia temui hampir 2 minggu.

“Kau membuat hidupku semakin tak menentu, kau tahu?!”

Lelaki itu mulai menebak, “Apa karena ibu tiriku? Tenanglah. Selama Ayah mendukungmu, semua akan baik-baik saja.”

“Iya! Karena ibu tirimu!! Karena ia membanding-bandingkan dirimu denganku! Dia bilang kau pintar dan terpelajar, dia bilang kau tahu sopan santun, dia bilang kau tak ada cela sedikitpun! Sementara aku?! Dia bilang aku anak yang merugikan baginya, dia bilang aku bodoh, dia bilang aku tak akan pernah memiliki masa depan yang cerah… bagaimana perasaanmu jika ibu kandungmu mengatakannya?!”

Lelaki itu terbelalak. “Apa maksudmu, Minah? Ibu tiriku adalah ibu kandungmu?”

Minah mengangguk, sementara air matanya tak dapat ia tahan lagi. “Iya! Ibu yang kuceritakan meninggalkanku yang masih berumur 6 tahun dan juga meninggalkan Ayah yang mengalami masalah kejiwaan! Ibu yang memilih lelaki kaya daripada memilih anaknya!”

Lelaki itu tak mampu berkata apa-apa.

“Hakyeon-ssi…”

Bahkan gadis bernama Minah itu tak lagi memanggilnya ‘Oppa’.

“Kau sudah tahu ‘kan, aku membencimu?! Kenapa kau masih berdiri di sini?!”

“Tapi… Minah…”

“Aku membenci semua yang berkaitan denganmu!!” Minah kembali membentak, kesal karena lelaki itu tak juga pergi dari hadapannya.

“Aku benci dirimu yang lebih disayangi ibuku sendiri! Aku benci Ayahmu yang telah membawa ibu pergi! Aku benci ibu tirimu yang membiarkan Ayah menderita, bahkan sampai Ayah mati pun ia tak peduli! Kau tak tahu betapa menderitanya aku ketika kami tak bisa pergi dari tempat tinggal kami yang busuk itu, sementara kalian hidup dengan mudahnya tanpa satu halangan pun?!”

Hakyeon yang selalu menggenggam erat tangan Minah, kini mengendurkannya. Air matanya tak kuasa mengalir. Ia tahu bukan pada tempatnya ia menangis, tapi kali ini kenyataan terlalu menyebalkan baginya hingga ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Ia ingin memeluk Minah, menepuk punggungnya, lalu menghapus air mata Minah saat isakannya tak terdengar. Tapi saat itu, ia tahu, itu bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.

“Baiklah. Aku akan pergi jika kau ingin aku pergi. Tapi…” Hakyeon menatap dalam mata Minah yang tak lagi bening, namun memerah karena terlalu lelah menangis, “jika kau membutuhkanku, aku akan…”

“Pergi!!” jerit Minah.

.

.

.

Saat Hakyeon memejamkan mata, yang terbayang hanyalah kepedihan-kepedihan Minah setelah mereka berpisah. Ia selalu mengawasi Minah di waktu luangnya, tanpa gadis itu sadari. Ia pernah melihat Minah dimarahi pelanggan restoran tempat ia bekerja karena tanpa sengaja menumpahkan kuah ke pakaiannya. Ia pernah melihat Minah tertidur di bangku taman, pulang tengah malam ke kontrakannya yang tidak bisa dibilang layak…

Bahkan yang terakhir, ia melihat Minah tidur di bar cafe tempat ia bekerja sambil memeluk robot plastik yang pernah ia belikan untuk Ayahnya.

Hakyeon tak tahu pasti bagaimana kondisi kejiwaan Ayah Minah karena ia bertemu Minah saat Ayahnya telah tiada, namun ia dapat menarik kesimpulan bahwa Minah dan Ayahnya pasti sangat menyayangi satu sama lain. Ayah Minah tak dapat berkomunikasi dengan baik dan yang mampu memahaminya hanyalah Minah. Sementara Minah adalah gadis yang sangat pintar, tapi karena latar belakang keluarganya yang tak begitu baik di mata masyarakat, hanya beberapa dari sekian banyak orang yang mau mengenalnya. Wajar kalau mereka saling bergantung sama lain.

.

.

.

“Robot ini kubelikan untuk Ayahku saat aku masih SMP. Saat itu aku senang karena aku menerima gaji kerja paruh waktuku yang pertama. Aku pulang ke rumah dan mengajak Ayah berbelanja, karena aku berjanji pada diriku sendiri, gaji pertamaku akan kugunakan untuk memasak makanan yang sehat untuk Ayah. Ayah tak pernah memakan makanan selain roti pemberian tetangga.

Aku mengajak Ayah pergi ke swalayan terdekat. Saat aku sibuk memilih daging, aku mendengar ada keributan. Ternyata, Ayah ada di ujung swalayan, di depan mainan yang berjejer. Ia menjatuhkan robot ini dan dimarahi oleh penjual robot. Aku bergegas mengembalikan robot itu ke tempatnya, tapi Ayah menangis keras. Terpaksa, aku membelikan robot itu dan hanya membeli beberapa sayuran.” Minah tertawa begitu mengingat keluguan Ayahnya.

“Sejak saat itu, kemanapun Ayah pergi, ia akan memeluk erat robot ini. Bahkan saat mengembuskan napas terakhir, ia masih memeluk robot ini sambil tersenyum puas. Sebelum pergi, ia bilang, tugasnya telah selesai. Ia sudah membesarkanku dengan baik. Ayah yakin, aku adalah anak yang baik dan cantik, tak akan menyimpan dendam pada setiap orang yang melukaiku, selalu tersenyum atas semua yang harus dihadapi… Ayah yakin aku telah menjadi anak yang tegar… Seperti dirinya.”

Minah terisak. “Aku tak lebih baik dari Ayah. Aku memang lebih pintar dari Ayah, tapi aku selalu membenci orang yang membenciku. Padahal Ayah selalu tersenyum pada setiap orang, bahkan pada orang yang telah membuat usahanya bangkrut hingga ia menjadi seperti itu. Pada orang-orang yang meludahinya… ia tersenyum. Tak pernah terucap umpatan-umpatan kasar dari bibirnya… Dia juga menyayangi Ibu sampai ia meninggal. Dia bilang padaku, aku tak boleh memendam dendam padanya dan aku harus terus menyayanginya, karena wanita itu telah melahirkanku ke dunia. Kata Ayah, kalau Ibu tidak ada di dunia ini, Ayah tak mungkin memiliki anak sepertiku.”

“Aku merasa bersalah pada Ayah karena telah membenci Ibu…”

.

.

.

Hakyeon membuka matanya, sadar bahwa air matanya kembali turun. Ia bukan pribadi yang pendiam seperti saudara sepupunya, Taekwon. Bukan juga pribadi yang romantis seperti juniornya, Hongbin. Tapi belakangan ini, ia mudah sekali menangis. Padahal setiap orang tahu pribadinya yang ceria.

.

.

.

Rasa bersalah kembali hinggap padanya ketika cerita-cerita Minah tentang Ayahnya terngiang lagi. Minah tak pernah bermaksud menunjukkan kepedihan atau kemirisan hidupnya pada orang lain, terlebih pada Hakyeon yang sangat ia sayangi, tapi ia hanya ingin menunjukkan pada orang lain bahwa Ayahnya adalah Ayah terbaik di dunia baginya. Setidaknya Minah gadis yang cukup tegar dan kuat, seperti didikan Ayahnya. Ia tak akan menerima belas kasihan orang lain.

Karena itulah, Hakyeon pergi ketika Minah ingin ia pergi. Ia tak ingin Minah beranggapan bahwa ia kasihan pada Minah, padahal pada kenyataannya Hakyeon hanya ingin berada di samping Minah, berbagi suka duka, berbagi canda tawa dan air mata… tak lebih dari itu. Selain itu, Hakyeon tak ingin Minah semakin membencinya.

Mungkin memang sudah seharusnya berakhir.

Mungkin jika ia pergi, Minah akan kembali menjadi gadis yang tegar.

.

.

.

Kali ini, ia kembali berdiri. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya, lalu bergegas membereskan berkas-berkas yang berserakan di seluruh sudut ruangan. Ia tak yakin, setelah ini ia mampu melupakan Minah atau tidak (kemungkinan besar tidak), tapi ia bertekad untuk tetap melanjutkan hidupnya dan membenahi pekerjaannya.

Baru saja ia akan menggambar satu garis penyempurna, ia merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Jantungnya berdebar.

Ia tak yakin itu nyata atau hanya halusinasi semata, tapi ia berusaha berpikir bahwa itu hanya imajinasi. Ia terlalu lama membuka mata dan belum tidur sejak sehari sebelumnya. Mengingat itu, ia yakin bahwa apa yang ia rasakan semu.

Namun saat ia berusaha meraih penghapus yang letaknya cukup jauh, ia merasa dekapannya semakin erat. Ia tercekat, tak tahu harus berkata apa.

Minah tak akan kembali. Kau sudah membuatnya kecewa. Ia berusaha menenangkan batinnya, berpikir bahwa ia tak mampu mengendalikan pikirannya akan kenangannya bersama Minah.

Saat ia berjalan mundur pun, ia merasa ada gerak langkah di belakang kakinya. Ia berniat untuk membalikkan badan, namun terdengar satu suara yang sangat ia rindukan,

“Jangan berbalik.”

Napas Hakyeon tak karuan, terlalu hanyut pada euforia batinnya akan hadirnya gadis yang sangat ia rindukan.

“Biarkan aku memelukmu seperti ini, Oppa…”

Hakyeon tersenyum. Walau lambat laun, ia merasakan adanya tetesan air di punggungnya, tanda bahwa gadis di belakangnya menangis.

“Tapi, aku masih bekerja,” ucap Hakyeon setenang mungkin.

Minah mengangguk pelan.

Hakyeon kembali menghela napas, lalu bekerja sebaik yang ia bisa. Semangatnya kembali bangkit dan kini ia tahu apa yang harus ia kerjakan. Meskipun gadis yang memeluk punggungnya membebani gerakannya, ia tak ambil pusing. Yang penting, karena Minah di sana, ia tak akan kehilangan fokus untuk saat ini.

“Maaf…”

Hm?” Hakyeon kembali membuat garis setelah mengukur perspektif yang tepat untuk posisi jendela kaca di lantai 2.

“Aku berusaha membencimu, tapi aku tak bisa…”

“Aku juga,” jawab Hakyeon singkat.

“Aku ingin kau pergi dan kaupun pergi. Aku pikir aku bisa hidup tenang. Aku tak akan bertemu ibu tirimu lagi, aku tak akan bertemu Ayahmu lagi… Tapi…”

Suaranya tercekat. Hakyeon masih diam, berusaha tenang dan membiarkan Minah bercerita sampai akhir. Seperti yang biasa ia lakukan.

“Semuanya malah terasa semakin berat.” Minah mempererat pelukannya, seolah enggan melepaskan Haekyeon lagi.

“Aku tahu aku bodoh. Aku sudah tahu bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kusayangi. Ibu, Ayah… dan sekarang aku malah melepaskanmu,” di sela isakannya, ia tertawa, “Aku bodoh ya?”

Hakyeon menghela napas. Kedua tangannya yang sejak tadi  sibuk di atas lembar kerja kini menggenggam tangan Minah.

“Jangan membuatku melepaskanmu lagi…” Minah semakin mengeratkan pelukannya begitu menyadari Hakyeon berusaha melepaskan tautan tangannya. Namun Hakyeon tak gentar dan melepaskan tangan Minah dengan mudah. Hakyeon membalikkan badan dan meremas kedua bahu Minah.

“Mina-ya…”

Minah masih merunduk dan terisak.

“Maaf, aku terlalu egois.”

Minah mulai mengangkat kepalanya.

“Aku pergi saat kau minta aku pergi. Aku berpikir apa yang aku lakukan adalah yang terbaik untukmu, tanpa berpikir sedikitpun bahwa semuanya akan semakin berat bagimu.”

Minah kembali terisak.

“Aku pikir aku bisa menebus rasa bersalahku jika aku melakukan apa yang kau mau. Aku pikir semua akan baik-baik saja tanpa aku.”

Minah kembali memeluk Hakyeon. “Tidak… Oppa tidak bersalah sama sekali. Oppa tidak egois…”

Hakyeon mengusap punggung Minah dan sesekali mengecup ubun-ubunnya, berusaha menenangkan Minah yang kini menangis karena penyesalan yang mendalam.

“Maaf… Aku memang bodoh…”

Suara Minah semakin lirih, sementara Hakyeon hanya diam dan memeluknya erat. Air matanya menetes tanpa isakan. Ia menghela napas lega. Hakyeon yakin, Minah tak akan pergi dan Hakyeon tak akan melepaskan Minah lagi, apapun yang terjadi.

2 thoughts on “[Ficlet] Two of Us

  1. Hahh ini mata masih berat banget habis liat endingnya you who came from the stars, baca ini tambah mbrebes (?) air matanya TT.TT
    Baca cerpen begini bikin depresi sendiri, gagal mulu bikin ff sependek ini😦
    absolutely keren kak ^^😀 semua elemennya dapet banget, improve nya kak sasa emang keren banget😉

  2. well, baca ff ini bikin nyesek sendiri ya. feelnya ngena banget, alurnya bagus, keren dah pokoknya. kasihan hakyeon, kasihan minah. heol, good job, author-nim. ditunggu ff lainnya, keep writing~

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s