Monde de Reve


monde-de-reve

Monde de Reve

Fantasy Series of New Atlantic Kingdom

Starring :
Seolhyun (AoA) as Princess Query, Sanghyuk (VIXX) as Phoenix,
Hongbin (Vixx) as Prince of Pisces (Just ending)

Oneshoot (+5000 W) | AU, Happy, Fantasy, Romance | Teen

Read another Series :

Capricorn | Virgo | Aries

Now :

 Aquarius

“Karena aku akan hidup abadi demi melindungi Tuan Putri…”

Note :

Inspired by :

Ken – In The Name of Love (The Heirs OST)
Girls Day – Control

“Bangun, Tuan Putri…”

Gadis yang dipanggil ‘Tuan Putri’ itu menggeliat pelan di atas kasur king size-nya, sesekali menggerutu pelan karena bunyi lonceng kecil yang kerap kali membuyarkan mimpinya. Dan pagi itu, ia memutuskan untuk menutupi telinganya dengan bantal putihnya, berharap ia dapat memasuki lagi ruang bawah sadar yang sering membuainya akan keindahan tiada tara.

“Tuan Putri…”

Sekali lagi, suara lonceng terdengar.

“60 menit lagi!!”

Pelayan istana berumur 40an itu berdecak pelan. Dan seperti hari-hari sebelumnya, ia akan menunggu di samping ranjang tuan putri sambil sesekali memeriksa jam yang menjadi liontin kalungnya, memastikan semua yang ada di kerajaan tepat pada waktunya. Lelaki itu hapal betul, sang Putri Aquarius—biasa di panggil Putri Query—akan bangun tak lama setelah ia membunyikan lonceng. Tentu saja begitu. Putri Query akan menyerah karena ia tak bisa tertidur dan kembali memasuki alam mimpinya.

“Hah!!”

Benar ‘kan?

Belum sampai 60 menit yang ia janjikan—bahkan kurang dari 5 menit—ia terduduk di atas kasurnya dengan rambut acak-acakan. Ia melempar selimutnya yang terbuat dari kapas murni dan dibungkus kain sutra ke sembarang arah, membuat para pelayan tertawa kecil atas tingkah lakunya.

Saat itu, biasanya sang pelayan pribadi Putri Query yang lain—satu-satunya yang seumuran dengannya—bernama Phoenix akan menegurnya dengan lembut. Namun kebiasaan itu berhenti sejak 5 tahun yang lalu, tanpa ada yang tahu apa alasan Phoenix.

“Phoenix?” tanya Putri Query, sesaat melupakan hal yang membuatnya uring-uringan.

Sang pelayan—bernama Belliwick—tersenyum kecil, lalu menggeleng. Jawaban sama yang selalu membuat Putri Query berdecak.

Ya, ya. Pheonix adalah sahabat terbaik sang Putri. Meskipun namanya tergolong aneh di kerajaan Aquarius yang notabene berasal dari air. Tapi hanya Phoenix yang benar-benar mengerti sang Putri. Phoenix, burung api yang hidup abadi dan selalu terlahir kembali setelah jasadnya dibakar.

Itu filosofinya.

Putri Query pernah menanyakan perihal nama panggilan itu pada si empunya, tapi lelaki itu tersenyum kecil dan menjawab enteng, “Karena aku akan hidup abadi demi melindungi tuan Putri.”

Dan sang Putri hanya akan berdecak menanggapi ucapan tulus yang ia anggap sebagai candaan itu.

Tapi, alasan sebenarnya hanyalah karena nama lengkapnya yang terdengar rumit dan lebih mudah jika dipanggil Phoenix. Morfeus Onyx. Terdengar seperti Phoenix bukan?

Padahal, ibunya sangat ingin putranya menjadi pangeran yang bijaksana di wilayahnya dengan memberinya nama yang berarti Penjaga Telaga. Namun nampaknya, Phoenix tak begitu peduli atas apa yang ibunya inginkan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menentukan nama panggilan yang ia sukai.

.

.

.

“Phoenix!” Putri Query berlari riang dengan mengangkat ujung gaunnya, lalu memeluk punggung Phoenix dan berceloteh seperti biasa, tanpa menyadari lelaki yang ia dekap menahan rasa senang yang tak terperi.

“….dan aku bermimpi melihat ekor mereka berkilauan dengan sangat indah di bawah terik matahari. Aku juga merasakan kesegaran air di laguna itu… ah… mimpi yang indah…”

Nampaknya kalimat itu akan berakhir setelah ungkapan kekaguman diucapkan, namun ternyata tidak. Meskipun sekarang Putri Query tak lagi memeluk punggung Phoenix dan hanya berjalan di sampingnya, Phoenix tetap antusias mendengarkan celotehan sang putri. Sesekali ia tersenyum dan mengangguk sebagai responsnya, walau kini ia tengah sibuk menyiram bunga di halaman belakang istana.

“Kau tahu? Aku selalu berandai-andai setelah bangun dari mimpi. Andai saja putri duyung di dunia nyata bisa seindah yang ada di mimpiku… andai saja aku boleh pergi ke laguna…”

Phoenix mengangguk-angguk, seolah ikut merasakan apa yang Putri Query rasakan. Walaupun terbersit rasa jengkel di benaknya, tapi ia enyahkan rasa itu, hanya untuk Putri Query. Toh, rasa jengkel itu tercipta bukan karena sikap Putri Query (oh, yang benar saja. Phoenix selalu menganggap Putri Query itu manis bagaimanapun dia bertingkah), melainkan karena buku-buku sejarah dan buku-buku dongeng yang menceritakan hal-hal buruk tentang duyung-duyung yang tinggal di laguna.

“Phoenix…” Putri Query akhirnya kelelahan berceloteh, hingga ia memberikan waktu bagi Phoenix untuk bercerita.

“Iya tuan Putri?”

Sang Putri memiringkan kepalanya sambil mengernyit, heran pada sahabatnya yang satu itu karena selalu bertindak hormat padanya. “Aku sudah bilang ‘kan, kau boleh memperlakukanku layaknya teman? Lagipula…”

Putri Query memandang keadaan di sekitar mereka. Sunyi, sepi dan damai. Kebetulan matahari bersinar tak cukup terik pagi itu. Bahkan beberapa burung beterbangan sambil menyuarakan kicauan mereka, seolah bermain petak umpet atau sekedar berlarian untuk menyukuri hari ini.

“Tidak ada siapa-siapa di sini.” Pandangan Putri Query kembali bertemu dengan milik Phoenix, “kita sudah berteman dari kecil, bahkan sejak lahir. Kau tahu ‘kan?”

Phoenix tertawa kecil. “Tapi bagaimanapun, aku hanya pelayanmu, Tuan Putri.”

Ck,” Putri Query kesal pada sikap rendah hati Phoenix, maka dari itu ia menyerobot cerek yang ada di tangan Phoenix, “aku juga bisa jadi pembantu di istana ini kalau kau mau. Kau pikir aku tidak merasa jengah melihat kau selalu menunduk di depanku sepanjang waktu?”

Phoenix menahan tawa setelah Putri Query menggerak-gerakkan cerek dengan asal.

“Kenapa airnya tidak keluar?”

“Karena sebenarnya, air di dalam cerek itu sudah habis, Tuan Putri.”

Wajah Putri Query memerah, lalu dengan gusar, ia membanting cerek itu dan pergi meninggalkan Phoenix.

“Tuan Putri…” Phoenix menahan kepergian sang Putri dengan menggenggam lengannya, “maaf, aku membuatmu marah.”

“Aku marah bukan karena air di cerek itu habis!” Putri Query membentak, namun itu membuat Phoenix kembali menahan tawa.

Ck. Dasar tidak peka!”

“Baiklah. Isis?”

Putri Query menatap Phoenix sesaat, lalu kembali pergi. Menyembunyikan ekspresi wajah senangnya. Karena akhirnya, Phoenix memanggilnya ‘Isis’, nama yang sangat ia sukai.

.

.

.

Sebenarnya, Query hanyalah nama resminya sebagai seorang Putri di kerajaan Aquarius. Sama seperti Ayahnya yang bernama Raja Aqua, nama Query diambil dari kata ‘Aquarius’, hanya penunjuk semata. Nama aslinya hanyalah warga kerajaan yang tahu.

Ekhhysis Monius. Mimpi yang indah.

Sang Putri sendiri tak mengerti, di antara semua nama yang bisa menunjukkan ‘air’ atau ‘aquarius’ sebagai nama, kenapa orang tuanya malah memberi nama yang tak ada hubungannya dengan kerajaannya? Lalu ia mengerti setelah bertanya pada sang ratu perihal namanya.

Raja dan Ratu sudah menjalin rumah tangga sejak puluhan tahun lalu, namun tak kunjung memiliki pewaris tahta resmi. Akhirnya mereka meminta tolong pada para tabib—tentunya berdoa pada Dewa-Dewa Air yang mereka puja—untuk membantu masalah serius yang mereka hadapi. Dan kehadiran sang Putri pun diberitahukan para Dewa lewat mimpi indah sang raja 7 minggu berturut-turut sebelum sang Ratu hamil.

Jadilah ia lahir dengan nama itu.

Dan sepertinya, para Dewa menghendaki hidup sang Putri jadi lebih baik dengan meneruskan mimpi-mimpi yang didapatkan Ayahnya. Namun sejak kecil hingga berumur 12 tahun, ia selalu bermimpi buruk, membuatnya uring-uringan dan bertabiat buruk setiap bangun dari tidurnya. Tak jarang ia menangis karena terbayang-bayang oleh mimpinya, hingga ia enggan untuk memejamkan mata.

Tapi, sejak 5 tahun lalu (setelah ia sering menangis di pelukan Phoenix karena mimpi buruknya) mimpi-mimpi itu tak pernah datang lagi, tergantikan oleh mimpi-mimpi indah yang membuatnya sangat ingin tertidur, sangat enggan bangun dari tidurnya, lalu ia akan bangun dengan kecewa karena ia harus kembali di dunia nyata.

Memang, kerajaan Aquarius adalah kerajaan terindah di antara 12 Kerajaan di Atlantis. Setiap hari selalu ada pelangi karena hujan turun setiap matahari berada di puncak, 6 bulan sekali mereka panen berbagai macam buah-buahan dan makanan pokok, pakaian berkilauan karena sutra terbaik yang didapat dari bulu ulat sutra… Semua rakyatnya tak ada yang miskin. Tapi dunia mimpi milik Putri Query lebih indah dan tak mampu dideskripsikan dengan kata-kata.

Meskipun kerajaan Aquarius memiliki banyak kesempurnaan, ada satu klan yang benar-benar dijauhi oleh masyarakat Aquarius.

Klan para duyung yang tinggal di laguna, cekungan terindah yang hanya dimiliki kerajaan Aquarius.

Konon katanya, para duyung pernah membuat kecarut-marutan saat pesta topeng penentuan jodoh raja pertama Aquarius. Sang ratu duyung tidak bisa menerima kenyataan bahwa Raja Aquarius menikah dengan wanita lain karena kenangan-kenangan yang tercipta di antara mereka.

Dan karena nenek sang raja Aquarius (sekaligus tetua penyihir) murka, ia menghukum kaum duyung yang rupawan menjadi buruk rupa dan berperangai jahat. Begitulah yang sering Isis dengar dalam dongengnya. Dongeng-dongeng di kerajaan Aquarius pun selalu memiliki cerita yang sama: kaum duyung menjadi pemeran antagonis, lalu mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhir cerita. Bisa dibilang, itu semua mempengaruhi mimpinya.

Dan ia tidak menyadari apa yang membuat mimpi buruknya berubah menjadi mimpi indah.

Karena sahabatnya, dan ia tak kunjung menyadarinya.

.

.

.

“Phoenix!” Putri Query—yang sekarang dapat dipanggil Isis oleh sahabatnya—duduk di samping lelaki yang ia panggil saat siswa sekolah kerajaan yang lain belum datang.

Hm?”

Putri menyerobot buku yang berada di pegangan Phoenix, membuat lelaki itu mau tak mau memperhatikan sang Putri yang memamerkan deretan gigi putihnya.

“Coba tebak, apa yang akan aku ceritakan.”

Phoenix tersenyum kecil. “Mimpi?”

“Benar! Tadi, aku bermimpi bertemu pangeran duyung, putra bungsu si ratu duyung. Kau tahu, ekor keemasannya sangat indah ketika terkena sinar matahari! Dia mengajariku berenang, mengajakku berkeliling laguna, melihat beberapa terumbu karang….”

“Kemarin-kemarin kau bilang kau bertemu pangeran baik hati, dan sekarang kau bertemu pangeran duyung?” potong Phoenix, berusaha memancing pembicaraan lebih dalam.

Putri mengangguk cepat, senang karena Phoenix begitu antusias mendengarkan ceritanya. “Ternyata, pangeran yang ada di mimpiku adalah pangeran duyung itu. Ah… tidak di air tidak di darat, dia tampan sekali. Andaikan dia benar-benar ada di dunia ini.”

“Kau menyukainya?”

Hm.” Tapi, ungkapan penuh senyuman dari Isis seketika berubah ketika mendapati lekungan hitam yang terlihat samar di mata Phoenix.

“Aku boleh tanya sesuatu?”

“Tentang?” Phoenix mengernyit, heran karena pembicaraan mulai berubah arah.

“Dulu, kau sering menjagaku saat tidur, berjaga-jaga jika aku mimpi buruk, kau akan menghiburku. Tapi, sejak kita berumur 12 tahun, kau tak lagi melakukannya. Kenapa?”

Phoenix terkejut akan pertanyaan itu. Bukan karena ia tak memprediksikan pertanyaan itu akan keluar, tapi ia tak menyangka pertanyaan itu akan dilontarkan pada akhirnya. Pada hari ini. Padahal dia belum memikirkan jawaban yang tepat.

“Eh… itu…”

“Ayah memberimu tugas yang lebih berat saat malam?”

“Iya…” awalnya Phoenix pikir pertanyaan itu bisa dijadikan alasan yang tepat untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Namun kemudian, ia berpikir mengiyakan pertanyaan itu bukanlah hal yang tepat. Ia bisa saja berbohong, tapi tak bisa jika berkaitan dengan Raja Aquarius.

“Maksudku, tidak,” sanggah Phoenix kemudian.

“Lalu, kenapa? Kau jadi sering tertidur di kelas, kau juga jarang ada di istana setiap pagi dan saat aku menjelang tidur. Ayahku menjadikanmu pengawalku ‘kan?”

“Eh… itu…”

Putri Query mendekatkan wajahnya pada Phoenix. “Katakanlah.”

Jantuk Phoenix berdetak kencang. Ia mengerjapkan matanya, lalu berdiri dan membuang muka. “Aku harus membantu Profesor Nymph untuk materi pelajaran nanti.”

Dan tanpa ucapan perpisahan sedikitpun, ia pergi meninggalkan Isis yang benaknya masih dipenuhi rasa ingin tahu.

.

.

.

“Pangeran?”

Dan pangeran rupawan itu tersenyum manis pada Putri Query. Hari itu ia tidak berenang di laguna, melainkan berdiri di halaman belakang istana, tepat di bawah balkon kamar sang Putri.

“Bagaimana bisa kau ada di sini?”

Pangeran itu hanya tersenyum.

Tapi, langit yang biasanya cerah di kerajaan Aquarius kini ditutupi awan kelabu, pertanda akan hujan. Satu hal yang membuat Putri Query tak habis pikir karena hujan di Aquarius selalu turun tanpa awan. Lalu kenapa bisa mendung? Apakah dewa-dewa sedang murka pada kerajaannya? Kalau iya, apa kesalahan yang dilakukan warga Aquarius hingga membangkitkan amarah para dewa?

Bahkan hari itu Putri Query tidak melihat siklus harian air yang mengalir di sungai belakang istana, tak jauh dari taman bunga. Biasanya ia melihat beberapa aliran air naik ke langit, pertanda akan turunnya hujan.

Apakah dewa benar-benar murka?

Ia melihat ke arah Patung Neptunus yang berdiri tegak di samping istana. Tangannya bergetar ketakutan karena mata patung Neptunus yang biasanya memancarkan cahaya biru kini memancarkan kilatan api merah yang membara.

Dan kemudian, Putri Query merasakan genggaman hangat di tangannya. Sang pangeran berucap, “Tenang. Aku di sini.”

Putri Query merasa terhibur, namun ia merasakan adanya bahaya. Sebelum ia tahu bahaya seperti apa yang akan datang, pangeran duyung itu memeluknya erat, lalu mengerang kesakitan.

“Pangeran?!”

Setelah itu, pangeran ambruk di pangkuannya. Sinar api yang menyambar punggung sang pangeran kini meredup.

.

.

.

“Tidak!!”

Para dayang yang berjaga di depan pintu kamar Putri Query bergegas masuk mendengar lengkingan sang Putri.

“Ada apa, Tuan Putri?”

Napasnya terengah-engah. “Aku… mimpi buruk…”

.

.

.

Putri Query benar-benar kesal. Saat ia memasuki kelas seni rupa, ia tak dapat menemukan Phoenix. Di kelas seni musik pun begitu. Sudah 4 kelas ia berkeliling, namun tak ada satu warga sekolahpun yang tahu Phoenix ada di mana. Padahal, Putri Query sangat ingin menceritakan mimpi buruknya padanya.

Tapi, terbersit satu tempat yang mungkin dikunjungi Phoenix.

Taman bunga di belakang istana.

“Kenapa tak terpikirkan olehku, ya?” bisiknya pelan. Kemudian ia gelisah. Berkali-kali ia melihat jam dinding berjarum emas yang berada di samping meja guru. Profesor Cedric, guru sastranya, tak kunjung menyudahi materi, membuat kakinya terus bergerak menggetarkan meja.

.

.

.

Begitu lonceng tua besar di aula berbunyi, Putri Query berlari sambil menggendong tas bulunya. Ia harus segera menemui Phoenix dan menceritakan mimpinya. Hanya Phoenix yang bisa menenangkannya setelah mimpi buruk. Selalu begitu.

Dan seperti yang ia harapkan, Phoenix ada di sana. Berbaring dengan mata terpejam, seolah menikmati kehangatan sinar matahari.

“Hei, kau!”

Phoenix membuka matanya begitu mendengar suara seorang gadis yang begitu dekat dengannya. Ia hanya menggerakkan kepalanya sedikit, mengikuti arah suara. Ia menemukan sosok sang Putri tengah berlari menghampirinya.

“Kau tak tahu aku begitu mengkhawatirkanmu?!” ia berteriak keras setelah lututnya menyentuh rerumputan, “aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau berbaring di sini!!”

Phoenix tersenyum kecil.

“Dasar!”

Putri Query memutuskan untuk berbaring di samping Phoenix dengan berbantalkan kedua lengannya. Sinar matahari tak begitu terik, namun cukup silau hingga ia harus menutup mata.

“Phoenix…”

Hm?”

“Aku mimpi buruk..”

“Ceritakan.”

Putri Query menghela napas, lalu kembali menatap Phoenix. “Kau ingat ‘kan, dari dulu, mimpi burukku selalu menjadi kenyataan. Aku pernah mimpi ada monster laut yang muncul di teluk barat, lalu saat aku bangun, kerajaan menjadi kacau. Aku pernah mimpi tersesat di hutan, lalu keesokan harinya aku benar-benar tersesat. Aku takut, kali ini mimpiku akan menjadi nyata.”

Phoenix tersenyum. Meskipun ia ikut merasakan kegelisahan sang putri, namun ia tak tahu harus merespons seperti apa.

“Kenapa mimpi indahku hanya bisa jadi mimpi?”

Phoenix duduk. Kepalanya sedikit pusing setelah bangkit begitu tiba-tiba.

“Oh, punggungmu?” Putri Query mengikuti apa yang Phoenix lakukan. “ada apa dengan punggungmu?”

Phoenix mengernyit. Dia sudah memakai jas putih yang ia yakin tidak transparan, tapi bagaimana mungkin Putri Query bisa melihat luka di punggungnya?

“Ada sedikit darah,” ucap Putri Query seolah mampu membaca pikiran Phoenix, “sebenarnya, cukup banyak.”

“Bukan apa-apa. Kau tak perlu khawatir.”

Putri Query curiga. Awalnya ia pikir Phoenix hanya sekedar melarikan diri dari pelajaran hari ini, namun kemudian ia baru menyadari wajah Phoenix yang sedikit pucat.

“Tadi malam, aku bermimpi, penyihir jahat yang terkurung di Kastil Tua di sebelah Utara Kerajaan berhasil menemukan mantra yang tepat untuk melepas segel kuno milik raja pertama Aquarius. Ia menimbulkan bencana di kerajaan Aquarius dan membuat patung Neptunus berkilat api pada matanya. Cahayanya mengarah padaku, namun pangeran baik hati yang sering kuceritakan padamu menolongku. Ia tak sadarkan diri.”

“Bagaimana kondisimu setelah pangeran itu menolongmu?” Phoenix berusaha mencegah sang Putri menceritakan cerita pilu itu lebih lanjut. Atau mungkin, yang lebih buruk, Putri Query akan menanyakan pertanyaan yang tidak seharusnya Phoenix jawab.

“Aku baik-baik saja, tapi, pangeran itu…”

“Syukurlah,” Phoenix merespons sambil tersenyum. “setidaknya, jika mimpi itu benar-benar jadi nyata, kau akan selamat.”

“Tapi, Phoenix…”

Phoenix meraih tangan Putri Query dan memaksanya untuk berdiri. “Sebentar lagi makan malam. Kau harus bersiap.”

Putri Query mengangguk pasrah. Seperti itulah Phoenix. Ia bisa menenangkan pikirannya hingga tak terlalu memikirkan mimpi buruknya, setidaknya sampai mimpi itu benar-benar terjadi.

Tapi kali ini, Putri Query memikirkan hal lain selain mimpi buruknya, dan apa yang ia pikirkan kali ini lebih merisaukannya.

Siapa Phoenix sebenarnya?

.

.

.

Saat makan malam, Putri Query hanya memainkan garpu dan sendok peraknya. Ia tak memiliki hasrat untuk menyantap makanan di depannya. Pikirannya hanya dipenuhi akan firasatnya tentang Phoenix.

Sejak 5 tahun lalu, mimpinya selalu indah. Jika mimpi buruknya selalu ada penyihir jahat yang mengusik kehidupannya, di mimpi indahnya selalu ada pangeran rupawan yang berjanji akan terus menjaganya.

Dia pernah bilang, “Aku akan hidup abadi demi melindungi tuan Putri.”

Putri Query tersentak. “Bukankah Phoenix pernah mengatakan hal itu padaku?”

Ia kembali mengingat hal-hal yang terlewatkan baginya.

Sejak 5 tahun yang lalu, sejak mimpi buruknya berubah menjadi indah, Phoenix bukan lagi orang pertama yang ia lihat saat membuka mata. Biasanya, Phoenix duduk di kursi berukiran air di samping kasurnya sambil tersenyum, bersiap menghapus air mata sang Putri, atau mungkin bersiap untuk menahan amarah tuan Putri tentang mimpi buruknya. Namun setelah mimpi-mimpi indah menghampiri, Phoenix tak lagi menemaninya. Meskipun mereka tetap dekat, namun banyak perubahan yang dialami Phoenix, namun sang Putri tak menyadarinya.

Phoenix yang pintar jadi sering tertidur saat jam pelajaran. Bahkan saat musik klasik diperdengarkan, dia ikut tertidur seperti teman-temannya yang lain. Para guru selalu membanggakan kesenangannya pada musik klasik yang tak membuatnya tumbang seperti teman-temannya, namun kini ia sering dimarahi guru karena hal itu. Dulu dia murid teladan, sekarang dia dikenal sebagai ‘tukang tidur’. Meskipun nilainya tak jauh berkurang, namun para guru merasa, tak ada lagi Phoenix yang mereka kenal.

Putri tak menyadari perubahan itu karena Phoenix selalu ada di sampingnya, tak pernah menguap meskipun ia hanya jadi pendengar jika di dekatnya, ikut tertawa saat sang Putri menceritakan hal-hal indah di mimpinya, seolah turut merasakan keindahan yang sama.

Bahkan Phoenix tersenyum lebar saat sang Putri berkata bahwa pangeran di mimpinya sangatlah tampan.

“Bisakah tuan Putri deskripsikan bagaimana wajah pangeran itu?” tanya Phoenix beberapa waktu lalu, di hari pertama sang tuan Putri menceritakan ketampanan pangeran di mimpinya.

“Aku tidak begitu ingat. Samar sekali jika aku memaksa menggali ingatanku. Yang jelas, dia tampan sekali.”

Dan wajah Phoenix saat itu menyemburatkan sedikit kekecewaan.

Putri Query mengingat malam sebelumnya, saat ia mimpi buruk, Phoenix memang tak lagi menemaninya. Tapi keesokannya, ia tak langsung bertemu Phoenix seperti hari-hari biasanya. Baru pada tengah hari, Putri Query menemukannya berbaring di tengah taman bunga.

Dan punggungnya terluka, sama seperti pangeran yang ada di mimpinya ketika menyelamatkannya dari amukan sang penyihir.

“Tidak mungkin,” desis Putri Query. Tapi terlalu janggal kalau hanya kebetulan. Di sisi lain, bagaimana cara Phoenix memasuki alam mimpinya, jika benar pangeran di mimpinya adalah Phoenix?

Ia bangkit dari duduknya, bergegas mencari jawaban atas pertanyaan yang memenuhi pikirannya.

“Aku sudah selesai makan Ayah, ibu. Aku bermain dulu!”

“Oh, Isis?!” panggil sang Ayah, namun Putri Query tak memperhatikan, “anak itu, dasar!” ia tertawa kecil.

.

.

.

Tak ada siapa-siapa di taman bunga itu. Yang ada hanya kesunyian malam dan orkestra kecil yang samar terdengar, dibuat oleh suara-suara hewan nokturnal. Tak ada Phoenix.

Ia sangat kecewa. Biasanya, Phoenix akan ada di sana, menunggu Putri Query selesai makan malam, lalu sedikit berbincang atas apa yang telah mereka lewati. Jika Putri Query sedang ingin, Phoenix akan membacakan dongeng untuknya. Dongeng yang tidak menjelek-jelekkan kaum duyung namun tetap sarat makna.

Ya, Putri Query baru ingat sekarang. Setiap Putri Query akan menceritakan kejelekan kaum duyung di depan Phoenix, ia akan memotongnya dan mengalihkan pembicaraan.

“Phoenix!”

Ia berteriak, namun bukan kehadiran Phoenix yang ia dapatkan, melainkan hanya gema suaranya yang mengganggu pendengaran.

“Morfeus Onyx!!”

Tak ada efeknya. Meskipun kini ia memanggil nama lengkap Phoenix, namun sosok yang sangat ingin ia temui itu tak ada di depannya.

Padahal Phoenix selalu marah ketika Putri Query memanggil nama lengkapnya.

“Nama itu tidak keren, Nona. Nama itu membuatku menjauh darimu.”

“Kenapa?”

“Karena aku jadi penjaga laguna!”

Putri Query mengernyit. “Laguna?”

“M-Maksudku… telaga…”

Ingatan akan percakapan itu membuat Putri Query semakin gelisah.

“Putri Query…”

Sesosok bayangan hitam berdiri tak jauh di belakang Putri Query. Ia menelan ludah, lalu perlahan menghadap ke belakang.

Hmph!!”

Sosok hitam itu mendekap sang Putri hingga tak sadarkan diri, lalu membawanya pergi menjauh dari istana.

.

.

.

Sang raja memijat keningnya pelan, lalu mengalihkan pandangannya pada pengawal pribadi putrinya. Tak habis pikir ia karena kelalaian pengawal itu. Bagaimana mungkin sang Putri diculik oleh penyihir yang baru saja lolos dari jeruji kastil yang konon katanya tak mampu ditembus oleh seluruh mantra di dunia?

“Kemana saja kau tadi malam?!”

Si pengawal hanya menunduk. Merasa bersalah sekaligus menahan rasa sakit.

“Aku selalu merasa bersalah setiap hari pada kaummu setelah aku tahu cerita yang sebenarnya. Bahwa bukan kaum duyung yang menghancurkan pesta pertama kerajaan Aquarius, tapi penyihir jahat yang dipenjara di kastil kuno itulah pelakunya. Aku ingin meluruskan semua dongeng-dongeng di kerajaan ini bahwa kaum duyung tidaklah jahat, namun aku yakin semua itu percuma. Saat itu, Ratu Duyung—ibumu—memberikan perjanjian padaku. Kaum duyung akan memaafkan kami jika mengijinkan kau hidup di sini dan mengabdikan diri pada kerajaan, lalu membiarkanmu memilih pendamping yang tepat untuk menggantikan ibumu suatu hari nanti. Lalu ini yang kau berikan pada kami? Membiarkan Putri Query diculik sang penyihir?”

Hening tercipta. Dan beberapa saat kemudian, raja kembali berucap, “Phoenix.”

Phoenix mengangkat wajahnya. Ia yakin, ia merasa berat untuk mendengarkan kata-kata yang semakin memojokkan dirinya. Maka dari itu, ia berkata, “Aku akan pergi menyelamatkan Putri. Ini tak akan terjadi lagi.”

“Melawan penyihir itu?!” tanya raja sinis, “bukannya aku merendahkan, tapi, sebagai pangeran duyung, apa yang bisa kau lakukan demi melawan penyihir itu?”

Tanpa ada keinginan untuk menjawab, ia membungkuk hormat, lalu berlari meninggalkan raja di singgasana megahnya.

.

.

.

“Putri Kerajaan Aquarius…” Nenek Penyihir itu menyeringai, mengasah pisau di tangannya lalu menjilatnya, berusaha menakut-nakuti sang putri.

“Kulit putih mulus… Wajah rupawan… Sama persis seperti diriku 500 tahun yang lalu, hahahaha!!”

Putri Aquarius memalingkan wajah, merasa risih atas tawa penyihir itu yang terdengar sumbang.

“Dasar putri sombong!” Penyihir itu mencengkeram dagu sang Putri cukup kuat, membuatnya mengernyit dan menatap tajam mata penyihir di depannya.

“Marah?! Kenapa marah?! Karena Kerajaanmu telah banyak membuat karya sastra yang mempengaruhimu untuk membenciku?! Hahaha… Sepertinya apa yang kulakukan telah menjadi kejahatan besar di kerajaanmu!!”

Putri Query mengernyit. Apa yang nenek jelek ini maksud?

“Ya… ya… Akulah tersangka utama pesta pertama kerajaan Aquarius malam itu. Aku tidak setuju atas pernikahan wanita duyung dan Raja Pertama Aquarius, lalu aku merusak semuanya. Dan wanita duyung itu mengutukku menjadi buruk rupa seperti ini, lalu mengurungku di kastil kuno dengan mantra dahsyatnya hingga aku tak bisa keluar!!” wajahnya benar-benar keruh ketika menceritakan kejadian tak mengenakkan tersebut, namun kemudian ia tersenyum cerah, “tapi sekarang, aku berhasil keluar dan menyanderamu!”

Jadi, kaum duyung tak bersalah apapun?

“Sekarang, mari kita lihat, apa keuntungan yang kuraih jika berhasil menyanderamu. Menjadi penguasa Aquarius? Atau mungkin, penguasa Atlantis? Hahahaha!!!”

Putri Query tersenyum sinis. “Orang jahat sepertimu menjadi penguasa?! Bermimpilah!! Apa yang bisa kau banggakan setelah ratusan tahun berada di penjara?!”

“Ho… Putri pemberani…” si Penyihir menyingkir dan menjaga jarak dari sang putri sambil tersenyum, lalu mengacungkan mantranya dan meluapkan segala amarahnya.

“Matilah!!”

Putri Query memejamkan mata, tapi bukan rasa sakit yang ia rasakan, melainkan dekapan hangat seorang lelaki yang sangat ia harapkan keberadaannya.

“Kau…” ia melepas dekapan sang pangeran.

Phoenix tersenyum disela-sela erangannya. “Pergilah…”

Air mata Putri Query berada di ujung mata. Ia menggeleng pelan, enggan meninggalkan Phoenix yang tengah kesakitan. Ia menggenggam erat tangan Phoenix, berusaha menyalurkan sedikit kekuatan pada lelaki yang punggungnya kembali terluka dengan alasan yang sama: menolongnya.

“Pergilah ke laguna. Ibu akan menyelamatkan Kerajaan Aquarius, aku yakin…” ia melepas genggaman tangan sang Putri, meskipun di dalam hatinya berat. Namun ia tahu, bukan saat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. Bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya sekali lagi.

Ia membalikkan badan, berusaha mengalihkan perhatian sang penyihir untuk memberi kesempatan sang Putri melarikan diri.

“Oh, pangeran duyung. Wajahmu sangat mirip nenek moyangmu yang merebut kekasihku!!” penyihir itu kembali tertawa. Ia merasa ia mendapatkan harta yang lebih berharga dibandingkan seorang putri Kerajaan yang tak tahu sopan santun. Seorang duyung memiliki kekuatan yang lebih baik daripada manusia Aquarius biasa. Membunuhnya dan meminum darahnya tentu akan membuatnya menjadi lebih kuat.

“Pilihan yang tepat untuk datang kemari…” Ia tersenyum, terlebih melihat darah menetes dari balik tubuh pangeran itu, “Kau benar-benar siap mati, huh?”

Phoenix meninju hidung tajam penyihir itu hingga patah. Phoenix tertawa lepas, sementara sang Penyihir menatapnya murka.

“Dasar nenek tua!”

.

.

.

Putri Query menangis tak henti-henti di pelariannya menuju laguna. Ia tahu dimana letak laguna berkat peta yang pernah Phoenix berikan untuknya, namun tak sekalipun ia berani pergi ke sana. Semua dongeng-dongeng yang pernah ia baca telah mempengaruhi pikirannya untuk tak sekalipun melangkahkan kaki di laguna.

Tapi kali ini, ia menyesal karena tak sekalipun berani datang ke laguna. Bahkan ia memarahi Phoenix saat lelaki itu memberikan peta berharga itu.

“Kau gila?! Kau menyuruhku ke laguna?! Yang benar saja!! Tak ada keindahan di sana!! Kau mau aku mati?!”

Putri Query menghapus air matanya. Ia tahu, ia telah melukai hati Phoenix berkali-kali, tak terhitung jumlahnya. Di depan Phoenix, ia merendahkan bangsa duyung disisipi dengan umpatan-umpatan yang menyakitkan, tanpa ia pernah kenal bagaimana kaum duyung yang sebenarnya.

“Menuruni bukit… lalu menyeberangi sungai…”

Putri Query kembali mengingat kenangan bersama Phoenix saat di sungai dekat taman sekolahnya. Saat itu mereka masih berumur 5 tahun.

“Kau tidak ingin berenang?”

Phoenix menggaruk tengkuknya. “Aku tidak bisa berenang, tuan Putri.”

“Dasar, kau ini!”

Jika diingat lagi, Phoenix tak pernah menyetujui ajakannya untuk berenang. Ia hanya akan tertawa dan menyirami Putri Query di pinggir telaga, menemani sang Putri bermain air sepuasnya. Ia tidak ingin identitasnya sebagai seorang duyung terungkap. Ia tak ingin dibenci tuan Putri. Ia ingin selalu bersama tuan Putri.

“Lelaki bodoh!”

.

.

.

Phoenix mengumpat karena kebodohannya. Ia berusaha memancing amarah sang penyihir, namun ia tak bisa menemukan satu senjata pun yang bisa ia gunakan untuk melawannya. Tak ada cermin yang bisa memantulkan mantra kotor nenek penyihir itu, tak ada tombak trisula yang dapat membunuh segala aura jahat. Mungkin lain kali ia akan berpikir lebih matang sebelum menyerang.

“Kau sudah kehabisan tenaga, huh?”

Phoenix mengitarkan pandangannya. Dari luar jendela kaca, ia dapat melihat kilatan-kilatan cahaya yang disusul gelegar halilintar. Pukul 8 pagi, namun langit sangat gelap layaknya malam. Itu adalah amukan sang penyihir. Ia merapalkan mantranya dengan murka hingga mengarahkan tongkat sihirnya ke segala arah.

Dan yang paling menyebalkan, apa yang penyihir katakan benar. Ia kehabisan tenaga. Sudah banyak yang ia lakukan demi menunggu bantuan datang. 7 jam berlalu dan ia membuang tenaganya hingga luka di punggungnya semakin lebar. Jika si penyihir merapalkan mantra buruk ke arahnya, yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan dengan menggunakan jurus perisai yang pernah diajarkan ibunya. Tapi ia tidak tahu berapa lama perisai itu mampu menolongnya.

.

.

.

7 jam Putri Query berlari, akhirnya ia mampu menemukan laguna, tujuan utamanya. Dengan sisa tenaganya, ia berniat untuk berenang dan menghampiri istana berkilauan yang berdiri kokoh di tengah-tengah air di depannya. Tapi ia ragu. Jaraknya tak cukup dekat dan tenaganya mungkin tak mencukupi.

“Tuan Putri?”

Ia menoleh ke belakang. Ia mengernyit. Ada sesosok wanita yang begitu cantik rupawan dengan pakaian berkilauan. Rambutnya bergelombang dan ada semburat biru, garis wajahnya tegas, memperlihatkan aura di dalam dirinya yang pasti bijaksana.

“Aku Ratu para duyung,” ia tersenyum begitu yakin bahwa gadis di depannya benar-benar Putri Aquarius. Putri yang sangat dicintai putranya hingga ia rela mempertaruhkan nyawanya.

“Oh, syukurlah…” Putri Query berlari menghampirinya. Ia berlutut sambil menggenggam erat tangan ibu Phoenix.

“Yang Mulia… Aquarius dalam bahaya…”

Jantung Ratu berdetak lebih kencang, merasakan firasat buruk terkait dengan putra semata wayangnya.

“Putramu juga dalam bahaya…”

.

.

.

Untuk menangkis serangan, Phoenix masih bisa. Ia tahu apa yang ia yakini saat itu tak berdasar, tapi entah mengapa, ia sangat percaya, ibunya akan segera datang. Entah membawa trisula—yang tak akan melukai orang baik dan membunuh siapapun yang berbuat jahat—ataupun cermin, atau senjata lain yang ia tidak tahu bagaimana efeknya. Yang pasti ibunya akan segera datang.

Dan belum tepat jika ia membuat perisai saat itu. Belum ada Tuan Putri yang harus ia jaga di sana.

Ia berdiri dengan susah payah, lalu menendang perut nenek tua itu tanpa belas kasihan. Nenek itu jatuh dan menabrak dinding kastil hingga roboh. Awalnya, Phoenix pikir nenek itu akan mati, namun kuda terbang hitam milik nenek itu menyelamatkannya. Dengan kecepatan cahaya, kuda itu menabrak Phoenix hingga jatuh tersungkur. Punggungnya kembali mengucurkan darah.

“Apa kau tidak tahu apa artinya menghormati orang tua?”

Nenek sihir itu menjambak rambut Phoenix dan mengangkatnya tinggi, sementara wajah Phoenix lebam di setiap sudut. Lelaki itu tersenyum.

“Aku tahu. Tapi aku tidak pernah diajari untuk menghormati penyihir tua sepertimu.”

Nenek itu melemparnya ke sudut ruangan, hinga kembali terdengar erangan kesakitan yang membuat nenek itu tertawa senang.

“Phoenix!!”

Putri Query turun dari lumba-lumba—yang entah mengapa dapat terbang di udara—yang menjadi tumpangannya dan berlari menghampiri Phoenix tanpa mempedulikan keberadaan si penyihir. Nenek itu tertawa senang, begitu tahu sandera utamanya telah kembali. Saat ia bergegas menyerang Putri Query, Phoenix memeluknya erat dan menciptakan perisai air.

Sudah saatnya.

“Phoenix…” Putri Query menangis melihat wajah Phoenix yang lebam. Begitu pula jas putih yang ia kenakan setiap menjadi pengawal sang Putri kini berbau anyir dan tak lagi berwarnya putih.

Sementara sang penyihir terkejut begitu melihat kehadiran Ratu duyung yang membawa trisula di tangan kanannya.

“Kau mau membunuhku?! Kau mau anakmu mati?!” nenek itu berusaha mengancam, namun tak berhasil. Sang ratu tentunya tak gentar. Ia tahu benar, meskipun anaknya membuat perisai dengan sisa tenaga yang ia miliki, mantra terkutuk yang penyihir itu ucapkan tak akan mempan. Sang ratu mengarahkan ujung trisulanya ke perut penyihir, namun meleset. Untuk beberapa waktu mereka bertarung di udara.

Putri Query merobek ujung gaunnya, lalu mengusap pelan lebam di wajah Phoenix, bermaksud meringankan rasa sakit sahabatnya.

“Kenapa kau masuk ke mimpiku? Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau melukai dirimu sendiri?! Kenapa kau bertingkah bodoh karena aku?!”

Tanpa ada keinginan untuk menjawab, Phoenix hanya tersenyum dan berbaring di pangkuan Putri Query.

“Maaf…”

Ia melihat ke luar perisai. Ia tahu, ibunya berhasil menusuk nenek sihir itu, terasa dari jatuhnya abu ke atas perisai. Ia tersenyum lega. Ia berhasil melindungi tuan Putri bahkan ketika ia kehabisan tenaga.

Ia memejamkan mata sejenak, melepas rasa lelah.

.

.

.

Sang Ratu meletakkan tubuh anaknya di bibir laguna. Napas putra semata wayangnya itu tersengal-sengal, lelah akibat perjalanan yang membutuhkan waktu lama. Meskipun sepanjang perjalanan ia tertidur di pangkuan Putri Query, namun rasa sakit di punggungnya telah sampai pada titik yang tak mampu ia tahan gejolaknya.

“Isis…” saat membuka mata, samar-samar ia dapati gadis yang ia kasihi menggenggam erat tangannya.

“Kenapa aku memasuki mimpimu?” Phoenix tersenyum, “karena aku tak ingin melihatmu menangis karena mimpi burukmu. Kenapa aku melakukannya?”

Putri Query terisak.

“Karena hanya di dalam mimpi, kau menganggapku lebih dari sahabat. Karena hanya di dalam mimpi, kau membalas perasaanku yang tulus.”

Kemudian, Phoenix memejamkan matanya dan mengembuskan napas dengan keras. Ia tersenyum lega, seolah seluruh beban di tubuhnya telah terangkat.

“Phoenix?!”

.

.

.

5 tahun kemudian….

Hari ke 2 bulan Ofiukus, saat matahari berada di puncah dan langit menurunkan air matanya, Putri Query duduk di barisan paling depan di aula utama. Hari itu ada perayaan ulang tahun yang ke 22 untuknya. Ia mendesah pelan ketika melihat bangku kosong di antara dirinya dan ayahnya. Bangku yang harusnya diduduki oleh pendamping hidupnya. Suaminya.

Tapi Putri Query belum mendapatkan orang yang tepat untuk menggantikan Phoenix. Lagipula, dia masih berharap Phoenix akan kembali.

Ia tersenyum kecil saat mengingat waktu yang mereka habiskan bersama, saat mereka tertawa bersama, menangis bersama, saat dia sering bercerita tentang mimpinya dan Phoenix jadi pendengar terbaiknya…

Oh…

Ia bahkan tak melupakan ungkapan cinta Phoenix yang diutarakan dengan gamblang. Walau hanya di mimpi, euforia akan ucapan itu masih lekat di hatinya.

“Aku mencintaimu, Tuan Putri…”

Bahkan setelah 5 tahun berlalu, ia masih ingat suara Phoenix.

Dan senyuman Putri Query berubah menjadi kernyitan ketika seorang pria tampan menduduki bangku kosong itu.

“Siapa?” tanyanya ketus.

“Aku putra mahkota Kerajaan Aquarius, tuan Putri.”

Putri Query mengangkat sebelah alisnya, semakin tak paham. Sang Ayah yang mendengar percakapan singkat itu memaklumi sikap putrinya. Kemudian ia meminta pangeran asing itu untuk bertukar tempat. Raja Aquarius tersenyum, lalu menggenggam tangan anaknya.

“Phoenix adalah pangeran terbaik yang pernah aku kenal, nak. Ayah tahu cintanya yang tulus padamu, Ayah juga tahu perasaanmu padanya yang kini menganggapnya lebih dari sekedar persahabatan. Tapi, kau harus menerima kenyataan..”

“Ayah, Phoenix masih…”

“Mari kita ramaikan acara ulang tahun Putri Query yang ke 22 ini!!” Riuh rendah suara penonton yang merespons teriakan sumbang sang pembawa acara membuatnya semakin jengkel.

“Ayah dan Ibu sudah tua dan Aquarius butuh pengganti. Kami tidak bisa terus menunggu apa yang kau tunggu.”

“Tapi, Ayah…”

Niatan Putri Query untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya pun teralihkan oleh tingkah pangeran asing yang menaiki panggung.

Apa yang akan dia lakukan sekarang?

“Kita perkenalkan, pangeran dari Kerajaan Pisces, sekaligus calon pendamping Putri Query, Pangeran Athos!!”

Putri Query melepas genggaman tangan Ayahnya kasar, lalu menatap bengis sang pangeran yang tersenyum manis padanya.

“Untuk Putri Query, silahkan naik ke atas panggung dan melakukan perkenalan ringan, supaya lebih akrab.”

Putri Query mengumpat dalam hati begitu para pelayannya menarik tangannya untuk segera naik ke atas panggung.

“Wah, keadaan semakin panas rupanya…”

Putri Query menatap sang pembawa acara dengan penuh amarah, namun percuma. Dia terus menatap seluruh tamu undangan demi menjalankan tugasnya.

“Bagaimana kalau putra mahkota dan Putri Query berciuman sebagai tanda perkenalan?”

Putri Query terbelalak. “Kami sudah…”

“Ide yang bagus!” pekik sang Pangeran.

Sorak sorai penonton semakin bergemuruh. Putri Query mundur selangkah, namun para pelayannya mendorongnya.

“Kalian semua akan kupecat!” desis Putri Query. Lagi-lagi, tak ada yang mendengarkan ucapannya.

Pangeran di depannya tersenyum, lalu mencondongkan kepalanya mendekati wajah cantik Putri Query. Sang Putri kembali mundur, tapi seperti yang telah terjadi, pelayan di belakangnya terus mendorongnya.

Karena pasrah, Putri Query memejamkan mata dan mendoakan berbagai hal yang bisa membatalkan ciuman itu. Semoga dia bersin, semoga pangeran jelek di depannya pingsan…

Tanpa Putri Query tahu ada seorang lelaki yang menarik kasar pangeran di depannya kemudian berdiri menggantikan posisi pangeran asing itu.

Kemudian Putri Query merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir lain.

Ia tahu ciuman itu bukanlah satu ciuman yang ia inginkan, tapi jantungnya berdebar kencang dan perasaannya yang sejak 5 tahun lalu membeku kini mulai mencair. Ia merasakan adanya kehangatan yang menelusup sanubarinya.

Apakah itu rasanya ciuman pertama?

Dan ada satu hal yang juga mengganjal di pikirannya: mengapa penonton tak bertepuk tangan? Mengapa suasananya mendadak sunyi? Bukankah ciuman itu yang mereka harapkan?

Perlahan, Putri Query membuka matanya setelah ia merasa ciuman itu berakhir. Lelaki di depannya tersenyum kecil.

.

.

.

“Tenanglah, Tuan Putri. Phoenix hanya tertidur,” ucap Ratu duyung, berusaha menghibur tuan Putri yang terisak.

“Tertidur?! Tapi tubuhnya sangat dingin!!”

“Itu efek karena dia sudah lama tak menyentuh air di laguna. Kaum duyung yang terluka biasanya langsung sembuh ketika berenang di laguna. Tapi, selain lama tak kembali ke laguna, luka di punggungnya juga cukup serius.”

Isak Putri Query semakin mengeras. Ia merasa bersalah pada Phoenix. Lelaki itu tak kembali ke laguna selama lebih dari satu dekade pasti karena dirinya. “Lalu bagaimana?”

“Tunggulah di kerajaanmu. Jika Phoenix benar-benar ditakdirkan bersamamu, dia akan kembali padamu,” tutur sang Ratu dengan bijak.

.

.

.

Mata Putri Query berkaca-kaca. Tangannya berusaha memegang pipi lelaki di depannya, memastikan bahwa apa yang ia alami bukan mimpi.

Lelaki itu menggengam tangan Putri Query lembut. Begitu sang Putri merasakan kehangatan di tangannya, air matanya jatuh, begitu pula lelaki di depannya. Isakan sang Putri terdengar jelas. Ia bahagia, namun ia takut kebahagiaan yang ia rasakan hanyalah mimpi. Karena, yang ia tahu, setiap mimpi indahnya bersama Pangeran selalu terasa nyata baginya.

Ia takut menerima kenyataan bahwa suatu saat ia harus bangun dari mimpinya.

“Kau kembali?” tanya Putri Query akhirnya, lalu menunggu suara yang sangat ia rindukan kembali terdengar.

Lelaki di depannya mengangguk. Putri Query hampir saja kecewa, sebelum lelaki itu berucap, “Karena aku akan hidup abadi demi melindungi Tuan Putri.”

Kini sang Putri benar-benar bahagia. Tak ada lagi yang ia pedulikan selain Phoenix yang ada di depannya. Ia berhasil membuktikan pada semua orang yang hadir di sana bahwa penantiannya tak sia-sia. Kemudian mereka saling memeluk satu sama lain dengan erat.

“Kau kembali… Kau kembali…”

Phoenix mengangguk mengiyakan, lalu mengecup ubun-ubun Putri Query dengan lembut.

| E.N.D |

 

7 thoughts on “Monde de Reve

  1. SASA KAMU KAMPAY NAK INI FICNYA KAMPRET SEKALI AAAAAA AKU BISA APA AAAA AKU PENGEN NGELEMPAR SEMUA BANTAL DI KAMAR NIH SAMPEAN PAS BACA SAKING GEMESNYA, SINI KAMU AKU CUBIT DULU HIIIIIH T_____T

    oke, ehem, aku meluncur ke sini begitu liat kamu post di twitter dan ini semacam meredakan kegalauan sejenak dan semoga malem ini aku mimpi indah kaya Seolhyun yaaa, bukannya malah yg mimpi buruk /tarik pangeran kripik kentang buat nemenin tidur/ xD

    dan sekarang, mari ke cerita…
    FIRST AKU MAU BILANG KALO INI TUH FAVORIT NOMOR SATU DI ANTARA SEMUA ATLANTIC SERIESMU SOALNYA INI HAPPY ENDING HAHAHAHAH😄
    tau sendirilah seriesmu ini tuh semua mendayu2 sendu gitu ceritanya, apalagi punya hoya, udah tragis itu mah -__- dan pas awal aku buka ini, aku sempet “ELAH NGAPAIN KONG NYEMPIL” mana nama dia pangeran athos lagi.. itu dibacanya atos dan di bahasa jawa tuh artinya keras lho omong2 .__. /terus/
    nah, sebenernya di awal tuh aku udah ada firasat ga enak, apalagi tahu ada kong yang nyempil ((ini semua salah kong ._.)) dan ini tuh.. apa ya… WOW BANGEEEETS gitu sa ceritanya ;;__;; nggak susah dicerna tapi konflik dan twist yang muter-muter itu bikin aku baca sambil remes2 guling T_T apalagi pas adegan pertarungan terus Hyuk ketusuk TIDAAAAAAK percaya nggak percaya aku udah berkaca-kaca tau pas baca…..

    oh aku juga mau bilang, dari semua series, aku paling suka sama ayah ibunya Seolhyun soalnya ga menentang hubungan SeolHyuk hahahahah xDD agak kesel sih pas di ending main jodohin gitu aja sama Kong, dan tau ga sih ((sasa: nggak-_-)) aku pas baca bagian SeolBin suruh ciuman itu udah yang kaya… plis jangan end dulu, plis ini ga beneran kan, jangan jangan…. TERUS HYUK MUNCUL AHEEEEEEY /tebarkonffetti/ duh kalo pangeran duyung kaya begitu aku juga mau sa, ga peduli meskipun dia bersirip dan aku phobia berat sama ikan sebenernya…. sayang, yang aku punya di sini bukan pangeran duyung tapi penjual kripik kentang /dibuang leo/

    TERUS ((maaf rusuhnya masih panjang)) perasaan doang atau… HYUK KEREN GILA SAMPE MAMPUS DI SINI SIH AH GUE KESEEEEEL /banting hongbin /?
    entah deh, pokoknya pas awal2 tuh kesan sahabat baik yang setia dapet banget ((ditemenin tidur segala maaan, siapa sih yg gamau?)) dan makin ke bawah kesan cowok keren nan gentle nan macho-nya makin tambaaah aaaaaa, mana aku bayangin Hyuk di sini tuh yang poninya diangkat ke atas terus senyum manis dan badannya tegap perkasa (?) model2 enak dipeluk dan cocok untuk melindungi wanita /ini apaan sih //berasa iklan L-Men -___-

    eh iya, ini rada OOT juga sih, tapi kok ada nama Profesor Cedric di sana?😄 aku lagi nostalgia gila-gilaan sama harpot dan ada nama cedric tuh semacam mengalihkan fokusku dan alhasil aku bingung mau sama hyuk apa cedric /dilempar/
    eum, terus apa lagi ya…. oh ya bagian ini: Jika Phoenix benar-benar ditakdirkan bersamamu, dia akan kembali padamu,” tutur sang Ratu dengan bijak.
    entah kenapa otakku langsung muter soundtrack: BILA AKUUU MEMAAANG TELCIPTA UNTUKMUUUU, JODOH PASTI BELTEMUUUUU ((ini versi lunafly soalnya mereka pas nyanyi cadel2 gitu sehati sama aku hahah xD))
    dan akhirnyaaaaaa… happy ending!!!😀

    ah bahagia banget sa, ini beneran bikin galauku malam ini reda dan senyum2 sendiri tau…. so far, Aquarius ini kayaknya kerajaan paling idaman dan ceritanya juga so sweet, lembut kaya kapas selimutnya seolhyun, dan manis kaya senyumnya hyuk *coret* hongbin :3 Oh dan untuk abang kacang, meskipun udah punya kripik tapi aku masih bersedia menampung kacang sepertimu kok /apa/ xDD

    okaaay, me like this dan karena ini udah malem, dan besok aku masuk pagi – pulang sore, sebaiknya kita sudahi dulu meracaunya .___. good night and sweet dreams yaaaa *terus teleportasi ke kerajaan aquarius*😀

    p.s: makasih udah buat seolhyuk jadi cast di series ini
    p.p.s: banyakin series ini yang happy end ya, I’ll love it so much :**
    p.p.p.s: maaf kalo komennya tak jelas arah, habis kelewat semangat xD
    okay see ya Sa!!!😀

    1. JANGAN DICUBIT KAK PIPIKU UDAH TEMBEM!!! TT_TT

      btw malem kemaren mimpi indah apa enggak ka? :”) tapi, kok sama Leo?? //peluk N

      haha… kakak suka ini karena happy end? lah yang Capricorn kan juga happy end kak? xD //soalnya itu bintangku sendiri haghag xD dan mengingat kakak orang jawa juga, pas nge-publish ini tuh aku udah nyangka kakak bakal ngomentarin tuh nama, bener deh ._.v //cenayang kerajaan Atlantis

      iya kak, aku akui pas ngebayangin scene Hyuk terluka itu (bayanginnya pas aku ngantuk berat mau tidur, nyebelin gak tuh -_-“) aku malah udah nangis, nyampe ditanyain ibu “kamu ada masalah nduk?” tapi pas ngetiknya biasa, pas bacanya….

      haha… iya ya, orang tua yang paling ‘beneh’ di Atlantis Series itu ya orangtuanya Seolhyun sama Hyuk ya, baru nyadar, haha xD dan… kakak phobia ikan? o.O kalo aku phobia apa ya? :3 dan btw… Leo masih disana? TT_TT

      Hyuk emang keren kok kak, digimana-gimanain dia tetep keren :””

      Cedric? yang mati pas Goblet of Fire itu kan kak? yang diperanin Robert Pattinson? yang pacaran sama 1st love-nya Harry? awalnya aku ngira tuh anak songong lho kak, bener -_-” //ini semakin OOT

      btw kak, cadel itu bukan sehati, tapi senasib //dibuang

      makacih ya kak, aku suka komennya kakak :”D

  2. SEOLLLHYUKKK /SENAM LANTAI/ kak sasaaa :”’DDD kenalkan aku ga baru sih baca series nya new atlantic kingdom. TAPI TAPI– BIAS T_T SEOLHYUK … demi luhannn!!!! /eh salah/ oliv 99 line disini. aku udah nunggu ini lanjutan cerita setelah baca cerita pangeran orion. sama pas putri virgo si sojin T_TTTTT KAK SASAAA INI PINKY SWEAR KEREN BANGETTT U,U

    KAkk ditunggu yang baruu ya, maygat mayno maywoowwwwh ini keren banger. kepo sama cast selanjutnya nihh :””’DDDD .maafkan diriku sksd , mungkin karena terlalu exited/? .

    first. pas lagi on wp liat ada updatetan baru dari sasphire. aku langsung “otokeekk udah di apdet lagi :”’)))))” /? sumpah ini meng-senam ubur uburkan hatikuu. padahal bacanya lagi pelajaran pertama guru killer. uduh udududuhh mati matian nyembunyiin/?

    KAK SASA POKOKNYA AKU NUNGGUIN LANJUTANYAAAA!!! OKEEEHHHHHHH❤

  3. Hai! Aku reader baru nih hoho
    Jujur aja awalnya aku rada kurang ngeship SeolHyuk soalnya aku Hyuk biased tapi gara2 baca fanfic author jadi suka deh❤
    Keren banget huhu kirain Phoenix ga bakal balik tapi taunya happy ending ㅠㅠ seolhyuk feels everywhere!

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s