[Ficlet] Time After Time


time-after-time

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Time After Time

Starring :
Han Sang Hyuk Vixx, Seolhyun AOA

Ficlet (+1000 W) | Romance, School Life | T

Inspired by:

Sojin Girls Day – I Want to Go Back (Passionate Love OST)

Mai Kuraki – Hana Mau Machide (Detective Conan OST)

Note : Just Click the title song. it will make you know my reason to write this story, because i like those song and i’ll always make a story based on those song.

hope You like it ^_^

Thanks for Ivana that introduce this Crack couple :3

Sekarang, yang bisa Sanghyuk lakukan hanyalah memandangi gadis di depannya yang terang-terangan sibuk mengerjakan tugas matematika, sementara ia memeluk bagian atas kursi yang ia duduki.

Wae?” tanya gadis itu sambil sesekali membenarkan posisi kacamatanya, merasa bahwa Sanghyuk memandanginya tanpa alasan yang jelas.

“Tidak ada. Tidak ada apa-apa,” jawab Sanghyuk sekenanya. Ia tahu, harusnya perempuan di depannya tak menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya: Sanghyuk lemah dalam pelajaran matematika dan ia memilih untuk menunggu sang gadis menyelesaikan tugasnya.

“Hyunnie…” Suara Sanghyuk memecahkan keheningan yang lama tercipta. Sang gadis tetap tak menatapnya, namun merespons panggilan yang ditujukan padanya.

Hm?”

“Terima kasih, selalu mau kurepotkan. Padahal kita sama-sama kelas 3, harusnya kau mempersiapkan diri untuk ke universitas, sementara aku—“

“Tidak apa. Tidak perlu sungkan.” Gadis yang memiliki nama Seolhyun itu akhirnya melepas kacamatanya dan menyerahkan buku tugas yang ia kerjakan pada pemilik sebenarnya, Han Sanghyuk. Ia tersenyum, “Kira-kira, setelah lulus, kau mengambil jurusan apa? Universitas mana?”

“Mungkin Dongguk University, tapi aku tidak tahu jurusan apa,” Sanghyuk tertawa hingga matanya nyaris tak terlihat. “Kalau Hyunnie?”

“Tidak tahu…” ia berucap pasrah, lalu membersihkan kacamatanya dengan tissue di saku jas almamaternya.

“Kenapa tidak tahu? Sebentar lagi ujian, dan kau masih belum menentukan tujuanmu?”

Ck,” Seolhyun berdecak sambil menyipitkan matanya, “kau sendiri belum tahu mengambil jurusan apa ‘kan?”

Sanghyuk menggaruk tengkuknya, lalu bergegas mengambil tasnya begitu melihat Seolhyun berdiri, hendak meninggalkan ruangan.

“Sampai jumpa besok, Hyunnie…” ucap Sanghyuk begitu melihat adik kelasnya—sekaligus adik di keluarganya—berdiri di ambang pintu kelasnya, tanda bahwa gadis kecil yang 2 tahun lebih muda darinya itu telah lama menunggunya.

Ehm.

.

.

.

Seolhyun menyusuri jalan setapak yang jauh dari keramaian kendaraan. Ia hanya  ingin melihat bunga bermekaran di musim semi ini tanpa harus mendengar suara bising yang acapkali membuat telinga manusia rusak. Polusi suara nampaknya tak bisa diredamkan untuk beberapa waktu. Biasanya Seolhyun akan menutupi telinganya dengan headset, tapi ia sadar itu hanya melukai telinganya lebih dalam.

Kali ini ia merasa hidupnya sedikit lebih damai. Tak ada suara mobil, tak ada keramaian…

Tak ada Sanghyuk.

Kali ini ia memilih untuk melewati jalan yang lebih panjang untuk menuju rumahnya bukanlah tanpa alasan. Ia masih ingat ketika 8 tahun lalu ia melewati jalan ini bersama Sanghyuk. Masa kecil bersama Sanghyuk di panti asuhan sangatlah menyenangkan. Tapi ia merasa kesal pada Sanghyuk ketika setahun setelah Sanghyuk bergabung dengan panti asuhan, sepasang suami istri yang telah 10 tahun menjalani kehidupan rumah tangga tertarik padanya dan langsung mengadopsinya.

Apa yang berbeda dengannya dan Sanghyuk?

Seolhyun berada di sana sejak lahir (sejak Ibu Park menemukannya di dekat pintu panti asuhan), dan Sanghyuk bergabung dengan mereka saat umur 9 tahun, setelah orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat.

Dan tepat setelah setahun, Sanghyuk meninggalkan panti asuhan.

Bukankah Sanghyuk begitu beruntung? Orang tua kandungnya termasuk orang yang berkecukupan, dan setelah orang tuanya meninggal, orang tua angkatnya lebih kaya dibandingkan orang tua kandungnya, terlebih mereka sangat menyayanginya.

Tapi, Seolhyun?

Bahkan dia tidak tahu siapa orang tua yang telah tega membuangnya. Sampai ia berumur 17 tahun pun tetap tak ada yang mengadopsinya.

Apa yang ia pikirkan hanyalah pengalihan diri. Ia menyalahkan Sanghyuk, padahal jauh di dalam hatinya ia merasa tak berguna.

Ia melihat luka di betisnya (yang selalu membuatnya tak mengangkat tinggi kaos kakinya), berharap Sanghyuk menyadari luka itu dan mengingatnya. Luka yang Seolhyun dapatkan saat mereka sama-sama terjatuh dari loteng. Seolhyun hanya mendapatkan luka yang tak terlalu parah (meskipun membekas), tapi Sanghyuk sampai tak sadarkan diri selama 3 hari 3 malam.

Tapi percuma.

Sanghyuk pernah melihat lukanya (ketika pertama bertemu setelah 6 tahun berpisah, kelas 1 SMA), dan ia bertanya pada Seolhyun, “Nampaknya itu bekas luka yang cukup parah. Karena apa?”

Dan Seolhyun tak tahu harus berkata apa.

Harusnya, saat Sanghyuk bertanya padanya, apakah ia merelakan Sanghyuk pergi atau menginginkan Sanghyuk tetap bersamanya, ia menjawab yang sebenarnya. Seolhyun ingin bilang bahwa ia ingin Sanghyuk merasakan kembali kasih sayang orang tua, meskipun di dalam hatinya ia meronta. Saat Sanghyuk pergi dengan menaiki mobil keluarga barunya, Seolhyun baru menyadari bahwa membohongi diri sendiri rasanya sakit.

 Bagi seorang anak yang berumur 9 tahun, itu sangat menyakitkan.

Saat itu ia ingin mengejar Sanghyuk, tapi ia tahu, tak akan ada gunanya.

Baru setelah mereka kelas 3 SMA, Seolhyun tahu bahwa perjalanan yang membawa Sanghyuk pergi membawanya ke sebuah kecelakaan naas. Saat itu, keluarga Sanghyuk benar-benar dalam kondisi kritis, namun semuanya kembali normal. Tapi tidak dengan ingatan Sanghyuk.

Sanghyuk tak ingat siapa Seolhyun. Sanghyuk tak ingat apakah ia pernah menghabiskan waktu dengan Seolhyun di masa sebelumnya.

Padahal Seolhyun tahu siapa Sanghyuk. Ia masih hapal betul setiap kenangan yang ia miliki bersama Sanghyuk meski hanya setahun.

“Andai saja aku bilang ‘jangan pergi’…. andai saja aku jujur…. andai saja aku tidak membiarkannya pergi… mungkin tak akan seperti ini…”

Seolhyun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, malu pada dirinya sendiri. Ia sering berkata pada diri sendiri, bahwa percuma menyesali apa yang telah terjadi. Tak akan pernah ada alat yang bisa memainkan waktu, seperti kembali ke masa lalu, meramal masa depan, atau menghentikan waktu. Tak akan pernah ada kesempatan kedua. Tak ada gunanya merutuki diri sendiri ketika semuanya telah terjadi.

Tangisannya membuat burung-burung yang awalnya berkicau menghiburnya kini pergi.

“Hei.”

Seolhyun menatap seorang lelaki yang berdiri di depannya. Lelaki itu tersenyum, sementara Seolhyun menatapnya tak percaya.

“Sedang apa kau di sini?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa,” Seolhyun menghapus air matanya. “Aku hanya sedikit tersesat. Kau sendiri, Sanghyuk… sedang apa?”

Sanghyuk tersenyum kecil, lalu menengadahkan wajahnya demi melihat satu-persatu kelopak bunga yang berguguran. “Aku suka tempat ini. Aku hanya merasa pernah ke sini sebelumnya, tapi aku tidak ingat kapan… dan bersama siapa.”

“Oh…” Seolhyun berjalan mendekati Sanghyuk, membuat senyum Sanghyuk semakin lebar. Meskipun pandangan matanya tak beralih, ia dapat merasakan kehangatan yang selalu ia dapatkan ketika berada di dekat Seolhyun.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Hyunnie?”

“Soal apa?”

“Tadi, aku tidak sengaja mendengarkan ucapanmu. Siapa yang tak ingin kau lepaskan itu?”

Seolhyun berpikir sejenak. Jika ia memberitahukan Sanghyuk yang sesungguhnya, akankah Sanghyuk ingat? Akankah semuanya berjalan lancar?

Mungkin iya, mungkin tidak.

Toh kenangan di antara mereka hanyalah kenangan antara anak-anak yang cintanya pun bukanlah berarti layaknya cinta orang dewasa. Lagipula, tidak baik terus-menerus hidup dalam kenangan.

Tapi, Seolhyun juga ingin Sanghyuk mengingat sedikit kenangan di antara mereka. Tak perlu semuanya, hanya sedikit saja.

Tapi bagaimana jika Sanghyuk mengira Seolhyun hanya mengada-ada, lalu Sanghyuk malah meninggalkannya dan menganggapnya pembual?

“Kau tidak mengenalnya,” jawab Seolhyun akhirnya, diiringi hembusan napas keras. Berdebat dengan dirinya sendiri cukup membuatnya lelah. Tapi, apa yang Seolhyun katakan benar. Sanghyuk tak akan mengenalnya. Sanghyuk yang sekarang tak akan mengenal Sanghyuk kecil yang Seolhyun kenal beberapa waktu lalu.

“Oh…”

Hening beberapa saat. Yang terdengar hanyalah desiran angin lembut yang sesekali membelai rambut Seolhyun.

“Ngomong-ngomong, Hyunnie…”

“Hm?”

Sanghyuk masih saja tersenyum. “Jangan menangis lagi, ya? Aku ‘kan, selalu ada di samping Hyunnie…”

Seolhyun tak percaya atas apa yang diucapkan Sanghyuk. Mereka berdua memang akrab sejak 1 SMA, terlebih keduanya sama-sama orang yang mudah bergaul dengan lingkungannya. Tapi, ia tak menyangka Sanghyuk akan mengucapkan kalimat itu. Sebagai teman-kah? Kalau iya, kenapa…

Seolhyun melihat gerak tangan Sanghyuk. Ia semakin terkejut mendapati kedua tangan Sanghyuk dimasukkan ke dalam saku celananya. Persis seperti 9 tahun yang lalu, saat Seolhyun menangis di hari Sanghyuk akan pergi.

“Jangan menangis lagi, ya? Aku ‘kan, selalu ada di samping Hyunnie…”

Dan seperti 9 tahun yang lalu, seperti yang lekat di ingatan Seolhyun, Sanghyuk selalu tahu cara menghiburnya. Bukan dengan menepuk pundaknya, bukan dengan menghapus air matanya… cukup tersenyum dengan tulus. Itu sudah membuat hati Seolhyun menjadi lebih baik.

Senyum yang Seolhyun lihat 9 tahun lalu, senyum yang selalu Seolhyun rindukan, kini ia kembali melihatnya.

Sanghyuk sedikit memajukan tubuhnya, lalu mengacak rambut Seolhyun. “Anak nakal!”

Seolhyun tersenyum senang. Refleks, ia memeluk Sanghyuk dengan erat.

“Hei, hei… kau ini!!” Sanghyuk tertawa kecil, “ternyata tak berubah ya?”

“Bagaimana bisa? Bagaimana kau bisa mengingatku?”

“Oh, itu. Ceritanya—“

“Tak perlu kau ceritakan. Kau akan merusak suasana!”

Sanghyuk tertawa, kemudian membalas pelukan Seolhyun.

Sekarang Seolhyun tak merasa dirinya tak berguna lagi. Benar kata Sanghyuk, ada Sanghyuk yang selalu ada di sampingnya.

Dan mungkin, mulai hari ini, Seolhyun tak akan lagi mengingat masa lalunya yang menyedihkan. Ada masa depan yang lebih cerah baginya, tentu saja bersama Sanghyuk.

 | E.N.D |

halo… halo… selamat datang Februari… buat yang ultah di bulan Februari, selamat ulang tahun😀 ya sebenernya aku publish ini pas tanggal 31 Januari, tapi gak pa-palah mendahului, haha😆

dan adakah yang merayakan imlek? kalo ada.. Gong Xi Fa Choi>:D (ini bener gak sih nulisnya?)

dan ehm… aku buat ini demi ngisi liburan aja sih. setiap ada tanggal merah bawaannya pengen ngarang mulu. nah kebetulan, hari ini aku bisa pinjem laptop ortu dengan leluasa karena ada tamu keluarga yang dateng, haha //ditendang

oke… maaf kalo ada banyak typo, semoga suka..

dan ditunggu review-nya…

3 thoughts on “[Ficlet] Time After Time

  1. AAAAAKKKKKKK AKHIRNYA SASA BIKIN SEOLHYUK JUGAAAAK!!! tapi kenapa gak di-post di IFK, Sa? .__.

    sumpah, awalnya akh kira Sanghyuk disini naksir Seolhyun apa gimana. TERNYATA MEREKA PACARAN (?) DARI KECIL SAUDARA-SAUDARA ;AAAA; demi apa pas masih kecilnya udah so sweet begitu…yah walaupun sempet kepisah dan si Sanghyuk malah amnesia, tapi mereka tetep aja sempet so sweet /gelindingan/

    terus terus terus itu ‘Hyunnie’ AAAAAA itu unyu banget u,u dan ak gak bayangin Hyuk manggil Seolhyun begitu /gelindingan lagi/ apalagi selama ini kan yg manggil pake nama2 unyu (?) begitu Seolhyun, bukan Sanghyuk.. my feels x)

    dan endingnya….KENAPA KALIAN PELUK-PELUKAN?! AK KAN JUGA MAU ;;;; /peluk Leo/ ak bayanginnya mereka berdua peluk2an begitu di jalan yg penuh bunga sakura, terus ada hujan kelopak bunganya /mimisan/ itu pasti bagus bangey scene-nya :””

    udah dulu ya Sa ^^ makasih udah bikin fic Seolhyuk ini :** ak yakin bentar lagi member SFC akan merusuh disini!!😀

    dadah Sasa~

    1. IYA KAKAK AKHIRNYA AKU BIKIN SEOLHYUK KAK AAAAA xD

      ehm… pacaran dari kecil? ya… bisa dibilang gitu juga sih, haha //ragu

      iya… unyu kan? soalnya Hyuk itu selalu unyuk di mata saya, jadi aku selalu membuatnya nampak unyuk haha xD

      iya… kayak di anime-anime gitu kan kak, scene yang kakak bayangin, haha😆 tapi, jangan peluk Leo dong kak ._. peluk Hongbin aja//sodorin Hongbin

      eh, tapi belum ada SFC yang merusuh di fic ini kok, baru kakak sama Ivana kayaknya🙄

      makasih kakak rusuhnya

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s