[Nightmare Maker] Voodoo Doll


1

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Voodoo Doll

Starring :
Jung Taekwon (Leo) VIXX, Sojin Girls Day

Another Vixx – Girls Day fic :

Something (Leo – Sojin) | 25 to 15 (Hongbin – Yura) |

Vignette (+2500 W) | Thriller, Gore, Horror |  +17

Note :

Inspired by Vixx – Voodoo Doll

.

.

.

If I can’t have you, I will just live for you
If it’s you, I’m ready to get hurt as much as I can

Sojin menatap lelaki yang berdiri di balik jeruji—di ruang tengahnya—sambil menyeringai, sementara sang lelaki membalas seringainya dengan senyuman tulus, meskipun seluruh kulit arinya tertusuk oleh kawat besi. Bergerak sedikit saja mampu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Lelaki itu pun enggan melangkahkan kaki untuk pergi dari Sojin.

“Taekwon-a…” Sojin memanggil lelaki itu sambil menelengkan kepalanya. Dan sekali lagi, lelaki bernama Taekwon itu hanya membalas dengan senyuman. Saat melihat gadis di depannya, ia enggan pergi, meskipun rasa sakit yang mendera tubuhnya tak terkira rasanya. Yang penting Sojin ada di dekatnya dan tersenyum padanya, itu cukup.

“Pasti sakit ada di sana…” gadis itu memasang wajah iba yang dibuat-buat, namun tak lama kemudian, ia kembali menyeringai, “itu salahmu sendiri.”

.

.

.

Dengan kacamata besarnya, Sojin melangkah pasti ke ruang kelas 9 A. Kompleks sekolahnya memungkinkan siswa kelas 12 seperti dirinya keluar masuk wilayah SMP yang hanya terpisahkan oleh lapangan sepakbola. Sekolah tempat ia mencari ilmu memang terkenal dengan kompleks gedung yang amat luas, hingga tak heran jika siswanya kerap kali tersasar dan tak tahu jalan yang jelas untuk pergi ke perpustakaan atau sekedar ke kamar kecil. Hanya Sojin yang tak pernah tersesat di antara siswa yang lain. Ia patut bersyukur karena daya ingatnya yang lebih kuat daripada siswa lain.

Yah, lupakan soal tersesat atau tidak tersesat itu.

Kali in, Sojin memberanikan diri menemui Taekwon, adik kelas yang sangat ia kagumi. Suaranya yang merdu sangat menyejukkan bak angin musim semi, menenangkan seperti kicauan burung di pagi hari. Sangat menyenangkan begitu Sojin membayangkan Taekwon mau bernyanyi untuknya.

.

.

.

“Saat itu, kau menolakku ‘kan?”

Taekwon ragu menjawab.

“Kau bilang, kau ingin fokus pada pelajaranmu, kau juga menyuruhku untuk serius pada ujian masuk perguruan tinggi…” Sojin memandang sinis Taekwon yang kini menunduk, menyesal atas apa yang ia lakukan 10 tahun lalu.

“Yang benar saja?! Lelaki ingusan sepertimu berani menasihati kakak kelasnya! Kau tak tahu apa-apa, honey…”

Sojin begitu gembira melihat ekspresi kesakitan di wajah Taekwon kembali terlihat. “Jujur saja, saat itu kau menolakku karena aku jelek ‘kan? Buktinya, 5 tahun setelah itu, kau menyatakan cinta padaku yang telah berubah menjadi cantik. Kau tak menyadari siapa aku.”

Nuna… aku tak bermaksud…”

Sojin tak memiliki gairah untuk mendengar ucapan pembelaan diri dari Taekwon. Dendamnya tak tertahankan, hingga ia memutuskan untuk menyiksa Taekwon sejadi-jadinya. Ia raih boneka Voodoo yang telah ia persiapkan jauh-jauh hari.

Nuna...”

Dengan besi tajam berkarat yang ia genggam, ia menusuk kepala boneka itu sambil menyeringai.

ARGH!!” Dengan spontan, Taekwon mencengkeram kepalanya, namun kemudian kedua tangannya mengucurkan darah akibat gerakannya yang tiba-tiba. Sojin tersenyum senang melihatnya. Ia menusuk asal Voodoo di genggamannya tanpa memperhatikan bagian yang ia tusuk, tak ingin melewatkan sedetikpun ekspresi kesakitan di wajah Taekwon.

ARGH!!”

Kali ini perut.

Rasa sakit di tubuh Taekwon kini terasa lebih menyayat daripada sebelumnya. Rasanya seperti menembus organ vital tubuh. Bahkan mungkin lebih dari itu. Menusuk tulang belulang hingga rasa ngilu tercipta. Ngilu? Tidak. Tidak hanya sekadar ngilu.

ARGH!!”

Sekarang livernya. Taekwon bergerak liar saking sakitnya tusukan-tusukan yang mendera tubuhnya. Bahkan bibirnya berdarah karena ia menggigit terlalu keras demi menahan rasa sakit.

“Sangat sakit?” tanya Sojin, “tapi itu tak sesakit hatiku yang kau campakkan..” wajahnya memelas.

“M… Maaf… Nuna…”

“Kau merasakan rasa sakit itu baru 2 hari ini ‘kan? Aku? 10 tahun. Kau tidak tahu bagaimana rasanya…”

Ya. Itu yang membuat Taekwon enggan pergi. Rasa cinta dan rasa bersalahnya menguasai pikiran dan hatinya. Entah apa yang telah Sojin perbuat pada Taekwon, tapi lelaki itu telah teracuni sangat dalam hingga tak mampu berpikir jernih. Lagipula, Sojin pernah meninggalkannya selama beberapa jam, namun Taekwon tak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Selain karena ia terpenjara begitu ketatnya—tusukan kawat di sekujur tubuhnya yang membuat ia merasa tersiksa walau hanya bersin—ia sendiri memilih untuk bertahan demi Sojin. Ia tahu kebahagiaan Sojin adalah penderitaannya. Dan ia pikir ia pantas mendapatkan penderitaan itu.

.

.

.

Look carefully at what I’m going to do now
If it’s you, I don’t care about saving my body

Just say the name, whoever it is
I will bring them all here

“Taekwon-a…”

Taekwon membuka matanya. Baru saja ia terlelap dalam 30 menit, Sojin kembali datang dan mengganggunya. Tapi entah mengapa, Taekwon tetap tersenyum padanya.

Nuna…”

Sojin menarik satu-persatu kawat yang menusuk kulit ari Taekwon dengan kasar hingga berkali-kali ia mendengarkan erangan Taekwon yang liar.

“Nah…” Sojin menatap wajah Taekwon yang pucat pasi bak mayat hidup. Ia menyentuh lembut kedua pipi Taekwon, “malam ini… kau mau melakukan sesuatu untukku?”

Taekwon mengernyit.

.

.

.

Whatever reason it may be, you need me
Because I’ll become a doll who will fight for you

Kalau ia berjalan di pagi hari, pasti banyak orang memperhatikannya dan berbisik tentang keanehan pada dirinya, atau mungkin berjalan menghampirinya dan menanyakannya langsung,

“Kenapa pakaianmu compang-camping?”

“Kenapa kulitmu berdarah semua?”

“Siapa yang menyiksamu?”

Tapi nyatanya ia berjalan menyusuri jalanan kompleks perumahan mewah di jantung Seoul pada tengah malam. Matanya merah, dengan tangan menggenggam pisau berkarat pemberian gadis yang tengah menyanderanya. Ia gelap mata ketika mendengar keluh kesah Sojin tentang @ lelaki yang mengganggu kehidupan Sojin.

“Kau tahu ‘kan, Taekwon-a, aku hanya ingin hidup denganmu. Tapi… mereka mendekatiku dan memaksaku untuk hidup bersamanya. Kau tak mau aku meninggalkanmu ‘kan?”

Dengan sedikit terseok namun pasti, ia menendang pintu putih setinggi 5 meter di depannya hingga rusak. Entah kekuatan darimana yang ia dapatkan, sementara setetes darahpun rasanya ia tak memilikinya lagi.

“Lee Jong Suk!!” ia berteriak kasar.

.

.

.

Sojin tersenyum kecil ketika memainkan boneka voodoo di atas replika tata kota kompleks perumahan mewah yang baru saja ia curi. Membunuh orang yang tak ia kenal ternyata cukup menyenangkan.

Ya… Demi mendapatkan miniatur kota untuk menjalankan misinya, ia harus bertengkar dengan beberapa pejabat penting di sekitar kompleks itu. Bermodalkan pistol dan pisau berkarat yang kini dibawa Taekwon, ia berhasil merebutnya. Bukan Sojin jika ia hanya diam saja sementara ia sangat menginginkan apa yang ia inginkan.

“Bang!” ia menggerakkan kaki kanan boneka voodoo itu, seolah menendang sebuah pintu megah di sebuah rumah berwarna putih. Rumah seorang aktor Lee Jong Suk yang juga menolaknya karena telah bertunangan dengan saudara jauh Sojin, Park Min Young.

“Lee Jong Suk… Aku bersumpah akan mengirimkanmu ke neraka yang kini gerbangnya terbuka hanya untukmu…” Sojin menyeringai.

.

.

.

“Aku bersumpah akan mengirimkanmu ke neraka!!!” Taekwon berteriak. Amarahnya memuncak. Ia membanting satu persatu perabotan rumah Jong Suk yang cukup mahal, menabrak beberapa jam antik yang setiap detik mengganggu telinganya.

“Siapa kau?!”

Taekwon menyeringai begitu melihat Jong Suk menuruni tangga sambil memelototinya.

“Kau pikir aku takut?!” Jong Suk berusaha menggertak, namun tak ada hasilnya. Pelan tapi pasti, Taekwon berjalan menghampirinya.

“Pergi dari rumahku, atau kau kulaporkan ke polisi!!”

Taekwon membanting handphone di genggaman Jong Suk sambil tertawa sarkastik. “Kau tidak bisa mengancamku…” desisnya.

.

.

.

“Tusuk pahanya…” Sojin menggerakkan boneka Voodoo yang memerankan Taekwon seolah-olah menusuk lawannya, boneka voodoo lain yang mewakili Jongsuk. Sekilas memang terlihat sama, namun jika kau perhatikan, keduanya berbeda. Milik Taekwon terdapat tanda jantung yang meskipun Sojin tusuk terus-menerus tidaklah rusak, sementara boneka voodoo yang lebih usang dari milik Taekwon, tanda jantungnya telah rusak.

Sebenci apapun Sojin pada Taekwon, ia tak pernah berani menusuk jantung Taekwon. Entah mengapa.

“Tusuk perutnya…” Sojin menyeringai ketika mendengar erangan Jongsuk dari kejauhan.

“Potong lengannya…”

.

.

.

JLEB!!

Taekwon mengayunkan pisau berkaratnya dengan liar ke bagian atas lengan kanan Jongsuk hingga mengenai tulangnya. Darah kembali mengotori wajah Taekwon, namun ia tak peduli. Ia mengulangi gerakan itu hingga tangan Jongsuk benar-benar patah.

ARGHH!! ARGH!!”

Jongsuk meringis kesakitan. Air matanya mengalir bersamaan dengan darah dari lengannya yang mengucur deras ke wajahnya. Taekwon menyeringai. Ia kembali mendengar suara lembut seorang wanita di kejauhan.

JLEB!!

Taekwon menusuk urat nadi kiri Jongsuk dengan puas.

JLEB!!

Kini Jongsuk tak memiliki kekuatan untuk berteriak, mengerang kesakitan, menangis, ataupun meminta bantuan. Jantungnya telah ditusuk dengan sempurna oleh Taekwon.

Misi Taekwon selesai. Ia meninggalkan pisau berlumur darah itu di dalam jantung Jongsuk, lalu pergi menyusuri malam.

.

You sinners who made her shed tears, may you shed tears of blood

.

.

.

“Bagus… Taekwon-a…”

Sojin melihat ada sebuah sepeda yang melintasi rumah Jongsuk. Seorang lelaki muda yang baru saja selesai jaga shift malam di minimarket tempat ia bekerja. Tanpa sengaja, lelaki itu melihat Taekwon yang berlumuran darah dengan mata kosong keluar dari rumah Jongsuk.

Ck. Kecoa…” desis Sojin. Ia menyentil sepeda yang ia lihat hingga tak berbekas, melebur menjadi abu.

“Kau aman, Taekwon-a… di dekatku, kau aman…”

.

.

.

Kris Wu

Itu yang tertera di kotak pos di halaman rumah yang Taekwon kunjungi. Ia menyeringai.

“Kris… lelaki itu berusaha merebutku darimu juga. Bahkan dia bilang, dia akan memberikan apapun untukku, hingga aku mau meninggalkanmu. Bukankah dia lelaki yang kejam?”

Amarahnya sudah menggebu sejak Sojin mengucapkan kalimat itu. Ia berjalan cepat dan menghambur masuk lewat jendela rumah setelah memecahkannya. Ia terlalu haus akan pembalasan dendam pada lelaki yang telah mengganggu Sojin-nya.

Dengan pikirannya yang teracuni, ia bergerak tepat menuju kamar Kris. Malang sekali lelaki itu, karena Taekwon menyerangnya saat ia tak tahu apa-apa. Taekwon menjambak rambutnya liar, lalu menarik tubuh jangkungnya dan menghantam kepala Kris ke dinding kamar. Taekwon tersenyum puas saat melihat darah mengucur deras di kepala Kris.

“ARGH!!”

Taekwon tahu Kris telah sadar dari tidurnya dan hendak melakukan gerakan yang akan menghambatnya. Namun Taekwon tak mengijinkan Kris untuk menyelamatkan diri. Siapapun yang menyakiti Sojin harus memasuki neraka. Itu salah satu janji yang pernah ia ucapkan dan harus ia penuhi sebagai lelaki milik Sojin.

Taekwon kembali membenturkan kepala Kris, berkali-kali. Belum selesai sampai di situ, ia membanting tubuh Kris ke lantai, lalu menginjak kepala Kris dengan kaki telanjangnya yang terdapat darah kering di sana.

“Kau harus membayar impas atas apa yang kau lakukan pada Sojin-ku…”

“S-Sojin?”

Tak ada keinginan untuk menjawab, Taekwon menendang kasar kepala Kris, lalu menginjak leher Kris sambil tersenyum sinis.”Bagaimana mungkin kau menolak gadis sebaik Sojin? Dasar lelaki bodoh!”

.

Sing the song of curses, tell me about your hidden anger
My body becomes a sacrifice for you
I will sacrifice myself for your happiness

.

.

“Tusuk matanya…” Sojin kembali beraksi. Kris adalah mantan kekasihnya yang telah ia putuskan karena Kris berkencan dengan gadis lain. Sojin tahu gadis itu lebih cantik darinya, tapi bagaimana mungkin Kris tak ingin berusaha setia padanya? Sojin telah memberikan semua yang ia miliki untuk Kris, tapi apa yang ia dapatkan?

“Kau boleh mengambil matanya, honey, mata yang membawanya berpaling pada gadis lain…” Sojin mencongkel mata boneka voodoo yang mewakili Kris sambil membisikkan kalimat menjerumuskan pada Taekwon. Ia mencabutnya dengan jarum jahit yang telah berkarat.

“Sekarang tusuk di bagian leher…” tatkala mendengar satu dentuman keras benda tumpul di urat leher Kris, Sojin tertawa keras. Pasti Taekwon menggunakan lampu tidur yang ada di dekat kasur Kris.

“Jangan lupa jantungnya, honey…”

Sojin semakin puas ketika jantung voodoo di tangannya tak lagi bercahaya. Kris telah mati, tepat setelah Taekwon menghantam jantungnya.

.

.

.

Taekwon melangkah gontai begitu memasuki ruang tengah Sojin. Namun wajah lelahnya kembali menjadi senyuman penuh arti ketika melihat Sojin berdiri di depannya.

“Terima kasih, Taekwon-a…” Sojin memeluk Taekwon dengan erat, meskipun bau anyir menyeruak ke seluruh rongga hidungnya. Namun ia puas. Bau darah di tubuh Taekwon adalah darah orang-orang yang telah menyakitinya. Kau tidak tahu bagaimana menyenangkannya hal itu ‘kan?

Sojin menggenggam tangan Taekwon yang dingin bagaikan mayat. Tentu saja dingin. Berkeliaran di tengah malam musim dingin dengan pakaian yang robek di setiap bagian, disiksa dengan berbagai benda tajam hingga rasanya tak ada setetespun darah pada tubuhnya… masihkah ada alasan bagi tubuhnya untuk memiliki suhu normal yang terjaga?

Taekwon membalas genggaman tangan Sojin erat, seolah takut kehilangannya. Berdiri di depan Sojin saja rasanya seperti mimpi.

Ia tahu Sojin membencinya. Tapi ia lebih tahu bahwa ia mencintai Sojin lebih dari apapun.

.

.

.

Tanpa Sojin intruksi, ia berjalan memasuki ruang berjeruji besi yang sebelumnya ia tempati. Namun belum sampai ia membuka jeruji, Sojin memanggilnya lembut, “Taekwon-a…”

Taekwon membalikkan badan.

“Di sini…”

Taekwon memandang ruangan yang Sojin tunjukkan. Terdapat dinding kaca yang pecah sebagai pintu masuk, membuat siapapun yang melewatinya pasti terluka. Taekwon sendiri dapat melihat bagian dalam ruangan itu yang penuh dengan pecahan-pecahan kaca.

Tanpa Sojin paksa, ia mematuhi pinta Sojin untuk tinggal di ruangan itu untuk sementara waktu. Ia tak ubahnya hewan peliharaan bagi Sojin.

“Tidur yang nyenyak, honey…” Sojin mengecup mesra pipi Taekwon, lalu pergi meninggalkannya.

Nuna…”

Langkah Sojin terhenti begitu mendengar Taekwon kembali memanggilnya. Ia membalikkan badan dan memasang senyum termanisnya. “Hm?”

“Jangan pergi.”

Sojin mengangguk dengan anggunnya, lalu meninggalkan Taekwon sendirian di kesunyian malam.

.

.

.

“Bodoh.”

“Dia tidak mencintaimu.”

“Kenapa kau mau menjadi budaknya begitu saja?”

“Karena aku mencintainya.”

“Cinta? Memang kau tahu apa tentang cinta? Kau pernah merasakannya?”

“Ya. Nuna adalah cintaku.”

Cih. Pergilah menjauhi Sojin lalu carilah apa arti cinta yang sebenarnya. Apa yang kau lakukan bukanlah atas dasar cinta, tapi atas dasar pengorbanan. Pengorbanan yang sia-sia.”

Taekwon bingung ketika batinnya berperang. 2 sisi yang selalu bertolak belakang pada akhirnya hanya akan membuatnya pusing. Tapi ia selalu memikirkan perang batinnya dengan matang. Dia bangun dan mendapati seluruh tubuhnya telah tertancap oleh pecahan-pecahan kaca dari ukuran besar hingga kecil. Darah kembali menyusup ke luar tubuhnya melalui celah-celah kulitnya yang berkali-kali robek karena siksaan yang ia terima.

Ya. Dia baru saja berbaring di atas lantai berduri itu. Ia selalu melakukan apa yang gadisnya katakan. Jika Sojin menyuruhnya tidur, ia akan tidur. Jika Sojin menyuruhnya makan, ia makan. Bahkan mungkin jika Sojin menyuruhnya untuk bunuh diri, dengan senang hati ia lakukan.

Tapi segila apapun Sojin, ia tak akan rela melihat Taekwon mati.

Dengan sedikit ragu, ia pergi ke luar rumah Sojin tanpa sepengetahuan gadis itu. Ia hanya ingin menemukan apa arti cinta saat itu juga. Ia ingin membuktikan pada dirinya yang lain, bahwa salah jika apa yang Taekwon lakukan hanyalah pengorbanan yang sia-sia. Ia ingin membuktikan bahwa apa yang ia lakukan adalah cinta yang murni. Cinta yang sesungguhnya.

Tapi, Taekwon tak tahu harus kemana. 3 hari terkurung di rumah Sojin membuatnya lupa bagaimana ia hidup di dunia ini. Siapa dia, bagaimana dia hidup di dunia ini… ia lupa semuanya.

Yang ia ingat hanyalah Sojin, Sojin dan Sojin.

.

.

.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan. Amarahnya meluap ketika sosok yang ia cari tak tertangkap oleh indra penglihatannya.

“Ia tak akan pergi jauh,” gumamnya. Ia pun berinisiatif untuk menelusuri setiap titik rumahnya, namun nihil.

Hanya ada jejak kaki berdarah di sana.

Gadis itu hampir saja putus asa, namun ingatannya menuntun pikirannya pada sebuah boneka voodoo di meja bundar kesayangannya. Ia tertawa senang, lalu kembali ke ruang favoritnya.

.

.

.

“Taekwon-a…” Sojin mengelus pelan puncak kepala boneka itu. Di saat bersamaan, lelaki yang ia panggil mendengar bisikannya yang terdengar sangat lembut.

“Kenapa kau pergi? Kau mencintaiku ‘kan?”

“Kau berjanji akan melakukan apapun demi aku ‘kan?”

Sojin menusuk kasar boneka itu tepat di pahanya.

“Setelah apa yang kulakukan padamu, ini balasannya?!” kali ini ia berteriak. Dengan seringai bengisnya, ia menusuk boneka itu berkali-kali dengan frekuensi yang sangat cepat.

“Di antara semua lelaki yang pernah menyakitiku, hanya kau yang kubiarkan hidup!! Kau tahu kenapa?! Karena aku menyayangimu, honey!! Kau tidak tahu itu?!”

Sojin semakin haus akan ungkapan maaf Taekwon ketika di ujung telinganya ia mendengar rintihan Taekwon.

“Semua yang menyakitiku selalu mati, tapi aku selalu ingin kau ada di sampingku… Kau tidak mengerti perasaanku padamu, hah?!”

Sojin mengangkat tinggi-tinggi boneka di tangannya, memutar boneka itu dengan penuh rasa puas, lalu melempar boneka itu ke dalam ruangan penuh pecahan kaca yang ditempati Taekwon beberapa saat sebelumnya.

Dan seketika itu juga, suara gaduh akibat tubuh lemah seorang Taekwon yang menghantam jendela kaca rumah Sojin menggema ke seluruh penjuru ruangan.

“Oh, Taekwon-a!!”

Sojin berlari menghampiri Taekwon yang merintih kesakitan. Seluruh tubuh Taekwon mati rasa.

“Taekwon-a…Kau terluka parah…” Sojin menatap iba Taekwon dan mengelus rambut Taekwon dengan lembut di pangkuannya.

Nuna… Maaf… Aku meragukanmu…” Perlahan Taekwon bergerak, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Sojin. Dengan sisa kekuatannya, ia memeluk erat Sojin dan menangis, merasakan penyesalan yang begitu dalam. “Maaf….”

Sojin tersenyum senang, lalu berbisik pelan, “Kau tak akan meninggalkanku lagi ‘kan?”

Taekwon mengangguk. “Maaf…”

.

.

.

Just seeing you smile once is enough for me
I’ll do everything that you want for you
Even if my remaining life decreases

 | E.N.D |

Ehm, yah… baiklah… karena gak sengaja menemukan video Plan V diary di yutub, aku malah tergila-gila (lagi) dengan Vixx dan kembali terngiang dengan “Voodoo doll” padahal sebelumnya terngiang “Something” haha xD

dan karena aku penasaran artinya, aku jadi browsing di popgasa, dan thanks atas translate lagunya, aku jadi tahu lagu ini tuh menyiratkan tanda cinta yang sangat manis… namun menyedihkan. ya gimana gak so sweet ya, karena ada satu kalimat yang berarti

“Aku mau jadi boneka yang bertaruh untukmu”

Ah ya… Demi apa, lagu yang video-nya horror gak abis-abis ini (bahkan liat berkali-kali tetep aja kerasa ngilu) ternyata menyimpan arti yang tersirat begitu dalam..  oh no… oh no…

aku jadi ngerti kenapa setiap perform mereka bisa totalitas, kayak yang kesakitan, sedih, semua campur jadi satu. ya karena rasa cinta mereka yang… ah dalem bangetlah menurut aku. bahkan arti lagunya lebih “dalam” daripada lagu-lagunya EXO. bukan berniat membandingkan sih, tapi untuk totalitas, menurut aku Vixx adalah warna baru dan i can’t bear with it xD

Dan nyatanya, Voodoo doll is more thrilling than i expect xD

Soal rating, awalnya aku pengen banget ngasih +19, biar sesuai dengan video-nya Voodoo doll, tapi, yah, setelah menyadari usia saya sebagai penulis nih cerita (uhuk) jadi ya… +17 aja deh😀

and how about this fict? Review?😉

7 thoughts on “[Nightmare Maker] Voodoo Doll

  1. …..
    Ehm… aku cuma mau nanya, ini tuh ff lanjutannya Something ya? atau bukan? *habisnya cast yang dipake sama sih…*
    di Something, Sojin udah mati T.T itu kejam.
    di Voodoo Doll, Leo disiksa begitu sama Sojin T.T itu juga kejam. tapi, aku suka bagian akhirnya… entah mengapa menurutku itu so sweet (?) dan itu bagian yang paling aku suka.
    FFnya keren!~ ^^

  2. “Taekwon menusuk urat nadi kiri Jongsuk
    dengan puas.”

    Oh yeah! Dan aku ngilu kalau berhubungan dengan urat nadi :’)

    Aku pengunjung baru! Dateng kesini krn habis baca “goodbye bye” terus penasaran sama nightmare lainnya! Banyakin ya! Bikin aku jadi feeling like a crazy/? :’)

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s