[Oneshoot] Ayah


ayah

Main Cast : Yoo Ara, Park Jin Young | Minor Cast : Sehun EXO K

Oneshoot 3.888 W | Family, Friendship, Sad | Teen

Lelaki itu berumur setengah abad, namun tabiat buruknya untuk meminum minuman keras tetap berlanjut sampai sekarang. Rasa kesepian karena ditinggal pergi istrinya dan juga putri semata wayangnya membuat ia hanya mampu menghabiskan waktu dengan berbotol-botol arak yang membuat umurnya semakin menua.

Sementara itu, si pemilik kedai hanya mampu menatapnya dari kejauhan sambil menggerutu, takut menegurnya karena ia hanya wanita paruh biasa yang lemah. Lawannya adalah lelaki pemabuk yang keras kepala. Tak terhitung berapa botol yang telah lelaki itu minum tanpa ia bayar. Kadang terselip rasa khawatir di benak si pemilik kedai, bukan pada kesehatan pelanggannya itu, bukan karena rugi yang akan ia pupuk jika lelaki itu terus-menerus datang, melainkan ia takut seluruh meja yang ada hancur karena hentakan tangan si pelanggan tengik yang selalu membuat bunyi gaduh.

Awalnya lelaki bernama Park Jin Young itu bergegas pergi setelah merasa pusing yang amat parah, namun ia mengurungkan diri ketika melihat tayangan di televisi yang ada di ujung ruangan.

“Jadi, Park Ara, bagaimana perasaan anda begitu berhasil memisahkan bayi kembar siam yang kini berumur 4 tahun itu?” tanya pewawancara sebuah talk show yang disiarkan secara langsung di Seoul.

Si dokter muda tersenyum. Sorot mata senang terpancar jelas saat ia mulai menjawab pertanyaan, “Tentu saja lega, senang, sekaligus khawatir akan adanya efek samping dari pemisahan mereka. Mereka adalah bayi yang kepalanya menyatu dari kening sampai hidung. Dadanya juga menyatu dan jantungnya menempel sangat lekat. Proses operasinya sendiri membutuhkan waktu 12 jam, yang membuat aku ketakutan adalah saat tanda-tanda vital mereka sama-sama menurun.”

“Tapi kau melakukannya dengan sangat baik, dokter Park.”

“Tidak. Banyak dokter yang membantu dalam operasi itu. Aku hanya dokter tahun pertama saat itu.”

“Tapi dokter-dokter lain mengakui kehebatanmu dalam memimpin operasi itu di usia yang masih terbilang muda….”

Lalu perbincangan berlanjut diiringi tepuk tangan meriah dari para penonton di televisi. Jin Young bergumam sesaat,

“Kau masih hidup? Kau di Seoul dan jadi dokter, huh?”

.

.

.

Ara berjalan gontai setelah melakukan tugas rutin untuk memeriksa kondisi pasien rawat inap. Ia mengacak rambutnya sambil mendesah pelan. “Ah, aku lupa mandi.”

Saat ia bergegas memasuki ruang para dokter bedah anak, seseorang memanggilnya.

“Dokter Park, ada yang mencarimu.”

Ara mengernyit. Oh, mungkin Sehun, batinnya. Namun betapa terkejutnya ia tatkala lelaki yang berdiri di samping rekannya bukan sahabatnya—sehun—melainkan seseorang yang sudah lama tak ia temui selama 18 tahun.

“Kau… Anak sialan!!” Lelaki itu menggeram. Ara melangkah mundur. Tangannya bergetar hebat.

“Kau sudah meninggalkanku selama 18 tahun ini!! Kau tahu, 18 tahun ini aku sibuk mencarimu??!!”

Ara semakin ingin berjalan mundur, namun ayahnya berjalan cepat menghampirinya dan mencengkeram erat kedua bahunya.

“Kau tahu?! Aku bersumpah, jika aku berhasil menemukanmu, aku akan membunuhmu!!”

Ara kembali merasakannya. Pukulan keras di pipinya dan tendangan liar di kakinya sampai ia jatuh tersungkur.

“Tuan Park!! Hentikan!” Profesor Ju berusaha menghentikan gerakan ayah Ara yang terlampau cepat dan kasar, namun tak berhasil. Kekuatan pemabuk itu lebih besar daripada kekuatan Profesor Ju. Ketika hendak menyerang Ara, Ara berdiri sambil menatapnya tajam.

“Berhenti melakukannya! Kau pikir aku masih Ara yang dulu?!” ucap Ara sambil berusaha mengumpulkan keberaniannya. Masih terpatri jelas di benaknya ketika Ayahnya menendang punggung kecilnya saat ia berusia 8 tahun, membuatnya semakin takut. Namun ia tahu, takut dan menghindar bukan solusi yang tepat.

“Apa?! Kau memanggilku ‘kau’?! Anak tak tahu diuntung!! Kau mau kubunuh, hah?!”

“Kalau kau mau membunuhku, bunuh saja!! Dengan alat!! Ada banyak pisau di ruang operasi, kau juga bisa mencuri pistol milik para polisi!! Kau ahlinya ‘kan?! Pukulan dan tendangan saja tidak cukup membuatku mati!!”

“Dokter Park.” Profesor Ju berusaha menenangkan Ara.

“Huh, jelas-jelas kau takut padaku, tapi kau berani membentakku!! Kau tidak tahu aku yang sebenarnya!!”

“Maaf tuan Park, tapi, sebaiknya anda pergi dari sini.”

Ara melepaskan dekapan Profesor Ju yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, lalu tersenyum padanya, memberitahukan pada Profesor Ju bahwa dia baik-baik saja. Profesor Ju menghela napas.

Ara berjalan menghampiri Ayahnya dan menarik Ayahnya keluar.

“Apa-apaan kau ini?!”

Namun Park Jin Young sama sekali tidak mengelak.

.

.

.

Ara berkacak pinggang. Rambutnya semakin acak-acakan, ujung bibirnya robek, juga ada lebam di pipi kirinya. Ia merasakan perih di kakinya, mungkin kakinya robek lagi, sama seperti 18 tahun lalu.

Setelah merasa cukup untuk merasakan sakit di sekujur tubuhnya, ia menatap ayahnya yang berdiri di kejauhan sambil merokok. Keriput di wajahnya jelas menyiratkan hilangnya masa kejayaannya. Ara bergidik pelan. Rasanya pedih membayangkan dirinya akan beranjak tua, kehilangan kecantikannya suatu saat nanti. Garis hidup memang terlalu cepat berlalu.

Ia menghela napas berat, lalu berjalan menghampiri Ayahnya. “Apa maumu?”

“Sudah kubilang ‘kan? Aku ingin membunuhmu!!”

“Kenapa?”

Park Jin Young cukup terkejut mendengat anaknya menanyakan hal itu. Sekarang ia benar-benar tahu, anaknya sudah besar, tak mudah membodohinya.

Ara menghela napas. Ia memberanikan diri untuk berbicara lebih banyak, “Sampai sekarang aku masih bingung, kenapa ibu pergi meninggalkan kita saat umurku 7 tahun. Aku juga bingung, kenapa aku pergi menjauhimu setahun setelahnya. Kau orang yang ingin melakukan apapun yang kau mau tanpa kau tahu apa alasannya. Menyedihkan.”

“Huh?? Kau mengatakannya seolah kau lebih berpengalaman dariku!! Dasar sombong!! Baru jadi dokterkau sudah sombong, apalagi jika kau jadi profesor!! Dasar anak tak tahu diuntung!!”

Ara kembali mengernyit kesakitan ketika pipi kirinya merasakan tamparan untuk kesekian kalinya dalam satu hari.

“Aku sudah hidup 57 tahun, tapi kau baru berumur 26 tahun!! Jangan berbicara seolah-olah…”

Ara menyodorkan beberapa lembar uang pada Ayahnya. “Beli sesuatu untuk dimakan, aku harus mengurus sesuatu. Setelah selesai, kau tunggu aku di sini dan jangan pergi ke lain tempat dan membuat onar.”

“Oh? Hei!!”

Ara membalikkan badan dan bergegas memasuki rumah sakit. Park Jin Young tertegun. Anaknya jauh lebih dewasa darinya. Ia tahu masih terpancar rasa takut yang mendalam di sorot mata Ara, tapi Ara tetap bertanggung jawab pada Ayahnya. Bahkan Park Jin Young tidak pernah memberi Ara uang.

.

.

.

“Kau ingin mengambil cuti sampai besok?” tanya Profesor Ju sekali lagi, meyakinkan pernyataan Ara yang Ara jawab dengan anggukan.

“Aku harus membawa Ayah pulangke Gwangju, lalu…”

“Kau malu punya Ayah seperti aku?!”

Ara memejamkan matanya erat begitu mendengar suara berat ayahnya yang kembali memekakkan telinga.

Ara membalikkan badan sambil menghela napas. Begitu Ayahnya berjalan menghampirinya sambil menatapnya tajam, Ara kembali melangkah mundur.

“Kau tak pernah menganggapku Ayah!! Kau selalu malu jika aku berada di dekatmu!! Dasar tak tahu diuntung!!”

Saat lelaki tua itu hendak memukul Ara kembali, tiba-tiba napasnya tersengal. Ia pun terbatuk beberapa saat sampai ia memuncratkan darah dari bibirnya, lalu tergeletak di lantai. Ara terbelalak dan menghampiri Ayahnya.

“Hei, bangun!!” Ara memangku kepala Jin Young lalu menepuk-nepuk pipinya. Ia tak peduli tangannya berceceran darah, yang ia pentingkan adalah keadaan Ayahnya.

.

.

.

Ara mengayunkan kakinya sambil menunduk, menunggu dokter yang menangani ayahnya segera keluar dari ruang UGD. Meskipun lelaki itu selalu memukulnya, tetap saja dia ayahnya. Ia tak bisa mengabaikan kesehatan Ayahnya yang terlihat sangat buruk. Dimana-mana, batuk berdarah adalah pertanda buruk. Ara tahu itu tanpa perlu menjadi dokter penyakit dalam.

Ia cukup kaget ketika lamunannya terbuyarkan karena decitan pintu ruang UGD. Dia berdiri dan menatap dokter Kim—dokter senior pada bidang penyakit dalam di rumah sakit tempat Ara bekerja—dengan tatapan khawatir. Dokter Kim menghela napas, lalu mengajak Ara memasuki ruangannya.

.

.

.

“Kau pernah mempelajari ini ‘kan?” Dokter Kim memperlihatkan hasil rontgen Jin Young di komputer dalam ruangan itu. Ara mengangguk pelan, miris melihat kondisi liver ayahnya yang mengerikan.

“Sirosis hatinya sudah sangat parah. Kau lihat ada beberapa gumpalan kecil saat ia muntah darah? Itu adalah bagian liver-nya yang sudah terkikis.”

Ara meringis pelan membayangkan betapa parahnya penyakit ayahnya. “Apa Ayah sudah tahu?”

“Ya. Dia sudah tahu. Dulu rumah sakit tempat pertama kali ia memeriksakan diri mengirimkan rujukan ke rumah sakit ini, tapi dia menolak dan memilih untuk menunggu penyakit ini semakin parah. Dia bilang dia tak punya alasan untuk hidup lagi.”

“Apa kita tidak bisa mencari donor lain? Anda bisa memeriksaku kalau kita tidak menemukan liver yang cocok, aku bersedia.”

“Bisa saja. Tapi ayahmu terlanjur menandatangani surat perjanjian bahwa ia tidak mau menerima pengobatan yang menyembuhkannya.”

Ara mendengus keras. Ia tahu ayahnya sangat keras kepala, tapi ia baru tahu bahwa ayahnya sangat tidak menyayangi kesehatannya sendiri. Ia kembali menatap hasil rontgen liver ayahnya. Rasa bersalah mencuat di hatinya.

.

.

.

Sambil menggenggam erat handle bag-nya, ia terus merutuki dirinya sendiri atas kesalahan yang pernah ia buat. Meninggalkan ayahnya hidup sendirian bukanlah satu hal yang patut dilakukan oleh seorang anak yang berharap menjadi orang baik.

Ara bodoh!

Ara tolol!

Kau tak berguna!

Tapi ia selalu menyalahkan Ayahnya ketika batinnya terus-terusan memakinya. Ayah yang memulai semuanya, Aya selalu membenciku, biarkan saja dia mati. Ayah tak pernah menyayangiku. Dia tak pantas dihormati.

Tapi sepertinya, hati Ara terlalu baik. Ia menghela napas pelan dan mulai memikirkan cara yang tepat untuk meminta maaf pada Ayahnya. Bukan dengan ucapan yang pasti. Ara masih gengsi.

Tanpa Ara sadari, ia melewati kamar tempat ayahnya dirawat. Ara mengangkat ujung bibir kirinya setelah berdecak kecil melihat tingkah ayahnya. Pria tua itu mengusir para perawat yang dengan baik hati memberikannya obat penahan rasa sakit, lalu menggerutu dan membentak mereka, entah bagaimana kalimatnya. Kalau saja Ara tidak melihat hasil rontgen, pasti ia percaya pada lelaki itu bahwa dia baik-baik saja, tak memiliki satu penyakit pun.

“Dulu aku tak pernah melihat Ayah sakit flu, aku piker semua penyakit takut padanya.” Ara tertawa kecil. Rasa takut pada ayahnya kini berubah menjadi tekad kuat untuk membuat Ayahnya senang di sisa hidupnya.

“Dokter Park!”

Ara tersenyum cerah ketika ia dapati lelaki yang memanggilnya adalah sahabatnya.

Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun?

Tapi, sepertinya akan ada satu masalah.

.

.

.

Genggaman tangan Sehun yang diiringi senyuman cerah di wajahnya membuat seorang Park Ara—dokter yang memutuskan untuk tidak memiliki hubungan ‘spesial’ pada lawan jenisnya dan hanya peduli pada anak-anak—mendapat tatapan heran dari setiap warga rumah sakit yang melihatnya. Ara hanya tersenyum kecut. Ia terlalu takut membayangkan setiap pertanyaan yang akan ia dapatkan ketika bertemu dengan rekan kerjanya setelah itu, misalnya:

“Mulai kapan kau mengenal lelaki tampan itu?”

“Siapa namanya?”

“Apa dia pacarmu?”

“Apa dia tunanganmu?”

“Bagaimana bisa kau menyembunyikan identitasnya? Harusnya kau bangga memilikinya!”

Oh, tolonglah. Dia hanya sahabatku.

“Sayang, bagaimana harimu?”

Ara meremas tangan Sehun hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan, namun kembali tersenyum nakal pada Ara. Sebenarnya bukan kali pertama ia mendengar kata ‘sayang’ dari Sehun, Ara sendiri senang mendengarnya, tapi dengan syarat utama: jangan pernah mengucapkannya di depan umum. Tapi sekarang?

“2 bulan ini kau tidak berkunjung ke café. Ada apa?”

Ara menghirup udara segar ketika Sehun telah mengajaknya berdiri di luar area rumah sakit. Sehun mengoceh panjang lebar tentang kehidupannya selama 3 bulan—mungkin lebih—yang ia lalui tanpa Ara. Karena Ara sibuk tentunya. Sehun tahu Ara sibuk, namun tidak menutup kemungkinan Sehun ingin bertatap muka lagi dengan Ara. Sahabat mana yang bisa menahan keinginan untuk tidak saling tatap muka dalam waktu yang lama, sementara mereka tahu sahabat yang dirindukan berada dalam satu kota yang sama?

“Aku rindu mendengar celotehanmu dan dari tadi kau diam saja.” Sehun menaiki motor besarnya yang ia parkir sembarangan di depan rumah sakit, lalu memberikan helm hijau pastel pada Ara. Satu-satunya milik Ara yang disimpan dengan baik oleh Sehun. “Kau ada masalah?”

Tepat setelah menyunggingkan senyum kecilnya, ia menggenakan helm sambil menggumam, “Yah. Sehun selalu datang tepat waktu. Waktunya bercerita.”

Benar. Tak ada salahnya menghirup aroma kopi khas Kava’s Café—tempat Sehun bekerja—ketika hidung bosan mencium bau obat-obatan khas rumah sakit.

Tak ada salahnya melihat orang-orang saling berbincang santai dengan kerabatnya—meskipun itu sangat aneh—daripada sekian lama terkekang dengan pemandangan penuh isak tangis para orang tua yang memegangi tangan anaknya sambil berkomat-kamit memanjatkan doa.

Lebih baik melihat orang yang duduk sendiri di sudut ruangan café dengan headset di telinga sambil menatap jalan raya lewat jendela kaca, lebih menyenangkan ketimbang melihat pilu ekspresi putus asa para orang tua pasien yang tidak memiliki harapan lagi.

.

.

.

“Cappucino Latte.” Sehun meletakkan secangkir Cappucino di depan Ara yang duduk di bangku nomor 17—di sudut ruangan, dekat jendela kaca, “Kesukaanmu ‘kan?”

Bukannya menanggapi pertanyaan Sehun—yang sebenarnya tak perlu dijawab–Ara menahan tawa ketika melihat Sehun yang awalnya terlihat keren—sangat keren!—dengan kemeja birunya, kini berbalutkan celemek biru tua dengan tulisan ‘Kava’s Café’ sangat besar di tengah-tengahnya. Seragam resmi baginya. Dulu Ara sering melihat penampilannya yang seperti Super Nanny tersebut hingga terbiasa, tapi kini ia merasa geli. Mungkin waktu berjalan lebih lama dari yang ia kira.

Kini Sehun duduk di depannya dan menatapnya intens. “Wah, kau berbeda dengan Ara-ku.”

Ara mengangkat sebelah alisnya.

“Ara-ku sangat gemuk. Dia harus menurunkan 10 kilo berat badannya supaya menjadi gadis normal. Punya pipi chubby, selalu ceria. Rambut dikuncir rapi dan… sekarang?” Sehun tertawa meledek, “Kau seperti mayat hidup. Wajahmu sangat kusam seperti tidak pernah cuci muka, rambut yang acak-acakan…”

Senyum di wajah Sehun memudar ketika ia menyadari satu hal yang cukup mengerikan berada di wajah Ara. “Kenapa pipi kananmu lebam? Dan kenapa ujung bibirmu sobek?”

Ara mengaduk Cappucino di depannya setelah mendengarkan ucapan sarkastik Sehun yang diakhiri pertanyaan yang membuatnya harus memikirkan jawabannya.

“Siapa yang melakukannya?”

Ara mengangkat wajahnya. “Ayahku.”

Sehun meringis ngeri. “Ayahmu?”

Ya. Sehun tahu pasti bagaimana ayah Ara memperlakukan anaknya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Ayahmu? Baik ‘kan?”  Kini Ara yang memberikan pertanyaan pada lawan bicaranya, jelas ia hanya butuh pencerahan untuk menerima Ayahnya ke dalam kehidupannya sekali lagi. Maka dari itu ia tak ingin mengalihkan pembicaraan.

“Baik. Walau kadang kami bertengkar hanya karena masalah sepele, beberapa waktu kemudian aku selalu minta maaf padanya. Pada dasarnya, memang aku yang salah.”

“Bagaimana jika kau jadi aku?”

“Ehm, itu…” Sehun menyondongkan tubuhnya ke tengah meja lalu menautkan jari jemarinya, “aku sendiri tidak memiliki ayah seperti ayahmu, tapi, ya, mungkin sama sepertimu. Aku takut dan menghindar.”

“Tapi aku tidak bisa.” Entah sudah berapa kali Ara menghembuskan napas dengan keras pada hari itu.

“Kenapa?”

“Ayah…”

Ucapan Ara menggantung, bukan dengan niatan untuk membuat Sehun penasaran, namun ia hanya menahan emosinya yang meluap. Batinnya yang tergetar membuat seluruh tubuhnya merinding ketika mengingat ayahnya.

“Ayah?”

“Ayah… Sakit…”

Ara memukul-mukul kepalanya dan menggumamkan umpatan-umpatan kecil pada dirinya. Namun Sehun sangat tidak suka melihat sahabatnya terluka dan merasakan kesedihan seorang diri, maka dari itu ia menggenggam kedua tangan Ara.

“Tenanglah, lalu berpikir jernih.”

Pundak Ara naik turun, menandakan rasa sesaknya dalam waktu sekejap membuat pernapasannya tak teratur.

“Aku tidak ada di sampingnya selama ini… Aku terus-terusan membencinya… Menjalani hidup dengan indah… Hidup sehat… Sementara Ayah hidup di Gwangju sendirian, tanpa siapapun peduli padanya…”

Tanpa ragu, Sehun menepuk pelan pundak Ara, berusaha menenangkannya.

“Aku tidak pernah peduli dia sehat atau tidak, tapi begitu bertemu, penyakitnya sudah sampai level tinggi.”

Ara menyingkirkan secangkir Cappucino—yang hangatnya hampir memudar—lalu menelungkupkan wajahnya ke meja dan menangis sekeras-kerasnya. Sehun tahu hampir semua orang yang ada di sana memperhatikannya dengan tatapan berang, mengira ia adalah lelaki buaya darat yang mengecewakan wanitanya, lantas pergi dengan senyum bahagia setelah wanitanya terpuruk. Tapi Sehun tahu dia tidak seperti itu.

“Aku harus bagaimana, Sehun?”

Sehun tak pernah melihat sahabatnya se-terpuruk itu. Ia ragu untuk memberikan solusi atau saran pada Ara, terlebih ia tak ingin menjadi ‘pemberi solusi yang salah’ karena ke-sok tahu-annya, tapi jika ia diam saja, Ara pasti akan menangis di sana sepanjang hari.

“Kau hanya perlu kembali pada Ayahmu dan memperbaiki semuanya.”

.

.

.

Karena insiden kekerasan sehari sebelumnya, Ara mendapatkan cuti dari pihak rumah sakit, setidaknya sampai Ara benar-benar siap untuk kembali bekerja tanpa ada beban.

Meski begitu, Ara tetap pergi ke rumah sakit demi menjenguk ayahnya. Mungkin ia belum berani memanggil ayahnya dengan sebutan ‘Ayah’ (karena ia pikir lelaki itu tidak pantas dihormati), tapi rasa bersalah di hatinya terus mendorongnya untuk melangkah lebih jauh lagi. Tidak berhenti. Ia akan terlambat jika ragu.

“Oh, Ara!!”

Tawa Jin Young menggelegar hingga ke sudut ruangan, membuat nyali Ara menciut dalam sepersekian detik.

“Kemari!! Kemari!!”

Lelaki itu membelai pelan rambut Ara setelah langkah kaki putri semata wayangnya berdiri tepat di dekatnya. Sekarang adalah kali pertama Ara merasakan kehangatan dan penuh kasih sayang dari Ayahnya. Bahkan ia tak pernah mendapati senyuman teduh semacam yang ia lihat di wajah Ayahnya di masa lampau.

“Kau sudah jadi dokter hebat, ya kan? Kau bisa menyembuhkanku kan?”

Ara menggeleng. “Aku bukan ahlinya!!”

“Dasar anak tak tahu diuntung!!”

Sekarang Ara merasa pusing setelah Ayahnya memukul keras ubun-ubunnya. Baru saja ia merasa seperti di surga, sekarang ia sangat ingin terjun ke neraka.

“Baiklah, kalau begitu, pulanglah ke Gwangju dan ambil buku coklatku!! Bawa kesini!!”

Ara mengernyit, masih mengusap ubun-ubunnya.

“Ini permintaanku sebelum aku mati. Mengerti??!!”

.

.

.

Sebenarnya bukan hal yang mudah ketika Ara harus mencari buku cokelat milik ayahnya di rumah yang ayahnya tinggali sendirian selama 18 tahun. Memang tak sesulit mencari jarum dalam tumpukan jemari, tapi cukup membuat Ara pusing. Terlalu banyak buku cokelat berserakan di lantai—ada yang benar-benar berwarna cokelat, ada yang ‘menjadi cokelat’ karena lapuk dimakan usia. Kalau saja ayahnya tidak menyuruhnya untuk mengambil buku cokelat, Ara sangat enggan kembali ke rumah itu. Terlalu banyak kenangan yang ingin sekali ia buang, tapi sekarang perlahan muncul di benaknya. Buku-buku yang berserakan di lantai dibuka satu-persatu oleh Ara, berusaha menerka-nerka buku mana yang ayahnya maksud.

Kira-kira buku ke-13 yang ia buka, ia baru menyadari kalau sejak membuka 2 buku sebelumnya, ia telah memasuki kamarnya di masa kecil. Ia takjub karena kamarnya adalah satu-satunya titik yang rapi di rumah itu. Boneka-boneka bekas yang dulu ibunya dapatkan di tempat pemungutan sampah masih berjajar rapi di atas raknya. Perlahan ia berdiri ketika matanya menangkap refleksi buku cokelat di atas meja belajarnya. Satu-satunya buku yang berada di atas meja, bukan di lantai.

Tiba-tiba kenangan dengan ibunya saat ia masih berumur 7 tahun terproyeksikan di depannya, tepat di bawah meja.

“2 lembar 1000 won, berarti 2000 won.”

“5 lembar 500 won, berarti 2500 won.”

“3 koin 100 won, berarti 300 won.”

“Jumlahnya 4800 won.”

Ara kecil berceloteh sambil tersenyum senang pada ibunya, dan semakin lebar ketika sang ibu membelai rambut anaknya. “Anak pintar.”

Dia kembali membenci ayahnya. Kalau bukan karena sikap kasarnya, ibunya tak akan pergi meninggalkan mereka berdua.

Setelah mengembuskan napas, ia mengambil buku cokelat di atas mejanya lalu duduk di tepi ranjang.

3 Januari 1987

Bayi perempuanku lahir.

Akan kuberi nama Park Ara, semoga dia tumbuh menjadi gadis yang baik nan cantik jelita, seperti ibunya.

Ara hanya tertawa kecil begitu melihat catatan harian ayahnya yang dituliskan dengan tanggal yang tidak berurutan. Ia tahu, ayahnya bukan tipe orang yang suka menulis, kecuali menulis lirik lagu. Dia musisi yang hebat, begitu yang pernah ibunya bilang padanya. Tapi Ara belum percaya karena ia tak pernah dengar Ayahnya bernyanyi.

6 Juli 1993

Aku kesal pada Ara. Aku Ayahnya, tapi ia tak menganggapku ada ketika ia bermain dengan teman-temannya. Saat aku menjemputnya, ia menjawab pertanyaan temannya dan bilang kalau aku bukan Ayahnya.

Ia tak menghormatiku.

Tapi aku masih sabar. Dia anakku satu-satunya.

Perlahan, Ara ingat. Kapan Ayahnya mulai bertindak kasar padanya.

Air matanya mengalir. Dengan tergesa-gesa, ia membuka satu-persatu halaman di buku itu, melewatkan banyak kata-kata keluhan Ayahnya, karena ia tahu intinya. Semua salahnya sendiri. Ia tak mau menganggap ayahnya ada dan ia malu memiliki ayah yang kumuh, lusuh dan dekil.

Gerakan tangannya terhenti ketika membuka halaman terakhir bukunya.

I had enough parties

I didn’t know why I had to work so hard
Or how to spend the money that I made
I looked around to see with what I can fill myself up
But why is it that I eat and eat but am still left hungry?

(I had enough parties, I made enough money)
Pretty girls, sexy girls, I had enough fun with them
(In the end, I felt empty again, it was always just momentary)
When I barely sobered up and woke up in the morning
I hated that feeling

I want to love now baby
I hate coming home alone lately
Save me from this life baby, please
Fill me up with food that doesn’t go away

When I became secure, I wanted to become nervous again
When I became nervous, I wanted to become secure again
I thought about what it was that I really wanted
But even after having it, why am I still left hungry?

I hope I won’t be afraid when I close my eyes
I hope I can smile when I close my eyes
I hope I can live with strong footsteps
That know where I am going

 (Please save me) I want to love now baby
I hate coming home alone lately
Save me from this life baby, please
Fill me up with food that doesn’t go away

Please save me

Ara memeluk buku itu dengan erat. Rasa bersalah semakin membuncah di hatinya. Ia tak sanggup membayangkan kehidupan ayahnya selama 18 tahun ini, sendirian, tanpa siapapun. Ia menangis sekeras-kerasnya sambil berteriak.

Dan handphone-nya berdering. Dari rumah sakit.

.

.

.

Perjalanan yang menempuh satu jam dari Gwangju ke Seoul benar-benar membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ayahnya kritis, bahkan kini Ara lihat ayahnya terbaring lemah di atas ranjangnya ketika dokter menyuntikkan obat padanya, tidak seperti yang biasa ia lakukan, memaki setiap dokter yang memasuki kamarnya sambil berkata bahwa ia baik-baik saja.

Ara menelan ludah. Langkah kakinya mendekati tepian ranjang Ayahnya, lalu duduk di sampingnya.

“Hei…”

Ayahnya membuka matanya perlahan. Dokter yang menangani ayah Ara mundur selangkah. Ia hanya mengernyit ketika melihat Ara membawa gitar yang terlihat sudah sangat tua.

“3 jam yang lalu aku pulang ke Gwangju, mencari buku yang kau maksud. Tapi terlalu banyak buku yang berwarna cokelat, jadi aku tak tahu buku mana yang kau maksud.”

Terlihat raut wajah kecewa pada Jin Young. Kini ia ingin memukul Ara, tapi tak bisa. Ia tak memiliki banyak tenaga lagi.

“Tapi, aku menemukan satu buku di atas meja belajarku.” Ara mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ara tersenyum kecil begitu melihat raut wajah ayahnya berubah menjadi sangat senang.

“Aku menemukan lirik lagu pada halaman terakhir, dan aku suka lagu itu. Bolehkah aku menyanyikan lagu itu?”

Air mata Jin Young meleleh.

“Aku sudah mengaransemen lagu itu dengan gitar ini. Aku tahu aku tidak begitu ahli sepertimu, tapi, aku akan mencobanya.” Sesaat setelah Ara memetik gitar, ia kembali melihat wajah ayahnya dan berkata, “jangan ditertawakan.”

Na nolmankeum norabwasseo
Na nolmankeum norabwasseo

Waenji mollasseo mwo ttaemune yeolsimhi salji
Doneul beoreoseo eotteoke sseoya haneun geonji
Dulleoboasseo mueoseuro nareul chaeulji
Meokgo meogeodo wae gyesok baega gopeuji

(Nan nolmankeum norabwasseo tto beolmankeum beoreobwasseo)
Yeppeun yeoja seksihan yeoja hamkke jeulgil mankeum jeulgyeobwasseo
(Nyeolgugen tto heojeonhaesseo eonjena geuttae ppunieosseo)
Achime sul kkae gyeou ireonal ttae
Geu gibuni sirheojyeosseo

Ijen sarangeul hago sipeo baby
Honja jibe oneun giri sirheo lately
Ireon nal eoseo guwonhaejwo baby jebal
Kkeojiji anheul eumsigeuro nareul baebullyeojwo

Ara sedikit menjauhi gerakan tangan ayahnya, mengira ayahnya akan kembali memukulnya. Namun kali ini, ayahnya membelai rambutnya pelan sambil tersenyum bangga.

“Bagus, anakku.”

Ara bergegas memeluk ayahnya dengan erat.

“Maaf, Ayah. Semua salahku.”

Jin Young hanya menepuk punggung Ara, menenangkan putri semata wayangnya.

“Aku tak akan meninggalkan Ayah lagi. Aku tak akan membiarkan Ayah sendirian lagi. Aku janji.”

Sebenarnya Jin Young tak pernah bersumpah untuk membunuh Ara ketika ia berhasil menemui Ara. Ia hanya ingin bertemu Ara, memeluknya, mengelus rambutnya sambil memberikan kasih sayang yang harusnya ia berikan pada Ara bertahun-tahun lalu. Memberi tahukan Ara bahwa ia menyayangi Ara jauh lebih besar daripada siapapun. Ia juga ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Dia memang orang yang kasar, maka dari itu ia bingung ingin mendidik anaknya seperti apa.

Dan sepertinya, kini cita-citanya hampir tercapai.

Ia bisa bernapas lega sekarang. Ia tak akan menua sendirian, karena ada anaknya di sampingnya.

Bahkan jika ia mati sekarang pun, ia tak sendirian.

.

.

.

4 thoughts on “[Oneshoot] Ayah

  1. sasaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa huhuhu TAT sperti yg kak bilang sebelumnya kalo baca ini tuh bikin kak nangis, bner deh ;;;
    ternyata jinyoung yg sangat menyayangi ara cuma gatau harus gimana, belum lagi ara yg nggak nganggep ayahnya tuh ada, uhhh..pasti sedih banget
    dan itu diarii…huhuhu kak balik sedih lagi aplg waktu ara balik rumah sakit, ngeliat ayahnya terbaring lemah..trus mendapat perlakuan berbeda yg penuh rasa sayang T-T
    saaa, gatau itu kak anggepnya jinyoung beneran meninggal setelah ketemu ara masa > <

  2. fanfict ini membuat air mataku menitik. mengingat masa2 dengan alm.ayahku… di tambah lagi penyakitnya itu sama… sirosis hati TT.TT *ambiltisu.

    daebak saeng ff nya… aku suka🙂

    rupanya sang ayah kesel gr2 dlu ara ga pernah menganggapny sbgai seorang ayah. tp.. knpa gt dia keterlaluan bngt mpe mkulin ara ? hufth…ksel..

What Do You Think About it?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s