[Vignette] 25 to 15


25 to 15

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

25 to 15

Starring :
Lee Hongbin VIXX, Yura Girls Day

Vignette (+2500 W) | Romance, School Life, Moment, Birthday fic | T

Another Vixx-Girl’s Day Fic

Leo – Sojin (Thriller) | Yura – Hongbin (Romance – Friendship)

Ah Young masih sibuk memilih lagu di playlist handphone-nya meskipun sebuah lagu yang ia dengarkan belum selesai hingga akhir. Guru Sosiologi yang tak kunjung selesai memarahi Hongbin membuatnya bosan dan tak ingin mendengarkan dengan antusias ucapan gurunya. Selain itu, ia tak memiliki ide untuk melakukan apapun untuk mengalihkan rasa bosannya.

Tapi ada hal lain yang ia pikirkan saat ini: ia akan memarahi Hongbin pulang sekolah nanti. Sikap teledornya harus dihilangkan, supaya tak lagi mendapat masalah, seperti sekarang.

Bagaimana mungkin ia menghilangkan raport teman sebangkunya, Ravi?

Dia diberi kepercayaan oleh wali kelas—Ibu Park yang kini memarahinya, membuat Hongbin berdiri sampai satu jam pelajaran berlalu—untuk mengumpulkan raport teman sekelasnya begitu liburan musim dingin selesai, tapi dengan ceroboh ia tak membuat check list siapa saja yang sudah mengumpulkan dan siapa yang belum. Kini ia mendapatkan masalah besar.

“Coba dicari di rumah. Saya tidak mau tahu.”

Hongbin kehabisan kata untuk berdalih. “Ya.”

“Baiklah, berdiri di depan teman sekelasmu.”

Hongbin membalikkan badan, lalu menatap teman sekelasnya dengan menahan rasa malu.

“Kau harus berjanji dengan lantang. Mengerti?”

“Ya.”

“Saya.”

“Saya!”

“Lee Hong Bin.”

“Lee Hong Bin!”

Ah Young menatap iba lelaki yang ia sukai itu. Tapi mau bagaimana lagi? Dia harus menerima konsekuensinya.

“Pada tanggal..”

“Pada tanggal!”

“25 Januari 2014.”

“25 Januari 2014!”

Selagi Ah Young mengalihkan perhatiannya pada handphone-nya lagi, Ibu Park tersenyum. Raut wajahnya yang keruh berubah menjadi keibuan. “Ulang tahun.”

Hongbin menoleh pada Ibu Park yang kini berjalan menghampirinya sambil mengulurkan tangan. “Selamat ulang tahun.”

Ucapan ulang tahun yang tak Hongbin duga membuat ia ternganga beberapa lama, terlebih saat semua temannya bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.

“Jadi kalian tahu semua ini?”

“Ya!!!” jawab mereka serempak sambil tersenyum jenaka. Sementara Ah Young mendesah keras dan melempar handphone-nya setelah melepas headset-nya.

Tidak.

Tidak semua teman Hongbin tahu. Dia sendiri tak tahu apa-apa.

Ia menatap kesal Hongbin yang kini menjabat tangan semua temannya yang melangkah maju demi mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ untuknya. Beruntung sekali Hongbin.

Dia tampan, baik, ceria, pintar dan juga memiliki banyak teman. Selalu menonjol di bidang akademik, menjadi ketua club teater…

Membayangkannya saja membuat Ah Young senang, namun melihat Hongbin tersenyum lebar atas ‘Surprise Birthday’ untuknya kembali membuat ia kesal. Bagaimana mungkin ia mendapatkan hari ulang tahun yang sempurna, tepat setelah 10 hari ulang tahunnya yang biasa saja?

Lebih tepatnya ulang tahun yang tidak sempurna.

Di hari itu, panti asuhan tempat ia dibesarkan harus digusur karena pemilik tanah tempat panti asuhan itu dibangun menginginkannya kembali untuk urusan bisnis. Ibu pendiri panti asuhan pun tak berkutik karena di surat perjanjian memang dituliskan satu pasal yang menyatakan bahwa si pemilik tanah boleh mengambil kembali tanah itu di masa yang akan datang. Dulu ibu Kim menyetujuinya karena ia pikir orang yang telah menyumbangkan hartanya demi kebaikan tak mungkin mengambilnya kembali.

Tapi ia salah.

Efek buruknya adalah: anak-anak yang tidak pernah diadopsi kini kebingungan mencari tempat berteduh yang layak.

Ah Young salah satunya. Dan yang membuatnya lebih sedih, itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya.

Dibandingkan memberi ucapan selamat ulang tahun, ia memilih untuk membenamkan wajahnya pada kedua lengannya di atas meja. Lebih baik ia tidur dan melupakan semuanya. Semua hal yang membuatnya—secara tak langsung—mengasihani diri sendiri.

.

.

.

Lagi-lagi, Ah Young mendengus keras. Baru saja ia keluar dari ruang guru setelah dinasihati oleh wali kelasnya karena belakangan ini ia sering tidur di kelas, dan itu mengganggu perhatian para guru. Ah Young merutuki dirinya sendiri. Ia sadar ia terlalu lelah belakangan ini. Awalnya ia merasa bisa mengatasi semuanya seiring berjalannya waktu.

Namun sampai saat ini keyakinannya belum terbukti. Bagaimanapun, dia hanya gadis remaja berusia 17 tahun yang belum terlalu lama menjalani hidup.

“Hei.”

“Oh, Hongbin-a…” Ah Young memaksakan diri untuk tersenyum. Setelah membetulkan posisi tas-nya yang hampir jatuh, ia mengulurkan tangannya pada Hongbin, “Selamat ulang tahun.”

Hongbin tersenyum cerah, lalu membalas uluran tangan Ah Young. “Terima kasih.”

Selanjutnya, mereka diam tanpa kata. Hongbin masih sibuk memikirkan bagaimana caranya memecahkan suasana canggung di antara mereka, sementara Ah Young memikirkan apa saja yang harus ia lakukan setelah pulang sekolah—bekerja di restoran sampai jam 5 sore, lalu jaga shift malam di minimarket sampai jam 10, lalu kembali ke restoran untuk menumpang tidur.

“Kenapa kau begitu diam hari ini?” Akhirnya Hongbin bersuara.

“Aku memang pendiam, seperti yang kau tahu.”

“Bukan, maksudku…” Hongbin menggaruk tengkuknya, “biasanya kau masih mau bercerita padaku, tentang apa saja.”

“Apa itu penting bagimu?” Ah Young bertanya dengan ketus, membuat Hongbin bertanya-tanya.

“Ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya kau seketus ini. Kenapa? Kau marah padaku?”

Ah Young menggeleng. “Tidak.”

“Lalu?” desak Hongbin.

“Aku… marah pada diriku sendiri.”

Hongbin mengernyit. “Kenapa?”

“Karena aku…” Ah Young menatap wajah Hongbin, namun tak berani menelusup pandangan matanya semakin dalam. Itu membuatnya sakit.

“Lupa ulang tahunmu…” Ah Young kembali melangkah pelan, berusaha menghindari tatapan Hongbin. Berusaha menutupi rasa sedihnya atas ulang tahunnya yang terlupakan.

“Ah, aku pikir karena apa,” Hongbin tersenyum sambil mengelus dadanya. “itu bukan masalah besar.”

“Aku pergi dulu.” Tanpa menunggu jawaban dari Hongbin, ia berlari menjauhi lelaki itu. Ia benar-benar tak ingin orang lain turut merasakan kesedihannya.

“Hei!!”

.

.

.

Tanpa Ah Young tahu, Hongbin berjalan mengikutinya. Karena hari itu mereka pulang lebih awal setengah jam (karena staff guru ada kepentingan), Ah Young hanya pergi ke belakang sekolah untuk sekadar beristirahat. Biasanya ia langsung pergi ke halte bus dan menaiki bus yang akan membawanya ke restoran kecil tempat ia bekerja tepat jam 2. Kecuali jika pelanggan ramai dan tenaga kerja di restoran tak cukup mengatasi, ia akan pergi dari sekolah secara diam-diam.

Hongbin terkejut melihat Ah Young melakukan akting monolog dengan membawa sekuntum bunga mawar liar yang baru saja ia petik. Hongbin keheranan melihat Yura berkali-kali pindah posisi demi memerankan cerita yang Hongbin sendiri tak tahu bagaimana alurnya. Ia pun berjalan mendekat dengan sedikit berjingkat.

“Selamat ulang tahun, Ah Young!!” Ah Young menyodorkan bunga mawar itu ke depannya sambil tersenyum cerah, lalu ia menempati tempat di depannya dan bertingkah seolah-olah menerima bunga mawar itu.

“Ah, terima kasih. Bagaimana mungkin kau ingat ulang tahunku, di saat teman-temanku tak ingat, bahkan tak menyapaku?”

“Tentu saja aku ingat.” Ah Young kembali menempati posisinya semula, namun bunga mawar yang ia pegang ia sembunyikan ke belakang punggungnya, berpura-pura bahwa mawar yang tadi ia pegang telah diterima lawan mainnya. “Kau sahabat baikku. Tapi maaf, aku terlambat mengucapkannya. Padahal ulang tahunmu 15 Januari.”

“Tak apa. Aku tahu kau sibuk.”

“Tapi, ada satu yang kurang.”

“Apa?”

Ah Young meremas kelopak bunga mawar di tangannya, lalu melemparnya ke atas, berandai-andai bahwa kelopak bunga yang berjatuhan itu adalah confetti khas ulang tahun yang berwarna-warni.

“Terima kasih banyak…” senyum Ah Young pun memudar, “Lee Ah Young.”

Saat ia berjalan mengambil tasnya, ia melihat sepasang sepatu biru langit di dekat tasnya.

“Hongbin-a?”

“Kenapa kau ada di sini?”

Ehm.” Ah Young berdehem seraya mengangkat tasnya yang semakin hari semakin berat. “Aku berlatih akting, besok ada club teater kan? Haha…”

Hongbin mendengus mendengarkan ucapan bohong Ah Young. “Bahkan kau bukan anggota club teater.”

“Iya. Benar.”

Ah Young melangkah pergi, tak ingin beradu mulut lebih jauh lagi. Namun Hongbin mencegahnya pergi dengan menggenggam tangan Ah Young.

“Kau ingin ulang tahunmu dirayakan ‘kan?”

Ah Young menatap mata Hongbin.

“Kue tart, lilin berbentuk angka yang menunjukkan umurmu, confetti berjatuhan, mencoreng wajah teman-temanmu dengan whipped cream yang ada pada tart ulang tahunmu, lalu teman-temanmu mengucapkan selamat ulang tahun padamu… kau menginginkannya ‘kan?”

“Tidak.”

Hongbin diam.

“Sama sekali tidak. Selama 17 tahun aku hidup, tak pernah ada seorangpun yang ingat ulang tahunku, jadi aku sudah terbiasa untuk tidak merayakannya dengan hal-hal yang kau ucapkan tadi. Yang biasa kulakukan di hari ulang tahunku adalah seperti yang kau lihat tadi. Aku sudah merayakan ulang tahunku dengan baik, jadi jangan mencemaskanku.”

“Jangan bohong.”

“Aku tidak bohong! Setiap tahun aku melakukannya dan itu selalu cukup bagiku. Kau tak tahu apa-apa.”

“Lalu kenapa kau merayakannya hari ini?”

“Karena aku sempat lupa kapan aku dilahirkan,” jawab Ah Young sejujur-jujurnya. “Tak pernah ada orang yang ingat ulang tahunku, jadi hanya aku satu-satunya orang yang ingat ulang tahunku. Kau pasti tahu bahwa ingatan manusia terbatas, iya kan? Aku merayakannya hari ini karena aku lupa kapan persisnya ulang tahunku.”

“Ah Young. Kau tak perlu bohong. Lidahmu memang lancar mengucapkan apa yang ingin kau ucapkan, tapi matamu tak bisa membohongi bagaimana perasaanmu sekarang.”

Ah Young mendesis. “Kau tidak tahu apa-apa.”

Ah Young berusaha menepis tangan Hongbin yang tak kunjung melepaskan genggaman tangannya, tapi tenaga Hongbin cukup kuat. Hingga akhirnya, malah tas Ah Young jatuh dan handle bag-nya putus. Terlebih resleting tasnya terbuka secara otomatis. Tas yang telah menemani Ah Young sejak 1 SMP itu pun tidak bisa dipertahankan lagi.

“M-Maaf…”

Hongbin hendak membantu Ah Young, namun Ah Young menepis tangannya. Hongbin terkejut melihat beberapa potong pakaian Ah Young keluar dari tasnya.

“Ah Young-a, ada apa?”

Ah Young tak menjawab. Sesegera mungkin ia pergi setelah menutup resleting tasnya, meskipun percuma. Bagian atas tasnya telah robek mengikuti jalur resleting di kanan-kirinya hingga setiap Ah Young melangkah, ia harus membungkuk demi mengambil pakaiannya yang terus-menerus jatuh. Hongbin menatapnya dari kejauhan dengan perasaan tak menentu.

.

.

.

Hongbin terus memutar globe di meja belajarnya, enggan memegang satu bukupun. Tak seperti malam-malam sebelumnya, ia memikirkan Ah Young lebih dalam dibandingkan pelajaran-pelajaran yang harus ia pelajari. Ia kesal pada dirinya sendiri karena tak tahu banyak hal tentang Ah Young.

Padahal banyak cara yang ia lakukan demi mengetahui banyak hal tentang Ah Young, namun tetap saja, itu belum cukup untuk bisa memahami kehidupan Ah Young yang lebih berat darinya. Ia pernah bertanya pada adik Ah Young di panti asuhan tempat mereka bernaung dulu, dan ia hanya menemukan satu hal tentang Ah Young.

Ia menjadi pendiam karena ia tak mau orang lain yang dekat dengannya ikut merasakan kesedihan yang ia alami. Diamnya Ah Young karena ia tak ingin orang lain iba atau kasihan padanya.

Dia ingin orang lain tak perlu merasakan kesedihannya.

“Ah Young bodoh.”

Tak lama kemudian, hujan turun secara tiba-tiba dengan cukup deras. Satu-satunya yang ia pikirkan adalah Ah Young. Kini Hongbin tahu, tempat tinggal Ah Young telah rata dengan tanah dan Ah Young belum menemukan tempat yang tepat untuk berlindung.

Dengan cepat, ia meraih hoodie hitamnya, menyiapkan mantel dan mengambil payung yang terletak di ruang tamu.

.

.

.

Kedua tangan Ah Young memegang tasnya di atas kepala. Ia berlindung di bawah pohon di taman kota. Ia menangis keras, namun tak ada satupun orang yang peduli. Selain mereka terlalu sibuk untuk melindungi diri dari hujan yang terlampau deras, mereka juga tak dapat mendengar isakan Ah Young ataupun melihat keberadaannya.

Tapi tidak dengan Hongbin.

Ia berhasil menemukan Ah Young. Untung saja apartemennya dekat dengan taman kota.

“Ah Young-a…”

Hongbin meletakkan payungnya, lalu melepas hoodie dan mantelnya untuk dipakaikan pada Ah Young.

“Kau bisa hipotermia di sini. Ayo pulang ke rumahku.”

“Kau benar, Hongbin-a… Aku menginginkan semua yang kau sebutkan itu.”

Hongbin diam.

“Kue tart, lilin berbentuk angka yang menunjukkan umurmu, confetti berjatuhan, mencoreng wajah teman-temanmu dengan whipped cream yang ada pada tart ulang tahunmu, lalu teman-temanmu mengucapkan selamat ulang tahun padamu… aku sangat menginginkannya. Aku ingin merasakannya walau hanya sekali.”

“Ah Young-a…”

“Atau mungkin tak ada kue tart, tak ada yang lainnya, asalkan ada seseorang yang merayakan ulang tahunku dengan tulus… aku ingin merasakannya. Sekali seumur hidup saja cukup.”

Ah Young menatap Hongbin. Meskipun hujan sangat deras dan wajah Ah Young basah oleh air hujan, namun Hongbin tahu pasti ada air mata di pipinya.

“Sekali saja… Aku ingin tahu bagaimana rasanya.”

“Banyak orang bilang, perayaan ulang tahun itu tak berguna. Aku ingin berpikir seperti itu, terlebih, setiap tahunnya aku sudah terbiasa untuk tidak merayakannya… tapi…” Ah Young belum sanggup melanjutkan ucapannya.

Hongbin mengangguk, memaksakan diri untuk tersenyum demi menghibur Ah Young, walaupun sepertinya tak berguna.

“Aku benci diriku yang terlalu pendiam, hingga tak pernah ada orang lain yang memperhatikanku. Aku benci diriku yang selalu menyendiri, hingga orang lain tak pernah menganggapku ada. Aku benci…”

Hongbin memaksa Ah Young berdiri dengan merangkul bahunya, lalu mengambil payungnya.

.

.

.

26 Januari 2014.

Ah Young turun ke lantai pertama sambil mengeringkan rambutnya. Baru kali ini ia mandi di tempat yang sewajarnya. Setelah panti asuhannya digusur, ia hanya bisa menumpang mandi di kamar mandi minimarket. Untuk meletakkan baju-bajunya yang lain di restoran tempat ia bekerja pun terasa berat, apalagi pemilik restoran telah memotong 5 persen gajinya untuk penitipan bajunya.

Karena Hongbin, ia merasa bisa sedikit bernapas hari itu.

“Sudah selesai?” tanya Hongbin melihat Ah Young telah memakai sweater merah yang pernah Hongbin belikan, lengkap dengan celana jeans hitam kesukaannya.

Ah Young hanya mengangguk.

“Bagus. Ayo ikut aku.” Hongbin tersenyum penuh arti, sementara Ah Young mengerutkan dahinya. Hongbin memiliki satu rencana khusus untuk Ah Young. Untung saja kedua orang tuanya berada di luar negeri selama seminggu kedepan, jadi ia bisa leluasa mengajak Ah Young pergi kemanapun yang ia mau.

.

.

.

Ah Young sedikit merasa canggung ketika Hongbin melingkarkan lengannya ke lehernya. Pipinya bersemu merah, sementara Hongbin tersenyum senang sambil sesekali menunjuk banyak hal yang membuatnya tertarik.

“Oh, Ah Young-a!!” Kali ini ia menarik tangan Ah Young ke tempat permainan ‘Pick a Doll’.

“Kau mau boneka apa?” Hongbin memasukkan uang koin ke dalam lubang di samping tuas, “kuambilkan!”

“Tak perlu begitu.”

“Boneka yang mana?”

“Babi pink!!” jawab Ah Young akhirnya.

“Babi pink…” gumam Hongbin sambil melihat alat pengambil boneka bergerak sesuai gerakan tuas yang ia pegang.

“Nah… di sini…”

Ah Young turut membungkuk dan memperhatikan dengan seksama.

“Nah!! Yak!!” Hongbin menggerakkan tuasnya lagi.

“Yeaayy!!” ketika boneka babi yang ia ambil keluar dari tempatnya, Hongbin segera mengambilnya dan memberikannya pada Ah Young yang masih bertepuk tangan.

“Terima kasih,” ucap Ah Young pada Hongbin, “tadi itu keren.”

“Bukan Hongbin kalau tidak keren,” ia tertawa, “kau suka?”

Ah Young mengangguk. Hongbin mencium ubun-ubun Ah Young, lalu kembali mengajak Ah Young ke tempat lain. Melihat Ah Young tersenyum membuatnya semakin ingin membuat Ah Young bahagia.

.

.

.

“Hah…”

Hongbin dan Ah Young duduk di bangku taman kota sambil melihat langit malam yang tak begitu mendung, juga tak begitu cerah, namun keanggunannya tetap indah untuk dipandang.

“Kau senang hari ini?”

Ah Young mengangguk. Ia melihat boneka babi pink di pangkuannya, tas berwarna abu-abu dengan sedikit corak pink, juga jam tangan berwarna pink yang baru saja Hongbin belikan hari itu.

“Terima kasih…”

Hongbin menatap Ah Young sambil tersenyum.

“Mungkin ini semua tak berarti bagimu, tapi, ini sangat berarti bagiku.”

Hongbin mengangguk. “Ah Young-a…”

Hm?”

“Aku tahu ini terlambat, tapi…”

Ah Young menatap Hongbin penasaran. Tanpa ia prediksi sebelumnya, Hongbin mencium pipinya lembut, membuat ia mati rasa beberapa saat.

“Selamat ulang tahun.”

Menutupi rasa malunya—sekaligus rasa senangnya—ia mencubit pinggang Hongbin cukup keras hingga lelaki itu berteriak kecil.

“Sekarang tanggal 26, bukan tanggal 15. Dasar bodoh!”

“Bagaimana lagi? Tidak ada mesin waktu, jadi kita tidak bisa kembali ke tanggal 15. Anggap saja hari ini tanggal 15, setuju?”

Ah Young menggeleng.

“Dasar! Sekarang tanggal 26, tapi jika 26 dikurangi 11, hasilnya 15. Bisa dibilang hari ini juga tanggal 15, karena angka 11 bentuknya seperti ‘sama dengan’, bedanya 11 vertikal, sementara ‘sama dengan’ horizontal. Dengan kata lain, tanggal 26 sama dengan 15.”

Ah Young berdecak. “bisa kau hentikan bualanmu? Kau membuat moodku hilang.” Setelahnya ia melangkah pergi.

“Hei! Tunggu aku!! Dasar!!”

Setidaknya, sekarang Ah Young tahu bagaimana rasanya merayakan ulang tahun dengan orang yang kau sayangi.

| E.N.D |

Fict and Fact

Fict :

  1. Yura lahir tanggal 15 Januari 1997 dan Hongbin lahir tanggal 25 Januari 1996
  2. Yura suka sama Hongbin dan sebaliknya, cuma mereka memutuskan untuk tetap berteman, karena jika jadi sepasang kekasih, belum tentu mereka langgeng
  3. Hongbin mengucapkan selamat ulang tahun dan ngerayain ulang tahun Yura (dan secara gak langsung ngerayain ulang tahunnya dia juga).

Fact :

  1. Hongbin lahir tanggal 29 September 1993, Yura lahir tanggal 6 November 1992. kenapa kok aku milih mereka untuk jadi main cast di fic ini? karena aku pengen ngelanjutin fic “Vixx-Girls Day Series”.
  2. Pada dasarnya, Aku (yang lahir tanggal 15 Januari) gak suka sama ‘D’ yang lahir tanggal 25 Januari. kami cuma sekedar berteman dan gak ada yang spesial di antara kami.
  3. ‘D’ sama sekali gak ngucapin selamat ulang tahun ke aku, begitu juga teman sekelas lain. cuma 2-3 anak yang ngucapin selamat ulang tahun ke aku
  4. Bagian awal cerita ini nyata. dari sang guru yang ngerjain hongbin, sampe Ah Young ngucapin selamat ulang tahun. aku pernah punya ide buat ngerayain ultah sendirian kayak Ah Young, tapi aku pikir itu cuma bikin tambah sedih.
  5. di dunia nyata aku gak yatim piatu. santai aja😛

ehm ya.. intinya.. makasih buat temen-temen yang udah ngelupain ulang tahunku, kalo kalian inget, mungkin fic ini gak akan pernah ada. hehe… intinya fic ini cuma salah satu khayalanku dari sekian banyak khayalanku tentang ulang tahunku.

Happy birthday to me🙂

P.S : ada 2 Birthday fic buat aku, satunya pake Hoya… so wait it ^^

//

6 thoughts on “[Vignette] 25 to 15

  1. Uh, kak Sasa…. baru kali ini aku dateng dan gak berniat rusuh….. waktu itu temen yang inget ulang tahun Asel juga cuma beberapa orang, baru di twitter mereka pada inget ;___;

    Em, ngomong2 soal fic diatas rangkaian kata disini udah apik banget kak. Nggak maksain, kerasa banget feelsnya dimulai dari Ah Young yang nyeselin sifat sifat pendiem & penyendiri dirinya sendiri jadi ga ada yang merhatiin, sama bagian Hong Bin yang diperlakukan spesial kayak gitu meanwhile ga ada satupun yang ngucapin ke dia. Emang mereka gak pernah intip biodata kelas yak? Hiing untung ada Hong Bin😦 makin ganteng aja kamuh inii❤

    Jadi keinget Cha Eunsang waktu bagian Ah Young pekerjaannya banyak dan sehari-hari nginep di restoran, yuk pindah ke rumah aku aja Yur :(( dan waktu Yura ngucapin ulang tahunnya ke diri sendiri, kak Sasa jangan dicontoh dong😦 kan Asel dan teman teman IFK sekalian sudah ngucapin hehehehe ^-^9 sayang kak sasaaa~ makasih buat fic yang mendalam dan bagus ini, btw Yura-Hong Bin disini cocok masa ._.

    Ditunggu birthday fic yang Hoya itu ya kaaak!! bye bye😀

    titip nama ah; dari-Asel.

    1. iya.. temen nyata tuh gak bakal inget ultah temen lain kalo gak ada facebook (soalnya pas aku masih punya fb semua inget ultahku)

      itu yang Ah Young nyesel itu kerasa? ya… soalnya itu aku banget dek :”” bisa dibilang semua yang dipikirin Ah Young itu apa yang pernah aku pikirin x”D btw, Hongbin emang ganteng, tapi hatiku tetap tak berpaling dari Leo (heh).

      aku belum pernah liat The Heirs :”( modem punya ayah ibu soalnya, jadi kalo buat download kayak gitu-gituan pasti gak leluasa… orang download video-nya Girls day aja sembunyi-sembunyi kok :”

      iya.. makasih ya adekku tercintah, yang udah ngucapin HBD ke aku :”)
      ya iyalah cocok, mereka kan sama-sama visual xD (?) mereka kan jadi kapel waktu nge-cover Now, tapi kemistri mereka gak ngalahin Leo-Sojin sih (eaaa)

      okey… makasih Asel ^^

  2. Halo, saya kembali iseng berkunjung kemari. Pengin ngecek-ngecek gitu, eh ternyata ada fic baru. Ceritanya manis banget deh hehe🙂 saya gak seberapa tahu para idolnya, tapi dari ceritanya, um, saya bisa menyimak para karakternya dengan cukup baik.

    Idenya terbilang sederhana sih, dan saya melihat nuansa teenlit di sini. Kental banget. Dengan konflik yang sepele, tapi dikembangkan dengan amat sangat baik. Walaupun ungkapan 26 dikurang 11 itu jayus banget, sama kayak kata Ah Young, tapi adegan penutupnya sangat baik kok.

    Dari scene-scene yang ada, saya beneran sangat menikmati pas bagian awal lho, pas bagian Hongbin yang ditipu guru itu. Haha! Saya beneran kayak Hongbin deh, dikira Hongbin asli menghilangkan rapor Ravi. Eh, ternyata saya ketipu juga. Saya suka adegan itu, berdebatan batin dan juga pendeskripsiannya sangat baik, sampai beneran saya ikut ketipu juga.

    Overall, saya sangat menikmati ceritanya🙂 tapi masukan saya mungkin ttg kata “raport”, agak sedikit ambigu ya, kalau Bahasa Indonesia-nya: rapor, tapi Inggrisnya: report. Kalau “raport” rasanya agak tanggung deh hehehe.

    Keep writing ya.

    1. halo kaka, makasih sudah kembali ke blog amatiranku :”) dan kakak ngecek-ngecek? aduh /.\ banyak fic yang lumayan ancur lho kak, gak pa2? :”
      makasih kak, idenya sederhana, soalnya gak seperti biasanya yang murni khayalan, ini didapet dari pengalaman pribadi :” (meski cuma awalnya doang sih)
      aku juga kak xD pas D diomelin, aku pikir beneran, orang temennya itu juga keliatan bingung, semacam mikir “aku udah ngumpulin, kok bisa ilang sih?” dan ternyata gurunya cuma akting -_-”

      oh.. ok kak, makasih koreksinya,
      dan salam kenal xxD

  3. D.A.E.B.A.K
    annyeong.. reader baru deisy imnida 92L..
    awal baca fic sih di IFK dan entah kenapa suka sama tulisan yang dibuat sama sasphire, kihyuka sama siapa lagi aku lupa..
    dan jadi ketagihan buat baca soalnya emang bagus..
    well aku emang gak bisa banyak komen..
    keep writing🙂
    bangapta😀

  4. Halo, kenaalan dulu nih, nisa 91 line ^^
    Sebelumnya kita pernah satu rumah di ffindo, inget gak? Atau mungkin pernah denger namaku? Hehhehe..
    Aku terdampar di sini karena nyari2 biodatamu di IFK (yg isinya keren2 tapi penulisnya masih muda muda oh i kenot) , trus aku ubek2 deh librarynya.. muehehehe..
    Kayanya bias kita sama sih, akang Leo #yuhu #digaplokLeo makanya aku nemu berbagai ff vixx dsini berasa nemu harta karun, trus hongbin juga jd bias kedua hbs leo..
    Oke sekian basa basinya, balik untuk komenin fic ini.
    Aku ga tau di ff ini bagian abal2nya dimana.. ini kereeeen bngt kok T T seriusan, aku pernah ngalamin kaya hongbin gini, dituduh ngilangin rapor temen, dan paniknya tuh kaya diare dadakan #plak #beneran
    Trus katamu bnyk yg lupain ultahmu sama kaya ahyoung. Yah, klo ngerayain ultah ala2 ahyoung gitu rsnya nyesek juga sih. Dan adegan nyesek itu feelnya dpt bngt .
    Sukses yaaa

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s