[Oneshoot] Et Grave Odium


et grave odium

Et Grave Odium

 

Fantasy Series of New Atlantic Kingdom

 

Starring :
Hyerin (2eyes) as Claire, Lee Howon (Infinite) as Prince Orion,
Park Jin Young as King Athos

 

Oneshoot (4000 W) | AU, Angst, Fantasy, Romance | Teen

 

Read another Series :

 

Capricorn | Virgo

 

Now :

 

Aries

Melihat tubuh ayahnya terbakar di tengah lapangan gersang membuat air matanya membentuk aliran kecil di pipi mungilnya. Sesekali ia menjilat lollipop terakhir yang ayahnya belikan beberapa saat lalu, saat mereka hendak menikmati pesta rakyat yang biasa diadakan setiap akhir tahun. Juga menyebut ayahnya, sesekali, di sela-sela kegiatannya menikmati permennya. Walau ia sama sekali tak merasakan sedikitpun rasa manis.

Sebenarnya, Sang Ayah dapat mendengarkan suara anaknya yang memanggilnya, namun ia terlalu sibuk berkutat dengan kobaran api yang semakin lama semakin besar, karena para prajurit kerajaan yang ditugaskan menghukumnya terus-terusan menyiramnya dengan minyak gas. Bahkan rakyat lainnya melemparinya dengan batu sebesar kepalan tangan. Ia tak berkutik.

Daddy…. Daddy….

Ayah Claire—gadis kecil berpakaian putih itu—hanyalah Pematri Kaca Istana biasa, yang meminta haknya pada Sang Raja, perihal pembuatan kaca patri istana yang telah usai 8 bulan lalu. Namun Raja Athos—penguasa Kerajaan Aries pada awal abad 15—menganggapnya sebagai pemerasan, lalu menghukumnya dengan keji: membakarnya di tengah-tengah rakyat. Efektif untuk mencapai 2 tujuan Raja Athos: membunuhnya dan mempermalukannya.

Daddy…

Walaupun mata kecilnya tergenang oleh lambang kepedihan hidup, namun ia dapat menangkap sosok raja yang berdiri di puncak kastil sambil menyeringai. Licik dan kejam layaknya Hades, sang Dewa Kematian dalam mitologi Yunani.

Satu persatu warga mulai melepaskan diri dari kerumunan, seiring lolongan serigala yang mengeras di perbukitan yang tak jauh dari sana.

Ayah Claire tewas dan jatuh tergeletak di depannya dengan kulit melepuh. Tak ada lagi wajah sejuk ayahnya yang selalu menenangkannya. Claire hanya bisa menatap jasad hitam di depannya nanar.

Ia sangat tahu, Ayahnya tak akan memeluknya ketika ia menangis sambil memanggilnya.

Tapi Claire selalu ingin melakukannya. Setidaknya untuk saat ini.

Daddy…

.

.

.

19 years later…

Claire dengan pakaiannya yang cukup sederhana dibandingkan gadis-gadis seumurannya menjual bunga di setiap sudut negeri. Meskipun pada kenyataannya banyak orang yang suka bunga, tapi mereka tak pernah sedikitpun membeli bunga pada Claire. Lihat saja pakaian yang ia kenakan…

Lengan tiga perempat dengan rumbai yang menjuntai tak rapi. Bagian bawah bajunya bukanlah rok ala Edwardian seperti style pakaian wanita saat itu, tapi celana hitam yang terlihat jelas tambalan di berbagai sisi. Sebenarnya gaunnya sama seperti milik gadis lain, memiliki rok yang menyapu lantai. Tapi ia potong dengan pisau—agar dapat bergerak dengan leluasa–hingga pertengahan paha. Hasilnya sudah jelas tak rapi. Selain itu hanya itu baju yang ia punya.

Sebenarnya ia tak mau seperti itu. Ia juga ingin memakai gaun keemasan seperti yang dikenakan gadis-gadis lainnya. Ia ingin mengenakan perhiasan-perhiasan yang berkilau. Ia ingin memakai topi kecil di pinggir rambutnya. Ia juga ingin memakai payung berenda yang melindungi kulitnya dari sengatan matahari. Ia juga sangat ingin memakai mantel bulu domba yang akan menghangatkan tubuhnya di setiap musim dingin.

Tapi itu semua mustahil.

Persetan dengan mimpi. Persetan dengan harapan dan doa.

Tak akan pernah ada doa-doa rakyat jelata yang terkabul. Itu pasti.

“Claire.”

Ia merasa ada satu bisikan yang memanggil namanya. Dan itu terbukti benar adanya ketika ia menangkap sesosok lelaki tengah berdiri tak jauh darinya.

Claire tersenyum kecil dan melangkah menghampirinya.

“Kau tidak takut dimarahi Ayahmu, kembali kabur dan memakai pakaian rakyat jelata seperti ini, Pangeran?”

Shhhtt..” Pangeran Orion memperhatikan sekitarnya. Untuk kesekian kalinya dia berhasil menyamar dan berbaur dengan rakyat jelata. Orang-orang di sekitarnya terlalu sibuk pada diri sendiri dan mengabaikan mereka berdua.

“Bisakah kita pergi ke satu tempat?”

.

.

.

“Ayahku ingin mengadakan sayembara untuk mencari pendampingku.”

“Lalu?”

Pangeran Orion tertegun sejenak, kemudian bertutur pada Aprodhite-nya, “Kau tidak paham? Yang kuinginkan menjadi pendampingku adalah dirimu, bukan yang lain.”

Bukannya merasa tersanjung, Claire tertawa lepas, menertawakan keluguan sang Pangeran, tentu saja. “Anda lupa jamuan makan malam kemarin, Yang Mulia?”

Jelas saja penekanan kata ‘Yang Mulia’ yang terlontar dari bibir Claire membuat hati sang Pangeran remuk, juga merasa terhina. Ia tahu, Claire mengatakannya dengan cerminan, ‘Kau pangeran kan? Sependek itukah ingatanmu?’

Mungkin Pangeran Orion—si Pangeran Aries—merasa kesal, namun setelah sepersekian detik, ia merasa bersalah. Bukan salah Claire jika ia merasa tersinggung. Kejadian kemarin memang menyakitkan, terlebih bagi Claire. Pangeran pikir, jika ia menjadi Claire, mungkin ia akan lebih sinis pada kerajaan daripada yang Claire lakukan sekarang.

Ya….

Karena jamuan makan malam…

Pangeran Orion sendiri ingat bagaimana sang Raja meremehkan si Aprhodite yang kecantikannya tak nampak karena tergerus stratifikasi sosial yang terlampau keji.

“Oh, jadi dia yang kau banggakan selama ini? Yang kau sebut-sebut sebagai Aprhodite-mu, atau Pandora-mu? Jika kau tetap mempertahankannya kau bisa pergi dari istana!”

Dan setelah itu, dengan harga diri yang terinjak-injak, Claire pergi.

“Aku minta maaf soal itu.”

“Itu bukan salah anda. Salah saya. Sudah sepantasnya anda mendapatkan yang terbaik, berlian yang indah. Bukan sebongkah batu yang ada di tepi selokan.”

“Claire…”

“Sebaiknya anda kembali, sebelum Yang Mulia Raja mengerahkan seluruh bala tentaranya untuk membuat kericuhan hanya demi mencari anda.”

Untuk kesekian kalinya, hati Pangeran Orion tertohok mendengar kata-kata yang Claire ucapkan dari bibirnya. Gadis itu selalu santun nada pengucapannya, juga nadanya…

Namun tidak dengan maknanya yang tak terucap.

Setidaknya Pangeran Orion tahu musababnya. Ia—dengan asa yang tak lagi penuh—berdiri setelah menerawang jauh ke langit yang sekarang mulai mendung, “Aku harap kau mau ikut sayembara itu. Kau juga mencintaiku ‘kan?”

Pangeran Orion memalingkan tatapannya pada Claire. Si perempuan hanya tersenyum simpul sambil menunduk takzim, kembali memperlakukan Pangeran Orion sebagai ‘anak dewa’ yang juga dianggap sebagai ‘titisan dewa’ bagi sebagian masyarakatnya. Si lelaki mendengus kesal atas sikap Claire.

Padahal jauh sebelumnya, ia telah berterus terang pada Claire bahwa ia benci diperlakukan sebagai seorang anak raja.

Dari situ, ia bisa menyimpulkan, bahwa Claire belum menganggapnya sebagai kekasih sepenuhnya, meskipun jauh di dalam hatinya, ia benar-benar ingin memercayai bahwa Claire mencintainya.

“Tapi, ngomong-ngomong, mengapa kemarin Pangeran memberikan gaun mewah untuk saya, sebelum jamuan makan malam dimulai?”

“Jelas aku tidak mau kau diremehkan oleh seluruh Keluarga Kerajaan.”

Claire tersenyum lagi.”Berarti anda tidak sepenuhnya mencintai saya.”

Pangeran Orion terbelalak.

“Bukankah, jika mencintai saya, anda mau menerima saya apa adanya? Apakah saya pantas mengikuti sayembara itu karena gaun yang anda berikan kemarin telah saya buang?”

Pangeran Orion geram.

“Maaf jika saya lancang. Tapi, jika anda seperti itu, saya tidak yakin untuk menerima tawaran anda untuk mengikuti sayembara nanti. Namun, saya sangat berterima kasih.”

Claire kembali menundukkan tubuhnya, lalu membalikkan badan. Senyuman tulusnya kini berubah menjadi seringaian licik.

Bodoh.

.

.

.

Sepasang kekasih—yang tidak berniat untuk mengikuti sayembara, namun hanya sekadar hadir menikmati pesta ulang tahun sang Raja—tengah tertawa ketika turun dari kereta berbentuk labu, lalu berjalan menghampiri gerbang keemasan ala kerajaan Aries.

JLEB!!

Sang wanita terkejut ketika kekasihnya jatuh terkapar dengan punggung tertancap panah. Lelaki yang pada dasarnya berkulit pucat itu, kini membiru. Napasnya tersengal-sengal, kemudian setelahnya, mati.

Matanya terbuka lebar, ekspresi wajahnya ketakutan, seolah ia dapat menangkap sosok Dewi Kematiannya yang datang tiba-tiba—dengan busur dan tempat panah di pinggangnya, seolah berjaga-jaga jika serangan pertamanya gagal.

Darling… Darling…” Sang wanita menangis. Namun belum sempat ia menoleh ke arah pandangan mata kekasihnya, ia merasakan pukulan keras di kepalanya.

Dalam beberapa saat, si gadis yang wajahnya terantuk di punggung sang lekaki sudah tak bernyawa dengan kepala belakang mengeluarkan banyak darah.

“Pasangan serasi.”

.

.

.

Kebetulan, Atlantis Baru berdiri bersamaan dengan masa kejayaan Kerajaan Yunani Kuno dan juga Romawi Kuno. Maka dari itu banyak ditemukan nama-nama yang berasal dari Mitologi Yunani yang terdengar hingga Atlantis. Bagaimanapun bangsa Atlantis sangat menyukai sastra, tak terkecuali Raja dari salah satu 12 kerajaan zodiak, Athos.

Menurut mitologi, Athos adalah salah satu Gigant yang pernah melemparkan gunung pada Dewa paling Agung, Zeus. Orang tuanya sangat ingin anaknya menjadi tegas, lalu memberikannya nama. Nama lain yang lebih menunjukkan identitas kerajaan mereka, bukannya nama yang berasal dari kerajaan Yunani yang tak mungkin berinteraksi dengan mereka—mereka beda dimensi.

Tapi, sepeninggal kedua orang tuanya, ia mengganti namanya sendiri, sesuai keinginannya, Athos. Ia percaya ia tak akan mampu mengalahkan siapapun. Tak satupun.

Padahal dalam mitologi, Gigant kalah dengan Herakles—anak setengah dewa—dan juga dewa Olimpus. Ia melupakannya.

Dan malam ini ia merayakan ulang tahunnya, bukan pada tanggal kelahirannya, tapi pada tanggal ia merubah namanya. Ia sudah lupa kapan ia lahir. Setidaknya ia puas dengan namanya.

Karena sang Ratu telah tiada, tak dapat dipungkiri, ia juga mencari pendampingnya sendiri dalam Pesta Topeng malam ini, selain mencarikan putri untuk anaknya. Dia memang hidung belang.

Di sudut ruangan, ia melihat seorang gadis yang mengenakan gaun keemasan dengan topeng emas yang menutupi sebagian wajahnya. Ia terkesima dengan senyumnya yang layaknya Dewi.

Ia berjalan menghampiri gadis—yang jelas sekali—berpuluh tahun lebih muda darinya itu, lalu mengajaknya berdansa.

Dan dengan mudah, gadis itu menerimanya.

“Binar matamu telah menegaskanku bahwa kau pantas untuk menggantikan ibu Orion, Ratu Nyx.”

Si gadis hanya tersenyum, seolah menikmati lantunan lagu yang mengiringi mereka berdansa; padahal jauh di dalam hatinya ia tengah menantikan sesuatu.

“Yang Mulia.”

Mereka berhenti berdansa ketika Pangeran Orion memberikan satu gulungan papyrus pada ayahnya. Sang Raja tertawa sejenak setelah menerima surat itu, lalu menepuk-nepuk pundak anaknya, “Kau juga harus bersenang-senang, nak.”

Orion tak sedikitpun tersenyum. Sang raja pun memilih untuk membuka gulungan papyrus di tangannya dan membacanya.

Hari ini, hari untuk memperingati hari pergantian namamu yang ke 34 bukan? Berarti umurmu sekarang 60 tahun? Ha! Kau sudah tua! Sudah sepantasnya kau mati!

Bau amis menyeruak dan menusuk hidungnya. Orion menutup hidungnya dan melirik sekilas surat itu, namun ayahnya dengan segera meremas surat itu.

“Ada apa?” tanya Orion khawatir.

“Tidak.  Tidak ada apa-apa.”

Sang Ayah pergi menepi dari keramaian.  Awalnya ia merasa bahagia, namun kali ini ia merasa terancam; seseorang mengincar nyawanya!

Sementara Orion melirik sekilas si gadis, namun si gadis telah menghilang dari hadapannya. Di satu dinding yang menutupi lorong sempit menuju ruang rahasia Ayahnya, ia melihat ujung gaun gadis misterius yang tadi berdansa dengan ayahnya.

Diliputi rasa penasaran, ia mengikuti langkah si gadis.

.

.

.

Sang Raja tak merasa aman meskipun kini ia berada di ruang rahasianya. Ia tahu sekali ruangannya telah dibangun sangat sempurnya—baja 20 lapis—hingga tak mungkin ada orang yang bisa menyusup ke dalam ruangannya. Ruangannya tersegel dengan kekuatan magis, hanya dia dan Orion yang tahu mantranya.

“Yang Mulia.”

Napasnya menderu-deru, seiring terdengarnya suara yang syarat akan kebencian, disertai lolongan serigala yang entah mengapa terdengar dengan jelas di ruangan itu—ruangan kedap suara itu.

“Anda tidak ingin membalikkan badan?”

Perlahan, Ayah Orion itu membalikkan badan, berusaha mengumpulkan nyali. Setidaknya ia bisa meminta bantuan para pengawal jika ada yang berniat buruk padanya. Atau mungkin Orion bersedia menggadaikan nyawanya demi Ayahanda tercinta. Kadang Orion pembangkang, namun ia benci melihat Ayahnya dilukai orang lain.

“Oh, kau…”

Lelaki tua bernama Athos itu bisa bernapas lega—setidaknya untuk satu menit yang akan ia lewati. Di depannya berdiri seorang gadis yang sebelumnya berdansa dengannya.

“Bulan Ofiukus hari ke-8, awal abad 15, tahun ke 8 anda menjabat sebagai Raja, anda ingat ada peristiwa pembakaran Tukang Patri Kaca Istana?”

Raja Athos nampak berpikir. Sekarang ia terkejut bukan kepalang ketika gadis di depannya melepas gaunnya dan tinggal pakaian usang yang ia kenakan.

“Claire!! Beraninya…”

Tatapan tajam Claire yang selangkah demi selangkah mendekati Raja membuat Athos diam sejenak. Gadis lemah lembut yang baru ia temui kemarin malam telah menghilang dari dirinya; di depannya orang asing. Entah siapa.

“Bulan Scorpio hari terakhir, akhir abad 14, tahun pertama anda menjabat sebagai Raja, anda ingat banyak sekali rakyat anda yang mati kelaparan, dan juga wanita-wanita yang mati setelah melahirkan anaknya dengan bersimbah darah karena para tabib tidak diperbolehkan menolong rakyat berkasta rendah?”

Langkah Athos terhenti pada dinding dengan jendela kaca yang 3 kali lebih besar darinya. Ya,ya. Pintu ‘ruangan khusus’-nya memang kuat, tapi jendelanya dibuat selebar mungkin, hanya karena ruangan itu berada di lantai teratas yang tak mungkin di jangkau rakyat-rakyat rendah. Salahkan hobinya yang suka menatap penderitaan makhluk-makhluk kecil tak berdaya dari ruangan istimewanya.

“Bulan Virgo, hari ke 14, tahun ke 12 anda menjabat sebagai raja, ingatkah anda tentang ‘Pembakaran Massal’ perumahan kumuh?”

Claire menyeringai. “Aku korban dari semua itu.”

Raja Athos semakin ketakutan. Ia hendak berteriak minta bantuan, namun lehernya dicekik. Bahkan ia terlalu renta untuk meronta. Tangannya tak mampu melepaskan cengkeraman Claire yang menguat.

“Ibuku meninggal setelah melahirkanku. Karena tak ada satupun pelukis yang peduli padanya, akupun tak tahu potret wajahnya. Ayah pun tewas setelah kau permalukan. Rumahku pun kau bakar, hingga sampai saat ini aku tidur di jalan.”

.

.

Orion masih menyusuri lorong sambil mengumpat. Perasaannya semakin tak enak ketika pertama menyusuri lorong, ia melihat sekelebat bayangan sang gadis yang tengah mematikan obor di sepanjang lorong supaya tak ada satupun orang yang mengganggu rencana jahatnya, entah apa. Terpaksa, ia harus menyalakan satu persatu obor dengan pemantik api di saku celananya.

Kali ini, Dewa Langit, kumohon, tolong Ayahku. Sekali ini saja, tolong Ayahku.

.

.

“Ada pesan terakhir?”

.

.

Tapi Orion berhenti di tengah jalan, lalu berlari kembali dan memutuskan untuk membawa beberapa pengawal; berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Ayahnya. Ini tidak berlebihan. Ini hanya suatu insting yang biasa terjadi antara ayah dan anak.

.

.

“Kau… mende…kat..ti… Or…ri…on…. kar…renn…a….a…kuuhh?”

“Bisa dibilang begitu.” Claire mengambil belati di pinggangnya. “tapi dia lelaki yang sangat baik. Aku menyesal telah memperdayainya demi membunuhmu. Tapi, mau bagaimana lagi? Hanya itu caranya.”

“Ka…u….dass…sar…”

Claire tersenyum sinis. “Kau tahu kenapa dia dengan mudah terperdaya oleh gadis ‘murahan’ sepertiku?”

Meskipun Athos sibuk mengambil udara segar, ia masih bisa menyimak ucapan Claire.

“Karena dia tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya, ia tak pernah merasakan ‘ketulusan’ dan ‘kebenaran’ di sekitarnya. Semua memakai topeng, hanya menampakkan yang terbaik pada sang pangeran,” Claire bertutur dengan memasang wajah kasihan yang dibuat-buat, “lalu aku datang sebagai pahlawannya. Ia pikir aku benar-benar tulus dan apa adanya, padahal aku sangat membenci Ayahnya.”

Kini wajah Athos mulai berdarah. Belati tajam baru saja digoreskan dari keningnya.

Entah mengapa, di benak Claire terlintas wajah Orion yang menangisi kematian Ayahnya.

Namun ia tak peduli. Kembali memasang wajah penuh dendamnya, ia membuat garis tengah di wajah sang Raja. Ia tak berhenti hanya di dagu, namun ia meneruskannya sampai ke leher, lalu memutar belatinya dengan keji,

“Ayah!!”

Claire tak memedulikan pekikan Orion. Hanya saja ia tahu waktunya tak banyak untuk membunuh sang Raja, karena para pengawal telah berlarian mengerubunginya.

JLEB!

Tepat setelah garis dari leher ia tarik ke dada kiri, ia menusukkan belatinya sambil tersenyum sinis. Wajahnya yang bersimbah darah menggambarkan satu kepuasan tersendiri telah membunuh musuh rakyat kasta rendah itu. Ya, ya. Ia semakin puas melihat ada burung gagak yang masuk melalui jendela dan mematuk-matuk mata sang Raja yang terbuka lebar karena menahan kesakitan yang luar biasa sebelum kematiannya—atau mungkin ketakutan karena melihat Dewi Kematiannya telah menerbangkan rohnya.

“Claire…”

Orion tak habis percaya. Gadis yang sangat ia cintai tega membunuh Ayahnya.

.

.

.

Dengan mata sembap, Pangeran Orion berjalan menghampiri meja yang di sana tengah duduk Claire di seberangnya. Pandangan matanya kosong, menerawang jauh, seolah takut akan hukuman yang diberikan padanya.

“Claire Oglypta.”

Claire mengangkat dagunya tegas. Sorot mata tajam dan kesepian langsung menusuk batin Pangeran Orion selaku penyidik—untuk saat ini saja. Pangeran Orion berdehem, lalu ia memberi tanda untuk para pengawal supaya pergi dan membiarkannya melakukan penyidikan sendirian, tanpa kekerasan.

“Kau puas memanggil namaku yang hina itu?”

Senyuman dingin kembali menghiasi wajah Claire, sampai-sampai Orion tak dapat menemukan Claire yang biasanya baik padanya.

“Kenapa kau membunuh Raja Athos?”

“Dia musuhku.”

Orion tertegun mendengar jawaban Claire yang terdengar sangat cepat.

“Apakah setega itu kau membunuh Raja—di hari ulang tahunnya? Kenapa kau membunuhnya saat banyak orang akan langsung menyadari keberadaanmu?”

“Karena aku ingin cepat mati setelah membunuh orang keji itu.”

Mulut Orion ternganga.

“Kau tidak takut mati?”

“Buat apa takut?” Claire kembali tersenyum sinis, “aku sudah kehilangan banyak orang, aku sudah kehilangan kebahagiaan sejak lama, bahkan rasanya setetes darahpun aku tak punya lagi. Buat apa aku takut kehilangan nyawa? Tak akan ada yang menangisi kematianku.”

“Ayahku tewas setelah dibakar hidup-hidup di tengah lapangan rumput beberapa tahun lalu. Aku yakin kau ingat itu.”

“Ayahmu memeras ayahku,” Orion membela.

“Kau tidak lihat secara langsung ‘kan?”

Orion cepat bungkam.

“Aku melihatnya secara langsung. Ayahku terus menunduk dan tak berani menatap mata Ayahmu, bahkan ia bertutur dengan sangat hati-hati. Itu masih kurang halus? Masih kurang merendah?”

“Ibuku juga meninggal setelah melahirkanku, karena banyak sekali tabib yang menolak untuk membantu ibuku, hanya karena ibuku berkasta rendah. Rumahku juga dibakar, karena kebijakan ayahmu untuk menghancurkan semua masyarakat berkasta rendah. Aku yakin kau ingat kejadian ’Pembakaran Massal’ itu.”

Ya. Orion memang ingat. Ia ingat sekali ketika ayahnya bertepuk tangan hebat melihat api yang menjulang tinggi dari ruang pribadinya.

“Lihat, Orion. Klan Aries akan menjadi Klan paling sejahtera di Atlantis Baru karena tak ada rakyat jelata yang tersisa dengan rencana bagusku itu.”

Tapi, nyatanya, masih tersisa beberapa orang yang berhasil menyelamatkan diri, termasuk Claire.

“Jadi kau mendekatiku untuk balas dendam pada ayahku?”

“Ya.”

Orion menarik napas sekuat mungkin. Hatinya sudah pasti remuk ketika tahu gadis yang ia cintai sejak 5 tahun yang lalu hanya memperdayainya saja. Mungkin ini pertama kalinya ia merasa patah hati.

“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku?”

“Buat apa aku memikirkan perasaan orang lain? Orang lain tak pernah peduli pada pedihnya perasaanku, jadi apakah aku ada kewajiban untuk memikirkan orang lain?”

Ada yang peduli padamu, Claire. Aku! Jerit Orion dalam hati, namun tak cukup tega untuk menyuarakannya.

“Tapi, aku pikir, kita impas, bukan? Aku melihat secara langsung Ayahku mati, dan sekarang kau melihat secara langsung Ayahmu mati. Cukup adil ‘kan?”

Orion kembali menghirup oksigen yang nampaknya tak terlalu cukup untuk menyegarkan hatinya yang penat. “Besok adalah hukuman matimu.”

.

.

.

Orion sendiri yang meminta para pengawal untuk tidak mengawasi gerak-gerik Claire sampai hari eksekusinya. Bahkan ia mengantar Claire sampai ke penjara bawah tanah yang gelap, tanpa ada satu ventilasi pun—cahaya hanyalah dari obor.

Saat Orion membuka gembok, Claire berdiri di belakangnya, mengawasi gerak-gerik pangeran.

“Masuklah.”

Tanpa berucap apapun, Claire memasuki penjara.

“Kau tidak berniat untuk pergi?”

Claire menatap Orion intens. Ia baru menyadari, kini Orion tak mampu menahan bulir kesedihannya—hal yang sudah lama Claire lakukan. Bahkan Claire lupa bagaimana cara menangis.

“Kalau kau mau, kita bisa pergi bersama. Pergi menjauh—atau mati bersama.”

“Aku tak akan pergi kemanapun.”

Orion diam.

“Setelah rumahku terbakar, satu-satunya alasanku hidup adalah untuk membunuh ayahmu. Dan itu sudah kulakukan, maka tak ada alasan lain bagiku untuk hidup.”

Claire memasuki penjara dan duduk termenung di sudut ruangan.

Orion tahu, tekat Claire sudah bulat. Ia tak akan mampu merajuknya.

“Baiklah. Adakah permintaan terakhir?”

Claire berpikir sejenak, lalu melihat wajah Orion yang kini nampak begitu teduh nan rapuh.

“bolehkah 3?”

Orion mengangguk.

“Pertama, berikan aku papyrus dan pulpen. Aku ingin menulis.”

“Kedua, hukuman matiku, bisakah meminum racun?”

Orion mengernyit.

“Aku rasa, para bangsawan yang melihat hukuman matiku nanti akan puas melihat rakyat berkasta rendah sepertiku menderita terlebih dulu sebelum mati.”

“Yang ketiga?” Orion mencegah penjelasan Claire yang akan lebih menyakitinya.

“Setelah ini, bisakah kau memberikan roti gandum pada 5 keluarga di tempat kumuh yang sering menjadi tempat pertemuan kita?”

Orion tertegun.

“Di sana juga ada nenek buta yang tinggal di bawah pohon ek—dia tidak punya rumah. Kalau kau mau, kunyahkan roti gandum untuknya.”

“Ada yang lain?”

Claire menggeleng.

.

.

.

Napasnya berubah menjadi asap putih ketika ia menyusuri lorong kecil di tempat kumuh itu. Ia memang sang Pangeran yang tidak menyukai adanya perbedaan kasta, tapi tak dapat dipungkiri, di dalam dirinya masih ada jiwa bangsawan yang enggan membaur dengan udara kotor di sana. Kalau bukan karena Claire, mungkin ia tak akan terbiasa memasuki lorong ini.

Dia sudah memberikan roti gandum yang cukup kepada 5 keluarga yang dimaksud oleh Claire, tinggal mencari nenek buta yang Claire maksud. Dan ia benar-benar menemukan sosoknya di bawah pohon ek. Andai saja tak ada bulan, ia tak akan menemukannya karena di sekitar sana cukup gelap.

Tanpa sepatah katapun, ia mulai membuka bungkus roti, mengunyahnya setengah hati, lalu menyuapkannya pada nenek itu.

“Claire?”

Orion menghentikan kegiatannya.

“Kenapa belakangan ini kau jarang menemuiku? Dan kenapa kau mengunyahya dengan kasar? Kau tahu ‘kan, aku tidak bisa menerimanya. Biasanya kau mengunyahnya sampai lembut agar aku bisa mencernanya.”

Orion tetap diam.

“Kau ada masalah ya? Cerita padaku. Kita sama-sama hidup sendiri, jadi kau jangan ragu lagi untuk berbagi.”

“Kau tahu? Belakangan ini, saat kau tak ada di sini, kau tidak tidur di pangkuanku lagi, aku merasa kesepian. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika aku kehilangan dirimu.”

Ucapan itu berhasil membuat Orion tersentuh. Ia ingat 5 keluarga yang ia datangi sebelumnya. Mereka sama-sama sedih ketika berita tentang eksekusi Claire tersebar ke seluruh penjuru negeri. Claire adalah sebagian jiwa mereka, sebagian nyawa mereka. Karena Claire, mereka masih bisa hidup dengan roti gandum buatan Claire. Jika Claire pergi, maka bagaimana mereka bisa hidup?

Tak apa jika Claire tak bisa membuat roti gandum lagi—hukuman matinya diganti menjadi penjara seumur hidup—yang penting Claire masih hidup. Karena denyut nadi Claire sama dengan denyut nadi mereka. Napas Claire adalah napas mereka.

Orion kini tahu kebimbangan yang ada di sorot mata Claire setelah ia membunuh Raja Athos. Bukan karena dia takut mati—dia malah menantikannya, tapi ia takut kehidupan ‘keluarga senasib’-nya akan jadi lebih buruk jika ia pergi.

Orion mengunyahkan nenek itu sekali lagi, kali ini lebih lembut.

“Nah, sekarang suasana hatimu membaik, iya ‘kan? Karena kunyahanmu sudah lembut seperti biasa. Claire-ku…”

Air mata Orion kembali turun.

.

.

.

Bulan Aries, hari pertama. Hari pertama Orion menjabat menjadi Raja.

Banyak bangsawan yang tengah menantikan eksekusi sang gadis pengkhianat negara. Claire sendiri tersenyum ketika melihat tak ada algojo di atas panggung. Yang ada hanya 3 botol anggur yang tentu saja telah dicampuri racun.

Sang Raja duduk di singgasananya dengan menguatkan hati—walau itu sangat sulit. Tapi memang begitu aturannya: Raja harus duduk di singgasana ketika hukuman mati berlangsung. Sama seperti saat ayah Claire dihukum.

Claire duduk bersila dan mengambil satu botol pertama. Ia tersenyum senang.

Ayah, Ibu. Tunggu aku.

Ia menenggaknya dengan sekali tegukan. Ketika tahu botol pertama habis, ia menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. Ia terbatuk pelan. Rasa sakit mulai menyerang pembuluh darahnya.

Botol kedua.

Kini keluar darah dari bibirnya. Ia menatap sang Raja yang duduk cukup jauh di depannya. Ia tersenyum.

Terima kasih.

Botol ketiga.

Mengangkat botol itu saja ia sudah tak sanggup. Tapi ia harus meminumnya.

Setelah habis, botol itu terjatuh dari tangannya. Ia jatuh. Kali ini sakit tak lagi menyerang organ dalamnya, tapi seluruh tubuhnya. Perlahan ia merasakan dingin yang seolah membekukan tubuhnya. Tapi ia tersenyum ketika melihat bayang hitam di depannya. Dengan pakaian yang tak lagi putih—berlumuran darah, ia merelakan nyawanya lepas dari jasadnya.

Claire sudah tak ada.

Orion segera pergi dari singgasananya di tengah-tengah sorakan gembira para kaum bangsawan, tak lagi kuat menahan air matanya. Siapa yang kuat melihat orang yang dicintai kehilangan nyawanya—dan tak ada yang dapat dilakukan untuk menolongnya.

.

.

.

Orion—raja Kerajaan Aries yang baru—kini duduk  termenung di sudut penjara tempat Claire menunggu detik-detik kematiannya. Ia menemukan satu kertas papyrus di sampingnya, lalu membacanya.

Orion

Boleh kan aku memanggilmu Orion? Aku tahu kau tidak suka aku bertindak formal padamu, jadi aku memanggilmu Orion—tanpa sebutan gelar yang lain.

Aku tak akan menuliskan banyak hal, aku hanya ingin berpesan padamu,

Jadilah raja yang baik. Tegakkan kepemimpinan yang jujur, maka kau akan disukai seluruh rakyatmu.

Jika kau putus asa, ingatlah aku dan rakyat jelata lainnya, yang mati-matian hidup untuk meraih impian kami walau percuma.

Jika kau ragu, ingatlah, rakyat jelata membutuhkan perlindunganmu, pemimpin yang arif dan bijaksana. Tak ada alasan yang membuatmu untuk ragu.

Menikahlah dengan gadis baik hati yang bisa menasihatimu jika kau berbuat semena-mena pada rakyatmu, dan jika kau memiliki anak nantinya, ceritakan kisah-kisah nenek moyang kita yang membangun Kerajaan Atlantis Baru agar ia memiliki semangat juang pahlawan seperti nenek moyang kita. Jangan lupakan kisah tentang perbedaan Klan di Kerajaan Atlantis Baru—yang membuat Kerajaan Atlantis terpecah menjadi 12—agar ia tahu, perbedaan Klan dibuat agar kita mau menghargai perbedaan, bukannya menjadikan perbedaan sebagai tonggak perpecahan.

Aku yakin kau akan jadi raja yang baik.

Kau terlalu baik untuk mencintaiku, jadi lupakan rasa cintamu padaku, lupakan kenangan antara kita, yang perlu kau ingat hanyalah perjuanganku untuk bertahan hidup.

Dari hati yang paling dalam….

Dari orang hina yang tak sepantasnya mencintai seorang Pangeran namun tetap melanggar kodratnya….

Dari orang yang pernah hidup bahagia karena mencintaimu…

Claire Oglypta

Orion melihat ada bekas tetesan air mata di sana—di kertas itu. Ia yakin, Claire ingin mengucapkan banyak hal padanya, tapi ia tak sanggup. Bahkan sampai akhir hayatnya, ia tak mendapatkan satupun kesejahteraan pada hidupnya. Mungkin hanya cintanya pada Orion yang membuat hidupnya jadi lebih baik. Hanya dalam 5 tahun terakhir.

Dan kini, Orion menangis.

Tapi ia berjanji pada Claire—meskipun ia tak tahu Claire mendengarnya atau tidak—ini akan menjadi air mata terakhirnya. Ia akan menjadi pemimpin yang baik.

Ia akan selalu ingat rasa sakit yang Claire rasakan, supaya ia tak akan menjadi Raja yang kejam seperti Ayahnya.

Terima kasih, Claire.

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

Main Cast :

Hyerin 2eyes as Claire

Lee Howon as Prince Orion

Kim Yoo Jung as Young Claire

Park Jin Young as King Athos

Melihat tubuh ayahnya terbakar di tengah lapangan gersang membuat air matanya membentuk aliran kecil di pipi mungilnya. Sesekali ia menjilat lollipop terakhir yang ayahnya belikan beberapa saat lalu, saat mereka hendak menikmati pesta rakyat yang biasa diadakan setiap akhir tahun. Juga menyebut ayahnya, sesekali, di sela-sela kegiatannya menikmati permennya. Walau ia sama sekali tak merasakan sedikitpun rasa manis.

Sebenarnya, Sang Ayah dapat mendengarkan suara anaknya yang memanggilnya, namun ia terlalu sibuk berkutat dengan kobaran api yang semakin lama semakin besar, karena para prajurit kerajaan yang ditugaskan menghukumnya terus-terusan menyiramnya dengan minyak gas. Bahkan rakyat lainnya melemparinya dengan batu sebesar kepalan tangan. Ia tak berkutik.

Daddy…. Daddy….

Ayah Claire—gadis kecil berpakaian putih itu—hanyalah Pematri Kaca Istana biasa, yang meminta haknya pada Sang Raja, perihal pembuatan kaca patri istana yang telah usai 8 bulan lalu. Namun Raja Athos—penguasa Kerajaan Aries pada awal abad 15—menganggapnya sebagai pemerasan, lalu menghukumnya dengan keji: membakarnya di tengah-tengah rakyat. Efektif untuk mencapai 2 tujuan Raja Athos: membunuhnya dan mempermalukannya.

Daddy…

Walaupun mata kecilnya tergenang oleh lambang kepedihan hidup, namun ia dapat menangkap sosok raja yang berdiri di puncak kastil sambil menyeringai. Licik dan kejam layaknya Hades, sang Dewa Kematian dalam mitologi Yunani.

Satu persatu warga mulai melepaskan diri dari kerumunan, seiring lolongan serigala yang mengeras di perbukitan yang tak jauh dari sana.

Ayah Claire tewas dan jatuh tergeletak di depannya dengan kulit melepuh. Tak ada lagi wajah sejuk ayahnya yang selalu menenangkannya. Claire hanya bisa menatap jasad hitam di depannya nanar.

Ia sangat tahu, Ayahnya tak akan memeluknya ketika ia menangis sambil memanggilnya.

Tapi Claire selalu ingin melakukannya. Setidaknya untuk saat ini.

Daddy…

.

.

.

19 years later…

Claire dengan pakaiannya yang cukup sederhana dibandingkan gadis-gadis seumurannya menjual bunga di setiap sudut negeri. Meskipun pada kenyataannya banyak orang yang suka bunga, tapi mereka tak pernah sedikitpun membeli bunga pada Claire. Lihat saja pakaian yang ia kenakan…

Lengan tiga perempat dengan rumbai yang menjuntai tak rapi. Bagian bawah bajunya bukanlah rok ala Edwardian seperti style pakaian wanita saat itu, tapi celana hitam yang terlihat jelas tambalan di berbagai sisi. Sebenarnya gaunnya sama seperti milik gadis lain, memiliki rok yang menyapu lantai. Tapi ia potong dengan pisau—agar dapat bergerak dengan leluasa–hingga pertengahan paha. Hasilnya sudah jelas tak rapi. Selain itu hanya itu baju yang ia punya.

Sebenarnya ia tak mau seperti itu. Ia juga ingin memakai gaun keemasan seperti yang dikenakan gadis-gadis lainnya. Ia ingin mengenakan perhiasan-perhiasan yang berkilau. Ia ingin memakai topi kecil di pinggir rambutnya. Ia juga ingin memakai payung berenda yang melindungi kulitnya dari sengatan matahari. Ia juga sangat ingin memakai mantel bulu domba yang akan menghangatkan tubuhnya di setiap musim dingin.

Tapi itu semua mustahil.

Persetan dengan mimpi. Persetan dengan harapan dan doa.

Tak akan pernah ada doa-doa rakyat jelata yang terkabul. Itu pasti.

“Claire.”

Ia merasa ada satu bisikan yang memanggil namanya. Dan itu terbukti benar adanya ketika ia menangkap sesosok lelaki tengah berdiri tak jauh darinya.

Claire tersenyum kecil dan melangkah menghampirinya.

“Kau tidak takut dimarahi Ayahmu, kembali kabur dan memakai pakaian rakyat jelata seperti ini, Pangeran?”

Shhhtt..” Pangeran Orion memperhatikan sekitarnya. Untuk kesekian kalinya dia berhasil menyamar dan berbaur dengan rakyat jelata. Orang-orang di sekitarnya terlalu sibuk pada diri sendiri dan mengabaikan mereka berdua.

“Bisakah kita pergi ke satu tempat?”

.

.

.

“Ayahku ingin mengadakan sayembara untuk mencari pendampingku.”

“Lalu?”

Pangeran Orion tertegun sejenak, kemudian bertutur pada Aprodhite-nya, “Kau tidak paham? Yang kuinginkan menjadi pendampingku adalah dirimu, bukan yang lain.”

Bukannya merasa tersanjung, Claire tertawa lepas, menertawakan keluguan sang Pangeran, tentu saja. “Anda lupa jamuan makan malam kemarin, Yang Mulia?”

Jelas saja penekanan kata ‘Yang Mulia’ yang terlontar dari bibir Claire membuat hati sang Pangeran remuk, juga merasa terhina. Ia tahu, Claire mengatakannya dengan cerminan, ‘Kau pangeran kan? Sependek itukah ingatanmu?’

Mungkin Pangeran Orion—si Pangeran Aries—merasa kesal, namun setelah sepersekian detik, ia merasa bersalah. Bukan salah Claire jika ia merasa tersinggung. Kejadian kemarin memang menyakitkan, terlebih bagi Claire. Pangeran pikir, jika ia menjadi Claire, mungkin ia akan lebih sinis pada kerajaan daripada yang Claire lakukan sekarang.

Ya….

Karena jamuan makan malam…

Pangeran Orion sendiri ingat bagaimana sang Raja meremehkan si Aprhodite yang kecantikannya tak nampak karena tergerus stratifikasi sosial yang terlampau keji.

“Oh, jadi dia yang kau banggakan selama ini? Yang kau sebut-sebut sebagai Aprhodite-mu, atau Pandora-mu? Jika kau tetap mempertahankannya kau bisa pergi dari istana!”

Dan setelah itu, dengan harga diri yang terinjak-injak, Claire pergi.

“Aku minta maaf soal itu.”

“Itu bukan salah anda. Salah saya. Sudah sepantasnya anda mendapatkan yang terbaik, berlian yang indah. Bukan sebongkah batu yang ada di tepi selokan.”

“Claire…”

“Sebaiknya anda kembali, sebelum Yang Mulia Raja mengerahkan seluruh bala tentaranya untuk membuat kericuhan hanya demi mencari anda.”

Untuk kesekian kalinya, hati Pangeran Orion tertohok mendengar kata-kata yang Claire ucapkan dari bibirnya. Gadis itu selalu santun nada pengucapannya, juga nadanya…

Namun tidak dengan maknanya yang tak terucap.

Setidaknya Pangeran Orion tahu musababnya. Ia—dengan asa yang tak lagi penuh—berdiri setelah menerawang jauh ke langit yang sekarang mulai mendung, “Aku harap kau mau ikut sayembara itu. Kau juga mencintaiku ‘kan?”

Pangeran Orion memalingkan tatapannya pada Claire. Si perempuan hanya tersenyum simpul sambil menunduk takzim, kembali memperlakukan Pangeran Orion sebagai ‘anak dewa’ yang juga dianggap sebagai ‘titisan dewa’ bagi sebagian masyarakatnya. Si lelaki mendengus kesal atas sikap Claire.

Padahal jauh sebelumnya, ia telah berterus terang pada Claire bahwa ia benci diperlakukan sebagai seorang anak raja.

Dari situ, ia bisa menyimpulkan, bahwa Claire belum menganggapnya sebagai kekasih sepenuhnya, meskipun jauh di dalam hatinya, ia benar-benar ingin memercayai bahwa Claire mencintainya.

“Tapi, ngomong-ngomong, mengapa kemarin Pangeran memberikan gaun mewah untuk saya, sebelum jamuan makan malam dimulai?”

“Jelas aku tidak mau kau diremehkan oleh seluruh Keluarga Kerajaan.”

Claire tersenyum lagi.”Berarti anda tidak sepenuhnya mencintai saya.”

Pangeran Orion terbelalak.

“Bukankah, jika mencintai saya, anda mau menerima saya apa adanya? Apakah saya pantas mengikuti sayembara itu karena gaun yang anda berikan kemarin telah saya buang?”

Pangeran Orion geram.

“Maaf jika saya lancang. Tapi, jika anda seperti itu, saya tidak yakin untuk menerima tawaran anda untuk mengikuti sayembara nanti. Namun, saya sangat berterima kasih.”

Claire kembali menundukkan tubuhnya, lalu membalikkan badan. Senyuman tulusnya kini berubah menjadi seringaian licik.

Bodoh.

.

.

.

Sepasang kekasih—yang tidak berniat untuk mengikuti sayembara, namun hanya sekadar hadir menikmati pesta ulang tahun sang Raja—tengah tertawa ketika turun dari kereta berbentuk labu, lalu berjalan menghampiri gerbang keemasan ala kerajaan Aries.

JLEB!!

Sang wanita terkejut ketika kekasihnya jatuh terkapar dengan punggung tertancap panah. Lelaki yang pada dasarnya berkulit pucat itu, kini membiru. Napasnya tersengal-sengal, kemudian setelahnya, mati.

Matanya terbuka lebar, ekspresi wajahnya ketakutan, seolah ia dapat menangkap sosok Dewi Kematiannya yang datang tiba-tiba—dengan busur dan tempat panah di pinggangnya, seolah berjaga-jaga jika serangan pertamanya gagal.

Darling… Darling…” Sang wanita menangis. Namun belum sempat ia menoleh ke arah pandangan mata kekasihnya, ia merasakan pukulan keras di kepalanya.

Dalam beberapa saat, si gadis yang wajahnya terantuk di punggung sang lekaki sudah tak bernyawa dengan kepala belakang mengeluarkan banyak darah.

“Pasangan serasi.”

.

.

.

Kebetulan, Atlantis Baru berdiri bersamaan dengan masa kejayaan Kerajaan Yunani Kuno dan juga Romawi Kuno. Maka dari itu banyak ditemukan nama-nama yang berasal dari Mitologi Yunani yang terdengar hingga Atlantis. Bagaimanapun bangsa Atlantis sangat menyukai sastra, tak terkecuali Raja dari salah satu 12 kerajaan zodiak, Athos.

Menurut mitologi, Athos adalah salah satu Gigant yang pernah melemparkan gunung pada Dewa paling Agung, Zeus. Orang tuanya sangat ingin anaknya menjadi tegas, lalu memberikannya nama. Nama lain yang lebih menunjukkan identitas kerajaan mereka, bukannya nama yang berasal dari kerajaan Yunani yang tak mungkin berinteraksi dengan mereka—mereka beda dimensi.

Tapi, sepeninggal kedua orang tuanya, ia mengganti namanya sendiri, sesuai keinginannya, Athos. Ia percaya ia tak akan mampu mengalahkan siapapun. Tak satupun.

Padahal dalam mitologi, Gigant kalah dengan Herakles—anak setengah dewa—dan juga dewa Olimpus. Ia melupakannya.

Dan malam ini ia merayakan ulang tahunnya, bukan pada tanggal kelahirannya, tapi pada tanggal ia merubah namanya. Ia sudah lupa kapan ia lahir. Setidaknya ia puas dengan namanya.

Karena sang Ratu telah tiada, tak dapat dipungkiri, ia juga mencari pendampingnya sendiri dalam Pesta Topeng malam ini, selain mencarikan putri untuk anaknya. Dia memang hidung belang.

Di sudut ruangan, ia melihat seorang gadis yang mengenakan gaun keemasan dengan topeng emas yang menutupi sebagian wajahnya. Ia terkesima dengan senyumnya yang layaknya Dewi.

Ia berjalan menghampiri gadis—yang jelas sekali—berpuluh tahun lebih muda darinya itu, lalu mengajaknya berdansa.

Dan dengan mudah, gadis itu menerimanya.

“Binar matamu telah menegaskanku bahwa kau pantas untuk menggantikan ibu Orion, Ratu Nyx.”

Si gadis hanya tersenyum, seolah menikmati lantunan lagu yang mengiringi mereka berdansa; padahal jauh di dalam hatinya ia tengah menantikan sesuatu.

“Yang Mulia.”

Mereka berhenti berdansa ketika Pangeran Orion memberikan satu gulungan papyrus pada ayahnya. Sang Raja tertawa sejenak setelah menerima surat itu, lalu menepuk-nepuk pundak anaknya, “Kau juga harus bersenang-senang, nak.”

Orion tak sedikitpun tersenyum. Sang raja pun memilih untuk membuka gulungan papyrus di tangannya dan membacanya.

Hari ini, hari untuk memperingati hari pergantian namamu yang ke 34 bukan? Berarti umurmu sekarang 60 tahun? Ha! Kau sudah tua! Sudah sepantasnya kau mati!

Bau amis menyeruak dan menusuk hidungnya. Orion menutup hidungnya dan melirik sekilas surat itu, namun ayahnya dengan segera meremas surat itu.

“Ada apa?” tanya Orion khawatir.

“Tidak.  Tidak ada apa-apa.”

Sang Ayah pergi menepi dari keramaian.  Awalnya ia merasa bahagia, namun kali ini ia merasa terancam; seseorang mengincar nyawanya!

Sementara Orion melirik sekilas si gadis, namun si gadis telah menghilang dari hadapannya. Di satu dinding yang menutupi lorong sempit menuju ruang rahasia Ayahnya, ia melihat ujung gaun gadis misterius yang tadi berdansa dengan ayahnya.

Diliputi rasa penasaran, ia mengikuti langkah si gadis.

.

.

.

Sang Raja tak merasa aman meskipun kini ia berada di ruang rahasianya. Ia tahu sekali ruangannya telah dibangun sangat sempurnya—baja 20 lapis—hingga tak mungkin ada orang yang bisa menyusup ke dalam ruangannya. Ruangannya tersegel dengan kekuatan magis, hanya dia dan Orion yang tahu mantranya.

“Yang Mulia.”

Napasnya menderu-deru, seiring terdengarnya suara yang syarat akan kebencian, disertai lolongan serigala yang entah mengapa terdengar dengan jelas di ruangan itu—ruangan kedap suara itu.

“Anda tidak ingin membalikkan badan?”

Perlahan, Ayah Orion itu membalikkan badan, berusaha mengumpulkan nyali. Setidaknya ia bisa meminta bantuan para pengawal jika ada yang berniat buruk padanya. Atau mungkin Orion bersedia menggadaikan nyawanya demi Ayahanda tercinta. Kadang Orion pembangkang, namun ia benci melihat Ayahnya dilukai orang lain.

“Oh, kau…”

Lelaki tua bernama Athos itu bisa bernapas lega—setidaknya untuk satu menit yang akan ia lewati. Di depannya berdiri seorang gadis yang sebelumnya berdansa dengannya.

“Bulan Ofiukus hari ke-8, awal abad 15, tahun ke 8 anda menjabat sebagai Raja, anda ingat ada peristiwa pembakaran Tukang Patri Kaca Istana?”

Raja Athos nampak berpikir. Sekarang ia terkejut bukan kepalang ketika gadis di depannya melepas gaunnya dan tinggal pakaian usang yang ia kenakan.

“Claire!! Beraninya…”

Tatapan tajam Claire yang selangkah demi selangkah mendekati Raja membuat Athos diam sejenak. Gadis lemah lembut yang baru ia temui kemarin malam telah menghilang dari dirinya; di depannya orang asing. Entah siapa.

“Bulan Scorpio hari terakhir, akhir abad 14, tahun pertama anda menjabat sebagai Raja, anda ingat banyak sekali rakyat anda yang mati kelaparan, dan juga wanita-wanita yang mati setelah melahirkan anaknya dengan bersimbah darah karena para tabib tidak diperbolehkan menolong rakyat berkasta rendah?”

Langkah Athos terhenti pada dinding dengan jendela kaca yang 3 kali lebih besar darinya. Ya,ya. Pintu ‘ruangan khusus’-nya memang kuat, tapi jendelanya dibuat selebar mungkin, hanya karena ruangan itu berada di lantai teratas yang tak mungkin di jangkau rakyat-rakyat rendah. Salahkan hobinya yang suka menatap penderitaan makhluk-makhluk kecil tak berdaya dari ruangan istimewanya.

“Bulan Virgo, hari ke 14, tahun ke 12 anda menjabat sebagai raja, ingatkah anda tentang ‘Pembakaran Massal’ perumahan kumuh?”

Claire menyeringai. “Aku korban dari semua itu.”

Raja Athos semakin ketakutan. Ia hendak berteriak minta bantuan, namun lehernya dicekik. Bahkan ia terlalu renta untuk meronta. Tangannya tak mampu melepaskan cengkeraman Claire yang menguat.

“Ibuku meninggal setelah melahirkanku. Karena tak ada satupun pelukis yang peduli padanya, akupun tak tahu potret wajahnya. Ayah pun tewas setelah kau permalukan. Rumahku pun kau bakar, hingga sampai saat ini aku tidur di jalan.”

.

.

Orion masih menyusuri lorong sambil mengumpat. Perasaannya semakin tak enak ketika pertama menyusuri lorong, ia melihat sekelebat bayangan sang gadis yang tengah mematikan obor di sepanjang lorong supaya tak ada satupun orang yang mengganggu rencana jahatnya, entah apa. Terpaksa, ia harus menyalakan satu persatu obor dengan pemantik api di saku celananya.

Kali ini, Dewa Langit, kumohon, tolong Ayahku. Sekali ini saja, tolong Ayahku.

.

.

“Ada pesan terakhir?”

.

.

Tapi Orion berhenti di tengah jalan, lalu berlari kembali dan memutuskan untuk membawa beberapa pengawal; berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Ayahnya. Ini tidak berlebihan. Ini hanya suatu insting yang biasa terjadi antara ayah dan anak.

.

.

“Kau… mende…kat..ti… Or…ri…on…. kar…renn…a….a…kuuhh?”

“Bisa dibilang begitu.” Claire mengambil belati di pinggangnya. “tapi dia lelaki yang sangat baik. Aku menyesal telah memperdayainya demi membunuhmu. Tapi, mau bagaimana lagi? Hanya itu caranya.”

“Ka…u….dass…sar…”

Claire tersenyum sinis. “Kau tahu kenapa dia dengan mudah terperdaya oleh gadis ‘murahan’ sepertiku?”

Meskipun Athos sibuk mengambil udara segar, ia masih bisa menyimak ucapan Claire.

“Karena dia tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya, ia tak pernah merasakan ‘ketulusan’ dan ‘kebenaran’ di sekitarnya. Semua memakai topeng, hanya menampakkan yang terbaik pada sang pangeran,” Claire bertutur dengan memasang wajah kasihan yang dibuat-buat, “lalu aku datang sebagai pahlawannya. Ia pikir aku benar-benar tulus dan apa adanya, padahal aku sangat membenci Ayahnya.”

Kini wajah Athos mulai berdarah. Belati tajam baru saja digoreskan dari keningnya.

Entah mengapa, di benak Claire terlintas wajah Orion yang menangisi kematian Ayahnya.

Namun ia tak peduli. Kembali memasang wajah penuh dendamnya, ia membuat garis tengah di wajah sang Raja. Ia tak berhenti hanya di dagu, namun ia meneruskannya sampai ke leher, lalu memutar belatinya dengan keji,

“Ayah!!”

Claire tak memedulikan pekikan Orion. Hanya saja ia tahu waktunya tak banyak untuk membunuh sang Raja, karena para pengawal telah berlarian mengerubunginya.

JLEB!

Tepat setelah garis dari leher ia tarik ke dada kiri, ia menusukkan belatinya sambil tersenyum sinis. Wajahnya yang bersimbah darah menggambarkan satu kepuasan tersendiri telah membunuh musuh rakyat kasta rendah itu. Ya, ya. Ia semakin puas melihat ada burung gagak yang masuk melalui jendela dan mematuk-matuk mata sang Raja yang terbuka lebar karena menahan kesakitan yang luar biasa sebelum kematiannya—atau mungkin ketakutan karena melihat Dewi Kematiannya telah menerbangkan rohnya.

“Claire…”

Orion tak habis percaya. Gadis yang sangat ia cintai tega membunuh Ayahnya.

.

.

.

Dengan mata sembap, Pangeran Orion berjalan menghampiri meja yang di sana tengah duduk Claire di seberangnya. Pandangan matanya kosong, menerawang jauh, seolah takut akan hukuman yang diberikan padanya.

“Claire Oglypta.”

Claire mengangkat dagunya tegas. Sorot mata tajam dan kesepian langsung menusuk batin Pangeran Orion selaku penyidik—untuk saat ini saja. Pangeran Orion berdehem, lalu ia memberi tanda untuk para pengawal supaya pergi dan membiarkannya melakukan penyidikan sendirian, tanpa kekerasan.

“Kau puas memanggil namaku yang hina itu?”

Senyuman dingin kembali menghiasi wajah Claire, sampai-sampai Orion tak dapat menemukan Claire yang biasanya baik padanya.

“Kenapa kau membunuh Raja Athos?”

“Dia musuhku.”

Orion tertegun mendengar jawaban Claire yang terdengar sangat cepat.

“Apakah setega itu kau membunuh Raja—di hari ulang tahunnya? Kenapa kau membunuhnya saat banyak orang akan langsung menyadari keberadaanmu?”

“Karena aku ingin cepat mati setelah membunuh orang keji itu.”

Mulut Orion ternganga.

“Kau tidak takut mati?”

“Buat apa takut?” Claire kembali tersenyum sinis, “aku sudah kehilangan banyak orang, aku sudah kehilangan kebahagiaan sejak lama, bahkan rasanya setetes darahpun aku tak punya lagi. Buat apa aku takut kehilangan nyawa? Tak akan ada yang menangisi kematianku.”

“Ayahku tewas setelah dibakar hidup-hidup di tengah lapangan rumput beberapa tahun lalu. Aku yakin kau ingat itu.”

“Ayahmu memeras ayahku,” Orion membela.

“Kau tidak lihat secara langsung ‘kan?”

Orion cepat bungkam.

“Aku melihatnya secara langsung. Ayahku terus menunduk dan tak berani menatap mata Ayahmu, bahkan ia bertutur dengan sangat hati-hati. Itu masih kurang halus? Masih kurang merendah?”

“Ibuku juga meninggal setelah melahirkanku, karena banyak sekali tabib yang menolak untuk membantu ibuku, hanya karena ibuku berkasta rendah. Rumahku juga dibakar, karena kebijakan ayahmu untuk menghancurkan semua masyarakat berkasta rendah. Aku yakin kau ingat kejadian ’Pembakaran Massal’ itu.”

Ya. Orion memang ingat. Ia ingat sekali ketika ayahnya bertepuk tangan hebat melihat api yang menjulang tinggi dari ruang pribadinya.

“Lihat, Orion. Klan Aries akan menjadi Klan paling sejahtera di Atlantis Baru karena tak ada rakyat jelata yang tersisa dengan rencana bagusku itu.”

Tapi, nyatanya, masih tersisa beberapa orang yang berhasil menyelamatkan diri, termasuk Claire.

“Jadi kau mendekatiku untuk balas dendam pada ayahku?”

“Ya.”

Orion menarik napas sekuat mungkin. Hatinya sudah pasti remuk ketika tahu gadis yang ia cintai sejak 5 tahun yang lalu hanya memperdayainya saja. Mungkin ini pertama kalinya ia merasa patah hati.

“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku?”

“Buat apa aku memikirkan perasaan orang lain? Orang lain tak pernah peduli pada pedihnya perasaanku, jadi apakah aku ada kewajiban untuk memikirkan orang lain?”

Ada yang peduli padamu, Claire. Aku! Jerit Orion dalam hati, namun tak cukup tega untuk menyuarakannya.

“Tapi, aku pikir, kita impas, bukan? Aku melihat secara langsung Ayahku mati, dan sekarang kau melihat secara langsung Ayahmu mati. Cukup adil ‘kan?”

Orion kembali menghirup oksigen yang nampaknya tak terlalu cukup untuk menyegarkan hatinya yang penat. “Besok adalah hukuman matimu.”

.

.

.

Orion sendiri yang meminta para pengawal untuk tidak mengawasi gerak-gerik Claire sampai hari eksekusinya. Bahkan ia mengantar Claire sampai ke penjara bawah tanah yang gelap, tanpa ada satu ventilasi pun—cahaya hanyalah dari obor.

Saat Orion membuka gembok, Claire berdiri di belakangnya, mengawasi gerak-gerik pangeran.

“Masuklah.”

Tanpa berucap apapun, Claire memasuki penjara.

“Kau tidak berniat untuk pergi?”

Claire menatap Orion intens. Ia baru menyadari, kini Orion tak mampu menahan bulir kesedihannya—hal yang sudah lama Claire lakukan. Bahkan Claire lupa bagaimana cara menangis.

“Kalau kau mau, kita bisa pergi bersama. Pergi menjauh—atau mati bersama.”

“Aku tak akan pergi kemanapun.”

Orion diam.

“Setelah rumahku terbakar, satu-satunya alasanku hidup adalah untuk membunuh ayahmu. Dan itu sudah kulakukan, maka tak ada alasan lain bagiku untuk hidup.”

Claire memasuki penjara dan duduk termenung di sudut ruangan.

Orion tahu, tekat Claire sudah bulat. Ia tak akan mampu merajuknya.

“Baiklah. Adakah permintaan terakhir?”

Claire berpikir sejenak, lalu melihat wajah Orion yang kini nampak begitu teduh nan rapuh.

“bolehkah 3?”

Orion mengangguk.

“Pertama, berikan aku papyrus dan pulpen. Aku ingin menulis.”

“Kedua, hukuman matiku, bisakah meminum racun?”

Orion mengernyit.

“Aku rasa, para bangsawan yang melihat hukuman matiku nanti akan puas melihat rakyat berkasta rendah sepertiku menderita terlebih dulu sebelum mati.”

“Yang ketiga?” Orion mencegah penjelasan Claire yang akan lebih menyakitinya.

“Setelah ini, bisakah kau memberikan roti gandum pada 5 keluarga di tempat kumuh yang sering menjadi tempat pertemuan kita?”

Orion tertegun.

“Di sana juga ada nenek buta yang tinggal di bawah pohon ek—dia tidak punya rumah. Kalau kau mau, kunyahkan roti gandum untuknya.”

“Ada yang lain?”

Claire menggeleng.

.

.

.

Napasnya berubah menjadi asap putih ketika ia menyusuri lorong kecil di tempat kumuh itu. Ia memang sang Pangeran yang tidak menyukai adanya perbedaan kasta, tapi tak dapat dipungkiri, di dalam dirinya masih ada jiwa bangsawan yang enggan membaur dengan udara kotor di sana. Kalau bukan karena Claire, mungkin ia tak akan terbiasa memasuki lorong ini.

Dia sudah memberikan roti gandum yang cukup kepada 5 keluarga yang dimaksud oleh Claire, tinggal mencari nenek buta yang Claire maksud. Dan ia benar-benar menemukan sosoknya di bawah pohon ek. Andai saja tak ada bulan, ia tak akan menemukannya karena di sekitar sana cukup gelap.

Tanpa sepatah katapun, ia mulai membuka bungkus roti, mengunyahnya setengah hati, lalu menyuapkannya pada nenek itu.

“Claire?”

Orion menghentikan kegiatannya.

“Kenapa belakangan ini kau jarang menemuiku? Dan kenapa kau mengunyahya dengan kasar? Kau tahu ‘kan, aku tidak bisa menerimanya. Biasanya kau mengunyahnya sampai lembut agar aku bisa mencernanya.”

Orion tetap diam.

“Kau ada masalah ya? Cerita padaku. Kita sama-sama hidup sendiri, jadi kau jangan ragu lagi untuk berbagi.”

“Kau tahu? Belakangan ini, saat kau tak ada di sini, kau tidak tidur di pangkuanku lagi, aku merasa kesepian. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika aku kehilangan dirimu.”

Ucapan itu berhasil membuat Orion tersentuh. Ia ingat 5 keluarga yang ia datangi sebelumnya. Mereka sama-sama sedih ketika berita tentang eksekusi Claire tersebar ke seluruh penjuru negeri. Claire adalah sebagian jiwa mereka, sebagian nyawa mereka. Karena Claire, mereka masih bisa hidup dengan roti gandum buatan Claire. Jika Claire pergi, maka bagaimana mereka bisa hidup?

Tak apa jika Claire tak bisa membuat roti gandum lagi—hukuman matinya diganti menjadi penjara seumur hidup—yang penting Claire masih hidup. Karena denyut nadi Claire sama dengan denyut nadi mereka. Napas Claire adalah napas mereka.

Orion kini tahu kebimbangan yang ada di sorot mata Claire setelah ia membunuh Raja Athos. Bukan karena dia takut mati—dia malah menantikannya, tapi ia takut kehidupan ‘keluarga senasib’-nya akan jadi lebih buruk jika ia pergi.

Orion mengunyahkan nenek itu sekali lagi, kali ini lebih lembut.

“Nah, sekarang suasana hatimu membaik, iya ‘kan? Karena kunyahanmu sudah lembut seperti biasa. Claire-ku…”

Air mata Orion kembali turun.

.

.

.

Bulan Aries, hari pertama. Hari pertama Orion menjabat menjadi Raja.

Banyak bangsawan yang tengah menantikan eksekusi sang gadis pengkhianat negara. Claire sendiri tersenyum ketika melihat tak ada algojo di atas panggung. Yang ada hanya 3 botol anggur yang tentu saja telah dicampuri racun.

Sang Raja duduk di singgasananya dengan menguatkan hati—walau itu sangat sulit. Tapi memang begitu aturannya: Raja harus duduk di singgasana ketika hukuman mati berlangsung. Sama seperti saat ayah Claire dihukum.

Claire duduk bersila dan mengambil satu botol pertama. Ia tersenyum senang.

Ayah, Ibu. Tunggu aku.

Ia menenggaknya dengan sekali tegukan. Ketika tahu botol pertama habis, ia menyeka bibirnya dengan punggung tangannya. Ia terbatuk pelan. Rasa sakit mulai menyerang pembuluh darahnya.

Botol kedua.

Kini keluar darah dari bibirnya. Ia menatap sang Raja yang duduk cukup jauh di depannya. Ia tersenyum.

Terima kasih.

Botol ketiga.

Mengangkat botol itu saja ia sudah tak sanggup. Tapi ia harus meminumnya.

Setelah habis, botol itu terjatuh dari tangannya. Ia jatuh. Kali ini sakit tak lagi menyerang organ dalamnya, tapi seluruh tubuhnya. Perlahan ia merasakan dingin yang seolah membekukan tubuhnya. Tapi ia tersenyum ketika melihat bayang hitam di depannya. Dengan pakaian yang tak lagi putih—berlumuran darah, ia merelakan nyawanya lepas dari jasadnya.

Claire sudah tak ada.

Orion segera pergi dari singgasananya di tengah-tengah sorakan gembira para kaum bangsawan, tak lagi kuat menahan air matanya. Siapa yang kuat melihat orang yang dicintai kehilangan nyawanya—dan tak ada yang dapat dilakukan untuk menolongnya.

.

.

.

Orion—raja Kerajaan Aries yang baru—kini duduk  termenung di sudut penjara tempat Claire menunggu detik-detik kematiannya. Ia menemukan satu kertas papyrus di sampingnya, lalu membacanya.

Orion

Boleh kan aku memanggilmu Orion? Aku tahu kau tidak suka aku bertindak formal padamu, jadi aku memanggilmu Orion—tanpa sebutan gelar yang lain.

Aku tak akan menuliskan banyak hal, aku hanya ingin berpesan padamu,

Jadilah raja yang baik. Tegakkan kepemimpinan yang jujur, maka kau akan disukai seluruh rakyatmu.

Jika kau putus asa, ingatlah aku dan rakyat jelata lainnya, yang mati-matian hidup untuk meraih impian kami walau percuma.

Jika kau ragu, ingatlah, rakyat jelata membutuhkan perlindunganmu, pemimpin yang arif dan bijaksana. Tak ada alasan yang membuatmu untuk ragu.

Menikahlah dengan gadis baik hati yang bisa menasihatimu jika kau berbuat semena-mena pada rakyatmu, dan jika kau memiliki anak nantinya, ceritakan kisah-kisah nenek moyang kita yang membangun Kerajaan Atlantis Baru agar ia memiliki semangat juang pahlawan seperti nenek moyang kita. Jangan lupakan kisah tentang perbedaan Klan di Kerajaan Atlantis Baru—yang membuat Kerajaan Atlantis terpecah menjadi 12—agar ia tahu, perbedaan Klan dibuat agar kita mau menghargai perbedaan, bukannya menjadikan perbedaan sebagai tonggak perpecahan.

Aku yakin kau akan jadi raja yang baik.

Kau terlalu baik untuk mencintaiku, jadi lupakan rasa cintamu padaku, lupakan kenangan antara kita, yang perlu kau ingat hanyalah perjuanganku untuk bertahan hidup.

Dari hati yang paling dalam….

Dari orang hina yang tak sepantasnya mencintai seorang Pangeran namun tetap melanggar kodratnya….

Dari orang yang pernah hidup bahagia karena mencintaimu…

Claire Oglypta

Orion melihat ada bekas tetesan air mata di sana—di kertas itu. Ia yakin, Claire ingin mengucapkan banyak hal padanya, tapi ia tak sanggup. Bahkan sampai akhir hayatnya, ia tak mendapatkan satupun kesejahteraan pada hidupnya. Mungkin hanya cintanya pada Orion yang membuat hidupnya jadi lebih baik. Hanya dalam 5 tahun terakhir.

Dan kini, Orion menangis.

Tapi ia berjanji pada Claire—meskipun ia tak tahu Claire mendengarnya atau tidak—ini akan menjadi air mata terakhirnya. Ia akan menjadi pemimpin yang baik.

Ia akan selalu ingat rasa sakit yang Claire rasakan, supaya ia tak akan menjadi Raja yang kejam seperti Ayahnya.

Terima kasih, Claire.

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

3 thoughts on “[Oneshoot] Et Grave Odium

  1. daebak ceritanya. .tp sad ending lgy kyk seri sebelumx (virgo). .huhuhu

    krn ak suka sm genre fantasy jdi trtarik baca ff ini. .hhe m’f telat. .*ditimpuk author. .hha
    ditunggu next seri y thor, klu bsa lngkap sampai 12 zodiak. .fighting!!

  2. Alurnya bagus thor, tapi kurang detail penjelasannya apalagi bagian-bagian yang harusnya jadi titik pusat dimana reader bakal dapet feelnya. Tapi ide ceritanya bagus, apalagi yang mengambil latar kehidupan di abad 15 gitu.

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s