[Drabble] Illusion


ILUSI

Illusion

Lee Hayi, Shin Dong Ho, Lee Yoo Young || Fantasy, Absurd, Angst || General

When doodling with my friends, I wrote your name

(Girls Day – Don’t Forget Me(Sojin Part))

“Shin Dongho? Siapa dia?”

Hayi langsung menghapus nama yang sempat ia tulis di atas pasir pantai dengan tangannya. Ia tersenyum malu.

“Siapa?”

Yooyoung—kakaknya—mendesaknya untuk segera menjawab pertanyaannya, terbukti dengan senggolan yang cukup kasar pada lengan Hayi.

“Tetangga sebelah, eonnie.”

Yooyoung membuka mulutnya untuk berbicara, tapi jari telunjuk Hayi lebih cepat bergerak dan menempel pada bibirnya, sama cepatnya dengan pipi Hayi yang kini bersemu merah.

“Jangan bilang siapa-siapa.”

Yooyoung mengangguk pelan. Memangnya dia mau bercerita pada siapa perihal cinta monyet adiknya?

Like the wind, i can’t catch you

(ZE:A – Ghost Wind)

Hayi mengayunkan tangan Yooyoung. Lengkungan sabit tetap terbentuk di bibirnya walau mereka berdua telah berjalan berkilo-kilometer jauhnya. Yooyoung berdecak pelan. Adiknya sudah tak waras lagi. Karena apa? Cinta-kah? Oh, Yooyoung yang 3 tahun lebih tua darinya bahkan belum pernah mencicipi bagaimana rasa cinta.

Dia yakin, adiknya hanya akan merasakan kesenangan sesaat, lalu beberapa saat kemudian, pikirannya akan teralihkan oleh rasa bosan yang selalu datang padanya. Pasti begitu.

Siapa yang tidak bosan jika setiap hari yang mereka lihat hanyalah putih, putih dan putih?

Meski begitu, Yooyoung tetap heran ketika beberapa menit sebelumnya Hayi berucap ‘Ayo pulang’ padanya. Memang mereka punya rumah? Pekarangan yang berumput hijau saja mereka tak pernah tahu bagaimana bentuknya!

Yooyoung ingin sekali bertanya lagi pada Hayi dengan mengucapkan kalimat, “Memangnya kita tinggal di mana?”

Sejak tadi ia ingin menanyakannya.

Tetangga? Bukankah untuk memiliki tetangga harus punya rumah?

“Dia baik sekali, eonnie. Percayalah. Dia juga tampan…”

Yooyoung memutar bola matanya, bosan akan ocehan Hayi tentang lelaki bernama Dongho yang ia tidak tahu bagaimana rupanya.

“Hayi, jebal. Tampan itu relatif.”

“Ah, tapi selera kita selalu sama. Eonnie pasti akan menyukainya.” Namun kemudian, Hayi menyergah sendiri ucapannya, “Ah, lebih baik eonnie tidak pernah bertemu dengannya. Dia milikku.”

“Dongho manusia nyata?” Yooyoung membuat sinar bahagia di wajah Hayi berganti menjadi ekspresi penuh tanda tanya.

“Lelaki yang selalu kau kumandangkan namanya dari tadi itu manusia nyata?”

Hayi mengangguk ragu.

“Kau tidak lupa, ‘kan, kita hanya ilusi bagi mereka?”

In this place without you, I fight with loneliness

(U-Kiss- 0330)

Tepat pukul 03.30

Dongho menatap langit yang masih saja menurunkan air matanya. Dongho lelah terus-terusan berdiri di halte bus, menyondongkan tubuhnya demi melihat kedatangan bus yang akan ia naiki, dan yang terpenting, ia lelah melihat langit yang selalu muram sepanjang hari ini.

Orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya tak sekalipun peduli padanya yang kini memeluk dirinya sendiri untuk meminimalisir rasa dingin yang ia rasakan. Bibirnya membiru. Jelas saja itu terjadi karena jaketnya tak lagi memiliki fungsi untuk menghangatkan tubuhnya setelah terkena tetesan hujan.

Tidak seperti biasanya, gadis kecil yang selalu hadir di sampingnya tepat pukul 03.30 sore tak nampak batang hidungnya. Biasanya ia akan berceloteh tentang segalanya—filosofi hujan, filosofi matahari, bahkan Mitologi Yunani yang terlalu berat bagi gadis berumur 15 tahun—dan mengganggu Dongho yang terlalu penat akan urusan sekolah yang membosankan.

Walau tak dapat dipungkiri, sesekali Dongho tersenyum kecil melihat kekonyolan gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Hayi.

Dongho menghela napas.

Ketika lamunannya tentang Hayi memudar, sudah ada bis yang biasa ia naiki.

Ia berpikir sebentar, menunggu hehadiran Hayi.

Hari ini ia berencana mengajaknya ke rumah sebagai hadiah karena telah mewarnai hidupnya yang membosankan.

Tapi sepertinya nihil.

Dongho melihat angka pada jam tangan digitalnya.

03.31

“kenapa tadi kau tak bermain?”

Kali ini Hayi enggan menjawab pertanyaan Yooyoung. Hayi hanya mendesah pelan melihat bis yang Dongho tumpangi perlahan menjauh darinya. Satu menit yang selalu ia gunakan sebaik mungkin untuk bertemu dengan orang yang ia sukai telah lewat. Ia kembali ke dimensinya.

Ya. Mereka beda dimensi.

Sama-sama manusia, tapi beda dimensi.

Memuakkan.

“Kau ingin bermain lagi?” Yooyoung membelai rambut adiknya, bingung akan sikap adiknya yang kini kembali murung.

“Kalau kau mau, akan kuberikan satu menit lagi untuk hari ini. Tapi sebagai gantinya, besok kau tidak bisa bermain ke dimensi 3 lagi.”

“Tidak perlu.”

Gadis itu memilih untuk melangkahkan kaki tanpa kakaknya. Ia butuh sendiri. Ia butuh satu pemikiran matang jika tak ingin dianggap kekanakan. Oh ya, memang postur tubuhnya memperlihatkan keimutannya sebagai gadis yang berumur 15 tahun. Tapi di dalamnya terperangkap sosok gadis berumur 115 tahun.

Salahnya sendiri telah melanggar larangan yang ada.

“Hayi, jangan baca buku itu!”

Hayi terkejut saat Yooyoung merebut buku yang lembar demi lembarnya terbuat dari Papyrus.

“Ah, eonnie… tolonglah… gambar sampulnya sangat bagus dan berwarna!!”

Hayi mengejar kakaknya sambil mengangkat ujung roknya yang menyentuh lantai.

“Tidak boleh! Kau akan berakhir seperti aku jika membacanya!”

“Oh, benarkah? Ayolah, eonnie, itu hanya mitos!!” ia tertawa kecil, mengira kakaknya bergurau dan mengajaknya bermain.

“Semua yang ada di buku ini akan terjadi padamu jika kau membacanya! Percayalah!”

Eonnie! Hentikan lelucon bodohmu! Aku tak mudah dibohongi!”

Buku itu terjatuh ketika Hayi menarik tubuh Yooyoung hingga Yooyoung terjatuh. Satu bagian cerita yang berada di tengah halaman terbuka. Hayi pun membacanya dengan penuh suka cita—karena berhasil mengalahkan kakaknya,

“Gadis dengan rambut terurai itu lalu berubah menjadi sebuah ilusi dan hanya akan kembali pada dunianya yang sebenarnya pada pukul 03.30 sampai 03.31 sore.”

Maka dari itu, ia terlempar ke dimensi 100 tahun setelahnya. Yooyoung yang gagal mencegah hal yang sama terulang kembali pun harus terlempar ke dimensi 100 tahun setelah kehidupannya lagi. Total umurnya 218 tahun.

Semua karena buku yang kini telah menghilang. Telah Yooyoung bakar.

Meski semua telah berlalu dan tak mungkin diperbaiki, Hayi tetap merutuki dirinya sendiri karena tak ingin patuh pada larangan kakaknya.

Terlebih jika ia dapat melihat seseorang yang mirip dengannya di dunia nyata, ia akan menghilang. Itu menambah daftar penyebab rasa sakit hatinya.

Karena seharusnya keluarganya dapat bereinkarnasi jika hidup mereka berjalan normal—hidup seperti manusia, lalu mati, lalu menjalani berbagai proses untuk bereinkarnasi. Jika Hayi hidup di masa depan hanya sebagai ilusi dan tidak dapat melihat ke masa lalu—tempat di mana ia benar-benar hidup—bagaimana ia bisa tahu apa yang terjadi pada masanya?

Bisa saja ada orang yang berusaha mengawetkan tubuhnya yang hanya tinggal jasad, meskipun sekarang, rohnya kini bergentayangan—dan hanya bisa menjadi ilusi.

Hayi sendiri lelah memikirkan teori-teori yang kakaknya jelaskan tentang ‘muncul’ dan ‘hilang’. Betapa membosankannya itu semua. Betapa menyakitkannya itu semua.

Dalam satu cerita selalu ada sutradara, penulis skenario, aktor dan aktris ‘kan? Ada juga alur sebagai unsur intrinsik sebuah drama.

Penulis skenario dan Sutradara dalam kehidupan setiap manusia adalah Tuhan, tangan-tangan gaib-Nya adalah perwujudan dari orang-orang dibalik layar setiap pementasan.

Hayi pikir, dalam kehidupannya, ia adalah pemeran utama, Dongho adalah tokoh sampingan, Yooyoung pun begitu. Hanya dia sang tokoh utama, karena ia yang melakukan kesalahan sejak awal. Ia menyakiti dirinya sendiri, ia mempermainkan dirinya sendiri. Sesuai dengan skenario yang ada.

Ia pikir, tak ada alur yang jelas dalam dramanya sendiri. Setting pun sama. Tempat? Tiap hari yang ia lihat hanyalah dimensi putih, tak ada yang lain—kecuali pada pukul 03.30 sampai 03.31. Waktu? Hayi sendiri tidak bisa mendefinisikannya. Suasana?

Jangan dibahas.

Suasana Hayi selalu berubah seiring berjalannya waktu.

Mungkin sekarang ia sedih, tapi siapa yang tahu suasana hatinya 3 menit kemudian. Toh, hati orang tak pernah ada yang dapat menebaknya dengan tepat.

Dan hari ini, Hayi benar-benar sangat sedih.

I Stand up here and you’re gone

(Gone. Sad things about separation)

“Lee Hayi?”

Dongho berjalan menghampiri seorang gadis yang mengendarai sepeda dengan ranjang yang penuh bunga.

“Kau Hayi ‘kan?”

“Iya. Tapi…”

“Dimana saja kau kemarin? Entah mengapa aku merindukan ocehanmu.” Dongho tertawa lega. Ia berpikir yang buruk tentang Hayi karena cuaca buruk kemarin, namun kini Hayi di hadapannya baik-baik saja.

“Oh, mungkin kau salah orang. Namaku memang Hayi, tapi, aku tidak mengenalmu. Siapa kau?”

Dongho bungkam.

Lalu, ia pikir, mungkin kali ini ia harus berkenalan terlebih dahulu. Ia harus lebih terbuka.

Gadis itu menangis.

Angin berhembus pelan membawa rohnya untuk pergi menghilang sejauh mungkin dari Dongho, lalu di masa setelahnya ia akan bertemu orang lain, lalu ia hanya bisa jadi teman ilusi bagi setiap manusia yang ia temui.

Akan selalu begitu.

the start and end goes around in circles

(U-Kiss – Believe (Kevin Part))


| END |

maaf banget kalo misalkan cerita ini membingungkan. sebenernya ini cuma satu hasil dari curahan hati yang selalu gak tersampaikan. cerita ini juga menyampaikan keseluruhan apa yang aku alami sekarang ini, ya mungkin gak semua, cuma intinya sama :

sekarang aku bingung.

banyak sekali masalah yang kadang aku tuh bingung gimana nyelesainnya -_-“

http://beylicious7.files.wordpress.com/2013/04/lee-hi-rose-lyrics.jpg

5 thoughts on “[Drabble] Illusion

  1. uwoo! ini keren bgt! aish, jadi kangen Dongho. T-T tapi, tetep, keren bgt! bikin penasaran orang! (meskipun akhirannya tetep sad ending)🙂 growling xoxo

  2. sasaaaaaa, aduh ini ceritanya awalnya bikin kak bingung tapi ngerti2 dikitlah walau entah bener ga nya…jdii hayi itu lagi maen ke dimensi lain yg terpisah 100 tahun lamanya karna melanggar aturan. trus dongho cuma berilusi ketemu hayi setiap jam 03.30. dan terakhirnya ketemu orang yg mirip hayi tapi bukan hayi yg di dimensi lain..bener bgitukah? hahaha /asalbanget/

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s