[Drabble] Miracle in December


tumblr_lgdxr9F8a41qc9ekbo1_500

A Movie by :

SASPHIRE

(@sasphire1501)

Miracle in December

Starring :
Yoo Ara Hello Venus, Aron Kwak Nu’est

Drabble (<800 W) | Sad, Romance | Teen

 

Membumbung jauh di angkasa, Ara hanya bisa menatap balonnya pilu. Senja yang menampakkan kemegahan sinar emasnya kini berganti dengan gelapnya malam yang masih menyisakan semburat kejayaan matahari. Balonnya yang bermacam warna kini hanya nampak kelabu, dan semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.

Meski begitu, ia tetap menatap langit.

Ia tahu tak akan ada cahaya bintang yang ia temui di sana—polusi cahaya yang ditimbulkan gedung-gedung tinggi benar-benar merusak keindahan langit!—namun Ara masih saja menengadahkan wajahnya ke langit.

Mencegah air matanya turun.

Banyak sekali yang ia lakukan hari ini demi menghibur diri. Mengawali hari dengan membeli Coffee late, lalu berjalan di trotoar sambil mendengarkan musik, lalu bermain sebentar dengan anak-anak panti asuhan, kemudian pergi ke pelabuhan, menikmati angin musim gugur yang akan digantikan oleh musim dingin…

Banyak sekali kegiatan yang ia lakukan hari itu dan diakhiri dengan melepas balon tepat ketika senja.

Tetap saja terasa hampa. Tak ada satupun kesenangan.

.

.

.

“Ara-ya…”

Ehm?”

Lelaki di depannya mengeluarkan satu bingkisan berwarna pink dan berpita merah maroon. “Hadiah natal?”

“Oh, ayolah, sekarang masih tanggal 18…” Ara terkekeh pelan.

“Terima saja.”

Ara tersenyum kecil, lalu—dengan sedikit malas—membuka bingkisan pink itu.

“Waahh…”

Aron tertawa. “Kau suka ‘kan? Aku dengar kau diterima di universitas kedokteran. Jadi kubelikan buku itu.”

Ara mengangguk, tak berhenti membaca judul yang terpampang jelas di buku tebalnya.

PENGANTAR ILMU KEDOKTERAN

“Terima kasih, Aronie…” Ara memeluk erat lelaki di depannya. Kekasihnya.

“Ya… Ya…” Aron melepas pelukannya, lalu kedua tangannya memegang pipi Ara dan menatapnya lembut.

“Tapi, jika kau sudah jadi dokter, orang pertama yang harus kau tolong adalah aku.”

Ara mengernyit.

.

.

.

Ara lelah untuk berdiri. Ia memperhatikan sekitarnya, dan tak ada satupun tempat yang nyaman untuk duduk. Ia mendesah keras,lalu duduk bersila di tengah jalan, tak acuh pada tatapan sinis orang di sekitarnya.

Sudah 3 tahun berlalu.

Hidupnya kini jauh lebih sederhana. Tak ada lagi tawa canda ketika guru tak ada di kelas, tak ada lagi kencan buta ala remaja yang dilengkapi dengan saling menukar syal, tak ada lagi pengambilan boneka lewat mesin, tak ada lagi suap-menyuapi kue beras pedas…

Dan tak ada lagi Aron di sisinya.

.

.

.

Ara memasuki ruang bertuliskan nomor 324 di pintunya. Ia menghela napas, lalu memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu.

Ia berjalan pelan menghampiri lelaki yang tertidur pulas–akibat pengaruh obat—di ranjangnya. Parcel buah yang telah lama dibawanya ia letakkan di atas meja. Ia memperhatikan wajah lelakinya.

Tampak sekali guratan-guratan lelah menghiasi wajahnya. Rambut hitamnya yang selalu Ara pui kini tak ada, efek dari kemoterapi yang tak kunjung membawa berita baik. Ara tak bermaksud untuk membangunkan Aron, tapi dengan segenap rasa cintanya—juga rasa bersalahnya—ia memegang pipi Aron. Membuatnya terjaga.

“Ara-ya…”

“Maaf, aku mengganggu.”

“Tidak.” Aron menggenggam tangan Ara, lalu tersenyum.

“Kenapa kau tak pernah mengatakan hal ini?” Terlihat guratan kecewa pada wajah gadis itu.

“Apa?”

“Kanker… Paru-paru…”

Aron tersenyum kecil. “Aku tak mau mengganggu konsentrasimu dalam belajar.”

“Kau bilang kau ingin menjadi orang pertama yang kutolong, ‘kan? Tapi kenapa kau tak menceritakannya?” Ara tak mampu menerima jawaban Aron yang membuatnya semakin merasa bersalah karena tak begitu peduli pada kekasihnya.

Aron tak memiliki niatan untuk menjawab. Tangan kirinya yang terdapat suntikan infus bergerak menghapus air mata Ara.

“Apa sakit?” tanya Ara kemudian. “Kanker paru-paru… apa benar-benar sakit?”

Aron mengangguk.

“Kalau aku pergi…”

Ara memeluknya erat. Tangisannya semakin kuat.

“Bisakah kau bertahan, untukku? Aku akan menyembuhkanmu, bagaimanapun caranya. Aku mohon…”

.

.

.

Bahkan saat itu Ara telah membaca berbagai macam buku tentang kanker paru-paru, tapi semuanya sia-sia.

Aron meninggal sesaat sebelum operasi dimulai.

.

.

.

Ara masih ingat dengan jelas, di jalan itu, 7 tahun yang lalu, Aron mengajaknya berkencan seperti pasangan kekasih lainnya. Memakai syal berwarna sama, jaket yang sama, bahkan perasaan bahagia yang sama-sama mereka rasakan.

Kini ia memakai semuanya, namun tak ada Aron yang memakai pasangan pakaiannya.

Menyedihkan memang, jika hati tak mampu melupakan orang yang pernah tinggal di ‘sana’.

Aku sudah jadi dokter. Kau bangga? Sayangnya, bukan kau orang pertama yang kutolong.

Aku hanya berharap, kau bahagia di sana.

Lalu Ara berdiri.

Dia sudah membuat keputusan.

Melangkah maju, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.

Memang tak baik hidup di masa lalu, tapi pada dasarnya, Ara tak pernah hidup di masa lalu. Ia hanya tak bisa menemukan satu alasan mengapa ia harus terus melangkah maju, karena masa lalunya jauh lebih indah dan tak mungkin bisa dilupakan.

Dan sekarang ia punya alasan untuk maju.

Menyelamatkan pasien lain yang membutuhkan pertolongannya. Agar tak ada lagi orang yang memiliki nasib sama seperti Aron dan dirinya.

Agar tak ada orang yang merasakan kehilangan saat dirasa belum saatnya untuk berpisah.

Agar tak ada orang yang meninggal setelah perjuangannya melawan penyakit sangatlah besar.

Ara berjalan menjauh dan bergabung dengan kerumunan orang yang berlalu-lalang.

Terima kasih, Aron…

| E.N.D |

okey… kenapa aku pilih ‘Miracle in December’ sebagai judul?

simpel aja, karena semua kejadian yang ada di sini terjadi pas bulan desember. gak ada kaitannya sama sekali dengan lagunya EXO :3 kalaupun ada, ya mungkin karena kepentok pas mikirin judul (-_-”) jadinya yang kepikiran hanya itu…

Lagipula, lagunya EXO yang Miracle in December itu artinya galau banget kan? bahkan kalo dipikir kayak gak ada satupun kata yang menggambarkan ‘miracle’ itu, haha //ditabok

ya… Miracle di fic ini tuh yang dimaksud adalah sikapnya Ara setelah merenung itu. setelah bertahun-tahun cuma mikirin Aron dan terus-terusan merasa bersalah, akhirnya, di saat ia cuti, ia punya cukup waktu untuk merenungi tujuan hidupnya. lalu memutuskan untuk terus maju. yeah… it’s just a little miracle, i think xDD

 

and mind to review? ;)

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s