[Vignette] Express 8282


express 8282

Express 8282

Fantasy Series of New Atlantic Kingdom

Starring :
Park Sojin (Girls Day), Byun Baekhyun (EXO-K)

Vignette (3000 W) | AU, Angst, Fantasy, Romance | Teen

Read another Series :

Capricorn

Now :

Virgo

Lelaki itu sangat bodoh, terlihat dari caranya mengejar kereta yang jelas-jelas memiliki kecepatan di atas 100 km/jam. Peluh yang membasahi kemeja putihnya tak ia pedulikan. Tangan kanannya menggenggam erat jaket jeans yang akan ia berikan pada seseorang , sementara tangan kirinya menggenggam sweater rajutan putih yang beberapa waktu sebelumnya sempat ia pakai. Acara piknik yang ia kira akan sangat menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi kejadian yang menyebalkan baginya.

Sojin—kakak perempuan yang ia sukai sejak lama—mengirimkan pesan singkat padanya, tepat setelah 2 jam lelaki itu menunggu di padang dandelion—tempat piknik favorit mereka.

Maaf, Baekhyun. Aku harus pergi untuk sementara waktu. Jaga dirimu baik-baik.

Kalau saja ia bisa menghubungi Sojin setelah membaca pesan itu demi mendapatkan kepastian tentang kepergiannya—untuk apa, kemana, dan berapa lama—tapi nyatanya nomor handphone Sojin tak dapat ia hubungi.

Nunaaaa!!!”

Sementara Sojin tengah memejamkan mata sambil mendengarkan lagu ballad dari mp3 player-nya. Ia menggerak-gerakkan kepalanya mengikuti alunan lagu yang menyentuh gendang telinganya. Sesekali ia membenarkan sweater rajut biru langit—Baekhyun memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya—karena udara musim semi terasa dingin ketika angin menyentuh kulit.

Meski nampaknya yang ia dengar hanyalah suara yang keluar dari headsetnya, namun lamat-lamat tersengar suara lelaki memanggil-manggil namanya, lalu tak terdengar lagi setelah beberapa saat.

Terlintas wajah Baekhyun di benaknya, namun dengan cepat ia singkirkan kemungkinan itu..

.

.

.

Nunaaa!!!”

“Hei, ada apa?!” Ibu Baekhyun menghampiri anaknya yang baru saja bangun dari tidur. Ia mengernyit heran melihat napas anaknya tersengal-sengal tak karuan, mengingat ia baru saja bangun tidur, bukannya lari.

“Kau mimpi buruk?”

Harusnya Baekhyun bisa menghela napas karena apa yang baru saja terjadi hanya mimpi, tapi ia tidak begitu yakin harus melakukannya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak hebat.

“Baekhyun, kau mimpi buruk?”

Karena Baekhyun pikir mimpinya hanyalah masalah sepele bagi ibunya, ia memilih untuk menggelengkan kepala sebagai jawaban.

Setelah ibunya membelai rambutnya sambil tersenyum dan pergi, Baekhyun bergegas menghampiri handphone-nya dan menghubungi nomor Sojin.

Yang membuat Baekhyun semakin kesal, tak ada jawaban di ujung sana.

Si pemilik nomor 8282.

.

.

Minggu pagi itu, Baekhyun sengaja datang di padang dandelion yang muncul di mimpi buruknya. Ia menghela napas, menggerutu pelan karena kebodohannya yang percaya pada mimpi yang ia pikir benar-benar terjadi.

“Baekhyun, itu kau?”

Baekhyun membalikkan badan, lalu mendapati gadis yang menjadi pemeran utama dalam setiap mimpinya. Ia tersenyum, lalu semakin lebar ketika gadis bernama Sojin yang ia kagumi berjalan menghampirinya.

“Kenapa kau bisa di sini?”

Baekhyun memperlihatkan ranjang pikniknya yang terbuat dari rotan. “Piknik?”

.

.

.

Ranjang rotan yang sebelumnya dibawa Baekhyun kini digenggam erat oleh tangan mulus Sojin, sementara Baekhyun menyiapkan tikar di bawah salah satu pohon sambil bersenandung. Sojin memiringkan kepalanya, lagi-lagi menatap heran lelaki di depannya. Kenapa tiba-tiba mengajaknya piknik?

Mungkin memang rutinitas mereka untuk piknik setiap akhir pekan, hanya saja, kali ini tidak lazim. Baekhyun selalu memiliki acara tertentu bersama teman sekolahnya—terlebih saat musim liburan seperti sekarang—tapi kenapa sekarang Baekhyun memilih untuk piknik berdua bersamanya? Tidakkah itu membosankan baginya? Bagi pemuda yang overacted sepertinya?

Baekhyun merebut ranjang rotan yang Sojin bawa dan menata semua yang ia persiapkan. Akhirnya, Sojin memilih untuk menapakkan kakinya di atas tikar setelah Baekhyun mempersilahkannya lewat senyuman.

“Ini.”

Sojin menyambut sandwich berry yang baru saja diberikan Baekhyun. Terlebih dulu ia menatap langit cerah—namun sedikit berawan—tempat para burung beterbangan mengisi pundi-pundi udara dalam tubuh mereka, lalu melahap sandwich berry setelah menghela napas.

Nuna.”

“Ng?”

“Dalam waktu dekat ini, kau tak akan pergi kemana pun ‘kan?”

Sojin mengangguk sekenanya, menikmati selai berry yang terasa lembut di lidah.

“Lalu, soal nomormu…”

Kali ini ucapan Baekhyun berhasil membuatnya menatap mata Baekhyun. Kedua iris matanya tepat menatap iris Baekhyun cukup lama, sebelum akhirnya Baekhyun melanjutkan,

“Kenapa hanya  4 digit?”

Sojin tertawa hingga selai berry mengotori bibirnya. Ia membersihkan bibirnya dengan menggerakkan punggung tangannya asal.

“Entahlah. Aneh ya?”

Tak ada sanggahan ataupun persetujuan dari Baekhyun, yang ada hanyalah tatapan bingung yang semakin lama semakin menusuk iris mata Sojin, lekas menagih jawaban yang benar-benar ia inginkan. Sojin jadi salah tingkah.

“Aku hanya suka angka 8 dan 2. Jadi aku menggabungkan dua nomor itu. 8 dan 2. 8 ditambah 2 sama dengan 10, lalu ditambahkan lagi dengan angka berikutnya, jadi 20. 20 terdiri dari angka 2 dan 0, maka 2 ditambah 0 sama dengan 2. 2 adalah kau dan aku. Haha….”

Baekhyun mengangkat ujung bibirnya demi menghargai hitung-hitungan konyol dari Sojin.

Nuna…”

“Apa lagi?”

Lagi-lagi paras anggun Sojin membuat lidah Baekhyun kelu untuk berbicara. Meskipun wajah Sojin sesekali tertutup oleh beberapa helai rambut yang terkena terpaan angin, Baekhyun selalu kagum pada parasnya yang tanpa riasan apapun. Kali ini ia hanya berhasil diam, urung mengucapkan satu kata yang ingin ia ucapkan hanya karena lupa atas apa yang akan ia katakan.

Baekhyun meletakkan sandwich-nya, lalu menggenggam erat tangan Sojin, memastikan bahwa Sojin bukan ilusinya. Bukan sekedar mimpinya.

“Selalu aktifkan nomor handphone-mu.”

Sojin mengernyit atas sikap Baekhyun yang sekarang tak peduli asal nomor handphone-nya.

“Kalau kau ingin pergi, kau harus meninggalkan pesan untukku. Untuk berapa lama, kemana, dan…”

“…tentu saja kepastian apakah kau kembali atau tidak.”

.

.

.

Kini Sojin berbaring tepat di tengah padang dandelion. Selepas Baekhyun pergi, kesepian kembali menyiksa batinnya.

 Tapi bukan Sojin jika ia meratapi kesepiannya. Terkadang ia menghitung bintang—yang entah mengapa tidak tenggelam oleh sinar kota Seoul pada umumnya—dan kadang berbicara dengan Bulan. Ia juga bisa berbicara pada rumput. Pada rumput. Bukan dengan rumput.

Nyatanya rumput tidak bisa bicara.

Setelahnya Sojin akan tertawa akan tingkah lakunya sendiri. Atas kebodohannya sendiri.

Tapi mau bagaimana lagi?

Di padang dandelion itulah rumahnya.

.

.

.

Nuna, kenapa kau tidak pernah mengizinkanku datang ke rumahmu?”

“Siapa bilang?”

“Bukan siapa-siapa. Tapi kau selalu diam saat aku menanyakan dimana rumahmu.”

“Kau sudah sering bertemu denganku, masa’ tidak tahu rumahku dimana?”

Baekhyun mengernyit.

“Padang dandelion ini rumahku.” Sojin tertawa sementara Baekhyun terhenyak.

“Rerumputan menjadi lantainya, dan langit yang selalu berubah seiring berjalannya waktu adalah atapnya.”

.

.

.

Baekhyun meresapi kalimat demi kalimat yang masih dapat ia ingat dengan jelas saat berbicara dengan Sojin mengenai rumahnya. Dia tak tahu masih saja ada orang primitif seperti Sojin. Bagaimana jika hujan? Bagaimana jika matahari bersinar sangat terik, terlebih saat musim panas? Memang di sekitarnya ada pohon, tapi apakah cukup?

Dan karena ingatan akan percakapan aneh itu terus menghantui pikirannya, ia memutuskan untuk keluar rumah malam itu juga.

.

.

.

Baekhyun berdesis.

Matanya menangkap sosok seorang gadis yang tengah berbaring—tertidur pulas—tepat di bawah sinar rembulan yang saat itu membulat sempurna. Sesungguhnya Baekhyun enggan mengganggu tidur cantik Sojin (benar-benar cantik jika sekarang kau dapat melihat gadis itu tengah tersenyum damai dalam tidurnya), tapi menurut Baekhyun, sebagai lelaki yang ingin melindungi nunanya, ia harus membangunkan Sojin supaya gadis itu tidur di tempat yang lebih layak.

Nuna.”

Hm?”

Nuna, bangun…”

Sojin mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia telah terbiasa dengan sinar rembulan yang selalu menjadi lampu rumahnya, begitu juga dengan sinar kunang-kunang yang kadang hinggap di hidungnya, tapi kali ini ia sangat terganggu dengan hadirnya seseorang pada tengah malam ini.

“Oh, Baekhyun.” Ia menguap, “ada apa?”

“Aku kira kau bohong soal rumahmu, dan ternyata rumahmu benar-benar di sini.” Baekhyun berdecak.

“Tak apa ‘kan?” Sojin tersenyum, “aku bisa melihat bintang tanpa harus membuka pintu atau jendela. Aku bisa menyanyikan nyanyian kidung saat turun hujan, aku bisa berkicau dengan burung-burung kecil yang beterbangan rendah di depanku, saat musim sepi aku bisa meniup bunga-bunga dandelion, saat musim gugur aku bisa melihat daun-daun pohon maple berguguran…”

Baekhyun kembali berdecak. “Tapi tidak baik bagi kesehatanmu bila kau terus-terusan begini.”

“Nyatanya aku selalu berada disini selama bertahun-tahun.” Sojin tersenyum tipis, lalu mengalihkan perhatian Baekhyun, “lihat kerumunan dandelion di sana.”

Baekhyun menghela napas, jelas tahu mengapa Sojin menyuruhnya melihat dandelion: mengalihkan perhatiannya. Meski begitu, ia tetap menuruti ucapannya.

“Biji-biji kuning yang tadi pagi kita lihat sudah mengering. Mungkin besok atau lusa kita bisa meniup bunga dandelion, lalu mengucapkan harapan kita seiring terbangnya bunga-bunga itu, seperti yang sering kita lakukan saat musim semi tahun-tahun sebelumnya.”

Senyuman Baekhyun kembali menghiasi wajah manisnya saat ia melihat wajah teduh Sojin.

“Ada tidak, harapan yang terpenuhi saat kau meniup bunga dandelion di tahun lalu?”

Baekhyun berpikir sejenak, lalu menjawab,

“Entahlah, Nuna. Aku tidak tahu.”

.

.

.

Lelaki itu kembali berdiri dengan penuh tanda tanya dalam otaknya. Ia hanya mengedipkan mata selama nol koma sepersekian detik, lalu ketika membuka matanya, ia tak lagi di padang dandelion bersama Sojin. Ia sendirian tepat di depan gerbong kereta yang bertuliskan “EXPRESS 8282” di badan kereta. Sangat besar tulisan itu, membuat Baekhyun ingat pada mimpi buruknya di malam sebelumnya.

Kereta itu sama persis seperti yang ada di mimpinya.

Ia semakin bingung saat ia menyadari ada secarik kertas di genggaman tangannya, berupa tiket untuk menaiki kereta itu.

Tanpa pikir panjang, ia memasuki pintu kereta yang telah terbuka sejak kali pertama Baekhyun berdiri di sana, agar pikirannya terbebas dari segala pertanyaan yang terus menerus mengitari pikirannya, layaknya satelit alam yang mengelilingi planetnya.

.

.

.

Baekhyun tak tahu kemana perginya kereta itu. Bukannya melewati rel kereta api ataupun terowongan bawah tanah, kereta bernomor 8282 itu malah melayang ke angkasa. Semakin lama semakin tinggi hingga bumi tak terlihat lagi.

Ia menyentuh kaca kereta dengan kedua tangannya saat satu cerita mulai terproyeksikan di depannya.

.

.

.

“X10!”

Putri Virgo hanya melakukan pemanasan dan mengarahkan panah emasnya dengan asal (dan tidak menggunakan kekuatan penuh), namun lagi-lagi ia mencapai kesempurnaannya dalam panahan.

Sesuai namanya, Putri Virgo adalah pewaris sah di salah satu kerajaan Atlantis Baru, kerajaan Virgo. Ia mewarisi kecantikan ibunya, Ratu Virgo. Konon kata para pengamat kerajaan, kecerdasannya dalam ilmu pengetahuan dan politik juga bakat dari ibunya.

Tapi banyak yang tidak tahu darimana kemampuan memanah ia dapatkan.

Awalnya Putri Virgo mengira itu adalah bakat alaminya, terjadi karena kesungguhannya dan juga keinginannya. Tapi semua berubah ketika ia berumur 17 tahun dan semua orang—keluarga besar kerajaan yang isinya hanya perempuan dan juga rakyat Kerajaan Virgo—menceritakan tradisi turun temurun dalam kerajaannya.

“Seperti namanya, Virgo. Kita semua—para wanita penduduk Virgo—adalah penguasa kerajaan Virgo. Tak boleh ada barang satu laki-laki pun di sini.”

“Tapi, tidak mungkin perempuan dengan perempuan mampu meneruskan keturunan. Maka dari itu, setelah cukup matang untuk melahirkan dan membesarkan seorang anak perempuan, penduduk Virgo diizinkan—atau lebih tepatnya diwajibkan—untuk keluar dari Kerajaan Virgo untuk mencari pasangan dan hanya boleh kembali saat hamil.”

“Mereka akan melahirkan di Kerajaan ini, supaya anak yang dilahirkan benar-benar keturunan asli Kerajaan Virgo. Tapi jika yang mereka lahirkan adalah lelaki, maka bayi itu akan diserahkan pada Ayahnya, lalu perempuan Virgo itu harus mencari pasangan lain sampai ia benar-benar melahirkan anak perempuan.”

“Dengan begitu, keperawanan (Virgo) kita akan tetap terjaga karena kita melakukannya bukan atas dasar cinta.”

Sepertinya ayah kandung Putri Virgo adalah seorang Pangeran dari Kerajaan Sagitarius.

“Putri Virgo…”

Ng?”

Si Putri tetap serius pada sasarannya, berusaha untuk mengabaikan ucapan pelayannya dan tetap fokus pada objeknya.

“Seperti yang kita tahu, keadaan Ratu Virgo semakin lama semakin buruk… Maka, kapan… Putri Virgo akan keluar… dari… kerajaan ini.. dan meneruskan… garis keturunan kelurga kerajaan?”

Konsentrasi Putri Virgo rusak seketika. Panahnya melesat jauh ke luar sasaran. Bibirnya berdarah karena gesekan liar yang tak dapat ia antisipasi. Ia menatap tajam pelayannya.

“Sudah kubilang aku tidak mau melakukan hal yang tidak manusiawi seperti itu!!”

Seketika itu juga pengawal-pengawal istana memasuki ruang latihannya dan membawanya ke penjara karena ucapannya yang dinilai melanggar aturan.

Putri Virgo sering mengatakannya, namun dengan penuh keanggunan. Banyak mengira Putri Virgo akan segera mematuhi peraturan yang berlangsung sejak 333 tahun Kerajaan itu berdiri, namun tiada yang dapat mengira bahwa Putri Virgo akan menyuarakannya dengan lantang lagi penuh amarah.

.

.

.

“Pengadilan tinggi atas pelanggaran etika yang dilakukan Putri Virgo akan segera dimulai.”

Sang Hakim duduk dengan anggunnya, lalu tersenyum sinis mendapati Putri Virgo memasuki tanah lapang dengan kedua tangan diikat ke belakang, juga beberapa pengawal yang berjalan di setiap sisinya, mencegah adanya kemungkinan buruk—Putri Virgo melarikan diri.

Penampilannya begitu menyedihkan. Ia tak mengenakan gaun putih sutra yang biasa ia kenakan, memakai mahkota berupa bunga-bunga berwarna pink pastel yang menandai keanggunannya, atau memakai baju zirah (baju besi untuk perang) yang selalu membuatnya nampak gagah ketika memanah. Rambutnya tak lagi terurai indah, namun acak-acakan. Pakaian zirahnya tak lagi kokoh seperti sebelumnya karena terlalu banyak tusukan pedang yang ia terima atas setiap sanggahan yang ia ucapkan.

“Kau sadar dimana letak kesalahanmu?”

“Tidak.”

Keras kepala.

Itu yang ada di benak setiap anak manusia di Kerajaan Virgo mengenai Putri Virgo yang satu ini.

“Ini karena kau tak tahu diri atau…”

“Bagaimana mungkin kita bersetubuh dengan lelaki yang sama sekali tidak kita cintai? Bagaimana mungkin kita melakukan hal yang biasa dilakukan oleh binatang?!”

JLEB!

Satu tusukan kembali ia rasakan di perutnya. Tapi berkat ketegarannya, luka itu berhasil sembuh dalam waktu singkat, walau masih menyisakan rasa sakitnya.

“Membuang bayi laki-laki yang dilahirkan dan tidak memberikan kasih sayang pada mereka, bahkan tidak memberikan nama pada darah daging kita, dimana letak kemanusiawian kita sebagai seorang perempuan yang selalu dikenal dengan kelembutan dan kehangatan kasih sayang?”

JLEB!

Putri Virgo menyeringai pada hakim yang ada di depannya.

“Kau terlalu menjauhi batas. Entah bagaimana kondisi Ratu jika tahu putrinya tidak patuh pada aturan.”

“Bukannya kau yang menginginkan kesehatan ibu menurun, Adik Ratu?! Bisakah kau membuka topengmu dan bersikap jujur pada semua orang bahwa kau ingin menjadi penguasa?! Hah?!”

Mata sang Hakim terbelalak.

“Kau pikir aku tidak tahu apa saja yang kau lakukan?! Kau mengadu domba seluruh penduduk Virgo hingga kerajaan ini hampir hancur dan mendapatkan cap sebagai Kerajaan Terburuk di Atlantis Baru. Kau berniat untuk menjadi pahlawan atas seluruh kehancuran yang kau lakukan dan mengangkat diri sendiri untuk menjadi ratu, namun semuanya gagal karena aku mengetahui semua yang kau lakukan. Aku dan ibuku—serta penduduk rakyat yang saat itu masih setia padaku—membenahi semua kerusakan yang ada hingga semuanya menjadi normal!! Kau juga yang merusak busurku hingga tali busurku putus dan aku kalah saat bertanding dengan 11 Kerajaan lainnya!! Sekarang kau meracuni ibuku dan membuat seluruh Rakyat Virgo membenciku!! Kau…”

“Kau benar-benar kelewatan!!”

Sang Hakim berdiri. Dengan perasaan yang dikuasai oleh amarah yang kuat, ia membuka gulungan Papyrus yang sudah ia sediakan dan membacakan isinya.

“….Maka Putri Virgo akan dibuang ke Bumi untuk sementara waktu sampai ia menyadari kesalahannya. Ia boleh kembali jika ia menyadari kesalahannya dan melakukan kewajibannya sebagai Putri. Tapi jika tidak, kereta ‘EXPRESS 8282’ akan mengantarkannya ke lubang hitam galaksi Andromeda…”

Seluruh rakyat yang melihat persidangan itu melemparkan banyak sekali batu-batu keras—tengkorak kepala manusia yang telah menyusut selama jutaan tahun—pada Putri Virgo.

Putri Virgo ingin sekali berteriak pada mereka,

“Kalian telah menghargai setiap tetes keringat dan airmata yang aku berikan demi Kerajaan ini. Kalian telah mengkhianati perasaanku yang telah menganggap kalian sebagai saudara.”

Tapi percuma.

Putri Virgo tahu jawabannya.

“Kau telah mengkhianati tradisi para Virgo.”

.

.

.

Baekhyun kembali membuka matanya. Ia tak lagi berada di dalam kereta Express 8282. Kini ia berdiri di samping Putri Virgo.

Di samping Park Sojin, sang Putri Virgo.

Nuna…”

Sojin tak sedikitpun menoleh. Tatapan matanya kosong. Ia memeluk kedua lututnya, jelas ia memikirkan sesuatu hal yang mengganjal di benaknya.

“Jadi, selama 10 tahun ini, kau menjalani hukumanmu?”

Anggukan kepala Sojin terlihat lemah.

“Kapan berakhir?”

Gadis itu diam sesaat, hingga pada akhirnya ia berucap, “Tidak tahu.”

Baekhyun menelan ludah.

“Kau melihat semuanya?”

Baekhyun duduk bersila di sampingnya. “Hm.”

“Jangan terpengaruh. Mereka berusaha menarik simpatimu hingga kau mau bersetubuh denganku. Itu caraku kembali ke ‘sana’.”

Akhirnya Baekhyun mulai mengatakan satu kalimat yang cukup panjang, “Kalau Nuna mau, Nuna bisa menceritakannya padaku. Setidaknya, sampai hati Nuna lega, sampai tak ada lagi beban.”

“Mereka gadis-gadis bodoh. Mau saja diperbudak oleh tradisi jalang seperti itu. Mereka juga bodoh, menghukumku, tapi berharap aku kembali. Kerajaan Virgo tak dapat berdiri dengan baik tanpa kecerdasanku, begitu kata mereka. Cih. Aku sama sekali tidak secerdas yang mereka kira.”

Setelah beberapa saat hening, Sojin kembali bersuara,

“Aku takut.”

Baekhyun mendekatkan posisi duduknya pada Sojin dan mengelus punggungnya, namun ia tidak melihat paras Sojin. Pandangan matanya sama kosongnya dengan Sojin, seolah turut merasakan kepedihan yang Sojin rasakan.

“Ada 2 hukuman untukku nantinya. Tetap tinggal di Bumi, melupakan semua kenangan indah, lalu menjadi manusia biasa, atau terhisap dalam lubang hitam. Keduanya menakutkan.”

Wajah cantiknya ia benamkan pada kedua lututnya, pertanda bahwa sebentar lagi akan terdengar isakan tangisnya.

Benar saja.

Tangis yang selalu ia dengarkan sendirian setiap malam kembali menghiasi padang dandelion, seolah tangisan Sojin adalah nyanyian wajib bagi wilayah yang ia tinggali.

Kini Baekhyun tahu, kenapa Sojin tak pernah mau pergi ke luar padang dandelion.

Karena Sojin akan menghilang.

Padang dandelion adalah rumahnya. Di sanalah replika kecil Kerajaan Virgo yang sangat ia rindukan. Di sana juga semuanya terasa indah walau hampa. Di sana pula waktu terasa berhenti.

Semakin lama tangisan Sojin semakin keras, menandakan hatinya sudah terlanjur sakit, terlanjur terluka, terlanjur robek karena pengkhianatan yang ia dapatkan. Hati Baekhyun turut merasakan luka di hatinya—terlebih ia melihat semuanya dengan matanya sendiri. Ia menarik pelan tubuh Sojin, lalu mendekatkan ujung kepala Sojin ke dadanya. Tangannya membelai halus ubun-ubun Sojin, berusaha menenangkannya.

.

.

.

Mimpi itu datang lagi.

Tepat saat Baekhyun tertidur saat jam pelajaran Bahasa Inggris.

Tanpa memedulikan guru yang tengah menerangkan Analytical Exposition Text, ia berlari sekuat tenaga untuk pergi ke padang dandelion.

.

.

.

Ia terperangah. Benar-benar tak percaya atas apa yang ada di depan matanya.

Padang dandelion yang harusnya nampak subur kin berubah menjadi sangat gersang. Tak ada lagi bunga-bunga dandelion yang harusnya bermekaran hari itu. Tak ada lagi pohon maple. Tak ada lagi kupu-kupu yang beterbangan di atas kepalanya.

Yang lebih membuatnya shock, tak ada lagi Nunanya.

Tak ada lagi Putri Virgo di sana.

Nuna!!!”

Nuna!!”

Nuna!!”

Ia juga merasakan luas lapangan telah menyusut. Padang dandelion—tempat rahasianya bersama Sojin—sangatlah luas, bahkan mencakup danau air tawar yang di sana terdapat sepasang angsa. Tapi sekarang, rasa-rasanya hanya seluas lapangan sepakbola tingkat desa.

Nuna…”

Air matanya sudah berada di pelupuk mata. Tapi untuk sesaat air matanya belum menyentuh pipinya. Baekhyun masih menghampiri secarik kertas yang menempel di salah satu pohon kering di lapangan itu.

Baekhyun…

Tepat setelah kau pergi, kereta ‘itu’ datang.

Kali ini untuk menjemputku.

Di dalamnya tak ada siapapun.

Aku sangat takut, Baekhyun.

Kira-kira, kau bisa tidak, menebak kemana perginya kereta ini? Aku tidak bisa menebaknya.

Padahal aku sangat ingin melakukan perpisahan yang lebih layak lagi. Penuh senyuman, penuh kebahagiaan, hingga tak ada satupun dari kita yang terluka (yah, walaupun aku sendiri sudah mendapatkan luka cukup dalam sih, hehe). Tapi, kereta ini terus memaksaku untuk segera menaikinya.

Makanya, di surat ini, aku hanya ingin menuliskan satu kalimat yang belum sempat aku ucapkan secara langsung padamu.

Terima kasih, Baekhyun.

Terima kasih mau menemaniku 10 tahun ini.

Terima kasih kau sudah mengajariku menulis dan membaca.

Terima kasih sudah mengenalkanku pada kimchi.

Terima kasih mau mengajarkanku bermain layang-layang.

Terima kasih atas setiap piknik yang kau lakukan untukku—sandwich terakhir darimu sangatlah lezat!

Terima kasih atas setiap keindahan yang pernah kau ajarkan padaku.

Terima kasih kau sudah menjadi cinta pertamaku.

Terima kasih. Kau membuatku tidak menyesal untuk mempertahankan prinsip yang membuatku dibuang ke Bumi.

Terima kasih.

Aku berhutang banyak padamu.

Surat itu tak lagi berbentuk setelah Baekhyun usai membacanya. Kekesalannya memaksanya untuk meremas kertas itu.

Tapi, setelahnya, Baekhyun menyadari satu yang tersisa di padang rumput itu.

Ada satu bunga dandelion di bawah kakinya.

Ia mencabut bunga itu, lalu mengucapkan harapannya sebelum meniup bunga itu. Sama seperti yang ia lakukan dengan Sojin selama ini.

“Nuna… Aku ingin bertemu denganmu sekali lagi. Dan jika saat itu datang, izinkan aku mempererat dekapanku padamu, agar kau tak lagi pergi… agar kau tak lagi sendiri…”

9 thoughts on “[Vignette] Express 8282

  1. ini bagus banget,aku suka.sebelumnya aku baca di ifk sih cuman bingung mau coment apa.alurnya gak ketebak dan ini sweet bangett meskipun sad-ending,jarang banget ada ff dengan cast girls day🙂

  2. setuju sama Seojin!! mana ada hrus brstubuh sm pria yg ga d cintai.
    nd krna dy d buang k bumi, seojin ketemu baekhyun ^^
    tpi knapa berakhir dgn sperti itu? seojin pergi😥 ksihan baekhyun…

    aku suka sm ffnya ^^

  3. huaaaaaaaaa, sasa maaf kak baru bisa ninggalin jejak dimari T-T
    dan baekkiiii…huhuhu mungkin seperti yg seojin bilang klo dy itu ga pernah nyesel ketemu kamu, buktinya dy ngucapin byk trima kasih, belum lagi tnyata perasaan kalian itu sama walau tetep ga bisa bersatu..heuuu;;; sedih sa T-T

  4. baru nemu ff ini jadi m’f ru bisa comment..:-)
    huhuhu, sedih ngbacanya. .baekki g bsa bersatu sm seojin. . tp jujur ff ini daebak bgt feelx ngena. .

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s