Leo toujours près de vous


Leo toujours

by

SASPHIRE

Starring :
Jung Taekwon Vixx, Park Jiyeon T-ara

Romance, Life, Angst | T

Jiyeon duduk termenung di bawah jendela ruang kontrakannya. Pandangan matanya kosong, pikirannya sangatlah hampa. Ia memeluk erat lututnya. Di sela-sela keheningan rumahnya pada pagi itu, air matanya mengalir. Untuk beberapa saat, ia tak bisa mengeluarkan isakannya karena terlalu lama menangis. Malam sebelumnya, pagi hari kemarin, malam sebelumnya lagi… dan seterusnya. Sejak 7 hari yang lalu.

Setelah ibunya resmi dikebumikan.

Ia terlalu sedih. Itu faktanya.

.

.

.

Ayahnya meninggal saat ia berumur 9 tahun, tepat di tangan seorang eksekutor yang di tangannya terdapat pistol.

Hukuman mati.

Ia menanggung kesalahan yang telah ia perbuat dengan perampokan bank berkali-kali, yang tak sedikit memakan korban jiwa. Jiyeon yang saat itu mulai bisa mengerti keadaan orang dewasa hanya bisa menangis pilu setelah membaca koran dengan Headline yang menyudutkan ayahnya. Terlebih ada foto yang memperlihatkan kondisi ayahnya—telah dikurung selama 10 tahun sebelum eksekusi—sangatlah renta.

Meski begitu wajahnya tetap tersenyum, seolah menantikan kematian itu datang.

Dan sehari setelah ayahnya pergi, ibunya berubah total.

Tak pernah lagi Jiyeon lihat ibunya tersenyum. Yang ia lihat, ibunya hanya menangis dengan tatapan mata kosong. Beberapa kali mencoba bunuh diri, dan Jiyeon kecil selalu punya banyak ide untuk mencegahnya.

Namun akhirnya, tiba saatnya Jiyeon harus menyembuhkan ibunya dengan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa demi menyembuhkan ibunya. Demi melihat senyum ibunya yang sudah lama ia rindukan. Walau tak dapat dipungkiri, Jiyeon sendiri hanya tersenyum saat ibunya hidup.

Tak apa ia tak memiliki apapun di dunia ini, yang penting ia masih memiliki ibu.

.

.

.

Dan Jiyeon menerima kabar dari Rumah Sakit Jiwa bahwa ibunya kembali meneruskan niatannya untuk bunuh diri dengan melompat dari lantai paling atas Rumah Sakit itu.

Kali ini Jiyeon tak berhasil mencegahnya.

.

.

.

Handphone-nya berdering. Memecahkan keheningan dan membuyarkan lamunannya akan kenangan pilu. Ia menatap layar handphone yang berada di sampingnya.

Jung Taekwon.

Rekan kerjanya selama 2 tahun belakangan ini, sekaligus teman seangkatannya saat SMA. Dan mungkin tambatan hatinya?

Jiyeon menghela napas, lalu perlahan mengangkat teleponnya.

“Jiyeon-a… Kenapa 2 hari ini kau tak masuk?”

Butuh waktu lama bagi Jiyeon untuk menjawab. Kerja? Apa dia masih butuh kerja, sementara alasannya untuk hidup kini telah pergi?

“Jiyeon-a?”

Masih tak ada suara. Leo menghela napas.

“Sekadar mengingatkan, Mr. Kim hanya memberikan 5 hari untukmu.”

Dan akhirnya Jiyeon mengucapkan sepatah kata, “Ya.”

“Aku mengerti perasaanmu.”

Jiyeon menggumam pelan, “Kau tak tahu.”

“Apa?”

Belum terjawab pertanyaan Leo, sambungan telepon telah diputuskan oleh Jiyeon.

.

.

.

Di tengah-tengah rerumputan, Jiyeon berdiri tegak. Air matanya kembali mengalir melihat rel kereta api di depannya. Dulu, ibunya sering mengajaknya melihat kereta api setelah menjenguk ayahnya di penjara. Ibunya bilang, melihat kereta api sambil melambaikan tangan kepada masinis yang tengah bekerja—dan kebetulan melihat mereka—sering menghibur hatinya. Dan Jiyeon merasakannya pula.

Ia tersenyum kecil mengingat masa kecilnya yang cukup bahagia. Mereka memang tidak pernah bermain ke arena permainan. Mereka juga tak pernah berbaur dengan masyarakat karena memiliki seorang keluarga yang menjadi musuh masyarakat. Tapi mereka memiliki satu sama lain. Itu cukup.

Tapi, kini ibunya tidak ada.

Jiyeon pikir, ia harus tetap memiliki ibunya.

Ketika dari kejauhan terdengar bunyi kereta api, ia bergegas menuruni rerumputan yang landai, berjalan mendekati lintasan rel.

“Hei.”

Jiyeon terkejut ketika ia merasa lengannya ditarik oleh seseorang. Ketika ia menoleh, ia dapati sebuah senyuman dari seseorang yang—bisa dibilang—jarang tersenyum padanya, meskipun ia pernah bilang, ia menyukai Jiyeon.

“Taekwon-a?”

“Mau melihat kereta?”

Entah mengapa, Jiyeon mengangguk. Ia tak ingin berbohong padanya, tapi mengapa ia mengangguk?

“Jika ingin melihat kereta, tak baik dari jarak dekat.”

Leo menariknya mundur beberapa langkah, lalu memaksa Jiyeon untuk duduk di sampingnya.

Jiyeon sangat menyayangkan kesempatannya untuk bertemu ibunya, terlebih saat kereta melintasi rel tepat setelah ia duduk di samping Leo.

“kau yang bilang, kereta tak bagus dilihat dari dekat.”

Jiyeon mengangguk, mengiyakan ucapan Leo. Jiyeon mengernyit sesaat sebelumnya, mengingat Leo lebih banyak bicara untuk hari ini. Padahal, 7 hari sebelumnya—terakhir mereka bertemu setelah pemakaman ibu Jiyeon—Leo tetaplah Leo yang pendiam. Leo yang hanya akan berkata apabila orang lain benar-benar membutuhkan pendapatnya.

Tapi bukan urusan Jiyeon untuk menanyakannya.

“Aku tahu ini tidak penting. Tapi…”

Jiyeon menatap Leo, meskipun pandangan mata Leo menerawang jauh ke langit biru yang cukup cerah meskipun berawan.

“Jika kau butuh, aku bisa jadi pendengar.”

Jiyeon mengangguk. Kali ini Leo menatap Jiyeon, padahal Jiyeon menatap pasrah ujung kereta yang telah berada cukup jauh dari pandangan. Ia pun berdiri, berniat untuk menjauh dari Leo.

Sementara Leo masih terduduk di sana. Di tempat yang selalu menjadi pelepas penat dan penuh canda tawa karena seorang Jiyeon yang berada di sampingnya. Seorang Jiyeon yang tak pernah lelah untuk menceritakan kehidupannya panjang lebar, Seorang Jiyeon yang selalu menceritakan cerita humor demi membuat Leo tertawa.

Leo tertawa kecil saat mengingat Jiyeon pernah berkata, “Tersenyum tidak cukup bagimu. Kau harus tertawa. Lihat? Wajahmu terlihat sangat aneh. Itu pasti karena kau tak pernah tertawa!”

Leo kembali menghela napas.

Ia tahu, Jiyeon pasti sangat terpukul atas kematian ibunya yang tragis. Dan Leo tahu, Jiyeon telah berubah 180 derajat dibandingkan sebelumnya. Jiyeon yang ia kenal sangatlah ceria dan tetap bangga pada kondisi keluarganya. Kali ini ia terpuruk dan sangat diam.

Jiyeon selalu membuatnya terpaksa mengucapkan kalimat omelan semacam, ‘berhenti menggodaku’, ‘jangan kekanakan’ , ‘berhenti melakukannya! Itu tidak lucu’ , atau jika Jiyeon berhasil membuat Leo tertawa, Leo akan berkata, ‘kau membuat perutku sakit’, ‘berhenti, Jiyeon-a, kalau tidak aku akan menciummu!’

Tapi kini Leo tak dapat mengucapkannya. Bahkan sekadar melihat senyumnya pun sepertinya mustahil.

Jika kali ini keadaan harus berbalik–Leo menjadi ceria demi membuat Jiyeon tersenyum kembali—ia mau melakukannya. Walau ia tak tahu bagaimana hasilnya, tapi ia ingin mencoba.

Agar ia dapat melihat Jiyeon yang ia kenal.

Agar ia tidak kehilangan Jiyeon.

.

.

.

Jiyeon yang seumur hidupnya selalu sabar, kini mengumpat tak henti-hentinya setelah percobaan bunuh dirinya gagal. Ia menjadi gelap mata, lalu mencari seluruh benda di rumahnya yang memungkinkan untuk segera membuatnya pergi.

Pergi dari kehidupan ini.

Ada satu gelas penuh air di meja lantainya. Dengan cepat ia melangkahkan kaki, lalu lekas memecahkan gelas itu.

PRANG!!

Ia tersenyum bahagia melihat satu pecahan gelas yang cukup besar dan tajam yang ia pikir pasti akan mempersingkat hidupnya. Ia pun mengambilnya.

Aku datang, ibu…

Tunggu aku…

Tepat setelah ia menggoreskan gelas itu ke urat nadinya…

“Jiyeon-a!”

Jiyeon menoleh. Tepat di ambang pintu rumah kecilnya berdiri seorang lelaki yang menolongnya dari tindakan bodohnya.

“Ah, tanganmu terluka.”

Dengan gerakan memaksa, Leo mengajak Jiyeon untuk duduk di sudut ruangan yang berada cukup jauh dari pecahan gelas agar Jiyeon tidak terluka.

“Lain kali, lebih hati-hatilah saat memegang gelas.”

Jiyeon menatap Leo dingin, namun bibirnya kelu untuk mengucapkan beberapa patah kata untuk mengungkapkan amarahnya.

Karena sekali lagi, Leo datang dan membatalkan rencananya untuk bertemu ibunya.

Leo mengeluarkan sapu tangan putihnya dan mengusap pelan darah yang mengalir dari tangan Jiyeon. “Kau tidak punya kotak P3K?”

Jiyeon menggeleng.

“Ya sudahlah. Yang penting aku sudah melakukan yang terbaik. Jangan masukkan tanganmu ke dalam air hangat, itu memperlambat pembekuan darah.”

Tanpa menunggu ucapan dari Jiyeon (karena ia tahu Jiyeon pasti akan memakinya), ia menghampiri pecahan gelas dan membereskannya. Tiba-tiba jari telunjuknya terkena salah satu pecahan kecil. Spontan, Leo mengibaskan tangannya, lalu mengisapnya.

Awalnya Jiyeon ingin menghampirinya dan melihat luka di jari Leo, namun ia urungkan. Buat apa ia menolong seseorang yang bahkan tak mampu mengerti keadaannya? Orang yang sama sekali tak membantunya untuk kembali bertemu dengan ibunya! Tak ada maaf baginya.

“Bagaimana kau bisa ada di sini?”

Leo sedikit terkejut atas pertanyaan itu, tapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang. “Hanya kebetulan lewat.”

Dan bukan Leo jika ia berbohong. Dalam gumaman ia meneruskan, “Lewat untuk memastikan kau tidak berakhir dengan lebih bodoh dari ibumu.”

“Rumahku begitu terpencil, kau mau kemana dengan melewati rumahku?”

Leo memilih untuk diam, lalu membuang beberapa pecahan gelas ke dalam tong sampah yang ada di sudut ruangan.

“Taekwon-a, kau tidak perlu repot memikirkanku. Pikirkan saja pekerjaanmu.”

Leo menghela napas sesaat, lalu menoleh pada Jiyeon dan tersenyum. “Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.”

Setelah Leo pergi, Jiyeon tersenyum kecil. “Cih.”

.

.

.

Bukan Jiyeon jika ia menyerah begitu saja. Ia tidak berpikir bahwa keberadaan Leo yang selalu menggagalkan rencananya adalah takdir yang melarangnya untuk mengakhiri hidup. Ia pikir semua itu kebetulan semata. Dan jika ia memang ingin, tak akan ada yang menghentikannya.

Sekali lagi, dengan penuh senyuman, ia menggantung tali tambang di langit-langit rumahnya. Ia menaiki kursi kayunya yang memang salah satu kakinya lebih pendek daripada 3 kaki lainnya. Awalnya ia sangat membenci kursi tua itu, tapi sekarang, ia pikir ia akan berterima kasih pada kursi itu jika ia berhasil bunuh diri kali ini.

Ia berdiri di atas kursi itu. Ia menggenggam erat tali yang sudah ia gantungkan, dan sedikit ragu ketika semakin lama kursi tua yang ia naiki menggoyahkan kakinya. Namun tak ada alasan untuk ragu. Dengam membulatkan tekad, ia menjerat lehernya dengan tali.

.

.

.

Leo bermaksud untuk membawakan sarapan pagi yang baru saja ia beli di restoran terdekat dari rumah Jiyeon. Namun ia merasakan adanya satu keganjilan saat pintu rumah Jiyeon terkunci dan tak ada satupun jawaban dari dalam.

“Jiyeon-a?!”

“Jiyeon-a!”

Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki, ia mendobrak pintu dengan bahu kanannya. Beruntung, rumah kecil Jiyeon sudahlah tua hingga pintunya pun mudah untuk didobrak, meskipun tetap saja meninggalkan rasa ngilu di bahu Leo. Namun rasa itu ia abaikan ketika melihat Jiyeon tengah tergantung di langit-langit.

“Jiyeon-a!!”

Leo berlari ke bawah Jiyeon dan untuk beberapa saat ia kebingungan melihat napas Jiyeon yang mulai tersendat. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kursi yang telah tergeletak di lantai, menaikinya dan melepas leher Jiyeon dari jeratan tali yang telah meninggalkan bekas merah di sana. Leo segera menerima tubuh Jiyeon yang melemas.

“Bodoh.”

Jiyeon menatap lelaki yang telah memangkunya selama sepersekian detik. Lelaki yang membuat keyakinannya untuk bertemu dengan ibunya kembali memudar.

“Kalau kau ingin menghias langit-langit kamar dengan baik, jangan pakai tali. Kau bisa menghiasnya dengan bangau kertas.”

Jiyeon mendorong Leo dengan keras.

“Kenapa kau terus menghalangi jalanku?!”

Leo diam.

“Kenapa kau selalu menggagalkan semua rencanaku?! Dan kenapa kau selalu bertingkah layaknya pahlawan di setiap usahaku untuk bertemu ibu?! Kau tidak tahu apa yang aku rasakan?!”

“Tentu saja aku tidak tahu. Kau tak pernah berusaha menceritakannya padaku.”

Jiyeon tersenyum, namun sebenarnya senyumannya menunjukkan kekesalan pada Leo. Kekesalan selalu muncul saat orang lain menyanggah ucapanmu, dan sialnya, ucapan mereka benar.

“Kemarin aku sudah bilang, kalau berat, kau bisa menceritakannya padaku seperti biasanya. Tapi kau malah diam dan pergi.”

Gemeletuk gigi Jiyeon terdengar jelas di telinga Leo, namun ia tak peduli. Ia pikir, Jiyeon akan mengeluarkan seluruh emosinya, seluruh amarahnya setelah itu, maka Jiyeon akan lebih baik.

Namun tidak.

Jiyeon berlari ke luar rumah, memiliki tujuan lain untuk mengakhiri hidupnya.

“Jiyeon-a!”

.

.

.

Kaki telanjangnya lecet setelah berlari di aspal yang cukup panas hari itu, namun tak ada artinya bagi Jiyeon. Semua penderitaan, baik penderitaan jasmani atau rohani akan segera berakhir ketika lampu jalan berubah menjadi hijau. Ia akan menyeberang jalanan dengan berani, tanpa keraguan sedikitpun. Tak akan ia biarkan Leo—atau siapapun—menghalangi rencananya lagi.

Cukup 2 kali ia kehilangan hal yang paling berarti di dunia ini. Ia tak perlu merasakan kesedihan lainnya.

“Hentikan!”

Jiyeon muak dengan Leo. Ia berusaha meronta dari genggaman tangan Leo, namun tidak bisa.

“Lepaskan!!”

“Tidakkah kau mau berpikir secara rasional? Aku pikir, seorang Jiyeon tak akan berpikir sedangkal ini.”

“Tahu apa kau tentang aku?!” Jiyeon menatapnya tajam, “Kau tidak tahu apa yang kurasakan!!”

“Makanya, beri tahu aku apa yang kau rasakan dan aku akan menanggungnya bersamamu!!” Leo balas membentak.

“Kau tak akan mengerti!”

Jiyeon berhasil memberontak dan ia berjalan cepat menyeberangi jalan, membuat mobil yang berlalu lalang membunyikan klakson mobilnya.

Leo berlari menghampiri Jiyeon dan memeluknya erat. Hanya dalam hitungan sekon, Jiyeon mendorong Leo dan kembali membentaknya, “Kau gila?! Kau mau mati?!”

“Iya! Kenapa?! Kau pikir aku bisa melepaskan gadis yang kucintai pergi begitu saja?!”

Jiyeon terperangah.

“Harusnya kau tahu itu. Sebenarnya kau tahu, tapi kau tidak mau menyadarinya ‘kan?! Kau hanya mementingkan perasaanmu tanpa peduli pada perasaanku! Kau pikir apa tujuanku mencegah kau melakukan hal-hal bodoh demi mengakhiri nyawamu?!”

“Kau tidak tahu apa-apa! Alasanku hidup hanyalah ibu!! Jika ibu telah pergi, untuk apa aku hidup?!”

“Apa kau tak berpikir bahwa orang tuamu pasti kecewa memiliki anak yang mudah putus asa sepertimu?! Semua orang tua selalu ingin anaknya hidup bahagia, tapi kau?! Jika kau bertemu dengan ibumu nanti, apa yang akan kau katakan padanya?! Meskipun ibumu meninggalkanmu dengan cara seperti itu (bunuh diri), aku yakin dia tak ingin putri semata wayangnya melakukan hal yang sama.”

“Tapi…”

“Tidak bisakah aku yang berdiri di depanmu ini menjadi alasanmu untuk hidup?!”

Jiyeon menghentikan keinginannya untuk menyanggah ucapan Leo. Akhirnya ia menyadari beberapa hal yang berbeda dalam diri Leo beberapa hari terakhir. Ia lebih sering tersenyum dari biasanya, walaupun dengan sekilas, ia bisa tahu bahwa ia sedikit memaksakan diri untuk melakukannya. Ia juga sering bercanda, walaupun candanya tak patut untuk ditertawakan. Lebih-lebih, ia tidak hanya mengucapkan 2-3 kata dalam satu kalimat, namun ia berhasil merangkai 10 hingga 15 kata dalam satu kalimat.

Hanya demi Jiyeon.

“Apa kau tidak bisa menghargai perasaanku yang benar-benar tak ingin kehilanganmu?” Kali ini Leo tidak membentak. Suaranya lebih lembut, namun tak dapat dipungkiri, nada penuh permintaan untuk mengerti perasaannya sangatlah jelas di telinga Jiyeon.

Untuk beberapa saat, Jiyeon mengingat semua kenangannya bersama Leo. Menonton teater musikal bersama, piknik setiap akhir musim panas, melihat salju berguguran saat istirahat makan siang lewat jendela kantor, saling menukar hadiah saat natal…

Saling mendengarkan keluh kesah satu sama lain.

“Aku selalu percaya padamu, Jiyeon-a… Tak bisakah kau percaya padaku?” Kali ini suaranya terdengar lebih lemah—hampir tak terdengar. Mereka berdiri saling menatap cukup lama.

Para pengguna lalu lintas yang bosan membunyikan klakson memilih jalan lain dan tak memiliki niatan untuk mengganggu mereka. Toh, mereka punya pekerjaan yang harus segera ditangani.

Pada akhirnya, isakan Jiyeon pecah. Air mata yang sejak sebelumnya telah turun kini semakin deras mengalir di pipinya. Ia terduduk lemas di bawah kaki Leo, kemudian menggenggam tangannya erat.

Mianhae, Taekwon-a…”

Air mata Leo meleleh. Ia memutuskan untuk duduk di depan Jiyeon. Ia mengangkat dagu Jiyeon, tersenyum padanya, kemudian memeluknya.

Seperti yang selalu ia lakukan saat Jiyeon menangis, ia menepuk punggung Jiyeon pelan, kemudian membelai rambutnya. Namun ada satu hal yang belum pernah ia lakukan pada Jiyeon: mencium ubun-ubun Jiyeon dengan lembut. Yang ia lakukan hanyalah menenangkan Jiyeon dengan kasih sayangnya. Memberitahukan pada Jiyeon bahwa ia tidak sendiri di dunia ini. Masih ada orang lain yang menyayanginya dan tak akan pernah rela kehilangannya.

Leo.

Mianhae…

Leo mengangguk pelan.

Yang penting, kini sang gadis menyadari bahwa ada seseorang yang selalu berada di sampingnya.

Leo.

Dan itu cukup baginya.

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Leo toujours près de vous

  1. Halo, saya pembaca baru di sini, kita saing follow di twitter sih, cuma mungkin saya jarang menyapa hehe🙂 kenalkan, saya Azura. Barusan gak sengaja melihat link ffmu melintang di TL saya, mumpung saya iseng, jadi saya mampir deh. Salam kenal ya.

    Saya suka dengan fanficnya, dengan ide sederhana, tapi narasinya begitu meyakinkan. Kebanyakan ff angst yang saya baca, kesannya penuh dengan metafora, tapi ffmu berbeda, saya bisa menikmati tiap alurnya dengan baik, walaupun narasinya terkesan cepat, tapi tidak terburu-buru, terasa rapi dan runut. Dan saya turut prihatin kalau ada seorang cewek bernasib seperti Jiyeon, sudah jatuh tertimpa tangga ya. Memang terkesan lemah, tapi kalau diperhadapkan dengan kondisi seperti itu, seseorang pasti bisa bertindak di luar nalar.

    Dan kalau soal pengkarakteran, saya suka Leo-nya, tapi saya agak bingung dengan Taekwon itu, apa Leo itu nama aslinya atau bagaimana ya? Maklum, saya gak tau personil VIXX sih, taunya cuma karena banyak teman yang ngobrolin mereka di TL doang. Sebatas tau nama, tapi gak tau apa-apa hehehe #doh. Tapi, karakter Leo di sini unik. Saya lagi suka dengan karakter cowok yang cool-nya ditutupi dengan gaya humor, mirip Leo, waktu memergoki Jiyeon mau bunuh diri dua kali, dia bukan marah-marah, tapi dia malah bercanda, walaupun garing, ceweknya pun mau gak mau jadi ciut sendiri dan jengkel hehehe.

    Pokoknya saya suka dengan ff ini. Penulisannya rapi. Idenya sederhana tapi tersusun rapi. Dan bukan sekadar menulis, tapi terlihat niatnya dengan menyelipkan beberapa makna dalam dialog antar tokohnya. Loveable🙂

    Keep writing ya.

    1. salam kenal kak Azura, pertama-tama makasih ya udah review :”)

      ehm… Taekwon itu nama aslinya Leo, hehe :3
      iya… sebenernya aku lagi suka sama Leo kak, karena sifatnya yang kebapakan (?) biasanya kan yang jadi “Ayah” di satu grup itu kan Leader-nya, tapi kalo di Vixx, dia jadi Ayah dan leader-nya jadi Ibu. dia cool banget, tapi begitu liat anak-anak atau hewan, dia senyumnya tulus gitu, kayak yang sayanggg… gitu, haha, apalagi pas dia ngeliatin foto masa kecilnya member-member lain, dia senyum-senyum sendiri gitu xD //ini malah ngomongin Leo

      makasih review-nya ya kak, buat aku semangat untuk nulis lagi :”)

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s